
Tari, dan Aryan, pun kembali ke rumah. Tari, di kejutkan dengan suara tangisan seorang wanita di dalam kegelapan. Karena ruangannya sudah terlihat gelap.
"Sayang, dengar tidak ada suara wanita menangis." Tari, terus menajamkan telinganya mendengar bahwa pendengerannya tidak salah.
"Mungkin Oma," ucap Aryan.
"Oma! Ngapain Oma nangis malem-malem."
"Itu bukan nangis sayang tapi terharu." Tari, mengeryitkan keningnya, melipat kedua tangannya yang di simpan d bawah dada. Lalu menatap Aryan.
"Nangis terharu bagaimana?" tanya Tari, yang tak mengerti dengan ucapan Aryan.
Tangan Aryan, langsung menyalakan lampu. Hingga menerangi seisi ruangan dan menampakan seorang wanita yang duduk menghadap layar televisi berukuran 32 inch.
"Terharu karena nonton drama." Aryan, yang sudah tahu bagaimana Omanya itu. Dari dulu Oma Rose, memang sangat menyukai film, drama, opera, dan juga musik.
Setiap kali nonton drama atau pun sinetron, Rose, selalu terbawa emosi dan menangis sejadi-jadinya saat melihat adegan sedih, tragis, dan menguras air matanya. Aryan, sendiri tidak begitu terkejut saat mendengar suara tangisan wanita saat malam hari. Karena bisa di pastikan bahwa itu adalah Oma-Nya.
"Ya ampun Oma, aku pikir tante kun-kun ternyata."
"Sudah, biarkan saja kita masuk ke kamar saja." Aryan dan Tari pun masuk ke dalam kamarnya. Membiarkan Oma Rose yang masih terisak.
*
*
*
Pukul 23.00 Tari, keluar dari kamar dengan niat ingin mengambil air minum. Namun, Tari melihat Oma Rose, yang masih duduk di depan televisi berukuran 32 inch itu.
Karena penasaran Tari, mengayunkan langkahnya mendekati Oma Rose. Matanya terbelalak dan mulutnya Tari, tutup dengan tangannya saat melihat keadaan di depannya cukup berantakan. Lembaran tisu berhamburan di bawah lantai mungkin bekas mengusap air mata Oma Rose.
"Oma, Oma nonton apa sih sampai nangis begitu?"
"Kemarilah, Oma sedih melihat drama ini," ucap Oma Rose yang masih terisak.
Tari, pun duduk di samping Oma Rose, mencoba fokus untuk menonton drama yang di putar saat ini. Awalnya Tari, tidak begitu mengerti dengan alur ceritanya namun lama-lama matanya mulai berembun, terbawa suasana karena menonton drama itu.
__ADS_1
Salah satu drama nostalgia drama asia berjudul Silence, dengan akhir kisah yang menyedihkan. Di saat si gadis bisa mengatakan perasaannya setelah sekian lama membisu karena tidak bisa mengatakan apa pun.
Namun, saat itu sang pria malah harus pergi dan meninggal membuat si gadis sedih karena tak sempat mengatakan cintanya pada si pria.
Lama-Lama air mata Tari, pun mengalir, isakan tangisnya perlahan meninggi hingga mengganggu Aryan, yang tengah tertidur di dalam kamarnya.
Aryan, mengerjapkan matanya mencari Tari, yang tak ada di sampingnya. Aryan, pun turun mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar.
"Ya ampun kalian ini sedang apa?" Aryan, terkejut saat mendapati Tari, yang sedang menangis bersama Oma Rose. Aryan, mengusap wajahnya kasar kenapa istrinya jadi terbawa-bawa.
"Oma, bukannya tidur malah nangis disini. Pake ajak-ajak Tari, segala."
"Ish, Aryan, kamu ini ganggu saja. Lagi seru-serunya juga," ucap Oma, Rose yang menimpali.
"Mana ada seru kalau menangis."
"Ini namanya menghayati. Udah ah kamu ganggu saja." Oma Rose merasa kesal karena acara nontonnya di ganggu. Aryan, hanya geleng-geleng kepala lihat tingkah Omanya.
"Sayang ayo kita ke kamar," ajak Aryan.
"Tapi lagi seru nih!"
*
*
*
Kring, kring, kring
Aryan, menggeliatkan tubuhnya satu tangannya meraba sebuah benda yang sudah membangunkannya mematikan bunyi alarm itu. Aryan, kembali tertidur seraya memeluk kembali istrinya.
Drt … drt … drt …
Kini suara dering ponsel kembali membangunkannya membuat Aryan, berdecak kesal. Dalam keadaan mata terpejam Aryan, mengambil ponselnya di atas nakas lalu menjawab panggilan itu.
Halo,
__ADS_1
"Aryan, kamu dimana? Jangan bilang masih di atas ranjang ya." Suara bariton terdengar keras di ujung sana.
"Siapa nih?" tanya Aryan, yang masih terpejam. Sedangka Amel, yang sudah kesal mendengar ocehan sahabatnya itu.
"20 menit lagi kita ada meeting jangan sampai telat."
Tut … tut … sambungan telepon pun terputus. Aryan, terhenyak saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Amel. Jam berapa sekarang aduh … aku bisa telat lagi nanti."
Aryan, bergegas pergi menuju kamar mandi selang tiga menit Aryan, pun keluar dan langsung memakai pakaian dinasnya. Setelahmya Aryan, bergegas pergi berlari menuju mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah. Setelah menghidupkan mesinnya Aryan, pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sedangkan di dalam rumah terlihat Oma Rose masih tertidur di atas sofa seraya mengigo. Dan Tari, masih terlelap tidur di atas kasur empuknya hingga tak sadar Aryan, sudah berlalu pergi.
Aryan berlari tergopoh-gopoh melewati lorong rumah sakit. Manik matanya tidak pernah lupa melihat arah jarum jam pada arloji di tangannya.
"Lima menit," gumam Aryan, yang semakin mempercepat lamgkahnya. Hingga akhirnya Aryan, pun sampai di depan ruangan ya g bertuliskan nama DIREKTUR.
BRAK, Aryan membuka pintu dengan keras, lalu berlari menuju kursi yang masih kosong berdampingan dengan Amel. Beruntung direktur masih di perjalanan, karena terhambat macet. Jika tidak Aryan, akan pasti di maki oleh lelaki tua itu.
"Cape! Makanya jangan telat beruntung aku tadi telepon kamu kalau tidak bisa di amuk kamu sama pak direktur."
"Kalau bikin anak jangan terlalu malam," cibir Amel.
"Hust, siapa yang bikin anak." Aryan, menimpali.
"Lalu, karena apa kamu telat kalau bukan karena itu. Pasti lehermu banyak tanda merah nih."
"Kamu berprasangka buruk saja. Boro-boro dapat jatah semalam yang ada pusing karena tidak bisa tidur."
"Memangnya kenapa?"
"Gara-gara nonton drama," ketus Aryan. Yang kesal karena ulah Oma, dan istrinya semalam.
"Kamu nonton drama? Sejak kapan?"
"Tahu ah, jangan banyak tanya," ketus Aryan. Amel, hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
__ADS_1
...----------------...
Karena drakor jadi kurang tidur ya Aryan 🤣🤣. Jangan lupa dukungannya ya like dan komentar setelah membaca. jangan lupa vote, dan favorit oke 😘