Belantara

Belantara
KEBENARAN #4


__ADS_3

Kini aku sedang fokus


mengemudikan mobilku, aku menatap kearah Zulfa sebentar, aku melihat raut ekspresi


wajahnya yang senang. Aku juga jadi ikut senang melihatnya.


“Terima kasih Nugy, aku


senang hari ini,” ucapnya sambil tersenyum kepadaku.


            Aku hanya membalas senyumannya


“Kau akan mengajakku


kesini lagi kan?” tanyanya.


“Sepertinya tidak.”


“Kenapa?” tanyanya.


“Aku tak mau melihat


akting dari Papamu lagi. Aku benar-benar emosi dibuatnya tadi.”


“Jadi itu Benar-benar


membuatmu marah?” tanyanya pelan.


“Tidak juga, tapi aku


heran denganmu,” jawabku


“Heran kenapa?”


“Apa memang tak pernah


ada lelaki yang datang kerumahmu?” tanyaku kembali kepadanya


“Sebenarnya sangat banyak


yang datang kerumahku, tetapi semuanya tak berani lagi datang setelah bertemu Papaku,”


“Jadi bagaimana caramu bisa


keluar rumah selama ini?” tanyaku lagi.


“Kalau hari biasa Papa


mengizinkanku keluar sesuka hatiku asal tidak pulang terlalu larut malam.


Tetapi kalau hari minggu aku tak diizinkan kemanapun,”


            Aku mengangguk paham.


“Jadi ini hari pertamamu


keluar dihari minggu?”


            Dia hanya mengangguk senang kepadaku.


            Aku melihat kejujuran dari raut wajahnya, bagaimana bisa


dia tidak pernah keluar rumah diwaktu weekendnya. Padahal wanita lain sangat


antusias untuk menghabiskan waktu weekendnya untuk keluar dengan teman-teman


mereka masing-masing. Tapi dia justru dirumah saja dengan keluarganya. Untuk


wanita manja sepertinya, kurasa dia terlihat seperti gadis yang sangat penurut.


Aku jadi penasaran dengan umur gadis ini, fikirku.


“Berapa umurmu?” tanyaku


lagi.


“20 tahun”


“APA?” kagetku.


            Sial aku menyukai wanita yang umurnya berbeda 7 tahun


dibawahku, dan gadis seperti ini pula yang membuatku menjadi bersikap seperti


anak-anak.


SIAL!!!, ucapku dalam


hati.


“Kenapa kau kaget begitu.”


“Ti-tidak apa-apa. Pantas


saja kau dijaga ketat oleh Papamu.”


“Iya mungkin karena aku


juga anak Satu-satunya, tapi aku tetap merasa nyaman dengan itu. aku juga tak


pernah melawan Orangtuaku,” balasnya bangga.


            Aku hanya tersenyum melihatnya, dia terlihat menggemaskan


sekarang.


“Lalu bagaimana kau bisa


punya butik sebesar itu dengan umurmu yang sekarang, bahkan kau juga harus menjalankannya


sambilan kuliah,” tanyaku kepadanya.


“Itu adalah punya Mama,


tapi dia sudah menyerahkannya kepadaku. Karena kesibukan Papa yang mengharuskan


Mama selalu ada disampingnya,” jawabnya polos.


“Lalu bagaimana bisa kau


mengurusnya?”


“kau meremehkanku?”


tanyanya lagi kepadaku.


“Tidak, aku hanya


penasaran saja dengan usiamu yang masih muda bagaimana caramu mengurus butik


sebesar itu,” jawabku.


“Aku kuliah dijurusan Desainer,


dan aku sering memenangkan lomba desainer beberapa kali sejak aku masih Sma.


Dan Ayu sahabatku adalah orang yang sudah berpengalaman dalam bidang pemasaran.


Meskipun dia lebih tua 7 tahun dari ku sih. Tetapi kami bisa saling


bekerjasama. Bahkan sampai sekarang usaha kami masih berjalan dengan baik.”


            Aku mengangguk paham dengan penjelasannya. Meskipun dia


masih muda. Aku takjub kepadanya bisa melakukan semua itu. Tampaknya dia sudah


dididik menjadi wanita hebat oleh keluarganya. Sekarang aku menjadi yakin


dengan alasanku yang menaruh rasa cinta kepada gadis yang memiliki umur lebih


muda dariku.


