
“Tolonglah Patricia,
hanya kau yang bisa melakukannya.”
“Tidak Nugy, kita tak bisa
membawanya pergi, dia sedang sekarat.”
“Aku hanya ingin memenuhi
keinginannya untuk yang terakhir kalinya.”
“ITU BERBAHAYA,”
bentaknya sambil menepuk meja kerjanya.
Aku hanya terdiam rapuh atas penolakannya. Aku terduduk.
“Justru itu aku meminta tolong
kepadamu, bukankah umur Ayahku sebentar lagi?” tanyaku pelan.
Dia hanya mengangguk dengan berat
“Izinkanlah Ayahku pergi
bersama kami, dan kau pun ikut dengan kami, aku akan melakukan apapun untuk Ayahku,
ini permintaan terahkhirnya untuk menghabiskan waktu bersama kami,” sambung ku
lirih.
Aku hanya terduduk rapuh setelah mengatakan itu, Zulfa
pun menenangkanku dengan menggenggam tanganku dengan erat. Lalu dia berdiri.
“Aku tau jika ini
membahayakan nyawa Ayah. Tapi Patricia!!! Bukanhkah kita sudah sama-sama tahu
bahwa ajal akan sebentar lagi menjemputnya, dan dia juga tau itu, justru karena
itu dia ingin menghabiskan waktunya bersama kami, jika memang disitu adalah
tempat dia bertemu dengan ajalnya, aku rasa Ayah akan senang menerima
kematiannya disaat dia bersama dengan orang orang yang dicintainya,” ucap Zulfa.
Patricia hanya terdiam mnedengar ucapan zulfa barusan.
Aku rasa bidadariku ini berhasil meyakinkan Patricia,
untuk mengizinkan Ayah ikut pergi liburan bersama kami ketanah kelahirannya
yaitu Sumatera Utara.
Ayah meminta kepada kami untuk membawahnya berkunjung
ketanah kelahirannya, dia bilang ingin ziarah kemakam Kakek. Tentunya aku dan
keluarga sangat keberatan, karena itu sangat membahayakan nyawanya, tapi apalah
daya kami ketika sudah berhadapan dengan Ayah, bahkan ditengah kematian yang
menunggunya tak ada satu pun dari kami yang berani membantah keinginannya.
“Baiklah,” ucap Patricia
setuju.
Aku
senang sekali mendengarnya.
“Tapi aku akan langsung
mengambil alih jika kondisinya sudah sangat berbahaya, dan tak ada satu pun
dari kalian yang boleh membantahku,” tegasnya kepada kami.
“Terima kasih Patricia,
dan silahkan, lakukanlah yang menjadi tanggung jawabmu, aku tak akan keberatan,”
balasku sambil berdiri senang.
Lalu aku dan Zulfa pun pergi menuju apartement milik Ayah
untuk memberitahu kabar baik ini.
“Bagaimana kita akan
kesana?” tanya Zulfa, ketika kami dalam perjalanan.
“Tenang saja, aku sudah
mengaturnya, besok pagi kita akan berangkat bersama.”
Aku menatap bidadariku, semakin hari dia semakin cantik
saja, lalu aku mencium bibirnya, dan dia pun membalasnya. Selang 3 menit aku
melepaskannya, dan kembali mengendarai mobilku.
“Akhir-akhir ini kau selalu
saja asal melahapku,” protesnya kesal.
“Aku heran, bibirmu
seperti memiliki magnent untuk menarik bibirku untuk mencicipinya, dan kau pun
istriku, jadi tak ada masalah bukan?” belaku santai.
“Hmm itu terus alasannya,”
ucapnya lalu cemberut.
“Tidak hanya itu,” kataku.
“lalu?” tanyanya.
“Kau semakin hari semakin
cantik, apa karena kau bahagia bersamaku?” tanyaku.
Dia pun mengangguk dan tesenyum kearahku, dan aku
membalas senyumannya.
Kami pun sampai diapartemen milik Ayah, lalu kami
berjalan masuk kedalam. Aku langsung mengabari Ibu untuk mempersiapkan Barang-barang
agar besok pagi kami bisa langsung berangkat kemedan.
“Bagaimana dengan Barang-barang
Ibu?” tanya ku.
