Belantara

Belantara
PRIA GAGAH ITU PERGI (LAST PART)


__ADS_3

            Aku hanya diam untuk meredakan emosiku dengan Zulfa yang


terus menggenggam erat tanganku, raut wajahnya terliat panik, air matanya pun


masih mengalir. Dan yang lainnya ikut terduduk membantu ku untuk bisa kembali


tenang.


“Mana rokok miliknya?”


tanya Zulfa kepada Rojali.


“I—ni,” balasnya sambil


memberikan rokok itu kepada ku.


            Aku mengambil, membakar lalu menghisapnya, aku melihat Papa


tersenyum kearah kami berdua. Dia menatap kagum akan anaknya yang sudah


terlihat semakin bersikap dewasa, anaknya yang selalu punya cara untuk bisa


membuatku menjadi merasa tenang.


            Setelah dia puas menatap anaknya, dia pun kembali menatap


kearahku.


“Kau sudah tenang nak?”


tanya Papa lembut memastikan kondisi hatiku.


            Aku hanya diam mengangguk, lalu melihat sekelilingku yang


melihat kearahku dengan heran seakan tak menyangka akan kejadian tadi. Aku


memaklumisaja, ini mungkin pertama kalinya mereka melihatku mengamuk seperti


kesetanan yang baru saja ku lakukan tadi.


            Rudy keluar dari kamar dimana dia membawa Ibuku tadi, dia


berjalan kekolam tepat dibelakang rumah, dia terliha seakan ingin sendiri untuk


menenangkan fikirannya setelah dia baru mengetahui nasibnya saat kecil.


“Temanilah dia Ndre,” mohonku


kepada Andre.


“Kau tenang saja,”


balasnya meyakinkanku lalu berjalan menyusul adikku.


            Aku sengaja menyuruhnya menemani adikku, karena adikku


sangat dekat dengannya, dengan alasan yang sudah ku katakan sebelumnya.


“Maaf Nugy, seharusnya


aku tak mengatakan tentang dia kepadamu,” ucap Om Ali.


“Tak apa Om, tidak ada


yang salah, bahkan aku pun tak merasa bersalah atas apa yang kulakukan barusan,”


jawabku meyakinkannya.


            Mereka semua kembali terdiam berusaha memaklumi


kondisiku.


“Tanganmu luka,” ucap Zulfa


sambil memegang tanganku.


Aku


langsung melihat tangaku yang ternyata memang terluka, kulit tanganku


terkelupas dan mengeluarkan darah. Aku rasa beberapa pukulanku meleset mengenai


lantai saat dia berusaha mengelak dari pukulanku.


“Ini,” Adrian memberi


kotak p3k kepada Zulfa.


Zulfa


langsung mengobati tanganku dengan hati-hati, lalu memperbannya. Aku melihat


tangannya bergetar ketika mengobati lukaku. Dia bergetar seakan ketakutan


karena habis melihatku menggila tadi. Aku jadi tak tega melihatnya, aku pun


menggenggam tangannya.


“Temani aku bertemu Ibu,”


ajakku lembut.


            Dia pun mengangguk dan tersenyum kepadaku, aku pun


membalasnya. Kami pun meninggalkan mereka berjalan masuk kekamar Ibu. Mereka


yang berada didalam menatap kami canggung. Hanya Mama yang justru senyum


melihat kedatangan kami berdua. Tapi aku tak menghiraukannya.


Aku


berjalan pelan mendekat kearah Ibu, aku melepaskan tangan Zulfa yang ku genggam


dan berjongkok dihadapan Ibuku lalu menggenggam tangannya.


“Sepertinya aku membuatmu


menangis lagi Bu,” ucapku pelan.


“Maafkan aku, aku tak


bermaksud membentakmu, aku hanya tak kuasa menahan dendam ku padanya,”


sambungku lirih.


            Ibu tak membalas perkataanku, dia masih tertunduk dan tak


menatapku, dia terlihat seperti takut kepadaku.


“Aku justru sudah


membuatmu takut Bu, maafkan aku,” sambungku dengan lirih sambil mencium


tangannya dan bangkit ingin meninggalkannya.


