
Aku
hanya terdiam sepanjang jalan, Dewi pun tak berani mengajakku berbicara, memang
dalam kondisi seperti ini alangkah lebih baiknya tidak mengajak ku berbicara.
Aku
harus bertemu Ibu dan menanyakan apa pendapatnya tentang Ayah yang ingin
menjual rumah ini, rumah ini adalah satu satunya yang tetap membuat Ibu bisa
bertahan sejauh ini mesikpun Ayah jarang pulang. Bagi Ibu rumah itu adalah
nyawa bagi kami semua, tempat untuk kami pulang meski kemanapun kami pergi, dan
sekarang pria itu justru ingin menjual rumah itu, apa yang dia fikirkan? dia
seperti ingin membunuh Ibu secara perlahan.
Aku
tak bisa membiarkan dia menyiksa Ibu terus, aku harus cepat Ibu pasti sedang
sangat sedih sekarang, dia pasti butuh seseorang untuk menemaninya, aku
mengebutkan mobil ku menuju rumahnya.
Sesampainya
disana aku dan Dewi langsung berjalan mencari Ibu kedalam rumah, tampaknya kami
tak perlu mencari Ibu karena dia sudah menyambut kami dengan senyuman khasnya
di meja makan.
Dewi langsung duluan berjalan menyalam tangan Ibu lalu
disusul dengan aku
“Kalian sudah makan?” Tanya
Ibu.
“Kebetulan sekali belum,
aku boleh ikut makankan Bun?” rengek Dewi.
“Tentu sayang, sini duduk
makan bersamaku,” ajak Ibu sambil senyum.
“Sepertinya anakku sudah
membuat mu kelaparan ya Dewi?” sindir Ibu sambil menatapku.
“Betul sekali Bun, dia
tak seperti bunda, dia sangat tega membuatku kelaparan,” rengek Dewi lagi.
Ibu
hanya tersenyum mendengar perkataan Dewi, lalu menatapku.
“Kau tak ikut makan?”
Tanya Ibu kepadaku.
Aku hanya mengangguk karena aku pun merasa lapar, dan tak
sempat makan siang.
“Rudy mana Bun?” Tanya Dewi.
“Baru saja dia pergi les,
nampaknya kau tak beruntung bertemu dengan anakku yang satu itu,” balas Ibu.
“Aku sudah lama tak
bertemu dengannya.”
Ibu hanya tersenyum melihat Dewi sedih karena sudah lama
tak bertemu dengan adikku. Dewi adalah wanita ajaib yang bisa membuat seorang Rudy
adikku yang memiliki sifat dingin bisa berbicara dan tertawa lepas ketika bersamanya.
Bahkan ketika bersama Ibu saja adikku tak pernah seperti itu apa lagi dengan ku
dan Ayah.
Setelah kami makan Ibu mengajak aku dan Dewi pergi ke
taman belakang rumah, seperti biasa, Ibu sangat suka ketempat itu.
“Wahh, bunga nya semakin
banyak saja Bun,” kata Dewi dengan riang.
“Kamu akan melihat taman
yang lebih indah dari ini Dewi,” kata Ibu.
“Dimana Bun?” Tanya Dewi.
“Sabar saja, Nugy akan
membuat taman itu seperti janjinya kepadaku dan wanitanya,” jawab Ibu sambil
melihat kearahku.
Bukan Ibu namanya jika lupa dengan janji seseorang apa
lagi janji anaknya sendiri
“Gua boleh ngeliatnya
juga kan Gy,” mohon Dewi.
“Belum selesai Wi,”
kataku santai.
“Emang udah dikerjain?”
Tanya Ibu menggodaku dengan tatapan menyindir
Aku hanya terdiam bingung tak tau harus menjawab apa, aku
tentu belum menyuruh orang untuk membuat taman itu, Ibu pasti tau betul bahwa
aku suka Bertele-tele dengan waktu.
“Kebiasaannmu selalu menunda-nunda
waktu nak,” sambung Ibu pelan.
“Tenang saja Bu, aku akan
menyelesaikan itu secepatnya.”
Ibu hanya tersenyum kepadaku. Lalu dia berkata kepada
kami dengan nada yang seakan sedang menyimpan kepedihan yang mendalam.
“Tak pernah terfikirkan
oleh ku untuk kehilangan tempat ini.”
Sepertinya
dia sudah tau bahwa rumah ini akan dijual
“Sebenarnya apa yang dia
fikirkan Bu, kenapa rumah ini harus dijual, jika memang butuh uang aku bisa
membantu Bu?”
“Ibu rasa bukan karena
uang, mungkin itu cara dia agar aku pergi dari rumah ini.”
__ADS_1
“Tapi kenapa haus
dijual?”
“Ibu tak tahu, biarlah
nak, toh rumah ini juga miliknya,” jawab Ibu pelan lalu tersenyum.
