Belantara

Belantara
KEBENARAN #2 (PART 2)


__ADS_3

Aku


hanya terdiam sepanjang jalan, Dewi pun tak berani mengajakku berbicara, memang


dalam kondisi seperti ini alangkah lebih baiknya tidak mengajak ku berbicara.


Aku


harus bertemu Ibu dan menanyakan apa pendapatnya tentang Ayah yang ingin


menjual rumah ini, rumah ini adalah satu satunya yang tetap membuat Ibu bisa


bertahan sejauh ini mesikpun Ayah jarang pulang. Bagi Ibu rumah itu adalah


nyawa bagi kami semua, tempat untuk kami pulang meski kemanapun kami pergi, dan


sekarang pria itu justru ingin menjual rumah itu, apa yang dia fikirkan? dia


seperti ingin membunuh Ibu secara perlahan.


Aku


tak bisa membiarkan dia menyiksa Ibu terus, aku harus cepat Ibu pasti sedang


sangat sedih sekarang, dia pasti butuh seseorang untuk menemaninya, aku


mengebutkan mobil ku menuju rumahnya.


Sesampainya


disana aku dan Dewi langsung berjalan mencari Ibu kedalam rumah, tampaknya kami


tak perlu mencari Ibu karena dia sudah menyambut kami dengan senyuman khasnya


di meja makan.


            Dewi langsung duluan berjalan menyalam tangan Ibu lalu


disusul dengan aku


“Kalian sudah makan?” Tanya


Ibu.


“Kebetulan sekali belum,


aku boleh ikut makankan Bun?” rengek Dewi.


“Tentu sayang, sini duduk


makan bersamaku,” ajak Ibu sambil senyum.


“Sepertinya anakku sudah


membuat mu kelaparan ya Dewi?” sindir Ibu sambil menatapku.


“Betul sekali Bun, dia


tak seperti bunda, dia sangat tega membuatku kelaparan,” rengek Dewi lagi.


Ibu


hanya tersenyum mendengar perkataan Dewi, lalu menatapku.


“Kau tak ikut makan?”


Tanya Ibu kepadaku.


            Aku hanya mengangguk karena aku pun merasa lapar, dan tak


sempat makan siang.


“Rudy mana Bun?” Tanya Dewi.


“Baru saja dia pergi les,


nampaknya kau tak beruntung bertemu dengan anakku yang satu itu,” balas Ibu.


“Aku sudah lama tak


bertemu dengannya.”


            Ibu hanya tersenyum melihat Dewi sedih karena sudah lama


tak bertemu dengan adikku. Dewi adalah wanita ajaib yang bisa membuat seorang Rudy


adikku yang memiliki sifat dingin bisa berbicara dan tertawa lepas ketika bersamanya.


Bahkan ketika bersama Ibu saja adikku tak pernah seperti itu apa lagi dengan ku


dan Ayah.


            Setelah kami makan Ibu mengajak aku dan Dewi pergi ke


taman belakang rumah, seperti biasa, Ibu sangat suka ketempat itu.


“Wahh, bunga nya semakin


banyak saja Bun,” kata Dewi dengan riang.


“Kamu akan melihat taman


yang lebih indah dari ini Dewi,” kata Ibu.


“Dimana Bun?” Tanya Dewi.


“Sabar saja, Nugy akan


membuat taman itu seperti janjinya kepadaku dan wanitanya,” jawab Ibu sambil


melihat kearahku.


            Bukan Ibu namanya jika lupa dengan janji seseorang apa


lagi janji anaknya sendiri


“Gua boleh ngeliatnya


juga kan Gy,” mohon Dewi.


“Belum selesai Wi,”


kataku santai.


“Emang udah dikerjain?”


Tanya Ibu menggodaku dengan tatapan menyindir


            Aku hanya terdiam bingung tak tau harus menjawab apa, aku


tentu belum menyuruh orang untuk membuat taman itu, Ibu pasti tau betul bahwa


aku suka Bertele-tele dengan waktu.


“Kebiasaannmu selalu menunda-nunda


waktu nak,” sambung Ibu pelan.


“Tenang saja Bu, aku akan


menyelesaikan itu secepatnya.”


            Ibu hanya tersenyum kepadaku. Lalu dia berkata kepada


kami dengan nada yang seakan sedang menyimpan kepedihan yang mendalam.


“Tak pernah terfikirkan


oleh ku untuk kehilangan tempat ini.”


Sepertinya


dia sudah tau bahwa rumah ini akan dijual


“Sebenarnya apa yang dia


fikirkan Bu, kenapa rumah ini harus dijual, jika memang butuh uang aku bisa


membantu Bu?”


“Ibu rasa bukan karena


uang, mungkin itu cara dia agar aku pergi dari rumah ini.”

__ADS_1


“Tapi kenapa haus


dijual?”


“Ibu tak tahu, biarlah


nak, toh rumah ini juga miliknya,” jawab Ibu pelan lalu tersenyum.


