Because Of Pizza

Because Of Pizza
Bab 57 Di asingkan


__ADS_3

POV Lala


Lala, duduk termenung seraya mengelus lembut perut buncitnya. Bibirnya mungkin berkata tidak tapi hati tidak bisa berbohong jika dirinya memang membutuhkan Arga, di sampingnya saat ini. Namun, hatinya sudah tertutupi oleh kebencian. Benci terhadap Arga, yang selama ini lari dari tanggung jawabnya dan tidak mengakui kesalahannya. 


Hidupnya seketika hancur. Masa depan yang sirna, keluarga yang hangat, tidak di miliki lagi. Kedua orangtuanya sangat murka saat mengetahui kehamilan Lala, bagi mereka itu adalah aib keluarga karena Lala, hamil di luar nikah dan tanpa suami. Apalagi keluarga Lala, adalah keluarga terhormat, dan terpandang. Ayahnya seorang mentri dan Ibunya seorang kepala rumah sakit di rumah sakit ternama dan Lala adalah putri satu-satunya mereka yang di banggakan Namun, malah membuat mereka terluka.


Flashback on


Lala, duduk bersimpuh di hadapan kedua orangtuanya. Di tengah luasnya ruang keluarga seorang wanita duduk bersandar pada sofa seraya memijat pelipisnya dia adalah Yosi ibu Lala. Dan seorang pria yang berdiri tegak dan berkacak pinggang, sorot matanya begitu tajam menatap Lala, yang bersimpuh di hadapannya. Pria itu adalah Bram, ayah dari Lala yang kini menjabat sebagai menteri negara.


Bram, marah besar pada putri satu-satunya itu. Sifat Bram, yang tempramen yang mudah emosi meluapkan seluruh emosinya pada Lala. Melemparnya dengan barang yang ada, memukulnya, tidak peduli rasa sakit yang di rasakan Lala. Lala hanya bisa menangis. 


"Siapa yang telah menghamilimu!" bentak Bram, dengan suara yang tinggi. Amarahnya sudah meluap-luap. 

__ADS_1


"Bisa-bisanya kamu hamil. Apa kamu tidak memikirkan keluargamu. Putri seorang menteri dan anak seorang kepala bagian rumah sakit hamil tanpa suami. Dasar anak tak tahu malu. Kamu seorang dokter seharusnya kamu tahu itu." 


Lala, masih diam dan terus menunduk tidak berani jika melihat sorot mata tajam Bram. Seandainya dirinya tidak gegabah mungkin mereka tidak akan mengetahui. Yosi, masuk ke dalam kamar Lala, untuk melihat Lala, yang memang sedang tidak sehat. Di dalam kamar Lala, terus berada di dalam toilet dalam waktu yang cukup lama, membuat Yosi cemas dan langsung berjalan ke arah toilet. Yosi melihat Lala, yang terus muntah-muntah dan mual tanpa berwarna dan hanya mengeluarkan cairan bening saja. 


Yosi sebagai ibu dan seorang wanita mulai curiga jika Lala, tengah hamil karena, tanda-tanda sakitnya sudah menyamai wanita hamil. Tidak hanya itu Yosi, merasa aneh karena sebelumnya Lala, mulai tidak menyukai makanan favoritnya dan beralih  menyukai makanan yang ia benci. Selama menjadi ibu Yosi, tahu apa yang di sukai putrinya dan tidak di sukai putrinya. Kecuriganya semakin yakin saat melihat sebuah benda kecil, pipih, dan tipis yang memperlihatkan dua garis merah di tengahnya. 


Yosi, yang curiga mulai mencari tahu dan mencari sebuah barang yang mungkin bisa menyakinkan hatinya jika Lala, tengah hamil walau dia merasa takut dan kecewa. Saat Lala, pergi bekerja Yosi, masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar putrinya dan benar saja dia menemukan sebuah benda kecil, dan tipis menyerupai tes pack.


"Sungguh terkejut melihat itu. Jika aku tidak menemukannya mungkin aku tidak akan pernah tahu putriku hamil. Sekarang apa yang harus aku lakukan, bagaimana jika semua orang tahu kehamilanmu Lala. Bagaimana? Katakan apa yang akan kamu lakukan." Yosi, terus menekan Lala. Membayangkan bagaimana jika kehamilan Lala di ketahui oleh kerabatnya, temannya, keluarganya. Sungguh tidak akan bisa menutupi rasa malunya. 


"Maafkan aku. Aku salah, aku sudah membuat kalian malu," ujar Lala yang sedari tadi diam. 


"Maaf. Apa kata maaf bisa merubah semuanya? Sekarang katakan siapa laki-laki itu, dan dimana dia." Bram, kembali berujar. "Anak yang selalu aku banggakan, telah membuat noda keluarga, sebelum perutmu membesar kau harus segera menikah. Dan sekarang katakan siapa lelaki itu!" bentak Bram, dengan suara tinggi.

__ADS_1


"Dia pergi … dia pergi, aku tidak tahu dia ada dimana," ungkap Lala, yang terisak. 


"Tidak tahu dan pergi. Apa dia lari dari tanggung jawab! Astaga … dasar ****** sejak kapan kamu menjadi wanita ******. Siapa yang mengajarimu hal seperti itu hah! Sejak kapan kamu mengenal lelaki yang tak bermatabat. Keluarga kita keluarga terpandang apa yang akan terjadi jika semua orang tahu keburukanmu." 


Bram, membuang nafas kasar. Setelah meluapkan seluruh emosinya. Hatinya begitu kecewa karena putri satu-satunya di campakan seorang lelaki. Hingga tidak ada cara lain demi menyelamatkan nama baik keluarganya Bram, meminta Lala, untuk menggugurkan kandungannya namun Lala, tidak setuju dan akan melahirkan bayi itu walau tanpa seorang suami. Hingga mereka saling berdebat. Karena Lala, terus menolak dan kekeh untuk melahirkan bayi itu membuat Bram, hsrus memutuskan dan meminta Lala, untuk pergi dari rumahnya. 


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi kamu harus pergi dari rumah ini jangan kembali sebelum kamu melahirkan bayi itu. Setidaknya itu lebih baik agar tidak ada satupun yang tahu kehamilanmu. Dan nama baik keluarga kita tetap terjaga." 


"Papa." seru Yosi, yang tak setuju dengan suaminya itu. Bagaimana pun juga Lala, adalah anak nya. "Papa tega usir Lala, putrimu sendiri Mama tidak setuju." 


"Lalu, kamu akan membiarkannya dia disini, hingga perutnya membesar. Kamu ingin keluarga kita tahu hal ini? Pikirkan resikonya. Dia pergi bukan untuk selamanya tapi hanya sampai anak itu lahir," jelas Bram pada Yosi. 


"Segeralah resign dari pekerjaanmu. Kemasi barangmu mulai besok Papa akan kirim kamu ke pulau. Agar tidak ada yang mengenalimu disana." 

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2