
Kini aku sedang fokus
mengemudikan mobilku, aku menatap kearah Zulfa sebentar, aku melihat raut ekspresi
wajahnya yang senang. Aku juga jadi ikut senang melihatnya.
“Terima kasih Nugy, aku
senang hari ini,” ucapnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku hanya membalas senyumannya
“Kau akan mengajakku
kesini lagi kan?” tanyanya.
“Sepertinya tidak.”
“Kenapa?” tanyanya.
“Aku tak mau melihat
akting dari Papamu lagi. Aku benar-benar emosi dibuatnya tadi.”
“Jadi itu Benar-benar
membuatmu marah?” tanyanya pelan.
“Tidak juga, tapi aku
heran denganmu,” jawabku
“Heran kenapa?”
“Apa memang tak pernah
ada lelaki yang datang kerumahmu?” tanyaku kembali kepadanya
“Sebenarnya sangat banyak
yang datang kerumahku, tetapi semuanya tak berani lagi datang setelah bertemu Papaku,”
“Jadi bagaimana caramu bisa
keluar rumah selama ini?” tanyaku lagi.
“Kalau hari biasa Papa
mengizinkanku keluar sesuka hatiku asal tidak pulang terlalu larut malam.
Tetapi kalau hari minggu aku tak diizinkan kemanapun,”
Aku mengangguk paham.
“Jadi ini hari pertamamu
keluar dihari minggu?”
Dia hanya mengangguk senang kepadaku.
Aku melihat kejujuran dari raut wajahnya, bagaimana bisa
dia tidak pernah keluar rumah diwaktu weekendnya. Padahal wanita lain sangat
antusias untuk menghabiskan waktu weekendnya untuk keluar dengan teman-teman
mereka masing-masing. Tapi dia justru dirumah saja dengan keluarganya. Untuk
wanita manja sepertinya, kurasa dia terlihat seperti gadis yang sangat penurut.
Aku jadi penasaran dengan umur gadis ini, fikirku.
“Berapa umurmu?” tanyaku
lagi.
“20 tahun”
“APA?” kagetku.
Sial aku menyukai wanita yang umurnya berbeda 7 tahun
dibawahku, dan gadis seperti ini pula yang membuatku menjadi bersikap seperti
anak-anak.
SIAL!!!, ucapku dalam
hati.
“Kenapa kau kaget begitu.”
“Ti-tidak apa-apa. Pantas
saja kau dijaga ketat oleh Papamu.”
“Iya mungkin karena aku
juga anak Satu-satunya, tapi aku tetap merasa nyaman dengan itu. aku juga tak
pernah melawan Orangtuaku,” balasnya bangga.
Aku hanya tersenyum melihatnya, dia terlihat menggemaskan
sekarang.
“Lalu bagaimana kau bisa
punya butik sebesar itu dengan umurmu yang sekarang, bahkan kau juga harus menjalankannya
sambilan kuliah,” tanyaku kepadanya.
“Itu adalah punya Mama,
tapi dia sudah menyerahkannya kepadaku. Karena kesibukan Papa yang mengharuskan
Mama selalu ada disampingnya,” jawabnya polos.
“Lalu bagaimana bisa kau
mengurusnya?”
“kau meremehkanku?”
tanyanya lagi kepadaku.
“Tidak, aku hanya
penasaran saja dengan usiamu yang masih muda bagaimana caramu mengurus butik
sebesar itu,” jawabku.
“Aku kuliah dijurusan Desainer,
dan aku sering memenangkan lomba desainer beberapa kali sejak aku masih Sma.
Dan Ayu sahabatku adalah orang yang sudah berpengalaman dalam bidang pemasaran.
Meskipun dia lebih tua 7 tahun dari ku sih. Tetapi kami bisa saling
bekerjasama. Bahkan sampai sekarang usaha kami masih berjalan dengan baik.”
Aku mengangguk paham dengan penjelasannya. Meskipun dia
masih muda. Aku takjub kepadanya bisa melakukan semua itu. Tampaknya dia sudah
dididik menjadi wanita hebat oleh keluarganya. Sekarang aku menjadi yakin
dengan alasanku yang menaruh rasa cinta kepada gadis yang memiliki umur lebih
muda dariku.
