
“Itu tidak mungkin Pak,”
ucap Nurdin.
“Betul sekali Pak,
kondisi keuangan perusahaan ini sangat buruk bagaimana bisa kita
mengalokasikannya hanya untuk membuat Bank mereka profit,” ucap Bonar.
“Ada baiknya bapak
memikirkan lagi. kenapa kita justru menabung uang perusahaan ke Bank WJ,
sedangkna kita memiliki Bank kita sendiri,” ucap Joni.
Silih berganti mereka meyampaikan opsi-opsi yang
menantang ide dari ku. Aku hanya mendengarkan mereka hingga tak ada satu pun di
antara mereka yang bersuara.
“Sudah?”
Mereka diam menatapku.
“Keputusanku sudah bulat.
Aku ingin kita membuka tabungan dia Bank WJ sebanyak 500 M.”
Mereka hanya terdiam kesal tak mampu membantah.
“Aku harap Pak Nurdin
segera menyelesaikan itu, berikan uang 500 M paling lambat besok. Agar Dewi
sekertaris saya bisa menyimpan uang itu atas nama perusahan milik saya
sebelumnya.”
Dia pun hanya mengangguk dengan berat.
“Baik kalau begitu
selanjutnya saya aku memperkenalkan seseorang kepada kalian.”
Aku menyuruh Dewi untuk menyuruh orang tersebut untuk
masuk kedalam ruang rapat, dan dia pun langsung bergerak.
Suasana hening hingga seseorang yang tak kalah
berwibawanya dari Ayahku pun masuk bersama Dewi, aku pun bangkit lalu menyalam
tangannya lalu mempersilahkannya untuk duduk dikursi yang telah dipersiapkan
disebelahku.
“Saya rasa sebagian besar
dari kalian sudah tau sepak terjang beliau sebagai Bankir. Dan mungkin dari
sebagian dari kalian juga sudah tau bahwa beliau adalah mertua saya.”
Ruangan seketika heboh mendegar pernyataanku barusan. Aku
membiarkannya saja hingga mereka diam.
“Mulai sekarang beliaulah
yang akan memimpin Bank AP, dan saya ingin Pak Tonny memenuhi kebutuhannya.”
“B-baik Pak.” Balasnya.
“Oke kalian boleh pergi,”
ucapku.
Beberapa petinggi perusahaan ini pergi keluar dari
ruangan untuk tugasnya masing-masing, tinggallah aku, Papa, Om Ali, Dewi dan
Raisa diruangan ini. Om Ali yang sedari tadi diam mulai menunjukkan
keheranannya padaku.
“Apa sebenarnya tujuanmu
Nugy?”
Aku hanya diam tak menjawab.
“Aku tak paham dengna
jalan fikiran mu yang memang betul-betul aneh ini.”
Aku masih diam.
“Menabung uang sebanyak
itu ke WJ sama seperti memberikan seluruh aset perusahaan ini kepada mereka
secara Cuma-Cuma Nugy.”
“500 Miliyar tidak
terlalu besar untuk perusahaan sebesar ini Om.”
“APA?” ucap Papa dan Om
Ali serentak.
Aku hanya diam saja memaklumi itu.
“A-apa yang kau fikirkan tentang
ini Nugy?”
Aku menatap Papa.
“Kau menyuruhku untuk
memegang bank mu, tetapi kau justru mengalokasikan dana itu untuk membuat
terlihat mengerikan lagi?”
Aku mengangguk. Dan mereka berdua hanya sanggup
menggelengkan kepala kepadaku.
“Aku pemimpin diperusahaan
ini, dan Om pernah mengatakan akan selalu disisiku, begitu juga dengna Papa
yang siap membantuku.”
“I-iya ta—,”
“Aku ingin melakukannya,
dan tetap melakukannya, meskipun kalian tak percaya kepadaku,” ucapku lalu
beranjak pergi meninggalkan mereka.
Aku berjalan pergi dengan segenap rasa kesal didalam
hatiku, aku dapat memaklumi mereka yang tidak dapat mengerti apa yang menjadi
rencanaku kali ini, tetapi aku juga ingin mereka tetap mempercayaiku.
