Belantara

Belantara
RAHIM WANITA AJAIB


__ADS_3

Pagi


ini aku sudah berjanji untuk menemani Ibu berbelanja perlengkapan Bayi untuk dihadiahkan


kepada bayi laki laki Sam sopir Ibu, dan aku sudah menelfon Dewi sahabatku yang


sekaligus menjadi Sekertaris dikantorku bahwa aku tidak masuk hari ini karena


aku harus menemani Ibu. Untungnya hari ini aku tidak ada dateline yang penting


dan Dewi pun memaklumi ku.


            Aku dan Ibu sudah didepan Mall Elite yang ada di Hutan Belantara


ini, aku terlebih dahulu memarkirkan mobilku dibasemant mall ini.


“Kamu bilang akan membawa


ibu ketoko, tapi justru membawa ke Mall” protes Ibu


“Hahaha, santai aja Bu


disini juga ada kok”


“Kamu tau Ibu tidak suka


ke tempat seperti ini kan Nugy? atau kamu melupakan itu”


“Hahaha justru hari ini


aku ingin membuat Ibu agar menyukai tempat ini, aku juga tidak terlalu suka ke


mall Bu tapi aku ingin merasakannya sama Ibu” godaku.


“Kamu menggoda ibukmu


sendiri” balasnya.


“Hahah ya gak apa apa


lah, ibuk sendiri juga, kecuali ibu orang baru disangka aku brondong” kataku


bercanda pada ibu.


            Ibu pun tak menjawab.


Ibu


sangat tidak suka untuk pergi ke mall karena bagi dia itu terlalu hedon sekali.


Padahal toko tempat dia belanja selama ini lebih hedon dari pada mall. Ibuku


ini memang ada ada saja. Tapi aku memaklumi ibu, pasti ada alasan lain dari itu


yang tidak dikatakan ibu kepadaku, tapi aku tidak ingin memaksa ibuk


mengatakannya.


            Aku sudah memarkirkan mobilku dan kami pun berjalan masuk


menitari isi dalam Mall ini, Ibu memegang erat tanganku seakan takut kehilangan


anaknya.


“Ibu kenapa?” tanyaku.


“Aku takut anakku hilang”


“Aku sudah besar Bu, mana


mungkin aku hilang” balasku.


“Sudah tidak apa-apa, ayo


tunjukkan dimana tempat perlengkapan Bayinya” ucapnya seakan ingin bergegas.


Aku hanya menggelengkan


kepalaku.


            Kami pun berjalan memasuki mall yang sangat besar ini, lalu


mencari toko perlengkapan Bayi. Aku membawa Ibu ke sebuah tempat dimana Dewi


sudah memberi tahu aku sebelumnya.


Setelah


sampai ditempat perlengkapan bayi kami pun masuk untuk melihat apa saja barang-barang


yang bagus, agar Sam senang dengan hadiah dari Ibu untuk Bayinya itu. Aku yang


tak mengerti hanya diam sambil melihat Ibu yang sedang sibuk memilih-milih.


Meskipun


aku tak paham dengan hal-hal seperti ini, tetapi aku harus mengakui bahwa


tempat ini sangat bagus, terlihat Ibu ku sangat kesulitan memilih barang yang


cocok untuk sebagai hadiah Bayinga Sam. Tak ingin melihat Ibu kesulitan, aku


pun meminta pekerja toko itu untuk membantu Ibu ku memilih barang yang dia


inginkan.


“Mbak, tolong bantu Ibu


saya” pintaku kepada seorang Wanita yang bekerja ditoko itu.


“Baik mas” jawabnya


sambil tersenyum.


“Bu, aku kedepan dulu ya”


izinku kepada Ibu.


            Ibu hanya mengangguk.


Lalu


aku pergi kedepan toko untuk sedikit mencuci mataku. Didalam sangat ramai di


hiasi dengan perlengkapan yang sama sekali tak membuat ku tertarik, oleh sebab


itu dengan keluar aku bisa memanjakan mataku sendiri.


Aku


berjalan mengitari toko-toko yang berada disebelah namun tak ada yang membuat


ku tertarik, sehingga aku memutuskan untuk menetap didepan toko perlengkapan


Bayi tadi sambil menunggu Ibu.


