Because Of Pizza

Because Of Pizza
Kedai Pizza


__ADS_3

"Pantas saja aku selalu salah memasukan garam atau gula ternyata ini masalahnya!" Pekik Tari, pada dirinya sendiri. 


Tari sangat penasaran selama dua hari ini dia selalu saja salah membedakan gula dan garam, padahal Tari, sudah terbiasa menggunakan bahan masakan itu untuk membuat pizza.


Ternyata satu kesalahan membuatnya fatal. Saat itu dirinya sedang merapikan bahan masakan dan bumbu dapur yang baru saja di belinya. Namun, karena kecerobohannya Tari, tidak melihat jika toples yang di beri nama gula ia masukan sekantung garam dan toples yang di beri nama garam ia masukan sekantung gula. 


Pada saat memasak Tari, hanya melihat nama yang tertera pada toples tanpa ia lihat kembali isinya. 


"Tari, Tari. Kau ceroboh sekali kalau sudah begini siapa yang salah." 


"Salah apa?" Suara Aryan, mengejutkannya. 


"Sedang apa malam-malam di dapur?" Aryan, berjalan menghampiri Tari, yang berkutat dengan kedua toples. 


"Apa yang salah sayang!" Peluk Aryan, mesra


"Ini, pantas saja aku selalu salah memasukan antara gula dan garam. Kamu masih ingat, kan nasi goreng manis dan kopi asin tadi, ternyata ini masalahnya." Tari, memperlihatkan kedua toples yang berisi garam dan gula. 


"Aku yang ceroboh, seharusnya aku memasukan gula pada toples ini. Dan garam pada toples ini. Tapi malah tertukar. Maaf ya!" Tari cengengesan.


"Kebiasaanmu tidak berubah, dasar istri ceroboh," ucap Aryan, seraya mencubit hidung kecil istrinya. 


"Bukannya kamu bisa membuat pizza kenapa tidak bisa masak?" tanya Aryan, yang penasaran. 

__ADS_1


"Membuat pizza dan memasak biasa itu beda, pizza hanya memerlukan bahan seperlunya dari tepung, saos, keju, sosis, semua bahan cepat saji aku tinggal menuangkannya saja lagian itu sudah ada resepnya, aku hanya membuat. Sedangkan memasak banyak macamnya tak hanya garam dan gula, namun butuh bumbu lain apa lagi memasak makanan nusantara yang harus memakai rempah-rempah. Bisa di bilang membuat pizza itu mudah berbeda dengan memasak biasa, bahkan lengkuas dan jahe saja sering tertukar hehe … karena bentuknya tak jauh beda." Aryan, hanya menggeleng.


"Maaf ya aku belum bisa masak yang enak-enak." Tari, menunduk sedih. 


"Kenapa sedih hm … di masakin pizza setiap hari juga aku tidak masalah," ucap Aryan, yang menangkup wajah istrinya. 


"Masa iya pizza setiap hari, bisa bosan nanti," ucap Tari, yang tertawa renyah. 


"Ngomong-ngomong soal pizza, boleh aku bekerja lagi? Please." Tari, memohon dengan wajah memelas. 


"Untuk apa bekerja!" 


"Aku masih punya ibu juga adik, kalau aku tidak bekerja bagaimana aku bisa mengirimi ibu uang. Jadiku mohon izinkan aku bekerja lagi." 


"Aku tidak bisa menerimanya. Ibu dan Bintang adalah tanggung jawabku."


"Tapi kamu adalah tanggung jawabku," timpal Aryan. "Kamu tidak perlu bekerja, aku yang akan mengirimkan uang pada ibumu setiap bulan."


"Jangan, aku tidak ingin merepotkanmu." 


Aryan, tidak mengerti kenapa Tari, menolak kebaikannya. Padahal itu adalah kewajibannya sebagai suami untuk menafkahi istri. Namun, Tari, masih kekeh dengan keinginannya Aryan, pun mencoba berpikir bagaimana caranya agar bisa membantu istrinya tanpa harus menginzinkan Tari, untuk bekerja.


*

__ADS_1


*


*


"Kita mau kemana? Kenapa harus di tutup begini." Tari, memekik karena Aryan, menutup matanya. 


"Kejutan, aku punya kejutan untukmu." 


Aryan, menuntun Tari, ke sebuah bangunan. Bangunan itu terlihat seperti sebuah kedai, yang memiliki kaca transparan yang bisa terlihat dari luar. 


Di dalam sana terdapat banyak meja dan kursi seperti sebuah lesehan atau pun resto. Saat di depan pintu yang terbuat dari kaca juga di penuhi hiasan di atasnya. Perlahan Aryan, membuka tangannya yang menutupi mata istrinya. 


"Sekarang bukalah matamu." 


Dengan perlahan Tari, membuka matanya yang langsung tercengang saat melihat pemandangan di depannya. Sebuah kedai yang bertuliskan 'BTari Pizza' semalan Aryan, berpikir bagaimana caranya untuk membantu Tari. Hingga muncullah ide, untuk memberikan Tari, sebuah kedai pizza, yang akan menjadi tempat kerjanya. Tanpa harus bekerja di tempat orang lain.


"Sekarang aku mengizinkanmu bekerja, tapi di tempat ini." 


"Ini untukku?" Aryan, pun mengangguk. 


"Terima kasih," ucap Tari, yang langsung memeluk Aryan, karena bahagia atas kejutan yang di berikan suaminya itu. 


...----------------...

__ADS_1


Bahagianya jadi Tari 😘😘😘


__ADS_2