Aku sengaja tak memberitahu satu pun dari mereka karena
aku memiliki alasanku sendiri, aku tak memberitahu karena memang itulah yang
terbaik saat ini, bukan karena aku tak mempercayai mereka.
Aku mengeluarkan sebatang rokok milikku lalu kuhisap,
sendiri duduk di ruangan yang luas begini memang terasa berbeda dibanding
dengan ruanganku yang ada diperusahaan milikku sebelumnya.
Tettt Tettt Tettt
Selalu saja ada yang mengusik ketenanganku disaat
fikiranku lagi rumit begini, aku mengambil ponselku lalu melihat Ibu
menelfonku, aku langsung mengangkatnya.
“Assalamualaikum Ibu.”
“Waalaikumsalam,
bagaimana kabarmu nak?”
“Sehat, Ibu sendiri
bagaimana?”
“Tentu Ibu sehat-sehat
saja nak.”
“Bagaimana dengan
anak-anak Bu?”
“Seperti biasa, mereka
selalu terlihat gembira dan senang, mereka….”
Aku hanya diam mendengarkan Ibu yang selalu senang
menceritakan anak-anak yayasan kepadaku, mereka menganggap anak-anak itu
__ADS_1
sebagai anaknya sendiri, prilaku Ibu juga sama tanpa membeda-bedakan, aku dan
Rudy pun juga sangat menyayangi mereka. Setiap kali kesan aku mau pun adikku selalu
membawakan mainan baru untuk mereka disana.
“Syukurlah Bu, jika ada
waktu aku akan main kesana bersama Zulfa.”
“Ibu selalu menunggu
kalian nak, mereka juga selalu bertanya tentangmu, Zulfa dan juga Rudy, bahkan
mereka juga menanyakan kedua sahabatmu itu.”
Aku tak menjawab, dan hanya senyum-senyum sendiri.
“Nak.”
“Iya Bu.”
“Ibu sudah tau bagaimana
kondisimu saat ini, Ibu minta maaf kepadamu, Ibu sudah memaksamu untuk menerima
tanggung jawab dari Ayahmu yang justru kini membebankanmu.”
Aku terdiam terpaku mendengar Ibu yang mulai mengeluarkan
suaranya yang parau, seakan ingin menangis.
“Semua itu pasti sangat
menyulitkan mu Nak, hingga kau meninggalkan perusahaan yang sudah kau bangun
dari awal…”
“Ibu tak akan memaksamu
kali ini nak…”
“Lakukanlah yang kau
inginkan, Ibu tak ingin membuatmu menderita karena terbebani oleh apapun lagi.
Lakukanlah yang kau inginkan, jika memang kau ingin perusahaan ini dijual
lakukanlah…”
“Barusan Ali menelfon Ibu
untuk membujukmu agar menghentikan tujuanmu yang aku sama sekali tak paham.
Tapi Ibu sudah memarahinya, Ibu tak ingin ada siapapun dan hal apapun yang
menjadi beban fikiranmu…”
“Lakukanlah nak, apa pun,
dan aku selalu mendukung semua keputusanmu, meskipun taka da satu pun dari
mereka yang mempercayaimu. Ibu yang akan selalu percaya kepadamu, dan Ibu
merasa bangga akan hal itu.”
Aku yang terdiam seakan tak sadar meneteskan air mataku,
aku terhanyut dengan semua ucapan Ibu barusan. Ibu selalu saja melakukan
sesuatu yang ajaib dalam hidupku, dia selalu membuat hati ku hangat, dan
fikiranku tenang.
“Nak. Kau mmendengar
Ibu?”
“I-ya Bu.”
“Lalu kenapa kau diam?”
“A-ku hanya rindu
kepadamu Bu…”
Aku terdiam sejenak karena tangisku mulai pecah, lalu aku
melanjutkannya lagi.
“Aku janji Bu, aku akan
melakukan yang terbaik, dengan segenap kemampuanku, dan juga dukungan dari Ibu.
