
“Kau membawa Peciku?”
tanya ku kepada zulfa
Dia pun mengambilnya dari lemari, lalu dia memberikannya
kepadaku.
Aku memakai peciku dengan rapih, dan setelah itu aku
melihat Zulfa yang sudah lengkap dengan pakaian muslimahnya yang dibaluti
hijab. Aku sungguh terpana akan kecantikan dia yang menjadi berkali-kali lipat
dengan pakaian seperti itu. Dia selama ini memang tak memakai hijab, dia hanya
memakai mukenah saja ketika sholat.
“Kau cantik sekali dengan
jilbabmu,” pujiku jujur kepadanya.
Dia menatapku.
“Sudahlah kita tak sempat
untuk saling menggoda, tamu pasti sudah ramai yang datang, sebaiknya kita cepat
turun,” balasnya dengan ekspresi malu-malunya.
Aku hanya tertawa, lalu kugenggam tangannya dan kami
berjalan kelantai bawah.
Ternyata sudah banyak tamu yang sudah hadir, aku juga
melihat Sepupu-sepupuku, Andre yang sedang bersama Rudy adikku, dan Adrian yang
sedang bersama Ibuku duduk disofa. Kami berdua pun bergabung bersama mereka.
Adrian yang melihat kami langsung bersalaman denganku dan Zulfa.
“Jadi dia istrimu Nugy?”
tanyanya sambil tersenyum kepada Zulfa.
“Kenapa? Kau tekejut aku
bisa memiliki istri yang cantik? Meskipun aku tak berpengalaman sepertimu soal
wanita?” jawabku sinis sambil tersenyum.
“Hahahaha, kampret kau,”
balasnya
Dan kami berdua pun tertawa.
Aku
memang tak dekat dengan Sepupu-sepupuku yang lain, namun dengan Adrian aku sangat
dekat, karena kami pernah satu seperjuangan saat kuliah dulu, hanya saja aku
lulus lebih dulu sedangkan dia lulus satu tahun kemudian, setelah itu dia langsung
mengambil S2 di Australia, dan sebentar lagi dia juga akan tamat.
Adrian sebenarnya anak yang pintar, namun tidak sepertiku,
dia selalu sibuk dengan beberapa wanitanya ketika kuliah dulu. Dia memiliki
kebiasaan hidup yang hedon saat kuliah. Namun sudah berubah saat Ayahnya
meninggal karena kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju rumahnya di Jakarta
untuk menemui dia. Karena kejadian itulah dia sangat terpukul dan mulai merubah
kebiasaan buruknya, hingga bisa menjadi anak yang lebih baik seperti sekarang.
“Kau tahu Zulfa, suamimu
ini adalah orang yang sangat cupu jika menyangkut soal wanita ketika kami
kuliah dulu,” pamernya seakan bernostalgia.
Zulfa hanya tersenyum mendengarkan Adrian yang berbicara.
“Aku sudah mengajaknya ke
salah satu bar elite yang ada di Jakarta, namun dia justru keringat dingin saat
melihat banyak wanita dengan pakaian sexy. Dan justru dia mebanting gelas
berisi bir yang ku berikan kepadanya…”
“Lalu dia menarikku
pulang kerumah dan menghajarku Habis-habisan, aku tak merasakannya sama sekali,
namun saat aku sadar paginya seluruh badanku sangat sakit dan wajahku Biru-biru
akibat sikurang hajar ini.”
Aku hanya tersenyum melihatnya yang seolah seperti sudah
akrab dengan Zulfa yang sedang asyik mendengarkan ceritanya.
“Lalu aku tak senang dan
menantang dia berkelahi, namun tetap saja aku kalah,” ucapnya sambil tertawa setelahnya.
Zulfa pun tertawa mendengarnya.
Aku
jadi teringat kejadian itu, aku marah kepadanya karena dia berbohong kepadaku, dia
mengatakan kepadaku hanya ingin mengajakku ketempat yang asik dan santai, tapi
dia justru mengajakku ketempat seperti itu. Memang bagi dia tempat itu adalah
tempat yang asik dan santai tapi bagiku itu tidak. Makanya aku menariknya
pulang lalu menghajarnya dirumah, dari pada aku menghajarnya dibar kan bisa
gawat.
“Kau ingin merasakannya
lagi?” kataku menawarkan tinjuanku kepada nya dengan senyuman sinis.
