Because Of Pizza

Because Of Pizza
Bajingan


__ADS_3

Aryan, melangkah maju mendekati Tari. Melihat ujung rok istrinya yang robek membuat Aryan, curiga ada sesuatu yang terjadi antara Tari, dan Arga. 


Namun Aryan, tidak ingin menanyakan hal itu di sana. Apa lagi melihat tubuh Tari, yang masih gemetar dan ketakutan. 


"Tenanglah jangan takut!" ucap Aryan, yang menggenggam tangan istrinya. 


"Mungkin karena tikus tadi." Jawab Tari, yang cengengesan. Mencoba menampilkan senyumnya. 


"Kau duduk saja biar aku yang bereskan semuanya." 


"Aku juga akan membantu." Aryan, mencoba tenang walau hatinya sudah penuh dengan emosi dan ingin bertanya apa yang terjadi dan apa yang Arga, lakukan pada istrinya. 


Tanpa berkata lagi Aryan, kembali membereskan kekacauan itu. 


*


*


*


Arga, menghentikan mobilnya setelah sampai di rumah sang kekasih Lala. Setelah kepulangannya dari kedai pizza Arga, mengantarkan Lala, pulang. 


Ekspresi Lala, masih sama seperti tadi siang yang datar dan diam. Tangannya terus gemetar dan mengepal, bibirnya kaku seolah ada yang ingin di katakan namun ia tahan.


"Aku ingin bicara." Lala, membuka suara. 


"Besok saja, aku sudah lelah ingin segera pulang," ucsp Arga, malas. 


"Ada yang ingin aku bicarakan Arga, ini penting," ucap Lala, dengan suara tinggi.


Arga, melirik sinis dan berkata. "Sudahku bilang besok, masih ada waktu, kan. Gue capek udah sana turun."


"Harus sekarang tidak bisa besok." Sanggah Lala, dengan sorot mata yang penuh emosi. 

__ADS_1


Arga, membuang nafas kasar, kesal namun Lala, memaksa. "Oke, katakan ada apa?" tanya Arga, jutek memasang wajah kesalnya. 


Lala, diam sejenak menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan. Arga, sudah terlihat kesal karena Lala, tak kunjung bicara membuat Arga, mendengus. 


"Jika hanya diam lebih baik kau turun," tegas Arga.  


"Lala kau dengar aku bilang tu …." 


"Aku hamil," sanggah Lala, yang langsung nembuat Arga, bungkam.


"Hamil!" Arga, terlihat terkejut, saat mendengar pernyataan dari Lala. 


Selama di kedai, Lala terus gelisah memegang hasil tes pack nya, yang memperlihatkan dua garis merah. Lala, terus menggenggam benda tipis dan kecil itu, ingin mengatakan pada Arga, namun ia bingung bagaimana cara mengatakannya. 


Hingga pikirannya tak tenang, dan hatinya terus gelisah, memikirkan dua garis merah itu. 


Kini Arga dan Lala hanya saling diam tanpa ada suara sedikit pun yang ada hanyalah keheningan. 


"Apa mauku? Kamu masih bertanya spa mau ku? Ya jelas kamu harus tanggung jawab Arga!" Suara Lala, sedikit meninggi. 


"Kamu pikir apa yang harus aku lakukan? Kamu tidak merasa bersalah sedikit pun, apa kamu tidak ada sedikit niat untuk bertanggung jawab?" 


"Apa buktinya jika itu anakku?" 


Ck, Lala berdecak.


"Apa buktinya? Kamu masih meminta bukti? Bajingan kamu," pekik Lala, yang emosi hingga melempar alat tas pack itu ke wajah Arga. 


"Kamu yang merusak hubunganku dengan Aryan, dan sekarang kamu merusak masa depanku, tanpa rasa bersalah kamu bertanya dan meragukan anak yang ada dalam perutku ini? Kamu memang bajingan, bajingan kamu!" 


Suara Lala kembali meninggi pada akhir kalimat. Emosinya kini memuncak karena Arga, yang berlari dari tanggung jawab. Arga, mengusap wajahnya kasar, mengutuki kesalahannya. Bukan tidak ingin bertanggung jawab namun bagaimana dengan posisinya di rumah sakit, apa yang akan terjadi jika direktur tahu hubungan Arga, dengan Lala, apa lagi kondisi Lala, yang sedang hamil saat ini.


"Aku akan tanggung jawab. Tapi … aku mohon jangan ada yang tahu tentang kehamilanmu apa lagi hamil olehku. Jangan sampai seisi rumah sakit tahu terutama direktur." 

__ADS_1


"Sekarang kamu turun kita bicarakan itu besok, cepatlah aku harus pulang." 


"Kamu tidak niat untuk kabur, kan Arga!" 


"Tidak akan. Aku laki-laki yang bertanggung jawab," timpal Arga. 


Lala, pun turun dari mobil, setelahnya Arga, bergegas pergi memacukan mobilnya.


*


*


*


Di sisi lain, Aryan, mengepal kuat tangannya seakan ingin menghajar seseorang. Tari, hanya menunduk sambil menautkan jari-jemarinya karena takut jika Aryan, akan marah dan kecewa padanya. 


Sebelumnya Aryan, begitu curiga karena rok robek itu. Setelah sampai di rumah dan hatinya lebih tenang. Aryan, mencoba bertanya pada istri mungilnya itu. 


"Katakanlah apa yang terjadi tadi siang?" tanya Aryan, lembut sambil menggenggam tangan Tari.  


Awalnya Tari, ragu namun setelah melihat tatapan Aryan, yang teduh akhirnya Tari, pun bercerita dan menjelaskan semua perlakuan Arga, padanya. Hingga Tari, menghajarnya dengan roling pan miliknya. 


Aryan, sangat geram dan kesal setelah mendengar semua pernyataan dari Tari. Belum cukup Arga, menggoda dan merebut Lala, darinya sekarang Arga, kembali menggoda istrinya dan melecehkannya. 


Aryan, benar-benar sudah hilang kesabaran dan ingin segera menghantam wajah temannya itu. 


Dengan penuh amarah, Aryan, mengambil kunci mobilnya berlalu pergi meninggalkan Tari, yang termangu. 


"Mau kemana mas Aryan? Apa dia marah padaku" batin Tari, yang bingung dengan sikap Aryan, yang diam tanpa berkata apapun padanya.


...----------------...


Tuh, kan Aryan marah. Mau hajar si Arga, kayanya huh!

__ADS_1


__ADS_2