Belantara

Belantara
PRIA GAGAH ITU PERGI (PART 1)


__ADS_3

“Tolonglah Patricia,


hanya kau yang bisa melakukannya.”


“Tidak Nugy, kita tak bisa


membawanya pergi, dia sedang sekarat.”


“Aku hanya ingin memenuhi


keinginannya untuk yang terakhir kalinya.”


“ITU BERBAHAYA,”


bentaknya sambil menepuk meja kerjanya.


            Aku hanya terdiam rapuh atas penolakannya. Aku terduduk.


“Justru itu aku meminta tolong


kepadamu, bukankah umur Ayahku sebentar lagi?” tanyaku pelan.


            Dia hanya mengangguk dengan berat


“Izinkanlah Ayahku pergi


bersama kami, dan kau pun ikut dengan kami, aku akan melakukan apapun untuk Ayahku,


ini permintaan terahkhirnya untuk menghabiskan waktu bersama kami,” sambung ku


lirih.


            Aku hanya terduduk rapuh setelah mengatakan itu, Zulfa


pun menenangkanku dengan menggenggam tanganku dengan erat. Lalu dia berdiri.


“Aku tau jika ini


membahayakan nyawa Ayah. Tapi Patricia!!! Bukanhkah kita sudah sama-sama tahu


bahwa ajal akan sebentar lagi menjemputnya, dan dia juga tau itu, justru karena


itu dia ingin menghabiskan waktunya bersama kami, jika memang disitu adalah


tempat dia bertemu dengan ajalnya, aku rasa Ayah akan senang menerima


kematiannya disaat dia bersama dengan orang orang yang dicintainya,” ucap Zulfa.


            Patricia hanya terdiam mnedengar ucapan zulfa barusan.


            Aku rasa bidadariku ini berhasil meyakinkan Patricia,


untuk mengizinkan Ayah ikut pergi liburan bersama kami ketanah kelahirannya


yaitu Sumatera Utara.


            Ayah meminta kepada kami untuk membawahnya berkunjung


ketanah kelahirannya, dia bilang ingin ziarah kemakam Kakek. Tentunya aku dan


keluarga sangat keberatan, karena itu sangat membahayakan nyawanya, tapi apalah


daya kami ketika sudah berhadapan dengan Ayah, bahkan ditengah kematian yang


menunggunya tak ada satu pun dari kami yang berani membantah keinginannya.


“Baiklah,” ucap Patricia


setuju.


Aku


senang sekali mendengarnya.


“Tapi aku akan langsung


mengambil alih jika kondisinya sudah sangat berbahaya, dan tak ada satu pun


dari kalian yang boleh membantahku,” tegasnya kepada kami.


“Terima kasih Patricia,


dan silahkan, lakukanlah yang menjadi tanggung jawabmu, aku tak akan keberatan,”


balasku sambil berdiri senang.


            Lalu aku dan Zulfa pun pergi menuju apartement milik Ayah


untuk memberitahu kabar baik ini.


“Bagaimana kita akan


kesana?” tanya Zulfa, ketika kami dalam perjalanan.


“Tenang saja, aku sudah


mengaturnya, besok pagi kita akan berangkat bersama.”


            Aku menatap bidadariku, semakin hari dia semakin cantik


saja, lalu aku mencium bibirnya, dan dia pun membalasnya. Selang 3 menit aku


melepaskannya, dan kembali mengendarai mobilku.


“Akhir-akhir ini kau selalu


saja asal melahapku,” protesnya kesal.


“Aku heran, bibirmu


seperti memiliki magnent untuk menarik bibirku untuk mencicipinya, dan kau pun


istriku, jadi tak ada masalah bukan?” belaku santai.


“Hmm itu terus alasannya,”


ucapnya lalu cemberut.


“Tidak hanya itu,” kataku.


“lalu?” tanyanya.


“Kau semakin hari semakin


cantik, apa karena kau bahagia bersamaku?” tanyaku.


            Dia pun mengangguk dan tesenyum kearahku, dan aku


membalas senyumannya.


            Kami pun sampai diapartemen milik Ayah, lalu kami


berjalan masuk kedalam. Aku langsung mengabari Ibu untuk mempersiapkan Barang-barang


agar besok pagi kami bisa langsung berangkat kemedan.


“Bagaimana dengan Barang-barang


Ibu?” tanya ku.


