Belantara

Belantara
AP GROUP


__ADS_3

“Aku akan pulang malam


hari ini.”


            Zulfa mengangguk.


“Kau tak keberatan?”


“Tidak, kau kan sibuk


bekerja.”


“Lalu bagaimana kau


pulang nanti.”


“Biar Ayu yang


mengantarku nanti.”


            Aku hanya mengangguk paham sambil tersenyum kepadanya.


“Ya sudah, berangkatlah,


nanti Dewi marah padamu.”


“Kau cemburu?”


“Tidak Nugy, aku bisa


memakluminya, aku juga tak perlu khawatir dengan keberadaannya disisimu.”


            Aku diam menatapnya dalam.


“Berangkatlah.”


“Oke.”


            Aku pun mencium keningnya, lalu dia turun dari mobil dengan


menunggu kepergianku.


            Setelah sekian lama, bidadariku memutuskan untuk kembali


bekerja di butik miliknya, sebelumnya dia meminta pendapatku akan hal itu, dan


tentu saja kau mengizinkannya, karena itu adalah pekerjaan yang sangat dia


sukai, aku juga mendukungnya untuk perkuliahannya yang hampir ia selesaikan.          Oleh sebab itu pagi ini aku memutuskan


untuk mengantarkannya ke butik miliknya, setelah itu aku pergi menuju kantorku.


Hari


ini aku memiliki urusan yang sangat banyak sehingga membuatku harus pulang


malam, oleh karena itu aku memberi pengertian terlebih dahulu kepada istriku,


agar dia tak risau akan hal itu, dan aku sangat bersyukur karena meskipun dia


istri yang sangat manja tetapi dia selalu saja bisa megerti akan diriku dan


pekerjaanku.


            Aku memasuki kantorku dengan diiringi senyum oleh


karyawan-karyawan yang melihat kedatanganku, dan aku juga selalu membalasnya,


aku selalu berusaha bersikap ramah dan berwibawa dihadapan mereka, agar mereka


merasa tak tertekan bekerja dikantorku. Hal ini lah yang ku dapatkan dari


Ayahku yang dulu sering mengajakku bermain ke perusahaan miliknya ketika aku


masih kuliah dulu.


            Ayah memiliki bisnis besar yang di margin olehnya menjadi


induk perusahaan yang dikenal luas dengna naman Anak Pertama Group atau


disingkat AP group. Bisnis yang di payunginya terdiri dari berbagai macam yaitu


property, perkebunan, otomotif, bank, dan juga bisnis penyaluran eksport import


yang bergerak dalam bidang kesehatan dan juga pertanian.


Dengan


bisnis yang dia punya itulah sempat membuat Hutan Belantara ini menjadi heboh


karena isu yang tak sedap tentang Ayah. Pro dan kontra sangat banyak pada masa


itu, banyak yang mengatakan bahwa bisnis itu berasal dari hasil korupsi dia


selama menjadi Elite Politik, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia ingin


mengambil keuntungan yang besar dengan statusnya yang menjadi Elite Politik.


            Padahal bisnis yang dia miliki sudah ada sebelum dia


menjadi Elite Politik, dan tak perlu menjadi Elite Politik juga perusahaannya


itu sudah cukup terkenal di Hutan Belantara ini. Tetapi begitulah pertarungan


politik, selalu saja ada usaha orang untuk menjatuhkan. Tetapi tak banyak juga


yang mendukungnya selama ini.


            Semenjak sepeninggalan Ayah, Perusahaan itu di pimpin


sementara oleh seseorang kepercayaan dia selama ini yaitu Om Ali yang selama


ini juga bekerja sebagai tangan kanan Ayah disana. Selain memiliki bisnis


sendiri, dia juga bekerja di perusahaan itu selama ini, oleh karena itu kami


menyerahkan tanggung jawab itu sementara kepadanya, sampai aku dapat mampu


memahami dengan detail tentang perusahaan itu.


            Awalnya aku sangat keberatan untuk melanjutkan tanggung


jawab sebagai pemimpin perusahaan menggantikan Ayah. Namun keluarga ku berhasil


meyakinkan agar aku dapat mengemban tugas itu, jadi aku pun tak memiliki alsan


apapun lagi untuk menolaknya.


            Oleh karena itulah aku memiliki urusan yang sangat banyak


hari ini bersama Dewi yang juga harus berada disampingku untuk membantuku


memahami detail tentang perusahaan itu.