Lalu


memutuskan untuk diam saja, dan aku juga tak tertarik menanyakan hal tentang Ayu,


karena dia wanita yang aneh seperti kedua sahabatku itu.


“Kau seperti detektif


saja,” ucapnya kepadaku.


“Aku hanya ingin tahu


tentangmu,” balasku sambil tersenyum kepadanya.


            Dia pun diam menatapku.


“Menurutmu berapa


umurku?” sambungku.


“27 tahun.”


“HAH? Bagaimana kau bisa


tahu” ucapku kaget.


“Aku sudah tahu dari Ibu.


dan kau tahu Nugy? Aku merasa seperti berjalan dengan Om-om saja ketika


denganmu, hahaha,” balasnya meledekku.


            Aku jadi merasa kesal atas perkataannya ini.


“Lalu kenapa kau mau?”


tanyaku kesal.


“Aku tak tahu, aku nyaman


saja,” jawabnya santai.


            Rasa kesalku seketika hilang. Aku tersenyum senang


mendengar jawabannya itu. dia tidak merasa risih berjalan dengan ku, meskipun


umur ku berbeda 7 tahun darinya.

__ADS_1


            Aku jadi semakin semangat mengendarai mobilku, namun


seketika aku ingat tentang kekasihnya itu, aku jadi penasaran. Aku pun


menanyakan itu kepadanya.


“Aku lupa menanyakan satu


hal,” ucapku ragu.


“Apa?” tanyanya.


“Bagaimana caramu jalan


dengan Kekasihmu? Apa papamu tak tahu kalau kau memiliki Pacar?” tanyaku.


            Dia diam tak menjawab, dia menundukkan kepalanya, lalu


menatap lembut kearahku. Seakan-akan dia ingin menjelaskan sesuatu kepadaku.


“Kau salah paham Nugy,


aku tak punya pacar,” jawabnya pelan.


“HAH” pekikku kaget lalu


menghentikan mobilku.


            Dia hanya terdiam polos.


“Lalu pria yang ku hajar


itu siapamu?” Tanyaku lagi.


“Dia bukan pacarku, dia


hanya sedang berusaha mendekatiku, aku risih sekali dengannya, tetapi aku cuma


gadis polos Nugy. Aku tak berani mengatakan kepadanya bahwa aku tak suka


dengannya,” jawabnya dengan serius.


            Aku sedikit tak percaya dengan perkataannya ini, dan hal


ini membuatku menjadi kesal kembali.


“Aku melihat fotomu mesra


dengannya,” ucapku memastikan.


“Aku hanya berfoto sekali


dengannya, dan itu karena dia memaksaku. Aku hanya takut jika menolaknya.”


“Kenapa kau takut?”


“Dia anak seorang


pengusaha yang terhormat dijakarta.”


“Lalu?”


“Dia bisa melakukan apa


saja yang mencelakakanku jika aku menolaknya.”


“BRENGSEK!!! Kenapa kau


tak mengatakannya padaku,” ucapku kesal.


“Kau saja sangat


membenciku,” ucapnya lirih.


            Aku menatapnya dengan merasa bersalah. Aku sungguh sudah


salah sangka selama ini, aku justru sudah mencoba membenci wanita polos yang


seharusnya harus kucintai ini.


“Aku sudah lama ingin


mengadu kepadamu, karena hanya kau pria yang ku rasa bisa melindungiku…”


“Dia pernah memaksaku


untuk berciuman dengannya, aku tak mau, lalu aku menamparnya kuat. Dia langsung


marah kepadaku dan menamparku balik dengan keras tepat dipipiku. Lalu dia


menurunkanku dihalte itu…”


“Aku sangat takut, itu


pertama kalinya aku ditampar seumur hidupku, aku berdiri sendiri dihalte itu


dengan rasa takut yang amat sangat…”


“Dan ketika aku melihatmu


berhenti, aku kira kau ingin melakukan hal yang aneh kepadaku…”


untuk membuatku tertawa pada saat itu. Rasa takutku pun hilang saat bertemu


denganmu…”


            Dia berhentei seakan menatapku bangga.