Lalu
memutuskan untuk diam saja, dan aku juga tak tertarik menanyakan hal tentang Ayu,
karena dia wanita yang aneh seperti kedua sahabatku itu.
“Kau seperti detektif
saja,” ucapnya kepadaku.
“Aku hanya ingin tahu
tentangmu,” balasku sambil tersenyum kepadanya.
Dia pun diam menatapku.
“Menurutmu berapa
umurku?” sambungku.
“27 tahun.”
“HAH? Bagaimana kau bisa
tahu” ucapku kaget.
“Aku sudah tahu dari Ibu.
dan kau tahu Nugy? Aku merasa seperti berjalan dengan Om-om saja ketika
denganmu, hahaha,” balasnya meledekku.
Aku jadi merasa kesal atas perkataannya ini.
“Lalu kenapa kau mau?”
tanyaku kesal.
“Aku tak tahu, aku nyaman
saja,” jawabnya santai.
Rasa kesalku seketika hilang. Aku tersenyum senang
mendengar jawabannya itu. dia tidak merasa risih berjalan dengan ku, meskipun
umur ku berbeda 7 tahun darinya.
__ADS_1
Aku jadi semakin semangat mengendarai mobilku, namun
seketika aku ingat tentang kekasihnya itu, aku jadi penasaran. Aku pun
menanyakan itu kepadanya.
“Aku lupa menanyakan satu
hal,” ucapku ragu.
“Apa?” tanyanya.
“Bagaimana caramu jalan
dengan Kekasihmu? Apa papamu tak tahu kalau kau memiliki Pacar?” tanyaku.
Dia diam tak menjawab, dia menundukkan kepalanya, lalu
menatap lembut kearahku. Seakan-akan dia ingin menjelaskan sesuatu kepadaku.
“Kau salah paham Nugy,
aku tak punya pacar,” jawabnya pelan.
“HAH” pekikku kaget lalu
menghentikan mobilku.
Dia hanya terdiam polos.
“Lalu pria yang ku hajar
itu siapamu?” Tanyaku lagi.
“Dia bukan pacarku, dia
hanya sedang berusaha mendekatiku, aku risih sekali dengannya, tetapi aku cuma
gadis polos Nugy. Aku tak berani mengatakan kepadanya bahwa aku tak suka
dengannya,” jawabnya dengan serius.
Aku sedikit tak percaya dengan perkataannya ini, dan hal
ini membuatku menjadi kesal kembali.
“Aku melihat fotomu mesra
dengannya,” ucapku memastikan.
“Aku hanya berfoto sekali
dengannya, dan itu karena dia memaksaku. Aku hanya takut jika menolaknya.”
“Kenapa kau takut?”
“Dia anak seorang
pengusaha yang terhormat dijakarta.”
“Lalu?”
“Dia bisa melakukan apa
saja yang mencelakakanku jika aku menolaknya.”
“BRENGSEK!!! Kenapa kau
tak mengatakannya padaku,” ucapku kesal.
“Kau saja sangat
membenciku,” ucapnya lirih.
Aku menatapnya dengan merasa bersalah. Aku sungguh sudah
salah sangka selama ini, aku justru sudah mencoba membenci wanita polos yang
seharusnya harus kucintai ini.
“Aku sudah lama ingin
mengadu kepadamu, karena hanya kau pria yang ku rasa bisa melindungiku…”
“Dia pernah memaksaku
untuk berciuman dengannya, aku tak mau, lalu aku menamparnya kuat. Dia langsung
marah kepadaku dan menamparku balik dengan keras tepat dipipiku. Lalu dia
menurunkanku dihalte itu…”
“Aku sangat takut, itu
pertama kalinya aku ditampar seumur hidupku, aku berdiri sendiri dihalte itu
dengan rasa takut yang amat sangat…”
“Dan ketika aku melihatmu
berhenti, aku kira kau ingin melakukan hal yang aneh kepadaku…”
untuk membuatku tertawa pada saat itu. Rasa takutku pun hilang saat bertemu
denganmu…”
Dia berhentei seakan menatapku bangga.
