Become Rich With System

Become Rich With System
Bab 9


__ADS_3

Lukas mengantarkan wanita itu ke tempat warung mie ayam yang dikelola oleh ayah wanita tersebut. Dalam perjalanan ke warung mie ayam, mereka saling memperkenalkan diri.


Wanita tersebut bernama Lucy, dan nama ayahnya adalah Jordan. Lucy ternyata baru berusia 17 tahun, dan saat ini duduk dibangku kelas 3 SMA.


Begitu mereka tiba di warung mie ayam, Jordan langsung memanggil Lucy begitu dia melihatnya, "Lucy!"


"Ayah!" Lucy juga memanggil ayahnya dan langsung menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jordan.


"Aku ingin membantu pekerjaanmu," jawabnya sambil tersenyum.


"Bukankah kau sebentar lagi akan ada ujian? Jadi kau seharusnya belajar sekarang, tidak seharusnya kau disini. Aku khawatir nilaimu akan rendah nantinya jika tidak belajar dengan baik." Jordan mengingatkan putrinya agar belajar karena Lucy sebentar lagi akan menghadapi ujian.


"Tidak apa-apa ayah, aku sudah belajar. Aku yakin aku akan mendapatkan nilai terbaik saat ujian nanti," Lucy meyakinkan ayahnya dan tidak masalah untuk membantu di warung mie ayam untuk saat ini.


"Haahhh, salahkan ayahmu yang tidak kompeten ini." Jordan menghela napas dan menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa bersalah karena membuat putrinya harus membantunya.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ayah. Lagipula aku juga senang bisa membantu," Lucy mengingatkan ayahnya untuk tidak menyalahkan diri sendiri.


"Tapi anak seusiamu seharusnya tidak bekerja seperti ini, anak seusiamu seharusnya menikmati masa muda dengan bermain-main diluar sana." Kata Jordan, dia tidak ingin merampas masa muda Lucy dengan membuatnya bekerja di warung mie ayam.


"Ayah, usiaku baru 17 tahun, masa mudaku masih panjang. Jadi ayah tidak perlu khawatir tentang itu." Lucy menenangkan ayahnya.


"Oh ngomong-ngomong ayah, perkenalkan, ini Kakak Lukas. Kakak Lukas tadi menolongku saat ada beberapa orang jahat yang berusaha menggangguku." Lucy memperkenalkan Lukas pada ayahnya.


"Apa?!" Jordan kaget setelah mendengar putrinya diganggu oleh beberapa penjahat, dia dengan panik bertanya tentang kondisi Lucy, "Apakah kau baik-baik saja? Apa kau terluka dimanapun?"


"Tenanglah ayah, aku baik-baik saja. Ini semua berkat kakak Lukas yang menolongku tepat waktu." Lucy menenangkan ayahnya yang panik.


Baru saat itulah Jordan menyadari kehadiran Lukas, sebelumnya dia terlalu fokus pada Lucy hingga tidak terlalu memperhatikan kalau Lukas juga ada disana.

__ADS_1


"Bukankah kau anak muda yang menolongku saat itu? Terima kasih sudah menolongku saat itu. Dan terima kasih juga karena menolong putriku, jika tidak ada dirimu, mungkin aku tidak akan bisa melihat putriku lagi."


Jordan dengan tulus berterima kasih pada Lukas, dia sangat bersyukur Lukas menolong putrinya. Jika tidak, dia tidak akan tahu apa yang terjadi pada putrinya, bahkan mungkin dia tidak akan mengetahui apapun jika Lucy menghilang.


"Bukan masalah yang besar, paman. Lagipula aku juga kebetulan lewat, aku yakin orang lain juga akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisi tersebut." Lukas tidak menyombongkan dirinya dan bersikap merendah.


"Kau terlalu merendah anak muda, orang lain mungkin akan lari jika menemui hal seperti itu, berbeda denganmu yang pemberani. Tidak banyak anak muda yang berani sepertimu." Jordan tidak percaya orang lain akan melakukan hal yang sama dengan Lukas jika menemui kondisi serupa.


"Oh ngomong-ngomong, silahkan duduk dulu, aku akan menyiapkan mie ayam spesial untukmu. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih dariku karena sudah menolong Lucy." Jordan mempersilahkan Lukas duduk.


"Tidak perlu..."


