Belantara

Belantara
PRIA GAGAH ITU PERGI (PART 6)


__ADS_3

“Kau membawa Peciku?”


tanya ku kepada zulfa


            Dia pun mengambilnya dari lemari, lalu dia memberikannya


kepadaku.


            Aku memakai peciku dengan rapih, dan setelah itu aku


melihat Zulfa yang sudah lengkap dengan pakaian muslimahnya yang dibaluti


hijab. Aku sungguh terpana akan kecantikan dia yang menjadi berkali-kali lipat


dengan pakaian seperti itu. Dia selama ini memang tak memakai hijab, dia hanya


memakai mukenah saja ketika sholat.


“Kau cantik sekali dengan


jilbabmu,” pujiku jujur kepadanya.


            Dia menatapku.


“Sudahlah kita tak sempat


untuk saling menggoda, tamu pasti sudah ramai yang datang, sebaiknya kita cepat


turun,” balasnya dengan ekspresi malu-malunya.


            Aku hanya tertawa, lalu kugenggam tangannya dan kami


berjalan kelantai bawah.


            Ternyata sudah banyak tamu yang sudah hadir, aku juga


melihat Sepupu-sepupuku, Andre yang sedang bersama Rudy adikku, dan Adrian yang


sedang bersama Ibuku duduk disofa. Kami berdua pun bergabung bersama mereka.


Adrian yang melihat kami langsung bersalaman denganku dan Zulfa.


“Jadi dia istrimu Nugy?”


tanyanya sambil tersenyum kepada Zulfa.


“Kenapa? Kau tekejut aku


bisa memiliki istri yang cantik? Meskipun aku tak berpengalaman sepertimu soal


wanita?” jawabku sinis sambil tersenyum.


“Hahahaha, kampret kau,”


balasnya


            Dan kami berdua pun tertawa.


Aku


memang tak dekat dengan Sepupu-sepupuku yang lain, namun dengan Adrian aku sangat


dekat, karena kami pernah satu seperjuangan saat kuliah dulu, hanya saja aku


lulus lebih dulu sedangkan dia lulus satu tahun kemudian, setelah itu dia langsung


mengambil S2 di Australia, dan sebentar lagi dia juga akan tamat.


            Adrian sebenarnya anak yang pintar, namun tidak sepertiku,


dia selalu sibuk dengan beberapa wanitanya ketika kuliah dulu. Dia memiliki


kebiasaan hidup yang hedon saat kuliah. Namun sudah berubah saat Ayahnya


meninggal karena kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju rumahnya di Jakarta


untuk menemui dia. Karena kejadian itulah dia sangat terpukul dan mulai merubah


kebiasaan buruknya, hingga bisa menjadi anak yang lebih baik seperti sekarang.


“Kau tahu Zulfa, suamimu


ini adalah orang yang sangat cupu jika menyangkut soal wanita ketika kami


kuliah dulu,” pamernya seakan bernostalgia.


            Zulfa hanya tersenyum mendengarkan Adrian yang berbicara.


“Aku sudah mengajaknya ke


salah satu bar elite yang ada di Jakarta, namun dia justru keringat dingin saat


melihat banyak wanita dengan pakaian sexy. Dan justru dia mebanting gelas


berisi bir yang ku berikan kepadanya…”


“Lalu dia menarikku


pulang kerumah dan menghajarku Habis-habisan, aku tak merasakannya sama sekali,


namun saat aku sadar paginya seluruh badanku sangat sakit dan wajahku Biru-biru


akibat sikurang hajar ini.”


            Aku hanya tersenyum melihatnya yang seolah seperti sudah


akrab dengan Zulfa yang sedang asyik mendengarkan ceritanya.


“Lalu aku tak senang dan


menantang dia berkelahi, namun tetap saja aku kalah,” ucapnya sambil tertawa setelahnya.


            Zulfa pun tertawa mendengarnya.


Aku


jadi teringat kejadian itu, aku marah kepadanya karena dia berbohong kepadaku, dia


mengatakan kepadaku hanya ingin mengajakku ketempat yang asik dan santai, tapi


dia justru mengajakku ketempat seperti itu. Memang bagi dia tempat itu adalah


tempat yang asik dan santai tapi bagiku itu tidak. Makanya aku menariknya


pulang lalu menghajarnya dirumah, dari pada aku menghajarnya dibar kan bisa


gawat.


