
Lukas terkejut setelah mendengar itu, dia segera mengambil berkas tersebut dan membacanya. Setelah selesai membacanya, Lukas bertanya dengan sedikit heran, "Bukankah vila ini sangat mahal? Apakah kalian yakin ingin memberikan ini padaku?"
"Ini tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan nyawa kakekku, kami hanya bisa memberikan vila ini untukmu. Tentu saja, keluarga kami akan membantumu jika kau menghadapi masalah." Jelas Flora, dia dan kakeknya sangat berterima kasih atas apa yang telah dilakukan oleh Lukas.
"Kau cukup menanda tanganinya dan vila itu akan menjadi milikmu," kata Flora.
Lukas segera menanda tangani berkas itu, 'Tidak kusangka 500 poin yang aku gunakan untuk membantu pria tua itu akan mendapatkan sebuah vila yang sangat mahal.'
"Kalau begitu aku pergi dulu, hubungi aku jika kau butuh sesuatu." Flora memberikan kartu namanya dan pergi setelah itu.
"Bagaimana kalau aku melihat-lihat vilanya dulu?" Lukas tertarik untuk melihat vila barunya.
Lukas segera menuju lokasi vila itu berada, dia memanggil taksi, "Tuan, tolong antarkan aku ke vila pinggir sungai."
"Vila pinggir sungai yang itu?" Tanya supir taksi dengan heran.
"Memangnya ada vila pinggir sungai selain yang itu?"
"Tentu saja tidak ada, tapi apa yang akan kau lakukan disana anak muda?"
"Tentu saja melihat-lihat."
"Jadi begitu, biar aku beritahu padamu. Vila itu harganya sangat mahal dan pemiliknya adalah keluarga Lawrence. Jangan macam-macam jika kau disana, jika tidak kau akan mendapatkan masalah." Supir itu mengingatkan.
"Ngomong-ngomong apakah keluarga Lawrence itu hebat?" Lukas bertanya karena penasaran dengan keluarga Lawrence, dia ingin tau seperti apa keluarga Lawrence itu.
"Tentu saja hebat, mereka adalah keluarga paling berpengaruh di Pearl City kita ini. Menurut rumor, bahkan para pejabat daerah tunduk dengan mereka." Jelas supir itu.
"Begitu hebat?" Lukas tidak menyangka keluarga Lawrence akan sehebat itu sampai bisa mengendalikan para pejabat.
"Tentu saja... Kita sudah sampai anak muda," saat mereka terus berbincang, mereka akhirnya tiba di vila pinggir sungai.
Lukas membayar dan keluar dari taksi, "Terima kasih" Kemudian dia berjalan memasuki area vila.
"Berhenti, apa yang kau lakukan disini? Ini adalah area pribadi, tidak boleh ada orang luar yang masuk tanpa izin." Penjaga menghentikan Lukas.
__ADS_1
"Aku adalah pemilik vila ini," kata Lukas dengan santai.
"Kau pemilik vila ini? Hahahaha, jangan bermimpi kau bocah bau." Penjaga itu tertawa dan menghina Lukas.
"Hahaha leluconmu sangat lucu. Nak, pergilah sebelum kami mengusirmu dengan kekerasan!" Penjaga yang lain juga tertawa dan mengingatkan Lukas dengan sebuah ancaman.
"Lihatlah ini, disini tertulis kalau vila ini sekarang milikku!" Lukas memperlihatkan sertifikat vila tersebut pada mereka.
"Hmph, mungkin saja ini palsu, tidak mungkin vila ini milikmu." Dengus salah satu penjaga, dia sama sekali tidak mempercayai Lukas.
"Nak, bukankah kami sudah memperingatkanmu? Jika kau tidak segera pergi, maka kami akan benar-benar menghajarmu." Penjaga itu kembali mengingatkan.
'Hadehh, apakah penjaga ini tolol? Bukankah mereka harus mengkonfirmasinya dulu pada keluarga Lawrence. Aku tidak percaya mereka bisa menjadi penjaga disini dengan tingkat ketololan seperti ini,' batin Lukas.
"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi seseorang." Lukas langsung menghubungi Flora.
"Halo Lukas? Apakah kau butuh sesuatu?"Suara Flora terdengar dari ponsel Lukas.
"Aku sedang berada di depan vila pinggir sungai, saat ini aku ingin melihat-lihat vila itu. Namun aku dihentikan oleh para penjaga."
"Begitukah? Maaf, sepertinya kami lupa memberitahu mereka soal itu. Berikan ponselnya pada mereka, biarkan aku memberitahu mereka." Flora meminta maaf karena lupa memberitahu penjaga, lalu dia menyuruh Lukas memberikan ponsel pada penjaga agar dia bisa memberitahu mereka.
