
Aryan, terkejut tiba-tiba Lala, pingsan dan terjatuh dalam pelukannya. Dalam keadaan lorong yang sepi tidak ada satu pun perawat atau dokter yang berlalu lalang. Saat itu hanya dirinya lah yang melewati lorong itu karena ingin pergi ke toilet.
Aryan, bingung dan juga panik karena melihat wajah mantan kekasihnya itu yang begitu pucat. Namun, Aryan, tak bisa melakukan apa pun selain menolongnya. Aryan, langsung memangkunya membawanya ke ruang rawat. Namun, tanpa Aryan, ketahui Tari, melihatnya di ujung lorong sana.
"Aryan," lirih Tari, yang melihat Aryan, berlari seraya memangku Lala, meninggalkan lorong.
Di saat sikap Aryan, yang dingin dan masalah yang terjadi antara mereka, membuat Tari, berpikir hal yang tidak-tidak. Jika Aryan, sengaja pergi tanpa menghiraukan panggilannya.
"Tari?" panggil Amel, saat melintasi lorong itu. Amel, melihat kesedihan yang terpancar pada wajah istri temannya itu. Manik matanya tertuju pada sebuah tupperware yang di bawa Tari. Amel, pun berpikir jika kedatangan Tari, untuk membawakan Aryan, makan siang.
"Bawa makan siang untuk Aryan, ya? Kenapa masih disini gak langsung ke ruangannya?" tanya Amel.
"Aku titip saja pada dokter," ucap Tari, yang memberikan tupperware itu pada Amel, dan berlalu pergi.
"Eh, kok titip." Amel, terlihat bingung dengan sikap Tari, yang pergi terburu-buru. Wajahnya tanpa ekspresi membuat Amel, semakin heran. Karena setiap kali bertemu wajah Tari, selalu terlihat ceria.
Tari, berjalan gontai menyusuri taman. Tatapannya begitu kosong dan sedih, sikap Aryan, yang dingin selalu terbayang-bayang olehnya. Apa lagi dari semalam Aryan, tak juga bicara padanya. Bahkan pergi bekerja saja Aryan, tidak pamit padanya.
*
__ADS_1
*
*
Lala, mengerjapkan matanya melihat sekeling kamar yang putih, dan melihat Aryan, yang berdiri di samping ranjang tidurnya. Lala, terlihat bingung kenapa dirinya ada du ruang rawat apa yang terjadi padanya.
"Kenapa aku ada disini?" tanya Lala, yang bangun dari tidurnya membuat Aryan, langsung membantunya.
"Aryan, apa yang terjadi? Kenapa kamu ada disini?"
"Kamu pingsan, aku membawamu kesini."
"Pingsan!" Lala, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya sebelumnya. Hingga akhirnya dia pun ingat jika dirinya pingsan setelah kembali dari toilet.
"Sudah kewajiban seorang dokter. Lebih baik kamu istirahat, atau pulang saja ambil cuti saja untuk hari ini." Kata Aryan, yang akan melangkah pergi namun tertahan karena Lala, menggenggam tangannya.
"Aryan, aku butuh kamu saat ini." Mohon Lala, dengan harap Aryan, akan diam menemaninya.
"Aku harus pergi."
__ADS_1
"Aryan," panggilan Lala, kembali menghentikan langkahnya. "Hanya lima menit, aku mohon temani aku disini."
Aryan, masih diam bergeming. Hatinya kembali terenyuh. Bagaimana pun Lala, adalah wanita yang pernah menempati hatinya, mungkin masih ada rasa cinta dan kepedulian di antara mereka terutama Aryan.
"Aku, menyesal karena telah mengecewakanmu. Aku mengkhianatimu bersama Arga. Tapi kamu masih peduli padaku Aryan." Lala, memeluk Aryan, menyandarkan pada bahu Aryan, hingga Lala pun tertidur.
Aryan, melepas pelukan itu lalu, membaringkan Lala, kembali. Sehingga Lala, tertidur pulas. Setelah membenahi Lala, Aryan, pun pergi menuju ruang kerjanya.
Aryan, terheran-heran karena sebuah tupperware di atas meja kerjanya. Aryan, pun membuka tupperware itu yang terselip sebuah memo di atasnya.
Sorry.
Maafkan aku, aku mohon janganlah marah. Maaf jika pagi tadi aku tidak menyiapkan sarapan untukmu, tapi aku membawakan makan siang untukmu.
Semoga kamu menyukainya.
Suamiku … Fighting
Tulis Tari, pada suratnya.
__ADS_1
"Tari, dimana dia?"
Aryan, berlari pergi mencari Tari, dengan harap masih bertemu dengan istrinya. Namun, setelah sampai di lobby. Aryan, yidak menemukan