
Lukas akhirnya tiba dirumahnya setelah beberapa menit berjalan, dia juga membawa Louis ke rumahnya. Lukas mempekerjakan Louis untuk menjaga Sherly supaya tidak terjadi kejadian seperti sebelumnya saat dia tidak ada, lagipula dia dan Louis tidak memiliki dendam, jadi tidak ada salahnya mempekerjakannya.
"Kau bisa mengemudi kan?" Tanya Lukas.
"Saya bisa, Tuan!" Louis menjawab dengan semangat.
Karena Louis bisa mengemudi, maka Lukas tidak perlu lagi mencari pengemudi untuk mengantar jemput Sherly ke sekolah.
"Ada beberapa kamar kosong dirumahku, pilihlah salah satu untuk kau tinggali sementara. Dan kau harus mencari rumah untuk dirimu sendiri secepatnya!" Lukas membiarkan Louis untuk tinggal sementara dirumahnya.
Hal itu karena Louis tidak memiliki tempat tinggal saat ini, jadi dia membiarkannya untuk tinggal dirumahnya sementara waktu sampai Louis menemukan rumah.
Begitu keduanya masuk, Monica berdiri didepan pintu menyambut Lukas, "Selamat dat-" dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena terkejut melihat penampilan Louis yang sangar.
"Perkenalkan, pria ini bernama Louis. Dia yang akan mengantar jemput Sherly mulai sekarang." Lukas memperkenalkan Louis pada Monica.
Mendengar itu bukannya membuat Monica senang malah dia menjadi takut, dengan penampilan Louis yang sangar, dia takut terjadi sesuatu dengan Monica. Namun dia tidak berani mengeluh pada Lukas, karena menurutnya Lukas melakukan itu demi Sherly, dan dia sangat senang kalau Lukas sangat peduli dengan putrinya.
Melihat raut wajah Monica, Lukas meyakinkannya, "Tenang saja, dia tidak akan melakukan sesuatu terhadap Sherly. Jika dia berani melakukannya, maka aku sendiri yang akan menghajarnya!"
Mendengar itu membuat Louis gemetar ketakutan, dia segera membungkuk pada Monica dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Nyonya, Anda dapat yakin terhadap saya. Saya pasti akan menjaga Nona muda dengan baik, saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk menjaganya."
Louis tidak mengetahui identitas Monica yang sebenarnya dan mengaggap kalau Monica adalah istri Lukas, jadi dia memanggilnya "Nyonya".
Mendengar Louis memanggilnya Nyonya membuat wajah Monica memerah, dia diam-diam memperhatikan Lukas dan mendapati kalau Lukas tidak marah sama sekali. Hal itu membuatnya senang sekaligus bertanya-tanya, 'Apakah dia tidak masalah dengan itu? Apakah itu artinya...'
Monica menggelengkan kepalanya dan membuang pemikiran itu, lalu dia berkata, "Jangan panggil aku seperti itu, aku hanya pembantu disini. Jadi kau bisa memanggilku dengan namaku, ngomong-ngomong namaku Monica."
Louis mengangguk dan berkata dengan semangat, "Baik, Nyonya!"
Louis tidak berani melakukan hal itu dan tetap memanggil Monica dengan sebutan "Nyonya", dia tidak terlalu bodoh dan sangat yakin ada sesuatu diantara Lukas dan Monica. Jika tidak, mana mungkin Lukas akan tidak menjelaskan hal itu sendiri.
"Sudah kubi-"
Sebelum Monica menyelesaikan kalimatnya, Lukas langsung memotongnya, "Kau bisa memilih kamarmu."
__ADS_1
"Baik, Tuan!" Louis membungkuk dengan hormat sebelum pergi.
...
Di malam hari, di atas pohon yang tidak jauh dari vila Lukas. Saat ini ada sebuah sosok yang berdiri disana sambil memandang ke arah vila Lukas, sosok tersebut sepertinya sedang mengamatinya.
"Menurut laporan yang kuterima, ini adalah rumah target. Tapi apakah bayarannya memang sesuai? Rumah ini sepertinya tidak memiliki keamanan sama sekali, tapi kenapa mereka membayar mahal untuk ini? Bahkan jika mereka menyewa pembunuh kelas bawah, aku yakin misi ini akan selesai dengan cepat." Sosok tersebut berkata dengan bingung.
"Biarlah, aku juga tidak terlalu peduli. Yang terpenting sekarang adalah menyelesaikan misi ini dengan cepat dan mengambil hadiahku." Tambahnya.
Dia kemudian melompat dari pohon ke pohon hingga akhirnya berhasil masuk ke halaman vila dengan melompati tembok.
Setelah itu dia masuk ke dalam dengan melalui sebuah jendela, mudah saja baginya untuk membuka jendela. Setelah itu dia mulai memasuki kamar satu per satu untuk mencari keberadaan Lukas.
Setelah beberapa saat dia akhirnya menemukan dimana kamar Lukas, dia melihat foto dan membandingkannya dengan orang yang berbaring di tempat tidur, "Penampilannya sama persis dengan yang di foto."
