
Aryan …
Suara nyaring Oma Rose kembali terdengar, membuat sejoli di kamar yang tertidur langsung mengerjapkan matanya, hingga mereka tersadar jika ini sudah pagi.
"Sayang bangun ini sudah pagi"
Aryan, yang langsung bangun merubah posisi tidurnya dengan duduk. Sambil mengucek-ngucek matanya Aryan, pun melihat arah jarum jam yang terus berdetak.
"Jam 8." Aryan terkejut melihat arah jarum jam di depannya yang sudah menunjukan pukul 8 pagi. Aryan, segera membangunkan Tari, lalu keduanya bergegas pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
Di luar sana Oma Rose menunggu kedua cucunya sambil menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Sampai jam berapa mereka bikin anak sudah siang begini belum pada keluar!"
Brukk,
"Eh, copot! Ish, dasar anak muda jaman sekarang buka pintu saja seperti melemparkan bom." Oma Rose begitu terkejut saat Aryan, membuka pintu kamarnya sangat keras.
Aryan, melangkah terburu-buru sambil memasukan tangannya ke dalam jasnya. Tak berselang lama Tari, pun keluar yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya sebagai pemilik kedai pizza.
Aryan, dan Tari, pun berlari menuju pintu utama berniat untuk segera pergi bekerja. Namun, mereka lupa jika pagi ini Oma Rose ada di rumahnya.
"Eh … eh, mau kemana? Sarapan dulu."
"Maaf Oma, kami buru-buru." Aryan dan Tari pun berlalu pergi.
"Eh, malah pergi. Gak ngehargain banget di buatkan sarapan malah pergi." Oma Rose terus menggerutu.
*
*
*
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit Aryan, bergegas masuk dan berlari menuju ruangan direktur karena hari ini ada meeting mingguan. Berharap dirinya tidak terlambat namun, dirinya sudah sangat terlambat bahkan melewatkan beberapa materi.
"Dokter Aryan jam berapa ini?" bentak ditektur.
"Maaf Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi." Direktur hanya geleng-geleng kepala begitu dengan para dokter yang lain menatapnya tanpa arti.
Aryan, pun duduk di kursi yang masih kosong berdampingan dengan Amel. "Tumben kesiangan apa lupa hari ini ada meeting?" bisik Amel, karena takut terdengar dokter lain.
"Iya aku lupa," jawab Aryan, singkat.
"Masih bertengkar dengan Tari? Kok matanya sembab banget kaya kurang tidur," tanya Amel sebelum melihat tanda kiss mark pada leher Aryan.
Amel langsung menutup mulutnya hingga terbelalak melihat tanda merah pada leher temannya itu.
"Pantas saja kurang tidur cape ya pompa semalaman," cibir Amel, sambil menahan tawanya.
"Maksudmu?" tanya Aryan, namun Amel hanya menggerakan telunjuk tangannya pada leher jenjangnya. Seolah memberitahukan ada jejak cinta di sana.
Aryan, yang mengerti dengan isyarat Amel, langsung menutup lehernya dengan kerah kemejanya.
"Ya! Sangat jelas," jawab Amel. "Jangan sampai ketahuan yang lain bisa malu kamu terlambat karena itu."
"Husst, jangan berisik," sanggah Aryan, yang kembali fokus pada meetingnya.
*
*
*
Setelah kegiatan semalamnya yang menguras tenaga, membuat sekujur tubuh Tari, remuk dan nyeri. Hingga wajahnya terlihat sedikit pucat. Tari, yang merasa lelah pun duduk sejenak untuk istirahat.
"Badanku pegel-pegel semua," ucap Tari, seraya meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
Saat dirinya tengah bersantai sambil meregangkan ototnya tiba-tiba Lala, datang menemuinya dan duduk di hadapannya.
"Dokter Lala," gumam Tari, lirih.
"Kamu pasti terkejut melihatku datang, kan! Kedatanganku kemari untuk minta maaf dan menjelaskan padamu tentang pesan yang ku kirim," ujar Lala menjelaskan kesalahpahaman.
"Aku tidak ada niat apa pun apalagi menghancurkan rumah tangga kalian. Sekarang aku sudah ikhlas dan merelakan Aryan. Hanya saja aku butuh teman cerita dan Aryan, aku hanya menganggap Aryan, sebagai teman."
"Aku sudah tahu dari Aryan," sanggah Tari datar.
"Bagus kalau Aryan, sudah menjelaskan tapi aku juga harus menjelaskan padamu karena aku kalian jadi bertengkar."
"Apa dokter Arga sudah menghubungimu?" tanya Tari, yang merasa iba dan kasihan pada Lala yang di tinggal Arga, saat hamil.
"Dia tidak pernah mau mengangkat teleponku. Mungkin dia tidak pernah akan datang lagi."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Jangan bilang kamu akan menggugurkan kandungan itu."
Lala menunduk, menatap perut ratanya. Yang sudah tertanam janin di dalamnya.
"Entahlah, aku bingung. Perutku akan semakin membesar sedangkan aku tidak memikiki suami apa yang orang lain pikirkan tentangku."
"Jika aku menggugurkannya …."
"Jangan," sanggah Tari, yang takut jika Lala, akan menggugurkan kandungannya.
"Jangan lakukan itu dokter, apa dokter tega."
"Kamu tenang saja aku tidak akan melakukan itu. Anak ini tidak salah, aku akan merawatnya walau hanya sendiri."
"Aku dan Aryan, akan bantu kamu kita cari dokter Arga." Tari, menyentuh lembut tangan Lala, seolah meyakinkan dan menguatkannya.
"Kamu akan membantuku? Kenapa? Bukan kah aku selalu mengganggu hubunganmu dengan Aryan, dan kamu begitu membenciku."
__ADS_1
"Tidak selamanya aku membencimu. Selama kamu bisa berubah dan tak mengharapakan Aryan, lagi." Lala, tersenyum sedih, matanya kini sudah mulai berkaca-kaca. Tidak percaya jika Tari, yang pernah dia jahati memaafkan kesalahannya dan bersedia membantunya.
"Terima kasih," ucap Lala yang menggenggam tangan Tari.