Because Of Pizza

Because Of Pizza
Bab 48


__ADS_3

Sayang … tunggu … sayang


Aryan, terus mengejar Tari, sedangkan Tari, terus melangkah cepat keluar dari kedai. Tingkah mereka berdua pun jadi pusat perhatian terutama bagi para pegawainya. 


"Kenapa dengan mba Tari? Kok suaminya manggil pergi gitu saja." 


"Mungkin marahan kali ya!" 


"Kayanya pasti ada masalah." 


"Sayang dong rambutnya masih basah masa udah bertengkar lagi." 


"Hust, sudah sana kerja. Cepat, cepat, cepat." Angle, membubarkan teman-temannya yang sedang mengobrol.


*


*


Aryan, mengumpat karena kehilangan jejak Tari. Aryan, pun kesal karena pesan dari Lala yang tiba-tiba mengatakan jika dirinya hamil. Dengan segera Aryan, membanting stir menuju apartemen Lala. 


Sedangkan Tari, dia berjalan-jalan di sekitar taman. Sesekali menghentakan kakinya karena kesal. 


"Ish menyebalkan!" teriak Tari, suaranya begitu menggema. Lalu mendaratkan bokongnya di atas kursi. 


"Engak, enggak, aku gak boleh percaya. Tidak mungkin, kan Aryan, hamili dokter genit itu tapi … gimana kalau benar!" 


Arrh … Tari, memukul kepalanya berulang kali. 


"Tari, Tari, buang pikiran burukmu itu. Lebih baik aku pulang sekarang aku harus minta penjelasan." Saat dirinya hendak berdiri tiba-tiba ponselnya berdering saat dilihat satu pesan whatsapp masuk. 


"Sonia! Ada apa dia menghubungiku," batin Tari, saat melihat nama yang tertera pada ponsel miliknya. 


Tari, pun membuka sebuah gambar yang Sonia, kirimkan. Sungguh terkejutnya Tari, melihat sebuah foto yang memperlihatkan Aryan, bersama Lala. Tari, yang masih kesal pun semakin emosi dan marah. 

__ADS_1


"Istri sedang marah bukannya di kejar malah datang ke rumah dokter genit itu! Menyebalkan sekali." 


Sonia: Tari, apa aku salah lihat suamimu bersama wanita lain. Bahkan dia masuk ke dalam rumah wanita itu. 


Satu pesan yang Sonia, kirimkan membuat amarah Tari, semakin bergemuruh. 


Sonia, di ujung sana tersenyum mekar karena pesannya sudah Tari, terima dan lihat. Sonia, tak sengaja melihat Aryan, yang datang ke sebuah apartemen yang kebeteluan apartemannya berdampingan dengan apartemen milik Lala. 


"Bukannya dia suaminya Tari, dokter itu? Ngapain dia disini." gumam Sonia, yang terus memperhatikan Aryan, yang mengetuk pintu apartemen tetanggannya. 


Tak, lama kemudian Lala, pun keluar membuka, kan pintu. Mata Sonia, terbelalak melihat Aryan mengunjungi apartemen wanita. 


"Laki-laki itu datang menemui seorang wanita." Sonia, langsung heboh sendiri. 


"Jangan-jangan dia selingkuhannya! Sepertinya tidak akan seru jika Tari, tidak mengetahui ini." Dengan segera Sonia, pun mengambil ponsel miliknya lalu memotret kedua orang yang berada di depannya. Setelah, selesai memotret Sonia, langsung mengirimkannya pada Tari. 


*


*


*


"Sekarang jelaskan, apa maksud pesanmu ini?" ucap Aryan, yang menunjukan ponselnya miliknya. 


"Ya, aku hamil Aryan." 


"Apa hubungannya denganku? Apa perlu aku tahu kehamilanmu?" 


"Aryan, aku tidak ada maksud apa pun. Aku bingung aku harus bercerita pada siapa aku pikir hanya kamu yang bisa mendengar curahan hatiku. Aku tidak ada maksud apa pun." 


"Tapi apa kamu tahu pesan ini telah membuat rumah tanggaku hancur." 


"Maksudmu?" 

__ADS_1


"Karena pesan yang kamu kirim Tari, salah paham dia pikir aku yang menghamilimu. Dan sekarang dia pergi." 


"Aku tidak tahu jika istrimu membaca pesan itu. Aryan, aku minta maaf tapi aku janji aku akan menemui Tari, dan menjelaskan semuanya."  Aryan, hsnya berdecak menatap wajah Lala, kesal. 


"Siapa yang menghamilimu? Arga?" Lala, hanya mengangguk sedih. 


"Sepulang dari kedaimu aku mengatakan semua ini pada Arga, dia berjanji untuk bertanggung jawab. Namun, keesokan harinya dia malah pergi. Dia pergi begitu saja tanpa bicara padaku." 


"Berulang kali ku hubunginya tapi tidak pernah satu kali pun dia menjawabnya. Arga, selalu mengabaikan panggilan dariku, aku benar-benar merasa frustasi. Aku bingung aku harus apa!" 


"Aku memberitahumu lewat pesan, bukan karena maksud lain aku hanya ingin mempunyai teman untuk bercerita." 


"Bajingan kamu Arga," gumam Aryan, lirih. 


Sedangkan Aryan, bingung harus bagaimana tidak mungkin juga dia memarahi Lala yang saat ini sedang terpuruk. 


"Aku ingin kamu jelaskan pada Tari, aku tidak ingin ada kesalah pahaman lagi." Lala, pun mengangguk dan berjanji akan menjelaskan semuanya. 


*


*


Di sisi lain. Arga, tengah sibuk menjadi relawan di sebuah desa. Di sana Arga, akan berkunjung ke setiap rumah untuk melihat kondisi pasien. Yang memang jarak tempuh rumah ke rumah sakit sangat jauh. 


Di pertengahan jalan Arga, melihat seorang wanita yang di tuntun mesra oleh suaminya. Wanita itu sedang mengandung perutnya terlihat sedikit buncit, Arga hanya menunduk sebagai sapaan. 


"Mau kemana pak? Apa istrinya sakit?" tanya Arga, pada seorang pria yang menjadi suami wanita itu.


"Tidak, istri saya hanya ingin jalan-jalan. Biasa ibu hamil. Harus sering di perhatikan." Arga, hanya tersenyum hambar. 


"Dokter sudah punya istri?" 


"Belum." 

__ADS_1


"Begitu rupanya. Tapi jika Dokter sudah menikah nanti dokter akan merasakannya bagaimana manjanya istri saat hamil. Dan mereka selalu ingin di perhatikan." 


Tiba-tiba Argan, tertegun dirinya tenfah mengingat Lala, yang sedang hamil saat ini. 


__ADS_2