“Namun besoknya dia
menemuiku lagi ketika dikampus. Rasa takutku muncul lagi …”
“Aku mencoba menghindar,
tetapi dia selalu saja mengejarku…”
“Aku takut jika harus
mengadu kepada Papaku. Jadi aku memutuskan untuk mencarimu di halte itu. untuk
mengadukan semuanya, tetapi aku tak pernah menemuimu lagi…”
“Hal itu yang membuatku
menjadi semakin tak bisa lepas dari dia, aku hanya bisa pasrah dan mengikuti
semua kemaunya…”
Dia menunduk sejenak lalu kembali melanjutkannya.
“Hingga aku bertemu lagi
denganmu. Aku menemukan harapan untuk bisa lepas dari dia Gy…”
“Dan ketika kau datang kebutik.
Aku sangat senang dan merasa aman. Karena dia juga ingin datang kebutik milikku,
aku berfiki bahwa ini saat yang tepat untukku mengatakan semua kepadamu…”
“Tapi kau justru datang
dengan emosimu yang membara. Aku benar-benar heran Gy. Kau datang mengamuk dan
bersikap dingin kepadaku…”
“Lalu kau menghajar pria
itu tepat ketika saat dia baru sampai. Aku sama sekali tidak marah denganmu
ketika menghajar dia. Tetapi aku marah kepadamu karena melakukannya dengan
nekat sehingga membuatmu luka seperti itu…”
Dia berhenti sejenak dengan mentapku yang terdiam
membisu.
“Aku khawatir padamu, aku
mencarimu, menunggumu sampai selesai diproses dikantor itu…”
“Tapi kau justru
menatapku dingin, dan ntah kenapa kau jadi membenciku…”
“Aku benar-benar tak tahu
apa salahku, aku benar-benar tak tahu harus mengadu kepada siapa lagi,” ucapnya
lalu kembali menangis.
Nyawaku seakan-akan diangkat oleh malaikat yang sudah
siap untuk menjemputku, semua penjelasan yang dikatakan dia kepadaku, berhasil
membuatku benar-benar tak berdaya, hatiku sangat sakit ketika gadis polos yang
kucintai ini menahan rasa takut selama ini, dia sangat menderita dan masih bisa
kuat menahannya. Sedangkan aku yang mengaku cinta kepadanya tak bisa berbuat
apa-apa ketika dia ingin mengadu kepadaku.
Aku bahkan sudah mencoba untuk membencinya, padahal dia
sendiri tidak salah, aku membencinyau disaat dia sedang membutuhkan pertolongan
dariku. Kini rasa sakit dihatiku beriringan muncul bersama dengan emosiku.
Aku akan
menghancurkannya, ucapku dalam hati.
Lalu aku mentap wajah wanita polos ini dengan lembut.
“Maafkan aku Zulfa, aku
sudah salah sangka. Aku bahkan sudah mencoba untuk membencimu,” Ucapku lirih
__ADS_1
kepadanya.
Aku memeluknya lagi seperti tadi pagi, aku membiarkan dia
menangis hingga dia berhenti, lalu aku mengangkat wajahnya untuk berhadapan
denganku.
“Aku akan melindungimu
mulai saat ini,” ucapku tegas kepadanya.
“Tapi aku takut
mencelakakanmu,” balasnya.
“Aku berjanji kepadamu,
bahwa aku tidak akan membahayakan diriku,”
“Mulai hari ini,
adukanlah semuanya Zulfa, aku akan langsung datang melindungimu, dan aku akan
kembali membencimu jika kau menyembunyikannya,” sambungku.
“Kau paham?” tanyaku.
Dia pun mengangguk dengan polosnya kepadaku.
“Oke, sekarang tugasku
hanya mengantarkan mu dengan cepat, jika tidak. Aku bisa benar-benar dimarahi
oleh Papamu,” ucapku.
“Kau sudah membuatku
menagis dua kali Nugy, jika aku mengadukannya dia pasti akan benar-benar marah
padamu.”
“Ya makanya jangan kau
lakukan”
“Kalau ku lakukan, apa
yang akan terjadi padaku?”