“Kau ingin merasakannya


lagi?” kataku menawarkan tinjuanku kepada nya dengan senyuman sinis.


“Ya enggaklah kurang


hajar,” jawabnya kesal.


“Hahaha kalau begitu


diamlah,” balasku.


            Lalu kami yang ada disitu pun tertawa tak terkecuali Ibu


dan Tante Ida yang melihat pertemuan kami setelah sekian lama tak bertemu.


“Ayo nak, kau harus memberikan


kata sambutan untuk menyambut semua yang sudah hadir.” suruh Ibu kepadaku.


            Sontak hal ini membuatkukaget, Ibu tak memberi tahu


kepadaku bahwa aku harus memberi kata sambutan, aku tak mempersiapkannya.


“Kenapa mesti aku Bu?”


            Ibu menatapku heran.


“Rudy saja, enak sekali


dia dari tadi tak kebagian Apa-apa,” sambungku kesal.


“Apaan sih lu bang, mana


mungkin gua bisa, lagian kan elu udah sering pidato sih, anak pesantren juga,”


balasnya lebih kesal


“Yaudah, ini makanya lu


belajar, dan ini ga ada hubungannya sama anak pesantren atau tidak,” balasku


lagi.


            Kami pun saling berdebat dihadapan keluarga kami yang


melihat kami seperti anak-anak karena tak ada yang ingin mengalah.


“Sudah,” ucap Ibu sambil menatap


marah kami berdua.


            Kami berdua pun terdiam dan takut.


“Aku saja yang melakukannya


kalau kau tak mau, lagian apa yang perlu kau persiapkan, selama ini kau juga


sering berpidato tanpa persiapan.” sambung Ibu yang sudah mulai kesal.


            Aku pun terdiam merasa bersalah.


“Iya iya Bu, biar aku


saja,” jawabku pelan


“Gitu dong,” balas adikku


sambil menampakkan wajahnya yang menjengkelkan itu.


“Rudyyyyyy,” Ibu


menegurnya.


“Iya Bu,” jawabnya takut.


“Hahaha rasain lu,” ucapku


pada Rudi dengan merasa menang.


“Nugyyy,” Ibu pun jadi


menegurku.


“Iyaa maaf buk,” jawabku


pelan.


            Seisi rumah pun jadi tertawa melihat kami yang terdiam


takut karena Ibu memarahi kami. Setelah sekian lama, ini pertama kalinya aku


dan adikku bertengkar seperti anak-anak.


Setelah


itu kami pun bersiap untuk mencari posisi tempat duduk kami masing-masing. Aku


melihat banyak orang yang sudah hadir dengan posisi duduk yang rapih untuk


menunggu dimulainya acara ini. Mereka sangat ramai sekali, hingga membuatu


menjadi gugup seketika. Namun Zulfa menenangkanku.


“Kamu pasti bisa sayang,”


ucapnya lalu pergi meninggalkanku.


            Aku pun tersenyum kecil.


            Tempat duduk perempuan dan laki-laki dibedakan, sangking


ramainya orang yang hadir, Kami jadi harus menyediakan tempat diluar rumah


dengan kursi yang sudah disusun rapih. Aku menjadi sangat tersanjung dengan banyaknya


warga yang hadir malam ini, hal itu membuatku jadi senang dan bersemangat,


meskipun sempat gugup awalnya.


            Ustadz yang akan memipin Ta’ziah ini sudah hadir, dan


duduk disamping Papa yang ada didalam. Acara ini dibuka dengan kata sambutan


dari ku terlebih dahulu. Didalam ini sangat panas, jadi ku putuskan agar tidak terlalu


Panjang-panjang, supaya bisa bergabung bersama Rojali, Adrian, Rudy adikku dan


beberapa kerabat Ayah yang ku kenal seperti Om Ali.


            Aku pun membuka pidato ku dengan salam.


            Asslamualaikum wr wb


Berdirinya saya disini tidak lain adalah


sebagai perwakilan dari keluarga besar kami untuk mengatakan terima kasih yang


sangat dalam atas kesediaan seluruh tamu yang hadir atau pun yang tak bisa


hadir dalam Ta’ziah malam ini. Dan saya memohon maaf bagi tamu yang harus duduk


diluar karena rumah ini tidak terlalu besar untuk menampung kita semua.


            Untuk yang pertama,


saya ingin mengingatkan kembali, jika kiranya Ayah saya tercinta ada memiliki


utang dengan siapapun, saya mohon untuk menemui saya sehabis ini.


