Become Rich With System

Become Rich With System
Bab 19


__ADS_3

Keesokan harinya, Lukas pergi jogging untuk melatih tubuhnya. Meski dia sudah memiliki keterampilan tubuh berlian, tapi Lukas tidak bisa terus mengandalkannya. Mungkin bisa saja dia akan bertemu dengan lawan yang lebih kuat darinya suatu hari nanti.


Lukas jogging disebuah taman yang tidak jauh dari vilanya. Kebetulan sekarang adalah hari minggu, jadi ada banyak orang yang jogging seperti dirinya di taman.


Setelah berkeliling beberapa putaran, Lukas sudah mulai merasa sedikit lelah. Jadi dia beristirahat dan duduk di kursi panjang yang tak jauh darinya.


"Lukas?"


Saat Lukas sedang beristirahat, seorang wanita memanggilnya. Lukas menoleh untuk melihat siapa wanita itu.


Ketika dia melihatnya, Lukas dibuat bingung karena dia belum pernah bertemu wanita itu sebelumnya. Meski dia mewarisi ingatan dari pemilik tubuh sebelumnya, tapi dia tidak mungkin untuk mengingat semuanya sekaligus.


Namun wanita itu mengenali Lukas, setelah memastikan orang yang dilihatnya benar-benar Lukas, wanita itu kemudian berjalan mendekatinya.


"Ternyata benar-benar dirimu, sudah lama aku tidak melihatmu sejak hari kelulusan SMA."


Wanita itu duduk dibangku yang sama dengan Lukas, dia menunjukkan senyum cerah ketika melihat orang yang didepannya benar-benar Lukas, temannya waktu SMA.


Melihat raut wajah Lukas yang terlihat kebingungan, wanita itu kembali berkata:


"Ini aku, Amara Dion. Apakah kau tidak ingat denganku?"


Dia tidak percaya Lukas lupa dengannya, padahal dulu mereka berdua cukup dekat saat di SMA. Saat itu mereka sering menghabiskan waktu istirahat bersama.


Setelah mendengar perkenalan dari Amara, Lukas sekarang mengingatnya. Amara Dion, dia dulu bermimpi ingin menjadi seorang penyanyi suatu hari nanti. Namun sekarang Lukas tidak pernah mendengar seorang penyanyi bernama Amara Dion.


"Oh, Amara, aku baru ingat, bukankah dulu kau ingin menjadi penyanyi?"


Mendengar itu wajah Amara langsung berubah masam, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Lupakan tentang itu, industri hiburan terlalu sulit untukku. Aku sudah sering mengikuti berbagai audisi, namun tidak ada satupun yang berhasil."


Amara sudah mengikuti berbagai macam audisi, namun hasilnya nihil. Jadi dia sudah tidak terlalu mengharapkan untuk menjadi seorang penyanyi lagi, dan sekarang dia menjadi pekerja kantoran.


"Bagaimana mungkin kau bisa gagal? Dengan wajahmu yang cantik, dan kau juga mempunyai suara yang bagus!"


Dari ingatan pemilik tubuh lama, Lukas mengetahui bahwa suara Amara cukup bagus, tidak hanya itu saja, wajahnya juga cantik, tidak kalah dengan para artis yang pernah dilihatnya.

__ADS_1


"Hanya dengan mengandalkan itu saja tidak cukup, jika tidak ada dukungan dari orang dalam, sangat sulit untuk bisa masuk kedalam industri ini." Amara menggelengkan kepalanya dan menghela napas dengan sedih.


Kemudian dia bertanya pada Lukas, "Lupakan tentang itu, bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan sekarang? Sejak dulu kau tidak memiliki ambisi sama sekali."


Amara ingat dulu Lukas tidak memiliki impian sama sekali, jadi dia sedikit penasaran dengan apa yang Lukas lakukan sekarang.


"Bukan sesuatu yang luar biasa, aku hanya menulis novel." Jawab Lukas dengan santai.


"Menulis novel? Novel apa yang kau tulis? Aku sekarang memiliki hobi membaca, mungkin aku bisa membaca novelmu."


"Kau? Hobi membaca?"


Lukas tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya, menurut ingatan pemilik tubuh sebelumnya, dulu dia dan Amara sering bolos kelas untuk menonton konser bersama.


Saat itu Amara selalu mengajaknya keluar jika ada suatu konser, dan mereka berakhir sering membolos bersama. Dan sekarang Amara bilang dia memiliki hobi membaca? Lukas tidak tau apakah otaknya sudah berubah setelah memasuki dunia kerja.


