Belantara

Belantara
TERBELENGGU


__ADS_3

Sore


ini hujan begitu meluapkan seluruh kekesalannya terhadap bumi hutan belantara ini


tanpa ampun dan tanpa jeda, aku berfikir akan terjadi bencana apa setelah hujan


yang melanda ini. Apakah akan menjadi berita hangat beberapa hari kedepan atau


justru tuhan menasehati hujan untuk tidak terlalu membenci makhluknya.


“Oi, melamun aja kau” kata seorang


barista yang tak lain adalah sahabatku Rojali.


“gua cuma lagi kasihan ngeliat


hujan, sampai kapan dia harus menangis” balasku tanpa menolehkan pandanganku.


“Kira-kira kalau gua hibur, tuh


hujan bakalan berhenti gak” sambungku seakan berbicara sendiri.


“percuma!!! Menghibur diri sendiri


aja kau gak bisa, sok menghibur hujan pula kau” balasnya


“Kampret lu” Ketusku


Perkataan


rojali berhasil membuatku termenung ntah untuk yang berapa kalinya, karena ini


sudah menjadi hobby ku semenjak kejadian itu, kejadian dimana aku melepas


sesuatu yang belum sempat kugenggam. Kejadian ini hanya baru beberapa minggu


yang lalu, kejadian yang berhasil membuatku menjadi pria yang membosankan.


***


Aku


mengenal seorang wanita ditengah hujan yang mengguyur hutan belantara ini.


Wanita yang saat ku lihat mataku seakan tidak bisa mendengar, disaat dia bicara


telingaku seakan tidak bisa melihat.


Ah!!! aku kacau sampai harus


membalik fungsikan indera dalam kalimat. Bukan karna tanpa alasan, tetapi


karena dia begitu sangat sempurna.


Kini


ditengah hujan yang mengguyur kota, dia berdiri tepat disampingku. Tentu saja


tak kusia-siakan untuk menatap paras wajahnya yang begitu cantik. Aku tak tahu


namanya, yang pasti dia seorang wanita cantik, manis, berkulit putih, dan


rambut hitam yang tergurai dengan indah dengan tubuhnya yang tidak tinggi,


sekitar 156 cm.


“Ada apa”


Tiba-tiba


aku tersadar dari lamunku ketika suara yang tak bisa ku lihat itu menegurku.


“O-ooh bukan apa-apa” aku terpecah


dalam lamunku.


“Dari tadi liatin gua, apa kita


pernah kenal?” tanyanya


“Ya, lu mirip sama cewek yang gua


liatin dari tadi” jawabku


“Ya iyalah, yg lu liat kan gua”


balasnya


“Hahaha, nama gua Nugy, nama lu


siapa?” kataku sambil mengulurkan tanganku kepadanya.


“Gua Zulfa” jawabnya tersenyum


sambil bersalaman denganku.


Tangannya


sangat lembut, senyumannya sangat manis, dan tatapan tulus dari matanya yang


sayu indah.


"Lu suka bengong yah? "


tanyanya.


aku


pun tersadar dari lamun ku akibat keindahan dirinya.


"Sorry, gua lagi mikirin


utang" jawabku sambil melepas tangannya yang dari tadi ku pegang. Dia pun


tertawa mendengar jawabanku, begitu juga denganku yang seakan salah tingkah.


Kami


berbicara panjang sambil bercanda sampai hujan reda yang tak begitu lama. Kami


pun berpisah, dalam perjalanan pulang tanpa ampun aku selalu membayangkannya, namun


ada yang mengganjal dalam fikiranku dan aku tak tahu itu apa.


Sesampai


dirumah aku pun memarkirkan sepeda motor ku digarasi, lalu turun dan berjalan


masuk kedalam rumah ku.


"Kok senyum senyum sendiri


den?" tanya si mbok pembantu rumahku.


"Aku habis ketemu bidadari


mbok" jawabku senang.


"Oh ya? Dimana?" tanyanya


lagi.


"Dideket halte sini"


jawabku


"Ah aden ada-ada saja"


balas si mbok heran.


"Aku serius mbok" ucapku


meyakinkannya.


"Mbok ga percaya kalau ga liat

__ADS_1


langsung" ucapnya meledekku.


"Hahaha, besok akan ku kenalkan


dia sama mbok" balasku bangga lalu pergi kekamarku meniggalkannya.


Meskipun


si mbok itu adalah pembantuku, namun aku sudah dekat dengannya seperti seorang


anak dan ibu. Ketika aku hendak berjalan kekamar aku terkejut dengan


perkataanku yang barusan, "Akan ku kenalkan sama mbok" ucapku dalam


hati.