Aku janji Bu, aku janji, aku tak akan mengecewakan Ibu.”
“Ibu percaya kepadamu
Nugy, Ibu selalu percaya.”
tangisanku melahap diriku, dan Ibu oun diam membiarkanku selesai dengan
tangisku sampai aku selesai dan kembali tenang.
“Kau sudah enakan nak?”
“S-sudah Bu.”
“Kalau begitu lanjutlah
bekerja, Ibu hanya ingin mengetahui kondisimu saja, Ibu akan merestui apapun
keputusan yang kau ambil, dan Ibu akan mendoakan mu dari sini.”
“Iya Bu, terima kasih
Bu.”
“Sama-sama.”
Kami pun mengakhiri percakapan kami, kau pun meletakkan
ponselku ketempat semula.
Pintu ruanganku berbunyi, aku segera membersihkan wajahku
agar tak terlihat aku habis menangis, setelah itu aku menyuruhnya masuk.
Dewi, Raisa, Om Ali dan juga Papa yang kutinggalkan tadi
masuk bersamaan dengan membawa sebuah koper lalu diletakkan diatas meja
kerjaku, aku menatap mereka heran, dan mereka hanya tersenyum kepadaku.
“Apa ini?”
“Ini uang yang kau suruh
persiapkan.”
Aku menatap mereka tak percaya, lalu ku buka koper dan
memang benar, isinya uang yang sudah dipersiapkan dengan rapih dan dengan
nominal yang sesuai ku perintahkan. Aku tak menyangka mereka mempersiapkan ini
lebih cepat dari waktu yang sudah ku tentukan, sedangkan mereka tadi sangat
keberatan dengan ku.
“Kami percaya kepadamu,
lakukanlah, kami hanya perlu membantumu kan?”
Aku menatap Papa yang sedang tersenyum yakin kepadaku,
begitu juga dengan yang lain. Aku pun mengangguk yakin kepada mereka.
“Lalu sekarang apa
selanjutnya?”
“Aku akan mengatur janii
dengan pihak WJ hari ini.” ucapku.
“Bagaimana caranya?”
Aku menoleh kearah Dewi.
“Sudah ku persiapkan
semuanya, dan malam ini pihak Bank WJ mengundang kita untuk makan malam
bersama.”
Mereka pun mengangguk yakin kepada kami berdua.
“Untuk yang satu ini biar
aku dan Dewi saja yang hadir, karena kami membawa nama perusahaan milikku oleh
sebab itu mereka mau.”
Sekali lagi mereka mengangguk kepadaku. Aku pun tersenyum
kepada mereka.
Setelah itu Papa dan Om Ali pun memutuskan untuk
melanjutkan pekerjaan mereka, Papa langsung menuju Bank AP dengan ditemani oleh
Pak Tonny langsung. Sedangkan aku dan Dewi pergi menuju ke kantorku yang lama
untuk mempersiapkan sesuatu untuk nanti malam.
__ADS_1
“Lu yakin sama strategi
lu ini kan Gy?”
Aku mengangguk yakin.
“Terus kalau dia nipu
kita gimana? Kalau tiba-tiba dia bawa kabur duitnya gimana?”
“Tinggal dibunuh.”
“Gila lu emang Gy.”
“Hahahaha.”
“Malah tawa lagi lu.”
“Tenang aja, dia ga akan
nipu kita, percaya sama gua,” ucapku yakin.
Dia pun mengangguk kepadaku.
…
“Apa yang bisa kami bantu untuk kalian?”
“Tak banyak, aku hanya
ingin menjalin kerjasama dengan memerginkan perusahaan ku kalian, itu pun jika
kalian berkenan, jika tidak aku ingin menjual perusahaanku pada WJ.”
“Apa keunggulan
perusahaan mu hingga kau sangat percaya diri untuk penwaran itu pada kami?”
Aku tersenyum nakal kepada mereka.
“Perusahaan saya memang
tidak terlalu menguntungkan bagi kalian, tetapi saya sangat yakin bahwa
perusahaan saya sangat potensial untuk meraup keuntungan yang besar. Aku hanya
kurang modal saja untuk mengembangkannya.”
