
“Aku akan pulang malam
hari ini.”
Zulfa mengangguk.
“Kau tak keberatan?”
“Tidak, kau kan sibuk
bekerja.”
“Lalu bagaimana kau
pulang nanti.”
“Biar Ayu yang
mengantarku nanti.”
Aku hanya mengangguk paham sambil tersenyum kepadanya.
“Ya sudah, berangkatlah,
nanti Dewi marah padamu.”
“Kau cemburu?”
“Tidak Nugy, aku bisa
memakluminya, aku juga tak perlu khawatir dengan keberadaannya disisimu.”
Aku diam menatapnya dalam.
“Berangkatlah.”
“Oke.”
Aku pun mencium keningnya, lalu dia turun dari mobil dengan
menunggu kepergianku.
Setelah sekian lama, bidadariku memutuskan untuk kembali
bekerja di butik miliknya, sebelumnya dia meminta pendapatku akan hal itu, dan
tentu saja kau mengizinkannya, karena itu adalah pekerjaan yang sangat dia
sukai, aku juga mendukungnya untuk perkuliahannya yang hampir ia selesaikan. Oleh sebab itu pagi ini aku memutuskan
untuk mengantarkannya ke butik miliknya, setelah itu aku pergi menuju kantorku.
Hari
ini aku memiliki urusan yang sangat banyak sehingga membuatku harus pulang
malam, oleh karena itu aku memberi pengertian terlebih dahulu kepada istriku,
agar dia tak risau akan hal itu, dan aku sangat bersyukur karena meskipun dia
istri yang sangat manja tetapi dia selalu saja bisa megerti akan diriku dan
pekerjaanku.
Aku memasuki kantorku dengan diiringi senyum oleh
karyawan-karyawan yang melihat kedatanganku, dan aku juga selalu membalasnya,
aku selalu berusaha bersikap ramah dan berwibawa dihadapan mereka, agar mereka
merasa tak tertekan bekerja dikantorku. Hal ini lah yang ku dapatkan dari
Ayahku yang dulu sering mengajakku bermain ke perusahaan miliknya ketika aku
masih kuliah dulu.
Ayah memiliki bisnis besar yang di margin olehnya menjadi
induk perusahaan yang dikenal luas dengna naman Anak Pertama Group atau
disingkat AP group. Bisnis yang di payunginya terdiri dari berbagai macam yaitu
property, perkebunan, otomotif, bank, dan juga bisnis penyaluran eksport import
yang bergerak dalam bidang kesehatan dan juga pertanian.
Dengan
bisnis yang dia punya itulah sempat membuat Hutan Belantara ini menjadi heboh
karena isu yang tak sedap tentang Ayah. Pro dan kontra sangat banyak pada masa
itu, banyak yang mengatakan bahwa bisnis itu berasal dari hasil korupsi dia
selama menjadi Elite Politik, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia ingin
mengambil keuntungan yang besar dengan statusnya yang menjadi Elite Politik.
Padahal bisnis yang dia miliki sudah ada sebelum dia
menjadi Elite Politik, dan tak perlu menjadi Elite Politik juga perusahaannya
itu sudah cukup terkenal di Hutan Belantara ini. Tetapi begitulah pertarungan
politik, selalu saja ada usaha orang untuk menjatuhkan. Tetapi tak banyak juga
yang mendukungnya selama ini.
Semenjak sepeninggalan Ayah, Perusahaan itu di pimpin
sementara oleh seseorang kepercayaan dia selama ini yaitu Om Ali yang selama
ini juga bekerja sebagai tangan kanan Ayah disana. Selain memiliki bisnis
sendiri, dia juga bekerja di perusahaan itu selama ini, oleh karena itu kami
menyerahkan tanggung jawab itu sementara kepadanya, sampai aku dapat mampu
memahami dengan detail tentang perusahaan itu.
Awalnya aku sangat keberatan untuk melanjutkan tanggung
jawab sebagai pemimpin perusahaan menggantikan Ayah. Namun keluarga ku berhasil
meyakinkan agar aku dapat mengemban tugas itu, jadi aku pun tak memiliki alsan
apapun lagi untuk menolaknya.
Oleh karena itulah aku memiliki urusan yang sangat banyak
hari ini bersama Dewi yang juga harus berada disampingku untuk membantuku
memahami detail tentang perusahaan itu.