  Aku


duduk sambil memainkan ponselku hingga aku bosan sendiri, terlintas difikiranku


hendak menelfon sahabat ku Rojali. Ini adalah kebiasaanku, ntah kenapa disaat


aku suntuk aku selalu ingin menelfon dia.


Setelah


aku menemukan kontaknya di ponselku, aku pun menekan lalu meletakkan ponselku


di telingaku sambil mataku mengitari sekeiling luasnya Mall ini. Namun,


seketika mataku terhenti, hingga aku mengacuhkan suara Rojali yang memanggilku


dibalik ponsel ini.


Aku


memfokuskan lagi penglihatanku kepada seseorang yang membuatku terpana saat ini.


Tubuhku mendingin seakan tak menyangka bisa mendapatkan moment ini kembali,


moment dimana aku kembali bisa melihat wanita yang membuat ku gila akhir-akhir


ini. Wanita yang sudah membuatku nongkrong berjam-jam dihalte hanya untuk bisa


bertemu lagi dengannnya. Akan tetapi saat ini dia berada tepat dipandangan


mataku. Dia adalah zulfa Bidadariku.


Aku


segera mematikan ponselku kembali, aku memfokuskan mataku yang sedang melihat


dia berjalan berdua bersama seorang wanita yang tak ku kenali, namun kurasa dia


adalah temannya.


Perlahan-lahan


mereka berjalan mendekat kearahku hingga mereka berjalan dibelakangku, hingga


kearah Eskalator yang ada didekatku. Ntah kenapa mulut ku seketika kaku tak sanggup


menegurnya. Dalam hati aku pun mengutuk diriku yang tak mampu bersuara setelah


melihat Bidadariku kembali.


Seketika


dalam hati ku bertanya-tanya, apakah dia masih meingatku? Ah, ntah kenapa


diriku seakan dipecundangi oleh Wanita yang membuatku gila akhir-akhir ini.


Padahal selama ini aku sudah mencarinya, dan ketika dia sudah berada


dihadapanku aku justru menjadi pecundang seperti ini. Aku tak berdaya, aku


hanya berani melihatnya yang sedang berlalu, sambil berharap dia juga melihat


kearahku.


Apa


yang kuharapkan pun tiba-tiba menjadi kenyataan, matanya berhasil menoleh


kearahku dengan jeda. Sekarang mata kami saling bertatapan. Matanya yang sayu


itu kini melihatku. Aku melihat dia menghentikan langkahnya dan wanita yang


dibelakagnnya tak sengaja menabrak Bidadariku.


“Kenapa sih, berhenti


tengah jalan lagi.” kesal Wanita itu kepada Bidadariku.


            Aku hanya mampu melihat mereka dengan tubuhku yang masih


terpaku dilantai tempat ku berdiri.


“Bentar,” balasnya.


Lalu


Bidadariku berjalan mendekat kearahku dengan agak memicingkan matanya seolah


seperti sedang memastikan seseorang yang dilihatnya. Sedangkan aku lagi-lagi


hanya mampu terdiam melihatnya yang kini sudah berada tepat dihadapanku.


“Lu, yang dihalte waktu


itu kan?” tanyanya memastikan.


            Aku tak menjawab, aku masih terdiam membisu.


“Hallo,” panggilnya lagi


kepadaku.


“E-h iya,” balasku seakan


tersadar dari lamunku.


Bodoh


sekali aku, kenapa malah tak berkutik, ucapku dalam hati.


“Lu masih sering bengong


aja.”


“E-enggak, gua kira lu


lupa ama gua.”


“Ya enggaklah.”


            Aku hanya tersenyum santai mendengarnya.


“Lu ngapain disini?”


tanyanya.


“Belanja,” jawabku sambil


menunjuk toko perlengkapan Bayi itu.


“Oh, sama siapa? Bini


lu?” tanyanya lagi kepadaku.


“Bukanlah, sama Ibu gua,”


jawabku.


“Terus mana Ibu lu?”


“Lagi didalem.”


“Ohh.”