“Aku sudah menyiapkannya
Nugy, kamu tenang saja, kami sudah percaya kau pasti bisa menyelesaikan semuanya,
jadi kami juga sudah membereskan barang kami lebih awal sebelum kau memberitahu
kami,” jawab Dewi kepadaku.
Dan Ibu hanya tersenyum, dia mendekat kearahku lalu
mengelus punggungku dengan halus, dan pergi kebalkon Apartemen.
Aku dan Adikku mengikutinya dari belakang.
“Udara disini sangat
berangin bukan?” tanya Ibu kepada kami.
Sepertinya
dia tau kami sedang berada dibelakangnya.
“Iya buk,” jawab Rudy.
“Disini tempat dimana
kamu sering menghisap rokokmu Nugy, sama seperti Ayahmu” ucap Ibuk.
“Apakah kau juga akan
mengikuti Ayah dan Abangmu untuk merokok Rudy?” tanyanya kepada Adikku.
“Tidak bu,” jawabnya.
Lalu Ibu pun diam, aku yakin dia sedang menahan rasa
sedihnya yang sangat dalam, karena sebentar lagi dia akan ditinggal oleh satu-satunya
pria yang dia cintai seumur hidupnya. Aku dan Adikku berjalan mendekatinya dan
memeluknya.
“Aku harus menahan air
mataku jika didepan Ayah kalian, tapi apakah aku harus melakukannya juga
dihadapan kalian?” tanyanya dengan sendu.
“Tidak perlu bu,” balasku
pelan.
Ibu pun mengeluarkan air matanya meskipun dia sedang
tersenyum, angin disini membuat kami nyaman sekali, aku dan adikku tak melepaskan
pelukan kami kepada Ibu.
“Tinggal kalian yang ku
punya,” ucapnya sendu sambil memeluk kami berdua.
Ternyata Zulfa sedari tadi melihat kami dari pintu, dan
dia hanya tersenyum melihat kami bertiga.
“Kemarilah,” Ibu
memanggilnya
Dan Zulfa pun berjalan mendekat kepada kami
“Aku sangat senang kau
sudah menjadi bagian dari keluarga ini,” ucap Ibu pelan sambil memegang kedua tangannya.
Zulfa pun tersenyum namun aku melihat ada air mata yang
mengalir dipipinya. Aku tak tahu karena apa.
“Aku memiliki 3 pria
gagah dalam hidupku, dan satu diantara yang tiga itu akan meninggalkanku, dan
satu nya juga sudah bukan milikku, dia sudah menjadi milikmu, dan satu lagi
nanti juga akan dimiliki oleh orang lain…”
“Kau tau Zulfa? Tak ada
yang lebih menyakitkan jika kau kehilangan satu pun diantaranya. Jadi ku mohon jagalah
dia yang sudah menjadi milikmu sekarang…”
“Dia mungkin akan
merepotkanmu, tapi dia adalah aku, jika nanti dia menyakiti hatimu, ingatlah
bahwa yang melakukan itu adalah aku, karena sebagai Ibu aku lah yang gagal
mengajarinya untuk menjadi lelaki yang baik, dan jika kau menyakitinya,
ingatlah bahwa itu adalah aku,” Sambung Ibu.
Aku terdiam dengan merasa haru yang ada dalam hatiku
setelah mendengar perkataan Ibu, perkataannya selalu menyimpan makna yang
begitu dalam.
“Milikmu akan tetap
menjadi milikmu Bu, dan tak ada satupun yang hilang dari sisimu, justru mereka
yang merasa kehilangan jika Ibu tak berada disisi mereka, jadi ku mohon
tetaplah bersama kami Bu…”
“Aku tak tau bagaimana
menjadi istri yang baik, maka itu aku perlu belajar darimu. Aku juga tak tau
bagaiman menjadi istri yang setia, tapi setelah melihatmu aku sekarang mengerti.
Lalu? Bagaimana bisa aku menyakiti dan disakiti oleh seseorang yang sudah
banyak mengajariku,” balas Zulfa sambil tersenyum.
Lalu mereka berpelukan sambil tersenyum meskipun air mata
mengalir dipipinya.
Aku tak menyangkan bidadari ku bisa berkata seperti itu,
dia gadis yang manja, tetapi dalam suatu waktu aku bisa melihatnya sebagai
wanita yang sangat tangguh sama seperti Ibu.
Zulfa bidadariku, aku
sangat mencintaimu, ucapku dalam hati.