“Aku sudah menyiapkannya


Nugy, kamu tenang saja, kami sudah percaya kau pasti bisa menyelesaikan semuanya,


jadi kami juga sudah membereskan barang kami lebih awal sebelum kau memberitahu


kami,” jawab Dewi kepadaku.


            Dan Ibu hanya tersenyum, dia mendekat kearahku lalu


mengelus punggungku dengan halus, dan pergi kebalkon Apartemen.


            Aku dan Adikku mengikutinya dari belakang.


“Udara disini sangat


berangin bukan?” tanya Ibu kepada kami.


Sepertinya


dia tau kami sedang berada dibelakangnya.


“Iya buk,” jawab Rudy.


“Disini tempat dimana


kamu sering menghisap rokokmu Nugy, sama seperti Ayahmu” ucap Ibuk.


“Apakah kau juga akan


mengikuti Ayah dan Abangmu untuk merokok Rudy?” tanyanya kepada Adikku.


“Tidak bu,” jawabnya.


            Lalu Ibu pun diam, aku yakin dia sedang menahan rasa


sedihnya yang sangat dalam, karena sebentar lagi dia akan ditinggal oleh satu-satunya


pria yang dia cintai seumur hidupnya. Aku dan Adikku berjalan mendekatinya dan


memeluknya.


“Aku harus menahan air


mataku jika didepan Ayah kalian, tapi apakah aku harus melakukannya juga


dihadapan kalian?” tanyanya dengan sendu.


“Tidak perlu bu,” balasku


pelan.


            Ibu pun mengeluarkan air matanya meskipun dia sedang


tersenyum, angin disini membuat kami nyaman sekali, aku dan adikku tak melepaskan


pelukan kami kepada Ibu.


“Tinggal kalian yang ku


punya,” ucapnya sendu sambil memeluk kami berdua.


            Ternyata Zulfa sedari tadi melihat kami dari pintu, dan


dia hanya tersenyum melihat kami bertiga.


“Kemarilah,” Ibu


memanggilnya


            Dan Zulfa pun berjalan mendekat kepada kami


“Aku sangat senang kau


sudah menjadi bagian dari keluarga ini,” ucap Ibu pelan sambil memegang kedua tangannya.


            Zulfa pun tersenyum namun aku melihat ada air mata yang


mengalir dipipinya. Aku tak tahu karena apa.


“Aku memiliki 3 pria


gagah dalam hidupku, dan satu diantara yang tiga itu akan meninggalkanku, dan


satu nya juga sudah bukan milikku, dia sudah menjadi milikmu, dan satu lagi


nanti juga akan dimiliki oleh orang lain…”


“Kau tau Zulfa? Tak ada


yang lebih menyakitkan jika kau kehilangan satu pun diantaranya. Jadi ku mohon jagalah


dia yang sudah menjadi milikmu sekarang…”


“Dia mungkin akan


merepotkanmu, tapi dia adalah aku, jika nanti dia menyakiti hatimu, ingatlah


bahwa yang melakukan itu adalah aku, karena sebagai Ibu aku lah yang gagal


mengajarinya untuk menjadi lelaki yang baik, dan jika kau menyakitinya,


ingatlah bahwa itu adalah aku,” Sambung Ibu.


            Aku terdiam dengan merasa haru yang ada dalam hatiku


setelah mendengar perkataan Ibu, perkataannya selalu menyimpan makna yang


begitu dalam.


“Milikmu akan tetap


menjadi milikmu Bu, dan tak ada satupun yang hilang dari sisimu, justru mereka


yang merasa kehilangan jika Ibu tak berada disisi mereka, jadi ku mohon


tetaplah bersama kami Bu…”


“Aku tak tau bagaimana


menjadi istri yang baik, maka itu aku perlu belajar darimu. Aku juga tak tau


bagaiman menjadi istri yang setia, tapi setelah melihatmu aku sekarang mengerti.


Lalu? Bagaimana bisa aku menyakiti dan disakiti oleh seseorang yang sudah


banyak mengajariku,” balas Zulfa sambil tersenyum.


            Lalu mereka berpelukan sambil tersenyum meskipun air mata


mengalir dipipinya.


            Aku tak menyangkan bidadari ku bisa berkata seperti itu,


dia gadis yang manja, tetapi dalam suatu waktu aku bisa melihatnya sebagai


wanita yang sangat tangguh sama seperti Ibu.


Zulfa bidadariku, aku


sangat mencintaimu, ucapku dalam hati.