            Aku heran kenapa Ibu sangat mudah menyimpan kesedihannya


dihadapanku, dan kenapa wanita seperti Ibu harus selalu di perlakukan seperti


ini oleh pria itu, emosi ku memuncak, kepala ku panas ingin meluapkan semua


kekesalanku terhadap pria itu, aku ingin mengatakan semuanya kepada Ibu tentang


kejadianku ketika bertemu dengan Ayah tadi, agar dia tau bahwa aku sangat


membencinya sekarang. Namun Dewi menatapku lalu memberi kode dengan


menggelengkan kepalanya.


            Tentu saja aku tau maksud dari kode itu, jika aku meluapkannya,


itu justru membuat Ibu semakin sendih, dia sangat sedih jika anaknya menyimpan


kebencian terhadap pria yang ia cintai selama ini. Jadi kuputuskan untuk memendamnya


saja, aku tak mau merusak kondisi hati Ibu hari ini, ku rasa dengan kehadiran


kami itu sudah sedikit mengobati kesedihannya atas apa yang dilakukan oleh pria


yang ku panggil dengan sebutan Ayah selama ini.


“Lalu sudah adakah


pembelinya?” Tanya ku.


“Kau ingat dengan Om Ali


kerabat Ayah yang sangat senang memujimu?”


Aku


mengangguk, tentu saja aku ingat, dia adalah kerabat Ayah yang sangat senang


melihatku, hampir setiap berjumpa denganku dia selalu memuji ku, katanya ada


sesuatu hal yang membuatnya kagum denganku tapi aku tak tahu itu apa, karena


dia enggan mengatakannya saat ku tanya.


“Dia yang akan membeli


rumah ini, namun dia mengatakan tak perlu Terburu-buru, dia mau menunggu sampai


Rudi lulus Sma,” sambung Ibu.


            Aku tak heran, Om Ali adalah kerabat Ayah yang sangat


setia kepadanya, karena Ayah yang membukakan pintu bagi bisnis dia, jadi ku


rasa dia sangat terhutang budi kepada keluarga kami. Ini kabar baik bagiku


karena rumah ini dibeli oleh Om Ali, jadi ada peluang bagiku untuk mendapatkan


rumah ini lagi untuk ku beli.


“Bisakah aku meminta


tolong kepadamu Dewi?” tanya Ibu ditengah pembicaraan kami.


“Tentu Bun.”


“Aku sudah lama tak


merasakan sop buah buatanmu, aku ingin kamu membuatkannya untukku kami,” suruh


Ibuk.


“Baik Bun, dengan senang


hati,” balas Dewi lalu pergi kedalam rumah dan meinggalkan kami berdua.


            Ibuk memang sangat suka dengan sop buah buatan Dewi, aku


sekali, tak terlalu manis dan tak hambar pula, namun aku tau maksud Ibu


menyuruh Dewi untuk membuatkan kami sop buah, dia pasti ingin berbicara berdua


dengan ku sekarang.


“Kemana wanitamu?” Tanya


Ibu kepadaku.


“Aku sedang tak mau


membahasnya Bu,” jawabku.


“Kau bertengkar


dengannya?”


“Tidak Bu, lupakanlah


dia, ku rasa dia juga sudah memiliki seorang lelaki dalam kehidupannya.”


“Kau sedang cemburu?”


ucap Ibu lembut.


“Aku sama sekali tak


cemburu.”


            Ibu hanya tersenyum mendengarku mengatakan itu, dia pasti


tau dengan perasaan ku yang sebenarnya.


“Aku tak tahu apa yang


terjadi diantara kalian berdua, tapi aku hanya ingin menyampaikan sesuatu


kepadanmu nak. Jika kau memang mencintai dia, tunjukkanlah kepadanya. Tapi jika


kau tak mencintai dia, tinggalkan dia. Ibu memang suka sekali dengannya, namun


kau tak perlu mengorbankan perasaanmu karena ku,” ucap Ibu dengan hangat.


            Perkataan Ibu berhasil membuatku membisu, selama ini aku


tak pernah mengatakan perasaan ku yang sebenarnya terhadap Zulfa kepada Ibu,


tentu saja Ibu berhak mengatakan itu. Sepertinya sekarang saatnya aku


memberitahu Ibu tentang perasaanku yang sebenarnya.


“Aku mencintai dia Bu, tapi


aku tak yakin dia juga mencintaiku,” balasku lirih.


“Kau sudah menjadi pria


yang jujur nak,” ucap Ibu sambil mengarahkan kedua tangannya kepadaku dan aku


mendekatinya, dia memelukku sambil berkata.


“Tunjukkanlah kepadanya, kau


pasti bisa, karena kau adalah anakku dan Ayahmu,” sambil memelukku.


            Aku merasakan tetesan air dileherku, sepertinya Ibu


menangis, apa yang membuatnya menangis, apakah aku menyakitinya? Tapi aku tak


tau dimana perkataanku yang menyakitinya. Aku melepaskan pelukan Ibu lalu


melihat wajahnya dan mengusap air matanya. Aku yakin sekali bahwa Ibu sudah tak


tahan menahan segala kesedihan yang ada dalam hatinya, aku mencoba membujuknya


untuk berbicara kepadaku.