“Lu ngapain?” tanyaku


kepadanya.


            Belum sempat dia menjawa, tiba-tiba wanita yang tadi


bersamanya datang kearah kami. Aku juga lupa bahwa ada dia dari tadi.


“Lu apaan sih fa, udah


berhenti tengah jalan, sekarang lu malah sibuk ngobrol sama Cowo, malah keren


lagi cowoknya,” protesnya kepada Zulfa.


“Hehe sorry.”


Aku


hanya diam, dan wanita itu pun melihatku dengan sangat antusias hingga


membuatku jadi heran.


“Oh, ya kenalin ini temen


gua namanya Ayu,” sambungnya kepadaku.


“Oh, gua Nugy,” ucapku


sambil mengulurkan tanganku kepada Ayu.


“Gua ayu,” balasnya.


Seketika


ditengah pertemuan kami yang sedikit kaku, Ibu ku memanggilku dengna lembut


sambil berjalan mendekati kami.


“Nugy, kamu kemana aja


sih,” tanya Ibu.


“Maaf Bu aku sedang


menelfon tadi,” jawabku.


“Lalu ini siapa?” Tanya


Ibu sambil melihat heran kearah dua wanita yang sedang bersamaku.


“Teman ku bu.”


“Oh ya, kenalkan ini Ibu


gua,” Sambungku kepada zulfa dan Ayu.


“Hallo Tante, saya Zulfa,”


Sapanya lembut.


“Saya Ayu Ttante.”


Mereka


memperkenalkan diri kepada ibuku sambil menyalam tangan Ibu, dan Ibu pun membalasnya


dengan senyuman khasnya yang selama ini bisa membuatku sangat merasa nyaman.


“Diantara kalian berdua


siapa yang pacarnya Nugy.”


Tentu


saja aku kaget, karena kebiasaan Ibu yang satu ini. Kebiasaan daia yang suka


asala ceplas-ceplos kalau berbicara.


“Buk mereka temanku,” jawabku


meluruskan.


“Sekarang masih teman Bu,


nanti ga tau deh bagaimana Nugy dengan temanku ini” jawab ayu yang membuat aku


dan zulfa kaget.

__ADS_1


“Oh ya, kalau begitu tunggu


sebentar ya” ucap Ibu. Lalu pergi kembali kedalam toko.


Aku


masih terdiam atas apa yang mereka bicarakan barusan. Perasaanku jadi tidak


enak. Ah ibuk, apa yang akan ibu lakukan setelah ini? ucapku dalam hati.


“Lu apaan sih,” kesal Zulfa


sambil mencubit lengan Ayu.


“Ya siapa suruh lu pada


diam, Orang tua nanya juga, malah diam lu pada,” bela ayu.


“Tapi gak gitu juga yu,”


kata Zulfa kesal.


“Maaf Gy, dia memang suka


asal,” sambungnya memohon maaf kepadaku.


Aku


hanya senyum saja, sambil melihat mereka berdua.


Kemudian


Ibu datang dengan membawa belanjaan yang menurutku tidak terlalu banyak. Ibu


memang tidak suka berlebihan kecuali untuk anak-anaknya. Aku pun mengambil


barang belanjaan yang ada ditanganya.


“Biar aku saja Bu,”


ucapku kepadanya.


            Ibu hanya tersenyum lembut.


“Ayo kita pergi, Ibu ingin


makan,” ajaknya sambil tersenyum.


“Ibu mau makan apa? aku


tidak yakin ada yang membuat Ibu selera disini,” jawabku memastikan.


“Ibu dan kamu memang


tidak tau. Tapi mereka pasti tau dimana tempat yang enak,” balas Ibu sambil menoleh


kearah Zulfa dan Ayu.


Aku


hanya terdiam tak menyangka akan jawaban Ibu yang seenaknya saja, seketika aku


langsung menoleh kearaha dua wanita yang menjadi salah tingkah dan tak tahu


harus berekspresi seperti apa, aku pun menjadi tak enak hati dan mencoba


meyakinkan Ibuku.


“Buu, mereka ada urusan


juga disini, kita makan ditempat lain aja ya, aku tau tempat yang enak,” ucapku


meyakinkannya.


