Belantara

Belantara
PRIA GAGAH ITU PERGI (PART 4)


__ADS_3

Hari ini kami berencana


berbondong-bondong untuk pergi ke makam Kakek dan Nenek. Setelah sarapan kami


pun berangkat ketempat dimana Kakek dan Nenek ku di makamkan, yang berada


disalah satu desa lumayan jauh dari sini, sekitar kurang lebih satu setengah


jam dari rumah ini. Kami tak menunggu Papa, dia sudah dibandara sejak terakhir


ditelfon oleh Istriku. Mungkin sekarang sudah diatas pesawat, jadi kami


menyuruh sopir yang tak kukenali untuk menjemput Papa dan Mama agar langsung


menyusul kami kemakam yang akan kami kunjungi.


            Kami berangkat dengan menggunakan 5 mobil, aku dan Zulfa


berada di mobil paling depan. Ayah, Ibu, Rudi, Patricia, dan Ajudan Ayah berada


di mobil belakang kami. Dan selebihnya diikuti keluarga ku yang lainnya.


            Perjalanan menuju desa itu di temani dengan bukit yang


saling berdampingan. Tak seindah perjalanan dari bandara kerumah, namun di desa


itu memiliki pantai yang sangat indah dan bersih, oleh karena itu Kakek ingin


di kubur disana, karena ditempat itulah dia bertemu Nenek yang sudah duluan


meninggalkannya. Nenekku dimakamkan disitu juga, bersebelahan dengan Kakek.


            Aku tak begitu mengenal Nenek, karena dia sudah meninggal


saat aku baru lahir. Sedangkan Kakek, aku sudah pernah bertemu dengannya saat Ayahku


pertama kali membawaku pulang kesini, ketika aku dan adikku masih kecil dulu.


Kakek memang sudah pindah ke Sibolga saat Nenek meninggal, karna di tidak ingin


jauh dari Nenek.


            Kami pun sudah sampai didesa itu, kami harus berjalan sekitar


200 meter kedalam, karena mobil tak bisa masuk. Aku membawa Ayah dengan kursi


rodanya, lalu kami berjalan dengan pelan, sambil menyapa penduduk yang tinggal


dikhawasan itu. Mereka tentu tak mengenali Ayahku yang sekarang, karena aku


sendiri pun hampir tak bisa mengenali Ayahku yang sekarang, yang kami tahu Ayahku


adalah pria gagah tinggi dan tampan. Tapi yasudahlah, tak usah dibahas itu


lagi.


            Sesampainya didepan kuburan Kakek dan Nenek, kami


bergantian menyiramnya seperti tradisi jika sedang berziarah. Ayah menyuruhku


memimpin doa, dan langsung ku lakukan, karena aku sudah biasa dengan ini, setiap


kami berziarah kemanapun, Ayah selalu menyuruhku memimpin do’a.


            Setelah berdo’a, Ayah menyuruhku untuk mendekati kursi


roda yang didudukinya ke makam Kakek dan Nenek. Aku pun membawanya dengan


pelan.


            Tepat saat Ayah sudah berada diantara makam kedua Orang


tuanya, tiba-tiba ntah kenapa angin berhembus sangat kencang dan menghembuskan


pepohonan yang ada didekat kuburan, lalu seketika berhenti dan membuat suasana


menjadi hening. Aku melihat Ayah meneteskan air matanya. Untuk kali pertama aku


melihat Ayahku menangis dihadapan kami semua. Selama ini dia selalu menahan air


matanya sendirii, namun tidak ketika saat ini, dan aku tak tau kenapa.


“Aku sudah melakukan


tugasku…”


“Hingga kematian ingin


menjemputku pun aku sudah melakukan tugasku…”


“Aku datang bersama


semuanya Ayah, aku membawa keluargaku, Anak-anakmu, serta Cucu-cucumu kesini,


bahkan aku sudah membawa menantu ku yang sangat cantik ini kehadapanmu…”


“Dia Istri dari Nugy cucumu


yang paling nakal, cucu yang sering kau marahi ketika kecil dulu. Tapi lihatlah


dia sekarang Ayah, dia sudah tumbuh besar dan lebih gagah dari padaku…”


            Ayah terdiam sejenak.


