Belantara

Belantara
AWAL YANG SULIT


__ADS_3

“Itu tidak mungkin Pak,”


ucap Nurdin.


“Betul sekali Pak,


kondisi keuangan perusahaan ini sangat buruk bagaimana bisa kita


mengalokasikannya hanya untuk membuat Bank mereka profit,” ucap Bonar.


“Ada baiknya bapak


memikirkan lagi. kenapa kita justru menabung uang perusahaan ke Bank WJ,


sedangkna kita memiliki Bank kita sendiri,” ucap Joni.


            Silih berganti mereka meyampaikan opsi-opsi yang


menantang ide dari ku. Aku hanya mendengarkan mereka hingga tak ada satu pun di


antara mereka yang bersuara.


“Sudah?”


            Mereka diam menatapku.


“Keputusanku sudah bulat.


Aku ingin kita membuka tabungan dia Bank WJ sebanyak 500 M.”


            Mereka hanya terdiam kesal tak mampu membantah.


“Aku harap Pak Nurdin


segera menyelesaikan itu, berikan uang 500 M paling lambat besok. Agar Dewi


sekertaris saya bisa menyimpan uang itu atas nama perusahan milik saya


sebelumnya.”


            Dia pun hanya mengangguk dengan berat.


“Baik kalau begitu


selanjutnya saya aku memperkenalkan seseorang kepada kalian.”


            Aku menyuruh Dewi untuk menyuruh orang tersebut untuk


masuk kedalam ruang rapat, dan dia pun langsung bergerak.


            Suasana hening hingga seseorang yang tak kalah


berwibawanya dari Ayahku pun masuk bersama Dewi, aku pun bangkit lalu menyalam


tangannya lalu mempersilahkannya untuk duduk dikursi yang telah dipersiapkan


disebelahku.


“Saya rasa sebagian besar


dari kalian sudah tau sepak terjang beliau sebagai Bankir. Dan mungkin dari


sebagian dari kalian juga sudah tau bahwa beliau adalah mertua saya.”


            Ruangan seketika heboh mendegar pernyataanku barusan. Aku


membiarkannya saja hingga mereka diam.


“Mulai sekarang beliaulah


yang akan memimpin Bank AP, dan saya ingin Pak Tonny memenuhi kebutuhannya.”


“B-baik Pak.” Balasnya.


“Oke kalian boleh pergi,”


ucapku.


            Beberapa petinggi perusahaan ini pergi keluar dari


ruangan untuk tugasnya masing-masing, tinggallah aku, Papa, Om Ali, Dewi dan


Raisa diruangan ini. Om Ali yang sedari tadi diam mulai menunjukkan


keheranannya padaku.


“Apa sebenarnya tujuanmu


Nugy?”


            Aku hanya diam tak menjawab.


“Aku tak paham dengna


jalan fikiran mu yang memang betul-betul aneh ini.”


            Aku masih diam.


“Menabung uang sebanyak


itu ke WJ sama seperti memberikan seluruh aset perusahaan ini kepada mereka


secara Cuma-Cuma Nugy.”


“500 Miliyar tidak


terlalu besar untuk perusahaan sebesar ini Om.”


“APA?” ucap Papa dan Om


Ali serentak.


            Aku hanya diam saja memaklumi itu.


“A-apa yang kau fikirkan tentang


ini Nugy?”


            Aku menatap Papa.


“Kau menyuruhku untuk


memegang bank mu, tetapi kau justru mengalokasikan dana itu untuk membuat


terlihat mengerikan lagi?”


            Aku mengangguk. Dan mereka berdua hanya sanggup


menggelengkan kepala kepadaku.


“Aku pemimpin diperusahaan


ini, dan Om pernah mengatakan akan selalu disisiku, begitu juga dengna Papa


yang siap membantuku.”


“I-iya ta—,”


“Aku ingin melakukannya,


dan tetap melakukannya, meskipun kalian tak percaya kepadaku,” ucapku lalu


beranjak pergi meninggalkan mereka.