“Pak Ali sudah menunggu
kita disana.”
“Apa aku tak bisa merokok
sebtang dulu?”
Dewi menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu
mengangguk. Aku pun membalasnya dengan senyuman dan mengambil rokokku lalu ku
hisap.
“Gimana kabar Rudy?”
“Mana ku tahu.”
“Lu itu abangnya Gy,
cobalah perhatikan sedikit adik lu itu, udah gede juga, masih aja kaya
anak-anak lu.”
“Apaan sih lu Wi, lagian
dia tinggal sama Ibu kan, jadi apa yang perlu dikhawatirin coba.”
“Terserah lu deh. Capek
gua ladenin gengsi lu.”
“Dari pada lu sibuk
ngomel mending lu buatin gua k—”
“Kopi”
Aku pun tersenyum.
“Itu aja yang tau lu.”
Aku hanya diam menatap dia pergi meninggalkanku sendiri.
Adikku
sudah berhasil menepati janjinya kepada Ayahku, dia berhasil menjadi siswa
dengan nilau UN paling tinggi di negeri ini, oleh sebab itu dia hanya tinggal
memilih tempat kuliah yang dia inginkan, dan dia memilih Fakultas Ekonomi yang
berada dikampus yang sama denganku dulu, agar tak terlalu jauh dari Ibu yang
tak mau ikut itnggal bersama ku.
Rumah
itu tak jadi di jual, Ibu juga membuat rumah itu menjadi yayasan anak yatim
yang selalu menghiasi harinya dengan tingkah anak-anak yang selalu membuatnya
terlihat senang. Sesekali aku dan Istriku pulang untuk menemuinya, karena
istriku juga selalu ingin bertemu Ibu, dan tak jarang dia mengajak Ibu untuk
tinggal bersama kami, tetapi Ibu selalu menolaknya.
__ADS_1
Sedangkan
Rudy tinggal di apartemen milik Ayah agar bisa dekat dengan kampusnya. Sesekali
aku juga mendatangi tempat itu untuk mengetahui kondisinya. Disana kami hanya
bercerita tentang perkuliahannya yang baginya sangat menyenangkan, dia juga
bercerita tentang beberapa teman yang setia kepadanya, dan aku dengan sangat
senang hati mendengarkan dia bercerita.
Semenjak kejadian waktu itu kami menjadi akrab sekarang,
meskipun kerap kali terlihat saling cuek dan canggung ketika dihadapan orang.
Tak seperti yang Dewi kira, aku tetap memerhatikan Adikku yang sedang sibuk
menjalani dunia perkuliahannya, tetapi tak ku tampakkan saja didepannya.
Sedangkan Papa dan Mama, tetap sehat-sehat saja. Aku dan
Zulfa juga sering kerumahnay yang memang tak jauh dari rumahku. Kelau bercerita
tentang mereka berdua, sepertinya taka da yang perlu aku khawatirkan, mereka
selalu terlihat mesra dan lucu.
Dan sekarang aku sudah tau pekerjaan Papa yang ternyata
adalah seorang Bankir cukup mumpuni di negeri ini, banyak orang yang
mengenalnya, tetapi karena aku tak pernah tertarik dengan dunia perbankan
makanya aku tak mengenalnya sebelumnya.
Papa juga sangat senang bercerita dengan Rudy yang juga
sesekali datang menemuinya dirumahnya, hanya untuk sekedar mendapatkan
pengetahuan tentang yang sangat dia sukai. Rudy sangat menyukai dunia
Perbankan, dan Papa juga sangat senang hati menceritakan pengatahuannya
diseteiap mereka bertemu.
Keluarga kami yang berada di Sibolga juga sudah menjalani
hari-harinya dengan baik dan menyenangkan. Sesekali mereka mengunjungi makam
Ayah, mereka juga selalu mengadukan kondisi keluarga ini di depan makam Ayah.
Begitulah kondisi keluarga kami kini, kondisi yang sudah
mulai kondusif semenjak kepergian Ayah karena sakit yang dia derita, dan aku
hanya perlu menjaga dan memastikan kondisi ini berjalan selamanya dengan baik,
tanpa adanya lagi air mata yang mengguyur keluarga ini.
Setelah aku puas dengna rokokku, dan memastikan kopi ku
sudah habis aku pun memutuskan untuk segera pergi menuju perusahan milik Ayah,
disana sudah ada Pak ali yang menunggu kami.
