
Arga, terus menatap layar ponselnya. Tiga bulan lamanya dirinya tinggal di desa terpencil itu. Begitu pun dengan usia kandungan Lala, saat ini atau mungkin lebih.
Arga, tidak pernah tahu berapa bulan usia kandungan Lala, karena dirinya tidak pernah menanyakan kabar tentang Lala, menghubunginya saja tidak pernah.
"Apa aku pengecut! Aku lari dari tanggung jawabku, kamu pengecut Arga, pengecut!" maki Arga, pada dirinya sendiri.
Arga, terus menatap ponselnya hingga dirinya memberanikan diri untuk menghubungi Lala, berharap bisa mendengar suaranya atau hanya sekedar minta maaf. Namun, harapan Arga, pupus karena nomor Lala sudah tidak aktif lagi.
"Nomor yang di tuju tidak dapat di hubungi" Suara call center yang terdengar saat Arga, menghubungi Lala.
Arga, menyesal karena dirinya terlambat untuk mengakui kesalahannya. mungkin karena itu juga Lala, mengganti nomor ponselnya.
*
*
*
Di sisi lain, di usia kandungannya yang menginjak empat bulan, membuat Lala, sering cepat lelah bahkan apalagi di masa-masa ngidam uang harus dilalui sendirian tidak ada seorang suami yang memperhatikan. Lala, tetap bekerja dan menjalani aktifitas biasanya walau kadang rasa mual dan pusing harus dia rasakan.
Seperti saat ini Lala, selalu merasa mual apalagi saat melihat darah. Jangankan melakukan operasi melihatnya saja Lala, tak sanggup.
"Dokter Lala, kamu kenapa?" tanya Amel, yang melihat wajah Lala yang pucat.
"Tidak apa-apa aku hanya merasa pusing saja."
"Setiap kali mau melakukan operasi dan melihat darah kamu selalu seperti ini. Apa kamu sakit?" Amel, terus bertanya merasa ada yang aneh pada Lala. Karena Amel, memang tidak mengetahui jika Lala, tengah mengandung saat ini.
"Biarkan Dokter Lala, pergi dia sedang tidak sehat," ucap Aryan, yang mengerti dengan keadaan Lala, saat ini.
"Lala kembalilah ke ruanganmu." Lala, pun mengangguk lalu pergi.
Amel, yang merasa aneh penasaran dan curiga sebenarnya apa yang terjadi pada Lala. Di tambah lagi dengan sikap Aryan, yang mulai perhatian pada Lala, tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Lala, merebahkan tubuhnya di atas sofa, rasa mual dan pusing semakin ia rasakan. Apa lagi setelah hamil nafsu makan Lala, semakin berkurang.
"Sampai kapan aku menyembunyikan kehamilanku ini. Lama-lama perutku akan membesar dan Amel, akan mengetahuinya. Tidak hanya Amel, bahkan semua dokter di rumah sakit ini."
Lala, menghela nafas panjang seraya berpikir bagaimana jika semua orang di rumah sakit ini tahu tentang kehamilannya. Dan apa pandangan mereka tentang dirinya.
"Sepertinya aku harus segera resign. Tidak mungkin aku berada disini sampai kehamilanku membesar," ucap Lala, seraya mengelus-ngelus perut buncitnya.
Tok, tok, tok,
Suara ketukan pintu mengejutkannya. Segera Lala menutup kembali perutnya dengan almamaternya, setelah perutnya tertutup Lala, beranjak dari sofa untuk membuka, kan pintu.
"Tari!" ucap Lala, saat membuka, kan pintu.
"Siang dokter! Aku ingin mengantarkanmu makan siang. Boleh aku masuk!"
"Ah iya." Lala, pun membiarkan Tari, masuk lalu menutup kembali pintunya.
"Dokter, hari ini aku bawakan anda sup, ini resep dari ibuku. Katanya, bagus untuk ibu hamil dan kesehatan janin," ucap Tari, yang membuka, kan tupperwarenya.
"Terima kasih Tari. Tapi tidak perlu setiap hari aku tidak ingin merepotkanmu."
"Tidak sama sekali. Aku senang melakukannya." Lala, hanya tersenyum. Tari, begitu baik dan perhatian padanya. Kini hubungan keduanya semakin dekat dan akrab.
"Apa kamu sudah mengantarkan makan siang untuk Aryan?"
"Belum."
"Antarkanlah dulu, nanti Aryan, menunggu sepertinya sudah selesai melakukan operasi."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa habiskan makanannya dan ini aku bawakan buah segar dan juga rujak mungkin kamu menginginkannya."
"Terima kasih Tari."
__ADS_1
"Sama-sama. Sampai jumpa dokter." Tari, pun melangkah pergi meninggalkan Lala, yang kini sendiri menikmati makan siang ya.
*
*
*
Tok, tok, tok,
"Masuk" seru seorang lelaki paruh baya yang menjabat sebagai direktur rumah sakit.
Lala, membuka pintu itu lalu melangkah masuk mendekati laki-laki itu dan duduk di hadapannya. Laki-laki paruh baya itu menatap Lala, dengan intens. Merasa aneh karena Lala, datang keruangannya.
"Dokter Lala, ada apa?"
"Siang Direktur. Kedatangan saya kemari karena ada hal penting yang ingin saya katakan."
Direktur itu pun mengabaikan beberapa laporan yang sedang di periksanya. Dan beralih menatap Lala.
"Ada apa dokter Lala? Apa yang akan ada katakan." Lala, hanya memberikan sebuah amplop pada laki-laki itu.
"Apa ini?" tanya pak Direktur.
"Surat pengunduran diri saya Ditektur."
"Pengunduran diri!"
"Ya, saya izin resign."
"Kenapa?"
"Mm … karena …."
__ADS_1