
Setelah selesai wawancara dengan para wartawan, akhirnya Lukas naik ke podium untuk penyerahan piala.
Orang yang bertugas menyerahkan piala kepada Lukas dan dua peserta lainnya, yaitu Jorge dan pembalap yang finish di posisi ketiga.
Ketiganya melakukan foto bersama sebelum saling menyemprotkan soda, setelah itu Lukas berkumpul dengan Caroline dan yang lainnya.
[Ding! Selamat kepada host karena berhasil menjalankan misi!]
[Ding! Selamat kepada host karena mendapatkan sebuah pusat perbelanjaan, serta satu kartu keterampilan acak.]
[Apakah host ingin membuka kartu Anda?]
'Nanti saja, aku akan membukanya saat berada dirumah.'
Lukas tidak ingin membuka kartu keterampilan acaknya untuk sekarang, lagipula dia harus menemui Caroline dan yang lainnya terlebih dahulu.
"Nak, pertandinganmu tadi sangat luar biasa!"
Edward langsung memeluk Lukas begitu dia bergabung dengan mereka, perasaannya saat ini tidak bisa dilukiskan dengan apapun.
"Hehehe..." Lukas tersenyum canggung, dia merasa tidak nyaman dengan pelukan Edward.
Jika yang memeluknya adalah wanita, dia akan dengan senang hati menerimanya. Tapi beda cerita kalau itu seorang pria, bagaimanapun dia merasa tidak nyaman dengan itu.
Edward akhirnya melepaskan pelukannya dari Lukas, kemudian dia mengangkat Lukas bersama dengan crew yang lain.
"Hidup... Anu... Siapa namamu?"
Edward masih belum mengetahui siapa nama Lukas.
"Lukas, namanya Lukas!"
Caroline yang baru tiba langsung memberitahukan namanya sebelum Lukas bisa menjawab, padahal dia ingin menggunakan nama Fujiwara Takumi. Tapi karena Caroline sudah memberitahu nama aslinya, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Hidup Lukas!"
"Hidup Lukas!"
Mereka semua melemparkan Lukas ke udara hingga membuatnya melambung cukup tinggi, mereka terus melakukan hal tersebut hingga akhirnya berhenti setelah beberapa saat kemudian.
"Piala ini aku persembahkan untukmu..."
Lukas berjalan ke arah Caroline dan menyerahkan piala yang dia menangkan kepada Caroline.
"... Tapi kau harus menepati janjimu." Tambah Lukas.
Caroline dengan senang hati menerima piala itu dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Tentu saja, aku pasti akan menepati janjiku."
__ADS_1
Meski harga piala itu tidak dapat dibandingkan dengan mobil sport, tapi itu adalah bukti keberhasilan mereka. Seperti kata orang, 'prestasi tidak bisa dibeli dengan uang'.
Caroline langsung memeluk piala tersebut dengan suasana hati yang sangat berbunga-bunga, dia memegang piala itu dengan hati-hati seakan seperti sedang menggendong bayi.
Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan piala tersebut. lukas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan oleh Caroline.
'Itu hanya piala, tidak seperti itu juga kan?' Batin Lukas.
"Ayo kita rayakan keberhasilan kita dengan pesta barbeque!"
"Ayooo!"
Semua crew setuju dengan usulan Edward, sangat jarang mereka semua bisa makan gratis seperti ini.
Semuanya akhirnya membeli bahan yang diperlukan dan membawanya ke tempat tinggal Edward.
Edward tidak tinggal bersama dengan keluarga Webster yang lain dirumah utama. Dia juga tinggal sendirian dirumah tersebut karena dia tidak memiliki istri ataupun anak.
"Ayo makan ini, ini spesial aku buat untuk sang juara kita!"
Edward menyerahkan daging yang dia panggang sendiri pada Lukas.
Lukas dengan senang hati menerimanya dan memakannya, melihat Lukas memakan daging yang dipanggang olehnya sendiri, Edward sangat senang dan bertanya dengan penuh harap:
"Bagaimana? Apakah itu sesuai dengan seleramu?"
Lukas terus mengunyah daging dengan mulutnya, melihat Lukas tidak menjawab pertanyaannya membuat Edward gugup, 'Apakah itu tidak sesuai dengan seleranya?'
"Ini sangat enak, tingkat kematangan dagingnya pas." Lukas memberikan jawaban setelah menelan daging yang ada dimulutnya.
"Hahaha! Benarkan?! Daging buatanku pasti sangat enak!" Edward tertawa dengan keras setelah mendengar jawaban Lukas.
"Sangat jarang aku melihat paman seperti ini..." Caroline berbisik pada Lukas.
Dia biasanya tidak melihat Edward tertawa seperti itu, bahkan pada saat acara keluarga dia tidak menampilkan dirinya yang sekarang.
