
Di sebuah bar, saat ini suasana sedang sangat ramai. Tidak peduli itu pria atau wanita, mereka berbaur menjadi satu, dengan diikuti suara musik, mereka menari seperti orang gila.
Saat ini Lukas sedang duduk didepan bartender dan memesan minuman.
"Tolong segelas cocktail."
"Tunggu sebentar," bartender tersebut segera menyiapkan segelas cocktail untuk Lukas.
"Ini dia, Tuan." Tak lama kemudian cocktail milik Lukas sudah siap.
"Terima kasih," Lukas mengambil cocktailnya dan meneguknya sedikit.
Karena tidak bisa tidur, Lukas bingung apa yang harus dilakukannya di rumah, jadi dia memutuskan untuk pergi ke bar. Lagipula dia juga sudah lama tidak pergi ke bar, dikehidupan masa lalunya, Lukas sering menghabiskan waktu di bar untuk bertemu dengan klien.
Lukas memandang keramaian di depannya dan teringat sedikit kenangan masa lalunya, "Aku penasaran bagaimana nasib mereka sekarang."
Lukas mengacu pada teman-teman yang satu profesi dengannya, yaitu pria penghibur. Dia tidak bisa tidak mengingat mereka ketika berada di bar.
Pada saat seperti ini, Lukas teringat sebuah puisi yang pernah dibacanya saat di bumi.
Masa seolah-olah telah berakhir,
Aku tahu akhirnya,
Aku duduk pada masa yang telah dilalui,
Melaluinya dengan merindui masa yang sudah berlalu,
Untuk menghargainya berjumpa dengan orang yang paling aku sayang,
Akan merinduinya di persimpangan masa saat jalan sendirian.
Puisi itu sangat cocok untuk Lukas yang sedang merindukan teman-temannya sekarang.
"Puisi yang bagus, aku sangat tersentuh mendengarnya. Tidak kusangka aku akan mendengar puisi yang begitu menyentuh hati ketika sedang berada di bar."
Terdengar suara seorang pria dari sebelah Lukas, pria itu kemudian duduk disamping Lukas dan memesan minuman pada bartender.
Lukas memandang pria yang duduk disampingnya dengan heran, pria itu memiliki penampilan yang berwibawa, tidak hanya itu, dia juga cukup tampan.
Pria itu kemudian memperkenalkan dirinya, "Aku Evan, puisi yang kau ucapkan tadi, apakah itu untuk seseorang yang kau rindukan?"
"Begitulah, ngomong-ngomong namaku Lukas, senang bertemu denganmu." Lukas juga memperkenalkan dirinya.
Karena pihak lain tampak sopan padanya, jadi Lukas tidak keberatan untuk mengobrol dengannya.
__ADS_1
"Aku baru kali ini melihatmu disini, apa yang membuatmu kemari?" Tanya Evan.
Evan sering menghabiskan waktu di bar, jadi dia cukup mengenal setiap orang yang datang ke bar. Dan hari ini adalah kali pertama dia melihat Lukas, jadi dia bertanya karena sedikit penasaran.
Dia juga sedikit menduga kalau Lukas mungkin intel yang dikirim untuk menyelidiki bar tersebut. Karena memang ada kejadian seperti itu sebelumnya, jadi dia ingin menyelidiki maksud kedatangan Lukas.
"Tidak ada hal khusus, aku hanya ingin kemari karena tidak bisa tidur di rumah, dan aku juga sedikit mengenang masa lalu."
Lukas tidak menyembunyikan apapun pada Evan, dia mengatakan apa adanya, dia memang melakukan apa yang dikatakannya.
"Jadi seperti itu, ngomong-ngomong apa kau tertarik untuk pergi ke tempat yang lebih menyenangkan?" Evan berniat mengajak Lukas ke suatu tempat.
Lukas mengangkat alisnya dan bertanya, "Oh? Apa itu?"
"Tempat para generasi kedua berkumpul, kalau kau tidak tertarik, tidak masalah, aku juga tidak memaksa."
"Tidak, aku akan ikut."
Lukas juga sedikit penasaran dengan perkumpulan generasi kedua ini, jadi dia setuju dengan ajakan Evan.
Mereka berdua kemudian menuju sebuah ruangan yang berada di lantai dua, ruangan tersebut terlihat cukup istimewa.
Evan kemudian membuka pintu dan mereka disambut oleh beberapa pemuda, disana juga ada beberapa wanita yang menemani mereka.
"Lihat siapa yang datang? Ini Evan!"
Mereka penasaran siapa yang dibawa oleh Evan, karena mereka baru pertama kali melihat Lukas.
"Ini adalah teman yang baru aku temui, jadi aku mengajaknya kesini untuk memperkenalkannya pada kalian."
Evan kemudian mengajak Lukas untuk duduk, setelah duduk, Evan kemudian memperkenalkan beberapa pemuda yang ada disana pada Lukas.