“Ya enggaklah kurang
hajar,” jawabnya kesal.
“Hahaha kalau begitu
diamlah,” balasku.
Lalu kami yang ada disitu pun tertawa tak terkecuali Ibu
dan Tante Ida yang melihat pertemuan kami setelah sekian lama tak bertemu.
“Ayo nak, kau harus memberikan
kata sambutan untuk menyambut semua yang sudah hadir.” suruh Ibu kepadaku.
Sontak hal ini membuatkukaget, Ibu tak memberi tahu
kepadaku bahwa aku harus memberi kata sambutan, aku tak mempersiapkannya.
“Kenapa mesti aku Bu?”
Ibu menatapku heran.
“Rudy saja, enak sekali
dia dari tadi tak kebagian Apa-apa,” sambungku kesal.
“Apaan sih lu bang, mana
mungkin gua bisa, lagian kan elu udah sering pidato sih, anak pesantren juga,”
balasnya lebih kesal
“Yaudah, ini makanya lu
belajar, dan ini ga ada hubungannya sama anak pesantren atau tidak,” balasku
lagi.
Kami pun saling berdebat dihadapan keluarga kami yang
melihat kami seperti anak-anak karena tak ada yang ingin mengalah.
“Sudah,” ucap Ibu sambil menatap
marah kami berdua.
Kami berdua pun terdiam dan takut.
“Aku saja yang melakukannya
kalau kau tak mau, lagian apa yang perlu kau persiapkan, selama ini kau juga
sering berpidato tanpa persiapan.” sambung Ibu yang sudah mulai kesal.
Aku pun terdiam merasa bersalah.
“Iya iya Bu, biar aku
saja,” jawabku pelan
“Gitu dong,” balas adikku
sambil menampakkan wajahnya yang menjengkelkan itu.
“Rudyyyyyy,” Ibu
menegurnya.
“Iya Bu,” jawabnya takut.
“Hahaha rasain lu,” ucapku
pada Rudi dengan merasa menang.
“Nugyyy,” Ibu pun jadi
menegurku.
“Iyaa maaf buk,” jawabku
pelan.
Seisi rumah pun jadi tertawa melihat kami yang terdiam
takut karena Ibu memarahi kami. Setelah sekian lama, ini pertama kalinya aku
dan adikku bertengkar seperti anak-anak.
Setelah
itu kami pun bersiap untuk mencari posisi tempat duduk kami masing-masing. Aku
melihat banyak orang yang sudah hadir dengan posisi duduk yang rapih untuk
menunggu dimulainya acara ini. Mereka sangat ramai sekali, hingga membuatu
menjadi gugup seketika. Namun Zulfa menenangkanku.
“Kamu pasti bisa sayang,”
ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
Aku pun tersenyum kecil.
Tempat duduk perempuan dan laki-laki dibedakan, sangking
ramainya orang yang hadir, Kami jadi harus menyediakan tempat diluar rumah
dengan kursi yang sudah disusun rapih. Aku menjadi sangat tersanjung dengan banyaknya
warga yang hadir malam ini, hal itu membuatku jadi senang dan bersemangat,
meskipun sempat gugup awalnya.
Ustadz yang akan memipin Ta’ziah ini sudah hadir, dan
duduk disamping Papa yang ada didalam. Acara ini dibuka dengan kata sambutan
dari ku terlebih dahulu. Didalam ini sangat panas, jadi ku putuskan agar tidak terlalu
Panjang-panjang, supaya bisa bergabung bersama Rojali, Adrian, Rudy adikku dan
beberapa kerabat Ayah yang ku kenal seperti Om Ali.
Aku pun membuka pidato ku dengan salam.
Asslamualaikum wr wb
Berdirinya saya disini tidak lain adalah
sebagai perwakilan dari keluarga besar kami untuk mengatakan terima kasih yang
sangat dalam atas kesediaan seluruh tamu yang hadir atau pun yang tak bisa
hadir dalam Ta’ziah malam ini. Dan saya memohon maaf bagi tamu yang harus duduk
diluar karena rumah ini tidak terlalu besar untuk menampung kita semua.
Untuk yang pertama,
saya ingin mengingatkan kembali, jika kiranya Ayah saya tercinta ada memiliki
utang dengan siapapun, saya mohon untuk menemui saya sehabis ini.