Aku


benar-benar tidak enak dengan Zulfa yang sedari tadi diam memalu. Sedangkan Ayu


aku tak terlalu memerhatikannya. Toh, semua ini karena dia yang asal bicara


kepada Ibuku.


“Benar begitu?” Tanya Ibu


menoleh kearah Zulfa dan Ayu


“Gak apa-apa kok Tante,


kita juga mau makan siang.”


            Ibu langsung tersenyum anggun kepada Zulfa, lalu


memalingkan pandangannya ke arahku, sedangkan Aku hanya terdiam dan tak tahu


harus berekspresi seperti apa.


“Ayo Tante bakal saya


tunjukkin tempat yang enak disini,” sambungnya.


“Yasudah ayo Zulfa kita


tinggal saja dia,” Ibu berkata sambil meninggalkan ku yang termenung.


“Tunggu,” kataku lalu


menyusul mereka.


Aku


tau dia pasti tidak enak jika menolak ajakan Ibuku, hal ini yang membuatku


terdiam terpana sambil menatapnya dari belakang yang sedang berbicara dengan


Ibuku sambil berjalan. Aku berfikir betapa beruntungnya aku jika bisa memilikinya.


Selain dia cantik dia juga pandai menjaga perasaan Ibukku, dan bagiku itu sudah


lebih dari cukup untuk menjadikan ini sebagai alasanku untuk menjadikan dia


sebagai Bidadariku.


Bidadariku!


Aku sungguh kagum denganmu, ucapku dalam hati.


            Sebelumnya aku tidak pernah membawa wanita kepada ibuku,


walaupun Zulfa bukan kekasihku tapi aku tahu bahwa Ibu sangat antusias dengan


dia. Saat ini muncul difikiranku tentang ntah apa yang akan kami bicarakan


nanti, tapi aku cukup senang untuk mengabaikan rasa heranku saat ini.


            Kami pun masuk kesalah satu restoran yang masih berada di


Mall ini, lalu duduk berempat dengan Ibu disampingku dan mereka berdua


dihadapan kami. Tepatnya Zulfa berada dihadapanku. Pelayan restoran itu datang


memberikan menu kepada kami. Jujur saja, aku tak tahu harus memesan apa, dan Ibu


pun begitu.


“Aku tak tahu harus


memesan yang mana,” ucap Ibu.


“Kan udah aku bilang Bu,


gak akan ada yang membuat Ibu selera disini,” balasku sedikit kesal.


“Biar aku saja yang


memesankan untuk Tante, aku yakin Tante akan suka” ucap Zulfa menengahi kami.


            Ya mungkin itu pilihan terbaik, kami serahkan saja


semuanya kepadanya. Lalu pelayan itu pun pergi meninggalkan kami.


“Jadi kenapa kau tak


pernah membawa mereka kepada Ibu?” tanya Ibu kepadaku.


“Astaga bu, kami baru


saja kenal satu minggu yang lalu. Itu pun baru ini ketemu lagi,” jawabku dengan


santai, sambil mataku melirik kearah Zulfa.


“Ohhh, jadi ini alasanmu


tak pernah pulang?” tanya Ibu lagi kesal kepadaku.


“Hah?”


“Hahahahahaha.”


            Perdebatan ku dengan ibu berhasil membuat kedua wanita


dihadapan kami tertawa.


“Dia ini anak sulungku,


namun sangat nakal, bahkan sudah berani pergi dari rumah.” ucap Ibu.


tanya Zulfa.


 “Dia ingin menjauh dariku,” jawab Ibu


menyindirku.


“Buu,” ucapku kesal


kepadanya.


“Hahahah, Ibu hanya


bercanda Nugy,” balas Ibu.


            Aku hanya terdiam kesal, sedangkan kedua wanita itu hanya


bisa tertawa melihat kami berdua.


“Kau sangat suka tertawa”


ucap Ibu.


“Haha iya Tante, aku


sangat senang melihat Tante yang lucu. Sekarang aku jadi tahu kenapa bisa Anak


Sulung Tante ini bisa membuatku tertawa saat pertemuan pertama kami,” ucap


Zulfa dengan menatap ibu.


