Because Of Pizza

Because Of Pizza
Kemesuman Arga


__ADS_3

"Suamiku … suamiku," teriak Tari, berlarian menghampiri Aryan, yang sedang merapikan kemejanya. Wajahnya terlihat ceria dan penuh semangat. 


"Ada apa kenapa berlari seperti itu?" tanya Aryan yang langsung menoleh berbalik pada istrinya. 


"Hari ini aku ingin mengundang teman-temanmu, bawalah teman-temanmu ke kedai aku akan membuatkan pizza untuk mereka."


"Apa hari ini ada perayaan?" 


"Aku hanya ingin berbagi saja." 


"Baiklah, tapi jangan kaget semua teman dokterku akan datang." 


"Asal jangan satu rumah sakit saja. Bisa bangkrut kamu nanti!" 


"Kok, aku." 


"Ya, karena kamu harus membelikanku kedai yang lebih besar lagi nanti." Tari, dan Aryan, pun terkekeh. Tari, selalu bisa membuat suasana di pagi hari lebih ceria. 


*


*


*


Sesampainya di rumah sakit Aryan, pun menyampaikan kabar baik itu kepada teman-temannya mereka semua sangat antusias dan tidak sabar ingin segera datang. Namun, ada juga yang kecewa karena sebagian dokter yang bekerja pada shif siang. Namun mereka akan berkunjung setelah pekerjaannya selesai. 


Tari, yang sibuk di bantu oleh kiranti yang saat itu sedang berkunjung ke kedainya. Dalam membuat pizza memang sudah pekerjaannya jadi Tari, tidak begitu sulit dalam memasak pizza. 


"Nak, kenapa kamu tidak mencari pegawai saja untuk membantumu." Kiranti memberi usul, karena Tari, masih belum memikirkan untuk menerima pegawai.


"Aku masih sanggup Bu, sendiri lagian kedaiku masih baru Bu." 

__ADS_1


"Kalau sendirian nanti kamu lelah, apa lagi kalau banyak pesanan. Siapa yang akan mengantarnya nanti! Jika kamu yang ngantar lalu yang menjaga kedai siapa?" 


Tari, terlihat berpikir sejenak. Ucapan Kiranti memang benar, bagaimana pun juga Tari, tidak bisa bekerja sendiri. 


"Apa kata Ibu benar, nanti Tari, akan coba bicarakan pada mas Aryan." 


"Nah, gitu dong." 


"Bu, bagaimana kalau Ibu tinggal di sini saja, Ibu bisa tinggal di atas dari pada pulang." Saran Tari, yang menyarankan Kiranti, untuk tinggal di atas kedai yang memang tersedia sebuah ruangan untuk di tinggali. 


"Bagaimana ya! Ibu pikir-pikir dulu ya." 


"Biar Tari, bisa dekat Ibu." Tari, menggenggam tangan Kiranti berharap ibunya akan setuju dengan permintaannya. 


Saat sedang berbincang suara deruan mobil terdengar di luar kedai. Tari, yang mendengar itu langsung ceria karena tahu jika suaminya sudah datang. Tari, pun pamit pada Kiranti lalu menyambut kedatangan suami dan teman-temannya. 


"Selamat datang semuanya," sapa Tari, dengan ramah. 


"Wah, ibu dokter, terima kasih ya sudah mengundang kami makan disini."


"Awas saja jika ada level 50," ketus seorang dokter wanita yang tak lain adalah Lala. Yang mengingat kejahilan Tari, saat itu. Namun Tari, yang di singgung hanya mendelikan matanya. 


"Untukmu aku sudah membuatnya dokter genit." 


"Ish, dasar!" pekik Lala, yang tak suka dengan ucapan Tari.


"Ayo semuanya masuk-masuk." Tari, pun mengajak semua dokter masuk dan duduk di meja yang sudah di sediakan.


Setelahnya Tari, membawakan beberapa pizza ke atas meja yang di bantu oleh Aryan. Dan selanjutnya Tari, membawakan pizza khusus ke hadapan Lala.


"Ini khusus untukmu Dokter Lala. Tenang saja aku tidak meracuninya kok," ucap Tari, dan berlalu pergi. 

__ADS_1


"Dokter Aryan, ini benar-benar makan besar. Setiap hari seperti ini aku tidak akan nolak." Semua dokter tertawa ketika mendengar gurauan Amel.


"Oh iya, aku lupa membawakan minuman. Kalian nikmati saja pizzanya aku akan mengambilkan minuman." 


Tari, melangkah kembali menuju dapur untuk membuatkan minuman. Semua orang terlihat ceria menikmati pizzanya namun tidak dengan Arga, yang sedari tadi memperhatikan Tari. 


"Kau mau kemana?" tanya Lala, yang melihat Arga, beranjak dari duduknya. 


"Toilet," jawab Arga, singkat. Lalu melangkah gontai menuju arah dapur. 


Tari, sedang sibuk menata gelas minuman di atas nampan, sedang Kiranti, sudah pergi karena Bintang merengek minta di temani tidur. 


Tari, yang masih sibuk menata semua minumannya tidak menyadari jika Arga, berada di belakangnya. Gerak-gerik nya begitu mencurigakan, matanya terus memindai ke sekeliling takut jika ada orang yang masuk. 


Manik matanya menatap mesum pada Tari, yang sedang membelakanginya. Lidahnya ia mainkan, seperti haus dan tergoda saat melihat betis mulus Tari, yang terlihat menggoda. 


Tari, yang saat itu mengenakan rok mini membuat betis mulusnya terlihat. Arga, terus berjalan pelan kedua tangannya sudah tidak sabar ingin menyentuh betis mulus itu. 


Namun, tiba-tiba tubuh Tari, berbalik mengejutkan dirinya begitu pun sebaliknya Tari, yang terhenyak karena Arga, di depannya.


"Maaf Dokter mau kemana?" Arga, gelagapan mendapat pertanyaan dari Tari. 


"Saya mau ke toilet tapi tidak tahu dimana." 


"Oh, toilet. Disana tinggal lurus saja." Tunjuk Tari, ke arah kanan, Arga, pun pergi ke arah yang di tunjukan. Sedangkan Tari, membawa minuman itu ke depan. 


"Sial!" umpat Arga, yang frustasi karena gagal menjalankan aksinya. 


"Cewek itu, menggoda juga ya. Ish … dia milik Aryan. Tapi … kenapa tidak ku coba, Lala, saja bisa tergoda apalagi cewek itu. Mau punya orang atau bukan, tidak ada wanita yang menolak sentuhanku." 


Arga, berpikir jika semua wanita sama. Dia tergoda akan keindahan tubuh Tari, tidak peduli jika Tari, adalah istri Aryan. Namun Arga, tetap akan mencoba merayu ya karena sebelumnya Lala, pun tergoda olehnya. 

__ADS_1


...----------------...


Mau di amuk sama Aryan, lo Arga. Udah punya Lala juga masih saja mau goda istri orang


__ADS_2