Saya tak ingin hal itu yang menjadi
__ADS_1
penghambat amal yang sudah dilakukan oleh Ayah saya semasa hidup.
Untuk yang kedua, tak lupa saya
menyampaikan permohonan maaf atas seluruh kesalahan yang sudah diperbuat oleh Ayah
saya kepada semuanya, sebagai anak sulungnya, saya siap untuk menebus semuanya.
Saya tak tahu harus berkata apa
lagi, saya hanya meminta kepada seluruhnya mohon berikan doa yang terbaik untuk
Ayah saya, dan maaf jika kematian Ayah saya membingungkan kebanyakan orang.
Ayahku meninggalk karena kanker yang selama ini dideritanya, dan aku satu-satunya
orang yang sama sekali tak mengetahui penyakit Ayah saya sebelumnya. Yang saya
tahu ayah saya adalah pria yang selalu sehat, kuat, gagah, dan selalu menyimpan
seluruh rasa sakit dibalik senyumannya.
Untuk beberapa orang yang mengagumi
ayah saya. mohon maafkan saya, karena sebagai anak sulungnya, saya justru tak
bisa berbuat banyak atas penyakitnya. Dan jika memang ada beberapa orang yang
sangat membencinya, saya memohon dengan sangat, tolong jangan limpahkan kepada
ayahku yang sudah tiada, dan jangan kepada ibuku yang tak berdaya, dan juga jangan
kepada adikku yang masih polos. Tapi limpahkanlah kepadaku. anak sulungnya yang
tak mampu berbuat apa-apa.
Terima kasih atas segala
perhatiannya. Tidak banyak yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurang saya
mohon maaf. Mari kita lanjutkan acara kita ini dengan dipimpin oleh Ustadz Zakariah.
Assalamualaikum wr wb.
Aku pun memberikan mic kepada Ustadz, dan aku pergi
berdiri untuk keluar, karena aku tak bisa didalam yang penuh dengan suasana
haru setelah mendengar pidato ku tadi. Banyak yang menangis dan selebihnya
tertunduk menahan tangis mereka. Sedangkan aku sendiri tak mungkin menampakkan
air mataku didepan orang banyak, sama seperti Ayahku yang gagah, bahkan dia
selalu tersenyum disaat kematiannya datang, aku harus lebih kuat dari padanya,
agar dia bangga kepadaku.
Aku
pun berjalan keluar dan duduk disamping Om Ali dan Rudy yang ada disebelah
kananku. Om Ali mengusap punggungku, sambil megusap tisu kepipinya, sepertinya
dia juga menangis. Dan Rudy adikku tentu juga ikut menangis.
“Udah besar, jangan
nangis,” ucapku tersenyum menatapnya sambil megusap kepalanya.
“Buka yasinmu,” suruhku.
Dia pun mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Dia tak
mau menampakkan air matanya kepadaku.
Kau sudah besar rupanya,
ucapku dalam hati.
Kami pun memulai ta’ziah ini dengan lantunan doa dan Ayat-ayat
suci yang dipimpin oleh Ustadz Zakariah hingga selesai.
Setelah selesai, semuanya memakan hidangan yang sudah
keluarga besarku sediakan. Berbeda denganku, aku justru menghisap rokokku, dan Om
Ali tak keberatan dengan itu. Aku melihat bidadariku sibuk membantu
menghidangkan makanan dan minuman pada tamu, aku tersenyum bangga melihatnya
yang sangat lihai itu.
Aku akan memelukmu sampai
pagi sehabis ini sayang, ucapku dalam hati.
Sepertinya perkataan dalam hatiku terkontak langsung
kehatinya, dia melihatku dengan cemberut lalu memalingkan wajahnya dengan malu-malu,
dia terlihat lucu sekali. Dan Om Ali juga menyadari itu.
“Kau tak tahan melihat
istrimu?” tanyanya dengan menggoda.
“Hahaha Om tau saja,”
jawabku sambil tertawa kecil dan menghisap rokokku.
“Baru saja kau
mengenalkannya padaku, eh malam nya sudah nikah saja,” ucapnya.
“Aku beruntung pak,”
balasku.
“Dia juga merasa begitu
kepadamu,” ucapnya meyakinkanku.
Kami pun bertatapan sambil tersenyum, lalu Papa datang
mendekati kami, Rudy adikku langsung sigap memberikan kursi kepadanya didedapan
kami dengan posisi berhadapan.
