
"Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk mencampuri urusan rumah tangga kalian, tapi aku tidak bisa diam saja melihatmu memperlakukan istrimu seperti itu." Kata Lukas sambil memandang wanita yang tersungkur di tanah.
"Terserahku mau bagaimana aku memperlakukan istriku, itu tidak ada urusannya denganmu sama sekali."
"Sebaiknya kau keluar, jika tidak jangan salahkan aku jika berbuat kasar terhadapmu." Pria itu memperingatkan Lukas untuk segera meninggalkan mereka.
"Aku akan pergi, tentu saja aku akan pergi setelah kau juga pergi," Lukas tidak bisa meninggalkan mereka berdua, atau kalau tidak wanita itu pasti akan kena hajar lagi.
"Ini rumahku, untuk apa aku pergi dari rumahku sendiri. Yang ada kau seharusnya pergi, kau hanya orang luar." Pria itu memarahi Lukas dan terus bersikeras untuk tetap tinggal disana.
Lukas kembali melihat wanita yang menangis di lantai, wanita itu menangis sambil memegangi bagian wajahnya yang terkena tamparan dari suaminya. Melihatnya yang seperti itu membuat Lukas tidak tega untuk meninggalkannya.
'Apa yang harus aku lakukan?' Batin Lukas, dia bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya sekarang.
Dia tidak bisa begitu saja menghajar pria itu, jika dia melakukannya mungkin dia akan melapor pada polisi dan Lukas tidak ingin itu terjadi. Bisa saja pada saat itu dia berbohong dan membuat Lukas yang berakhir ditahan oleh polisi.
'Tunggu, bukankah dia hanya perlu uang?'
Lukas kemudian bertanya pada pria itu, "Bukankah kau perlu uang? Berapa banyak yang kau butuhkan? Aku akan memberikannya asal kau tidak menyakitinya lagi!"
Entah kenapa Lukas berbuat sebanyak itu pada wanita yang baru ditemuinya, dia sendiri juga tidak tau apa yang membuatnya seperti itu.
Pria itu langsung tersenyum bahagia ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan Lukas, namun dia dengan cepat kembali pada ekspresi semula dan berkata, "Apa kau pikir aku akan pergi dengan itu?"
"Bagaimana dengan 100 dollar? Aku kira itu cukup kan?" Lukas langsung menawarkan, dia tau pria itu ingin jual mahal.
"Kau pikir-"
"500 dollar!"
Sebelum pria itu menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya, Lukas langsung memotong perkataannya.
"Kau pikir aku tidak akan menerima jumlah sebanyak itu? Tentu saja aku akan pergi jika kau memberikan uangnya padaku." Pria itu tentu saja tidak akan menolak tawaran Lukas.
'Uang sebanyak ini datang dengan sendirinya, tentu saja aku tidak akan menolaknya. Lagipula aku akan kembali lagi kesini.' Batinnya sambil memandang istrinya yang masih menangis.
Lukas memberikan uang sebanyak 500 dollar kepada pria itu, "Ini'
Pria itu mengambilnya, "Terima kasih" katanya sambil tersenyum licik. Kemudian dia pergi tanpa memedulikan kondisi istrinya.
__ADS_1
Lukas kemudian menghampiri wanita itu dan menanyakan kondisinya, "Apa kau baik-baik saja? Tunggu sebentar, aku akan pergi ke apotek sebentar." Lukas segera pergi ke apotek setelah melihat lebam yang ada pada wajah wanita itu.
Tak lama kemudian Lukas kembali dengan membawa salep di tangannya, lalu dia mengoleskan salep pada lebam wanita itu, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Lukas.
"Baru-baru ini suamiku kecanduan narkoba dan dia menghabiskan semua uang kami untuk membeli narkoba. Dan tadi dia ingin meminta uang lagi untuk membeli narkoba, aku sudah mengatakan padanya tidak ada uang lagi, tapi dia tetap bersikeras hingga akhirnya dia memukulku."
"Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia memukulku, bahkan dia tega memukul putrinya sendiri. Narkoba benar-benar sudah merubahnya, aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan terhadapnya."
Wanita itu menjelaskan pada Lukas apa yang dialaminya selama ini, dia sangat tersiksa akibat suaminya yang kecanduan narkoba.
"Kenapa kau tidak meninggalkannya?" Tanya Lukas dengan heran.
"Aku sudah pernah mencobanya, tapi dia dapat menemukanku dengan mudah. Dan jika aku pergi, apa yang akan terjadi pada putriku? Aku takut tidak akan bisa melihatnya lagi jika aku lari sendiri, dan jika aku membawanya, aku tidak yakin apakah aku bisa mengurusnya sendirian."
