Because Of Pizza

Because Of Pizza
Bab 63


__ADS_3

"Aku akan tetap disini sampai kamu mau menikah denganku. Aku akan disini sampai anak itu lahir." 


"Terserah, aku tidak pernah peduli." Lala, terlihat kesal dan langsung berdiri dari duduknya namun tiba-tiba perutnya terasa keram, membuatnya merasa kesakitan.


Ah … Lala, meringis seraya memegangi perutnya. 


"Ada apa? Apa ada yang sakit?" Arga, terlihat panik. 


Lala, semakin meringis membuat Arga, khawatir. Rasa sakit yang luar biasa membuat Lala tidak mampu untuk melangkah apa lagi berdiri. 


"Katakan padaku apa yang kamu rasakan." 


"Perutku sakit." 


"Apa kamu mau melahirkan." 


"Usia kandunganku baru 7 bulan, tidak mungkin aku melahirkan." 


"Apa yang harus aku lakukan." Karena panik Arga, tidak tahu apa yang harus di lakukannya. 


"Apa seorang dokter hanya diam saat melihat orang kesakitan." Lala, membentak karena kesal Arga terus bertanya dan hanya diam. 


"Kamu bilang ingin menikahiku. Bagaimana bisa kamu menjadi suamiku jika kamu tidak bisa bertindak apa pun saat aku kesakitan seperti ini." 


Wajah Lala, begitu pucat giginya terus menggigit gigi bawahnya untuk menahan rasa sakit. Arga, langsung memangku Lala, membawanya pergi ke klinik terdekat. Sayangnya di desa itu tidak ada rumah sakit atau pun klinik. 


"Dimana klinik terdekat disini." 

__ADS_1


"Tidak ada, disini tidak ada klinik atau pun dokter." Arga, terkejut mendengar ucapan Lala, lalu bagaimana dengan Lala, yang selama ini tinggal di desa itu dalam keadaan hamil. Sedangkan wanita hamil harus memeriksa kandungannya setiap bulan. 


Arga, tidak tinggal diam dia membawa Lala, menuju rumah sewanya. Karena Arga, membawa alat medis jaga-jaga jika ada hal darurat. Sesampainya di rumah itu Arga, menidurkan Lala di atas ranjangnya. Tak lupa, Lala menghubungi Shiren, sebagai dokter kandungan. 


"Shiren, bantu aku." 


"Kenapa Arga, kamu terdengar panik." 


"Lala, Lala mengalami sakit pada perutnya. Aku mohon beritahu aku apa yang harus aku lakukan." 


"Mungkin Lala, mengalami kram. Kamu harus tenang Arga, dengarkan aku baik-baik." 


Shiren, memberitahukan apa yang harus Arga, lakukan. Sebenarnya Arga, tidak pernah sepanik ini namun melihat Lala, yang kesakitan membuatnya merasa bersalah dan takut jika terjadi hal buruk pada Lala. 


Mungkin karena selama kehamilan Lala, terlalu stres, dan banyak yang di pikirkan membuat kandungannya sedikit bermasalah. 


"Aku tidak bisa berjanji Shiren, Lala, tidak mungkin mau ku bawa pulang. Kamu tenang saja aku akan menjaga Lala." Arga, menutup sambungan teleponnya. Pandangan matanya tidak pernah terlepas dari Lala, yang masih memejamkan matanya. 


"Aku tidak akan pergi lagi. Kemana pun kamu pergi aku akan ikut," ucap Arga. 


****


Shiren, terlihat khawatir setelah mendengar keadaan Lala, dari Arga. Kekhawatirannya tidak bisa ia sembunyikan hingga akhirnya Shiren, bercerita pada Amel dan Aryan. Aryan, pun terlihat cemas dan berharap Lala, baik-baik saja. 


"Sayang kenapa melamun?" pertanyaan Tari, mengejutkannya.


"Tidak apa-apa hanya lelah. Bagaimana kedaimu hari ini?" 

__ADS_1


"Cukup ramai." 


"Tapi kamu sudah pulang biasanya kamu akan pulang sangat malam." 


"Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku ingin istirahat," jawab Tari, seraya memijit kepalanya. 


"Apa kamu telat makan? Kamu pucat sekali." 


"Mungkin. Akhir-akhir ini aku tidak nafsu makan. Mungkin karena itu aku pusing." 


"Tidurlah dulu. Aku akan ambilkan obat." 


"Beruntung aku punya suami dokter, jadi aku tidak perlu ke rumah sakit," ucap Tari, yang tersenyum. 


"Jangan banyak bicara tidurlah. Aku harus mengambil obat." Aryan, turun dari ranjang lalu mengambil beberapa obat di dalam lemari yang selalu ia sediakan. Lalu melangkah keluar untuk mengambil air minum. Saat kembali Aryan, tidak melihat Tari, di atas ranjangnya. 


"Kemana Tari." 


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar mandi. Aryan, segera mengayunkan langkahnya saat membuka pintu ternyata Tari, yang terlihat sedang memuntahkan isi perutnya. Aryan, bergegas lari dan menghampiri Tari, membantu memijat tengkuk lehernya. 


"Apa yang terjadi. Apa kamu salah makan." 


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja mual. Aku hanya makan …." Ucapan Tari terpotong karena harus memuntahkan kembali isi dalam perutnya. 


"Kenapa mualku tidak berhenti." 


"Jangan banyak bicara keluarkan saja." Aryan, terus memijat tengkuk lehernya, dan mengusap-ngusap punggungnya. Setelah merasa lebih baik Aryan, membawa Tari, ke atas ranjang agar kembali tertidur.  

__ADS_1


"Tidak panas," ucap Aryan, saat menyentuh dahi Tari.  "Lebih baik aku buatkan bubur." Aryan, turun dari ranjang melangkah keluar dari kamar.


__ADS_2