“Aku minta rokok mu satu,”
pinta Papa kepadaku.
“Ini tidak gratis Pa,” ucapku
bercanda sambil memberikan rokokku kepadanya,
“Ah perhitungan sekali
kau,” balasnya sambil membakar rokok lalu menghisapnya.
Aku, Papa, Om Ali, Rojali, Rudi, Adrian dan Andre duduk
saling berhadapan.
“Hai Rudy,” Papa mulai
mengeluarkan gaya intimidasi nya itu.
“Iya Pa” jawabnya pelan.
“Benarkah kau masih polos
seperti yang dikatakan abangmu dalam pidatonya?” tanyanya.
“Hahaha. Aku mana tahu Pa,
mana mungkin aku menilai diriku sendiri,” jawabnya dengan tertawa kecil.
“Haa kau dengar
jawabannya itu?” tanya Om Ali pada Papa sambil mengambil rokoknya sendiri lalu
menghisapnya.
“Hahaha mereka berdua
memang warisan paling mahal, yang ditinggalkan oleh almarhum,” puji Papa kepada
kami.
Aku dan adikku hanya tersenyum mendengarnya.
“Dari mana kau belajar
berpidato?” tanya Papa kepadaku.
“Dia otodaki om,” jawab Rojali
memotong
Kami pun tertawa mendengarnya.
“Kau sudah memotong, salah
pula lagi, otodidak goblok,” balasku mengatainya.
Kami pun tertawa lagi.
Hal itu membuat Orang-orang disekitar itu melihat kami,
lalu Mama mendatangi kami.
“Kamu gak bisa lihat
suasana?” tanyanya pada Papa.
Papa hanya terdiam tak berkutik.
“Sudah tua justru kamu
yang mengajak mereka bercanda,” ucap Mama kesal lalu pergi.
Papa lagi-lagi hanya terdiam tak berkutik. Hal ini
membuat kami menjadi tertawa sambil menutup mulut kami dengan tangan.
“Aku baru pertama kali
melihatmu kena marah Pa,” ucapku meledeknya.
“Kau juga ingin ku marahi
Nugy?” Tiba-tiba suara Zulfa datang dari belakang kami.
Lalu kami pun menoleh kearahnya yang sedang mengankat
piring kotor untuk dibawa kedalam.
“E-nggak,” jawabku sambil
tersenyum merasa bersalah.
“Kalau begitu, diamlah,” ucapnya
tegas lalu pergi meninggalkan kami.
Dan aku terdiam. Gantian, sekarang malah aku yang
ditertawakan.
“Wanita-wanitamu sangat
galak Pa,” kataku kesal kepadanya.
Dan kami pun tertawa kecil.
Orang-orang pun sudah mulai berpulangan, mereka mendatangiku
sebelum pamit sambil mengucapkan sepatah maaf dan turut berduka cita kepada aku
dan adikku.
Hingga Ustadz Zakaria yang terakhir pulang dan datang
kearah kami yang sedang duduk, dia sepertinya juga ingin pamit pulang.
“Aku baru pertama melihat
Anak-anak beliau,” ucapnya mengatakan aku dan Rudy.
“Dan aku tak heran jika Anak-anaknya
sama tangguhnya seperti beliau,” sambungnya sambil memegang bahuku dan Rudy.
“Saya pamit dulu,” ucapnya
sambil bersalaman dengan kami semua. Dan mengucapkan salam Lalu pergi
meninggalkan kami.
Beberapa kerabat ayahku yang lain pun sudah pulang kembali
kepenginapan mereka masing-masing dan tinggal lah kami-kami saja dirumah ini.
Dan kami kembali menyambung obrolan dengan penuh tawa tanpa ada yang memarahi
lagi, karena orang-orang sudah sepi berpulangan.
Sedang asik-asik mengobrol Tiba-tiba dua orang yang
datang mendekati kami dan aku tak mengenalnya, satu orang itu pria yang
sepertinya seumuran Ayah, dan yang satu nya lagi seperti seumuranku. Dengan sok
akrabnya dia menyapa Om Ali terlebih dahulu, namun aku melihat respon Om Ali
sangat dingin seperti tak suka dengan orang ini.
__ADS_1
“Dimana Ibumu?” tanyanya
dengan nada sombong kepadaku.
“Didalam” jawabku dengan
nada yang sama.