“Pak Ali sudah menunggu


kita disana.”


“Apa aku tak bisa merokok


sebtang dulu?”


            Dewi menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu


mengangguk. Aku pun membalasnya dengan senyuman dan mengambil rokokku lalu ku


hisap.


“Gimana kabar Rudy?”


“Mana ku tahu.”


“Lu itu abangnya Gy,


cobalah perhatikan sedikit adik lu itu, udah gede juga, masih aja kaya


anak-anak lu.”


“Apaan sih lu Wi, lagian


dia tinggal sama Ibu kan, jadi apa yang perlu dikhawatirin coba.”


“Terserah lu deh. Capek


gua ladenin gengsi lu.”


“Dari pada lu sibuk


ngomel mending lu buatin gua k—”


“Kopi”


            Aku pun tersenyum.


“Itu aja yang tau lu.”


            Aku hanya diam menatap dia pergi meninggalkanku sendiri.


Adikku


sudah berhasil menepati janjinya kepada Ayahku, dia berhasil menjadi siswa


dengan nilau UN paling tinggi di negeri ini, oleh sebab itu dia hanya tinggal


memilih tempat kuliah yang dia inginkan, dan dia memilih Fakultas Ekonomi yang


berada dikampus yang sama denganku dulu, agar tak terlalu jauh dari Ibu yang


tak mau ikut itnggal bersama ku.


Rumah


itu tak jadi di jual, Ibu juga membuat rumah itu menjadi yayasan anak yatim


yang selalu menghiasi harinya dengan tingkah anak-anak yang selalu membuatnya


terlihat senang. Sesekali aku dan Istriku pulang untuk menemuinya, karena


istriku juga selalu ingin bertemu Ibu, dan tak jarang dia mengajak Ibu untuk


tinggal bersama kami, tetapi Ibu selalu menolaknya.

__ADS_1


Sedangkan


Rudy tinggal di apartemen milik Ayah agar bisa dekat dengan kampusnya. Sesekali


aku juga mendatangi tempat itu untuk mengetahui kondisinya. Disana kami hanya


bercerita tentang perkuliahannya yang baginya sangat menyenangkan, dia juga


bercerita tentang beberapa teman yang setia kepadanya, dan aku dengan sangat


senang hati mendengarkan dia bercerita.


            Semenjak kejadian waktu itu kami menjadi akrab sekarang,


meskipun kerap kali terlihat saling cuek dan canggung ketika dihadapan orang.


Tak seperti yang Dewi kira, aku tetap memerhatikan Adikku yang sedang sibuk


menjalani dunia perkuliahannya, tetapi tak ku tampakkan saja didepannya.


            Sedangkan Papa dan Mama, tetap sehat-sehat saja. Aku dan


Zulfa juga sering kerumahnay yang memang tak jauh dari rumahku. Kelau bercerita


tentang mereka berdua, sepertinya taka da yang perlu aku khawatirkan, mereka


selalu terlihat mesra dan lucu.


            Dan sekarang aku sudah tau pekerjaan Papa yang ternyata


adalah seorang Bankir cukup mumpuni di negeri ini, banyak orang yang


mengenalnya, tetapi karena aku tak pernah tertarik dengan dunia perbankan


makanya aku tak mengenalnya sebelumnya.


            Papa juga sangat senang bercerita dengan Rudy yang juga


sesekali datang menemuinya dirumahnya, hanya untuk sekedar mendapatkan


pengetahuan tentang yang sangat dia sukai. Rudy sangat menyukai dunia


Perbankan, dan Papa juga sangat senang hati menceritakan pengatahuannya


diseteiap mereka bertemu.


            Keluarga kami yang berada di Sibolga juga sudah menjalani


hari-harinya dengan baik dan menyenangkan. Sesekali mereka mengunjungi makam


Ayah, mereka juga selalu mengadukan kondisi keluarga ini di depan makam Ayah.


            Begitulah kondisi keluarga kami kini, kondisi yang sudah


mulai kondusif semenjak kepergian Ayah karena sakit yang dia derita, dan aku


hanya perlu menjaga dan memastikan kondisi ini berjalan selamanya dengan baik,


tanpa adanya lagi air mata yang mengguyur keluarga ini.


            Setelah aku puas dengna rokokku, dan memastikan kopi ku


sudah habis aku pun memutuskan untuk segera pergi menuju perusahan milik Ayah,


disana sudah ada Pak ali yang menunggu kami.