“Oh ya? Dimana kalian


bertemu?” tanya ibu.


“Dihalte. Dia mencoba


menggodaku ditengah hujan,” jawabnya seakan menggoda.


“Oh Nugyyy, bahkan


sekarang kau sudah berani menggoda wanita. Ibu sangat senang mendengarnya,”


balas Ibu sambil melihat senang kearahku.


“Bu, jangan


memperlakukanku seperti Anak Kecil dihadapan mereka,” kataku kesal.


“Kenapa? Kau kan memang


tak pernah berani dengan wanita,” balas ibu.


            Aku menatap Ibu ku dengan kesal seakan tak menyangka dia


mengatakan apa yang menjadi kelemahanku selama ini.


“Kalian tau? Dia ini Pria


yang sangat cupu jika soal wanita da—”


“Buuu, jang—”


“Kau diamlah Nugy, Ibu


akan kesal jika kau terus memperotesku,” ucap Ibu dengan tegas kepadaku.


“I-iya maaf,” balaksu pasrah.


            Aku tahu betul jika Ibu sudah begitu, Bisa-bisa aku jadi


Benar-benar dimarahinya nanti, lebih baik aku diam saja dan mendengarkan apa


yang ingin dia katakan kepada kedua wanita yang tertawa terus melihat percakapan


kami sedari tadi. Sebenarnya aku sagat malu jika Ibu memperlakukan ku seperti


itu dihadapan orang-orang, tetapi apa boleh buat, aku hanya bisa pasrah dan


mengikuti keinginan Ibu ku.


“Maaf zulfa, aku jadi


harus kesal dihadapan kalian,” ucap Ibu.


“Gak apa-apa tante, itu


jusrtru membuatku tertawa,” balasnya kepada Ibu.


“Sepertinya Tante sering


sekali memarahi dia,” sambung Ayu.


“Iya kau benar,” balas Ibu.


            Mereka berdua pun hanya mengangguk sambil berusaha


menunggu pembicaraan Ibu selanjutnya.


“Aku memiliki dua anak Laki-laki,


dan dia yang selalu sering ku marahi, karena dia nakal dan selalu saja membuat


ku khawatir. Sangat berbeda dengan Rudy adiknya yang pendiam dan penurut…”


“Tapi dia adalah anakku


yang paling bisa diandalkan…”


“Dia ini anak yang paling


nekat. Bahkan ketika lulus dari kuliahnya, dia ingin pergi meninggalkan rumah…”


“Katanya ingin menguji


mental di Hutan Belantara ini, dan tak mau hidup dibawah bayang-bayang


siapapun…”


“Tapi sekarang aku sangat


terkejut dengan apa yang dia capai saat ini…”


“Dan sekarang aku lebih


terkejut lagi mendengar dia yang sudah berani menggoda Wanita,” kata Ibu bangga


kepadaku.


            Kami bertiga hanya terdiam, aku hanya bisa pasrah sambil


sesekali melirik kearah Zulfa yang seakan antusias mendengarkan cerita Ibu yang


menurutku itu tak menarik sama sekali.


“Apa dia homo Tante?”


tanya Ayu.


            Seketika kami semua menatapnya seakan tak menyangka


dengan apa yang barusan dia tanya kan. Aku sangat tersinggung dengan


perkataannya, sedangkan Ibu justru menjadi tertawa mendengarkan pertanyaannya


itu. Sedangkan Zulfa langsung menatap Ayu dengan tatapan sinis dan berhasil


membuat Ayu tertunduk seketika.


“Hahaha, Ibu fikir juga


begitu,” jawab Ibu sambil tertawa.


            Aku pun makin terkejut, dan menatap Ibu dengan kesal.


“Benarkah?” tanyanya lagi


kepada Ibu.


            Ah ya tuhan, aku Benar-benar ingin memakinya. Bidadariku,


kenapa kau memiliki teman yang lebih aneh dari pada kedua sahabatku, Kesalku


dalam hati.