Salah satu penjaga mengambil ponsel dan menyalakan pengeras suara agar suaranya terdengar keras, "Kalian berdua, pria yang ada di depan kalian memang pemilik baru vila itu, jadi biarkan dia masuk."
"Nona Flora? Jadi maksud Anda..."
"Ya, mulai sekarang dia adalah bos kalian, tapi gaji kalian tetap ditanggung oleh keluarga Lawrence."
Keduanya langsung berkeringat dingin, mereka tidak menyangka kalau orang yang mereka hina dan ancam barusan memang pemilik vila tersebut. Mereka mulai menatap Lukas dengan takut dan penuh antisipasi.
Salah satu penjaga mengembalikan ponsel Lukas dan berkata dengan gemetar, "Ini Tuan, Ma...maaf kami tidak tau sebelumnya kalau Anda memang pemilik vila ini. Jadi kami mohon jangan pecat kami."
"Be...benar, saya masih memiliki orang tua dan anak kecil yang harus dinafkahi di rumah, mohon jangan pecat kami." Tambah penjaga yang lain.
Lukas mengambil kembali ponselnya dan mengakhiri panggilan dengan Flora, "Terima kasih atas bantuanmu."
__ADS_1
"Tidak masalah, seharusnya kami yang meminta maaf karena lalai." Kata Flora sebelum panggilan berakhir.
"Buka gerbangnya!" Lukas memerintahkan mereka untuk membuka gerbang.
"Siap Tuan!"
Keduanya dengan cepat membukakan gerbang, lalu Lukas masuk dengan santai. Begitu masuk halaman vila, Lukas disambut oleh pemandangan yang benar-benar indah. Disana terdapat berbagai jenis bunga, serta ada kolam yang dipenuhi ikan mas.
Lukas kemudian masuk ke dalam vila dan melihat bagian dalam vila itu benar-benar sangat indah. Di sana terdapat banyak benda-benda antik dan mahal, lampu-lampunya juga sangat berkilauan dengan hiasan emas dan berlian.
"Seperti yang diharapkan dari vila elit, tidak heran ini sangat mahal. Bahkan udara diluar juga sangat sejuk yang mana sangat bagus untuk kesehatan." Lukas bergumam.
Setelah selesai melihat-lihat, Lukas memilih kamar untuk dirinya sendiri. Dia memilih kamar yang ada di lantai pertama, "Kamar ini sepertinya lebih baik, dengan begitu aku tidak perlu repot naik turun tangga."
Lukas masuk ke kamar tersebut dan bagian dalam kamar itu juga sangat indah, bahkan tempat tidurnya sangat besar, mungkin cukup untuk 10 orang tidur bersamaan.
Lukas berbaring di tempat tidur dan menikmati kenyamanan dari tempat tidur barunya, "Ahhh, luar biasa sekali, rasanya seperti berbaring di awan."
[Memangnya kau pernah berbaring di awan?] Tanya sistem dengan mengejek.
"Aku hanya mengatakan perumpamaan, lagipula kenapa kau sangat cerewet? Sistem di novel lain tidak ada yang cerewet sepertimu." Lukas kesal dengan sistem.
[Sistem yang mereka gunakan adalah sistem abal-abal, berbeda denganku yang sudah sangat canggih dan profesional.] Kata sistem dengan bangga.
"Heleh, canggih apanya? Ingin membuka lottere saja perlu ke ruang sistem. Tidak canggih sama sekali, itu hanya akan membuatku lelah bolak-balik." Lukas mengeluh karena harus bolak-balik ke ruang sistem jika ingin membuka lottere atau menukar sesuatu.
[Sistem harus di upgrade untuk bisa menghilangkan itu dan itu akan memerlukan 10.000 poin.]
"10.000 poin? Kenapa banyak sekali?" Lukas terkejut dengan jumlah poin tersebut.
Lukas perlu waktu satu bulan untuk bisa mendapatkan 500 poin, dan untuk 10.000 poin, mungkin akan butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mendapatkannya. Belum lagi jika dia harus membuka lottere yang mana sangat membuatnya kecanduan.
"Apa keuntungannya jika aku mengupgrade sistem?" Lukas bertanya keuntungan apa yang akan dia miliki jika sistem di upgrade.
[Sistem menjadi lebih sopan]
__ADS_1
"Itu saja?"
[Tentu saja tidak, jika sistem di upgrade, maka fitur misi akan terbuka.]