“Kau gadis yang baik,” ucap
Ibu sambil mencium kening bidadariku
Lalu kami pun masuk kedalam, Zulfa tak melepaskan
pelukannya dari ibu, kurasa dia ingin bermanja-manja dengan Ibu, mereka pun
duduk disofa bersama dengan Dewi yang sibuk dengan laptopnya. Sedangkan aku
masuk kedalam kamar Ayah.
Dia tersenyum melihatku, dan aku duduk disampingnya. Aku
tak percaya pria yang sudah banyak mengajariku tentang bagaimana menjadi pria
yang tangguh, gagah dan penuh percaya diri. Kini sedang dalam kondisi yang tak
pernah kubayangkan sama sekali. Aku tersenyum kearahnya sambil menahan rasa
__ADS_1
sakit dihatiku, rasa sakit kepada takdir yang sebentar lagi membawa Ayahku ke Syurga
yang belum bisa digapai oleh anak durhaka seperti ku ini.
“Kita akan berangkat
besok Ayah, aku sudah mempersiapkan semuanya,” ucapku.
Dia hanya tersenyum, sepertinya dia sedang tak bisa
berbicara banyak hari ini, aku pun mencium keningnya lalu bangkit
meninggalkannya. Aku tak kuat jika harus berlama-lama melihat Ayah dalam
kondisi seperti itu.
Aku melihat Ibu, Zulfa, Dewi dan Rudy sedang bercerita.
sungguh aku senang melihatnya, dan mereka pun melihat kearahku, aku hanya
tersenyum kearah mereka, lalu berjalan kebalkon dan mengambil rokokku sebatang
untuk ku hisap.
Aku mengeluarkan ponselku untuk menelfon Rojali agar dia
bisa membawa barang-barang ku dan Zulfa untuk dibawa kemari. Zulfa sudah
mebereskannya sebelum kami menuju rumah sakit untuk menemui Patricia. Aku dan Zulfa memutuskan untuk tidur
disini saja agar tidak terlambat untuk berangkat besok pagi. Karena bandara
lebih dekat dari apartement milik Ayah.
“Lu dimana?” tanyaku
kepada Rojali
“Di café, kenapa?”
“Tolong lu jemput barang-barang
gua dirumah dan anterin keapartement.”
“Ah, kau memang ga pernah
buat aku santai ya, kamprett,” balasnya kesal.
“Gua tunggu,” ucapku lalu
mematikan ponselku.
Aku hanya tersenyum, pasti dia sangat kesal kepadaku.
Aku memiliki banyak teman dalam hidupku, tapi aku sudah
memutuskan untuk menggantungkan hidupku kepada kedua sahabatku itu, pun begitu
dengan mereka yang sudah menggantungkan harapannya kepadaku.
Aku berjanji tak akan membuat
kalian menderita sahabatku, ucapku dalam hati.
Lama aku dibalkon menghisap rokokku, sampai aku tak sadar
bahwa hari sudah mulai gelap, tapi aku merasa nayaman disini, dengan angin yang
begitu lembut menyapu wajahku, sambil memandang Hutan Belantara yang penuh
dengan cahaya dari Bangunan-bangunannya.
“Ayo makan,” ajak Zulfa
yang sudah berdiri dibelakangku.
“Aku tak lapar,” jawabku
pelan.
“Tapi kau harus makan,
tadi siang kau tak makan sama sekali.”
Aku hanya diam dan asik menghisap rokokku.
“Apa aku harus membuang
rokokmu?” tanyanya kesal sambil memegang tanganku.
Aku menatapnya.
“Kau mengkhawatirkan ku?”
tanya ku.
“Tentu, aku khawatir
padamu.”
Aku menatap matanya, disana aku menemukan kejujuran yang
terpancar dari bola matanya, ternyata bidadariku bisa memiliki rasa khawatir
terhadapku. Aku menjadi benar-benar tak pernah tahan ketika harus menatap
matanya yang sedang jujur ini.
Aku pun tersenyum dan mematikan rokokku, lalu mengajaknya
masuk kedalam. Ntah kenapa Tiba-tiba aku merasa lapar, karena memang tadi siang
aku tak makan, dan sekarang hari sudah malam.
Kami pun duduk dimeja makan, Zulfa duduk disampingku, dan
dia memberikan nasi kotak kepadaku. Ibu hanya tersenyum melihat Zulfa yang
sedang melayaniku.