Saya tak ingin hal itu yang menjadi

__ADS_1


penghambat amal yang sudah dilakukan oleh Ayah saya semasa hidup.


Untuk yang kedua, tak lupa saya


menyampaikan permohonan maaf atas seluruh kesalahan yang sudah diperbuat oleh Ayah


saya kepada semuanya, sebagai anak sulungnya, saya siap untuk menebus semuanya.


            Saya tak tahu harus berkata apa


lagi, saya hanya meminta kepada seluruhnya mohon berikan doa yang terbaik untuk


Ayah saya, dan maaf jika kematian Ayah saya membingungkan kebanyakan orang.


Ayahku meninggalk karena kanker yang selama ini dideritanya, dan aku satu-satunya


orang yang sama sekali tak mengetahui penyakit Ayah saya sebelumnya. Yang saya


tahu ayah saya adalah pria yang selalu sehat, kuat, gagah, dan selalu menyimpan


seluruh rasa sakit dibalik senyumannya.


            Untuk beberapa orang yang mengagumi


ayah saya. mohon maafkan saya, karena sebagai anak sulungnya, saya justru tak


bisa berbuat banyak atas penyakitnya. Dan jika memang ada beberapa orang yang


sangat membencinya, saya memohon dengan sangat, tolong jangan limpahkan kepada


ayahku yang sudah tiada, dan jangan kepada ibuku yang tak berdaya, dan juga jangan


kepada adikku yang masih polos. Tapi limpahkanlah kepadaku. anak sulungnya yang


tak mampu berbuat apa-apa.


            Terima kasih atas segala


perhatiannya. Tidak banyak yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurang saya


mohon maaf. Mari kita lanjutkan acara kita ini dengan dipimpin oleh Ustadz Zakariah.


Assalamualaikum wr wb.


            Aku pun memberikan mic kepada Ustadz, dan aku pergi


berdiri untuk keluar, karena aku tak bisa didalam yang penuh dengan suasana


haru setelah mendengar pidato ku tadi. Banyak yang menangis dan selebihnya


tertunduk menahan tangis mereka. Sedangkan aku sendiri tak mungkin menampakkan


air mataku didepan orang banyak, sama seperti Ayahku yang gagah, bahkan dia


selalu tersenyum disaat kematiannya datang, aku harus lebih kuat dari padanya,


agar dia bangga kepadaku.


Aku


pun berjalan keluar dan duduk disamping Om Ali dan Rudy yang ada disebelah


kananku. Om Ali mengusap punggungku, sambil megusap tisu kepipinya, sepertinya


dia juga menangis. Dan Rudy adikku tentu juga ikut menangis.


“Udah besar, jangan


nangis,” ucapku tersenyum menatapnya sambil megusap kepalanya.


“Buka yasinmu,” suruhku.


            Dia pun mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Dia tak


mau menampakkan air matanya kepadaku.


Kau sudah besar rupanya,


ucapku dalam hati.


            Kami pun memulai ta’ziah ini dengan lantunan doa dan Ayat-ayat


suci yang dipimpin oleh Ustadz Zakariah hingga selesai.


            Setelah selesai, semuanya memakan hidangan yang sudah


keluarga besarku sediakan. Berbeda denganku, aku justru menghisap rokokku, dan Om


Ali tak keberatan dengan itu. Aku melihat bidadariku sibuk membantu


menghidangkan makanan dan minuman pada tamu, aku tersenyum bangga melihatnya


yang sangat lihai itu.


Aku akan memelukmu sampai


pagi sehabis ini sayang, ucapku dalam hati.


            Sepertinya perkataan dalam hatiku terkontak langsung


kehatinya, dia melihatku dengan cemberut lalu memalingkan wajahnya dengan malu-malu,


dia terlihat lucu sekali. Dan Om Ali juga menyadari itu.


“Kau tak tahan melihat


istrimu?” tanyanya dengan menggoda.


“Hahaha Om tau saja,”


jawabku sambil tertawa kecil dan menghisap rokokku.


“Baru saja kau


mengenalkannya padaku, eh malam nya sudah nikah saja,” ucapnya.


“Aku beruntung pak,”


balasku.


“Dia juga merasa begitu


kepadamu,” ucapnya meyakinkanku.


            Kami pun bertatapan sambil tersenyum, lalu Papa datang


mendekati kami, Rudy adikku langsung sigap memberikan kursi kepadanya didedapan


kami dengan posisi berhadapan.


