Because Of Pizza

Because Of Pizza
Membayar Hutang


__ADS_3

Seorang Dokter, datang ke kamar rawatnya. Wajah Tari, terlihat tidak suka melihat dokter itu dia adalah Lala, seorang dokter yang pernah bersitegang dengannya bahkan tamparan itu masih berbekas dan masih Tari, ingat. 


Lala, berjalan menghampiri Tari, dengan tatapan yang tak suka. 


"Ngapain kamu kesini setahuku bukan kamu yang menaganiku." Skak Tari.


"Akting kamu pintar juga ya, hei gadis pizza, apa tujuanmu mendekati Aryan?" Lala, sedikit membusungkan dasanya mendekatkan wajahnya pada Tari, hingga menatapnya tajam. 


"Hei, dokter genit." Mata Lala terbelalak mendapat cibiran dari Tari. 


"Seharusnya aku bertanya padamu apa tujuanmu mengaku-ngaku jadi pacar dokter gantengku. Kalau aku tidak ada tujuan apa pun kami dekat karena sering bertemu. Apa kamu mau dengar awal kedekatan kami hah!" 


Ish … umpat Lala.


"Asal kamu tahu ya! Aryan, adalah kekasihku tapi setelah bertemu denganmu Aryan, memutuskanku."


"Apa tujuanmu karena uang hah! Pertama kau memerasnya, sekarang kau datang lagi membuat dia harus di marahi direktur karena dirimu. Kamu tahu siapa yang membiayai pengobatanmu? Aryan, dokter gantengmu itu." 


"Setiap kamu datang selalu saja menambah masalah untuknya." 


Tari, tertegun mendengar perkataan-demi perkataan yang di lontarkan Lala. Tari, tidak terpikirkan tentang pengobatannya selama di rumah sakit. Mungkin dulu Bryan, yang menanggungnya tapi sekarang … tidak mungkin Bryan, melakukan itu. 


'Apa Dokter Aryan, yang mengirim uang pada Ibu!' batin Tari, yang bermonolog.


"Kenapa kau diam jadi benar semua yang aku katakan!" ucap Lala, sinis. 


"Asal kamu tahu, Aryan itu adalah kekasihku jadi jangan pernah datang lagi untuk menemuinya." 


"Kekasih! Ya … dulu sebelum aku menyadari kelakuan busukmu." Lala, tercengang saat mendengar suara Aryan. Tari, dan Lala pun menoleh ke arah pintu yang dimana sudah ada Aryan,  yang berdiri disana. 


"Kamu lupa kita tidak ada lagi hubungan." Kata Aryan, yang melangkah maju ke arah Tari. 

__ADS_1


"Pergi sana, jangan ganggu pasienku." Ketus Aryan. Dengan wajah kesal Lala, pun pergi. Kini hanya Tari, dan Aryan, di dalam kamar. 


"Kau sudah di perbolehkan pulang hari ini, jangan lupa minum obat dan juga kontrol setiap minggunya. Aku yang akan mengantarkanmu pulang." 


"Oh ya, ini ponselmu juga kunci motormu."


Tari, diam sejenak seraya menatap ponselnya yang Aryan, berikan. 


"Jadi selama ini ponselku ada padamu?" 


"Ya!" jawab Aryan, yang sibuk merapikan beberapa alat medis di atas meja. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya, suara isakan tangis terdengsr serak, dan menggetarkan punggungnya. 


"Dokter, terima kasih karena sudah menolong adikku, berkat dirimu adikku sembuh, terima kasih kau sudah mau menanggung biaya pengobatanku, kau sangat baik, kau sudah menolongku dan keluargaku." rengek Tari, yang memeluk Aryan. 


Perlahan Aryan, melepaskan pelukan Tari, lalu berbalik menatap Tari, yang matanya kini sudah sembab karena air matanya. 


"Sudah jangan menangis, itu bukan apa-apa. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang dokter." 


Aryan, hanya menghela nafas tanpa me jawab pertanyaannya. Aryan, melakukan itu dengan ikhlas tidak ingin Tari, tahu soal itu. Namun ternyata Tari, sudah mengetahuinya. 


"Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi sekarang kita pulang aku akan mengantarmu," ajak Aryan.


Namun tiba-tiba Tari, menangis sangat keras, membuat Aryan, bingung. "Hei, ada apa kenapa menangis?" 


"Huhu … Dokter, aku terenyuh dengan kebaikanmu, tapi kau malah menambah hutangku padamu huhuhu … berapa banyak uang yang harus aku bayar," rengek Tari.


Aryan, berdecak. Aryan, berpikir Tari, menangis karena apa ternyata karena masalah uang yang dia berikan pada ibunya.


"Kau ini jahil, nyebelin, tapi cengeng!" cibir Aryan, membuat mata Tari, mendelik.


"Ish … Dokter kau mengejekku! Ini bukan air mata buaya dokter ini air mata asli." 

__ADS_1


Seketika Aryan, tergelak mendengar perkataan Tari, yang selalu bisa membuatnya tertawa. 


"Sudah jangan menangis. Masalah itu kita bicarakan nanti." 


"Kau akan mengurangi hutangku?" 


"Kau tetap ingin membayar hutangmu?" 


"Iya, tentu. Aku tidak bisa menerimanya secara gratis." 


Aryan, pun menunduk mendekatkan wajahnya dengan wajah Tari, membuat jantung Tari, kembali berdegup kencang, hatinya kini berdebar-debar. 


"Apa dia ingin aku membayarnya dengan ciuman!" batin Tari


Wajah Aryan, semakin mendekat bibirnya semakin maju, Tari, semakin salah tingkah. Mengira jika Aryan, akan menciumnya. 


"Ish dasar dokter mesum, selalu saja bibirku yang menjadi sasarannya, apa dia sekarang juga akan menciumku! Baiklah, aku akan lakukan lebih dulu jika dia ingin aku membayar hutangnya dengan ini." Tari, terus bermonolog dalam hatinya.


Saat wajah Aryan, kembali mendekat Tari, memejamkan matanya dan … 


Cup, 


Mata Aryan, membulat sempurna saat benda kenyal itu mendarat pada bibirnya. 


...----------------...


Aduh Tari, main nyosor saja gimana kalau Aryan, bukan mau cium kamu aduh ... aduh 🤦‍♀️


Jangan lupa like dan komentarnya biar othor tambah semangat update nya. Sisihkan juga koinnya untuk vote ya 🙏 Mana nih segelas kopinya biar othor tetap melek dan update terus, jangan lupa kasih bintang 5 nya oke.


Salam author

__ADS_1


Love sekebon ❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2