"Pria ini bernama Melvin, ayahnya merupakan pemilik dari Real Estate Moonlight."
Lukas menunjuk pada seorang pemuda yang mengenakan kacamata, pria itu memiliki penampilan yang cukup biasa.
"Dan pria ini, dia bernama Lincoln. Ayahnya merupakan seorang General Manager di hotelĀ SMC."
Evan menunjuk pada pemuda yang sedikit gemuk, pemuda itu mengangguk pada Lukas, dan Lukas juga balas mengangguk padanya.
"......."
Evan terus memperkenalkan semua pemuda yang ada disana pada Lukas, setelah mendengar perkenalan dari Evan. Lukas mengetahui bahwa semua pemuda disana cukup kaya, namun tidak ada diantara mereka yang berasal dari keluarga besar seperti Lawrence, mungkin circle mereka berbeda.
Jadi Lukas sedikit kecewa, dia awalnya mengira kalau mereka adalah generasi kedua dari keluarga besar yang mendominasi Pearl City. Namun mereka hanya berasal dari keluarga kaya kelas dua.
__ADS_1
Namun Lukas tetap dengan ramah mengobrol dengan mereka, siapa tau, mungkin mereka bisa membantunya dimasa depan nanti.
"Sekarang, bisakah kau memperkenalkan dirimu dengan kami? Kami masih belum tau apa pekerjaanmu atau pekerjaan orang tuamu."
Melvin, yang merupakan calon penerus dari Real Estate Moonlight menanyakan identitas Lukas. Dia sedikit penasaran dengan teman yang baru ditemui oleh Evan itu.
"Aku tidak memiliki orang tua, namun untuk pekerjaan, saat ini aku merupakan seorang penulis." Jawab Lukas dengan santai.
"Ternyata kau seorang penulis, tidak heran kau bisa mengeluarkan puisi seperti tadi."
Evan sekarang tau kenapa Lukas sangat bagus dalam puisi, ternyata dia adalah seorang penulis. Tidak heran kalau Lukas bisa melontarkan puisi yang sangat indah.
"Seorang penulis? Apa yang kau tulis? Jika kau butuh seorang investor, katakan saja, aku mungkin bisa berinvestasi padamu."
Lincoln menawarkan diri untuk berinvestasi pada Lukas, dia tidak menganggap rendah pekerjaan Lukas sama sekali. Menurutnya itu sudah bagus karena Lukas sudah mau berusaha mengandalkan dirinya sendiri.
"Aku menulis sebuah novel, dan sekarang sudah berhasil dibukukan."
"Meski aku kurang paham soal itu, tapi sepertinya novelmu sangat bagus hingga berhasil dibukukan." Kata Melvin.
"Memang, jika kalian penasaran, kalian bisa mencarinya di internet dengan judul Harry Potter."
Lukas dengan senang hati memberitahukan karyanya pada mereka, meskipun itu hasil plagiat dari bumi.
Mereka kemudian segera melakukan pencarian di internet, ketika melihat berita tentang Harry Potter, mereka terkejut dengan berita yang mereka dapatkan.
"Wow, novelmu akan diadaptasi menjadi sebuah film? Jika seperti ini, berarti itu sangat bagus kan?" Kata Lincoln, dia tidak menyangka kalau novel yang ditulis oleh Lukas mendapatkan adapasi menjadi film.
"Jika seperti itu, bukankah berarti kau sudah mendapatkan cukup banyak investor?" Tanya Lincoln.
"Ada beberapa investor, namun mereka berinvestasi pada filmnya. Tapi itu tidak masalah, aku juga mendapatkan 30% keuntungan dari hasil penjualan filmnya nanti."
"Wow, bukankah itu berarti kita berteman dengan penulis besar? Hahaha!"
Mereka tertawa dan melanjutkan mengobrol dengan membahas sesuatu yang lain.
"Hei Melvin, kudengar kau...."
Setelah beberapa saat semuanya sudah mabuk, namun tidak dengan Lukas dan Evan. Mereka tidak minum terlalu banyak, jadi mereka tidak mabuk berat seperti yang lainnya.
"Lukas, ini kartu namaku. Jika kau kembali kesini, hubungi aku, aku akan menjamu-mu nanti. Kalau begitu aku pergi dulu." Evan pergi setelah memberikan kartu namanya pada Lukas.
Lukas kemudian melihat kartu nama yang diberikan oleh Evan, disana tertulis kalau Evan adalah pemilik dari Silent bar, yaitu bar tempat Lukas saat ini.
'Ternyata dia pemilik bar ini,' batin Lukas.
__ADS_1
Dia sedikit tidak menyangka kalau ternyata Evan adalah pemilik bar, dia mengira kalau Evan hanyalah pengunjung seperti dirinya.