
1 bulan kemudian…
“Ingin makan siang
denganku nanti?”
“Aku sama Ayu saja, kau
terlalu jauh bolak-balik nanti.”
“Aku tidak keberatan
sayang.”
“Lain kali aja ya, ketika
urusanmu sudah mulai lenggang.”
“Kau yakin?”
Dia mengangguk, aku pun tersenyum lalu mencium keningnya.
Setelah dia turun dari mobil, aku pun langsung berangkat
menuju kantorku. Semua urusanku sudah berjalan sebagaimana yang aku rencanakan
sebelumnya. Aku sudah berhasil menjual perusahaanku kepada WJ dengan harga yang
sudah kami sepakati, dan uang itu ku gunakan untuk melancarakan aksiku
selanjutnya.
Aku
sudah terlebih dahulu menabung uang itu di bank WJ sebelum aku mendapatkan uang
hasil dari penjualan perusahanku, agar tak Nampak curiga oleh pihak WJ sendiri.
Dan sekarang tugas ku hanya duduk dan membaca beberapa laporan seperti tugasku
biasa dikantorku yang lama.
Aku mengambil ponselku untuk menelfon seesorang.
“Kekantorku sekarang.”
“Baik Pak.”
Setelah mematikan ponselku, aku segera pergi menuju
kantorku.
Tak berbeda dengan suasana di kantorku yang lama,
ditempat baru ini aku juga disambut dengan karyawan yang tersenyum manis
kearahku, dan aku juga membalasnya dengan ramah.
Aku memasuki ruanganku yang diikuti oleh Dewi yang lebih
dahulu sampai, lalu dia duduk dihadapanku.
“Ada apa?”
“Gua mau lu Tarik semua
pekerja lapangan yang menangani proyek itu.”
“Hah!? Lu serius?”
Aku mengangguk.
“Gimana caranya?”
“Lu bagiin uang itu untuk
membuat masing-masing kepala proyek itu keluar dari situ.”
“Itu terlalu bahaya Gy.”
“Lakukan saja
perintahku.”
Dewi pun tak menjawab lagi, lalu pergi meninggalkanku.
Misi ku selanjutnya ingin menarik beberapa orang yang
selama ini berpotensi atas perkembangan bisnis diperusahaan ku yang lama,
dengan keluarnya mereka dari tempat itu, akan merugikan pihak WJ yang sudah
menjadi pihak berwenang atas perusahaanku yang ku jual kepada mereka.
Aku tak akan mengorbankan perkerjaku sebelumnya hanya
untuk ego dari misiku ini, mereka sudah banyak membantuku, dan aku juga harus
membantu mereka. Aku ingin benar-benar memberi pelajaran kepada WJ, dan oleh
sebabnya aku tak mau para pekerja ku itu menerima dampak dari itu juga.
Dengan rokokku yang menyala, juga secangkir kopi yang
sudah disediakan untukku, aku duduk sambil menunggu seseorang yang ku hubungi
tadi. Tak berapa lama, dia pun datang dan masuk dengna tak lupa mengetuk pintu
ruanganku terlebih dahulu, aku menyuruhnya duduk dihadapanku. Dia adalah
Taufik, ajudan Ayah.
“Bagaimana?”
“Sudah aman Pak.”
Aku mengagguk kepadanya. Sambil memberikan rokok ku
kepadanya, lalu dia menerima dan kemudian menghisapnya.
“Apa Ayah memiliki
kenalan di Bea Cukai?”
Dia mengangguk.
“Bagaimana hubungannya?”
“Bapak (Ayah) selalu
menjalin hubungan baik dengan orang-orangnya, termasuk Herman salah satu
petinggi di Bea Cukai.”
Aku mengangguk.
“Apa yang bisa saya
lakukan?”
“Aku mau kau mengenalkan
ku kepadanya. Kalau bisa hari ini.”
__ADS_1
Dia pun mengangguk lalu meminta izin untuk menghubungi
pihak Herman terlebih dahulu.
Lama dia meninggalkanku, kemudian dia kembali keposisinya
semula.
“Mereka mau Pak sekalian
mengajak makan siang.”
“Baguslah, kalau begitu
kau ikut denganku.”
“Baik Pak.”
Tak lupa aku pun mengeluarkan kembali ponselku untuk
menelfon seseorang yang akan aku ajak ikut bersama kami siang ini. setelah itu
kami pun segera berangkat menuju lokasi yang sudah dijanji kan untuk bertemu.
“Kita menggunakan mobilmu
saja.”
“Baik Pak.”
Kami pun berangkat.
Dengan mengitari Hutan Belantara yang tak pernah khilaf
dari macetnya, kami pun berhasil sampai kesebuah lokasi dimana aku memutuskan
untuk menjemput seseorang terlebih dahulu sebelum kami menemui pihak Bea Cukai.
“Kau sudah lama
menunggu?”
“Oh tidak.”
Dia adalah Andre sepupuku, beberapa minggu yang lalu aku
menghubunginya untuk meminta bantuan kepadanya, dia juga sudah tau kondisi
perusahaan setelah ku jelaskan kepadanya, dan dengan senang hati dia bersedia
membantuku.
Dalam perjalanan menuju lokasi, kami tak banyak bicara,
aku hanya menatap Taufik dan Andre silih berganti, mereka yang duduk
dihadapanku membuatku teringat dengan kisah tragis diantara mereka berdua.
Kisah yang pernah Ibu ceritakan, kisah yang mana sebenarnya mereka adalah
saudara kandung, dan hanya beda Ibu saja, tetapi aku hanya mampu menyimpan
rahasia yang pasti mereka berdua pun tak mengetahuinya.