"Duduklah kakak, biarkan kami berterima kasih dengan benar padamu. Walaupun cuma dengan mie ayam, tapi aku benar-benar sangat berterima kasih."


Lukas awalnya ingin menolak, namun tidak jadi karena melihat Lucy, "Baiklah, lagipula aku juga sedikit lapar."


"Kalau begitu tunggu sebentar," Lucy pergi membantu ayahnya menyiapkan mie ayam untuk Lukas.


"Silahkan dinikmati, semoga kamu menyukainya kakak, ini dibuat spesial untukmu. Dengan ayam yang banyak, aku yakin ini akan membuatmu kenyang." Lucy meletakkan mangkuk yang berisi mie ayam dihadapan Lukas.


"Terima kasih, kalau begitu selamat makan!" Lukas langsung menyantap mie ayam-nya dengan lahap.


"Ini sangat enak," puji Lukas, dia merasa mie ayam yang dimakannya kali ini lebih enak dari yang terakhir kali. Dia pun kembali menyantap sampai habis.


"Terima kasih," sekarang Lukas sudah kenyang dan berniat pergi. Lagipula dia tidak ingin mengganggu Lucy dan Jordan dengan berada disana.


"Lucy, paman, terima kasih untuk makanannya!" Lukas melambaikan tangan pada Jordan dan Lucy yang sedang melayani pengunjung lain.


"Ya, datanglah lagi lain kali!" Jawab Lucy dan Jordan serentak.


Lukas kemudian menuju rumah sewanya untuk mengambil beberapa pakaian untuk dibawa ke vila barunya. Begitu tiba dirumah sewanya, Lukas hendak langsung masuk kedalam, namun dia berhenti setelah mendengar keributan dari tetangga yang tinggal disebelahnya.

__ADS_1


Lukas ingat sepertinya ada keluarga yang terdiri dari 3 orang yang tinggal disebelahnya, dengan suami dan istri serta seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Namun Lukas tidak tau nama mereka karena mereka juga jarang ada dirumah.


"Sudah kubilang tidak ada uang lagi yang tersisa, semuanya sudah kau pakai untuk membeli narkoba itu." Terdengar suara marah seorang wanita.


"Bukankah baru seminggu yang lalu aku memberikan uang padamu? Bagaimana itu bisa habis? Berikan padaku! Aku tidak percaya uangnya tidak ada lagi." Suara teriakkan pria juga terdengar.


"Semua uangnya sudah dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari, bahkan uang yang kau berikan juga kurang. Aku harus bekerja untuk menutupi kekurangan kita, dan kau menggunakan semua uangnya untuk membeli narkoba?!"


Bam!


Di dalam rumah, pria yang merupakan suami dari wanita itu marah dan menampar istrinya dengan keras hingga membuatnya jatuh tersungkur. Tapi bukannya meminta maaf karena telah menampar istrinya, pria itu malah memarahinya:


"Berhenti mengatakan hal itu, cepat berikan uangnya padaku. Jika tidak aku akan memukulmu lagi."


Wanita itu menangis, dia sangat sedih dan tidak menyangka, pria yang telah menjadi suaminya selama bertahun-tahun akan memukulnya seperti ini.


"Pukul aku lagi jika kau berani!" Teriak wanita itu sambil menangis.


"Kau kira aku tidak berani memukulmu? Baiklah, jika itu memang keinginanmu, maka rasakan ini!" Pria itu melayangkan pukulan pada istrinya tanpa keraguan sedikitpun.


Wanita itu hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya sambil menunggu pukulan menghantamnya. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba pintu terbuka dengan tendangan seorang pria.


Gubrak!


"Hentikan! Apakah kau tega memukul istrimu seperti itu?"


Orang yang datang itu tentu saja Lukas, dia tidak bisa menahan diri lagi ketika mendengar suara tamparan, dia awalnya berniat membiarkan perkelahian suami istri itu diselesaikan oleh mereka sendiri.


Tapi sekarang sudah kelewatan menurutnya, karena sang suami begitu kejam hingga tanpa ragu memukul istrinya hanya karena masalah uang.


"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan rumah tangga kami!" Suami wanita itu sangat marah dengan kedatangan Lukas yang tiba-tiba. Dia tidak ingin ada orang luar yang mengganggu urusan rumah tangga mereka.

__ADS_1


__ADS_2