"... Itu pasti karena dia telah mencapai keinginannya." Tambahnya.
"Begitukah? Baguslah jika memang seperti itu."
Lukas kemudian terus memakan daging yang disiapkan untuknya, semua orang menyiapkan daging untuk Lukas. Lukas tidak nyaman untuk menolak mereka, jadi dia memakan semuanya hingga membuatnya sangat kenyang.
"Aku sudah tidak bisa melanjutkan ini lagi..." Lukas berkata sambil bersandar pada sandaran kursi, perutnya sudah penuh dengan daging dan tidak bisa melanjutkan makan lagi.
"Ngomong-ngomong Caroline, kau harus pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Edward mengingatkan Caroline untuk pergi ke rumah sakit.
Dia tidak ingin kaki Caroline mengalami sesuatu yang tidak diinginkan jika tidak diperiksa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Baiklah paman, aku akan pergi ke rumah sakit setelah ini." Caroline mengangguk, dia juga tidak ingin kakinya semakin parah.
"Tapi bagaimana kau akan ke rumah sakit dengan kondisi kakimu saat ini?"
Matter yang mendengarkan percakapan mereka pun mau tidak mau bertanya, menurutnya tidak mungkin Caroline bisa ke rumah sakit dengan kondisinya saat ini.
"Hmmm, benar juga apa yang kau katakan." Edward setuju dengan perkataan Matter, dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya.
Mereka semua kemudian mengalihkan perhatian pada Lukas. Melihat semua orang menatapnya membuat Lukas merasa tidak nyaman.
"Lukas, bagaimana kalau kau yang membawanya? Lagipula kau tidak ada yang dilakukan setelah ini kan?" Edward meminta Lukas membawa Caroline ke rumah sakit.
"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Lukas.
"Kami masih harus memperbaiki mobil yang tadi mengalami kecelakaan, jadi kami tidak bisa mengantarnya." Kata Matter.
"Benar!" Yang lainnya mengangguk.
Sebenarnya mereka tidak perlu melakukan hal itu untuk sekarang, namun mereka ingin membuat Lukas dan Caroline berduaan. Jadi mereka semua kompak mengatakan tidak bisa mengantar Caroline ke rumah sakit.
Menurut pandangan mereka semua, Lukas dan Caroline sangat cocok untuk menjadi pasangan. Keduanya merupakan pembalap yang berbakat, akan sangat sempurna jika mereka berdua bersama, itulah yang dipikirkan Edward dan yang lainnya.
Sementara Lukas dan Caroline tidak pernah membayangkan mereka berdua akan menjadi sepasang kekasih, keduanya hanya menganggap satu sama lain sebagai teman.
"Kalau kau tidak bisa aku akan memanggil taksi." Caroline tidak ingin membuat Lukas merasa terbebani.
Lukas menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak masalah. Lagipula tempat tinggalku satu arah dengan rumah sakit."
"Tapi tunggu sebentar, biarkan rasa kenyangku berkurang." Lukas tidak bisa berjalan dengan kondisinya yang kekenyangan saat ini.
Setelah beberapa saat akhirnya rasa kenyang Lukas sudah mereda, mereka kemudian langsung menuju ke rumah sakit.
Edward dan yang lainnya tersenyum melihat Lukas yang merangkul bahu Caroline, mereka sangat yakin cepat atau lambat keduanya akan menumbuhkan rasa cinta.
Terutama Caroline, sebagai seorang wanita, tentu dia akan terharu dengan perlakuan seperti itu. Jadi Caroline pasti merasakan perasaan berbunga-bunga mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pria.
"Senang rasanya menjadi muda..." Edward berkata dengan sedikit kesedihan terpancar di matanya.
Di masa lalu, dia sangat fokus pada balapan sehingga tidak pernah merasakan romantisme masa muda. Sekarang dia sedikit menyesalinya, namun semua itu sudah terbayar dengan piala yang dimenangkan Lukas.
"Hehehe pelatih, apakah Anda tidak ingin mencari seorang wanita? Aku yakin banyak wanita yang akan tertarik padamu." Goda Matter.
Mendengar itu membuat Edward marah, dia mengangkat tangannya dan bersiap untuk memukul Matter. Namun sebelum itu, Matter sudah lari terlebih dahulu.
"Hahaha!" Tawa Matter dari kejauhan.
"Dasar anak nakal, berani sekali kau menggodaku!" Teriak Edward.
__ADS_1
Sebenarnya dia juga ingin mencari pasangan, namun dia merasa sudah terlalu tua untuk itu, secara usianya sekarang sudah empat lima tahun, siapa yang mau dengan pria tua seperti dirinya? Menurut Edward.