“Kau gadis yang baik,” ucap


Ibu sambil mencium kening bidadariku


            Lalu kami pun masuk kedalam, Zulfa tak melepaskan


pelukannya dari ibu, kurasa dia ingin bermanja-manja dengan Ibu, mereka pun


duduk disofa bersama dengan Dewi yang sibuk dengan laptopnya. Sedangkan aku


masuk kedalam kamar Ayah.


            Dia tersenyum melihatku, dan aku duduk disampingnya. Aku


tak percaya pria yang sudah banyak mengajariku tentang bagaimana menjadi pria


yang tangguh, gagah dan penuh percaya diri. Kini sedang dalam kondisi yang tak


pernah kubayangkan sama sekali. Aku tersenyum kearahnya sambil menahan rasa

__ADS_1


sakit dihatiku, rasa sakit kepada takdir yang sebentar lagi membawa Ayahku ke Syurga


yang belum bisa digapai oleh anak durhaka seperti ku ini.


“Kita akan berangkat


besok Ayah, aku sudah mempersiapkan semuanya,” ucapku.


            Dia hanya tersenyum, sepertinya dia sedang tak bisa


berbicara banyak hari ini, aku pun mencium keningnya lalu bangkit


meninggalkannya. Aku tak kuat jika harus berlama-lama melihat Ayah dalam


kondisi seperti itu.


            Aku melihat Ibu, Zulfa, Dewi dan Rudy sedang bercerita.


sungguh aku senang melihatnya, dan mereka pun melihat kearahku, aku hanya


tersenyum kearah mereka, lalu berjalan kebalkon dan mengambil rokokku sebatang


untuk ku hisap.


            Aku mengeluarkan ponselku untuk menelfon Rojali agar dia


bisa membawa barang-barang ku dan Zulfa untuk dibawa kemari. Zulfa sudah


mebereskannya sebelum kami menuju rumah sakit untuk menemui Patricia.            Aku dan Zulfa memutuskan untuk tidur


disini saja agar tidak terlambat untuk berangkat besok pagi. Karena bandara


lebih dekat dari apartement milik Ayah.


“Lu dimana?” tanyaku


kepada Rojali


“Di café, kenapa?”


“Tolong lu jemput barang-barang


gua dirumah dan anterin keapartement.”


“Ah, kau memang ga pernah


buat aku santai ya, kamprett,” balasnya kesal.


“Gua tunggu,” ucapku lalu


mematikan ponselku.


            Aku hanya tersenyum, pasti dia sangat kesal kepadaku.


            Aku memiliki banyak teman dalam hidupku, tapi aku sudah


memutuskan untuk menggantungkan hidupku kepada kedua sahabatku itu, pun begitu


dengan mereka yang sudah menggantungkan harapannya kepadaku.


Aku berjanji tak akan membuat


kalian menderita sahabatku, ucapku dalam hati.


            Lama aku dibalkon menghisap rokokku, sampai aku tak sadar


bahwa hari sudah mulai gelap, tapi aku merasa nayaman disini, dengan angin yang


begitu lembut menyapu wajahku, sambil memandang Hutan Belantara yang penuh


dengan cahaya dari Bangunan-bangunannya.


“Ayo makan,” ajak Zulfa


yang sudah berdiri dibelakangku.


“Aku tak lapar,” jawabku


pelan.


“Tapi kau harus makan,


tadi siang kau tak makan sama sekali.”


            Aku hanya diam dan asik menghisap rokokku.


“Apa aku harus membuang


rokokmu?” tanyanya kesal sambil memegang tanganku.


            Aku menatapnya.


“Kau mengkhawatirkan ku?”


tanya ku.


“Tentu, aku khawatir


padamu.”


            Aku menatap matanya, disana aku menemukan kejujuran yang


terpancar dari bola matanya, ternyata bidadariku bisa memiliki rasa khawatir


terhadapku. Aku menjadi benar-benar tak pernah tahan ketika harus menatap


matanya yang sedang jujur ini.


            Aku pun tersenyum dan mematikan rokokku, lalu mengajaknya


masuk kedalam. Ntah kenapa Tiba-tiba aku merasa lapar, karena memang tadi siang


aku tak makan, dan sekarang hari sudah malam.


            Kami pun duduk dimeja makan, Zulfa duduk disampingku, dan


dia memberikan nasi kotak kepadaku. Ibu hanya tersenyum melihat Zulfa yang


sedang melayaniku.