“Ayo kita pergi.”
Dewi pun mengangguk.
…
Aku dan Dewi memasuki kantor yang sudah di tunggu oleh
seorang pria yang aku tak tahu itu siapa, beliau menyapa kami lalu mengajak
kami masuk untuk menemi Om Ali yang sudah menunggu kami di ruangannya.
Aku
melihat sekeliling ruangan kantor ini, sudah lama sekali aku tak kesini. Kantor
ini sudah banyak sekali berubah, bangunanya sudah menjadi sangat besar dan
luas, hal itu membuatku sedikit takjub, begitu juga dengan Dewi.
“Besar banget Gy.”
“Jangan norak deh lu.”
“Gua baru pertama kali
kesini Gy, sekarang kayanya gua bener-bener ga akan pergi dari lu deh, setelah
gua tau bakal kerja di kantor sebesar ini.”
“Matrek lu.”
“Yee elu mah.”
Aku tak menghiraukannya.
masuk dengan tak lupa memberikan kami senuman terbaik yang dia punya, kami pun
membalasnya.
“Ku fikir kau tak akan
kesini Nugy.”
Aku menoleh kesumber suara yang ada dihadapanku.
“Duduklah, mau sampai
kapan kalian berdiri disitu.”
Kami pun duduk di sofa ruangan itu, lalu di juga ikut
duduk dihadapan kami.
“Sudah berapa lama kau
tak main kesini.”
“Aku tak tahu, yang pasti
sudah sangat lama sekali aku tak kesini.”
Dia pun tersenyum.
“Kau siap
menggantikannya?” ucapnya sambil menoleh kearah meja kerja kantor itu.
Aku hanya mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu
tunggu sebentar, aku akan memberikan mu sesuatu.”
Aku hanya diam dan menunggunya.
Dia bangkit lalu menelfon seseorang yang kurasa itu
adalah sekertarisnya, lalu kembali duduk dihadapan kami.
“Sepertinya kau tak
pernah meniggalkan sekertaris mu ini Nugy.”
“Dia sahabatku Om. Kalau
di kantor baru sekertarisku.”
“Hahahaha. Kau ini sama
sekali tak berubah.”
Aku dan Dewi hanya terdiam.
Hingga seseorang masuk dengan membawa beberapa dokumen
lalu menyerahkannya kepada Om Ali yang sudah menunggunya. Dokumen-dokumen itu
berisi profil tentang beberapa bisnis yang di payungi perusahaan ini.
“Ini akan ku berikan
kepadamu, Dokumen ini menjelaskan semua profil bisnis yang akan kkau ketahui
apa saja nanti.”
Aku pun mengangguk sambil menerimanya, lalu membukanya
satu persatu.
“Dan untuk semua rekap
dan administrasi akan ku serahkan nanti kepada skertarismu.”
“Itu tak perlu om.”
Ucapku.
Mereka terdiam, lalu ku kembali menutup dokumen itu.
“Aku boleh tau siapa
namamu?” tanyaku kepada wanita yang membawa dokumen itu.
“Nama saya Raisa Pak.”
“Kau sekertaris disini?”
Dia mengangguk segan kepadaku.
“Oke baik Raisa, ada
beberapa yang perlu saya sampaikan.”
Aku memerbaiki dudukku sejenak.
__ADS_1
“Pertama, kamu tetap akan
menjadi sekertaris dikantor ini, karena tak mungkin dalam waktu yang sesingkat
ini aku menggantimu dengan Dewi…”
“Kedua, selama bekerja,
aku tak keberatan kau memanggilku dengan sebutan itu. Namun aku sangat
keberatan jika kau memanggilku dengan sebutan itu ketika sudah diluar konteks
pekerjaan.”
Dia hanya terdiam menatapku segan.
“Kau paham?”
“Paham Pak.”
Aku pun mengangguk tersenyum kepadanya.
“Apa kau yakin Nugy?”
“Ya tentu saja Om.”
“Bagaimana dengannya?
bukankah kau tak ingin jauh dari kepercayaanmu ini?”
“Dia tetap bersama ku,
dia akan menjalankan tugasnya sebagai sekertaris pribadiku.”
Om Ali pun mengangguk paham.
“Beri aku waktu untuk
memahami ini.”