“Ibu tak makan?” tanyaku.
“Kamu terlalu sibuk
dengan rokokmu, sampai kau tak menghiraukan orang yang memanggilmu untuk makan,”
jawab Zulfa marah.
Aku menatapnya heran karena Tiba-tiba marah kepadaku.
“Hahaha rasain lu, kena
marahkan,” ejek Dewi kepadaku.
“Kami sudah makan nak,
dari tadi adikkmu sudah memangajakmu untuk makan tapi kau tak menghiraukannya.”
Aku hanya terdiam menatap Rudy, aku benar-benar tak sadar
jika dia memang memanggilku dari tadi.
“Sepertinya kau tak bisa
melakukan itu jika sudah istrimu yang turun tangan,” sambung Ibu sambil
tersenyum lebar.
Aku pun memakan nasiku dan melihat Zulfa yang juga ikut
makan disampingku.
“Kau belum makan ternyata,”
“Diamlah,” ucapnya kesal.
Aku tak berkutik meliha bidadariku menjadi marah kepadaku.
“Hahahaha,” seisi ruangan
tertawa melihat aku yang kena marah oleh Zulfa.
Aku menjadi malu, tapi tak begitu ku hiraukan. Jadi ku
putuskan untuk menghabiskan nasiku saja.
Setelah selesai makan, Zulfa mebereskan bekas makan kami,
dan aku masih duduk dimeja makan, lalu Dewi datang mendekat kepadaku.
“Istri lu nungguin lu
dari tadi untuk makan, kayanya dia udah lapar banget, jadi yang sabar ya,” ejek
Dewi kepadaku.
“Lu sih bang, ngerokok
mulu, peka dikit napa,” sambung adikku meledekku.
Aku baru tau, ternyata Zulfa tak ikut makan dengan mereka
karena dia menunggu aku untuk makan. Pantas saja dia marah kepadaku, tadi siang
pun aku lupa mengajaknya makan siang. Sepertinya aku memang harus lebih peka terhadapnya.
Aku memutuskan menyusulnya kedapur untuk meminta maaf
kepadanya.
“Maafkan aku,” ucapku
pelan.
Dia hanya diam tak meresponku.
Aku mematikan keran westafel pencuci piring, lalu merain
tangannya.
“Aku benar-benar minta
maaf,” ucapku sambil menatapnya sayu.
Dia hanya diam sambil menatapku.
“Kau selalu
mengkhawatirkan aku, sedangkan aku tak pernah melakukan itu padamu,” sambungku.
“Aku tak perlu kau
khawatirkan, cukup khawatirkan dirimu sendi—”
Aku mencium bibir manisnya sebelum dia menyelesaikan
kalimatnya, dia pun membalas ciumanku. Lalu aku melepaskannya
“Kau kebiasaan,” ucapnya
kesal sambil memukul dadaku.
“Hahaha kau juga
menikmatinya Zulfa,” jawabku dengan menggodanya.
“Sudah, pergilah. Aku
sedang mencuci piring,” balasnya sambil menghidupkan kerannya.
Aku hanya berdiri disampingnya, aku melihat bidadariku
yang sedang asik mencuci piring.
Kau memang wanita yang
sempurna sayang, hatiku berkata.
“Sampai kapan kau akan
menatapku,” ucapnya sambil membersihkan tangannya.
“Aku tak akan berhenti
menatapmu, kau sangat cantik,” balasku menggodanya.
Dia hanya tersipu malu mendengar ucapanku.
“Tak usah menggodaku.”
“Hahaha, kau lucu jika
sedang malu-malu begini,” balasku sambil menatapnya penuh nafsu.
Dia pun terdiam dan menatapku, kami saling bertatapan.
“Hentikan itu Nugy,
tatapanmu mengerikan,” ucapnya sambil memukul dadaku.
“hahaha aku
menginginkannya Zulfa,” pintaku kepadanya.
“Kau tak akan
mendapatkannya malam ini.”
“Lalu? kapan aku bisa
mendapatkannya?” tanyaku pelan
“Ya aku tak tau, aku
belum siap,” jawabnya malu-malu.
Aku hanya tersenyum, aku harus memakluminya, semua ini
terlalu cepat, aku pun terlalu egois jika memaksakan kehendakku, kurasa biarlah
istriku dapat menerima status pernikahan kami dulu. Toh dia juga tak akan
kemana-mana, karena diadalah istriku.
