
Aku hanya diam untuk meredakan emosiku dengan Zulfa yang
terus menggenggam erat tanganku, raut wajahnya terliat panik, air matanya pun
masih mengalir. Dan yang lainnya ikut terduduk membantu ku untuk bisa kembali
tenang.
“Mana rokok miliknya?”
tanya Zulfa kepada Rojali.
“I—ni,” balasnya sambil
memberikan rokok itu kepada ku.
Aku mengambil, membakar lalu menghisapnya, aku melihat Papa
tersenyum kearah kami berdua. Dia menatap kagum akan anaknya yang sudah
terlihat semakin bersikap dewasa, anaknya yang selalu punya cara untuk bisa
membuatku menjadi merasa tenang.
Setelah dia puas menatap anaknya, dia pun kembali menatap
kearahku.
“Kau sudah tenang nak?”
tanya Papa lembut memastikan kondisi hatiku.
Aku hanya diam mengangguk, lalu melihat sekelilingku yang
melihat kearahku dengan heran seakan tak menyangka akan kejadian tadi. Aku
memaklumisaja, ini mungkin pertama kalinya mereka melihatku mengamuk seperti
kesetanan yang baru saja ku lakukan tadi.
Rudy keluar dari kamar dimana dia membawa Ibuku tadi, dia
berjalan kekolam tepat dibelakang rumah, dia terliha seakan ingin sendiri untuk
menenangkan fikirannya setelah dia baru mengetahui nasibnya saat kecil.
“Temanilah dia Ndre,” mohonku
kepada Andre.
“Kau tenang saja,”
balasnya meyakinkanku lalu berjalan menyusul adikku.
Aku sengaja menyuruhnya menemani adikku, karena adikku
sangat dekat dengannya, dengan alasan yang sudah ku katakan sebelumnya.
“Maaf Nugy, seharusnya
aku tak mengatakan tentang dia kepadamu,” ucap Om Ali.
“Tak apa Om, tidak ada
yang salah, bahkan aku pun tak merasa bersalah atas apa yang kulakukan barusan,”
jawabku meyakinkannya.
Mereka semua kembali terdiam berusaha memaklumi
kondisiku.
“Tanganmu luka,” ucap Zulfa
sambil memegang tanganku.
Aku
langsung melihat tangaku yang ternyata memang terluka, kulit tanganku
terkelupas dan mengeluarkan darah. Aku rasa beberapa pukulanku meleset mengenai
lantai saat dia berusaha mengelak dari pukulanku.
“Ini,” Adrian memberi
kotak p3k kepada Zulfa.
Zulfa
langsung mengobati tanganku dengan hati-hati, lalu memperbannya. Aku melihat
tangannya bergetar ketika mengobati lukaku. Dia bergetar seakan ketakutan
karena habis melihatku menggila tadi. Aku jadi tak tega melihatnya, aku pun
menggenggam tangannya.
“Temani aku bertemu Ibu,”
ajakku lembut.
Dia pun mengangguk dan tersenyum kepadaku, aku pun
membalasnya. Kami pun meninggalkan mereka berjalan masuk kekamar Ibu. Mereka
yang berada didalam menatap kami canggung. Hanya Mama yang justru senyum
melihat kedatangan kami berdua. Tapi aku tak menghiraukannya.
Aku
berjalan pelan mendekat kearah Ibu, aku melepaskan tangan Zulfa yang ku genggam
dan berjongkok dihadapan Ibuku lalu menggenggam tangannya.
“Sepertinya aku membuatmu
menangis lagi Bu,” ucapku pelan.
“Maafkan aku, aku tak
bermaksud membentakmu, aku hanya tak kuasa menahan dendam ku padanya,”
sambungku lirih.
Ibu tak membalas perkataanku, dia masih tertunduk dan tak
menatapku, dia terlihat seperti takut kepadaku.
“Aku justru sudah
membuatmu takut Bu, maafkan aku,” sambungku dengan lirih sambil mencium
tangannya dan bangkit ingin meninggalkannya.
Ketika aku hendak meninggalkannya, Rudy pun masuk, mungkin
andre berhasil menenangkannya. Aku tersenyum kepadanya dan memegang pundaknya,
lalu melanjutkan langkahku. Ketika aku ingin membuka pintu Ibu memanggilku.