“Berapa lama?”
“1 hari.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja. Lagian
bukankah Om sudah sangat mulai resah untuk berada diposisi itu?” ucapku sambil
menoleh kearah kursi kerja yang ada diruagan ini.
“Hahahaha, kau selalu
saja membuatku takjub Nugy.”
Aku hanya terdiam menatapnya.
“Baiklah, aku akan
menyerahkannya kepadamu. Dan mulai saat ini tempat itu akan menjadi milikmu.”
Aku menganggu siap kepadanya.
“Lakukan yang terbaik
Nugy. Kami akan selalu berada disisimu.”
“Oke, kalau begitu
bisakah kau membantu kami memahami ini Raisa?” tanyaku sambil mengangkat
document yang ku pegang.
“Dengan senang hati pak.”
Kami pun tersenyum kepadanya.
Setelah itu kami pun pergi menuju ruangan rapat, agar aku
dapat memahami semua history lengkap dari perusahaan ini melalui penjelasan
yang diberikan Om Ali, dan rekapitulasi dari Raisa.
Kami meninggalkan makan siang kami demi melakukan
pekerjaan ini, dan taka da satu dari kami pun yang keberatan. Semua nya berlalu
detik demi detik, menit demi menit, jam-dem jam, penjelasan demi penjelasan
dari mereka mulai dapat ku pahami, dan Dewi pun sudah mencatat hal-hal penting
untuk dia berikan kepadaku nanti.
Hari
pun sudah gelap dan jam pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, aku pun memutuskan
untuk menghentikan rapat tersebut, dan meminta Om Ali untuk mengumpulkan semua
kepala divisi dari setiap bidang usaha untuk rapat dengan ku besok pagi.
Setelahnya kami pun pulang. Karena hari sudah malam, aku
memutuskan untuk mengantar Dewi pulang kerumahnya, dan akan menjemputnya lagi
esok untuk ikut rapat bersamaku.
“Lu udah izin ama bini lu
pulang malam begini?”
“Udah tadi.”
Dia pun mengangguk paham.
Aku melihat ada pecel lele yang seakan-akan menggodaku
untuk mampir, perutku juga menjadi terasa sangat lapar, karena belum makan dari
siang tadi.
“Makan dulu yuk, gua
laper nih.”
“Gua juga laper sih, tapi
emang gak apa-apa? Ntar bini lu nunggu lama?”
“Udah gak apa-apa, gua
laper banget.”
“Yaudah.”
Aku langsung memarkirkan mobilku lalu kami berjalan masuk
ke warung pecel lele kaki lima yang ku lihat tadi. Setelah memesan pesanan kami
pun kembali bercerita.
“Gimana menurut lu Wi?”
“Hah? Apanya?”
“Ya rapat tadi. Gua
ngerasa ada yang janggal disalah satu divisi.”
Dia diam membiarkan ku berbicara terlebih dahulu.
“Gua ngerasa ada yang
aneh ama Divisi Perkebunan. Gua ga percaya bisnis potensial begitu malah dapat
hasil yang lebih rendah dari yang lain.”
“Kayanya bukan Cuma lu
aja deh yang ngerasa gitu Gy.” Balasnya.
Aku diam menatapnya.
“Okelah mungkin divisi
yang lain lebih potensial, tapi ga mungkin kan nilai keuntungannya kecil
begitu. Sedangkan lu tau sendiri lah betapa besarnya keuntungan yang di raup
sama para pebisnis perkebunan yang lain Gy.”
Aku pun mengangguk setuju.
“Aneh banget gak sih?”
Sedang enak kami membahas, pesanan kami pun datang dan
meletakkannya dengan rapih.
“Yaudahlah, besok kita
bakal cari tahu tentang itu. sekarang mending kita makan.”
Dia pun mengangguk, dan kami mulai menyantap makanan kami
masing-masing.
Tak lama kami menghabiskan makanan kami masing-masing,
setelahnya kami pun langsung pulang, dan tak lupa aku mengatar Dewi terlebih
dahulu, lalu kembali kerumahku.
Aku memasuki kamarku, danmelihat Zulfa sudah tidur dengna
nyenyak, aku pun melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku membelai
rambutnya lalu mencium keningnya. Setelah itu aku membersihkan badanku lalu
tidur dengan memeluk istriku yagn sangat aku cintai.
__ADS_1