Setelah mengkonfirmasi kalau pria yang sedang tidur adalah targetnya, sosok tersebut akhirnya berjalan mendekati Lukas.
"Jangan salahkan aku karena membunuhmu, salahkanlah dirimu sendiri karena menyinggung orang yang salah." Sosok tersebut berkata dan mengeluarkan sebuah pisau.
"Siapa kau? Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Lukas.
Lukas sudah menyadari kehadiran orang tersebut sejak orang itu memasukki kamarnya, Lukas awalnya mengira kalau itu adalah Monica. Jadi Lukas berpura-pura masih tidur dan membiarkannya untuk tidak membuat Monica malu.
Namun setelah mendengar apa yang dikatakan orang itu, Lukas langsung menyadari kalau itu bukanlah Monica. Tapi seorang pembunuh yang berniat membunuhnya, jadi begitu orang tersebut mengayunkan pisaunya, Lukas dengan cepat menghindarinya.
'Syukurlah aku bergerak lebih cepat, jika tidak, mungkin saat ini aku sudah terluka parah.' Batin Lukas setelah berhasil menghindar.
"Kau tidak perlu mengetahui siapa aku, yang perlu kau ketahui adalah kau akan mati ditanganku hari ini!"
Sosok tersebut kembali melancarkan serangannya kepada Lukas, tentu saja Lukas tidak tinggal diam. Dia menghindari serangan tersebut, dia juga melancarkan beberapa serangan terhadap sosok tersebut.
'Sial, apakah target ini adalah seorang ahli? Jika tahu begini aku akan meminta bayaran lebih.' Batin sosok tersebut.
Setelah beberapa saat sosok tersebut mundur beberapa langkah ke belakang dan merencanakan strategi selanjutnya, 'Jika pertarungan jarak dekat tidak bisa mengalahkannya, maka aku bisa menggunakan serangan jarak jauh.'
__ADS_1
Sosok tersebut kemudian mengeluarkan pistol dari kantong celananya dan membidik Lukas, "Karena kau bisa menghindari pisauku, maka cobalah untuk menghindari peluru ini juga."
'Kecepatanku saat ini tidak mungkin bisa untuk menhindarinya...' Batin Lukas, dia memikirkan cara agar peluru itu tidak langsung membunuhnya.
Dor!
Melihat peluru terbang ke arahnya, Lukas dengan cepat menggunakan keterampilan tubuh berlian miliknya. Peluru tersebut mengenai dada bagian kanan Lukas, tapi karena Lukas menggunakan keterampilan tubuh berlian, jadi pelurunya tidak bisa masuk lebih dalam.
"Tidak mungkin! Bagaimana mungkin kau masih bisa berdiri setelah jantungmu tertembak oleh peluruku?" Sosok tersebut berkata dengan tidak percaya.
"Apakah kau bodoh? Jantung terletak disebelah kiri tolol!" Kata Lukas dengan mengejek.
"Apa? Bagaimana mungkin? Bukannya jantung terletak di kanan?" Sosok tersebut tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lukas.
"Terserahmu percaya atau tidak, tapi sekarang adalah giliranku untuk menyerangmu." Lukas langsung menggunakan Emperor's Aura untuk melumpuhkan orang tersebut.
Setelah Lukas menggunakan Emperor's Aura, orang itu langsung tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan terjatuh ke lantai dengan lemah. Dia merasa seakan berada dihadapan sosok agung yang membuatnya harus berlutut.
'Apa ini? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa menggerakan tubuhku?' Orang itu bertanya-tanya dengan bingung.
Dia kemudian melihat Lukas mendekatinya dan mengambil pistol yang ada di tangannya, 'Sial, jika tahu aku akan mati. Lebih baik aku tidak menerima misi ini dan melanjutkan liburanku.'
Setelah mengambil pistol orang itu, Lukas membidiknya tepat di kepala orang tersebut, "Aku akan mengatakan hal yang sama padamu. Jangan salahkan aku karena membunuhmu, salahkanlah dirimu sendiri karena menyinggung orang yang salah."
Dor!
Peluru langsung menembus kepala orang itu hingga membuatnya tewas seketika. Lukas langsung melepaskan pistolnya dan mual setelah membunuh sosok tersebut, bagaimanapun Lukas baru kali ini membunuh orang, jadi dia merasakan perasaan tidak nyaman.
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan Louis adalah orang yang pertama masuk, ketika Louis melihat seorang pria tergeletak dilantai bersimbah darah, dia juga langsung mual. Kemudian dia juga melihat Lukas berlumuran darah dan wajahnya terlihat pucat.
"Tuan!" Louis segera menghampirinya.
Monica yang baru saja tiba melihat kondisi Lukas dan berteriak dengan histeris, "Tidaaakk!"
"Cepat panggil ambulan! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" Kata Monica dengan panik.
__ADS_1
Louis dengan cepat memanggil ambulan untuk Lukas.