“Aku minta rokok mu satu,”


pinta Papa kepadaku.


“Ini tidak gratis Pa,” ucapku


bercanda sambil memberikan rokokku kepadanya,


“Ah perhitungan sekali


kau,” balasnya sambil membakar rokok lalu menghisapnya.


            Aku, Papa, Om Ali, Rojali, Rudi, Adrian dan Andre duduk


saling berhadapan.


“Hai Rudy,” Papa mulai


mengeluarkan gaya intimidasi nya itu.


“Iya Pa” jawabnya pelan.


“Benarkah kau masih polos


seperti yang dikatakan abangmu dalam pidatonya?” tanyanya.


“Hahaha. Aku mana tahu Pa,


mana mungkin aku menilai diriku sendiri,” jawabnya dengan tertawa kecil.


“Haa kau dengar


jawabannya itu?” tanya Om Ali pada Papa sambil mengambil rokoknya sendiri lalu


menghisapnya.


“Hahaha mereka berdua


memang warisan paling mahal, yang ditinggalkan oleh almarhum,” puji Papa kepada


kami.


            Aku dan adikku hanya tersenyum mendengarnya.


“Dari mana kau belajar


berpidato?” tanya Papa kepadaku.


“Dia otodaki om,” jawab Rojali


memotong


            Kami pun tertawa mendengarnya.


“Kau sudah memotong, salah


pula lagi, otodidak goblok,” balasku mengatainya.


            Kami pun tertawa lagi.


            Hal itu membuat Orang-orang disekitar itu melihat kami,


lalu Mama mendatangi kami.


“Kamu gak bisa lihat


suasana?” tanyanya pada Papa.


            Papa hanya terdiam tak berkutik.


“Sudah tua justru kamu


yang mengajak mereka bercanda,” ucap Mama kesal lalu pergi.


            Papa lagi-lagi hanya terdiam tak berkutik. Hal ini


membuat kami menjadi tertawa sambil menutup mulut kami dengan tangan.


“Aku baru pertama kali


melihatmu kena marah Pa,” ucapku meledeknya.


“Kau juga ingin ku marahi


Nugy?” Tiba-tiba suara Zulfa datang dari belakang kami.


            Lalu kami pun menoleh kearahnya yang sedang mengankat


piring kotor untuk dibawa kedalam.


“E-nggak,” jawabku sambil


tersenyum merasa bersalah.


“Kalau begitu, diamlah,” ucapnya


tegas lalu pergi meninggalkan kami.


            Dan aku terdiam. Gantian, sekarang malah aku yang


ditertawakan.


“Wanita-wanitamu sangat


galak Pa,” kataku kesal kepadanya.


            Dan kami pun tertawa kecil.


            Orang-orang pun sudah mulai berpulangan, mereka mendatangiku


sebelum pamit sambil mengucapkan sepatah maaf dan turut berduka cita kepada aku


dan adikku.


            Hingga Ustadz Zakaria yang terakhir pulang dan datang


kearah kami yang sedang duduk, dia sepertinya juga ingin pamit pulang.


“Aku baru pertama melihat


Anak-anak beliau,” ucapnya mengatakan aku dan Rudy.


“Dan aku tak heran jika Anak-anaknya


sama tangguhnya seperti beliau,” sambungnya sambil memegang bahuku dan Rudy.


“Saya pamit dulu,” ucapnya


sambil bersalaman dengan kami semua. Dan mengucapkan salam Lalu pergi


meninggalkan kami.


            Beberapa kerabat ayahku yang lain pun sudah pulang kembali


kepenginapan mereka masing-masing dan tinggal lah kami-kami saja dirumah ini.


Dan kami kembali menyambung obrolan dengan penuh tawa tanpa ada yang memarahi


lagi, karena orang-orang sudah sepi berpulangan.


            Sedang asik-asik mengobrol Tiba-tiba dua orang yang


datang mendekati kami dan aku tak mengenalnya, satu orang itu pria yang


sepertinya seumuran Ayah, dan yang satu nya lagi seperti seumuranku. Dengan sok


akrabnya dia menyapa Om Ali terlebih dahulu, namun aku melihat respon Om Ali


sangat dingin seperti tak suka dengan orang ini.

__ADS_1


“Dimana Ibumu?” tanyanya


dengan nada sombong kepadaku.


“Didalam” jawabku dengan


nada yang sama.