            Ketika aku hendak meninggalkannya, Rudy pun masuk, mungkin


andre berhasil menenangkannya. Aku tersenyum kepadanya dan memegang pundaknya,


lalu melanjutkan langkahku. Ketika aku ingin membuka pintu Ibu memanggilku.


“Nugy,” panggilnya lirih.


            Aku pun menoleh kepadanya yang sedang berdiri menatapku.


“Mana mungkin aku takut


kepada anakku sendiri…”


“Aku sudah pernah


mengatakan bahwa aku memiliki 3 pria tangguh dalam hidupku. Dan satu


diantaranya sudah pergi meniggalkanku. Dan sekarang atas apa yang kau lakukan kepada


mereka, apa kau ingin melihatku menderita karena kehilanganmu juga?” tanya Ibu


lantang.


“Ibu meremehkanku?”


tanyaku dengan tegas.


“Aku tak pernah meragukan


keberanian dan kekuatanmu Nugy,” ucapnya yang kini menjadi marah.


            Aku diam untuk membiarkan Ibu melanjutkan amarahnya


kepadaku.


“Aku tau kau bisa


menghancurkan lawanmu, aku juga tau kau pernah menghajar 15 orang karena tahu


adikmu menjadi bahan bullyan mereka,” sambungnya sambil berjalan dan


menunjukku.


            Aku menatap Ibu dengan santai.


“Lalu?” tanya ku santai


“Ooh, bahkan kau sudah


berani menunjukkan kesombonganmu dihadapanku dengan tatapanmu ini?” tanyanya


balik kepadaku sambil tersenyum sinis.


“Aku sedang tidak


menyombongkan diri Bu, aku hanya menunjukkan keberanian ku dihadapanmu,”


balasku tegas.


“Keberanian apa?”


            Aku terdiam lagi.


“Kalian berdua tak perlu


menunjukkannya kepadaku, aku sudah bosan melihat pria-priaku yang sok tangguh


dihadapanku, namun tetap tak mampu bertahan melawan naas yang menyerangnya…”


“Ayahmu adalah pria


pemberani yang pernah ku temui, bahkan dia sangat tangguh lebih dari mu. Tapi…”


            Ibuk terdiam sejenak seakan sedang menahan tangisnya.


“Apakah kau bisa melihat


ketangguhannya dalam melawan takdir naas yang mendatanginya, Nugy?”


            Aku hanya terdiam tak berkutik.


“JAWAB AKU?”  bentaknya kepadaku.


“TIDAK NUGY, Ayahmu hanya


bisa tersenyum untuk menunjukkan dirinya kepadaku. yang seolah kuat menahan


rasa sakitnya…”


“Dan aku tak mau itu


terjadi kepada 2 pria ku yang tersisa Nugy, aku tak bisa berbuat apapun. Jika


takdir naas yang akan kau temui nanti…”


            Ibu kembali mengeluarkan air matanya, hal itu semakin


membuatku merasa bersalah atas sikap ku kepadanya.


“Jadi kumohon Nugy,


hilangkan dendammu, karena aku tak mau itu akan mencelakakanmu nak,” ucap Ibu


lirih dengan meneteskan air matanya lalu terduduk disudut kasur.


            Aku ingint mendekat dan menenangkannya.


“Aku lelah Nugy, aku


lelah, sebaiknya kalian berdua keluar dari sini…”


            Aku dan Rudy terdiam saling bertatapan.


“KELUAR KALIAN ANAK-ANAK


KURANG HAJAR,” bentak Ibu kepada kami.


            Aku dan Rudy pun keluar meninggalkan mereka yang ada


didalam. Aku sudah membuat Ibu benar-benar kecewa padaku. Ayah pasti sedang


marah kepadaku diatas sana.


            Aku pergi kebelakang rumah sambil menghisap rokokku, yang


di ikuti oleh Rudy yang berdiri disebelahku.


“Sudah lama kita tak


dimarahi Ibu,” ucapnya.


“Gua sih sering, lu yang


jarang, jadi jangan sok Ikut-ikutan,” balasku santai.


“Ya siapa suruh lu bandel.”


“Biar saja, setidaknya


gua gak cuma bisa diam dan nangis,”


“Hahaha, gua sengaja


merasa lemah dihadapan orang,” ucapnya lirih.