Aku
mentapnya dengan perasaan tak menaruh respect sama sekali. Dia pun berjalan masuk kedalam rumah dengan
seorang pria sepertinya itu suruhannya.
“Dia siapa? Sok sekali,”
tanyaku kesal.
“Kau gak kenal dia Nugy?”
balas Andre kepadaku.
Aku menggeleng heran.
“Namanya Burhan, dia
salah satu kerabat Ayahmu dulu,” jawab Om Ali dengan nada serius.
Aku hanya terdiam tanpa bisa mengingat orang itu.
“Dialah yang menipu Ayahmu
dulu,” sambungnya.
Sontak aku pun langsung kaget sambil mengkerutkan dahiku.
Darahku mendadak mendidih, aku kembali mengingatnya, padahal selama ini aku sudah
berusaha untuk lupa dengannya.
Secercah
dendam dalam hatiku muncul menjadi amarah yang tak bisa ku tahankan lagi.
Kebencian itu muncul seketika aku ingat pria itu, pria yang pernah menipu Ayahku,
pria yang hampir membuat Ayahku gila. Pria yang membuat Ibu menangis didepan
pintu kamarku, karena harus terpaksa membiarkan Rudy harus hidup bersama Om Sapri
dikarenakan Ayah tak sanggup menanggung hidup kami semuanya. Dia yang membuatku
harus melihat Ibu dan Ayahku dicemooh oleh orang lain, karena tak memiliki uang
sama sekali.
Aku benar-benar terbakar api dendam yang melumatku, aku
berdiri dengan niat ingin membunuhnya. Aku berlalri cepat memasuki rumah, dan orang-orang
yang disekelilingku tadi ikut mengejarku dari belakang.
Aku masuk menghempaskan pintu rumah itu, aku langsung
menarik kerah bajunya yang sedang duduk didepan Ibuku dengan wajah sombongnya
yang seakan-akan sok menunjukkan rasa sedihnya didepan Ibu.
Aku
membantingnya, dan menghajarnya tanpa ampun, meskipun beberapa kali dia
berusaha menahan pukulanku, aku tetap mengahajarnya dengan sekuat tenaga,
hingga dia tak mampu menahannya lagi. Aku menghajar wajahnya berkali-kali,
wajah yang sangat tak ingin kulihat, wajah yang sangat ku benci.
“BERANI KAU KESINI
BANGSAT,” bentakku kepadanya sambil menarik kerah bajunya.
Aku tak peduli dia lebih tua dariku, yang ada di kepalaku
saat ini hanya ingin membalas semua atas apa yang telah dia lakukan kepada keluargaku.
“Apa yang kau lakukan?”
balas pria yang bersamanya tadi sambil mengarahkan pistolnya kepadaku.
Aku lari dan langsung melesatkan tendanganku tepat di
dadanya, hingga dia tergeletak dan pistolnya tercampak jauh dari kami. Aku tak
tak tinggal diam untuk menghajarnya tanpa ampun. Sampai Rudy menahanku dengan
kuat, namun aku berhasil lepas dan kembali mendaratkan setiap pukulan dan
tendanganku kepada pria yang sok-sok an ingin menembakku.
Pergerakan ku mendadak terhenti ketika semua orang menahanku
dengan sekuat tenaga. Aku memberontak, namun kali ini aku tak bisa lepas. Aku
sangat kesal dengan mereka yang menahanku ini.
“LEPASKAN AKU!!! BANGSAT
KALIAN,” perintahku kepada mereka.
Aku tak peduli siapapun yang menahanku, kebencianku menggelapkan
mataku, meskipun ada Papa, Om Ali, dan Om Zul ikut menahanku, tapi aku tak peduli.
“UDAH BANG, KAU BISA
MEMBUNUH MEREKA,” balas Rudy membentakku.
“BERANI KAU MEMBENTAKKU?”
tanyaku sambil melotot kepadanya.
Dia terdiam denan tubuhnya seakan bergetar menahan amarah
juga.
“AKU MEMANG INGIN
MEMBUNUH MEREKA, JADI LEPASKAN AKU,” sambungku penuh emosi.
“AKU TAK AKAN MEMBIARKAN
ABANG KU MENJADI SEORANG PEMBUNUH,” balasnya membentakku lagi.
Aku terdiam dan berhenti meronta, aku menatap Rudy dengan
lama. Untuk pertama kalinya dia berani membentakku seperti itu, dan untuk
pertama kalinya juga dia mengkhawatirkanku.