Aku heran kenapa Ibu sangat mudah menyimpan kesedihannya
dihadapanku, dan kenapa wanita seperti Ibu harus selalu di perlakukan seperti
ini oleh pria itu, emosi ku memuncak, kepala ku panas ingin meluapkan semua
kekesalanku terhadap pria itu, aku ingin mengatakan semuanya kepada Ibu tentang
kejadianku ketika bertemu dengan Ayah tadi, agar dia tau bahwa aku sangat
membencinya sekarang. Namun Dewi menatapku lalu memberi kode dengan
menggelengkan kepalanya.
Tentu saja aku tau maksud dari kode itu, jika aku meluapkannya,
itu justru membuat Ibu semakin sendih, dia sangat sedih jika anaknya menyimpan
kebencian terhadap pria yang ia cintai selama ini. Jadi kuputuskan untuk memendamnya
saja, aku tak mau merusak kondisi hati Ibu hari ini, ku rasa dengan kehadiran
kami itu sudah sedikit mengobati kesedihannya atas apa yang dilakukan oleh pria
yang ku panggil dengan sebutan Ayah selama ini.
“Lalu sudah adakah
pembelinya?” Tanya ku.
“Kau ingat dengan Om Ali
kerabat Ayah yang sangat senang memujimu?”
Aku
mengangguk, tentu saja aku ingat, dia adalah kerabat Ayah yang sangat senang
melihatku, hampir setiap berjumpa denganku dia selalu memuji ku, katanya ada
sesuatu hal yang membuatnya kagum denganku tapi aku tak tahu itu apa, karena
dia enggan mengatakannya saat ku tanya.
“Dia yang akan membeli
rumah ini, namun dia mengatakan tak perlu Terburu-buru, dia mau menunggu sampai
Rudi lulus Sma,” sambung Ibu.
Aku tak heran, Om Ali adalah kerabat Ayah yang sangat
setia kepadanya, karena Ayah yang membukakan pintu bagi bisnis dia, jadi ku
rasa dia sangat terhutang budi kepada keluarga kami. Ini kabar baik bagiku
karena rumah ini dibeli oleh Om Ali, jadi ada peluang bagiku untuk mendapatkan
rumah ini lagi untuk ku beli.
“Bisakah aku meminta
tolong kepadamu Dewi?” tanya Ibu ditengah pembicaraan kami.
“Tentu Bun.”
“Aku sudah lama tak
merasakan sop buah buatanmu, aku ingin kamu membuatkannya untukku kami,” suruh
Ibuk.
“Baik Bun, dengan senang
hati,” balas Dewi lalu pergi kedalam rumah dan meinggalkan kami berdua.
Ibuk memang sangat suka dengan sop buah buatan Dewi, aku
sekali, tak terlalu manis dan tak hambar pula, namun aku tau maksud Ibu
menyuruh Dewi untuk membuatkan kami sop buah, dia pasti ingin berbicara berdua
dengan ku sekarang.
“Kemana wanitamu?” Tanya
Ibu kepadaku.
“Aku sedang tak mau
membahasnya Bu,” jawabku.
“Kau bertengkar
dengannya?”
“Tidak Bu, lupakanlah
dia, ku rasa dia juga sudah memiliki seorang lelaki dalam kehidupannya.”
“Kau sedang cemburu?”
ucap Ibu lembut.
“Aku sama sekali tak
cemburu.”
Ibu hanya tersenyum mendengarku mengatakan itu, dia pasti
tau dengan perasaan ku yang sebenarnya.
“Aku tak tahu apa yang
terjadi diantara kalian berdua, tapi aku hanya ingin menyampaikan sesuatu
kepadanmu nak. Jika kau memang mencintai dia, tunjukkanlah kepadanya. Tapi jika
kau tak mencintai dia, tinggalkan dia. Ibu memang suka sekali dengannya, namun
kau tak perlu mengorbankan perasaanmu karena ku,” ucap Ibu dengan hangat.
Perkataan Ibu berhasil membuatku membisu, selama ini aku
tak pernah mengatakan perasaan ku yang sebenarnya terhadap Zulfa kepada Ibu,
tentu saja Ibu berhak mengatakan itu. Sepertinya sekarang saatnya aku
memberitahu Ibu tentang perasaanku yang sebenarnya.
“Aku mencintai dia Bu, tapi
aku tak yakin dia juga mencintaiku,” balasku lirih.
“Kau sudah menjadi pria
yang jujur nak,” ucap Ibu sambil mengarahkan kedua tangannya kepadaku dan aku
mendekatinya, dia memelukku sambil berkata.
“Tunjukkanlah kepadanya, kau
pasti bisa, karena kau adalah anakku dan Ayahmu,” sambil memelukku.
Aku merasakan tetesan air dileherku, sepertinya Ibu
menangis, apa yang membuatnya menangis, apakah aku menyakitinya? Tapi aku tak
tau dimana perkataanku yang menyakitinya. Aku melepaskan pelukan Ibu lalu
melihat wajahnya dan mengusap air matanya. Aku yakin sekali bahwa Ibu sudah tak
tahan menahan segala kesedihan yang ada dalam hatinya, aku mencoba membujuknya
untuk berbicara kepadaku.
