
Aryan, mencoba menghubungi Tari, namun tidak ada jawaban. Aryan, kembali ke ruang kerjanya dan menatap tupperware di depannya.
"Kenapa di tatap saja tidak di makan?" Suara Amel, mengejutkannya. Amel, datang ke ruangannya lalu duduk di hadapan Aryan.
"Apa kamu ada masalah dengan istrimu? Maaf bukan aku ingin ikut campur tapi … aku merasa heran biasanya dia akan datang menemui mu membawakan makan siang untukmu dengan penuh ceria. Tapi tadi … dia hanya menitipkan tupperware ini padaku, apa kalian ada masalah?"
"Jadi kamu yang membawa tupperware ini padaku?"
"Ya."
"Lalu, dimana Tari, sekarang?"
"Pergi. Tadi aku bertemu dengannya di lorong yang akan menuju toilet, dia pergi begitu saja dengan wajah sedihnya."
"Astaga," Aryan, mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa?" Amel, merasa heran.
"Sepertinya dia salah paham. Tari, pasti melihatku menggendong Lala, saat itu."
"Memangnya ada apa dengan dokter Lala?" Aryan, pun menceritakan detailnya pada Amel. Amel, yang mendengar itu pun jadi kesal sudah bisa menebak jika Tari, marah karena ini.
Tak hanya itu Aryan, pun menceritakan masalahnya yang terjadi di kedai saat itu. Amel, semakin kesal di buatnya.
"Gila si Arga, maunya apa sih! Setelah merebut pacar lo sekarang dia goda istri lo. Dan lo Aryan, seharusnya jangan marah pada Tari, dia gak salah mungkin saat di kedai dia tidak bicara karena takut Lo dan Arga, akan berselisih nanti. Sedangkan di kedai banyak orang, kan."
Aryan, pun berpikir sejenak ucapan Amel, ada benarnya. Sehingga dia merasa bersalah karena tak dapat mengendalikan emosi. Aryan, pun memutuskan untuk menemui Tari.
*
__ADS_1
*
*
Tari, yang masih galau tak ada semangat dalam dirinya. Melihat Aryan, memeluk Lala, hatinya begitu sakit melihatnya. Pikirannya saat ini sangatlah kacau, mengoven pizza saja hingga gosong.
"Mba, Tari itu pizzanya!" teriakan seorang pegawai mengejutkannya. Membuat Tari, langsung tersadar dari lamunannya melihat keadaan pizza yang sudah terlihat hitam.
Dengan segera Tari, mengambil pizza itu namun karena tidak hati-hati tangannya terluka karena panas dari pizza yang saat itu Tari, lupa memakai sarung tangannya alhasil pizzanya jatuh berantakan dan telapak tangannya memerah.
"Ya ampun mba, Tari. Biar Angle saja bereskan lebih baik Mba Tari, istirahat saja, jangan lupa berikan salep pada lukanya."
Angle sebagai pegawai pun membersihkan pizza yang berantakan sedangkan Tari, duduk bersandar di ujung sudut.
"Angle, tutup saja kedainya."
"Tapi Mba, hari ini kita ada pesanan dari gedung xxx tidak mungkin kita membatalkannya begitu saja. Mereka pasti marah nanti."
"Baiklah, Angle, kamu bersihkan dulu itu kita akan buat pizza lagi. Aku akan mengobati lukaku dulu." Angle, pun tersenyum mendengar perkataan dari bosnya.
"Baik Mba, Angle akan siap membantu. Kita masih ada waktu kok."
Tari, dan Angle, pun bekerja sama dan saling membantu hingga membuat beberapa adonan pizza dan menjadikannya beberapa kotak. Di saat semua pesanan sudah selesai Angle, mengantarkan pesanan itu, dan Tari, kembali membuat adonan yang baru.
"Tari, kamu lupakan masalahmu. Kamu harus fokus."
Tari, terus fokus pada adonan pizzanya, mencoba untuk melupakan masalahnya. Tanpa sadar sebuah tangan melingkar di perutnya. Tari, yang masih trauma akan sikap Arga, beberapa hari lalu membuatnya takut dan terkejut saat ada sebuah tangan yang memeluknya.
Tari, pun terhenyak dan langsung berbalik saat berbalik matanya terbelalak saat melihat Aryan, di depannya.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Aryan, demikian. Namun Tari, belum bisa berkata apapun.
"Aku mendiamkanmu bukan karena aku marah padamu. Tapi karena aku marah pada diriku sendiri. Dan, jika kamu melihat aku dan Lala, tadi … itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan."
"Kamu tahu aku ada disana?" tanya Tari, yang penasaran apa Aryan, melihatnya atau tidak. Aryan, mengulum senyum.
"Saat itu aku tidak melihatmu tapi makan siang yang kamu bawakan sudah pasti kamu datang, kan! Dan jika kamu melihatnya jangan salah paham aku hanya menolongnya, karena dia pingsan."
"Apa dia baik-baik saja?" Aryan, mengerutkan dahinya mendapat pertanyaan itu dari istrinya yang seperti mencemaskan Lala.
"Kamu mencemaskannya? Kenapa kamu ingin tahu keadaannya?"
"Aku hanya ingin tahu, itu saja," ketus Tari.
Aryan, tahu jika istrinya itu sedang cemburu. Aryan, mendekatkan wajahnya perlahan, menggoda Tari, yang masih jutek dan ketus padanya. Aryan, hanya tersenyum kedua tangannya menarik tubuh Tari, hingga menempel padanya.
"Apa yang mau kamu lakukan!"
"Memeluk istriku apa tidak boleh?"
"Tapi jangan begini, nanti ada yang lihat!"
"Kenapa? Tidak akan ada yang melihat."
"Ta-tapi …." ucap Tari tertahan karena Aryan, langsung membungkam mulutnya. Sentuhan lembut terus Aryan, berikan hingga suara erangan pun keluar dengan merdu. Aryan, melepas pagutan bibirnya perlahan, menatap Tari, dengan penuh cinta.
Kedua tangannya perlahan memangku tubuh mungil istrinya itu dan membawanya ke atas kedai.
...----------------...
__ADS_1
Mau ngapain tuh Aryan 🤭 wk wk
Makasih lo, udah like dan komentarnya buat othor tambah semangat. Jangan lupa votenya juga ya🤗.