
"Fitur misi? Bukankah itu yang selalu ada pada sistem protagonis dalam novel? Akhirnya sistemku juga memilikinya."
"Tapi bagaimana caranya aku mendapatkan 10.000 poin?" Lukas bingung harus bagaimana agar dapat 10.000 poin, lagipula itu bukan jumlah yang sedikit.
[Sistem bisa meminjamkan 10.000 poin]
"Benarkah? Tunggu dulu, aku mencium adanya bau penipuan disini." Lukas curiga sistem menipunya, lagipula kenapa sistem tiba-tiba ingin meminjamkan 10.000 poin padanya.
[Jangan menuduh sistem seperti itu, sistem murni ingin membantumu, jika kau tidak mau ya sudah, sistem juga tidak memaksa.]
"Tunggu, tunggu, aku akan meminjam 10.000 poin." Lukas dengan cepat mengambil keputusan.
[10.000 poin berhasil ditambahkan!]
"Upgrade sistem sekarang!" Lukas segera memerintahkan untuk mengupgrade sistem.
[Upgrade sistem akan memakan 10.000 poin, apakah Anda yakin ingin melanjutkan?]
"Lanjutkan."
[Sistem akan segera di upgrade, proses upgrade akan memakan waktu selama 10 hari, selama masa upgrade, sistem tidak akan berfungsi.]
[Memulai upgrade!]
"Haah, jadi selama sepuluh hari ke depan aku tidak akan bisa menggunakan sistem," Lukas menghela napas.
Lukas bingung apa yang harus dilakukannya sekarang, sebagai seorang pengangguran, dia tidak punya kegiatan sama sekali, "Jadi seperti ini rasanya jadi pengangguran? Sangat membosankan."
Di kehidpudan masa lalunya Lukas merupakan seorang pria penghibur, dia selalu ada jadwal setiap harinya menghibur wanita yang kesepian. Jadi dia tidak pernah mengalami situasi seperti sekarang ini.
"Sebaiknya aku kembali ke rumah sewaku, semua pakaianku masih ada disana."
Lukas kemudian langsung menuju ke rumah sewanya, di gerbang dia melihat dua penjaga yang tadi mencegatnya. Berbeda dengan sebelumnya, kedua penjaga itu kali ini terlihat sangat patuh dan menyapa Lukas dengan ramah, "Selamat sore Tuan!"
Lukas mengangguk dan meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Melihat Lukas tidak menghiraukan mereka, keduanya saling memandang dan berkata:
"Sepertinya kita akan dipecat"
"Aku tidak ingin mencari pekerjaan baru, disini kerjaannya lumayan santai dan juga gajinya cukup banyak."
Mereka berdua berharap Lukas tidak memecat mereka, keduanya tidak ingin bekerja di tempat lain karena gaji untuk pekerjaan mereka saat ini sudah diatas rata-rata.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju rumah sewanya, di tengah jalan Lukas melihat seorang perempuan sedang dihadang oleh beberapa preman. Wanita itu terlihat masih berusia sekitar 18-an tahun, sepertinya masih seorang siswi SMA.
"Hehehe, adik manis, ayo bermainlah dengan kami, kami akan memastikan kau akan bahagia."
"Benar, kami akan menunjukkan padamu bagaimana rasanya berada di surga."
"Jangan mendekat, jika tidak aku akan berteriak!" Wanita itu sangat ketakutan, dia perlahan mundur ke belakang untuk menjauh dari mereka.
"Adik manis, teriaklah, semakin keras teriakkanmu, semakin bersemangat aku melakukannya." Kata salah satu preman sambil menjilat bibir bawahnya.
"Tolong! Tolon-"
Wanita itu berteriak untuk meminta tolong, namun salah satu preman dengan cepat menutup mulutnya, "Hehehe, jangan berteriak sekarang, jika suaramu habis saat kita bersenang-senang nanti, itu akan sangat membosankan."
"Hmph! Hmph" Wanita itu mencoba untuk berontak, namun karena kekuatan preman itu lebih kuat darinya, jadi dia tidak bisa berbuat banyak.
"Biarkan aku yang pertama kali melakukannya," seorang preman maju lebih dulu.
Melihat preman itu mendekatinya, wanita itu hanya bisa menangis dan memejamkan matanya. Saat ini dia sangat berharap ada seseorang yang menolongnya, dia tidak ingin kesuciannya diambil oleh para preman ini.
'Seseorang, siapa saja tolong aku!' Batinnya.
Saat preman itu hendak memperkosa wanita tersebut, tiba-tiba sebuah batu kecil menghantam kepalanya. Hal itu membuatnya marah dan meneriakki teman-temannya karena mengira merekalah yang melemparkan batu padanya:
"Kami sama sekali tidak melakukannya."