“Dan lihatlah Rudy, cucu


yang paling pendiam diantar cucu-cucumu yang lain. Dia sudah berani berjanji


untuk membuktikan taringnya kepadaku…”


“Lalu lihatlah istriku,


wanita yang selalu kau sayangi dari pada kau menyayangi Anak-anak perempuanmu


sendiri. Sekarang dia sudah tangguh, bahkan sudah bisa menahan air matanya


dihadapanku…”


“Aku sudah melakukan


semua tugasku, jadi…”


            Perkataan Ayah terpotong. Dia tak kuasa menahan


tangisnya, dia menangis sendu, seperti mengeluarkan semua air mata yang


ditahanya selama ini. Aku melihat semua yang ada disini ikut menangis, hanya


aku yang tidak menangis. Yah aku harus bisa menahan tangisku didepan semuanya.


“Jadi… sudah bisakah aku


pergi bersama kalian?”


“Aku sudah sangat lelah,


aku juga sudah memastikan bahwa Nugy dan Rudy akan menjaga Farida dengan baik,


mereka juga pasti akan membuat istriku bangga…”


“Izinkanlah aku pergi


bersama kalian, aku ingin melihat semuanya dari atas sana, seperti kalian berdua


melihat ku selama ini.”


            Ayah pun berhenti berbicara, dia menangis dengan Sejadi-jadinya,


aku bisa merasakan keperihan dari air matanya yang mengalir, aku merasakan


beban yang dia tanggung selama ini, tapi kenapa Ayah? Kenapa kau bisa sekuat


ini?


            Ayah pun menghapus air matanya, dan mengajak kami pergi


dari sini, dia tak ingin menangis lebih lama lagi, aku pun sungguh tak tega


melihat Ayahku yang sedang menangis. Kami pun pergi menuju mobil. Aku melihat


semuanya mengusap air matanya masing-masing. Dan Rudy berjalan sambil memeluk Ibuku.

__ADS_1


Sedangkan aku membawa Ayah dengan kursi rodanya.


“Nugy, aku ingin


kedermaga itu,” pintanya kepadaku.


“Tapi, Papa dan Mama


sedang menyusul kita kesini,” jelasku dengan lembut.


“Tidak apa, aku akan


menelfon Papa dan Mama untuk menunggu disana saja,” Zulfa meyakinkan kami.


            Aku pun mengangguk paham.


Setelah


Zulfa menelfon papa dan mama kami pun berjalan menuju kota lagi, tepatnya


menuju dermaga tempat dimana aku dan Zulfa menyatakan cinta kemarin. Papa dan Mama


juga baru sampai bandara dan akan langsung menuju dermaga itu, mereka akan


sampai lebih dahulu pastinya. Kami pun berangkat dengan posisi kami yang tadi.


            Aku hanya diam disepanjang jalan sambil mengingat


kejadian yang tak pernah kufikirkan sebelumnya bakalan terjadi, aku baru saja


melihat Rajaku menangis untuk yang pertama kalinya. Tangisan yang penuh dengan


keperihan, tangisan yang begitu lega saat semua beban yang dia simpan selama


ini sudah hilang bersama air mata nya yang mengalir.


            Zulfa yang berada disampingku hanya memahami kondisi


perasaanku saat ini, dia menggenggam tanganku sambil mengelus ujung kepalaku


dengan lembut lalu tersenyum kepadaku, aku pun menyandarkan kepalaku dibahunya.


Ntah untuk yang berapa


kalinya kau selalu berada disisiku istriku, ucapku dalam hati.


            Aku pun terlelap hingga kami sampai dihotel itu, kami pun


turun, disana Papa dan Mama sudah menyambut kami dengan senyuman, aku dan Zulfa


pun menyalamnya, dan diikuti dengan yang lain.


