Because Of Pizza

Because Of Pizza
Menikah


__ADS_3

Setelah melewati berbagai macam drama akhirnya hari pernikahan pun tiba. Berita pernikahannya menjadi tranding topik di rumah sakit. Tidak sedikit dari mereka merasa terkejut dengan kabar bahagia itu. 


Pernikahan yang mendadak menjadi banyak pertanyaan dan kontropersi. Banyak dari mereka yang setuju dan banyak juga yang patah hati karena dokter Aryan, yang terkenal tampan dan populer itu akan menikah apa lagi yang dinikahinya adalah wanita biasa, yang hanya seorang pengantar pizza. 


Namun, semua itu tidak membuat kayakinan Aryan, goyah yang akan mempersunting Tari, gadis imutnya. 


Di tengah-tengah balroom hotel Aryan, sudah siap dan terlihat rapi dengan tuxedo hitamnya. Ketampanannya begitu sempurna membuat para wanita kagum melihatnya. 


Di sebuah ruangan Tari, terlihat gugup yang terus menautkan jari-jemarinya untuk menghilangkan kegugupannya. Sesekali ia menghela nafasnya panjang. 


Tari, terlihat begitu cantik, dengan gaun putih yang begitu mekar menutupi ujung kakinya. Begitu pun dengan wajah imutnya yang terlihat bercahaya dengan sedikit polesan yang mewarnai pipinya. 


Juga rambut yang di sanggul dengan selendang putih yang menutupi ujung atas kepalanya, yang di beri sedikit hiasan mahkota silver di atas kepalanya. Tapi bagaimana dengan kakinya? Karena Tari, tidak pernah bisa memakai sepatu heels untuk berjalan. 


Tetapi Tari, gadis pintar dan cerdik. Tari sengaja memakai sepatu vants yang ia kenakan hari ini. Bukan sepatu cinderella atau pun sepatu heels yang memiliki tinggi sejengkal lengan. 


"Beruntung hari ini aku memakai sepatu, jadi tidak akan ada drama jatuh atau pun goyang," ucap Tari, yang tertawa melihat gaya sepatunya. Berbeda dari pengantin yang lain.


"Aduh, tapi jantungku kenapa terus berdegup kencang, oh … jantung tenanglah kalau begini aku jadi tambah gugup." Tari, terus menyentuh dadanya. 


Merasakan detak jantungnya yang semakib bertalun-talun. 


"Nak!" Tari, terhenyak saat seorang wanita menyentuh bahunya. Saat berbalik ternyata dia adalah Ibunya. 


"Ibu, buat aku kaget saja." 


"Kenapa? Kamu gugup? Tanganmu juga gemetar." Wanita itu menggenggam tangan Tari. Sedangkan Tari, hanya mengangguk sedih.


"Jangan khawatir, tenanglah. Ibu dulu juga begitu saat akan menikah dengan ayah, gemetar, gugup semua Ibu rasakan, taoi setelah ijab kabul berlangsung hati ibu menjadi tenang." 


"Tapi aku tidak bisa tenang." rengek Tari. Ibunya hanya tersenyum.


"Kakak, wah … kakak cantik sekali gaunnya juga besar, Ibu bisa aku bawa pulang?" tanya Bintang polos, yang mengenakan tuxedo navy membuatnya semakin lucu dan tampan. 


"Bawa pulang apa sayang?" 


"Gaunnya?"


"Untuk apa?" 

__ADS_1


"Untuk ku jadikan tenda di rumah Ibu." 


Hahaha … sontak ucapan Bintang, membuat Tari, terkekeh. Hingga terbahak-bahak. Rasa gugupnya seketika hilang. 


"Tari, jangan tertawa seperti itu. Nanti gaunnya kusut. Tuh, kan rambutmu jadi berantakan." Wanita itu merapikan rambutnya. Sedangkan Tari, masih terkekeh mendengar perkataan Bintang. 


"Kakak, kenapa ketawa?" 


"Abis kamu lucu dek," 


"Ish … kakak." Bintang mencebik, kan bibirnya. 


"Nak, ini bukan mainan. Udah ah kita keluar jangan ganggu kakakmu sebentar lagi acara di mulai." 


"Lalu tendanya?" 


"Nanti, kakak belikan." 


"Benar ya kak!" 


"Iya." 