Kami langsung menghampiri seseorang yang sudah menunggu
kami, yaitu Pak Herman, salah satu rekan baik Ayahku semasa hidupnya. Dia
menatapku yang duduk dihadapannya.
“Kau terlihat mirip
dengan Ayahmu.”
“Ada keperluan apa
denganku?”
“Aku ingin meminta
bantuan Bapak.”
“Bisa kau jelaskan?”
Aku pun mengangguk.
Aku menjelaskan kondisi perusahaan kepadanya, karena aku
percaya bahwa dia masih setia kepada Ayahku, tak banyak pertanyaan, dia hanya
diam dan mendengarkanku menjelaskan semua ceritaku hingga selesai.
“Lalu apa yang bisa ku
bantu?”
“Saat ini kondisi
Ekspor&Impor kami sedang terkendala di Cukai, dan hal itu sangat merugikan
pihak kami, dan aku ingin meminta bantuan Bapak akan hal itu.”
Dia pun mengangguk tak yakin lalu menatapku yang juga
menatapnya.
“Aku sangat memaklumi
kondisi perusahaanmu saat ini, tetapi kau juga harus tahu bahwa lawanmu itu
siapa. Taruh lah aku bisa membantumu untuk itu, tetapi itu tak akan bertahan
lama, mereka pasti akan langsung melakukan sesuatu dan bahkan bisa membuat
bisnis mu itu mati total.”
“Bukankah Om adalah
seorang Direktur utama?”
Dia mengangguk datar.
“Apa selama ini mereka
langsung berhubungan denganmu untuk mengerjai bisnis kami?”
Dia menatapku tajam seakan tersindir.
“Aku menemui mu untuk
meminta bantuan karena ku yakin Om bisa membantu ku.”
“Kau menjual nama Ayahmu
kepadaku?”
“Bukankan Ayahku sudah
banyak membantumu?”
Dia terdiam mati kutu.
“Aku bisa memaklumi
__ADS_1
kondisimu, tetapi aku benar-benar meminta bantuanmu.”
“Iya tetapi itu justru
berbahaya bagi bisnismu, Itu sama saja dengan menantang pihak WJ, dan mereka tidak
akan tinggal diam untuk itu.”
“Aku memang sengaja untuk
itu.”
“Apa maksudmu?”
“Aku ingin menantang
mereka.”
Mereka bertiga pun terdiam seakan tak menyangka dengna
yang ku ucapkan.
“Loloskanlah, dan aku tak
peduli jika memang hanya bertahan 1 atau 2 hari. Kamu hanya perlu membantuku,
setelah itu mereka akan membayarmu dengan nilai jauh lebih dari yang mereka
kasih sebelumnya.”
“Maksudmu?”
“Katakan saja kami
membayar mu 4 kali lipat dari mereka membayar mu selama ini. dan mereka akan menaikan
harga untuk membayarmu.”
Dia terdiam sesaat lalu menatapku dalam. Aku hanya
melihat reaksinya yang seakan tergoda dengan nilai yang bisa dia dapatkan nanti.
“Sebenarnya apa
tujuanmu?”
“Aku hanya ingin
menunjukkan seniku.”
Lagi lagi dia terdiam heran mencerna ucapanku barusan.
Andre dan Taufik juga hanya terdiam sejak tadi.
“Baiklah, aku akan
melakukannya.”
Aku pun tersenyum senang mendengarnya.
“Tetapi aku tak yakin
bisa menyelamatkan bisnismu jika mereka melakukan pergerakan.”
“Ya aku mengeti.”
Setelahnya kami pun berhenti untuk bercerita, selera
makan kami seketika hilang dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu, begitu
juga dengan Pak Herman yang memutuskan untuk kembali kekanturnya.
Didalam perjalanan Andre berkali-kali bertanya kepadaku,
akan maksud dari tujuanku, tetapi aku tetap tak memberitahunya.
“Lalu apa tujuanmu
mengajakku?”
Aku tersenyum nakal kepadanya, lalu memperbaiki posisi dudukku.
“Aku ingin kau membuat
isu.”
“Maksudmu?”
“Katakan kepada media,
bahwa kau sudah membeli seluruh aset perkebunan milik AP Group.”
“Membeli?”
Aku mengangguk.
“Apa tujuanmu?”
“Saat ini produksi sawit
kami sedang diganggu oleh WJ, dan pemasarannya jadi terhambat. Oleh sebab itu,
dengan isu itu, mereka pasti mengira bahwa AP sudah tak sanggup melawan mereka,
dan mereka tidak akan mengganggu Perkebunan itu lagi.”
Andre terdiam.
“Mereka akan mengira kami
bangkrut. Padahal itu hanya isu, dan mereka tak akan mengusiknya lagi. Produksi
Perkebunan itu pun berjalan dengan baik dengan sebagai mestinya ditangamu.”
“Apa kau yakin? Bagaimana
dengan Ibumu nanti? Dan Orang-orangmu bagaimana? Jika mereka ikut termakan isu
itu bagaimana?”
“Tenang saja itulah
tugasku sebagai pemimpin perusahaan.”
Dia pun terdiam menatapku dalam.
“Ayolah Andre. Hanya kau
yang bisa membantuku saat ini. Aku janji tak akan melibatkanmu lebih jauh lagi.
Dan aku juga akan memberi bagianmu sesuai dengan yang kau inginkan.”
“Kau memang gila Nugy.
Aku tak perlu meminta bagianku. Sebagai Kakak, aku memiliki kewajiban untuk
membantu Adiknya.”
Aku pun tersenyum senang menatapnya.
Kami pun tak banyak berbicara lagi,
dan memutuskan untuk kembali ketempat kami masing-masing.
__ADS_1