Aku
menundukkan kepalaku dengna menahan sedikit emosiku, aku mulai kembali bisa
mengendalikan diriku, aku kembali bisa melihat orang-orang disekitarku, aku
melihat raut wajah mereka yang panik seakan tak menyangka dengan apa yang ku
lakukan. Aku melihat Ibuku menangis karena khawatir akan amarahku, begitu pun
dengan Zulfa istriku. Aku melihat ekspresi mereka yang menahanku seakan
menyuruhku untuk tenang.
Aku kembali bisa berfikir jernih, mereka pun mulai
melepaskanku, aku melihat sekelilingku kembali dengan perasaan yang tak dapat
ku jelaskan, aku merasa bersalah suudah membuat mereka takut kepadaku, aku juga
merasa sangat bersalah sudah membuat Ibu ku menangis.
“Maafkan aku, aku hanya
ingin menghajarnya sebisaku…”
“Aku sangat benci dengan
sibangsat ini” ucapku sambil mengarahkan telunjukku kearah Burhan.
“Berani-beraninya kau
menunjukkan wajahmu dihadapanku setelah atas apa yang kau lakukan terhadap
keluargaku,” sambungku.
Dia
hanya diam tak mampu menjawab, karena dia benar-benar sudah tak berdaya setelah
kuhajar habis-habisan bersama anaknya itu.
“Dan kau berani
mengarahkan pistolmu kepadaku…”
“Apa kau fikir dengan
pistol itu kau bisa membuatku takut?” ucapku kepada pria yang satu lagi.
Dia juga hanya terdiam tak sanggup menjawab, dan aku
menatapnya tajam.
“JAWAB AKU BANGSAT,”
bentakku kepadanya.
“Sudah nakk,” Ibu memohon
kepadaku.
“Aku tak puas jika tak
membunuh siburhan brengsek ini,” ucapku tegas.
“Kau tak boleh
membunuhnya” mohon Ibu lagi kepadaku.
“Kenapa Bu?”
Ibu hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang
terus mengalir dipipinya.
“Atas apa yang sudah dia
lakukan. Ibu memintaku untuk memaafkan dia? begitu Bu?” tanyaku lagi.
Ibu masih terdiam sambil menangis.
“Gak bisa Bu, dia yang
sudah membuat Ayah menderita dan hampir gila dihadapanku, dia juga sudah
membuat Ibu menangis didepan pintu kamarku karena Ibu harus terpaksa merelakan Rudy
yang masih bayi dirawat oleh orang lain.”
Ibu hanya diam tak bisa menjawab, dia hanya bisa
menangis. Lalu aku kembali mendekati Burhan.
“BURHAN,” Pekikku.
“KAU INGAT AKU?”
sambungku sambil menarik kerah bajunya.
Dia berusaha menatapku.
“AKU ADALAH ANAK KECIL
YANG DULU TAK BERDAYA SAAT MELIHAT AYAHKU HAMPIR GILA KARENA ULAHMU…”
“DAN SEKARANG BERANINYA
KAU DATANG DENGAN KESOMBONGANMU DIDEPANKU DAN SOK MENANGIS DIHADAPAN IBUKU…”
“KATAKAN PADAKU!!!APA
LAGI RENCANAMU? HAH?”
Dia hanya terdiam takut dan tak mampu berbuat Apa-apa.
“KAU DENGAR AKU!!!”
“SELAMA AKU MASIH HIDUP,
AKU TAK AKAN MEMBIARKAN BIADAB SEPERTIMU MENYENTUH KELUARGAKU LAGI,” kataku
mengancamnya penuh emosi.
Dia hanya bisa mengangguk takut kepadaku.
“PERGILAH!!! SEBELUM AKU
BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUH KALIAN SEKARANG,” bentakku.
Mereka pun berusaha
bangkit lalu pergi dengan tertatih menahan sakit akibat pukulanku tadi. Zulfa yagn
sedari tadi hanya bisa melihat mulau mendekatika lalu menarik tanganku untuk
duduk disofa, sedangkan adikku membawa Ibu kekamar untuk menenangkannya,
diikuti oleh Tante Ida, Tante Yuni, Mama, dan Dewi. Sedangkan aku masih
__ADS_1
berusaha menenangkan diriku dengan Zulfa yang ada disampingku.