Belantara

Belantara
KOLEGA SEDARAH


__ADS_3

1 bulan kemudian…


“Ingin makan siang


denganku nanti?”


“Aku sama Ayu saja, kau


terlalu jauh bolak-balik nanti.”


“Aku tidak keberatan


sayang.”


“Lain kali aja ya, ketika


urusanmu sudah mulai lenggang.”


“Kau yakin?”


            Dia mengangguk, aku pun tersenyum lalu mencium keningnya.


            Setelah dia turun dari mobil, aku pun langsung berangkat


menuju kantorku. Semua urusanku sudah berjalan sebagaimana yang aku rencanakan


sebelumnya. Aku sudah berhasil menjual perusahaanku kepada WJ dengan harga yang


sudah kami sepakati, dan uang itu ku gunakan untuk melancarakan aksiku


selanjutnya.


Aku


sudah terlebih dahulu menabung uang itu di bank WJ sebelum aku mendapatkan uang


hasil dari penjualan perusahanku, agar tak Nampak curiga oleh pihak WJ sendiri.


Dan sekarang tugas ku hanya duduk dan membaca beberapa laporan seperti tugasku


biasa dikantorku yang lama.


            Aku mengambil ponselku untuk menelfon seesorang.


“Kekantorku sekarang.”


“Baik Pak.”


            Setelah mematikan ponselku, aku segera pergi menuju


kantorku.


            Tak berbeda dengan suasana di kantorku yang lama,


ditempat baru ini aku juga disambut dengan karyawan yang tersenyum manis


kearahku, dan aku juga membalasnya dengan ramah.


            Aku memasuki ruanganku yang diikuti oleh Dewi yang lebih


dahulu sampai, lalu dia duduk dihadapanku.


“Ada apa?”


“Gua mau lu Tarik semua


pekerja lapangan yang menangani proyek itu.”


“Hah!? Lu serius?”


            Aku mengangguk.


“Gimana caranya?”


“Lu bagiin uang itu untuk


membuat masing-masing kepala proyek itu keluar dari situ.”


“Itu terlalu bahaya Gy.”


“Lakukan saja


perintahku.”


            Dewi pun tak menjawab lagi, lalu pergi meninggalkanku.


            Misi ku selanjutnya ingin menarik beberapa orang yang


selama ini berpotensi atas perkembangan bisnis diperusahaan ku yang lama,


dengan keluarnya mereka dari tempat itu, akan merugikan pihak WJ yang sudah


menjadi pihak berwenang atas perusahaanku yang ku jual kepada mereka.


            Aku tak akan mengorbankan perkerjaku sebelumnya hanya


untuk ego dari misiku ini, mereka sudah banyak membantuku, dan aku juga harus


membantu mereka. Aku ingin benar-benar memberi pelajaran kepada WJ, dan oleh


sebabnya aku tak mau para pekerja ku itu menerima dampak dari itu juga.


            Dengan rokokku yang menyala, juga secangkir kopi yang


sudah disediakan untukku, aku duduk sambil menunggu seseorang yang ku hubungi


tadi. Tak berapa lama, dia pun datang dan masuk dengna tak lupa mengetuk pintu


ruanganku terlebih dahulu, aku menyuruhnya duduk dihadapanku. Dia adalah


Taufik, ajudan Ayah.


“Bagaimana?”


“Sudah aman Pak.”


            Aku mengagguk kepadanya. Sambil memberikan rokok ku


kepadanya, lalu dia menerima dan kemudian menghisapnya.


“Apa Ayah memiliki


kenalan di Bea Cukai?”


            Dia mengangguk.


“Bagaimana hubungannya?”


“Bapak (Ayah) selalu


menjalin hubungan baik dengan orang-orangnya, termasuk Herman salah satu


petinggi di Bea Cukai.”


            Aku mengangguk.


“Apa yang bisa saya


lakukan?”


“Aku mau kau mengenalkan


ku kepadanya. Kalau bisa hari ini.”

__ADS_1


            Dia pun mengangguk lalu meminta izin untuk menghubungi


pihak Herman terlebih dahulu.


            Lama dia meninggalkanku, kemudian dia kembali keposisinya


semula.


“Mereka mau Pak sekalian


mengajak makan siang.”


“Baguslah, kalau begitu


kau ikut denganku.”


“Baik Pak.”


            Tak lupa aku pun mengeluarkan kembali ponselku untuk


menelfon seseorang yang akan aku ajak ikut bersama kami siang ini. setelah itu


kami pun segera berangkat menuju lokasi yang sudah dijanji kan untuk bertemu.


“Kita menggunakan mobilmu


saja.”


“Baik Pak.”


            Kami pun berangkat.


            Dengan mengitari Hutan Belantara yang tak pernah khilaf


dari macetnya, kami pun berhasil sampai kesebuah lokasi dimana aku memutuskan


untuk menjemput seseorang terlebih dahulu sebelum kami menemui pihak Bea Cukai.


“Kau sudah lama


menunggu?”


“Oh tidak.”


            Dia adalah Andre sepupuku, beberapa minggu yang lalu aku


menghubunginya untuk meminta bantuan kepadanya, dia juga sudah tau kondisi


perusahaan setelah ku jelaskan kepadanya, dan dengan senang hati dia bersedia


membantuku.


            Dalam perjalanan menuju lokasi, kami tak banyak bicara,


aku hanya menatap Taufik dan Andre silih berganti, mereka yang duduk


dihadapanku membuatku teringat dengan kisah tragis diantara mereka berdua.


Kisah yang pernah Ibu ceritakan, kisah yang mana sebenarnya mereka adalah


saudara kandung, dan hanya beda Ibu saja, tetapi aku hanya mampu menyimpan


rahasia yang pasti mereka berdua pun tak mengetahuinya.