Aku


mentapnya dengan perasaan tak menaruh respect sama sekali.  Dia pun berjalan masuk kedalam rumah dengan


seorang pria sepertinya itu suruhannya.


“Dia siapa? Sok sekali,”


tanyaku kesal.


“Kau gak kenal dia Nugy?”


balas Andre kepadaku.


            Aku menggeleng heran.


“Namanya Burhan, dia


salah satu kerabat Ayahmu dulu,” jawab Om Ali dengan nada serius.


            Aku hanya terdiam tanpa bisa mengingat orang itu.


“Dialah yang menipu Ayahmu


dulu,” sambungnya.


            Sontak aku pun langsung kaget sambil mengkerutkan dahiku.


Darahku mendadak mendidih, aku kembali mengingatnya, padahal selama ini aku sudah


berusaha untuk lupa dengannya.


Secercah


dendam dalam hatiku muncul menjadi amarah yang tak bisa ku tahankan lagi.


Kebencian itu muncul seketika aku ingat pria itu, pria yang pernah menipu Ayahku,


pria yang hampir membuat Ayahku gila. Pria yang membuat Ibu menangis didepan


pintu kamarku, karena harus terpaksa membiarkan Rudy harus hidup bersama Om Sapri


dikarenakan Ayah tak sanggup menanggung hidup kami semuanya. Dia yang membuatku


harus melihat Ibu dan Ayahku dicemooh oleh orang lain, karena tak memiliki uang


sama sekali.


            Aku benar-benar terbakar api dendam yang melumatku, aku


berdiri dengan niat ingin membunuhnya. Aku berlalri cepat memasuki rumah, dan orang-orang


yang disekelilingku tadi ikut mengejarku dari belakang.


            Aku masuk menghempaskan pintu rumah itu, aku langsung


menarik kerah bajunya yang sedang duduk didepan Ibuku dengan wajah sombongnya


yang seakan-akan sok menunjukkan rasa sedihnya didepan Ibu.


Aku


membantingnya, dan menghajarnya tanpa ampun, meskipun beberapa kali dia


berusaha menahan pukulanku, aku tetap mengahajarnya dengan sekuat tenaga,


hingga dia tak mampu menahannya lagi. Aku menghajar wajahnya berkali-kali,


wajah yang sangat tak ingin kulihat, wajah yang sangat ku benci.


“BERANI KAU KESINI


BANGSAT,” bentakku kepadanya sambil menarik kerah bajunya.


            Aku tak peduli dia lebih tua dariku, yang ada di kepalaku


saat ini hanya ingin membalas semua atas apa yang telah dia lakukan kepada keluargaku.


“Apa yang kau lakukan?”


balas pria yang bersamanya tadi sambil mengarahkan pistolnya kepadaku.


            Aku lari dan langsung melesatkan tendanganku tepat di


dadanya, hingga dia tergeletak dan pistolnya tercampak jauh dari kami. Aku tak


tak tinggal diam untuk menghajarnya tanpa ampun. Sampai Rudy menahanku dengan


kuat, namun aku berhasil lepas dan kembali mendaratkan setiap pukulan dan


tendanganku kepada pria yang sok-sok an ingin menembakku.


            Pergerakan ku mendadak terhenti ketika semua orang menahanku


dengan sekuat tenaga. Aku memberontak, namun kali ini aku tak bisa lepas. Aku


sangat kesal dengan mereka yang menahanku ini.


“LEPASKAN AKU!!! BANGSAT


KALIAN,” perintahku kepada mereka.


            Aku tak peduli siapapun yang menahanku, kebencianku menggelapkan


mataku, meskipun ada Papa, Om Ali, dan Om Zul ikut menahanku, tapi aku tak peduli.


“UDAH BANG, KAU BISA


MEMBUNUH MEREKA,” balas Rudy membentakku.


“BERANI KAU MEMBENTAKKU?”


tanyaku sambil melotot kepadanya.


            Dia terdiam denan tubuhnya seakan bergetar menahan amarah


juga.


“AKU MEMANG INGIN


MEMBUNUH MEREKA, JADI LEPASKAN AKU,” sambungku penuh emosi.


“AKU TAK AKAN MEMBIARKAN


ABANG KU MENJADI SEORANG PEMBUNUH,” balasnya membentakku lagi.


            Aku terdiam dan berhenti meronta, aku menatap Rudy dengan


lama. Untuk pertama kalinya dia berani membentakku seperti itu, dan untuk


pertama kalinya juga dia mengkhawatirkanku.


