
Tari dan Sonia masih duduk di tengah taman. Keduanya saling diam berada dalam pikirannya masing-masing.
"Aku pikir Bryan, setia ternyata dia masih sama seperti dulu." Tari, membuka keheningan. Sonia hanya melirik dan menatap Tari, di sampingnya.
"Dulu saat aku berpacaran dengan Bryan, banyak sekali yang mengatakan keburukannya. Banyak dari mereka yang bilang jika Bryan, itu playboy. Tukang selingkuh dia tidak pernah bisa hidup dalam satu cinta. Tapi aku tidak pernah percaya saat itu karena aku mencintainya sangat mencintainya. Tapi … setelah aku melihat kalian berciuman di depanku saat itu barulah aku percaya jika perkataan mereka semua benar tentang keburukan Bryan, yang tukang selingkuh."
Sonia, masih diam dan menyimak.
"Yang paling menyakitkan adalah kenapa harus sahabatku yang menjadi selingkuhannya." Sonia, langsung salah tingkah saat Tari, meliriknya.
"Kita sahabat dekat. Aku selalu mengatakan apa pun itu tentang kehidupanku. Bahkan, aku mengatakan tentang Bryan, padamu. Apa kamu masih ingat! Kamu yang selalu mendandaniku saat akan berkencan dengan Bryan, kamu selalu membantuku, mendukungku. Tidak pernah terbayangkan olehku jika kamu diam-diam mengencaninya. Kamu terlihat baik-baik saja saat itu, aku pikir kalian hanya dekat sebagai sahabat."
Sonia, tertegun.
"Sebenarnya, aku sudah menyukai Bryan, dari dulu namun saat aku mendengar kamu berkencan dengannya aku tidak tega mengatakannya. Aku tidak ingin merusak suasana hatimu yang bahagia, ceria, lebih baik aku diam. Aku pikir aku bisa melupakan rasa itu, tapi tidak mudah dengan seringnya bertemu, dan melihatnya rasa itu semakin tumbuh. Aku semakin mencintainya."
"Aku tahu itu salah, karena itu tidak mungkin Bryan, milikmu pacar sahabatku dan aku memutuskan untuk melupakannya namun pada satu hari, Bryan, datang ke rumah kostmu saat itu kamu tidak ada dan aku menunggu di rumah kostmu dengan Bryan. Aku hanya diam, dan berbicara sewajarnya tapi tiba-tiba Bryan, menggenggam tanganku lalu menciumku. Aku berusaha menghindar namun rasa cintaku padanya tidak bisa menolak sentuhannya. Sejak itulah kami berkencan diam-diam di belakangmu."
Mata Tari, mulai mengembun dan berkaca-kaca mendengar perkataan Sonia. Tidak percaya jika Bryan, sebejad itu dan mereka melakuka di belakangnya.
__ADS_1
"Rasa cintaku berubah menjadi obsesi. Aku selalu cemburu melihat Bryan, denganmu dan aku semakin tidak ingin kehilangan Bryan, hingga akhirnya aku meminta ayahku untuk menjodohkan kami dan mengatakannya pada keluarga Bryan. Karena mereka teman bisnis dan keduanya sangat senang mengetahui kami saling mencintai hingga pernikahan pun berlangsung," ungkap Sonia.
"Seharusnya kamu sudah tahu seperti apa Bryan. Saat pertama kali menyentuhmu seharusnya kamu sudah tahu jika Bryan, bukanlah laki-laki yang baik. Tidak mungkin lelaki baik akan memacari sahabat pacarnya sendiri. Dan dia tidak pantas di cintai."
Tari, berbicara dengan nada tinggi kekesalannya terlihat jelas.
"Seperti apa yang kamu katakan, cinta kamu mencintai Bryan, dan saat itu kamu peduli bagaimana orang lain mengatakan keburukan Bryan. Begitu juga dengan aku, aku mencintainya sehingga tidak pernah berpikir tentang kejelekan Bryan, jika Bryan, bukanlah lelaki baik." Sonia, menimpali.
"Ya, karena cinta semua karena cinta. Jika kamu mencintainya untuk apa kamu datang padaku menuduhku selingkuh dengan Bryan, seharusnya kamu percaya jika Bryan, lelaki baik dan tidak akan melakukan itu."
Sonia, tertegun mendengar perkataan Tari. Apa karena cinta Sonia tidak mampu melihat sisi Bryan, yang buruk.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tari. Sonia masih diam.
"Lebih baik kamu pulang dan bicarakan ini baik-baik dengan Bryan. Jika memang Bryan, selingkuh lebih baik kamu katakan pada ayahmu dan selesaikan dengan keluargamu."
"Aku tidak mungkin mengatakannya pada ayah dan ibuku. Mereka pasti memintaku bercerai."
"Lalu! Apa kamu akan tetap mempertahankan Bryan."
__ADS_1
"Ya. Aku akan membuat Bryan, bertekuk lutut dan tidak bisa lagi bermain serong."
"Kamu yakin."
"Ya, aku yakin Bryan, tidak akan bisa berkutik."
"Ya, baguslah jika kamu punya cara yang jitu. Semoga berhasil," ucap Tari lalu melangkah pergi.
"Tunggu," kata Sonia, membuat Tari, menghentikan langkahnya. Sonia berdiri lalu menghadap Tari.
"Maaf. Apa kamu mau memaafkanku "
Tari masih diam.
"Apa kita bisa berteman seperti dulu. Kamu boleh menghukumku karena aku telah merebut Bryan darimu. Aku akui salah karena itu hukumlah aku." Sonia terus berkata namun Tari, tetap diam.
"Seharusnya aku sadar kamu tidak akan memaafkanku. Aku memang bodoh." Sonia merutuki dirinya.
"Aku menyukai dirimu saat ini. Aku seperti melihat Sonia, sahabatku. Kamu kembali seperti dulu Sonia," ucap Tari, membuat Sonia tersenyum.
__ADS_1
"Jangan tersenyum aku akan menghukum mu," ungkap Tari, lagi membuat Sonia, berlari memeluknya.
"Aku siap dengan hukuman apa pun," ucap Sonia. Tari, pun membalas pelukannya.