“Ayo kita pergi.”


            Dewi pun mengangguk.



            Aku dan Dewi memasuki kantor yang sudah di tunggu oleh


seorang pria yang aku tak tahu itu siapa, beliau menyapa kami lalu mengajak


kami masuk untuk menemi Om Ali yang sudah menunggu kami di ruangannya.


Aku


melihat sekeliling ruangan kantor ini, sudah lama sekali aku tak kesini. Kantor


ini sudah banyak sekali berubah, bangunanya sudah menjadi sangat besar dan


luas, hal itu membuatku sedikit takjub, begitu juga dengan Dewi.


“Besar banget Gy.”


“Jangan norak deh lu.”


“Gua baru pertama kali


kesini Gy, sekarang kayanya gua bener-bener ga akan pergi dari lu deh, setelah


gua tau bakal kerja di kantor sebesar ini.”


“Matrek lu.”


“Yee elu mah.”


            Aku tak menghiraukannya.


masuk dengan tak lupa memberikan kami senuman terbaik yang dia punya, kami pun


membalasnya.


“Ku fikir kau tak akan


kesini Nugy.”


            Aku menoleh kesumber suara yang ada dihadapanku.


“Duduklah, mau sampai


kapan kalian berdiri disitu.”


            Kami pun duduk di sofa ruangan itu, lalu di juga ikut


duduk dihadapan kami.


“Sudah berapa lama kau


tak main kesini.”


“Aku tak tahu, yang pasti


sudah sangat lama sekali aku tak kesini.”


            Dia pun tersenyum.


“Kau siap


menggantikannya?” ucapnya sambil menoleh kearah meja kerja kantor itu.


            Aku hanya mengangguk.


“Baiklah. Kalau begitu


tunggu sebentar, aku akan memberikan mu sesuatu.”


            Aku hanya diam dan menunggunya.


            Dia bangkit lalu menelfon seseorang yang kurasa itu


adalah sekertarisnya, lalu kembali duduk dihadapan kami.


“Sepertinya kau tak


pernah meniggalkan sekertaris mu ini Nugy.”


“Dia sahabatku Om. Kalau


di kantor baru sekertarisku.”


“Hahahaha. Kau ini sama


sekali tak berubah.”


            Aku dan Dewi hanya terdiam.


            Hingga seseorang masuk dengan membawa beberapa dokumen


lalu menyerahkannya kepada Om Ali yang sudah menunggunya. Dokumen-dokumen itu


berisi profil tentang beberapa bisnis yang di payungi perusahaan ini.


“Ini akan ku berikan


kepadamu, Dokumen ini menjelaskan semua profil bisnis yang akan kkau ketahui


apa saja nanti.”


            Aku pun mengangguk sambil menerimanya, lalu membukanya


satu persatu.


“Dan untuk semua rekap


dan administrasi akan ku serahkan nanti kepada skertarismu.”


“Itu tak perlu om.”


Ucapku.


            Mereka terdiam, lalu ku kembali menutup dokumen itu.


“Aku boleh tau siapa


namamu?” tanyaku kepada wanita yang membawa dokumen itu.


“Nama saya Raisa Pak.”


“Kau sekertaris disini?”


            Dia mengangguk segan kepadaku.


“Oke baik Raisa, ada


beberapa yang perlu saya sampaikan.”


            Aku memerbaiki dudukku sejenak.

__ADS_1


“Pertama, kamu tetap akan


menjadi sekertaris dikantor ini, karena tak mungkin dalam waktu yang sesingkat


ini aku menggantimu dengan Dewi…”


“Kedua, selama bekerja,


aku tak keberatan kau memanggilku dengan sebutan itu. Namun aku sangat


keberatan jika kau memanggilku dengan sebutan itu ketika sudah diluar konteks


pekerjaan.”


            Dia hanya terdiam menatapku segan.


“Kau paham?”


“Paham Pak.”


            Aku pun mengangguk tersenyum kepadanya.


“Apa kau yakin Nugy?”


“Ya tentu saja Om.”


“Bagaimana dengannya?


bukankah kau tak ingin jauh dari kepercayaanmu ini?”


“Dia tetap bersama ku,


dia akan menjalankan tugasnya sebagai sekertaris pribadiku.”


            Om Ali pun mengangguk paham.


“Beri aku waktu untuk


memahami ini.”


“Berapa lama?”


