
Arga, keluar dari toilet, bibirnya tersenyum melihat Tari, yang tengah membereskan dapurnya.
Ehem
Deheman Arga, mengejutkan Tari, membuat Tari, menoleh. Tari, menatap Arga, heran gerak-geriknya sangat mencurigakan.
"Sudah ke toiletnya?" tanya Tari, basa-basi.
"Sudah," jawab Arga, singkat.
"Kalau begitu kenapa masih diam disini? Tidak makan pizza bersama?" tanya Tari, kembali.
Namun bukan jawaban yang Arga, berikan melainkan gerakan mengejutkan. Tiba-tiba Arga, mendekat dan mengukung tubuhnya membuat Tari, terdorong ke dasar dinding. Bibir Arga, begitu menyeringai matanya menatap mesum padanya.
'Dasar dokter mesum! Apa yang akan dia lakukan." batin Tari, yang bermonolog dalam hatinya.
Tiba-tiba Arga, mendekatkan wajahnya membuat tubuh Tari, semakin terhimpit, apalagi jarak antara wajah mereka begitu dekat. Arga, mulai mendekatkan bibirnya, semakin dekat dan lebih dekat
Aww,
Arga, mengerang dan meringis. Wajahnya sudah sangat merah menahan panas dari bawah sana. Tari, dengan berani menendang kejantanannya sebelum Arga, berhasil mendaratkan bibirnya.
"Kau, argh …,"
"Hai dokter, kau jangan macam-macam ya! Dasar laki-laki mesum, aku bilangin suamiku baru tahu rasa!"
Grep!
Saat Tari, hendak melangkah, Arga, dengan cepat menarik tangannya. Hingga kembali mengukung tubuhnya. Tari, mencoba melepaskan tangannya namun tangan Arga, terlalu kuat.
Tari, terus melihat ke arah pintu berharap Aryan, datang dan masuk ke dalam dapur. Dengan sekuat tenaga Tari, terus berontak namun Arga, mencengkram kuat kedua lengannya.
"Kenapa takut hm … santai saja Aryan, tidak akan melihat kita."
"Dasar bajingan, dokter mesum. Saya akan bilang kebusukanmu pada semua orang, kau tidak pantas menjadi seorang dokter!"
__ADS_1
"Gadis manis."
"Ish … jangan sentuh aku." Tari, memalingkan wajahnya saar Arga sentuh.
Arga, semakin menyeringai tatapan matanya semakin nakal. Jari tangannya mulai turun kebawah meraba mulus paha Tari, hingga menyingkap, kan sedikit bawah roknya.
Argh …
Arga, kembali menjerit saat Tari, menggigit tangannya.
Bugh,
Ahh,
Satu tendangan Tari, berikan pada golok saktinya, membuat Arga, kembali mengerang.
Bugh, Bugh, Bugh,
Tari, kembali menghajarnya dengan sebuah rolling pan yang Tari gunakan untuk memukul kepalanya. Hingga menimbulkan rasa sakit dan nyeri pada kepalanya.
Berbeda dengan keadaan di dapur yang kini sedang ada pergulatan antara Tari, dan Arga. Sedangkan di luar area meja makan semua orang terlihat puas dan merasa kenyang pada perutnya. Yang sangat merasa puas.
"Dokter Lala, kenapa? Kok diam saja!" tanya Amel, yang melihat Lala, tak berbincang bersama rekan-rekannya.
"Tidak apa-apa!" jawab Lala, kaku.
"Dimana dokter Arga? Apa masih di toilet ya ampun … hampir satu jam." Amel, terus mengoceh seraya melihat arlojinya. Sedangkan Lala, hanya tersenyum hambar.
Tak, hanya Lala, yang gelisah Aryan, pun ikut gelisah entah kenapa perasaannya jadi tak karuan mengingat Tari, yang berada di dapur dan Arga, yang belum kembali dari toilet.
Prangg,
"Suara apa itu!"
Suara benda jatuh terdengar nyaring membuat mereka semua terkejut. Aryan, yang merasa gelisah pun jadi panik mengingat istrinya yang berada di dalam sana.
__ADS_1
"Biar saya lihat," ujar Aryan, yang beranjak dari duduknya. Aryan, terus mempercepat langkahnya hingga sampailah di pintu dapur.
Aryan, tercengang melihat keadaan dapur yang kacau. Semua barang berantakan dan berhamburan di bawah lantai hingga tepung terigu membuat licin area lantai.
"Ada apa ini?"
Tari, dan Arga, terkejut. Keduanya sama-sama diam.
"Sayang apa yang terjadi?" Aryan, kembali bertanya.
"Arga, sedang apa kamu disini?"
"Begini sayang tadi ada tikus, ya! Tikus," jawab Tari, yang gelagapan. Begitu pun dengan Arga, yang terlihat gugup dan ketakutan.
"Tikus!" Aryan, mengernyitkan dahinya, merasa aneh jika ada tikus di tempat kedai pizzanya.
"Iya TIKUS MESUM." Kata Tari, dengan lantang.
Aryan, semakin di buat aneh dan heran.
"Masa ada tikus mesum!"
"Tentu ada, dan dia sangat besar."
"Lalu, apa yang terjadi padanya?" tunjuk Aryan, pada Arga yang terlihat sangat kacau, rambutnya pun sangat berantakan karena pukulan dari Tari.
Tidak ingin diam lama-lama Arga, pun beranjak dan berdiri. Merapikan kemejanya begitu pun dengan rambutnya. Arga, berjalan keluar dari dapur. Langkahnya pun berhenti saat berpapasan dengan Aryan.
"Istrimu seperti singa!" gumam Arga, lirih lalu melanjutkan langkahnya.
Aryan, mengernyitkan dahinya tidak mengerti apa yang Arga, ucapkan. Lalu Aryan pun kembali melirik Tari, yang masih terdiam dengan tubuh gemetar.
Tubuh gemetar itulah yang membuat Aryan, curiga. Aryan melihat Tari, seperti ketakutan, apa lagi saat melihat ujung roknya yang sobek membuat Aryan, semakin curiga.
...----------------...
__ADS_1
Ayo Aryan, cari tahu hajar tuh si Arga 😠
Jangan lupa like dan komentar ya biar tambah semangat update nya 🥰