"Benar, lagipula tidak ada diantara kami yang berani melakukan itu padamu."
Preman yang lainnya menyangkal tuduhan tersebut karena memang bukan mereka yang melakukannya.
"Lalu siapa yang melakukannya?"
"Itu aku."
Semuanya menoleh ke arah sumber suara tersebut, ketika mereka melihat siapa orang itu, betapa terkejutnya mereka. Karena mereka kenal dengan orang itu, mereka pernah dihajar habis-habisan oleh orang tersebut.
Lukas juga sedikit terkejut, dia tidak menyangka kalau preman yang ditemuinya kali ini adalah orang yang sama dengan yang dihajarnya beberapa waktu lalu. Ya, mereka adalah Louis dan para bawahannya.
Lukas mengangkat alisnya dan berkata, "Ternyata itu kalian."
'Sial, kenapa ada monster ini disini? Tunggu dulu, apakah ini daerahnya? Setiap kami bertemu dengannya pasti disekitar sini.' Louis mau tidak mau berpikir seperti itu.
__ADS_1
"Bos, apa yang harus kita lakukan? Dia adalah orang yang menghajar kita habisan-habisan beberapa waktu lalu!"
"Kau bertanya padaku apa yang harus dilakukan? Tentu saja kita harus menghajarnya!" Louis memerintahkan bawahannya untuk menyerang Lukas.
"T-tapi bos..."
"Tidak ada tapi-tapian, hajar dia!" Teriak Louis.
Bawahannya tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah Louis dan menyerang Lukas, mereka tidak berani melawan perintah Louis, lagipula Louis adalah bos mereka. Paling tidak mereka akan kena hajar seperti terakhir kali.
"Persetanlah, mati kau!"
"Tolong jangan hajar kami lebih keras!"
"Buat kami pingsan dengan sekali pukulan!"
Mereka menyerang Lukas sambil berteriak meminta keringanan, Lukas tidak tau harus menganggap mereka memang bodoh atau tolol.
Sementara para bawahannya menyerang Lukas, Louis pergi secara diam-diam. Dia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur dari Lukas, 'Kalian semua akan aku kenang, semoga kalian bisa menahannya lebih lama.'
Louis terus berlari dengan kecepatan penuhnya, sementara itu Lukas sudah selesai menghajar semua bawahan Louis, sesuai dengan permintaan mereka, Lukas membuat mereka pingsan hanya dengan sekali pukulan.
Ketika Lukas selesai membuat pingsan semua bawahan Louis, dia tidak melihat Louis lagi disana, "Sial, sepertinya pria itu sudah lari sangat jauh."
Lukas kemudian menghampiri wanita yang tadi hendak diperkosa oleh Louis dan bawahannya, dia membantunya berdiri dan menanyakan kondisinya, "Bagaimana keadaanmu? Apakah ada terluka disuatu tempat?"
"Terima kasih, aku sekarang baik-baik saja, tidak ada luka, hanya saja aku cukup terkejut dengan kejadian tadi." Kata wanita itu dengan sedikit gemetar, sepertinya dia masih trauma dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
"Berhati-hatilah lain kali, dimasa depan, jangan lewat jalan yang sepi seperti ini lagi jika sendirian. Lebih baik mengambil jalan yang ramai untuk menghindari sesuatu seperti ini terulang lagi."
Lukas mengingatkan agar lebih berhati-hati di masa depan, mungkin kejadian seperti ini akan terulang lagi, beruntung Lukas kebetulan lewat, jika tidak, wanita itu mungkin sudah diperkosa oleh Louis dan bawahannya.
"Ehm, terima kasih," wanita itu mengangguk, dia sangat berterima kasih pada Lukas karena telah menyelamatkannya. Jika tidak ada Lukas, dia tidak tau apa yang mungkin akan terjadi padanya.
"Ngomong-ngomong apakah kau tinggal didekat sini?" Tanya Lukas.
Wanita itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak, aku kesini ingin membantu ayahku berjualan."
"Oh? Apa yang dijual oleh ayahmu kalau boleh tau?" Tanya Lukas penasaran.
"Apa kau tau warung mie ayam yang ada di depan sana? Itu adalah warung ayahku." Wanita itu menunjuk pada sebuah warung makan yang berada beberapa meter jauhnya dari mereka.
__ADS_1
'Begitu kebetulan, sebelumnya ayahnya, sekarang anaknya. Aku tidak tau apakah keluarganya memang memiliki hobi diganggu oleh preman?' Batin Lukas, dia tidak menyangka kalau wanita yang diselamatkannya ini adalah putri dari pemilik warung mie ayam yang ada di lingkungan tempatnya tinggal.