"Kau tidak percaya kan? Aku juga tidak percaya, aku yang sangat bodoh dan malas ini memiliki hobi membaca. Setelah memasuki dunia kerja, sekarang aku mengerti betapa pentingnya belajar.


Jadi aku membaca berbagai macam buku, tidak hanya tentang pelajaran, aku juga membaca beberapa novel, dalam novel, kau bisa mempelajari beberapa pelajaran tentang kehidupan."


"Aku tidak menyangka sekarang pemikiranmu terdengar sangat dewasa, sepertinya kehidupan yang kau jalani cukup sulit hingga bisa membuatmu menjadi seperti ini." Kata Lukas setelah mendengar perkataan Amara.


"Lupakan soal itu, apa judul novel yang kau tulis?" Amara kembali bertanya.


"Bukan sesuatu yang luar biasa, apakah kau pernah mendengar Harry Potter?"


"Harry Potter? Tentu saja, siapa yang tidak tau dengan novel itu? Novel itu menjadi trending selama beberapa minggu sejak perilisan pertamanya." Kata Amara.


Kemudian dia menambahkan, "Aku juga membacanya, novel itu sangat luar biasa. Aku tidak sabar menunggu seri lanjutan dari novel tersebut."


"Tunggu dulu!" Amara merasa ada sesuatu yang salah, dia memandang Lukas dengan tidak percaya dan bertanya untuk memastikannya, "Jangan bilang..."


Lukas mengangguk dan menjawab, "Benar, Harry Potter adalah karyaku, aku tidak menyangka kalau kau juga membacanya."


"Astaga! Aku tidak menyangka kalau temanku adalah seorang penulis terkenal!"

__ADS_1


Karena wajah Lukas tidak pernah dipublikasikan, jadi tidak ada yang tau seperti apa penampilan Istoria. Kecuali orang-orang yang pernah melihatnya secara langsung saat perilisan buku, tidak ada yang pernah melihatnya selain mereka.


Itu semua memang keinginan Lukas, dia tidak ingin orang-orang mengenali wajahnya, jadi dia meminta Bobby untuk mengurus masalah itu.


"Aku harus meminta tanda tangan darimu kalau begitu!" Amara berkata dengan penuh semangat.


"Tunggu, aku tidak membawa bukunya!" Amara lupa saat ini dia tidak membawa buku Harry Potter.


Karena dia hanya ingin jogging hari ini, jadi tidak mungkin dia membawa buku. Dia juga tidak menyangka akan bertemu dengan Lukas, dan yang lebih mengejutkannya lagi, ternyata Lukas adalah Istoria, penulis novel Harry Potter.


"Begini saja, bagaimana kalau kau ke tempatku? Apartemenku tidak jauh dari sini, itu ada disana." Amara menunjuk sebuah bangunan yang merupakan apartemen tempat dia tinggal.


"Tidak masalah, lagipula saat ini aku tidak memiliki kegiatan lain." Lukas setuju dengan Amara.


Lagipula Lukas tidak tau harus melakukan apa sekarang, jadi dia setuju untuk pergi ke apartemen Amara.


Mereka kemudian menuju ke apartemen Amara, setibanya disana, mereka naik lift dan menuju ke lantai sepuluh dimana unit yang ditinggali Amara berada.


Setelah tiba di lantai sepuluh, Amara kemudian membawa Lukas ke unit 1050, Amara memasukkan sandi dan pintu terbuka.


"Silahkan masuk," Amara mempersilahkan Lukas untuk masuk setelah pintu terbuka.


Ketika Lukas masuk ke dalam unit milik Amara, dia melihat bagian dalam unit Amara cukup bersih dan rapi, tidak terlalu banyak perabotan disana. Yah, lagipula Amara tinggal sendiri, jadi tidak memerlukan banyak perabotan.


"Tunggu sebentar!" Amara kemudian masuk ke kamarnya, setelah beberapa saat dia kembali dengan membawa sebuah buku dan pulpen di tangannya.


"Ini," Amara menyerahkannya pada Lukas.


Lukas kemudian mengambilnya dan memberikan tanda tangannya, setelah itu dia mengembalikannya pada Amara.


"Karena aku sudah memberikan tanda tanganku, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"


"Apa itu? Jangan bilang..."


Amara memiliki pemikiran liar, dia memikirkan Lukas mungkin meminta dia untuk melakukan sesuatu seperti tidur dengannya. Lagipula mereka sudah lama tidak bertemu, jadi mungkin saja Lukas juga sudah berubah menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2