Kami pun berjalan keruang tamu, ketempat dimana Ibu, Rudi
dan Dewi berkumpul. Mereka sedang berbicara sambil tertawa kecil, aku puas
melihat Ibu ku bisa tertawa disaat begini. Dewi memang selalu bisa menghibur
siapapun yang sedang dalam kondisi titik terendah dalam hidupnya, aku bahkan
tak pernah melihat Dewi berada dalam titik terendah dalam hidupnya.
“Barang-barang kalian bagaimana?”
tanya Ibu kepada kami.
“Zulfa sudah mengemasnya,
dan sebentar lagi akan ada yang mengantarnya kesini,” jawabku.
__ADS_1
Tak lama aku menjawabnya, tiba-tiba ada yang mengetuk
pintu apartemen, lalu adikku membukakan pintu, dan ternyata si Anak Ajaib
panjang umur.
“Tuh kan udah sampai,” ucapku
santai sambil menunjuk Rojali yang datang membawa barang barangku dan Zulfa.
“Lama banget,” sambungku.
“Diem kau,” balasnya
kesal.
Kami pun hanya tertawa melihat kekesalannya itu, aku
memang sengaja makin membuat dia kesal, karena dia sangat lucu dengan ekspresi
kesalnya itu.
“Nugy, kau merepotkan dia
terus,” ucap Ibu lembut kepadaku.
“Tau nih,” sambung Zulfa
sambil menepuk tanganku.
“Dia kok yang mau, lagian
aku belum selesai bicara ponselnya malah dimatiin,” kataku membela diri.
“Apa kau bilang?” protes Rojali
Aku hanya diam menatapnya merasa tak bersalah.
“Jangan sok merasa gak
bersalah kau ya. kau kan yang matikan telfon itu tadi,” sambungnya
Sontak kami pun tertawa melihat dia yang semakin kesal.
“Aku lagi asik-asik
ngobrol sama cewek, kau malah datang nyuruh-nyuruh, malah kau matikan telfonnya,”
cerewetnya dengan kesal.
“Eleeeh, paling tuh cewek
juga pengen lu cepet-cepetan pergi,” balas Dewi meledeknya.
Kami pun tertawa lagi, Dewi terlalu jujur, Rojali memang
sangat sering mendekati cewek namun tak ada satu pun yang suka dengan
kehadirannya. Bagaimana tidak, dia terlalu agresif dengan wanita yang baru
kenal dengannya.
“Sudah-sudah,” ucap Ibuk
menengahi.
“Kamu makan sana, di meja
ada nasi untukmu,” sambung Ibu menyuruhnya makan.
“Nahh ginikan sedappp,”
balasnya sambil berjalan menuju meja makan.
Aku pun mengikutinya kemeja makan, dan Zulfa menyusulku
seakan tak mau lepas dariku.
“Kayanya lu seneng banget,”
ucapku kepadanya.
“Gigi kau itu senang, aku
kesal bangsat,” balasnya sambil makan
“Uhuk uhukk” dia tersedak
dan sontak membuatku dan Zulfa tertawa.
“Jangan memanas-manasi
dia Nugy, dia sedang makan,” Zulfa menasehatiku sambil memberinya segelas air
putih.
Bidadariku sangat cekatan jadi orang, bahkan seorang Rojali
pun mendapatkan perhatian darinya. Rojali meminum air yang diberikan oleh zulfa.
“Tau tuh, suka kali
memang dia negerjai pria rapuh kaya aku,” balasnya bangga.
“Hahahaa, sudah-sudah.
Makanlah,” suruh Zulfa.
Aku berdiri dan pergi kebalkon meninggalkan mereka
berdua. namun Zulfa memanggilku.
“Mau kemana?”
“Ngerokok,” jawabku santai.
“Oooh, yasudah,” balasnya
Sepertinya bidadariku memang tak ingin aku pergi jauh
darinya malam ini, aku pun keluar untuk merokok. Angin malam ini sangat tenang,
di Hutan Belantar ini, hanya dibalkon apartmen ini aku bisa menemukannya.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengambil bungkus rokokku
dari kantong celanaku, ini membuat ku terkejut, setelah ku lihat ternyata
bidadariku.
“Sepertinya enak jika aku
menghisapnya,” ucapnya.
Aku mengeryitkan dahi ku.
