
Sore
ini hujan begitu meluapkan seluruh kekesalannya terhadap bumi hutan belantara ini
tanpa ampun dan tanpa jeda, aku berfikir akan terjadi bencana apa setelah hujan
yang melanda ini. Apakah akan menjadi berita hangat beberapa hari kedepan atau
justru tuhan menasehati hujan untuk tidak terlalu membenci makhluknya.
“Oi, melamun aja kau” kata seorang
barista yang tak lain adalah sahabatku Rojali.
“gua cuma lagi kasihan ngeliat
hujan, sampai kapan dia harus menangis” balasku tanpa menolehkan pandanganku.
“Kira-kira kalau gua hibur, tuh
hujan bakalan berhenti gak” sambungku seakan berbicara sendiri.
“percuma!!! Menghibur diri sendiri
aja kau gak bisa, sok menghibur hujan pula kau” balasnya
“Kampret lu” Ketusku
Perkataan
rojali berhasil membuatku termenung ntah untuk yang berapa kalinya, karena ini
sudah menjadi hobby ku semenjak kejadian itu, kejadian dimana aku melepas
sesuatu yang belum sempat kugenggam. Kejadian ini hanya baru beberapa minggu
yang lalu, kejadian yang berhasil membuatku menjadi pria yang membosankan.
***
Aku
mengenal seorang wanita ditengah hujan yang mengguyur hutan belantara ini.
Wanita yang saat ku lihat mataku seakan tidak bisa mendengar, disaat dia bicara
telingaku seakan tidak bisa melihat.
Ah!!! aku kacau sampai harus
membalik fungsikan indera dalam kalimat. Bukan karna tanpa alasan, tetapi
karena dia begitu sangat sempurna.
Kini
ditengah hujan yang mengguyur kota, dia berdiri tepat disampingku. Tentu saja
tak kusia-siakan untuk menatap paras wajahnya yang begitu cantik. Aku tak tahu
namanya, yang pasti dia seorang wanita cantik, manis, berkulit putih, dan
rambut hitam yang tergurai dengan indah dengan tubuhnya yang tidak tinggi,
sekitar 156 cm.
“Ada apa”
Tiba-tiba
aku tersadar dari lamunku ketika suara yang tak bisa ku lihat itu menegurku.
“O-ooh bukan apa-apa” aku terpecah
dalam lamunku.
“Dari tadi liatin gua, apa kita
pernah kenal?” tanyanya
“Ya, lu mirip sama cewek yang gua
liatin dari tadi” jawabku
“Ya iyalah, yg lu liat kan gua”
balasnya
“Hahaha, nama gua Nugy, nama lu
siapa?” kataku sambil mengulurkan tanganku kepadanya.
“Gua Zulfa” jawabnya tersenyum
sambil bersalaman denganku.
Tangannya
sangat lembut, senyumannya sangat manis, dan tatapan tulus dari matanya yang
sayu indah.
"Lu suka bengong yah? "
tanyanya.
aku
pun tersadar dari lamun ku akibat keindahan dirinya.
"Sorry, gua lagi mikirin
utang" jawabku sambil melepas tangannya yang dari tadi ku pegang. Dia pun
tertawa mendengar jawabanku, begitu juga denganku yang seakan salah tingkah.
Kami
berbicara panjang sambil bercanda sampai hujan reda yang tak begitu lama. Kami
pun berpisah, dalam perjalanan pulang tanpa ampun aku selalu membayangkannya, namun
ada yang mengganjal dalam fikiranku dan aku tak tahu itu apa.
Sesampai
dirumah aku pun memarkirkan sepeda motor ku digarasi, lalu turun dan berjalan
masuk kedalam rumah ku.
"Kok senyum senyum sendiri
den?" tanya si mbok pembantu rumahku.
"Aku habis ketemu bidadari
mbok" jawabku senang.
"Oh ya? Dimana?" tanyanya
lagi.
"Dideket halte sini"
jawabku
"Ah aden ada-ada saja"
balas si mbok heran.
"Aku serius mbok" ucapku
meyakinkannya.
"Mbok ga percaya kalau ga liat
__ADS_1
langsung" ucapnya meledekku.
"Hahaha, besok akan ku kenalkan
dia sama mbok" balasku bangga lalu pergi kekamarku meniggalkannya.
Meskipun
si mbok itu adalah pembantuku, namun aku sudah dekat dengannya seperti seorang
anak dan ibu. Ketika aku hendak berjalan kekamar aku terkejut dengan
perkataanku yang barusan, "Akan ku kenalkan sama mbok" ucapku dalam
hati.