"AH SIALAN!!!" pekikku


keras


"Ada apa den" kaget mbok


yang langsung lari kearahku.


"Aku lupa mbok" ucapku


sambil menepuk keningku.


"Lupa apa den?" herannya.


"Aku lupa meminta kontaknya,


ahhhh kampret aku ini" kesalku kepada diriku sendiri.


"Aduhh, saya fikir apa. Aden


sih" balasnya juga ikut kesal kepadaku lalu kembali ketempat dia


yang semula.


Pantas


saja dari tadi ada yang mengganjal dalam fikiranku, ternyata hal ini. Betapa bodohnya


aku.


“Kampret” kesalku dalam hati.


Aku


pun berjalan kekamarku untuk mandi dengan fikiran yang sangat kesal kepada


diriku sendiri.


Sejak


dari tadi hingga kini aku tak berhenti memikirkan kebodohanku ini. Diatas


tempat tidurku, aku berfikir apakah akan ada waktu yang berpihak padaku untuk


berjumpa dengannya sekali lagi atau justru waktu hanya memberi kesempatan


sekali untukku menikmati wajahnya yang kemudian pergi tanpa harus ku pegang. Jika


kata pepatah jika jodoh akan bertemu kembali. Kini aku justru sangat


mengharapkan jodoh itu adalah dirinya.


Ah


sudahlah, sebaiknya aku tidur saja, besok aku cari lagi saja dia disekitar


halte itu. dengan perasaan kesal pada diriku aku pun tertidur malam ini.



Esoknya setelah pulang dari kantor,


aku pun mampir ke cafe dimana ada rojali sahabatku. Aku menceritakan semua


kejadianku dengan zulfa kemarin, hingga aku kesal pada diriku sendiri karena


“Begok kali kau”


“Gua lupa bangsat” belaku kepada Rojali


yang kesal karena aku bodoh sekali.


“Makan itu lupa samamu, makan”


"Dari pada lu ngomel, mending


lu buat kopi untuk gua" suruhku padanya


"Aku lagi marah ini lho"


kesalnya padaku


"Iya, gua pengen ngopi. Lu buat


aja dulu, ntar sambung lagi." balasku


"Ahhhh. yaudah" ucapnya


kesal. lalu pergi untuk membuatkan kopi untukku.


Aku


hanya tertawa kecil melihat dia yang kesal namun masih tetap mau ketika


kusuruh, tapi dia memang tak pernah menolak sih.


Rojali


adalah sahabatku. dia bekerja sebagai manager di cafe milikku, sejak lulus Sma


dia sudah pindah kejakarta. karena baginya hutan belantara ini adalah kota


impian dia sejak ia kecil, padahal dia juga berasal dari kota besar di Sumatera


Utara sana tepatnya Kota Medan. Aku bertemu dengannya ketika di halte bus di dekat


kampusku, dia seperti orang yang kebingungan bahkan seperti orang yang


kelaparan. Karena aku kasihan makanya aku mencoba menyapanya, dan dugaanku


benar, saat itu aku berhasil menyelamatkan satu nyawa manusia aneh karena dia


sudah tak makan dua hari dan harus diusir dari tempat kosnya, semenjak kejadian


itu dia selalu setia kepadaku.


Sedangkan


aku adalah putra pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil aku dianugerahi fisik


yang sempurna. Itu sih kata orang orang saja yang beranggapan begitu. Aku tak


seperti adikku, aku adalah pria yang asik, nakal, dan nekat. Aku memiliki


keluarga yang bisa dikatakan kaya raya, itu sih karena ayahku saja. Ayahku


adalah pria yang juga asli dari medan seperti Rojali, namun sudah melanglang


buana sejak dia lulus Sma untuk pergi ke hutan belantara ini. Nah, dihutan


belantara inilah dia bertemu dengan seorang wanita yang sekarang menjadi Ibuku.


Ibuku adalah wanita asli Jakarta. Dia adalah satu satunya wanita yang paling


berharga dalam hidupku, dia memiliki pribadi yang lembut namun tegas.


Aku


memiliki seorang adik yang cengeng dan tak menarik sama sekali, namanya Rudy.

__ADS_1


dia berbeda denganku, dia pria yang polos, penurut, dan cengeng, tapi dia


memiliki otak yang sangat cerdas dan sangat berbeda denganku yang hanya


dianugerahi keberuntungan nasib sejak lahir. Hahaha.


