
Amel, terkekeh mendengar cerita Aryan. Yang tak bisa tidur karena sebuah drama. Hingga Aryan, pun kesal karena Amel, terus mengolok-oloknya. Candaan mereka berakhir hingga meeting selesai. Mereka terus bercanda di sepanjang koridor rumah sakit.
Disaat mereka sedang asyik balas gurauan tiba-tiba keduanya di kejutkan dengan kedatangan Arga. Aryan dan Amel hanya diam terpaku tatapan sinis pun di munculkan.
Arga, melangkah mendekati mereka. Tangan Aryan, terlihat mengepal sudah tak murah sabar ingin melayangkan pukulannya. Namun, Amel, menahan dan mengingatkannya untuk menjaga sikap saat di rumah sakit.
"Kalian berdua apa kabar?"
Amel, berdecak saat mendapat pertanyaan dari Arga. Sedangkan Aryan, hanya memasang wajah dinginnya.
"Sejak kapan menanyakan kabar tentangku," sanggah Amel, sinis. Amel masih kesal dan teringat ucapan Lala, jika Arga, telah menghamili temannya itu. Bisa-bisanya Arga, kembali muncul setelah pergi tanpa kabar.
"Ada apa dengan kalian kenapa kalian menatapku seperti itu?" Arga, merasa aneh dengan tatapan kedua temannya itu yang menatapnya tidak suka. Aryan, tidak ingin lama-lama menatap Arga, takut jika emosinya tidak terkendalikan. Aryan, pun berlalu pergi meninggalkan Amel dan Arga.
"Kamu masih bilang kenapa! Kamu gak menyadari kesalahanmu Arga!" Amel, yang sudah sangat kesal pun meluapkan amarahnya.
"Apa kamu melihat Lala?" tanya Arga, lolos begitu saja membuat Amel, semakin geram.
"Untuk apa kau menanyakannya? Setelah apa yang kamu lakukan padanya. Kamu baru kembali saat ini percuma saja Arga. Karena Lala, sudah tidak ada."
Arga, terlihat panik dan terkejut mendengar perkataan Amel. Yang mengatakan jika Lala sudah pergi dan tak ada di tempat ini lagi. Arga, pun bertanya kemana perginya Lala, namun Amel, semakin menekannya dan menyalahkannya.
Arga, menyesal karena kedatangannya sangat terlambat. Namun, Arga tidak menyangka jika Lala, akan pergi meninggalkan kota ini. Berulang kali Arga, menghubungi Lala, namun tidak ada jawaban. Arga, pun pergi menemui Aryan, untuk menanyakan Lala.
Karena Arga, tahu jika Aryan, pasti mengetahuinya. Namun, bukannya mendapat jawaban Arga, malah mendapat pukulan, hantaman, dari Aryan, hingga bibirnya berdarah. Namun, anehnya Arga, tetap diam bergeming tak memberi perlawanan sama sekali.
"Setelah pergi lari dari tanggung jawabmu sekarang kamu kembali menanyakannya. Untuk apa hah! Untuk kau sakiti lagi!" Aryan, terlihat marah dan emosi.
__ADS_1
"Aku salah melepaskan Lala, untuk laki-laki macam sepertimu. Bajingan kamu Arga."
"Ya, aku tahu aku salah tapi … sekarang aku datang untuk menebus kesalahanku."
"Menebus kesalahanmu! Berapa lama kamu pergi hah! Apa kamu yakin Lala, akan memaafkanmu. Dia pergi karena dia sudah tidak ingin melihatmu dan tidak pernah ada kata maaf untukmu." Aryan, berlalu pergi setelah meluapkan amarahnya sedangkan Arga, dia terduduk lemah seraya menyesali perbuatannya.
****
Di tempat lain, Lala, tengah sibuk menyirami bunga, dan merapikan beberapa bunga hiasnya. Perutnya yang semakin membuncit tidak membuatnya lelah dan terus aktif dalam bekerja.
Setelah pergi jauh dari kota dan tinggal di sebuah desa Lala, melakoni pekerjaan barunya sebagai penjual bunga. Lala, tinggal bersama seorang wanita paruh baya, yang saat itu pernah di tolongnya.
"Nak, duduklah dulu." Wanita itu meminta Lala, untuk berhenti menyirami bunga.
"Iya Nek." Lala, pun menyimpan alat penyiram bunga lalu duduk di samping wanita itu.
Usia kandungannya saat ini sudah lima bulan, perutnya sudah membesar dan semakin buncit. Beruntung Lala, tinggal di desa yang jauh dari penduduk. Jauh dari gunjingan tetangga. Di desa itu tidak ada orang yang mengenalnya, setiap hari Lala, hanya bertemu dengan para turis atau pun wisatawan yang membeli bunga padanya.
Karena tempat tinggalnya adalah pusat pariwisata. Selama tinggal bersama Lala, wanita itu sangat senang karena merasa terbantu jika ada seorang turis yang berbahasa asing. Karena Lala, sangat pasih dalam bahasa itu.
Lala, tidak pernah berkomunikasi dengan teman-temannya di kota, mungkin hanya satu teman yang sering di hubunginya yaitu Shiren, seorang dokter kandungan yang selama ini selalu membantunya memberikan arahan, resep, untuk menjaga kandungannya.
"La, Arga kembali." Lala, terdiam ketika berbicara dengan Shiren, di balik ponsel genggamnya. Bibirnya kaku tak mampu bicara.
"Aku tidak peduli," ucap Lala datar. Sama sekali yang tak peduli pada kedatangan Arga.
"La, dia harus tahu keberadaanmu."
__ADS_1
"Jangan pernah memberitahukan keberadaanku."
"Tapi La,"
"Hidupku sudah tenang Shiren, aku sudah melupakan Arga."
"Tapi kehamilanmu semakin membesar, kamu akan segera melahirkan, anakmu butuh seorang ayah."
"Anakku tidak butuh ayah yang tidak pernah mengakuinya. Aku bisa merawat dan membesarkan anakku sendiri."
"La! Arga, terlihat menyesali perbuatannya dan dia selalu bertanya tentang keberadaanmu. Biarlah Arga, tahu."
"Aku katakan sekali lagi Shiren, jangan memberitahu keberadaanku pada siapapun terutama Arga."
Lala, menutup sambungannya sepihak. Kembalinya Arga, membuat hatinya kembali hancur. Tanpa terasa bulir air mata sudah menetes membasahi pipinya.
"Kenapa kamu baru kembali Arga." batin Lala.
...----------------...
**Cepat kejar Lala, Arga. Buktikan kesungguhanmu.
Hai reader maaf ya othor baru up lagi setelah sekian lama 😁. Kesibukan di RL yang menjadi penghambat kadang semangat othor juga yang kurang hehe.
Jangan lupa dukunganya like, koment, vote, dan favorit biar othor selalu semangat 💪
Salam author
__ADS_1
❤❤❤**