            Kami langsung menghampiri seseorang yang sudah menunggu


kami, yaitu Pak Herman, salah satu rekan baik Ayahku semasa hidupnya. Dia


menatapku yang duduk dihadapannya.


“Kau terlihat mirip


dengan Ayahmu.”


“Ada keperluan apa


denganku?”


“Aku ingin meminta


bantuan Bapak.”


“Bisa kau jelaskan?”


            Aku pun mengangguk.


            Aku menjelaskan kondisi perusahaan kepadanya, karena aku


percaya bahwa dia masih setia kepada Ayahku, tak banyak pertanyaan, dia hanya


diam dan mendengarkanku menjelaskan semua ceritaku hingga selesai.


“Lalu apa yang bisa ku


bantu?”


“Saat ini kondisi


Ekspor&Impor kami sedang terkendala di Cukai, dan hal itu sangat merugikan


pihak kami, dan aku ingin meminta bantuan Bapak akan hal itu.”


            Dia pun mengangguk tak yakin lalu menatapku yang juga


menatapnya.


“Aku sangat memaklumi


kondisi perusahaanmu saat ini, tetapi kau juga harus tahu bahwa lawanmu itu


siapa. Taruh lah aku bisa membantumu untuk itu, tetapi itu tak akan bertahan


lama, mereka pasti akan langsung melakukan sesuatu dan bahkan bisa membuat


bisnis mu itu mati total.”


“Bukankah Om adalah


seorang Direktur utama?”


            Dia mengangguk datar.


“Apa selama ini mereka


langsung berhubungan denganmu untuk mengerjai bisnis kami?”


            Dia menatapku tajam seakan tersindir.


“Aku menemui mu untuk


meminta bantuan karena ku yakin Om bisa membantu ku.”


“Kau menjual nama Ayahmu


kepadaku?”


“Bukankan Ayahku sudah


banyak membantumu?”


            Dia terdiam mati kutu.


“Aku bisa memaklumi

__ADS_1


kondisimu, tetapi aku benar-benar meminta bantuanmu.”


“Iya tetapi itu justru


berbahaya bagi bisnismu, Itu sama saja dengan menantang pihak WJ, dan mereka tidak


akan tinggal diam untuk itu.”


“Aku memang sengaja untuk


itu.”


“Apa maksudmu?”


“Aku ingin menantang


mereka.”


            Mereka bertiga pun terdiam seakan tak menyangka dengna


yang ku ucapkan.


“Loloskanlah, dan aku tak


peduli jika memang hanya bertahan 1 atau 2 hari. Kamu hanya perlu membantuku,


setelah itu mereka akan membayarmu dengan nilai jauh lebih dari yang mereka


kasih sebelumnya.”


“Maksudmu?”


“Katakan saja kami


membayar mu 4 kali lipat dari mereka membayar mu selama ini. dan mereka akan menaikan


harga untuk membayarmu.”


            Dia terdiam sesaat lalu menatapku dalam. Aku hanya


melihat reaksinya yang seakan tergoda dengan nilai yang bisa dia dapatkan nanti.


“Sebenarnya apa


tujuanmu?”


“Aku hanya ingin


menunjukkan seniku.”


            Lagi lagi dia terdiam heran mencerna ucapanku barusan.


Andre dan Taufik juga hanya terdiam sejak tadi.


“Baiklah, aku akan


melakukannya.”


            Aku pun tersenyum senang mendengarnya.


“Tetapi aku tak yakin


bisa menyelamatkan bisnismu jika mereka melakukan pergerakan.”


“Ya aku mengeti.”


            Setelahnya kami pun berhenti untuk bercerita, selera


makan kami seketika hilang dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu, begitu


juga dengan Pak Herman yang memutuskan untuk kembali kekanturnya.


            Didalam perjalanan Andre berkali-kali bertanya kepadaku,


akan maksud dari tujuanku, tetapi aku tetap tak memberitahunya.


“Lalu apa tujuanmu


mengajakku?”


            Aku tersenyum nakal kepadanya, lalu memperbaiki posisi dudukku.


“Aku ingin kau membuat


isu.”


“Maksudmu?”


“Katakan kepada media,


bahwa kau sudah membeli seluruh aset perkebunan milik AP Group.”


“Membeli?”


            Aku mengangguk.


“Apa tujuanmu?”


“Saat ini produksi sawit


kami sedang diganggu oleh WJ, dan pemasarannya jadi terhambat. Oleh sebab itu,


dengan isu itu, mereka pasti mengira bahwa AP sudah tak sanggup melawan mereka,


dan mereka tidak akan mengganggu Perkebunan itu lagi.”


            Andre terdiam.


“Mereka akan mengira kami


bangkrut. Padahal itu hanya isu, dan mereka tak akan mengusiknya lagi. Produksi


Perkebunan itu pun berjalan dengan baik dengan sebagai mestinya ditangamu.”


“Apa kau yakin? Bagaimana


dengan Ibumu nanti? Dan Orang-orangmu bagaimana? Jika mereka ikut termakan isu


itu bagaimana?”


“Tenang saja itulah


tugasku sebagai pemimpin perusahaan.”


            Dia pun terdiam menatapku dalam.


“Ayolah Andre. Hanya kau


yang bisa membantuku saat ini. Aku janji tak akan melibatkanmu lebih jauh lagi.


Dan aku juga akan memberi bagianmu sesuai dengan yang kau inginkan.”


“Kau memang gila Nugy.


Aku tak perlu meminta bagianku. Sebagai Kakak, aku memiliki kewajiban untuk


membantu Adiknya.”


            Aku pun tersenyum senang menatapnya.


            Kami pun tak banyak berbicara lagi,


dan memutuskan untuk kembali ketempat kami masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2