Dulu


kami adalah keluarga yang sangat hangat dan penuh kasih sayang kecualu antara


aku dan adikku, kami tak akrab sama sekali, aku juga sering memarahi bahkan


menghajarnya. Kami tak pernah bermain sekali pun sejak kami kecil. Aku rasa dia


sangat membenciku.


Sekarang


keluargaku sudah berubah sejak ayahku menjabat sebagai seorang elite politik


dihutan belantara ini, yang tak berubah hanya ibuku dan hubunganku dengan


adikku. masih sama, sama-sama tak akur.


Setelah


agak lama aku menunggu, rojali pun datang dengan membawakan kopi untukku.


meskipun aku menunjukknya sebagai manager dicafe milikku ini. Tapi aku akui


kalau dia jago juga membuat kopi ala ala barista. oleh sebab itu, setiap aku


kesini aku hanya ingin dia yang membuatkan kopi untukku.


"Nih" ucapnya dengan


meletakkan kopi didepanku.


"Nah gitu dong" balasku


senang.


"Jadi gimana?" tanyanya.


"Apaan?" tanya ku heran


kepadanya


"Ya cewek itulah"


balasnya.


"Ohh, gak taulah" jawabku


pasrah.


"Ini nih, pantas kau jomblo


terus" balasnya mengejekku.


“Udah biarin aja, ntar juga ketemu”


entengku sambil menyeruput kopi ku.


"Ahhh nikmat" sambungku


lalu mengeluarkan sebatang rokokku dan ku hisap.


"Yaudah, suka kau lah. Nanti kau juga sadar sendiri"


balasnya.


Aku pun hanya terdiam


dan sibuk dengan rokokku


Kami


pun melanjutkan pembicaraan kami yan tentunya bukan tentang wanita, tetapi


tentang hasil laporan dari cafe ini. aku sedang tak tertarik membahas


bidadariku saat ini. toh nanti aku juga akan melihatnya lagi dihalte itu.


***


Begitulah


ceritaanya kenapa aku bisa menjadi pria yang membosankan saat ini, dan kalian


tahu? dari saat itu hingga sekarang dengan posisi ku yang sama. aku masih tak


sanggup untuk melupakan bidadariku yang sudah seminggu tak pernah bertemu lagi


denganku. aku sudah berkali-kali lewaat didepan halte itu namun tak kunjung jua


ku temukan lagi.


"Yaudah aku tinggal dulu ya"


ucap rojali lalu pergi meniggalkanku.


Aku


melihat sekeliling café. Sudah malam dan hujan pun sudah redah tampaknya.


pantas saja sudah ramai orang yang berdatangan kecafe ini. ucapku dalam hati.


Lalu


aku kembali meminum kopi ku. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 21.00 aku


memutuskan untuk pulang.


Lelah sekali hari ini kurasa, setelah aku pamit kepada


rojali, aku pun pergi meniggalkan cafe dan menaiki mobilku lalu pergi untuk


pulang. Dijalan pulang aku tak lupa menyempatkan diri untuk lewat didepan halte


tempat aku berjumpa dengan bidadariku itu. Namun dia tidak ada disana, jadi aku


gas saja mobilku kembali.


Dalam satu hari ini aku sudah 3 kali untuk melewati halte


ini, pertama dipagi hari ketika aku berangkat kekantorku, lalu kedua saat aku


hendak ke cafe sepulang dari kantor tadi, dan yang terakhir ketika aku menuju


pulang kerumahku saat ini. tapi tetap saja tak kutemukan dia.


Ah bodoh sekali aku!!! kenapa coba malam-malam begini aku masih


mengharapkan dia ada dihalte itu, ya pasti gak adalah, kesalku dalam hati.


Aku memang benar-benar sudah gila dibuatnya. Mungkin dia sekarang sedang


tidur pulas dirumahnya sedangkan aku masih dijalan pulang kerumah ku dengan


sibuk memikirkan dia.


Zulfa bidadariku apa kah kau juga memikirkanku saat ini? apakah kau


mengharapkan kita untuk bertemu lagi? atau kau sama sekali tak memikirkan aku?


ntahlah, hanya kau yang tahu perasaanmu sendiri saat ini.


Sebaiknya aku pasrah kan saja semuanya kepada sang yang mampu


mengendalikan waktu. Aku sudah sangat lelah untuk memikirkan Bidadariku. Aku


hanya berharap kepada tuhan untuk memberikan ku keberuntungan yang menjadi


kekuatanku selama ini hingga aku bisa bertahan hidup di titik ini.

__ADS_1


Titik dimana saat aku mampu melakukan apapun tapi tak mampu melupakanmu.


"Zulfa Bidadariku" kau terlepas dariku tanpa sempat ku genggam.


__ADS_2