"AH SIALAN!!!" pekikku
keras
"Ada apa den" kaget mbok
yang langsung lari kearahku.
"Aku lupa mbok" ucapku
sambil menepuk keningku.
"Lupa apa den?" herannya.
"Aku lupa meminta kontaknya,
ahhhh kampret aku ini" kesalku kepada diriku sendiri.
"Aduhh, saya fikir apa. Aden
sih" balasnya juga ikut kesal kepadaku lalu kembali ketempat dia
yang semula.
Pantas
saja dari tadi ada yang mengganjal dalam fikiranku, ternyata hal ini. Betapa bodohnya
aku.
“Kampret” kesalku dalam hati.
Aku
pun berjalan kekamarku untuk mandi dengan fikiran yang sangat kesal kepada
diriku sendiri.
Sejak
dari tadi hingga kini aku tak berhenti memikirkan kebodohanku ini. Diatas
tempat tidurku, aku berfikir apakah akan ada waktu yang berpihak padaku untuk
berjumpa dengannya sekali lagi atau justru waktu hanya memberi kesempatan
sekali untukku menikmati wajahnya yang kemudian pergi tanpa harus ku pegang. Jika
kata pepatah jika jodoh akan bertemu kembali. Kini aku justru sangat
mengharapkan jodoh itu adalah dirinya.
Ah
sudahlah, sebaiknya aku tidur saja, besok aku cari lagi saja dia disekitar
halte itu. dengan perasaan kesal pada diriku aku pun tertidur malam ini.
…
Esoknya setelah pulang dari kantor,
aku pun mampir ke cafe dimana ada rojali sahabatku. Aku menceritakan semua
kejadianku dengan zulfa kemarin, hingga aku kesal pada diriku sendiri karena
“Begok kali kau”
“Gua lupa bangsat” belaku kepada Rojali
yang kesal karena aku bodoh sekali.
“Makan itu lupa samamu, makan”
"Dari pada lu ngomel, mending
lu buat kopi untuk gua" suruhku padanya
"Aku lagi marah ini lho"
kesalnya padaku
"Iya, gua pengen ngopi. Lu buat
aja dulu, ntar sambung lagi." balasku
"Ahhhh. yaudah" ucapnya
kesal. lalu pergi untuk membuatkan kopi untukku.
Aku
hanya tertawa kecil melihat dia yang kesal namun masih tetap mau ketika
kusuruh, tapi dia memang tak pernah menolak sih.
Rojali
adalah sahabatku. dia bekerja sebagai manager di cafe milikku, sejak lulus Sma
dia sudah pindah kejakarta. karena baginya hutan belantara ini adalah kota
impian dia sejak ia kecil, padahal dia juga berasal dari kota besar di Sumatera
Utara sana tepatnya Kota Medan. Aku bertemu dengannya ketika di halte bus di dekat
kampusku, dia seperti orang yang kebingungan bahkan seperti orang yang
kelaparan. Karena aku kasihan makanya aku mencoba menyapanya, dan dugaanku
benar, saat itu aku berhasil menyelamatkan satu nyawa manusia aneh karena dia
sudah tak makan dua hari dan harus diusir dari tempat kosnya, semenjak kejadian
itu dia selalu setia kepadaku.
Sedangkan
aku adalah putra pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil aku dianugerahi fisik
yang sempurna. Itu sih kata orang orang saja yang beranggapan begitu. Aku tak
seperti adikku, aku adalah pria yang asik, nakal, dan nekat. Aku memiliki
keluarga yang bisa dikatakan kaya raya, itu sih karena ayahku saja. Ayahku
adalah pria yang juga asli dari medan seperti Rojali, namun sudah melanglang
buana sejak dia lulus Sma untuk pergi ke hutan belantara ini. Nah, dihutan
belantara inilah dia bertemu dengan seorang wanita yang sekarang menjadi Ibuku.
Ibuku adalah wanita asli Jakarta. Dia adalah satu satunya wanita yang paling
berharga dalam hidupku, dia memiliki pribadi yang lembut namun tegas.
Aku
memiliki seorang adik yang cengeng dan tak menarik sama sekali, namanya Rudy.
__ADS_1
dia berbeda denganku, dia pria yang polos, penurut, dan cengeng, tapi dia
memiliki otak yang sangat cerdas dan sangat berbeda denganku yang hanya
dianugerahi keberuntungan nasib sejak lahir. Hahaha.
