
'Apa-apaan? Apakah pemilik rumah ini adalah orang yang mesum?' Lukas mengerutkan keningnya melihat apa yang dilakukan oleh pemilik rumah.
Lukas melepaskan diri dari pemilik rumah dan bertanya, "Apa yang Anda lakukan?"
"Ah maafkan aku, aku terlalu bersemangat." Pemilik rumah segera kembali pada sikap awalnya.
Dia terlalu bersemangat setelah melihat pertarungan Lukas tadi, jadi dia lupa kalau mereka sekarang ada diluar dan banyak orang yang memperhatikan.
"Paman, tolong panggil ambulan untuknya. Dan jangan bilang apapun jika aku yang melakukannya." Lukas meminta Jordan untuk memanggil ambulan.
Dia juga meminta Jordan untuk tidak mengatakan pada siapapun kalau dia yang membuat Snake seperti itu, akan merepotkan jika dia sampai masuk penjara lagi.
'Aku tidak ingin bertemu wanita itu lagi.' Batin Lukas, mau tidak mau dia mengingat Angelina.
"Dan Anda-'
"Grace, panggil aku Grace!" Pemilik rumah meminta Lukas untuk memanggilnya dengan namanya.
"Ini... Bukankah tidak sopan jika saya memanggil Anda dengan nama saja? Bagaimana jika saya memanggil Anda Nyonya Grace?" Kata Lukas, dia merasa tidak nyaman jika memanggil pemilik rumah dengan namanya saja, bagaimanapun pemilik rumah terlihat jauh lebih tua darinya.
"Grace, aku ingin kau memanggilku Grace!" Pemilik rumah tetap bersikeras meminta Lukas memanggilnya dengan namanya.
"Baiklah, dan untukmu, Grace. Tolong rahasiakan ini juga." Lukas akhirnya menyerah dan memanggil pemilik rumah dengan namanya.
Grace, meskipun dia berusia empat puluhan, namun wajahnya tidak kalah cantik dengan wanita muda. Wajahnya masih kencang seperti gadis berusia dua puluhan, hanya saja tubuhnya sedikit berisi, tidak langsing seperti gadis berusia dua puluhan.
"Tenang saja, aku akan merahasiakannya dengan baik." Grace berkata sambil tersenyum, dia berjanji pada Lukas akan merahasiakan semuanya.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Paman, tolong lakukan seperti yang kuminta!" Lukas kembali meminta Jordan untuk melakukan apa yang dikatakannya sebelum akhirnya pergi.
Jordan dengan cepat memanggil ambulan seperti yang diminta Lukas.
Lukas tiba di tempat dimana mobilnya terparkir, dan berencana untuk kembali ke rumahnya. Namun sebelum dia membuka pintu mobil, Grace menghentikannya, "Tunggu! Lukas, bisakah kau memberiku tumpangan?"
Lukas berbalik dan melihat Grace yang mengikutinya, kemudian dia bertanya, "Tumpangan? Apakah Anda tidak membawa mobil sendiri?"
Lukas ingat jika Grace memiliki mobil, jadi dia bingung kenapa Grace meminta tumpangan padanya.
"Begini... Mobilku mogok dan aku tidak bisa pulang, jadi maukah kau memberiku tumpangan?" Kata Grace, dia memberikan alasan yang masuk akal.
'Yah, tidak ada salahnya juga jika aku mengantarnya.' Batin Lukas.
"Baiklah, kamu boleh masuk." Setelah beberapa pertimbangan Lukas akhirnya setuju untuk memberi Grace tumpangan. Lagipula Grace cukup sering membantu pemilik tubuh lama.
__ADS_1
Grace sering memberikan kelonggaran pada pemilik tubuh lama saat dia tidak bisa membayar sewa rumah, jadi Lukas ingin membalas kebaikan Grace terhadap pemilik tubuh lama.
Begitu keduanya masuk ke dalam mobil, Lukas menanyakan alamat Grace, "Dimana tempat tinggalmu?"
"Jangan terburu-buru, bagaimana kalau kita makan siang dulu? Kau belum makan bukan? Aku yakin kau juga pasti lapar setelah pertarungan tadi." Kata Grace, dia tidak ingin langsung pulang dan mengajak Lukas untuk makan siang bersama.
"Ini..." Lukas sedikit ragu sebelum akhirnya setuju, "Baiklah, dimana kita akan makan?"
Lukas sebenarnya ingin menolak, namun perutnya memang sudah lapar, jadi dia setuju untuk pergi makan siang bersama dengan Grace.
"Bagaimana jika kita makan siang di restoran GT?" Grace menyarankan.
"Baiklah," Lukas langsung menyalakan navigasi di mobilnya dan menyetel restoran GT.
Setelah itu dia berkendara ke restoran GT mengikuti jalan yang sudah ditunjukkan pada navigasi.