“Nugy,” panggilnya lirih.
Aku pun menoleh kepadanya yang sedang berdiri menatapku.
“Mana mungkin aku takut
kepada anakku sendiri…”
“Aku sudah pernah
mengatakan bahwa aku memiliki 3 pria tangguh dalam hidupku. Dan satu
diantaranya sudah pergi meniggalkanku. Dan sekarang atas apa yang kau lakukan kepada
mereka, apa kau ingin melihatku menderita karena kehilanganmu juga?” tanya Ibu
lantang.
“Ibu meremehkanku?”
tanyaku dengan tegas.
“Aku tak pernah meragukan
keberanian dan kekuatanmu Nugy,” ucapnya yang kini menjadi marah.
Aku diam untuk membiarkan Ibu melanjutkan amarahnya
kepadaku.
“Aku tau kau bisa
menghancurkan lawanmu, aku juga tau kau pernah menghajar 15 orang karena tahu
adikmu menjadi bahan bullyan mereka,” sambungnya sambil berjalan dan
menunjukku.
Aku menatap Ibu dengan santai.
“Lalu?” tanya ku santai
“Ooh, bahkan kau sudah
berani menunjukkan kesombonganmu dihadapanku dengan tatapanmu ini?” tanyanya
balik kepadaku sambil tersenyum sinis.
“Aku sedang tidak
menyombongkan diri Bu, aku hanya menunjukkan keberanian ku dihadapanmu,”
balasku tegas.
“Keberanian apa?”
Aku terdiam lagi.
“Kalian berdua tak perlu
menunjukkannya kepadaku, aku sudah bosan melihat pria-priaku yang sok tangguh
dihadapanku, namun tetap tak mampu bertahan melawan naas yang menyerangnya…”
“Ayahmu adalah pria
pemberani yang pernah ku temui, bahkan dia sangat tangguh lebih dari mu. Tapi…”
Ibuk terdiam sejenak seakan sedang menahan tangisnya.
“Apakah kau bisa melihat
ketangguhannya dalam melawan takdir naas yang mendatanginya, Nugy?”
Aku hanya terdiam tak berkutik.
“JAWAB AKU?” bentaknya kepadaku.
“TIDAK NUGY, Ayahmu hanya
bisa tersenyum untuk menunjukkan dirinya kepadaku. yang seolah kuat menahan
rasa sakitnya…”
“Dan aku tak mau itu
terjadi kepada 2 pria ku yang tersisa Nugy, aku tak bisa berbuat apapun. Jika
takdir naas yang akan kau temui nanti…”
Ibu kembali mengeluarkan air matanya, hal itu semakin
membuatku merasa bersalah atas sikap ku kepadanya.
“Jadi kumohon Nugy,
hilangkan dendammu, karena aku tak mau itu akan mencelakakanmu nak,” ucap Ibu
lirih dengan meneteskan air matanya lalu terduduk disudut kasur.
Aku ingint mendekat dan menenangkannya.
“Aku lelah Nugy, aku
lelah, sebaiknya kalian berdua keluar dari sini…”
Aku dan Rudy terdiam saling bertatapan.
“KELUAR KALIAN ANAK-ANAK
KURANG HAJAR,” bentak Ibu kepada kami.
Aku dan Rudy pun keluar meninggalkan mereka yang ada
didalam. Aku sudah membuat Ibu benar-benar kecewa padaku. Ayah pasti sedang
marah kepadaku diatas sana.
Aku pergi kebelakang rumah sambil menghisap rokokku, yang
di ikuti oleh Rudy yang berdiri disebelahku.
“Sudah lama kita tak
dimarahi Ibu,” ucapnya.
“Gua sih sering, lu yang
jarang, jadi jangan sok Ikut-ikutan,” balasku santai.
“Ya siapa suruh lu bandel.”
“Biar saja, setidaknya
gua gak cuma bisa diam dan nangis,”
“Hahaha, gua sengaja
merasa lemah dihadapan orang,” ucapnya lirih.
Aku menatapnya dengna jeda.