            Aku menatapnya dengna jeda.


“Lu tau kenapa?” tanyanya


kepadaku.

__ADS_1


            Aku hanya diam menunggu dia melanjutkannya.


“Karena lu pasti datang


belain gua,” sambungnya lirih.


            Aku menjadi semakin dalam menatapnya, dia pun menatapku


sambil tersenyum, lalu memalingkan wajahnya dariku.


“Dirumah lu cuma bisa


marahin gua, bahkan mukulin gua lagi…”


“Gua juga ga tau kenapa


lu bisa sebenci itu sama gua…”


“Apa karena gua lebih


pintar dari lu yak?” tanyanya kembali menatapku.


            Aku masih terdiam terus menatapnya yang seakan terpaksa tersenyum


dengan berusaha menahan tangisnya.


“Gua takut ama lu bang,


takut banget malah…”


“Ayah cuma perhatian ama


lu, Ibu juga cuma merhatiin elu doang. Cuma lu doang yang merhatiin gua


walaupun cuma buat marah sih.”


            Kali ini aku benar-benar tak berkutik dihadapannya, aku


seakan merasakan seluruh kesedihan didalam hatinya.


“Gua sedih bang, ngeliat


satu-satunya orang yang peduli ama gua malah pergi dari rumah...”


“Gua takut ketika lu


sukses lu malah ngebuang gua, gak akuin gua sebagai adik lu…”


“Jadi gua belajar aja


terus biar gua bisa hidup mandiri dengan masa depan gua…”


“Gua berfikir kalau gua


sukses, gua gak perlu takut kehilangan lu, karena gua pasti bakalan punya


banyak temen…”


            Aku masih terdiam tak kuasa mendengar semua ucapannya,


lalu dia kembali menatapku.


“Tapiii… tetap aja gua


bakalan butuh Abang gua…”


“Karena cuman elu yang


merhatiin gua…”


“Walaupun lu cuma marah


dan mukulin gua. Gak apa-apa deh…”


“Yang penting gua merasa


dianggap kalau gua ada…”


“Toh habis lu hajar. Kak


Dewi pasti datang nenangin gua…”


            Dia terdiam sejenak dan memalingkan wajahnya menatap


kedepan.


“Dari kecil gua pengen


banget main ama lu bang. Tapi ga pernah kesampaian sampai gak terasa kita udah


gede aja…”


“Malah lu udah nikah


lagi. Pasti gak bakalan bisa ada buat gua lagi…”


“Tapi gak apa-apa bang,


gua seneng kok,” ucapnya tersenyum kearahku.


            Aku terdiam mendengar semua kalimat yang dikatakan oleh


adikku. Aku merasakan hawa kesepian yang mendalam dari setiap bait perkataannya.


Selama ini dia merasa sangat hampa tinggal dirumah mewah itu, setelah semua


yang aku lakukan terhadapnya justru menurutnya hanya aku yang membuat dia


merasa ada dirumah itu.


            Mungkin ini yang selalu dia ceritakan kepada Dewi dan Andre.


Dan aku terlalu bodoh suntuk bisa mengetahuinya, sebagai abangnya justru aku


yang tak paham dengna betapa kesepiannya dia selama ini.


Aku


mendekat kepadanya dan menggapai kepalanya lalu menyandarkannya di bahuku


sambil mengelus kepalanya.


            Aku merasakan air matanya yang membasahi bajuku dan


membuat bahuku terasa dingin, aku merasakan kehampaan yang dia rasakan selama


ini. Aku tak pernah hadir sebagai abang yang baik untuknya. Disaat aku hanya


mampu menghajar dan memarahinya, justru dia tetap mengharapkan kehadiran ku


dalam hidupnya.


“Maafin gua,” ucapku


pelan sambil mengelus kepalanya.


“Gua gak pernah benci


sama lu,”


“Maafin gua yang gak mau


main sama lu…”


“Gua cuma takut lu


ketularan jadi bandel kaya gua…”


otak lu yang pinter itu, justru gua bangga punya adek yang pintarnya kebangetan


kaya lu…”


            Aku berhenti sejenak.