“Namun besoknya dia


menemuiku lagi ketika dikampus. Rasa takutku muncul lagi …”


“Aku mencoba menghindar,


tetapi dia selalu saja mengejarku…”


“Aku takut jika harus


mengadu kepada Papaku. Jadi aku memutuskan untuk mencarimu di halte itu. untuk


mengadukan semuanya, tetapi aku tak pernah menemuimu lagi…”


“Hal itu yang membuatku


menjadi semakin tak bisa lepas dari dia, aku hanya bisa pasrah dan mengikuti


semua kemaunya…”


            Dia menunduk sejenak lalu kembali melanjutkannya.


“Hingga aku bertemu lagi


denganmu. Aku menemukan harapan untuk bisa lepas dari dia Gy…”


“Dan ketika kau datang kebutik.


Aku sangat senang dan merasa aman. Karena dia juga ingin datang kebutik milikku,


aku berfiki bahwa ini saat yang tepat untukku mengatakan semua kepadamu…”


“Tapi kau justru datang


dengan emosimu yang membara. Aku benar-benar heran Gy. Kau datang mengamuk dan


bersikap dingin kepadaku…”


“Lalu kau menghajar pria


itu tepat ketika saat dia baru sampai. Aku sama sekali tidak marah denganmu


ketika menghajar dia. Tetapi aku marah kepadamu karena melakukannya dengan


nekat sehingga membuatmu luka seperti itu…”


            Dia berhenti sejenak dengan mentapku yang terdiam


membisu.


“Aku khawatir padamu, aku


mencarimu, menunggumu sampai selesai diproses dikantor itu…”


“Tapi kau justru


menatapku dingin, dan ntah kenapa kau jadi membenciku…”


“Aku benar-benar tak tahu


apa salahku, aku benar-benar tak tahu harus mengadu kepada siapa lagi,” ucapnya


lalu kembali menangis.


            Nyawaku seakan-akan diangkat oleh malaikat yang sudah


siap untuk menjemputku, semua penjelasan yang dikatakan dia kepadaku, berhasil


membuatku benar-benar tak berdaya, hatiku sangat sakit ketika gadis polos yang


kucintai ini menahan rasa takut selama ini, dia sangat menderita dan masih bisa


kuat menahannya. Sedangkan aku yang mengaku cinta kepadanya tak bisa berbuat


apa-apa ketika dia ingin mengadu kepadaku.


            Aku bahkan sudah mencoba untuk membencinya, padahal dia


sendiri tidak salah, aku membencinyau disaat dia sedang membutuhkan pertolongan


dariku. Kini rasa sakit dihatiku beriringan muncul bersama dengan emosiku.


Aku akan


menghancurkannya, ucapku dalam hati.


            Lalu aku mentap wajah wanita polos ini dengan lembut.


“Maafkan aku Zulfa, aku


sudah salah sangka. Aku bahkan sudah mencoba untuk membencimu,” Ucapku lirih

__ADS_1


kepadanya.


            Aku memeluknya lagi seperti tadi pagi, aku membiarkan dia


menangis hingga dia berhenti, lalu aku mengangkat wajahnya untuk berhadapan


denganku.


“Aku akan melindungimu


mulai saat ini,” ucapku tegas kepadanya.


“Tapi aku takut


mencelakakanmu,” balasnya.


“Aku berjanji kepadamu,


bahwa aku tidak akan membahayakan diriku,”


“Mulai hari ini,


adukanlah semuanya Zulfa, aku akan langsung datang melindungimu, dan aku akan


kembali membencimu jika kau menyembunyikannya,” sambungku.


“Kau paham?” tanyaku.


            Dia pun mengangguk dengan polosnya kepadaku.


“Oke, sekarang tugasku


hanya mengantarkan mu dengan cepat, jika tidak. Aku bisa benar-benar dimarahi


oleh Papamu,” ucapku.


“Kau sudah membuatku


menagis dua kali Nugy, jika aku mengadukannya dia pasti akan benar-benar marah


padamu.”


“Ya makanya jangan kau


lakukan”


“Kalau ku lakukan, apa


yang akan terjadi padaku?”