__ADS_1
“Berhentilah menyimpan
semuanya sendiri Bu, bicaralah kepadaku.”
“Apa kau membenci Ayahmu?”
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Ibu, aku tak tau
harus menjawab apa, aku sangat membenci Ayahku, namun Ibu pasti sedih jika aku
mengatakannya.
“Tidak Bu.”
“Baguslah nak, suatu saat
nanti kau akan tahu tanpa harus ku ceritakan,” ucap Ibuk meyakinkanku.
Dewi pun datang dengan membawa 3 mangkok sop buah untuk
kami, kami pun berbicara bertiga sambil menghabiskan sop buah kami, seperti
biasa sop buah buatan Dewi sangatlah nikmat, bahkan Ibu sangat memuji Dewi.
Hingga waktu pun sudah menunjukkan pukul 4 sore,
tampaknya aku dan Dewi harus pulang. Setelah sholat ashar aku pun mengajak Dewi
pulang dan pamit dengan Ibu.
“Bu kami pamit pulang
dulu,” ucapku.
“Kau tak menunggu adikmu
pulang dulu? sudah lama kan kau tak bertemu dengannya,” saran Ibu.
“Tidak usah Bu, nanti
kami kemalaman,” balasku datar.
Ibu pun hanya tersenyum, ku rasa dia paham kalau aku dan
adikku tidak terlalu akrab satu sama lain, namun Ibu memaklumi saja, meskipun
hatinya merasa sedih.
“Ya sudah Hati-hati ya.”
“Terima kasih Bun, aku
sangat senang setelah sekian lama akhirnya bisa kesini lagi,” kata Dewi
“Sering-seinglah kesini
sebelum rumah sudah tak milik kita lagi,” balas Ibu sambil tersenyum
“Tentu Bun” jawab Dewi
bersemangat
“Dan selesaikan taman itu
segera Nugy.”
“Tenang saja Bu.”
Lalu aku dan Dewi pun pulang, digerbang aku ber Pas-pasan
dengan mobil alpahrd hitam milik Ibu, kurasa adikku sudah pulang, dia dihantar
jemput oleh Sam supir Ibu. Aku pun merasa aman, dengan dia pulang aku tak perlu
khawatir dengan ibu, karena sudah ada yang menemaninya dirumah.
“Gua ngantuk Gy,” ucap Dewi.
“Yaudah tidur aja, ntar
sampai gua bangunin lu,” balasku
“Mogil gua dikantor,
gimana dong?”
“Yauda biarin aja, gak
akan ilang juga.”
“Seenak mulut lu bicara
aja, gua besok gimana kekantor.”
“Yauda besok gua jemput
lu, kita kekantor bareng.”
“Okelah.”
Lalu aku pun fokus mengendarai mobilku, sedangkan Dewi
memutuskan untuk tidur, pasti dia sangat lelah harus menemaniku seharian. Aku
pun mengecilkan volume audio musik mobilku agar dia bisa tertidur.
Aku tak tau harus bagaimana dengan hidupku, haruskah aku
bersyukur atas apa yang menimpa keluargaku? Atau aku harus meluapkan
kekesalanku atas takdir yang membuat keluarga ku menjadi tempat yang sangat
membuatku menggigil.
Aku melewati jalan yang begitu macet di Hutan Belantara
ini, hingga aku sampai di rumah Dewi yang tak terlalu besar dan tidak kecil
juga, rumah ini terlihat sangat nyaman dilihat, bersih, indah dengan lampu
halamannya yang menambah keindahan rumah ini. Sepertinya aura positif yang
dimiliki Dewi juga tertular terhadap rumahhnya sendiri. Aku membangunkan Dewi
“wi,” sambil mengoyang
tangannya.
Dia pun terbangun, terpancar wajah cantiknya ketika saat
bangun dari tidurnya. Apakah setiap wanita yang baru bangun tidur akan
memancarkan aura kecantikannya? aku juga pernah melihat Zulfa bangun tidur
setelah pulang dari rumah ibuk.
“Udah sampai?” tanya Dewi
yang memecahkan lamunanku.
“I—ya,” jawabku gagap.
“Lu mau masuk dulu?”
“Gua lanjut aja, udah
ngantuk juga gua.”
“Ooh oke.”
“Makasih ya Wi, udah
nemenin gua seharian,” ucapku.
Dia pun hanya mengangguk lalu turun dari mobilku,
“Hati-hati lu.”
Aku hanya membalas dengan senyuman,
lalu aku pun langsung pergi meninggalkan dia dengan mobilku. Aku besok sudah
berjanji menjemput dia untuk kekantor bersama. Rumah Dewi sedikit jauh dari
__ADS_1
rumahku, rumah dia lebih dekat kekantor. namun tetap satu arah, jadi aku tak
harus bolak balik jika harus mengantar jemput dia kerumah.