“Aku senang melihatmu datang,”


ucap Ayah dengan suaranya yang makin melemah.


“Sahabataku memintaku


datang, tak mungkin aku tak menyanggupinya,” balas Papa sambil tersenyum.


            Mereka baru saja bertemu, namun sudah menganggap satu


sama lain sebagai sahabat.


            Setelah itu, kami pun berjalan menuju ujung dermaga,


dengan rapih, Ayah yang berada dihadapan kami semua menghirup nafasnya sangat


dalam, seperti ingin menghirup semua angin yang berhembus di lautan luas ini.


“Aku sudah menunjukkan


betapa rapuhnya aku dihadapan kalian,” ucap Ayah mulai berbicara.


“Semoga dengan itu kalian


paham bahwa tak ada satu pun pria didunia ini yang benar-benar kuat dihadapan


tuhan.”


            Kami hanya menatap punggungnya yang justru terlihat gagah


dimata kami.


dengan lembut dan Ibu pun mendekat kepadanya.


“Aku sangat bangga telah


di izinkan untuk memilikimu, dan aku sangat bersyukur bisa memilikimu di


sampingku selama ini.”


“Maafkan aku, tak bisa


menemanimu lebih lama lagi.”


            Ibu hanya mampu mengangguk dengan sambil menggenggan erat


tangan Ayahku.


“Aku titipkan Anak-anak


kita kepadamu, kau tak boleh menyusulku sebelum kau pastikan mereka saling


menjaga satu sama lain,” ucap Ayah sambil mengelus pipi Ibuku.


            Ibu hanya mengangguk tegar mendengarnya sambil tersenyum


getir. Ayah pun membalas senyuman Ibu dengan penuh kasih dan sayang.


“Rudy,” panggilnya pelan.


Adikku


pun mendekat kehadapan Ayah.


“Tak seperti Nugy


abangmu, kau adalah putraku yang pemalu. Tapi kau adalah putraku yang memiliki


otak yang cerdas seperti Ibumu…”


            Rudy hanya tertunduk tak sanggup menatap Ayahku.


“Aku senang bisa


melihatmu yang mulai percaya diri dengan dirimu sendiri…”


            Ayah terdiam sejenak dengan suaranya yang mulai parau


seakan ingin menangis, dia mengelus kepala Rudy adikku dengna lembut.


“Meskipun aku tak bisa


melihat mu mewujudkan janji-janjimu kepadaku, tapi aku percaya kau pasti akan


menepatinya, karena kau adalah putraku yang cerdas…”


“Maafkan aku yang sedikit


tak meletakkan perhatian kepadamu, karena aku tau kau bukanlah pria yang


cemburuan seperti Nugy abangmu,” ucap Ayah yang sudah mulai meneteskan air


matanya kembali.


            Adikku pun memberanikan untuk menatap Ayahku, dengan air


matanya yang sudah banyak mengalir sedari tadi dia menundukkan kepalanya.


“Dan kau Nugy,”


panggilnya lembut padaku.


            Aku hanya tetap berdiri dibelakangnya sambil memegang


kursi rodanya.


“Kemarilah,” suruhnya.


            Aku pun berjongkok dihadapan Ayahku. Sambil berusaha

__ADS_1


menahan tangisku.


“Aku sama sekali tak


pernah kecewa padamu, sama sekali. Bahkan ketika kau sangat nakal disaat kau


kecil, aku tetap tak pernah memarahimu. Aku terpaksa memondok kanmu agar kau


bisa menemukan pelajaran yang berharga bagimu, meskipun aku sangat sedih ketika


itu…”


            Dia tersenyum kepadaku.


“Aku bangga kepadamu,


disaat kau sudah tumbuh dewasa dengan semua prestasi yang kau dapat. Tapi aku


tak pernah terkejut dengan perubahan besarmu itu, karena aku sudah


memperkirakannya ketika kau masih kecil…”


“Aku tahu kau sangat


menyayangi Rudy adikmu, kau selalu mengkhawatirkannya meskipun kau sangat


canggung menampakkannya, aku juga tahu kau menangis dikamarmu setelah kau


menghajarnya di saat dia membantahku dan Ibumu…”


            Aku masih berusaha untuk tetap menahan air mataku saat


ini, meskipun sejujurnya aku sudah tak sanggup bisa menahannya lagi.