“Ibu tak makan?” tanyaku.


“Kamu terlalu sibuk


dengan rokokmu, sampai kau tak menghiraukan orang yang memanggilmu untuk makan,”


jawab Zulfa marah.


            Aku menatapnya heran karena Tiba-tiba marah kepadaku.


“Hahaha rasain lu, kena


marahkan,” ejek Dewi kepadaku.


“Kami sudah makan nak,


dari tadi adikkmu sudah memangajakmu untuk makan tapi kau tak menghiraukannya.”


            Aku hanya terdiam menatap Rudy, aku benar-benar tak sadar


jika dia memang memanggilku dari tadi.


“Sepertinya kau tak bisa


melakukan itu jika sudah istrimu yang turun tangan,” sambung Ibu sambil


tersenyum lebar.


            Aku pun memakan nasiku dan melihat Zulfa yang juga ikut


makan disampingku.


“Kau belum makan ternyata,”


“Diamlah,” ucapnya kesal.


            Aku tak berkutik meliha bidadariku menjadi marah kepadaku.


“Hahahaha,” seisi ruangan


tertawa melihat aku yang kena marah oleh Zulfa.


            Aku menjadi malu, tapi tak begitu ku hiraukan. Jadi ku


putuskan untuk menghabiskan nasiku saja.


            Setelah selesai makan, Zulfa mebereskan bekas makan kami,


dan aku masih duduk dimeja makan, lalu Dewi datang mendekat kepadaku.


“Istri lu nungguin lu


dari tadi untuk makan, kayanya dia udah lapar banget, jadi yang sabar ya,” ejek


Dewi kepadaku.


“Lu sih bang, ngerokok


mulu, peka dikit napa,” sambung adikku meledekku.


            Aku baru tau, ternyata Zulfa tak ikut makan dengan mereka


karena dia menunggu aku untuk makan. Pantas saja dia marah kepadaku, tadi siang


pun aku lupa mengajaknya makan siang. Sepertinya aku memang harus lebih peka terhadapnya.


            Aku memutuskan menyusulnya kedapur untuk meminta maaf


kepadanya.


“Maafkan aku,” ucapku


pelan.


            Dia hanya diam tak meresponku.


            Aku mematikan keran westafel pencuci piring, lalu merain


tangannya.


“Aku benar-benar minta


maaf,” ucapku sambil menatapnya sayu.


            Dia hanya diam sambil menatapku.


“Kau selalu


mengkhawatirkan aku, sedangkan aku tak pernah melakukan itu padamu,” sambungku.


“Aku tak perlu kau


khawatirkan, cukup khawatirkan dirimu sendi—”


            Aku mencium bibir manisnya sebelum dia menyelesaikan


kalimatnya, dia pun membalas ciumanku. Lalu aku melepaskannya


“Kau kebiasaan,” ucapnya


kesal sambil memukul dadaku.


“Hahaha kau juga


menikmatinya Zulfa,” jawabku dengan menggodanya.


“Sudah, pergilah. Aku


sedang mencuci piring,” balasnya sambil menghidupkan kerannya.


            Aku hanya berdiri disampingnya, aku melihat bidadariku


yang sedang asik mencuci piring.


Kau memang wanita yang


sempurna sayang, hatiku berkata.


“Sampai kapan kau akan


menatapku,” ucapnya sambil membersihkan tangannya.


“Aku tak akan berhenti


menatapmu, kau sangat cantik,” balasku menggodanya.


            Dia hanya tersipu malu mendengar ucapanku.


“Tak usah menggodaku.”


“Hahaha, kau lucu jika


sedang malu-malu begini,” balasku sambil menatapnya penuh nafsu.


            Dia pun terdiam dan menatapku, kami saling bertatapan.


“Hentikan itu Nugy,


tatapanmu mengerikan,” ucapnya sambil memukul dadaku.


“hahaha aku


menginginkannya Zulfa,” pintaku kepadanya.


“Kau tak akan


mendapatkannya malam ini.”


“Lalu? kapan aku bisa


mendapatkannya?” tanyaku pelan


“Ya aku tak tau, aku


belum siap,” jawabnya malu-malu.


            Aku hanya tersenyum, aku harus memakluminya, semua ini


terlalu cepat, aku pun terlalu egois jika memaksakan kehendakku, kurasa biarlah


istriku dapat menerima status pernikahan kami dulu. Toh dia juga tak akan


kemana-mana, karena diadalah istriku.