__ADS_1


“Berhentilah menyimpan


semuanya sendiri Bu, bicaralah kepadaku.”


“Apa kau membenci Ayahmu?”


            Aku hanya terdiam mendengar perkataan Ibu, aku tak tau


harus menjawab apa, aku sangat membenci Ayahku, namun Ibu pasti sedih jika aku


mengatakannya.


“Tidak Bu.”


“Baguslah nak, suatu saat


nanti kau akan tahu tanpa harus ku ceritakan,” ucap Ibuk meyakinkanku.


            Dewi pun datang dengan membawa 3 mangkok sop buah untuk


kami, kami pun berbicara bertiga sambil menghabiskan sop buah kami, seperti


biasa sop buah buatan Dewi sangatlah nikmat, bahkan Ibu sangat memuji Dewi.


            Hingga waktu pun sudah menunjukkan pukul 4 sore,


tampaknya aku dan Dewi harus pulang. Setelah sholat ashar aku pun mengajak Dewi


pulang dan pamit dengan Ibu.


“Bu kami pamit pulang


dulu,” ucapku.


“Kau tak menunggu adikmu


pulang dulu? sudah lama kan kau tak bertemu dengannya,” saran Ibu.


“Tidak usah Bu, nanti


kami kemalaman,” balasku datar.


            Ibu pun hanya tersenyum, ku rasa dia paham kalau aku dan


adikku tidak terlalu akrab satu sama lain, namun Ibu memaklumi saja, meskipun


hatinya merasa sedih.


“Ya sudah Hati-hati ya.”


“Terima kasih Bun, aku


sangat senang setelah sekian lama akhirnya bisa kesini lagi,” kata Dewi


“Sering-seinglah kesini


sebelum rumah sudah tak milik kita lagi,” balas Ibu sambil tersenyum


“Tentu Bun” jawab Dewi


bersemangat


“Dan selesaikan taman itu


segera Nugy.”


“Tenang saja Bu.”


            Lalu aku dan Dewi pun pulang, digerbang aku ber Pas-pasan


dengan mobil alpahrd hitam milik Ibu, kurasa adikku sudah pulang, dia dihantar


jemput oleh Sam supir Ibu. Aku pun merasa aman, dengan dia pulang aku tak perlu


khawatir dengan ibu, karena sudah ada yang menemaninya dirumah.


“Gua ngantuk Gy,” ucap Dewi.


“Yaudah tidur aja, ntar


sampai gua bangunin lu,” balasku


“Mogil gua dikantor,


gimana dong?”


“Yauda biarin aja, gak


akan ilang juga.”


“Seenak mulut lu bicara


aja, gua besok gimana kekantor.”


“Yauda besok gua jemput


lu, kita kekantor bareng.”


“Okelah.”


            Lalu aku pun fokus mengendarai mobilku, sedangkan Dewi


memutuskan untuk tidur, pasti dia sangat lelah harus menemaniku seharian. Aku


pun mengecilkan volume audio musik mobilku agar dia bisa tertidur.


            Aku tak tau harus bagaimana dengan hidupku, haruskah aku


bersyukur atas apa yang menimpa keluargaku? Atau aku harus meluapkan


kekesalanku atas takdir yang membuat keluarga ku menjadi tempat yang sangat


membuatku menggigil.


            Aku melewati jalan yang begitu macet di Hutan Belantara


ini, hingga aku sampai di rumah Dewi yang tak terlalu besar dan tidak kecil


juga, rumah ini terlihat sangat nyaman dilihat, bersih, indah dengan lampu


halamannya yang menambah keindahan rumah ini. Sepertinya aura positif yang


dimiliki Dewi juga tertular terhadap rumahhnya sendiri. Aku membangunkan Dewi


“wi,” sambil mengoyang


tangannya.


            Dia pun terbangun, terpancar wajah cantiknya ketika saat


bangun dari tidurnya. Apakah setiap wanita yang baru bangun tidur akan


memancarkan aura kecantikannya? aku juga pernah melihat Zulfa bangun tidur


setelah pulang dari rumah ibuk.


“Udah sampai?” tanya Dewi


yang memecahkan lamunanku.


“I—ya,” jawabku gagap.


“Lu mau masuk dulu?”


“Gua lanjut aja, udah


ngantuk juga gua.”


“Ooh oke.”


“Makasih ya Wi, udah


nemenin gua seharian,” ucapku.


            Dia pun hanya mengangguk lalu turun dari mobilku,


“Hati-hati lu.”


            Aku hanya membalas dengan senyuman,


lalu aku pun langsung pergi meninggalkan dia dengan mobilku. Aku besok sudah


berjanji menjemput dia untuk kekantor bersama. Rumah Dewi sedikit jauh dari

__ADS_1


rumahku, rumah dia lebih dekat kekantor. namun tetap satu arah, jadi aku tak


harus bolak balik jika harus mengantar jemput dia kerumah.


__ADS_2