Because Of Pizza

Because Of Pizza
Makan Siang


__ADS_3

Tari, sudah sampai di rumah kostnya, untuk menemui ibunya. Sebelum menuju rumah kostnya Tari, mampir sebentar ke pasar untuk membeli beberapa bahan masakan yang akan di masaknya nanti. 


"Ibu!" seru Tari, yang langsung memeluk ibunya saat pintu kostnya terbuka. 


"Putri ibu tumben datang, ada apa? Kangen?" 


"Pastilah Bu, kangen. Selagi ibu masih ada disini." 


"Eh, apa yang kamu bawa?" tanya Kiranti, ibu Tari. Yang melihat ranjang belanjaan Tari. 


"Aku kesini ingin belajar masak Bu, Tari sudah membeli bahan masakannya," jelas Tari, sambil menjunjung keranjang sayuran yang ia bawa. 


"Dulu, bantuin ibu masak saja gak mau sekarang minta di ajarin." 


"Itu dulu Bu, sekarang beda lagi." Tari, cengengesan. 


"Makanya kalau Ibu ngomong dengerin. Coba dulu kamu nurut sama Ibu sekarang kamu sudah bisa masakin buat suamimu." 


"Ah Ibu, jangan ngejek terus dong! Mending ajarin Tari, memasak hari ini." Tari, merajuk.


"Iya, Iya. Ayo masuk!" ajak Kiranti, yang merangkul putri nya. 


"Bintang mana Bu?" 


"Masih tidur jangan berisik." 


Tari, dan Kiranti, langsung menuju ke dapur. Semua bahan masakan dan sayuran yang Tari, beli langsung di tata rapi di atas meja. Tari, mulai mencuci sayurannya dan Kiranti mulai menyiapkan alat masaknya. 


"Kamu mau masak apa untuk suamimu?" 


"Apa ya! Pokoknya yang enak aja Bu."


"Kamu ini, mau masak tapi belum tahu masak apa. Masa bisa begitu." 


"Tari, kan gak bisa masak Bu, jadi gak tahu mau masak apa. Rencananya Tari, mau bawakan Mas Aryan, makan siang nanti." 


"Ya udah deh, kita masak ayam rica-rica saja, sama plecing kangkung." 


"Iya Bu, terserah Ibu saja."

__ADS_1


Kiranti, pun mulai menyiapkan bahan masakannya, dan Tari, mulai membantu dan melihat cara-caranya agar Tari, bisa memasak tiap hari untuk Aryan. 


*


*


*


Aryan, merasa lelah setelah berkeliling memeriksa pasien satu persatu. Kepalanya sudah terasa pusing mungkin karena pagi ini Aryan, tidak sarapan karena dia melupakan roti bakarnya. 


Setelah selesai dengan kerjaannya Aryan, bergegas pergi ke ruangannya. Namun di tengah lorong dirinya berpapasan dengan Amel, yang mengajaknya pergi ke kantin untuk sarapan. Aryan, yang memang sangat lapar pun menyetujui ajakan Amel. 


"Dokter Aryan, sudah selesai cek pasiennya?" 


"Sudah," 


"Kenapa mukanya agak pucat?" 


"Cuma pusing saja, mungkin karena tadi belum sarapan." 


"Oh, kalau gitu kita ke kantin saja aku juga belum sarapan." 


"Kok bisa ya kamu gak sarapan? Istrimu kemana? Gak nyiapin sarapan untuk suaminya? Jangan-jangan istrimu gak bisa masak ya, kasihan banget si kamu Aryan, punya istri gak berguna." Sinis Lala, membuat Aryan, terpancing emosi. 


"Jangan pernah hina istriku. Mau istriku bisa masak atau tidak itu bukan urusanmu." 


"Kamu masih belain dia!" 


"Ya jelas, karena dia istriku." 


"Sudah Aryan, jangan di ladenin kita ke kantin saja," ajak Amel, yang sudah kesal mendengar ocehan Lala.


"Dan kamu La, gak usah urusin rumah tangga orang. Lo urusin aja tuh pacar lo si Arga." Hardik Amel, lalu pergi bersama Aryan, menuju kantin.


****


Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 menandakan jam makan siang. Tari, yang sudah selesai memasak dan sudah menyiapkan satu tupperware untuk ia bawakan pada Aryan. Dengan langkah semangat Tari, pun beranjak pergi. 


"Ibu, Tari, pergi dulu." 

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya nak!"


Tari, pun melangkah pergi dengan menaiki motor kesayangannya. Dengan penuh semangat dan penuh harap jika Aryan, akan menyukai masakannya. 


"Mas Aryan, pasti suka aku kasih kejutan. Dia pasti memujiku karena hari ini aku membawakannya makan siang. Aku akan bilang jika aku sudah bisa memasak dan akan memasakannya setiap hari." Tari, terus bermonolog sepanjang perjalanannya. 


Bayangannya saat ini hanyalah Aryan, dan Aryan, berharap suaminya itu akan memujinya. Hingga tatapannya tidak fokus pada jalanan di depannya. 


Bruk, 


Sebuah motor pengantar pizza menabrak motornya hingga terguling. Membuatnya terjatuh hingga terbentur aspal. Namun, Tari, masih tetap kuat dan mampu berdiri. 


Namun, bukan keadaannya yang dia pedulikan melainkan tupperwarenya yang jatuh sehingga membuat isi di dalamnya berantakan. 


"Makan siangnya!" Setelah mengangkat motornya dengan segera Tari, mengambil tupperwarenya dan membukanya merapikan kembali isi di dalamnya. 


"Untung saja tidak tumpah," ucap Tari, merasa lega. 


"Mba, maaf saya tidak sengaja," ujar  si pengantar Pizza. Karena mengantuk dirinya tidak melihat ada sebuah motor di depannya.


"Kalo nyetir lihat-lihat dong Bang. Jangan maen tabrak," pekik Tari.


"Iya, saya minta maaf." 


"Huh, gara-gara pizza," umpat Tari, saat melihat kotak pizza di atas motor yang baru saja menabraknya. Tari, jadi teringat saat pertemuannya dengan Aryan, yang berawal karena pizza Membuat Tari, cengar-cengir membayangkannya.


"Mba, sekali lagi minta maaf ya," 


"Iya-iya."  Si pengantar pizza pun pergi, bergitu pun dengan Tari, yang kembali melajukan motornya.


Sesampainya di rumah sakit Tari, langsung menghentikan motornya. Saat akan melangkah masuk matanya melihat sepotong roti yang berada pada dashboard di dalam mobil Aryan, Tari, merasa kecewa kenapa Aryan, tidak memakannya. 


"Dia bilang akan memakannya tetapi tidak. Apa tidak enak," batin Tari, penuh kecewa. 


Saat kembali melangkahkan kakinya tanpa sengaja Tari, melihat pemandangan yang menyakiti hatinya. Bagaimana tidak sakit melihat Aryan, memeluk wanita lain yang tak lain adalah Lala. 


...----------------...


Apa yang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2