            Kami pun berjalan keruang tamu, ketempat dimana Ibu, Rudi


dan Dewi berkumpul. Mereka sedang berbicara sambil tertawa kecil, aku puas


melihat Ibu ku bisa tertawa disaat begini. Dewi memang selalu bisa menghibur


siapapun yang sedang dalam kondisi titik terendah dalam hidupnya, aku bahkan


tak pernah melihat Dewi berada dalam titik terendah dalam hidupnya.


“Barang-barang kalian bagaimana?”


tanya Ibu kepada kami.


“Zulfa sudah mengemasnya,


dan sebentar lagi akan ada yang mengantarnya kesini,” jawabku.

__ADS_1


            Tak lama aku menjawabnya, tiba-tiba ada yang mengetuk


pintu apartemen, lalu adikku membukakan pintu, dan ternyata si Anak Ajaib


panjang umur.


“Tuh kan udah sampai,” ucapku


santai sambil menunjuk Rojali yang datang membawa barang barangku dan Zulfa.


“Lama banget,” sambungku.


“Diem kau,” balasnya


kesal.


            Kami pun hanya tertawa melihat kekesalannya itu, aku


memang sengaja makin membuat dia kesal, karena dia sangat lucu dengan ekspresi


kesalnya itu.


“Nugy, kau merepotkan dia


terus,” ucap Ibu lembut kepadaku.


“Tau nih,” sambung Zulfa


sambil menepuk tanganku.


“Dia kok yang mau, lagian


aku belum selesai bicara ponselnya malah dimatiin,” kataku membela diri.


“Apa kau bilang?” protes Rojali


            Aku hanya diam menatapnya merasa tak bersalah.


“Jangan sok merasa gak


bersalah kau ya. kau kan yang matikan telfon itu tadi,” sambungnya


            Sontak kami pun tertawa melihat dia yang semakin kesal.


“Aku lagi asik-asik


ngobrol sama cewek, kau malah datang nyuruh-nyuruh, malah kau matikan telfonnya,”


cerewetnya dengan kesal.


“Eleeeh, paling tuh cewek


juga pengen lu cepet-cepetan pergi,” balas Dewi meledeknya.


            Kami pun tertawa lagi, Dewi terlalu jujur, Rojali memang


sangat sering mendekati cewek namun tak ada satu pun yang suka dengan


kehadirannya. Bagaimana tidak, dia terlalu agresif dengan wanita yang baru


kenal dengannya.


“Sudah-sudah,” ucap Ibuk


menengahi.


“Kamu makan sana, di meja


ada nasi untukmu,” sambung Ibu menyuruhnya makan.


“Nahh ginikan sedappp,”


balasnya sambil berjalan menuju meja makan.


            Aku pun mengikutinya kemeja makan, dan Zulfa menyusulku


seakan tak mau lepas dariku.


“Kayanya lu seneng banget,”


ucapku kepadanya.


“Gigi kau itu senang, aku


kesal bangsat,” balasnya sambil makan


“Uhuk uhukk” dia tersedak


dan sontak membuatku dan Zulfa tertawa.


“Jangan memanas-manasi


dia Nugy, dia sedang makan,” Zulfa menasehatiku sambil memberinya segelas air


putih.


            Bidadariku sangat cekatan jadi orang, bahkan seorang Rojali


pun mendapatkan perhatian darinya. Rojali meminum air yang diberikan oleh zulfa.


“Tau tuh, suka kali


memang dia negerjai pria rapuh kaya aku,” balasnya bangga.


“Hahahaa, sudah-sudah.


Makanlah,” suruh Zulfa.


            Aku berdiri dan pergi kebalkon meninggalkan mereka


berdua. namun Zulfa memanggilku.


“Mau kemana?”


“Ngerokok,” jawabku santai.


“Oooh, yasudah,” balasnya


            Sepertinya bidadariku memang tak ingin aku pergi jauh


darinya malam ini, aku pun keluar untuk merokok. Angin malam ini sangat tenang,


di Hutan Belantar ini, hanya dibalkon apartmen ini aku bisa menemukannya.


            Tiba-tiba ada seseorang yang mengambil bungkus rokokku


dari kantong celanaku, ini membuat ku terkejut, setelah ku lihat ternyata


bidadariku.


“Sepertinya enak jika aku


menghisapnya,” ucapnya.


            Aku mengeryitkan dahi ku.