            Aku berjalan pergi dengan segenap rasa kesal didalam


hatiku, aku dapat memaklumi mereka yang tidak dapat mengerti apa yang menjadi


rencanaku kali ini, tetapi aku juga ingin mereka tetap mempercayaiku.


            Aku sengaja tak memberitahu satu pun dari mereka karena


aku memiliki alasanku sendiri, aku tak memberitahu karena memang itulah yang


terbaik saat ini, bukan karena aku tak mempercayai mereka.


            Aku mengeluarkan sebatang rokok milikku lalu kuhisap,


sendiri duduk di ruangan yang luas begini memang terasa berbeda dibanding


dengan ruanganku yang ada diperusahaan milikku sebelumnya.


Tettt Tettt Tettt


            Selalu saja ada yang mengusik ketenanganku disaat


fikiranku lagi rumit begini, aku mengambil ponselku lalu melihat Ibu


menelfonku, aku langsung mengangkatnya.


“Assalamualaikum Ibu.”


“Waalaikumsalam,


bagaimana kabarmu nak?”


“Sehat, Ibu sendiri


bagaimana?”


“Tentu Ibu sehat-sehat


saja nak.”


“Bagaimana dengan


anak-anak Bu?”


“Seperti biasa, mereka


selalu terlihat gembira dan senang, mereka….”


            Aku hanya diam mendengarkan Ibu yang selalu senang


menceritakan anak-anak yayasan kepadaku, mereka menganggap anak-anak itu

__ADS_1


sebagai anaknya sendiri, prilaku Ibu juga sama tanpa membeda-bedakan, aku dan


Rudy pun juga sangat menyayangi mereka. Setiap kali kesan aku mau pun adikku selalu


membawakan mainan baru untuk mereka disana.


“Syukurlah Bu, jika ada


waktu aku akan main kesana bersama Zulfa.”


“Ibu selalu menunggu


kalian nak, mereka juga selalu bertanya tentangmu, Zulfa dan juga Rudy, bahkan


mereka juga menanyakan kedua sahabatmu itu.”


            Aku tak menjawab, dan hanya senyum-senyum sendiri.


“Nak.”


“Iya Bu.”


“Ibu sudah tau bagaimana


kondisimu saat ini, Ibu minta maaf kepadamu, Ibu sudah memaksamu untuk menerima


tanggung jawab dari Ayahmu yang justru kini membebankanmu.”


            Aku terdiam terpaku mendengar Ibu yang mulai mengeluarkan


suaranya yang parau, seakan ingin menangis.


“Semua itu pasti sangat


menyulitkan mu Nak, hingga kau meninggalkan perusahaan yang sudah kau bangun


dari awal…”


“Ibu tak akan memaksamu


kali ini nak…”


“Lakukanlah yang kau


inginkan, Ibu tak ingin membuatmu menderita karena terbebani oleh apapun lagi.


Lakukanlah yang kau inginkan, jika memang kau ingin perusahaan ini dijual


lakukanlah…”


“Barusan Ali menelfon Ibu


untuk membujukmu agar menghentikan tujuanmu yang aku sama sekali tak paham.


Tapi Ibu sudah memarahinya, Ibu tak ingin ada siapapun dan hal apapun yang


menjadi beban fikiranmu…”


“Lakukanlah nak, apa pun,


dan aku selalu mendukung semua keputusanmu, meskipun taka da satu pun dari


mereka yang mempercayaimu. Ibu yang akan selalu percaya kepadamu, dan Ibu


merasa bangga akan hal itu.”


            Aku yang terdiam seakan tak sadar meneteskan air mataku,


aku terhanyut dengan semua ucapan Ibu barusan. Ibu selalu saja melakukan


sesuatu yang ajaib dalam hidupku, dia selalu membuat hati ku hangat, dan


fikiranku tenang.


“Nak. Kau mmendengar


Ibu?”


“I-ya Bu.”


“Lalu kenapa kau diam?”


“A-ku hanya rindu


kepadamu Bu…”


            Aku terdiam sejenak karena tangisku mulai pecah, lalu aku


melanjutkannya lagi.


“Aku janji Bu, aku akan


melakukan yang terbaik, dengan segenap kemampuanku, dan juga dukungan dari Ibu.