“Hahaha tentu tidak…”


“Ketika Smp aku


masukkannya sekolah di salah satu pesantren yang ada di Sumatera, disana untuk


bisa melihat seorang wanita saja sangat sulit, bahkan hampir tidak bisa, kalau


bisa pun hanya bisa melihat dari kejauhan, oleh karena itu dia menjadi tak


terbiasa berkomunikasi dengan Wanita,” jawab Ibu santai.


“Ohhh pantas saja ya


Tante. Tapi sayang sekali, padahal dengan wajahnya yang tampan itu pasti bisa


membuat wanita disekililingnya Tergila-gila,” balasnya santai seakan tak merasa

__ADS_1


bersalah.


“Yang kau katakan benar


sekali…”


“Ketika memasuki bangku


Sma aku memindahkan dia untuk sekolah di Sma negeri yang ada diBekasi, karena


aku juga tak tahan bila berpisah Lama-lama dengan Anak- anakku…”


“Pada saat dia Sma itu


lah aku sangat kewalahan mengatasi semua Gadis yang silih berganti datang kerumah


hanya untuk meminta kontak ponsel anakku ini kepadaku.”


“Benarkah?” Zulfa tak


ingin kalah untuk bertanya.


Dari


tadi aku hanya mampu diam dan memperhatikan, dan saat ini aku semakin terdiam


ketika Bidadariku mulai merespon dengan baik tentang kilas balik kisah hidupku


yang kurasa taka da yang menarik sama sekali.


“Hmm, tampaknya kau mulai


penasaran tentang anakku,” goda Ibu kepadanya.


            Zulfa pun terdiam sambil seakan memalu.


“Baiklah, aku akan


menceritakan semuanya kepada kalian,” ucap Ibu.


            Mereka berdua pun mengangguk.


“Karena kejadian itu, aku


langsung melarang dia untuk pacaran, aku takut bisa membuat pribadi anakku


kembali nakal seperti saat dia kecil…”


“Oleh sebab itu aku


selalu mengontrolnya lebih ketat dari pada adiknya…”


            Ibu berhenti sejenak, lalu melanjutkannya lagi.


“Dan ketika dia kuliah,


hal itu pun terjadi lagi, tapi kali ini beda…”


“Wanita-wanita itu tidak


datang kerumahku, namun justru bergantian menelfonku setiap malam. Anak ku yang


nakal ini bukannya memberikan kontaknya kepada mereka, tapi justru memberikan


kontak ponselku …”


“Aku memarahinya lagi,


dan melarangnya pacaran sampai dia sudah kerja dan mapan…”


“Akan tetapi itulah


kesalahanku, aku fikir bisa menyelamatkan dia dari godaan pergaulan dikota ini,


tapi justru membuat anakku tak tebiasa hidup dengan kehadiran seorang wanita


selain aku,” ucap Ibu seakan merasa bersalah.


            Aku yang melihat Ibu seperti sedang murung pun ingin


mencoba menenangkannya, namun…


“Namun pada saat itu ada


seorang wanita yang terbiasa berada didekatnya. Dia bernama Dewi, dengan


keberadaan dia aku fikir itu bisa membantu anakku untuk kembali menemukan


keberaniannya untuk mencari seoarang wanita yang bisa menjadi pendampingnya…”


“Dan setelah melihat


kehadiran kalian berdua saat ini, tampaknya Dewi sudah berhasil membantuku


untuk membuatnya kembali terbiasa akan kehadiran seorang wanita.”


            Ibu terdiam sejenak sambil tersenyum anggun menatap Zulfa


yang dia fikir bahwa wanita itu Benar-benar akan menjadi kekasihku.


            Hal ini membuatku menjadi heran dan melihat Zulfa yang


juga tak tahu harus bereaksi seperti apa.


“Hahaha Tante tenang


saja. Kita doakan saja mereka berdua,” ucap Ayu kepada Ibu.


“Iya, kau benar sekali,”


balas Ibu kepadanya.


            Lagi-lagi aku hanya mampu diam melihat mereka berdua. Baru


saja bertemu sudah bisa akrab begitu. Sedangkan Bidadariku yang sedari tadi tak


tahu harus bagaimana pun mulai bertindak untuk mencubit lengan Ayu, sehingga


membuatnya menjerit pelan.