Mereka terdiam, dan aku kembali tersenyum nakal kepada
mereka.
“Jika memang penawaran ku
tidak menarik bagi kalian, tidak apa-apa. Aku akan menawarkannya kepada yang
lain.”
“Kau mengancam kami?”
“Oh tidak. Aku hanya
berniat baik untuk menawarkan ini kepada kalian, dan aku tidak menetapkan
dengan harga yang tinggi, itu karena kita sudah saling terhubung dari beberapa
tahun terakhir…”
“AP Group sudah
menyatakan ketertarikannya untuk membeli perusahaan milikku, oleh sebab itu
saya merasa sangat perlu untuk menawarkan kepada kalian.” Sambungku.
“Apa itu alasanmu?”
Aku mengangguk. Mereka berdua pun berunding tanpa
memperdulikan aku dan Dewi dihadapan mereka, tetapi aku tak peduli akan hal
itu, dan hanya melihat mereka saja.
“Baiklah, berapa harga
yang ingin kau berikan kepada kami?”
“500 M.”
Mereka menatapku heran.
“Aku sudah menghitung
semua aset perusahaan ini, dengan khas, tabungan, serta ada 7 proyek yang
sedang berjalan dengan nilai 50 M setiap proyeknya, dan juga uang berjalan yang
kami investasikan. Kurasa 500 M itu adalah harga yang kecil untuk WJ.”
“Kau meremehkan kami?”
“Aku hanya meminta
sedikit kemurahan hati kalian.”
Mereka pun kembali berunding, dan aku hanya tersenyum
melihat mereka berdua.
“Oke, besok tim ku akan
meninjau perusahaan milikmu.”
“Lalu?”
“Setelah semua yang kau
ucapkan benar. Uang akan langsung kami transfer kerekening pribadimu.”
“Oke, deal,” ucapku
mengajak mereka berjabat tangan, mereka pun membalasnya.
Setelah itu kami berbicara sebentar sambil aku mencari
informasi tentang mereka yang tentu saja tidak ku dapatkan. Maklum saja,
keluarga WJ adalah orang tersohor dan dihormati di negeri ini, mereka tertutup,
pergaulannya berbeda, oleh sebab itu para dua orang yang hanya petinggi Bank WJ
tak banyak mengetahui itu, dan kalau pun tau mereka tetap tak akan berani
memberi tahunya.
Aku dan Dewi pun memutuskan pulan gterlebih dahulu,
didalam perjalanan kami tak banyak berbicara, aku pun asik tersenyum karena
rencana pertama ku berhasil berjalan dengan baik, aku sangat yakin bahwa semua
data yang ku sebutkan itu benar, karena Dewi sudah memberikannya kepadaku.
“Data itu memang benarkan
Wi?”
“Iya benar, udah gw
pastiin sebelum gw kasih ama lu.”
Aku pun mengangguk yakin sekaligus senang.
“Lu kenapa dah? Senyum
kaya orang gila lu.”
“Hahaha, lu syirik aja.
Gua lagi seneng rencana pertama kita berhasil.”
“Iya sih, eh apa itu ga
bahaya ya? Wicjaksana lho Gy.”
“Gua yakin Wi. Percaya aja
ama gua kenapa sih.”
“Gua percaya ama lu Gy,
maksud gua itu keselamatan kita apa ga bahaya? Malah gua belum nikah lagi Gy.”
“Hahaha, yaudah besok
nikah aja, sebelum di babat habis ama WJ.”
“Ye elu mah ga asyik Gy.”
“Hahahaha.”
Dia menatap kesal kepadaku.
“Gua pasti bakal
ngelindungi lu Wi. Ga ada satu di antara kita pun yang dalam kondisi bahaya,
gua janji.”
Dia pun mulai luluh dan mengangguk yakin kepadaku.
Kami pun melanjutkan perjalanan
menuju istana kami masing-masing, dan aku harus mengantarkan Dewi terlebih
dahulu.
__ADS_1