“1 hari.”


“Kau yakin?”


“Tentu saja. Lagian


bukankah Om sudah sangat mulai resah untuk berada diposisi itu?” ucapku sambil


menoleh kearah kursi kerja yang ada diruagan ini.


“Hahahaha, kau selalu


saja membuatku takjub Nugy.”


            Aku hanya terdiam menatapnya.


“Baiklah, aku akan


menyerahkannya kepadamu. Dan mulai saat ini tempat itu akan menjadi milikmu.”


            Aku menganggu siap kepadanya.


“Lakukan yang terbaik


Nugy. Kami akan selalu berada disisimu.”


“Oke, kalau begitu


bisakah kau membantu kami memahami ini Raisa?” tanyaku sambil mengangkat


document yang ku pegang.


“Dengan senang hati pak.”


            Kami pun tersenyum kepadanya.


            Setelah itu kami pun pergi menuju ruangan rapat, agar aku


dapat memahami semua history lengkap dari perusahaan ini melalui penjelasan


yang diberikan Om Ali, dan rekapitulasi dari Raisa.


            Kami meninggalkan makan siang kami demi melakukan


pekerjaan ini, dan taka da satu dari kami pun yang keberatan. Semua nya berlalu


detik demi detik, menit demi menit, jam-dem jam, penjelasan demi penjelasan


dari mereka mulai dapat ku pahami, dan Dewi pun sudah mencatat hal-hal penting


untuk dia berikan kepadaku nanti.


Hari


pun sudah gelap dan jam pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, aku pun memutuskan


untuk menghentikan rapat tersebut, dan meminta Om Ali untuk mengumpulkan semua


kepala divisi dari setiap bidang usaha untuk rapat dengan ku besok pagi.


            Setelahnya kami pun pulang. Karena hari sudah malam, aku


memutuskan untuk mengantar Dewi pulang kerumahnya, dan akan menjemputnya lagi


esok untuk ikut rapat bersamaku.


“Lu udah izin ama bini lu


pulang malam begini?”


“Udah tadi.”


            Dia pun mengangguk paham.


            Aku melihat ada pecel lele yang seakan-akan menggodaku


untuk mampir, perutku juga menjadi terasa sangat lapar, karena belum makan dari


siang tadi.


“Makan dulu yuk, gua


laper nih.”


“Gua juga laper sih, tapi


emang gak apa-apa? Ntar bini lu nunggu lama?”


“Udah gak apa-apa, gua


laper banget.”


“Yaudah.”


            Aku langsung memarkirkan mobilku lalu kami berjalan masuk


ke warung pecel lele kaki lima yang ku lihat tadi. Setelah memesan pesanan kami


pun kembali bercerita.


“Gimana menurut lu Wi?”


“Hah? Apanya?”


“Ya rapat tadi. Gua


ngerasa ada yang janggal disalah satu divisi.”


            Dia diam membiarkan ku berbicara terlebih dahulu.


“Gua ngerasa ada yang


aneh ama Divisi Perkebunan. Gua ga percaya bisnis potensial begitu malah dapat


hasil yang lebih rendah dari yang lain.”


“Kayanya bukan Cuma lu


aja deh yang ngerasa gitu Gy.” Balasnya.


            Aku diam menatapnya.


“Okelah mungkin divisi


yang lain lebih potensial, tapi ga mungkin kan nilai keuntungannya kecil


begitu. Sedangkan lu tau sendiri lah betapa besarnya keuntungan yang di raup


sama para pebisnis perkebunan yang lain Gy.”


            Aku pun mengangguk setuju.


“Aneh banget gak sih?”


            Sedang enak kami membahas, pesanan kami pun datang dan


meletakkannya dengan rapih.


“Yaudahlah, besok kita


bakal cari tahu tentang itu. sekarang mending kita makan.”


            Dia pun mengangguk, dan kami mulai menyantap makanan kami


masing-masing.


            Tak lama kami menghabiskan makanan kami masing-masing,


setelahnya kami pun langsung pulang, dan tak lupa aku mengatar Dewi terlebih


dahulu, lalu kembali kerumahku.


            Aku memasuki kamarku, danmelihat Zulfa sudah tidur dengna


nyenyak, aku pun melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku membelai


rambutnya lalu mencium keningnya. Setelah itu aku membersihkan badanku lalu


tidur dengan memeluk istriku yagn sangat aku cintai.

__ADS_1


__ADS_2