
Hari ini kami berencana
berbondong-bondong untuk pergi ke makam Kakek dan Nenek. Setelah sarapan kami
pun berangkat ketempat dimana Kakek dan Nenek ku di makamkan, yang berada
disalah satu desa lumayan jauh dari sini, sekitar kurang lebih satu setengah
jam dari rumah ini. Kami tak menunggu Papa, dia sudah dibandara sejak terakhir
ditelfon oleh Istriku. Mungkin sekarang sudah diatas pesawat, jadi kami
menyuruh sopir yang tak kukenali untuk menjemput Papa dan Mama agar langsung
menyusul kami kemakam yang akan kami kunjungi.
Kami berangkat dengan menggunakan 5 mobil, aku dan Zulfa
berada di mobil paling depan. Ayah, Ibu, Rudi, Patricia, dan Ajudan Ayah berada
di mobil belakang kami. Dan selebihnya diikuti keluarga ku yang lainnya.
Perjalanan menuju desa itu di temani dengan bukit yang
saling berdampingan. Tak seindah perjalanan dari bandara kerumah, namun di desa
itu memiliki pantai yang sangat indah dan bersih, oleh karena itu Kakek ingin
di kubur disana, karena ditempat itulah dia bertemu Nenek yang sudah duluan
meninggalkannya. Nenekku dimakamkan disitu juga, bersebelahan dengan Kakek.
Aku tak begitu mengenal Nenek, karena dia sudah meninggal
saat aku baru lahir. Sedangkan Kakek, aku sudah pernah bertemu dengannya saat Ayahku
pertama kali membawaku pulang kesini, ketika aku dan adikku masih kecil dulu.
Kakek memang sudah pindah ke Sibolga saat Nenek meninggal, karna di tidak ingin
jauh dari Nenek.
Kami pun sudah sampai didesa itu, kami harus berjalan sekitar
200 meter kedalam, karena mobil tak bisa masuk. Aku membawa Ayah dengan kursi
rodanya, lalu kami berjalan dengan pelan, sambil menyapa penduduk yang tinggal
dikhawasan itu. Mereka tentu tak mengenali Ayahku yang sekarang, karena aku
sendiri pun hampir tak bisa mengenali Ayahku yang sekarang, yang kami tahu Ayahku
adalah pria gagah tinggi dan tampan. Tapi yasudahlah, tak usah dibahas itu
lagi.
Sesampainya didepan kuburan Kakek dan Nenek, kami
bergantian menyiramnya seperti tradisi jika sedang berziarah. Ayah menyuruhku
memimpin doa, dan langsung ku lakukan, karena aku sudah biasa dengan ini, setiap
kami berziarah kemanapun, Ayah selalu menyuruhku memimpin do’a.
Setelah berdo’a, Ayah menyuruhku untuk mendekati kursi
roda yang didudukinya ke makam Kakek dan Nenek. Aku pun membawanya dengan
pelan.
Tepat saat Ayah sudah berada diantara makam kedua Orang
tuanya, tiba-tiba ntah kenapa angin berhembus sangat kencang dan menghembuskan
pepohonan yang ada didekat kuburan, lalu seketika berhenti dan membuat suasana
menjadi hening. Aku melihat Ayah meneteskan air matanya. Untuk kali pertama aku
melihat Ayahku menangis dihadapan kami semua. Selama ini dia selalu menahan air
matanya sendirii, namun tidak ketika saat ini, dan aku tak tau kenapa.
“Aku sudah melakukan
tugasku…”
“Hingga kematian ingin
menjemputku pun aku sudah melakukan tugasku…”
“Aku datang bersama
semuanya Ayah, aku membawa keluargaku, Anak-anakmu, serta Cucu-cucumu kesini,
bahkan aku sudah membawa menantu ku yang sangat cantik ini kehadapanmu…”
“Dia Istri dari Nugy cucumu
yang paling nakal, cucu yang sering kau marahi ketika kecil dulu. Tapi lihatlah
dia sekarang Ayah, dia sudah tumbuh besar dan lebih gagah dari padaku…”
Ayah terdiam sejenak.