“Bagaimana menurutmu?”


sambungnya.


“Jangan,” jawabku tegas.


“Lalu jika aku melarangmu


juga, apa kau tak akan menghisapnya?” balasnya padaku.


            Aku hanya terdiam, aku mengerti maksudnya.


“Ayahmu sangat sehat


disaat dia seusia denganmu sekarang, namun kini diusianya yang baru 50 tahun,


dia justru tergeletak tak berdaya melawan penyakitnya…”


“Kau ingin seperti itu?”


tanyanya kepadaku.


            Tentu aku tau apa maksudnya, namun mana mungkin aku bisa


berhenti, jadi aku memutuskan mengelak saja


“Itu tak ada hubungannya,”


protesku.


“Lalu kau fikir apa


penyebab dia bisa seperti ini?” tanyanya lagi.


“Itu sudah takdirnya Zulfa,”


belaku.


“Apakah kau yakin


takdirmu akan berbeda dengannya?”


            Aku hanya terdiam, mana mungkin aku bisa menjawabnya, dia


memang sangat pandai membuatku terdiam.


“Aku tidak menyuruhmu


berhenti, namun apakah kau sanggup membuat nasibku sama dengan Ibumu?” tanyanya


lagi.


            Aku menggeleng dan terdiam


“Aku ingin kau belajar


menghargai nyawamu,” ucapnya lembut menatapku sambil memegang wajahku dengan


kedua tangannya.


            Aku terdiam dan mendekatkan wajahku kewajahnya, aku ingin


mencium bibirnya, namun dia mendorongku.


“Kau sudah berjanji tak


akan menciumku saat sedang merokok Nugy,” ucapnya kesal


“Hahaha maaf, aku hampir


lupa, lagian siapa suruh kau menggodaku,” jawabku santai.


“Yasudah aku kedalam


dulu, aku mau mandi, jangan lupa kau membersihkan badanmu,” ucapnya


mengingatkanku.


            Dia pun masuk kedalam dan meninggalkanku sendirian.


            Setelah aku menghabiskan rokokku, aku pun masuk kedalam,


aku melihat Rojali sedang berbicara dengan Rudy adikku, sedangkan bidadariku


sedang berbicara dengan Dewi dan Ibu. Mereka adalah orang orang yang aku


sayangi. Aku mendekati Rojali dan adikku.


“Lu gak pulang?” tanyaku


pada Rojali.


“Kok ngusir?” tanyanya


lagi.


“Iya, lu brisik sih,


lagian biar semuanya bisa istirahat, besok pagi pada harus berangkat,” jawabku


santai.


“Yaudalah, kalau gitu aku


pulang.”


“Sekalian lu anter Dewi


pulang kerumahnya,” suruhku.


“Manja kali, pakai


diantar-antar pula,” kesalnya kepadaku


“Yeeee, parah banget lu”


protes Dewi.


“Rojaliii,” Ibu


mengkodenya lembut.


“Ia bun, aku cuma


bercanda,” jawabnya pelan.


            Kami pun hanya tertawa


“Yauda kami pulang dulu


ya,” ucapnya pamit kepada kami.


            Mereka berdua pun pulang kerumah Masing-masing. Aku


menyarankan Ibu dan Rudy istirahat, lalu aku masuk kekamar dan disusul oleh Zulfa.


Apartement ini hanya memiliki 3 kamar didalamnya. Aku tentu bersama istriku,


dan ibu bersama ayah, sedangkan Adikku dikamar satunya lagi.


            Aku pun membersihkan badanku lalu memakai baju tidurku


yang disiapkan oleh Zulfa bidadariku, besok kami akan berangkat kemedan bersama


Ayah, Ibu, Rudi, Aku, Zulfa, Patricia dan pria berbaju batik yang bersama Ayah


waktu itu, aku belum mengenalnya sama sekali.


Sedangkan


Rojali dan Dewi harus tinggal untuk menggantikanku menghandle pekerjaan disini.


Aku berharap semoga saja tidak akan terjadi apa-apa kepada kami terutama nanti


Ayah.


“Tidurlah,” Zulfa


menyuruhku.


            Aku hanya tersenyum sambil


memeluknya, dia tampaknya tak keberatan. Betapa bahagianya aku memilikinya. Aku


berjanji akan membahagiakannya selamanya. Aku pun memejamkan mataku lalu kami

__ADS_1


tertidur.


__ADS_2