“Aww,” pekiknya pelan.


“Kenapa?” tanya Ibu


heran.


“Haha tidak Apa-apa Tante,”


jawab Zulfa.


            Dan pelayan pun datang dengan membawa pesanan kami tadi.


Kami pun tak melanjutkan pembicaraan kami karena sibuk fokus dengan makanan


kami Masing-masing hingga habis.


            Setelah itu kami lanjut berbicara lagi, Ibu menanyakan


banyak hal tentang Zulfa, hingga kali ini berhasil membuat Bidadariku itu


bercerita tentang dirinya. Tentu saja ini berhasil membuatku menjadi tahu bahwa


dia adalah wanita yang berprofesi sebagai desainer di Butik miliknya sendiri.


Selain itu, ternyata dia juga sedang menyelesaikan kuliah S1 nya diuniversitas


swasta terfavorit dikota ini dengan jurusan yang bisa mendukung profesinya saat


ini.


“Oh jadi kamu punya Butik


sendiri.”


“Iya Tante, dan Ayu inilah


yang juga ikut membantuku membesarkan butik itu,” balas Zulfa.


“Lalu bagaimana caramu


membagi waktumu dengan kuliahmu?” tanya Ibu.


“Aku sudah biasa kok


tante, tinggal di jalani saja,” jawabnya santai seraya tersenyum.


            Aku menjadi semakin yakin bahwa pilihanku tidak salah.


Saat pertama aku bertemu dengannya, dia sudah memancarkan aura kecantikan yang


luar biasa, dan sekarang aku harus lebih mengakui bahwa dia benar-benar wanita


yang sempurna untuk ku miliki. Wanita cantik dengan loyalitas yang tinggi, dan


yang paling penting bisa membuat Ibuku senang saat bersamanya.


“Apakah ada pakaian yang


cocok untuk wanita berumur seperti ku di Butik mu?” tanya Ibu kembali.


“Oh tentu ada Tante, dan


lagian Tante gak terlihat seperti wanita yang sudah sangat tua,” balas Zulfa.


“Nampaknya aku harus main


ke Butik mu. ya kan Nugy?” tanya Ibu kepadaku


“Baju Ibu sudah terlalu


banyak. bahkan aku rasa, Ibu hanya akan menambah Baju-baju untuk Ibu berikan


kepada orang lagi,” jawabku.


Kebiasaan


Ibuku memang seperti itu, Ibu selalu memberikan pakaiannya kepada orang,


setelah ia bosan memakainya. Bukan karena dia tak sayang dengan bajunya. Tetapi


ibu pernah berkata: “Semua yang kita punya tidak selamanya menjadi milik kita, mereka


juga perlu merasakannya, lagian Ibu masih bisa membelinya kan, mereka belum


tentu. Aku hanya berharap semoga dengan ini keluarga kita bisa menuai


keberkahan yang di ridhoi.”


Ibu


memang selalu mengajarkan Anak-anaknya tentang berbagai banyak hal yang membuat


hidup kami tentram dan nyaman. Dia juga selalu menyampaikan sesuatu dengan


penuh perasaan dengan kelembutan yang menjadi ciri khasnya selama ini. Aku


sungguh beruntung, bahkan teramat sangat beruntung bisa lahir dari rahimnya.


“Ibu janji, Ibu tak akan berikan


kepada siapapun, lagian mana mungkin aku memberikan apa yang ku dapat dari


wanita mu Nugy,” ucap ibu kepadaku.


“Buk Zulfa bukan wani-”


“Aku akan sangat senang


jika Tante main ketoko ku, akan ku siapkan baju yang bagus untuk Tante,” potong


Zulfa.


            Aku terdiam dengan mulutku yang masih menganga, sedangkan


Ibu ku langsung tersenyum sambil mengelus tangan Zulfa Bidadariku.


“Ya sudah, kalau begitu


ayo kita pulang. Ibu rasa ada urusan yang harus kamu selesaikan, dan sepertinya


mereka berdua juga ingin kembali ketoko nya.” Ucap Ibu mengajakku pulang.