“Dan lihatlah Rudy, cucu
yang paling pendiam diantar cucu-cucumu yang lain. Dia sudah berani berjanji
untuk membuktikan taringnya kepadaku…”
“Lalu lihatlah istriku,
wanita yang selalu kau sayangi dari pada kau menyayangi Anak-anak perempuanmu
sendiri. Sekarang dia sudah tangguh, bahkan sudah bisa menahan air matanya
dihadapanku…”
“Aku sudah melakukan
semua tugasku, jadi…”
Perkataan Ayah terpotong. Dia tak kuasa menahan
tangisnya, dia menangis sendu, seperti mengeluarkan semua air mata yang
ditahanya selama ini. Aku melihat semua yang ada disini ikut menangis, hanya
aku yang tidak menangis. Yah aku harus bisa menahan tangisku didepan semuanya.
“Jadi… sudah bisakah aku
pergi bersama kalian?”
“Aku sudah sangat lelah,
aku juga sudah memastikan bahwa Nugy dan Rudy akan menjaga Farida dengan baik,
mereka juga pasti akan membuat istriku bangga…”
“Izinkanlah aku pergi
bersama kalian, aku ingin melihat semuanya dari atas sana, seperti kalian berdua
melihat ku selama ini.”
Ayah pun berhenti berbicara, dia menangis dengan Sejadi-jadinya,
aku bisa merasakan keperihan dari air matanya yang mengalir, aku merasakan
beban yang dia tanggung selama ini, tapi kenapa Ayah? Kenapa kau bisa sekuat
ini?
Ayah pun menghapus air matanya, dan mengajak kami pergi
dari sini, dia tak ingin menangis lebih lama lagi, aku pun sungguh tak tega
melihat Ayahku yang sedang menangis. Kami pun pergi menuju mobil. Aku melihat
semuanya mengusap air matanya masing-masing. Dan Rudy berjalan sambil memeluk Ibuku.
__ADS_1
Sedangkan aku membawa Ayah dengan kursi rodanya.
“Nugy, aku ingin
kedermaga itu,” pintanya kepadaku.
“Tapi, Papa dan Mama
sedang menyusul kita kesini,” jelasku dengan lembut.
“Tidak apa, aku akan
menelfon Papa dan Mama untuk menunggu disana saja,” Zulfa meyakinkan kami.
Aku pun mengangguk paham.
Setelah
Zulfa menelfon papa dan mama kami pun berjalan menuju kota lagi, tepatnya
menuju dermaga tempat dimana aku dan Zulfa menyatakan cinta kemarin. Papa dan Mama
juga baru sampai bandara dan akan langsung menuju dermaga itu, mereka akan
sampai lebih dahulu pastinya. Kami pun berangkat dengan posisi kami yang tadi.
Aku hanya diam disepanjang jalan sambil mengingat
kejadian yang tak pernah kufikirkan sebelumnya bakalan terjadi, aku baru saja
melihat Rajaku menangis untuk yang pertama kalinya. Tangisan yang penuh dengan
keperihan, tangisan yang begitu lega saat semua beban yang dia simpan selama
ini sudah hilang bersama air mata nya yang mengalir.
Zulfa yang berada disampingku hanya memahami kondisi
perasaanku saat ini, dia menggenggam tanganku sambil mengelus ujung kepalaku
dengan lembut lalu tersenyum kepadaku, aku pun menyandarkan kepalaku dibahunya.
Ntah untuk yang berapa
kalinya kau selalu berada disisiku istriku, ucapku dalam hati.
Aku pun terlelap hingga kami sampai dihotel itu, kami pun
turun, disana Papa dan Mama sudah menyambut kami dengan senyuman, aku dan Zulfa
pun menyalamnya, dan diikuti dengan yang lain.
“Aku senang melihatmu datang,”
ucap Ayah dengan suaranya yang makin melemah.