Aku janji Bu, aku janji, aku tak akan mengecewakan Ibu.”


“Ibu percaya kepadamu


Nugy, Ibu selalu percaya.”


tangisanku melahap diriku, dan Ibu oun diam membiarkanku selesai dengan


tangisku sampai aku selesai dan kembali tenang.


“Kau sudah enakan nak?”


“S-sudah Bu.”


“Kalau begitu lanjutlah


bekerja, Ibu hanya ingin mengetahui kondisimu saja, Ibu akan merestui apapun


keputusan yang kau ambil, dan Ibu akan mendoakan mu dari sini.”


“Iya Bu, terima kasih


Bu.”


“Sama-sama.”


            Kami pun mengakhiri percakapan kami, kau pun meletakkan


ponselku ketempat semula.


            Pintu ruanganku berbunyi, aku segera membersihkan wajahku


agar tak terlihat aku habis menangis, setelah itu aku menyuruhnya masuk.


            Dewi, Raisa, Om Ali dan juga Papa yang kutinggalkan tadi


masuk bersamaan dengan membawa sebuah koper lalu diletakkan diatas meja


kerjaku, aku menatap mereka heran, dan mereka hanya tersenyum kepadaku.


“Apa ini?”


“Ini uang yang kau suruh


persiapkan.”


            Aku menatap mereka tak percaya, lalu ku buka koper dan


memang benar, isinya uang yang sudah dipersiapkan dengan rapih dan dengan


nominal yang sesuai ku perintahkan. Aku tak menyangka mereka mempersiapkan ini


lebih cepat dari waktu yang sudah ku tentukan, sedangkan mereka tadi sangat


keberatan dengan ku.


“Kami percaya kepadamu,


lakukanlah, kami hanya perlu membantumu kan?”


            Aku menatap Papa yang sedang tersenyum yakin kepadaku,


begitu juga dengan yang lain. Aku pun mengangguk yakin kepada mereka.


“Lalu sekarang apa


selanjutnya?”


“Aku akan mengatur janii


dengan pihak WJ hari ini.” ucapku.


“Bagaimana caranya?”


            Aku menoleh kearah Dewi.


“Sudah ku persiapkan


semuanya, dan malam ini pihak Bank WJ mengundang kita untuk makan malam


bersama.”


            Mereka pun mengangguk yakin kepada kami berdua.


“Untuk yang satu ini biar


aku dan Dewi saja yang hadir, karena kami membawa nama perusahaan milikku oleh


sebab itu mereka mau.”


            Sekali lagi mereka mengangguk kepadaku. Aku pun tersenyum


kepada mereka.


            Setelah itu Papa dan Om Ali pun memutuskan untuk


melanjutkan pekerjaan mereka, Papa langsung menuju Bank AP dengan ditemani oleh


Pak Tonny langsung. Sedangkan aku dan Dewi pergi menuju ke kantorku yang lama


untuk mempersiapkan sesuatu untuk nanti malam.

__ADS_1


“Lu yakin sama strategi


lu ini kan Gy?”


            Aku mengangguk yakin.


“Terus kalau dia nipu


kita gimana? Kalau tiba-tiba dia bawa kabur duitnya gimana?”


“Tinggal dibunuh.”


“Gila lu emang Gy.”


“Hahahaha.”


“Malah tawa lagi lu.”


“Tenang aja, dia ga akan


nipu kita, percaya sama gua,” ucapku yakin.


            Dia pun mengangguk kepadaku.



“Apa yang bisa kami bantu untuk kalian?”


“Tak banyak, aku hanya


ingin menjalin kerjasama dengan memerginkan perusahaan ku kalian, itu pun jika


kalian berkenan, jika tidak aku ingin menjual perusahaanku pada WJ.”


“Apa keunggulan


perusahaan mu hingga kau sangat percaya diri untuk penwaran itu pada kami?”


            Aku tersenyum nakal kepada mereka.


“Perusahaan saya memang


tidak terlalu menguntungkan bagi kalian, tetapi saya sangat yakin bahwa


perusahaan saya sangat potensial untuk meraup keuntungan yang besar. Aku hanya


kurang modal saja untuk mengembangkannya.”