"Ngomong-ngomong terima kasih karena sudah menolongku. Tapi kau sebaiknya pergi dengan cepat, aku takut dia akan kembali lagi dengan membawa teman-temannya." Wanita itu berterima kasih karena Lukas telah menolongnya, dan dia juga mengingatkan Lukas untuk segera pergi.
"Jika aku pergi, apa yang akan terjadi terhadapmu dan putrimu?"
"Tenang saja, aku bisa mengatasi semua ini, dan untuk putriku, dia aman bersama dengan orang tuaku. Suamiku tidak akan mengganggunya disana," kata wanita itu.
"Begini saja, bagaimana kalau kau ikut denganku?" Tanya Lukas.
"Jangan salah paham, maksudku kau bisa bekerja di tempatku, kau bisa melakukan pekerjaan rumah kan?" Lukas dengan cepat menjelaskan karena takut wanita itu salah paham terhadapnya.
"Apakah maksudmu menjadi pembantu rumah tangga di tempatmu?" Wanita itu bertanya untuk memastikan.
"Benar" Lukas mengangguk.
"Tapi apakah suamiku tidak akan menemukanku? Dan bisakah aku bertemu dengan putriku jika aku bekerja di tempatmu?" Dia khawatir suaminya akan menemukannya, serta dia tidak mau kalau itu membuatnya tidak bisa bertemu dengan putrinya.
"Tenang saja, dia tidak mungkin menemukanmu. Lagipula tempat tinggalku sangat aman dari orang-orang sepertinya. Dan kau juga bisa mengajak putrimu untuk tinggal di tempatku." Lukas berkata dengan yakin.
"Jika begitu, maka aku mau menjadi pembantu di tempatmu!" Wanita itu langsung setuju untuk bekerja di tempat Lukas.
"Kalau begitu tunggu sebentar, aku ingin mengambil beberapa barangku disebelah."
Lukas segera mengambil barang-barang miliknya, kemudian setelah itu dia pergi mencari taksi bersama dengan wanita itu.
Sambil menunggu taksi, Lukas menanyakan nama wanita itu, "Ngomong-ngomong siapa namamu?"
__ADS_1
Meski mereka sudah banyak mengobrol, tapi Lukas masih belum mengetahui nama wanita itu, jadi dia memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya.
"Namaku Monica."
"Monica, nama yang cantik, cocok untuk wanita cantik sepertimu. Ngomong-ngomong namaku Lukas."
Mendengar Lukas memujinya membuat Monica malu, wajahnya memerah dan dia tidak berani memandang Lukas secara langsung.
'Sebaiknya aku membeli mobil, jadi aku tidak perlu menunggu lama seperti ini.' Batin Lukas, dia berencana membeli mobil agar lebih mudah jika bepergian.
Beberapa saat kemudian ada taksi yang lewat dan Lukas langsung memanggilnya, setelah mereka berdua masuk ke dalam taksi, Lukas langsung mengatakan tempat tujuannya, "Pergi ke vila pinggir sungai."
"Vila pinggir sungai? Bukankah itu vila paling elite di kota ini?" Monica bertanya dengan bingung.
"Kau tau itu?" Lukas tidak menyangka kalau Monica mengetahui tentang vila itu.
"Tentu saja, aku yakin semua orang di kota ini juga tau tentang vila itu."
'Sepertinya vila itu memiliki reputasi yang bagus disini,' batin Lukas. Dia tidak menyangka kalau vila pemberian keluarga Lawrence akan seterkenal itu, dia menyangka kalau itu hanya vila mahal biasa.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di area vila pinggir sungai, Lukas membayar taksi dan keluar bersama Monica setelahnya.
"Luar biasa, bahkan area luar vila ini sangat indah." Monica kagum dengan keindahan yang dilihatnya.
"Ini pertama kalinya aku kesini," tambahnya.
"Ayo" Lukas membawanya menuju ke vila, begitu tiba di depan gerbang, kedua penjaga langsung menyambut mereka, "Selamat datang kembali, Tuan."
Lukas mengangguk ringan tanpa mengucapkan sepatah katapun dan masuk melewati gerbang. Monica memandang Lukas dengan tidak percaya, dia tidak menyangka kalau Lukas adalah pemilik dari vila yang sangat terkenal itu.
Dia awalnya mengira kalau Lukas hanya ingin mampir sejenak saja untuk melihat-lihat, namun ternyata dia adalah pemilik dari vila tersebut.
"Apakah wanita itu kekasihnya? Beruntung sekali wanita itu."
"Entahlah, tapi sepertinya dia tidak ada niat untuk memecat kita."
"Benarkah? Kalau begitu bagus, kita tidak perlu khawatir lagi mencari pekerjaan baru."
Mereka berdua bertanya-tanya siapa wanita yang baru saja dibawa oleh Lukas. Tapi yang lebih penting bagi mereka berdua adalah tetap bekerja disana.
__ADS_1