“Sahabataku memintaku
datang, tak mungkin aku tak menyanggupinya,” balas Papa sambil tersenyum.
Mereka baru saja bertemu, namun sudah menganggap satu
sama lain sebagai sahabat.
Setelah itu, kami pun berjalan menuju ujung dermaga,
dengan rapih, Ayah yang berada dihadapan kami semua menghirup nafasnya sangat
dalam, seperti ingin menghirup semua angin yang berhembus di lautan luas ini.
“Aku sudah menunjukkan
betapa rapuhnya aku dihadapan kalian,” ucap Ayah mulai berbicara.
“Semoga dengan itu kalian
paham bahwa tak ada satu pun pria didunia ini yang benar-benar kuat dihadapan
tuhan.”
Kami hanya menatap punggungnya yang justru terlihat gagah
dimata kami.
dengan lembut dan Ibu pun mendekat kepadanya.
“Aku sangat bangga telah
di izinkan untuk memilikimu, dan aku sangat bersyukur bisa memilikimu di
sampingku selama ini.”
“Maafkan aku, tak bisa
menemanimu lebih lama lagi.”
Ibu hanya mampu mengangguk dengan sambil menggenggan erat
tangan Ayahku.
“Aku titipkan Anak-anak
kita kepadamu, kau tak boleh menyusulku sebelum kau pastikan mereka saling
menjaga satu sama lain,” ucap Ayah sambil mengelus pipi Ibuku.
Ibu hanya mengangguk tegar mendengarnya sambil tersenyum
getir. Ayah pun membalas senyuman Ibu dengan penuh kasih dan sayang.
“Rudy,” panggilnya pelan.
Adikku
pun mendekat kehadapan Ayah.
“Tak seperti Nugy
abangmu, kau adalah putraku yang pemalu. Tapi kau adalah putraku yang memiliki
otak yang cerdas seperti Ibumu…”
Rudy hanya tertunduk tak sanggup menatap Ayahku.
“Aku senang bisa
melihatmu yang mulai percaya diri dengan dirimu sendiri…”
Ayah terdiam sejenak dengan suaranya yang mulai parau
seakan ingin menangis, dia mengelus kepala Rudy adikku dengna lembut.
“Meskipun aku tak bisa
melihat mu mewujudkan janji-janjimu kepadaku, tapi aku percaya kau pasti akan
menepatinya, karena kau adalah putraku yang cerdas…”
“Maafkan aku yang sedikit
tak meletakkan perhatian kepadamu, karena aku tau kau bukanlah pria yang
cemburuan seperti Nugy abangmu,” ucap Ayah yang sudah mulai meneteskan air
matanya kembali.
Adikku pun memberanikan untuk menatap Ayahku, dengan air
matanya yang sudah banyak mengalir sedari tadi dia menundukkan kepalanya.
“Dan kau Nugy,”
panggilnya lembut padaku.
Aku hanya tetap berdiri dibelakangnya sambil memegang
kursi rodanya.
“Kemarilah,” suruhnya.
Aku pun berjongkok dihadapan Ayahku. Sambil berusaha
__ADS_1
menahan tangisku.
“Aku sama sekali tak
pernah kecewa padamu, sama sekali. Bahkan ketika kau sangat nakal disaat kau
kecil, aku tetap tak pernah memarahimu. Aku terpaksa memondok kanmu agar kau
bisa menemukan pelajaran yang berharga bagimu, meskipun aku sangat sedih ketika
itu…”
Dia tersenyum kepadaku.
“Aku bangga kepadamu,
disaat kau sudah tumbuh dewasa dengan semua prestasi yang kau dapat. Tapi aku
tak pernah terkejut dengan perubahan besarmu itu, karena aku sudah
memperkirakannya ketika kau masih kecil…”
“Aku tahu kau sangat
menyayangi Rudy adikmu, kau selalu mengkhawatirkannya meskipun kau sangat
canggung menampakkannya, aku juga tahu kau menangis dikamarmu setelah kau
menghajarnya di saat dia membantahku dan Ibumu…”
Aku masih berusaha untuk tetap menahan air mataku saat
ini, meskipun sejujurnya aku sudah tak sanggup bisa menahannya lagi.