“Mulai saat ini aku


meminta kepadamu untuk bersikap jujur kepada Rudy adikmu. Dia sangat


membutuhkanmu untuk menemani perjalanannya menuju masa depan yang ingin di


capainya…”


            Dia meraih pundakku lalu mengelusnya lembut.


“Kau pria yang kuat, kau


pasti akan terus maju. Aku akan melihatmu melindungi keluarga ini dari atas


sana,” ucapnya sambil menunjuk langit


            Aku hanya terdiam dengan memaksakan senyumku seakan tegar


akan semua ini kepadanya.


“Zulfa,” panggilnya pelan.


            Istriku pun mendekat disampingku.


“Aku tahu kau terpaksa dengan


pernikahan itu, disaat anakku sedang berbohong kepadaku…”


            Zulfa menunddukkan kepalanya seakan merasa sangat


bersalah.


“Tapi untuk pertama kali


dalam hidupku, aku tak merasa tersinggung ketika ada perempuan selain istriku


yang bisa menaruh rasa iba kepadaku …”


            Dia meraih tangan Istriku dan menatapnya serius, dan


Istriku pun berusaha menatap Ayahku sambil tersenyum.


“Ada yang ingin ku


tanyakan kepadamu….”


“Apakah kau mencintai


anakku Nugy?”


“Jika tidak, aku akan


sangat meminta tolong kepadamu, utnuk berusasaha mencintai dia,” sambungnya


dengan memohon.


            Aku hanya terdiam mendengarnya.


“Ayah tak perlu melakukan


itu, aku sangat mencintai Nugy,” jawabnya jujur.


            Ayah pun tersenyum kepadanya.


Aaku tahu kau adalah


wanita yang jujur,” jawab Ayah sambil tersenyum.


            Lalu dia melepaskan tangan Istriku dan mengangkat


tangannya seakan melambai.


“Dan untuk semuanya…”


“Aku sangat senang bisa


hidup berdampingan dengan kalian, aku meminta maaf karena tak bisa menemani


kalian lagi setelah ini…”


“Aku sungguh sangat


bersyukur…”


            Dia terdiam sejenak sambil mentap luasnya laut yang ada


dihadapannya.


“Terimakasih, terima kasih,


terima kasih, terima ka—,”


            Belum sempat Ayahku mengakhiri kelimatnya, disaat itulah Ayahku


pergi meninggalkan kami semua, dengan tubuhnya yang kurus kering, dia masih


menunjukkan senyumnya kepada kami. Ayahku mati dengan senyuman tulusnya. Dia


pergi dengan mengahpus segala beban yang ditanggungnya selama ini. Aku memandang


lautan luas itu dengan berdiri gagah. Disana aku melihat Kakek, Nenek, dan Ayahku


dengan tubuhnya yang gagah dulu sedang tersenyum kearahku lalu mereka pergi


menghilang.


            Semuanya menangis dengan sendu, Ibu pun tak sanggup


menahan ini semua, dia jatuh pingsan dan langsung ditolong oleh Rudy adikku dan


yang lainnya, sedangkan aku masih menahan air mataku mesti hatiku penuh dengan


rasa sakit menahan kesedihan ini.


Zulfa


menangis memeluk Mamanya, dan yang lain pun saling berpelukan satu sama lain.


Aku tak sanggup dengan semua ini, Ayahku yang gagah kini benar-benar pergi


meninggalkan kami. Aku menggendong Ayahku menuju mobil dengan gagah. Dan disaat


itulah air mataku mengalir dengan sendirinya.


Maafkan aku Ayah, aku


meneteskan air mataku dihadapanmu yang sudah pergi dengan senyuman yang tak

__ADS_1


pernah hilang dari wajahmu, ucapku dalam hati.


__ADS_2