Aku


menundukkan kepalaku dengna menahan sedikit emosiku, aku mulai kembali bisa


mengendalikan diriku, aku kembali bisa melihat orang-orang disekitarku, aku


melihat raut wajah mereka yang panik seakan tak menyangka dengan apa yang ku


lakukan. Aku melihat Ibuku menangis karena khawatir akan amarahku, begitu pun


dengan Zulfa istriku. Aku melihat ekspresi mereka yang menahanku seakan


menyuruhku untuk tenang.


            Aku kembali bisa berfikir jernih, mereka pun mulai


melepaskanku, aku melihat sekelilingku kembali dengan perasaan yang tak dapat


ku jelaskan, aku merasa bersalah suudah membuat mereka takut kepadaku, aku juga


merasa sangat bersalah sudah membuat Ibu ku menangis.


“Maafkan aku, aku hanya


ingin menghajarnya sebisaku…”


“Aku sangat benci dengan


sibangsat ini” ucapku sambil mengarahkan telunjukku kearah Burhan.


“Berani-beraninya kau


menunjukkan wajahmu dihadapanku setelah atas apa yang kau lakukan terhadap


keluargaku,” sambungku.


Dia


hanya diam tak mampu menjawab, karena dia benar-benar sudah tak berdaya setelah


kuhajar habis-habisan bersama anaknya itu.


“Dan kau berani


mengarahkan pistolmu kepadaku…”


“Apa kau fikir dengan


pistol itu kau bisa membuatku takut?” ucapku kepada pria yang satu lagi.


            Dia juga hanya terdiam tak sanggup menjawab, dan aku


menatapnya tajam.


“JAWAB AKU BANGSAT,”


bentakku kepadanya.


“Sudah nakk,” Ibu memohon


kepadaku.


“Aku tak puas jika tak


membunuh siburhan brengsek ini,” ucapku tegas.


“Kau tak boleh


membunuhnya” mohon Ibu lagi kepadaku.


“Kenapa Bu?”


            Ibu hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang


terus mengalir dipipinya.


“Atas apa yang sudah dia


lakukan. Ibu memintaku untuk memaafkan dia? begitu Bu?” tanyaku lagi.


            Ibu masih terdiam sambil menangis.


“Gak bisa Bu, dia yang


sudah membuat Ayah menderita dan hampir gila dihadapanku, dia juga sudah


membuat Ibu menangis didepan pintu kamarku karena Ibu harus terpaksa merelakan Rudy


yang masih bayi dirawat oleh orang lain.”


            Ibu hanya diam tak bisa menjawab, dia hanya bisa


menangis. Lalu aku kembali mendekati Burhan.


“BURHAN,” Pekikku.


“KAU INGAT AKU?”


sambungku sambil menarik kerah bajunya.


            Dia berusaha menatapku.


“AKU ADALAH ANAK KECIL


YANG DULU TAK BERDAYA SAAT MELIHAT AYAHKU HAMPIR GILA KARENA ULAHMU…”


“DAN SEKARANG BERANINYA


KAU DATANG DENGAN KESOMBONGANMU DIDEPANKU DAN SOK MENANGIS DIHADAPAN IBUKU…”


“KATAKAN PADAKU!!!APA


LAGI RENCANAMU? HAH?”


            Dia hanya terdiam takut dan tak mampu berbuat Apa-apa.


“KAU DENGAR AKU!!!”


“SELAMA AKU MASIH HIDUP,


AKU TAK AKAN MEMBIARKAN BIADAB SEPERTIMU MENYENTUH KELUARGAKU LAGI,” kataku


mengancamnya penuh emosi.


            Dia hanya bisa mengangguk takut kepadaku.


“PERGILAH!!! SEBELUM AKU


BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUH KALIAN SEKARANG,” bentakku.


Mereka pun berusaha


bangkit lalu pergi dengan tertatih menahan sakit akibat pukulanku tadi. Zulfa yagn


sedari tadi hanya bisa melihat mulau mendekatika lalu menarik tanganku untuk


duduk disofa, sedangkan adikku membawa Ibu kekamar untuk menenangkannya,


diikuti oleh Tante Ida, Tante Yuni, Mama, dan Dewi. Sedangkan aku masih

__ADS_1


berusaha menenangkan diriku dengan Zulfa yang ada disampingku.


__ADS_2