
"Apa ini?" tanya pak Direktur.
"Surat pengunduran diri saya Direktur."
"Pengunduran diri!"
"Ya, saya izin resign."
"Kenapa?"
"Mm … karena … ada kepentingan pribadi. Saya akan pulang ke kampung halaman."
"Kenapa tidak cuti saja?"
"Tidak bisa pak Direktur. Karena saya akan tinggal dalam waktu yang lama jadi tidak bisa cuti, dan saya harus mengundurkan diri."
Sebisa mungkin Lala, mencari alasan yang tepat. Yang bisa di pahami oleh pak Direktur. Laki-laki paruh baya itu merasa berat jika harus kehilangan Lala, salah satu Dokter spesialis yang paling di butuhkan, dan cukup berprestasi. Namun, karena alasan Lala, yang cukup masuk akal membuat lelaki itu mengizinkan Lala, untuk resign dari rumah sakitnya.
Keputusan Lala, sudah bulat. Sebelum perutnya semakin membesar Lala, ingin resign dari rumah sakit itu. Dan akan pergi jauh dari kota itu.
"Kamu serius resign?" tanya Amel, yang melihat Lala merapikan semua barang-barangnya.
"Ya" jawab Lala singkat.
"Kenapa? Ada apa?"
"Tidak ada masalah apa pun ini sudah keputusanku." Lala, pun melangkah pergi Amel, menahan langkahnya. Hingga tak sengaja menyentuh perut Lala, saat menahannya pergi.
"Lala tunggu. Apa ini." Lala jadi gugup dan ingin segera pergi namun lagi-lagi Amel, menahannya dan membuka jas blezer almamaternya membuat perut bincit Lala terlihat.
"Lala, kamu hamil." Dengan segera Lala, menutup kembali jas almamaternya.
"Maaf Amel, aku harus segera pergi."
"Lala, tunggu." Amel, menarik tangannya membuat langkah Lala terhenti.
__ADS_1
Terpaksa Lala, mengatakan yang sebenarnya pada Amel, jika dirinya hamil dan terpaksa mengundurkan diri. Tak hanya itu Lala, juga mengatakan jika Arga, lah yang menghamilinya.
Amel, tidak habis pikir pada Arga, yang lari dari tanggung jawabnya. Walaupun Amel sedikit kesal dan benci pada Lala, karena selalu mengganggu hubungan Aryan, dan Tari. Namun, melihat keadaan Lala, saat ini membuat Amel, merasa iba, kasihan atas ujian yang temannya alami.
"Sampai sekarang Arga, belum menghubungimu?" tanya Amel, dengan nada kesal.
"Entahlah. Aku sudah tidak ingin lagi melihatnya atau bertemu dengannya. Dia laki-laki pengecut tidak pantas aku harapkan."
"Tapi tetap saja Arga, harus tanggungjawab."
"Jika dia ingin tanggungjawab kemana saja selama tiga bulan ini. Saat aku hubungi dia selalu di rijek, di abaikan, berkali-kali aku hubungi, tetap sama."
"Apa pernah dia menghubungi, menanyakan kabar tentangku tidak pernah. Usia kandunganku sudah menginjak empat bulan. Sebentar lagi akan lima bulan, enam bulan dan teruslah bertambah hingga sembilan bulan. Perutku akan semakin membesar dan tidak mungkin aku masih tetap disini."
"Lalu kamu mau kemana?" tanya Amel yang sedikit khawatir.
"Aku akan pulang sejauh mungkin dari kota ini. Hingga tidak ada yang mengenaliku disana. Aku akan membuka lembaran baru, aku akan melahirkan, dan merawat anakku sendiri."
"Kenapa kamu harus pergi Lala. Apa Aryan tahu hal ini?"
"Aryan dan Tari, sudah mengetahuinya justru mereka yang selalu memperhatikanku. Aku tidak mau terus menyusahkan orang lain, apalagi Aryan dan Tari, aku tidak ingin mengganggu kehidupan mereka sudah cukup aku membuat salah, aku tidak ingin merepotkannya lagi."