“Di Pondok itu sakit Rud,


sepi, tiap malam gua ngerasa dingin. Gua rindu sama Ayah, Ibu terutama sama


elu…”


“Gua tau lu ga bakal


sanggup disitu, jadi gua selalu marah sama lu, biar lu ga dimasukin juga kesana


kalau lu ketularan bandel kaya gua …”


            Aku menatap wajah adikku, sambil memegang kedua bahunya.


“Maafin gua kalau cara


gua salah”


“Gua ga pernah benci sama


lu…”


“Maaf rud,” ucapku pelan


            Aku merasakan tubuhnya yang semakin bergetar karena tak


sanggup menahan tangisnya atas apa yang ku katakana kepadanya. Aku memeluknya


erat dengan kedua tanganku.


            Aku tak melepaskan pelukanku, karena adikku tak bisa


menghentikan air matanya, air mata penderitaan yang dia simpa didalam lubuk


hatinya karena merasa hampa dan kesepian yang dirasakannya selama ini. Air mata


yang penuh kerinduan kepadaku, abangnya.


            Ditengah-tengah aku memeluk adikku agar dia bisa tenang,


tiba-tiba aku merasa ada seseorang datang memeluk kami berdua, kami pun menoleh


kearahnya, ternyata Ibu yang memeluk kami. Ibu datang bersama dengan yang


lainnya, aku melihat mereka yang tak ku mengerti sedang mengusap air matanya


masing-masing. Aku rasa mereka ada di belakang kami dari tadi.


“Bu maafin aku,” ucapku


lirih kepadanya.


“Tak apa nak, Ibu tak


marah kepadamu,” balasnya tersenyum kepadaku.


“Sekarang kau sudah


menjadi pria sejati Rudy,” sambung Ibu.


“Aku tak pernah tau apa


maumu, karena kau hanya selalu diam dan menyendiri…”


“Bahkan Ayahmu pun


kerepotan mengajakmu berbicara…”


“Tapi. sekarang aku tahu,


bahwa yang kau butuhkan adalah abangmu,” kata Ibu sambil tersenyum kepadaku.


“Percayalah nak, aku


sangat menyayangi kalian tanpa membeda-bedakan. Aku sangat bangga dengamu dan


Abangmu, Aku bersyukur sudah diberikan anak-anak seperti kalian yang selalu


membuatku senang,” sambungnya dan memeluk kami lagi.


            Kami berdua hanya terdiam, lalu aku melepaskan pelukan Ibu,


dan menatapnya.


“Soal tadi aku minta maaf


Bu, aku janji bakalan menjaga diriku dengan baik, aku juga akan menjaga jaga Ibu,


Rudy dan semua keluarga ini dengan baik,” ucapku meyakinkannya.


“Iyaa, Ibu percaya padamu,”


balasnya sambil tersenyum.


“Aku juga bakal


melindungi Ibu,” ucap Rudy tak mau kalah.


“Ibu sangat senang


mendengarnya darimu Rudy,” jawab Ibu.


            Aku hanya tersenyum memakluminya saja, ini pertama


kalinya pria cengeng ini berkata seperti pria tangguh.


“Sok kuat lu,” balasku meledeknya.


“Gua emang kuat,”


kesalnya.


“Iya, kuat nangis doang.”


“Lu, apaan sih,” balasnya


semakin kesal.


“Apa? Mau ngajak berantem


lu? Lu lurusin aja dulu hidup lu baru nantangin gua,”


“Hahaha, gua lebih lurus


kali dari pada hidup lu,” balasnya meledekku.


            Aku dan Ibu mengeryitkan dahi kami melihat kepercayaan


adikku yang tak berdasar itu.


“Ibu harus tau, dia


pernah membawa foto wanita sexy kekamar mandinya, aku tak tahu dia melakukan

__ADS_1


apa didalam itu,” ceritanya dengan girang lalu meninggalkan kamu.


            Aku menjadi terdiam kaget, dengna perasaan kesal dan malu


yang muncul dalam diriku, aku tak menyangka dia mengetahui kebiasaanku dulu.


            Semua yang mendengar menertawakan ku, terutama Rojali


yang paling semangat meledekku.


“Hahaha, pantaslah kau


jomblo,” ketusnya.