            Mereka terdiam, dan aku kembali tersenyum nakal kepada


mereka.


“Jika memang penawaran ku


tidak menarik bagi kalian, tidak apa-apa. Aku akan menawarkannya kepada yang


lain.”


“Kau mengancam kami?”


“Oh tidak. Aku hanya


berniat baik untuk menawarkan ini kepada kalian, dan aku tidak menetapkan


dengan harga yang tinggi, itu karena kita sudah saling terhubung dari beberapa


tahun terakhir…”


“AP Group sudah


menyatakan ketertarikannya untuk membeli perusahaan milikku, oleh sebab itu


saya merasa sangat perlu untuk menawarkan kepada kalian.” Sambungku.


“Apa itu alasanmu?”


            Aku mengangguk. Mereka berdua pun berunding tanpa


memperdulikan aku dan Dewi dihadapan mereka, tetapi aku tak peduli akan hal


itu, dan hanya melihat mereka saja.


“Baiklah, berapa harga


yang ingin kau berikan kepada kami?”


“500 M.”


            Mereka menatapku heran.


“Aku sudah menghitung


semua aset perusahaan ini, dengan khas, tabungan, serta ada 7 proyek yang


sedang berjalan dengan nilai 50 M setiap proyeknya, dan juga uang berjalan yang


kami investasikan. Kurasa 500 M itu adalah harga yang kecil untuk WJ.”


“Kau meremehkan kami?”


“Aku hanya meminta


sedikit kemurahan hati kalian.”


            Mereka pun kembali berunding, dan aku hanya tersenyum


melihat mereka berdua.


“Oke, besok tim ku akan


meninjau perusahaan milikmu.”


“Lalu?”


“Setelah semua yang kau


ucapkan benar. Uang akan langsung kami transfer kerekening pribadimu.”


“Oke, deal,” ucapku


mengajak mereka berjabat tangan, mereka pun membalasnya.


            Setelah itu kami berbicara sebentar sambil aku mencari


informasi tentang mereka yang tentu saja tidak ku dapatkan. Maklum saja,


keluarga WJ adalah orang tersohor dan dihormati di negeri ini, mereka tertutup,


pergaulannya berbeda, oleh sebab itu para dua orang yang hanya petinggi Bank WJ


tak banyak mengetahui itu, dan kalau pun tau mereka tetap tak akan berani


memberi tahunya.


            Aku dan Dewi pun memutuskan pulan gterlebih dahulu,


didalam perjalanan kami tak banyak berbicara, aku pun asik tersenyum karena


rencana pertama ku berhasil berjalan dengan baik, aku sangat yakin bahwa semua


data yang ku sebutkan itu benar, karena Dewi sudah memberikannya kepadaku.


“Data itu memang benarkan


Wi?”


“Iya benar, udah gw


pastiin sebelum gw kasih ama lu.”


            Aku pun mengangguk yakin sekaligus senang.


“Lu kenapa dah? Senyum


kaya orang gila lu.”


“Hahaha, lu syirik aja.


Gua lagi seneng rencana pertama kita berhasil.”


“Iya sih, eh apa itu ga


bahaya ya? Wicjaksana lho Gy.”


“Gua yakin Wi. Percaya aja


ama gua kenapa sih.”


“Gua percaya ama lu Gy,


maksud gua itu keselamatan kita apa ga bahaya? Malah gua belum nikah lagi Gy.”


“Hahaha, yaudah besok


nikah aja, sebelum di babat habis ama WJ.”


“Ye elu mah ga asyik Gy.”


“Hahahaha.”


            Dia menatap kesal kepadaku.


“Gua pasti bakal


ngelindungi lu Wi. Ga ada satu di antara kita pun yang dalam kondisi bahaya,


gua janji.”


            Dia pun mulai luluh dan mengangguk yakin kepadaku.


            Kami pun melanjutkan perjalanan


menuju istana kami masing-masing, dan aku harus mengantarkan Dewi terlebih


dahulu.

__ADS_1


__ADS_2