“Bagaimana menurutmu?”
sambungnya.
“Jangan,” jawabku tegas.
“Lalu jika aku melarangmu
juga, apa kau tak akan menghisapnya?” balasnya padaku.
Aku hanya terdiam, aku mengerti maksudnya.
“Ayahmu sangat sehat
disaat dia seusia denganmu sekarang, namun kini diusianya yang baru 50 tahun,
dia justru tergeletak tak berdaya melawan penyakitnya…”
“Kau ingin seperti itu?”
tanyanya kepadaku.
Tentu aku tau apa maksudnya, namun mana mungkin aku bisa
berhenti, jadi aku memutuskan mengelak saja
“Itu tak ada hubungannya,”
protesku.
“Lalu kau fikir apa
penyebab dia bisa seperti ini?” tanyanya lagi.
“Itu sudah takdirnya Zulfa,”
belaku.
“Apakah kau yakin
takdirmu akan berbeda dengannya?”
Aku hanya terdiam, mana mungkin aku bisa menjawabnya, dia
memang sangat pandai membuatku terdiam.
“Aku tidak menyuruhmu
berhenti, namun apakah kau sanggup membuat nasibku sama dengan Ibumu?” tanyanya
lagi.
Aku menggeleng dan terdiam
“Aku ingin kau belajar
menghargai nyawamu,” ucapnya lembut menatapku sambil memegang wajahku dengan
kedua tangannya.
Aku terdiam dan mendekatkan wajahku kewajahnya, aku ingin
mencium bibirnya, namun dia mendorongku.
“Kau sudah berjanji tak
akan menciumku saat sedang merokok Nugy,” ucapnya kesal
“Hahaha maaf, aku hampir
lupa, lagian siapa suruh kau menggodaku,” jawabku santai.
“Yasudah aku kedalam
dulu, aku mau mandi, jangan lupa kau membersihkan badanmu,” ucapnya
mengingatkanku.
Dia pun masuk kedalam dan meninggalkanku sendirian.
Setelah aku menghabiskan rokokku, aku pun masuk kedalam,
aku melihat Rojali sedang berbicara dengan Rudy adikku, sedangkan bidadariku
sedang berbicara dengan Dewi dan Ibu. Mereka adalah orang orang yang aku
sayangi. Aku mendekati Rojali dan adikku.
“Lu gak pulang?” tanyaku
pada Rojali.
“Kok ngusir?” tanyanya
lagi.
“Iya, lu brisik sih,
lagian biar semuanya bisa istirahat, besok pagi pada harus berangkat,” jawabku
santai.
“Yaudalah, kalau gitu aku
pulang.”
“Sekalian lu anter Dewi
pulang kerumahnya,” suruhku.
“Manja kali, pakai
diantar-antar pula,” kesalnya kepadaku
“Yeeee, parah banget lu”
protes Dewi.
“Rojaliii,” Ibu
mengkodenya lembut.
“Ia bun, aku cuma
bercanda,” jawabnya pelan.
Kami pun hanya tertawa
“Yauda kami pulang dulu
ya,” ucapnya pamit kepada kami.
Mereka berdua pun pulang kerumah Masing-masing. Aku
menyarankan Ibu dan Rudy istirahat, lalu aku masuk kekamar dan disusul oleh Zulfa.
Apartement ini hanya memiliki 3 kamar didalamnya. Aku tentu bersama istriku,
dan ibu bersama ayah, sedangkan Adikku dikamar satunya lagi.
Aku pun membersihkan badanku lalu memakai baju tidurku
yang disiapkan oleh Zulfa bidadariku, besok kami akan berangkat kemedan bersama
Ayah, Ibu, Rudi, Aku, Zulfa, Patricia dan pria berbaju batik yang bersama Ayah
waktu itu, aku belum mengenalnya sama sekali.
Sedangkan
Rojali dan Dewi harus tinggal untuk menggantikanku menghandle pekerjaan disini.
Aku berharap semoga saja tidak akan terjadi apa-apa kepada kami terutama nanti
Ayah.
“Tidurlah,” Zulfa
menyuruhku.
Aku hanya tersenyum sambil
memeluknya, dia tampaknya tak keberatan. Betapa bahagianya aku memilikinya. Aku
berjanji akan membahagiakannya selamanya. Aku pun memejamkan mataku lalu kami
__ADS_1
tertidur.