Dulu
kami adalah keluarga yang sangat hangat dan penuh kasih sayang kecualu antara
aku dan adikku, kami tak akrab sama sekali, aku juga sering memarahi bahkan
menghajarnya. Kami tak pernah bermain sekali pun sejak kami kecil. Aku rasa dia
sangat membenciku.
Sekarang
keluargaku sudah berubah sejak ayahku menjabat sebagai seorang elite politik
dihutan belantara ini, yang tak berubah hanya ibuku dan hubunganku dengan
adikku. masih sama, sama-sama tak akur.
Setelah
agak lama aku menunggu, rojali pun datang dengan membawakan kopi untukku.
meskipun aku menunjukknya sebagai manager dicafe milikku ini. Tapi aku akui
kalau dia jago juga membuat kopi ala ala barista. oleh sebab itu, setiap aku
kesini aku hanya ingin dia yang membuatkan kopi untukku.
"Nih" ucapnya dengan
meletakkan kopi didepanku.
"Nah gitu dong" balasku
senang.
"Jadi gimana?" tanyanya.
"Apaan?" tanya ku heran
kepadanya
"Ya cewek itulah"
balasnya.
"Ohh, gak taulah" jawabku
pasrah.
"Ini nih, pantas kau jomblo
terus" balasnya mengejekku.
“Udah biarin aja, ntar juga ketemu”
entengku sambil menyeruput kopi ku.
"Ahhh nikmat" sambungku
lalu mengeluarkan sebatang rokokku dan ku hisap.
"Yaudah, suka kau lah. Nanti kau juga sadar sendiri"
balasnya.
Aku pun hanya terdiam
dan sibuk dengan rokokku
Kami
pun melanjutkan pembicaraan kami yan tentunya bukan tentang wanita, tetapi
tentang hasil laporan dari cafe ini. aku sedang tak tertarik membahas
bidadariku saat ini. toh nanti aku juga akan melihatnya lagi dihalte itu.
***
Begitulah
ceritaanya kenapa aku bisa menjadi pria yang membosankan saat ini, dan kalian
tahu? dari saat itu hingga sekarang dengan posisi ku yang sama. aku masih tak
sanggup untuk melupakan bidadariku yang sudah seminggu tak pernah bertemu lagi
denganku. aku sudah berkali-kali lewaat didepan halte itu namun tak kunjung jua
ku temukan lagi.
"Yaudah aku tinggal dulu ya"
ucap rojali lalu pergi meniggalkanku.
Aku
melihat sekeliling café. Sudah malam dan hujan pun sudah redah tampaknya.
pantas saja sudah ramai orang yang berdatangan kecafe ini. ucapku dalam hati.
Lalu
aku kembali meminum kopi ku. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 21.00 aku
memutuskan untuk pulang.
Lelah sekali hari ini kurasa, setelah aku pamit kepada
rojali, aku pun pergi meniggalkan cafe dan menaiki mobilku lalu pergi untuk
pulang. Dijalan pulang aku tak lupa menyempatkan diri untuk lewat didepan halte
tempat aku berjumpa dengan bidadariku itu. Namun dia tidak ada disana, jadi aku
gas saja mobilku kembali.
Dalam satu hari ini aku sudah 3 kali untuk melewati halte
ini, pertama dipagi hari ketika aku berangkat kekantorku, lalu kedua saat aku
hendak ke cafe sepulang dari kantor tadi, dan yang terakhir ketika aku menuju
pulang kerumahku saat ini. tapi tetap saja tak kutemukan dia.
Ah bodoh sekali aku!!! kenapa coba malam-malam begini aku masih
mengharapkan dia ada dihalte itu, ya pasti gak adalah, kesalku dalam hati.
Aku memang benar-benar sudah gila dibuatnya. Mungkin dia sekarang sedang
tidur pulas dirumahnya sedangkan aku masih dijalan pulang kerumah ku dengan
sibuk memikirkan dia.
Zulfa bidadariku apa kah kau juga memikirkanku saat ini? apakah kau
mengharapkan kita untuk bertemu lagi? atau kau sama sekali tak memikirkan aku?
ntahlah, hanya kau yang tahu perasaanmu sendiri saat ini.
Sebaiknya aku pasrah kan saja semuanya kepada sang yang mampu
mengendalikan waktu. Aku sudah sangat lelah untuk memikirkan Bidadariku. Aku
hanya berharap kepada tuhan untuk memberikan ku keberuntungan yang menjadi
kekuatanku selama ini hingga aku bisa bertahan hidup di titik ini.
__ADS_1
Titik dimana saat aku mampu melakukan apapun tapi tak mampu melupakanmu.
"Zulfa Bidadariku" kau terlepas dariku tanpa sempat ku genggam.