
Melihat keadaan Tari, yang tiba-tiba sakit membuat Aryan khawatir. Aryan pergi ke dapur untuk membuatkan Tari, bubur. Kegiatan Aryan, di ketahui oleh oma Rose. Yang penasaran sedang apa Aryan, di dapur malam-malam.
"Aryan sedang apa kamu?"
"Buat bubur Oma."
"Siapa yang sakit?"
"Tari. Dia mual-mual dan pusing sepertinya tidak makan dengan teratur. Aryan ke kamar dulu Oma, mau bawakan bubur ini untuk Tari," ucap Aryan, yang melangkah pergi membawa semangkuk bubur namun Oma Rose langsung menghentikan langkahnya.
"Tunggu. Kamu bilang Tari mual-mual dan pusing. Aryan mungkin Tari hamil."
"Hamil!"
"Iya, kamu harus pergi ke rumah sakit cek kandungannya Oma yakin Tari, hamil. Akhirnya Oma punya cicit" Oma Rose begitu antusias dan gembira. Aryan, tertegun sejenak lalu melanjutkan kembali langkahnya ke kamar.
Sesampainya di dalam kamar Aryan, melihat Tari, masih tertidur. Di simpannya mangkuk bubur itu di atas nakas samping ranjang tidurnya. Aryan, menggerak, kan tangannya mengusap lembut kepala Tari. Ucapan Oma Rose terus terngiang di telinganya juga terpikirkan olehnya. Aryan, melihat jarum jam yang berputar pada arlojinya setelahnya Aryan, merogoh ponselnya.
Aryan, menghubungi Shiren, temannya yang berpropesi sebagai dokter kandngan. Aryan, meminta Shiren, untuk segera datang untuk memeriksa Tari, apa benar hamil atau tidak. Setelah Shiren, menyepakati sambungan telepon pun di tutup.
"Aryan," lirih Tari. Aryan, tersenyum lalu membantu Tari, untuk bangun.
"Kamu sudah bangun. Aku sudah buatkan bubur makanlah selagi hangat." Kata Aryan, seraya membantu Tari untuk berdiri.
"Apa masih terasa pusing?" tanya Aryan lagi. Tari, hanya mengangguk.
__ADS_1
"Sebentar lagi Shiren, akan datang."
"Shiren!" Tari, terlihat kebingungan siapa Shiren, karena tidak mengenalinya.
"Dia temanku juga seorang dokter. Aku menghubunginya untuk memeriksamu, aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Kamu seorang dokter kenapa harus memanggil orang lain?"
"Aku dokter bedah, bukan dokter umum. Shiren, dokter kandungan." Tari sedikit terkejut saat mendengar jika Shiren dokter kandungan. Menurutnya untuk apa memanggil dokter kandungan. Namun Aryan tidak menjelaskan apa pun.
Tidak lama kemudian Shiren, pun datang. Sebelumnya Shiren, sudah di beritahukan Aryan, tentang keadaan Tari, dan gejala sakitnya. Shiren, pun mengerti dan akan memeriksa lebih lanjut. Shiren, mulai memeriksa setelah Aryan, meninggalkan kamar.
"Aryan, bagaimana apa Tari benar hamil?" tanya Oma Rose yang sudah tidak sabar ingin tahu hasilnya.
"Tidak tahu Oma. Kita tunggu saja Shiren, sedang memeriksanya."
Setelah menunggu cukup lama Shiren, pun keluar. Aryan dan Oma Rose langsung menghampiri Shiren, saat keluar dari kamar.
"Bagaimana Shiren?"
"Selamat ya Aryan, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah."
"Jadi …."
"Ya, Tari hamil." Oma Rose dan Aryan, tertawa bahagia. "Usia kandungannya sudah 4 minggu. Di trimester pertama pasti Tari, akan mengalami mual dan pusing, tapi kamu jangan khawatir aku sudah memberikannya obat. Jaga istrimu dan perhatikan dia dengan lebih, jangan menyinggung karena wanita hamil sangat sensitif."
__ADS_1
"Terima Kasih Shiren."
"Akhirnya Oma akan punya cicit. Bolehkah Oma bertemu Tari."
"Silahkan Oma."
"Terima kasih." Oma Rose begitu antusias yang melangkah masuk ke dalam kamar Tari. Aryan, mengantarkan Shiren, sampai teras.
"Sekali lagi terima kasih ya Shiren."
"Kamu pasti bahagia sekali iya, kan! Aku akan beri kabar bahagia ini pada Amel, dia pasti sangat antisias." Aryan, hanya tersenyum saat mendengar ucapan Shiren.
"Bagaimana kabar Lala?" tanya Aryan.
"Aku yakin Arga, akan menjaganya. Lala hanya mengalami keram pada perutnya. Itu mungkin karena dia terlalu stres akhir-akhir ini. Kamu jaga Tari, jangan membuatnya stres itu bisa menganggu kesehatan janinnya. Dan lebih baik jangan katakan tentang Lala, padanya dan jangan pernah tunjuk, kan perhatianmu pada Lala, di depannya. Aku takut Tari, akan salah paham apalagi mengingat kamu dan Lala, pernah menjalin hubungan."
"Jangan khawatir aku sudah tidak mencintai Lala, lagi. Aku hanya mencemaskannya sebagai teman. Dan untuk Tari, sudah pasti aku akan menjaganya." Jelas Aryan.
"Kalau begitu aku pamit pulang," ucap Shiren.
"Ya, hati-hati." Shiren, hanya mengangguk lalu pergi. Aryan, masih diam terpaku sampai akhirnya mobil Shiren, pun menghilang Aryan, pun kembali ke dalam rumah.
...----------------...
Akhirnya Tari Hamil. Selamat Tari, dan Aryan, selamat juga buat Oma yang mau punya cicit hehe.
__ADS_1
Maaf nih othor baru up lama ya nungguin hehe ... ngarep aja nih aku di tingguin para reader. Maafin othor yang jarang up ya tapi gak lupa dong like dan komentarnya biar tambah semangat.