            Dia benar-benar sudah berani mengancamku. Oke aku akan


membuat dia tak berkutik sekarang.


“Aku akan menggaulimu,”


ucapku dengan wajah yang menggoda.


“Ishh dasar pedofil,”


balasnya.


“Hahahah kau sudah 20


tahun Zulfa, dan tubuhmu juga terlihat menggoda, jadi jika aku menggaulimu itu


masih Sah-sah saja,” ucapku dengan mendekatkan wajahku kepadanya.


“Otak mu memang tidak


beres Nugy, kau benar-benar seperti Om-om sekarang. Menjauhlah,” ucapnya sambil


mendorong wajahku.


“Hahahaha, kau sangat


lucu jika sedang malu-malu begini.”


“Jalankan mobilnya, aku ingin


segera cepat sampai rumah.”


“Kenapa buru-buru?”


“Kita harus buru-buru,


sebelum setan benar-benar mempengaruhi isi kepalamu.”


“Hahahaha kau benar-benar


lucu Zulfa, sekarang kau takut kepadaku, padahal tadi kau menikmati ciuaman


kita dirumah,” godaku lagi.


“hentikan itu Nugyyyyyyyyyy,


jalankan mobilnya.”


“Hahahahha baiklah.”


            Aku pun mengemudi mobilku dengan cepat dan tak


mengajaknya bicara lagi. bahkan sekarang dia justru malah ingin tertidur,


mungkin dia sangat lelah menahan semua penderitaannya selama ini atas pria


brengsek itu.


Jika


dia berani melakukan hal itu kepada wanitaku, dia akan menjadi musuhku


selamanya, tunggu saja, kau akan benar-benar hancur ditanganku, ucapku dalam


hati.


Jalanan


sangat kosong karena sudah hampir larut juga, aku benar-benar akan dimarahi


oleh Papanya karena ini. Akibat sering berhenti makanya agak sedikit lama


sampainya, padahal jarak rumah Ibu kerumah kami tidak terlalu jauh bagiku. Ah


sudahlah yang penting sekarang kami sudah sampai dirumahnya.


Aku


memberhentikan mobilku, dan melihat dia masih tertidur, aku jadi tak tega


membangunkannya. Tapi aku harus tetap membangunkannya agar dia bisa tidur lebih


nyaman dikamarnya.


“Fa,” kataku sambil


menggoyangkan tangannya dengan pelan.


“Mmm,” ucapnya sambil


membuka matanya,


Ya


tuhan bahkan disaat bangun tidur pun dia terlihat sangat cantik, ucapku dalam


hati.


“Udah sampai?” tanyanya


“U—dah” jawabku tergagap.


            Dia pun bangun dan turun dari mobil, Aku pun turun untuk mengantarkannya


kedalam rumah, didalam kami tentu sudah ditunggu oleh kedua Orang tuanya. Aku


harus bertanggung jawab untuk menjelaskan semuanya kepada mereka berdua, dan


Alhamdulillah mereka memahaminya.


            Setelah memastikan Zulfa aman sampai kedalam rumah, dan


aku juga sudah menjelaskan semuanya kepada Papa, Mamanya. Aku pun langsung


pamit untuk pulang kerumahku.


“Saya pamit Om, Tante” ucapku


kepada mereka.


“Iya Hati-hati ya” balas


mereka berdua.


            Untung saja rumah kami dekat, jadi aku bisa dengan cepat


untuk sampai kerumahku.


Hari


ini meskipun aku belum mendapatkan kebenaran dari masalah yang menimpa


keluargaku, tetapi aku bersyukur sudah mengetahui kebenaran yang dipendam oleh


Bidadariku. Aku tak akan membencinya lagi sampai kapanpun, aku justru akan


melindunginya dari pria brengsek yang kuhajar kemarin.


“Oaaaahhhh,” aku sudah


mulai terasa ngantuk.


Aku


tersenyum atas yang terjadi hari ini, lalu melajukan mobilku dengan cepat agar


segera sampai kerumahku.


Sepertinya aku akan

__ADS_1


mimpi indah malam ini, aku tak sabar ingin segera tidur, ucapku dalam hati.


__ADS_2