
Tari, menatap malas meja makan di hadapannya. Yang penuh dengan makanan namun makanan itu yang membuat Tari, tak berselera. Makanan rumah sakit yang hanya ada ikan, nasi, dan sayur. Ada pun buah-buahan yang sudah di potong.
"Kenapa hanya diam, makanlah?" perintah Aryan, yang baru melangkah masuk ke dalam kamar Tari.
Tari, hanya mengerucutkan bibirnya saat melihat Aryan. "Tidak berselera," ucap Tari, malas.
"Tapi kau harus makan, mengerti!"
"Dokter, bisakah kau mengabulkan permintaanku?"
"Apa?" Aryan, mengerutkan keningnya menatap Tari, curiga.
"Bisakah Dokter, membelikanku makanan yang enak? Aku tidak ingin memakan ini please …." Tari, menangkupkan kedua telapak tangannya seraya memohon dengan jurus imutnya. Membuat Aryan, tak sanggup melihatnya.
Aryan, pun berlenggang pergi. Membuat bibir Tari, tersenyum berharap Aryan, akan membawakannya makanan. Tak berselang lama Aryan, pun kembali muncul dengan membawa satu paper bag di tangannya. Menaruh paper bagnya di atas meja.
Tari, langsung membuka isi dalam paper bag itu. Aryan, membawakannya sebungkus nasi goreng yang ia beli di depan rumah sakit. Tanpa menunggu lama Tari, pun memakan nasi goreng itu dengan lahap. Tak lama dengan es teh manis sebagai minumannya.
Aryan, pun tersenyum melihat Tari, yang begitu lahap memakan-makanannya.
"Dokter terima kasih aku sangat kenyang, nasi gorengnya enak sekali."
"Tapi ini tidak gratis," ucap Aryan, seraya mencubit pipi chubynya
"Apa! Hanya nasi goreng saja perhitungan." ketus Tari.
"Kau harus membayarnya dengan pizza,"
"Ouh dokter, aku kira dengan apa kalau begitu kau tenang saja aku akan membuatkanmu pizza nanti."
"Sudahlah ayo cepat habiskan," ucap Aryan, seraya mengacak rambut Tari.
__ADS_1
*
*
*
Keadaan Tari, sudah lebih baik bahkan Tari, sudah di perbolehkan untuk pulang. Namun, Tari, kembali teringat pada ibunya yang mengabarkan tentang adiknya yang sakit.
Tari, pun bergegas mencari ponselnya untuk menghubungi ibunya. Namun, ponselnya tidak ada. Tari kebingungan dimana ponselnya.
"Dimana handphoneku? Apa tertinggal di taman saat itu? Bagaimana caraku menghubungi ibu."
Tari, kebingungan namun Tari, tidak kehilangan akal. Saat itu seorang perawat yang masuk ke dalam kamarnya. Dengan ramah Tari, pun meminjam handphone milik perawat itu. Setelah di berikan dengan segera Tari, pun menghubungi ibunya.
"Halo, Bu. Ini Tari." ujar Tari, saat sambungan telepon tersambung.
"Tari!"
"Iya, Bu ini Tari. Bagaimana keadaan Bintang Bu?"
"Temanku?"
"Ya, temanmu yang dokter itu. Dia memberikan resep obat untuk Bintang, dia sangat baik. Salamkan salam ibu padanya ya, bilang terima kasih."
"Oh ya Tari, terima kasih uangnya sudah ibu terima. Ibu akan menggunakannya dengan baik, jaga kesehatanmu ya Nak!"
"Ibu, uang apa? Tari, tidak ingat."
"Masa kamu lupa, kemarin ibu, kan bilang jika ibu tak punya uang dan baru saja kamu mengirmkan ibu uang lima juta, terima kasih ya Nak, jaga kesehatanmu ya jangan lupa makan."
Sambungan telepon pun di tutup yang di akhiri oleh sang ibu.Tari, merasa heran siapa yang mengirim ibunya uang sedangkan Tari, tak merasa mengirimnya sama sekali.
__ADS_1
"Mba, apa teleponnya sudah?" tanya seorang perawat yang ingin mengambil ponselnya.
"Ini … terima kasih ya!" Tari, menyerahkan ponsel itu.
"Sama-sama Mba."perawat itu pun mengambil ponselnya lalu pergi.
Tari, masih memikirkan kembali perkataan ibunya. Sebenarnya siapa yang telah mengirim ibunya uang, padahal Tari, ingin meminta maaf karena saat ini dirinya tidak bisa mengirimnya uang, namun ibunya berkata jika uangnya sudah dia terima. Sebenarnya siapa yang mengirim uang itu.
Di tempat lain Aryan, baru saja menyelesaikan transaksi pada moblie bankingnya. Transfer lima juta sudah dia kirimkan pada seseorang yang sudah membuatnya terenyuh.
Aryan, tak sengaja melihat satu pesan masuk pada ponsel Tari, satu pesan dari kontak yang bernama 'MY BOS' menuliskan sebuah pesan yang berbunyi.
Massege 'My Bos'
'Tari, maafkan saya. Saya terpaksa memecatmu karena permintaan dari atasan. Saya juga tidak tahu apa alasan mereka memecatmu namun saya tidak bisa membantah dan saya tidak bisa menolongmu. Sekali lagi maafkan saya, kamu pantas marah pada saya'
Aryan, tertegun lalu berpikir jika karena inilah Tari, jatuh pingsan dan sakit. Aryan, pun merasa kasihan karena di balik keceriaan Tari, ternyata ada masalah yang begitu besar yang ia sembunyikan.
"Jadi dia sudah di pecat di pizzanya itu?" gumam Aryan.
Tak berselang lama satu pesan kembali masuk namun kali ini dari 'IBU' pesan itu pun tampil sehingga Aryan, kembali meihat satu pesan yang masuk.
Messege IBU:
Nak keadaan Bintang sudah membaik. Oh iya Nak, bagaimana apa kamu sudah mendapatkan uangnya? Apa Bos mu memberikanmu pinjaman. Maaf jika ibu terus meminta tapi bagaimana lagi hanya kamu yang Ibu punya.
"Seberat itukah kehidupannya? Sehingga dia harus menjadi tulang punggung di usianya masih muda." gumam Aryan,
Aryan, pun merasa iba, apalagi jika itu tentang Ibu. Tanpa menunggu lama Aryan, membalas pesan itu entah apa yang Aryan, ketik. Namun, setelah mendapat balasan Aryan, pun merogoh sakunya untuk mengambil ponsel miliknya.
Dalam sedetik, transaki pun berhasil. Ternyata Aryan, meminta nomor rekening saat itu.
__ADS_1
"Ibu aku sudah mengirim uangnya"
Tulis Aryan, pada sebuah pesan yang berpura-pura sebagai Tari.