Lukas tidak masalah sama sekali makan dimanapun, lagipula dia tidak punya kebiasaan makan khusus.
"Ngomong-ngomong kemana kau pergi? Kenapa kau tidak tinggal dirumah sewamu lagi?" Tanya Grace penasaran.
"Saya sekarang sudah punya tempat tinggal sendiri, jadi saya tidak tinggal disana lagi." Jawab Lukas dengan santai.
"Tempat tinggal sendiri? Apakah kau sebenarnya hanya pura-pura miskin selama ini?" Tanya Grace, dia berpendapat jika Lukas sebenarnya anak dari keluarga kaya yang menyamar.
Jika tidak begitu, lalu kenapa Lukas punya tempat tinggal sendiri? Bahkan mobil yang dikendarainya juga sangat mahal.
Mereka kemudian tiba di restoran GT, restoran itu tampak sangat besar.
Lukas segera memarkirkan mobilnya dan keluar bersama Grace, keduanya kemudian masuk ke restoran dan pelayan menyambut mereka, "Selamat datang Tuan dan Nyo-"
Pelayan itu terkejut melihat Grace, dia terdiam dan tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Grace memandang pelayan itu dengan tajam sebelum mengajak Lukas untuk segera duduk, "Ayo duduklah dan pesan apapun yang ingin kau makan, aku yang akan membayarnya kali ini."
Lukas kemudian duduk dan memesan beberapa makanan dan menyerahkan daftar menu pada Grace dan memintanya memesan makanan juga, "Sekarang giliranmu."
"Berikan aku sama sepertinya." Kata Grace pada pelayan yang melayani mereka.
"Mohon tunggu sebentar," Pelayan itu kemudian pergi untuk menyiapkan makanan mereka.
"Tunggu disini sebentar, aku ingin pergi ke toilet."
Grace kemudian berdiri dan berjalan menuju toilet, namun bukannya ke toilet, dia pergi ke dapur tempat koki menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Dimana pesanan meja nomor 13?" Tanya Grace pada koki yang ada disana.
Koki itu melihat kedatangan Grace dan menyapanya dengan hormat, "Nyonya Grace! Ini adalah pesanan untuk meja nomor 13!"
Koki itu menunjukkan makanan yang Lukas pesan, kemudian Grace mengeluarkan sebuah botol dari tasnya dan memasukan cairan dari botol itu ke dalam minuman Lukas.
"Nyonya?" Koki itu bingung mengapa Grace memasukkan cairan ke minuman pelanggan.
"Ini bukan urusanmu, antarkan saja ini ke meja nomor 13." Kata Grace, setelah itu dia menjauh dari sana.
Koki itu hanya bisa diam dan memanggil pelayan untuk mengantarkan pesanan Lukas, "Pesanan untuk meja nomor 13 sudah siap."
Pelayan segera datang dan mengambilnya, setelah itu dia membawanya ke meja nomor 13 dimana Lukas sedang menunggu saat ini.
"Ini dia pesanan Anda Tuan~"
Pelayan itu pergi setelah meletakkan pesanan Lukas.
"Dimana dia?" Lukas bertanya-tanya kenapa Grace belum kembali.
"Ya sudah, aku akan makan lebih dulu." Lukas segera menyantap makanan yang ada didepannya.
Tak lama kemudian Grace kembali dan Lukas berkata, "Maaf saya makan duluan."
"Tidak masalah, aku tau kau sangat lapar." Grace menggelengkan kepalanya dan duduk.
"Sebenarnya aku juga sudah sangat lapar~" Kata Grace sambil menjilat bibirnya.
Ketika Lukas meminum minumannya, dia merasa sedikit ada yang aneh dengan rasanya. Namun dia tidak menanggapinya dengan serius dan terus lanjut meminumnya.
'Mungkin memang seperti ini rasanya.' Batin Lukas, dia tidak curiga dengan minumannya.
'Bagus!' Batin Grace, dia sangat senang melihat Lukas meminum minumannya.
Setelah beberapa saat Lukas merasakan panas disekujur tubuhnya, 'Apa ini? Kenapa tubuhku rasanya panas sekali?'
Grace yang melihat Lukas bersikap aneh pun segera bertanya, "Ada apa denganmu?"
"Entahlah, tubuhku terasa sangat panas." Jawab Lukas sambil meringis.
'Bagus, obatnya sudah bekerja sekarang.' Batin Grace.
"Apakah kau butuh bantuanku? Bagaimana jika aku meminta kamar pada pelayan agar kau bisa menenangkan dirimu?" Kata Grace dengan khawatir.
__ADS_1
"Baiklah, tolong lakukan itu untuk saya." Lukas mengangguk dan meminta Grace untuk memintakan kamar untuknya.
Grace segera pergi, namun dia tidak menemui pelayan. Tapi dia pergi ke sebuah kamar di restoran itu dan merapikannya sebelum akhirnya kembali dan membawa Lukas ke kamar tersebut.