Bintang, selalu melihat mainan atau pun barang yang temannya punya. Seperti tenda kemah yang dimiliki temannya yang bisa di gunakan di dalam rumah. Bintang selalu meminta dan ingin seperti apa yang temannya punya namun keadaan keluarganya yang terbatas, dan kekurangan membuat Ibunya tak mampu untuk membelikan. 


Acara sakral pun di mulai. Aryan, sudah siap mengucapkan kata-kata sakral yang akan mengikat cinta sucinya. Para tamu sudah mulai berdatangan dan duduk dengan rapi untuk menyaksikan acara sakral tersebut. 


Seorang pria paruh baya menggenggam erat tangannya. Tubuh Aryan, semakin menegang. Dengan satu kali hentakan lisannya begitu lantang dan lancar mengatakan kalimat-kalimat sakral itu, yang hanya di ucapkan dengan satu kali tanpa di ulang. 


Yang akhirnya kata SAH terucap dan terdengar begitu riuh memenuhi seisi ballroom. Semua orang yang menyaksikan terlihat bahagi, tanpa terkecuali. Oma Rose terlihat sedih. Saat menyaksikan cucu tercintanya menikah dengan gadis pilihannya. 


Ibu Tari, pun terlihat sedih dan menangis tidak percaya jika saat-saat ini akan datang. Putrinya di persunting seorang dokter yang merupakan pekerjaan yang sangat mulia. 


"Ibu kok nangis!" seru Bintang, yang melihat ibunya menitikan air mata. 


"Ibu menangis bahagia sayang!" jawab Ibunya lembut sambil mengelus kepalanya. 


"Ibu dimana kakak?" 


Baru saja Bintang, mencari keberadaan kakaknya tak berselang lama pintu utama terbuka lebar, membuat semua orang menoleh ke arah pintu yang memperlihatkan seorang wanita yang berbalut gaun putih nan indah. Wajah cantiknya membuat semua orang berdiri karena terpukau oleh kecantikannya. 

__ADS_1


Aryan, yang terpesona melihat istri imutnya yang berjalan dengan anggun ke arahnya seraya menggenggam sebuket bunga di tangannya. Aryan, pun tersenyum lalu melangkah menjemput istri tercintanya itu. 


Aryan, bersimpuh. Mengulurkan satu tangannya menyambut kedatangan Tari. Tangan itu Tari, genggam Aryan, pun berdiri melingkarkan tangan Tari, di tangannya. 


Keduanya berjalan ke tengah ballroom, untuk saling menyematkan cincin kawinnya. Dalam seketika suara riuh, teriakan, dan sahutan dari para undangan yang antusias pada mereka berdua. Tari dan Aryan pun tak lupa memancarkan senyumnya. 


Di sisi lain Lala, yang menyaksikan itu terlihat sangat marah dan pergi begitu saja meninggalkan pesta. Berbeda dengan tamu undangan lainnya yang begitu antusias mengambil potret mereka. 


"Kamu terlihat lancar saja saat berjalan apa kamu sudah bisa memakai heels?" bisik Aryan, yang bertanya. 


Dengan sigap Tari, mengangkat sedikit gaunnya untuk memperlihatkan kedua kakinya yang mengenakan sepatu vans..


"Tenang saja dokter, tidak akan ada drama jatuh lagi, karena aku memakai sepatuku," ucap Tari dengan bangga. 


"Astaga!" Aryan, tersenyum hambar melihat tingkah istrinya itu. 


"Lain kali kamu harus belajar memakai heels ya!" 


"Aku tidak mau." 


"Baiklah, tapi nanti malam kamu harus belajar memuaskan suami." 


"Apa!" 


Tari, terbelalak matanya membulat sempurna, saat Aryan, membungkam mulutnya. Aryan, terus menyesap, melvmat, bibir mungil itu yang sudah menjadi candunya. 


"Dokter kau sangat mesum," 


"Mesum sama istri sendiri tidak ada salahnya, kan!" 


"Ish … dokter … eumm," ucap Tari, tertahan karena Aryan, mengunci kembali mulutnya. Aryan, seakan tak rela melepas ciuman itu, dan ingin selalu menyesap bibir ranum itu.


...----------------...


Untuk Aryan dan Tari selamat ya pengantin baru wkwkwk.


Ayo mana hadiahnya, jangan lupa kasih bintang dan votenya loh.


Like dan komentar juga ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2