“Mulai saat ini aku
meminta kepadamu untuk bersikap jujur kepada Rudy adikmu. Dia sangat
membutuhkanmu untuk menemani perjalanannya menuju masa depan yang ingin di
capainya…”
Dia meraih pundakku lalu mengelusnya lembut.
“Kau pria yang kuat, kau
pasti akan terus maju. Aku akan melihatmu melindungi keluarga ini dari atas
sana,” ucapnya sambil menunjuk langit
Aku hanya terdiam dengan memaksakan senyumku seakan tegar
akan semua ini kepadanya.
“Zulfa,” panggilnya pelan.
Istriku pun mendekat disampingku.
“Aku tahu kau terpaksa dengan
pernikahan itu, disaat anakku sedang berbohong kepadaku…”
Zulfa menunddukkan kepalanya seakan merasa sangat
bersalah.
“Tapi untuk pertama kali
dalam hidupku, aku tak merasa tersinggung ketika ada perempuan selain istriku
yang bisa menaruh rasa iba kepadaku …”
Dia meraih tangan Istriku dan menatapnya serius, dan
Istriku pun berusaha menatap Ayahku sambil tersenyum.
“Ada yang ingin ku
tanyakan kepadamu….”
“Apakah kau mencintai
anakku Nugy?”
“Jika tidak, aku akan
sangat meminta tolong kepadamu, utnuk berusasaha mencintai dia,” sambungnya
dengan memohon.
Aku hanya terdiam mendengarnya.
“Ayah tak perlu melakukan
itu, aku sangat mencintai Nugy,” jawabnya jujur.
Ayah pun tersenyum kepadanya.
Aaku tahu kau adalah
wanita yang jujur,” jawab Ayah sambil tersenyum.
Lalu dia melepaskan tangan Istriku dan mengangkat
tangannya seakan melambai.
“Dan untuk semuanya…”
“Aku sangat senang bisa
hidup berdampingan dengan kalian, aku meminta maaf karena tak bisa menemani
kalian lagi setelah ini…”
“Aku sungguh sangat
bersyukur…”
Dia terdiam sejenak sambil mentap luasnya laut yang ada
dihadapannya.
“Terimakasih, terima kasih,
terima kasih, terima ka—,”
Belum sempat Ayahku mengakhiri kelimatnya, disaat itulah Ayahku
pergi meninggalkan kami semua, dengan tubuhnya yang kurus kering, dia masih
menunjukkan senyumnya kepada kami. Ayahku mati dengan senyuman tulusnya. Dia
pergi dengan mengahpus segala beban yang ditanggungnya selama ini. Aku memandang
lautan luas itu dengan berdiri gagah. Disana aku melihat Kakek, Nenek, dan Ayahku
dengan tubuhnya yang gagah dulu sedang tersenyum kearahku lalu mereka pergi
menghilang.
Semuanya menangis dengan sendu, Ibu pun tak sanggup
menahan ini semua, dia jatuh pingsan dan langsung ditolong oleh Rudy adikku dan
yang lainnya, sedangkan aku masih menahan air mataku mesti hatiku penuh dengan
rasa sakit menahan kesedihan ini.
Zulfa
menangis memeluk Mamanya, dan yang lain pun saling berpelukan satu sama lain.
Aku tak sanggup dengan semua ini, Ayahku yang gagah kini benar-benar pergi
meninggalkan kami. Aku menggendong Ayahku menuju mobil dengan gagah. Dan disaat
itulah air mataku mengalir dengan sendirinya.
Maafkan aku Ayah, aku
meneteskan air mataku dihadapanmu yang sudah pergi dengan senyuman yang tak
__ADS_1
pernah hilang dari wajahmu, ucapku dalam hati.