"Aku harap kamu tidak akan memberitahukan Aryan, dan Tari tentang kepergianku ini." Mohon Lala, pada Amel.
Seminggu sudah berlalu. Aryan, baru mengetahui jika Lala, sudah pergi dan resign dari rumah sakit. Selama Lala, tidak ada Aryan, berpikir jika Lala, mengambil cuti, sakit atau lainnya.
Namun, ternyata Lala, resign dari pekerjaan dan pergi tanpa memberitahunya. Bukan karena terlalu mengkhawatirkannya namun, keadaan Lala, yang sedang hamil membuat Aryan cemas.
"Sayang kamu sudah pulang!" seru Tari, saat Aryan, datang ke kedainya.
"Oh ya, apa kamu ingin makan sesuatu? Minum, kopi, teh, jus, pizza." Aryan, hanya menggeleng saat Tari, menawarkan beberapa menu makan dan minum.
Wajah Aryan, terlihat lelah, lemas, dan tak bergairah. Tanpa bertanya lagi Tari, langsung pergi ke dapur membuatkan teh jahe madu hangat untuk suaminya, berharap bisa mengobati rasa lelahnya.
Tari, pun menyimpan segelas teh hangat itu di depannya.
__ADS_1
"Apa ada masalah? Kamu terlihat lemas," tanya Tari, setelah menyimpan segelas teh di depan Aryan.
"Tidak apa-apa hanya sedikit lelah saja. Hari ini aku melakukan operasi empat kali membuatku lelah."
"Oh suamiku lelah ya, jangan lesu begitu nantiku tambahkan imun biar lelahmu hilang." Aryan, tersenyum mendengar godaan istrinya itu.
"Sekarang kamu sudah pandai ya! Awas saja jika nanti kamu meminta berhenti."
"Kalau di tambah imun sampai pagi bagaimana aku tidak minta berhenti. Kamu saja tidak pernah lelah," umpat Tari, sambil memonyongkan bibirnya.
"Kan biar cepat jadi bibitnya sayang."Kata Aryan, yang menciut hidung Tari.
"Tapi gak harus semalaman juga, yang ada bibitnya kembali layu bukannya berkembang." Aryan, semakin tergelak saat mendengar ocehan istri imutnya itu dan lagi-lagi Aryan, menciut hidungnya.
"Oh ya, aku punya sesuatu. Sebentar aku ambilkan dulu."
Tari, pergi menuju lantai atas lalu kembali dengan membawa satu paper bag. Setelah sampai di hadapan Aryan, Tari, pun memperlihatkan isi paper bag itu sebuah baju t-shirt berwarna hitam.
"Bagus, kan. Ini baju couple Dokter Lala yang memberikannya."
"Dokter Lala!" Aryan, terkejut.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kapan dia memberikan ini."
"Seminggu yang lalu. Dia datang kesini lalu memberikan ini katanya, dia akan pergi berlibur jadi sebelum pergi dia memberikan ini padaku. Bagus, kan!"
"Kenapa kamu tidak bilang!"
"Aku lupa. Rencananya besok aku akan menemuinya memberikannya hadiah juga."
"Dia sudah pergi," ujar Aryan, membuat Tari, langsung menoleh.
"Pergi? Mungkin dia masih berlibur."
__ADS_1
"Bukan berlibur, tapi pergi untuk selamanya. Dia resign dari pekerjaannya dan tidak akan kembali."
"Apa! Resign!" Tari, langsung termangu. Padahal saat Lala, datang ke kedainya dia tidak mengatakan apapun. Lala, hanya mengatakan jika dirinya akan pergi berlibur untuk menghilangkan rasa penatnya. Tetapi Tari, tidak menyangka jika berliburnya Lala, adalah kepergiaannya dari kotanya tanpa akan kembali.