“Kurang ajar kau Rudy,” ucapku


langsung mengejarnya.


            Aku mengejarnya yang selalu berlari menghindar, kami jadi


kejar-kejaran didalam rumah seperti anak kecil, hingga dia pun berhasil ku


tangkap.


“Ah lu ga seru, main


fisik,” ucapnya setelah berhasil kupiting kepalanya dengan pelan.


“Lu bilang sama semuanya


kalau itu semua bohong, cepetan,” suruhku kepadanya.


“Lu kan tahu kalau gua ga


berani bohong sama Ibu,” belanya.


            Mereka pun hanya tertawa, sampai Ibu memisahkan kami.


“Udah-udah, seperti anak


kecil saja kalian,” perintah Ibu dengan memegang sapu seakan ingin mengancam


kami.


“Iya buk,” jawab kami


serentak sambil ku lepaskan dia.


Se


isi rumah menjadi tertawa menertawakan kami.


            Itulah yang terjadi malam itu, malam yang penuh drama, dimana


aku berhasil membalaskan dendamku kepada orang yang hampir menghancurkan


keluargaku. Dan dimalam itu pula aku mengetahui apa yang terpendam selama ini


didalam hidup adiku.


            Malam itu pun berakhir sampai Om Ali beserta istrinya,


dan 3 shabatku kembali kehotel untuk beristirahat. Karena besok kami akan


pulang kejakarta bersama-sama dengan menggunakan pesawat yang kami pakai saat


datang kesini. Teman bisnis yang sudah baik meminjamkanku pesawatnya tak bisa


datang karena aku benar-benar lupa untuk memberitahunya.



            Setelah sarapan, kami pun pergi menuju bandara bersama-sama


dengan diantar oleh keluarga besar kami yang berada disini. Aku tak terlalu


banyak berkomunikasi dengan sepupu-sepupuku kecuali dengan Adrian saja.


            Sesampainya dibandara pun kami saling berpamitan dengan


penuh tangis, Ibu berusaha meyakinkan mereka bahwa kami akan berkunjung kesini


lagi lain waktu. Aku dan Zulfa hanya melihat kejadian itu tanpa tahu harus


bersikap bagaimana, Tante-tanteku sangat menyayangi Ibu ku sebagai mana adek


sendiri, aku benar-benar senang melihat keluarga ini. keluarga yang penuh


dengan kasih sayang.


“Kau tak melepaskan


tangan Istrimu dari tadi,” kata Adrian menyindirku.


            Aku menatapnya yang sedang berdiri disamping istriku.


“Oh jelas, aku tak akan


membiarkan pria sepertimu untuk mendekati istriku. Sana kau,” balasku sambil mengusirnya.


“Hahaha, Nugy kau kejam


sekali,” Zulfa menegurku sambil tertawa.


“Suamimu ini memang


sangat kejam Zulfa, terutama padaku.”


            Zulfa hanya diam dengan sambil tertawa kecil.


“Aku tak akan lupa rasa


dari pukulan mu itu, tapi sekarang gantian, aku yang harus memukulmu,” ucapnya


sambil memukul pipiku dengan pelan.


“Kurang ajar kau,” ucapku


yang langsung ingin membalasnya tapi Zulfa menahanku.


“Tanganmu sedang sakit Nugy,


kau sedang tak berdaya sekarang, jadi pasrah sajalah dengan keadaanmu,” ucap Zulfa.


“Selamat kau sekarang,”


balasku kesal kepada Adrian.


            Lalu dia dan Zulfa menertawakanku.


            Asik kami saling bercanda dan bercerita, Andre datang


mendekati kami sambil tersenyum kepadaku.


“Hati-hati ya,” ucapnya


kepadaku.


            Aku hanya mengangguk.


Aku


dan Andre memang memiliki hubungan yang cukup canggung. Karena aku tak suka


dengan mamanya, yang selalu memarahi aku dan adikku setiap berkunjung kerumahnya.


Dan sekarang lihat saja, Mamanya sama sekali tak datang padahal Ayahku


meninggal. Tapi aku tak terlalu menghiraukannya, karena dia tak penting bagiku.


“Lu gak pulang?” tanyaku


pada Andre.