            Aku hanya mengangguk.


“Terima kasih ya kalian


sudah mau makan siang bersama kami, dan aku akan bermain ke Butik mu,” sambung Ibu


kepada mereka sambil menggenggam tangan Zulfa, seolah tak ingin berpisah


dengannya.


“Iya Tante, kita juga terima


kasih bisa dengerin cerita Tante,” balas Zulfa.


            Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum. Ibu ku menatapnya


dengan dalam dan dengan jeda.


“Aku akan lebih merasa


senang jika kau panggil aku Ibu.”


            Seketika Zulfa pun hanya terdiam dengan wajah yang


dihiasi senyumnya yang sayu.


“Baik Ibu,” jawab Zulfa


tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.


            Ibu pun tersenyum senang, sedangkan aku hanya senyum


dengan hatiku yang merasa sangat senang. Kemudian aku meminta bill lalu


membayarnya, setelahnya kami pun memutuskan untuk berspisah untuk pulang dengan


aktivitas kami masing-masing. Dan tentu saja kali ini aku tak lupa meminta kartu


namanya, tentu saja dengan alasan aku bisa mengunjungi Butik meiliknya bersama


Ibu, dan dia pun tak keberatan.


            Didalam mobil aku hanya diam dan memikirkan kejadian


tadi. Kejadian dimana aku merasa sangat senang melihat Ibu yang sangat merespon


baik kehadiran Bidadariku. Hal ini menandakan bahwa Ibu sangat merestui ku


untuk mendapatkannya.


“Ibu tidak keberatan jika


dengan dia,” kata ibu yang seolah merespon hal yang sedang ku fikirkan.


            Aku hanya terdiam, sekarang aku jadi paham dengan Orang-orang


yang mengatakan bahwa insting seorang Ibu kepada anaknya itu sangat kuat, dan


sekarang semua terbukti ketika Ibu sedang mengetahui isi hatiku saat ini.


“Doakan Nugy Bu”, balasku


dengan bangga.


“Tentu saja.”


Kami


berdua pun saling melemparkan senyum.


            Aku mengemudikan mobilku dengan perasaan senang dalah


hatiku, karena ini untuk pertama kali nya aku menambatkan diriku pada seorang


wanita, dan pertama kalinya Ibu mendukungku soal wanita. Yah untuk pertama


kalinya.


Sesampainya


dirumah aku langsung menuju kamarku untuk beristirahat, dan Ibu juga begitu.


Setelah aku mengganti pakaianku, aku berdiri didepan cermin kamarku yang besar.


Aku menatap diriku dengan bangga, disaat pertama kalinya aku jatuh cinta kepada


seorang wanita, disaat itulah aku merasa yakin dengan wajahku sendiri.


“Saatnya kau bekerja”


ucapku seakan berbicara sendiri.


Aku


bersyukur termasuk golongan lelaki yang di Idam-idam kan dari kalangan wanita,


meskipun itu membuatku risih, tapi aku tak pernah memanfaatkan diriku untuk


itu. Semenjak di bangku Sma aku selalu menjadi lelaki yang di idola kan. Dan


saat Smp? Tentu saja Aku tidak mungkin di idola kan, karena setatus ku sebagai


seorang Santri dipesantren yang tidak pernah bertemu dengan seorang wanita,


kecuali Ibu kantin.


Saat


aku Sma, ada banyak wanita yang sangat menyukaiku, dan aku merasa biasa saja.


Mungkin hal ini yang membuat mereka semakin menaruh rasa penasaran terhadapku,


sehingga mereka rela untuk mendekatiku dengan berbagai macam cara, bahkan sampai


harus datang kerumah ku hanya untuk bertemu Ibu ku demi meminta nomor kontak


ponsel ku.


            Atas kejadian itu lah Ibu


memarahiku, dan tak mendukungku sama sekali untuk pacaran. Tapi aku memang tak


ingin pacaran saat itu, sebagai lulusan pesantren aku tak memiliki rasa cinta


terhadap wanita, bukan karena aku homo, tapi karena aku tak biasa dengan hal

__ADS_1


itu.


__ADS_2