Dia benar-benar sudah berani mengancamku. Oke aku akan
membuat dia tak berkutik sekarang.
“Aku akan menggaulimu,”
ucapku dengan wajah yang menggoda.
“Ishh dasar pedofil,”
balasnya.
“Hahahah kau sudah 20
tahun Zulfa, dan tubuhmu juga terlihat menggoda, jadi jika aku menggaulimu itu
masih Sah-sah saja,” ucapku dengan mendekatkan wajahku kepadanya.
“Otak mu memang tidak
beres Nugy, kau benar-benar seperti Om-om sekarang. Menjauhlah,” ucapnya sambil
mendorong wajahku.
“Hahahaha, kau sangat
lucu jika sedang malu-malu begini.”
“Jalankan mobilnya, aku ingin
segera cepat sampai rumah.”
“Kenapa buru-buru?”
“Kita harus buru-buru,
sebelum setan benar-benar mempengaruhi isi kepalamu.”
“Hahahaha kau benar-benar
lucu Zulfa, sekarang kau takut kepadaku, padahal tadi kau menikmati ciuaman
kita dirumah,” godaku lagi.
“hentikan itu Nugyyyyyyyyyy,
jalankan mobilnya.”
“Hahahahha baiklah.”
Aku pun mengemudi mobilku dengan cepat dan tak
mengajaknya bicara lagi. bahkan sekarang dia justru malah ingin tertidur,
mungkin dia sangat lelah menahan semua penderitaannya selama ini atas pria
brengsek itu.
Jika
dia berani melakukan hal itu kepada wanitaku, dia akan menjadi musuhku
selamanya, tunggu saja, kau akan benar-benar hancur ditanganku, ucapku dalam
hati.
Jalanan
sangat kosong karena sudah hampir larut juga, aku benar-benar akan dimarahi
oleh Papanya karena ini. Akibat sering berhenti makanya agak sedikit lama
sampainya, padahal jarak rumah Ibu kerumah kami tidak terlalu jauh bagiku. Ah
sudahlah yang penting sekarang kami sudah sampai dirumahnya.
Aku
memberhentikan mobilku, dan melihat dia masih tertidur, aku jadi tak tega
membangunkannya. Tapi aku harus tetap membangunkannya agar dia bisa tidur lebih
nyaman dikamarnya.
“Fa,” kataku sambil
menggoyangkan tangannya dengan pelan.
“Mmm,” ucapnya sambil
membuka matanya,
Ya
tuhan bahkan disaat bangun tidur pun dia terlihat sangat cantik, ucapku dalam
hati.
“Udah sampai?” tanyanya
“U—dah” jawabku tergagap.
Dia pun bangun dan turun dari mobil, Aku pun turun untuk mengantarkannya
kedalam rumah, didalam kami tentu sudah ditunggu oleh kedua Orang tuanya. Aku
harus bertanggung jawab untuk menjelaskan semuanya kepada mereka berdua, dan
Alhamdulillah mereka memahaminya.
Setelah memastikan Zulfa aman sampai kedalam rumah, dan
aku juga sudah menjelaskan semuanya kepada Papa, Mamanya. Aku pun langsung
pamit untuk pulang kerumahku.
“Saya pamit Om, Tante” ucapku
kepada mereka.
“Iya Hati-hati ya” balas
mereka berdua.
Untung saja rumah kami dekat, jadi aku bisa dengan cepat
untuk sampai kerumahku.
Hari
ini meskipun aku belum mendapatkan kebenaran dari masalah yang menimpa
keluargaku, tetapi aku bersyukur sudah mengetahui kebenaran yang dipendam oleh
Bidadariku. Aku tak akan membencinya lagi sampai kapanpun, aku justru akan
melindunginya dari pria brengsek yang kuhajar kemarin.
“Oaaaahhhh,” aku sudah
mulai terasa ngantuk.
Aku
tersenyum atas yang terjadi hari ini, lalu melajukan mobilku dengan cepat agar
segera sampai kerumahku.
Sepertinya aku akan
__ADS_1
mimpi indah malam ini, aku tak sabar ingin segera tidur, ucapku dalam hati.