“Gua mau ngcek produksi


yang ada disini dulu, lusa gua kejakarta.”


“Oke, gua tunggu lu disana,”


ucapku.


“Sip, tunggu gua dihutan


belantara lu itu,” balasnya kembali.


            Aku hanya tersenyum.


            Setelah keluargaku merasa sudah rela melepaskan kami, kami


semua pun masuk kedalam pesawat, dengan formasi yang berbeda kali ini. Aku dan istriku


ada didepan, dihadapan kami ada Ibu dan Rudy, didepan kami ada Patricia dan Dewi,


dihadapan mereka ada Rojali dan Ayu. Disamping kami ada Papa, Mama, Om Ali,


istrinya yang saling berhadapan. Dan ajudan Ayah seperti biasa dia sendiri


dibelakang.


“Bu,” sapaku pelan.


“Apa nak,” jawab Ibu.


“Dia itu siapa?” tanyaku


menunjuk ajudan itu.


            Ibu melihat kearah yang ku tunjuk, dan kembali menatapku


sambil tersenyum.


“Dia Taufik, anak angkat


Ibu dan Ayahmu,” jawab Ibu.


            Aku, Zulfa, dan Rudy pun kaget.


“Suatu waktu ada orang


yang ingin menembak Ayahmu ketika kami sedang berkunjung ke kota ini…”


“Dia melindungi ayamu


dari tembakan itu dengan tubuhnya sendiri…”


“Kami pun langsung


membawanya kejakarta, dan untungnya dia bisa diselamatkan…”


“Ayahmu berhutang nyawa


kepadanya, jadi kami mendidiknya untuk sekolah diasrama yang ada di Jawa Barat…”


            Ibu terdiam sejenak menatap kami yang sedang fokus


mendengarkannya berbicara.


“Namun perlahan kami


tahu, bahwa dia adalah anaknya Sapri dari perselingkuhannya dengan wanita yang


ada dikota ini,” sambungnya


            Kami bertiga kaget mendengar penjelasan Ibu, ini aib yang


sangat besar.


“Lalu wanita itu dimana


Bu?” tanyaku.


“Dia dibunuh oleh


seseorang yang diduga suruhan Istri sah nya Sapri,” jawab Ibu.


“Astaghfirullah,” ucapku.


            Aku baru tahu dengan semua ini, dia memiliki kisah hidup


yang lebih pilu dari aku. Aku langsung berniat untuk bisa mengajaknya bermain


sesampainya di Jakarta nanti.


            Aku menatapnya, dan ternyata dia juga menatapku. Dia


tersenyum lebar kepadaku, dan aku membalasnya.


            Aku rasa sebaiknya cepatlah pesawat ini berangkat, aku


juga sudah tak menanyakan soal itu lagi, karena terlalu sedih kurasa.


            Pesawat pun sudah memberi aba-aba keberangkatan, dan kami


semua memakai sabuk kami masing-masing.


Aku


menatap keluar melalui jendela yagn ada disebelahku.


Selamat


tinggal Ayah, kami akan pergi menuju kehidupan kami yang baru, tanpa adanya


dirimu. Dan semoga kau tenang disana Ayah, kau sudah pergi kekehidupanmu yang baru


tanpa adanya kami disisi mu.


            Aku akan menjadikan semua ini sebagai pelajaran bagiku,


aku akan pergi bersama semua kenangan yang sudah kau berikan kepada kami. Sampai


kapanpun kami adalah milikmu Ayah, dan sampai kapanpun kau adalah milik kami.


Tunggulah kedatangan kami untuk datang menemuimu lagi. Dan nikmatilah waktumu


bersama Ayah dan Ibunda yang kau cintai, sambungku dalam hati.


            Tak terasa air mataku menetes, dan Ibu pun begitu, lalu


kami saling lempar senyum satu sama lain. Dan melihat kota yang indah ini dari


Jendela pesawat.


Terima kasih Sibolga,


kau sudah melahirkan seorang Raja bagi kami semua, terima kasih kau sudah

__ADS_1


mengalir didarah ku dan adikku. Terima kasih atas semuanya, selamat tinggal


Sibolga. Dan selamat tinggal Pria gagahku.


__ADS_2