“Lu tau kenapa?” tanyanya
kepadaku.
__ADS_1
Aku hanya diam menunggu dia melanjutkannya.
“Karena lu pasti datang
belain gua,” sambungnya lirih.
Aku menjadi semakin dalam menatapnya, dia pun menatapku
sambil tersenyum, lalu memalingkan wajahnya dariku.
“Dirumah lu cuma bisa
marahin gua, bahkan mukulin gua lagi…”
“Gua juga ga tau kenapa
lu bisa sebenci itu sama gua…”
“Apa karena gua lebih
pintar dari lu yak?” tanyanya kembali menatapku.
Aku masih terdiam terus menatapnya yang seakan terpaksa tersenyum
dengan berusaha menahan tangisnya.
“Gua takut ama lu bang,
takut banget malah…”
“Ayah cuma perhatian ama
lu, Ibu juga cuma merhatiin elu doang. Cuma lu doang yang merhatiin gua
walaupun cuma buat marah sih.”
Kali ini aku benar-benar tak berkutik dihadapannya, aku
seakan merasakan seluruh kesedihan didalam hatinya.
“Gua sedih bang, ngeliat
satu-satunya orang yang peduli ama gua malah pergi dari rumah...”
“Gua takut ketika lu
sukses lu malah ngebuang gua, gak akuin gua sebagai adik lu…”
“Jadi gua belajar aja
terus biar gua bisa hidup mandiri dengan masa depan gua…”
“Gua berfikir kalau gua
sukses, gua gak perlu takut kehilangan lu, karena gua pasti bakalan punya
banyak temen…”
Aku masih terdiam tak kuasa mendengar semua ucapannya,
lalu dia kembali menatapku.
“Tapiii… tetap aja gua
bakalan butuh Abang gua…”
“Karena cuman elu yang
merhatiin gua…”
“Walaupun lu cuma marah
dan mukulin gua. Gak apa-apa deh…”
“Yang penting gua merasa
dianggap kalau gua ada…”
“Toh habis lu hajar. Kak
Dewi pasti datang nenangin gua…”
Dia terdiam sejenak dan memalingkan wajahnya menatap
kedepan.
“Dari kecil gua pengen
banget main ama lu bang. Tapi ga pernah kesampaian sampai gak terasa kita udah
gede aja…”
“Malah lu udah nikah
lagi. Pasti gak bakalan bisa ada buat gua lagi…”
“Tapi gak apa-apa bang,
gua seneng kok,” ucapnya tersenyum kearahku.
Aku terdiam mendengar semua kalimat yang dikatakan oleh
adikku. Aku merasakan hawa kesepian yang mendalam dari setiap bait perkataannya.
Selama ini dia merasa sangat hampa tinggal dirumah mewah itu, setelah semua
yang aku lakukan terhadapnya justru menurutnya hanya aku yang membuat dia
merasa ada dirumah itu.
Mungkin ini yang selalu dia ceritakan kepada Dewi dan Andre.
Dan aku terlalu bodoh suntuk bisa mengetahuinya, sebagai abangnya justru aku
yang tak paham dengna betapa kesepiannya dia selama ini.
Aku
mendekat kepadanya dan menggapai kepalanya lalu menyandarkannya di bahuku
sambil mengelus kepalanya.
Aku merasakan air matanya yang membasahi bajuku dan
membuat bahuku terasa dingin, aku merasakan kehampaan yang dia rasakan selama
ini. Aku tak pernah hadir sebagai abang yang baik untuknya. Disaat aku hanya
mampu menghajar dan memarahinya, justru dia tetap mengharapkan kehadiran ku
dalam hidupnya.
“Maafin gua,” ucapku
pelan sambil mengelus kepalanya.
“Gua gak pernah benci
sama lu,”
“Maafin gua yang gak mau
main sama lu…”
“Gua cuma takut lu
ketularan jadi bandel kaya gua…”
otak lu yang pinter itu, justru gua bangga punya adek yang pintarnya kebangetan
kaya lu…”
Aku berhenti sejenak.
“Di Pondok itu sakit Rud,
sepi, tiap malam gua ngerasa dingin. Gua rindu sama Ayah, Ibu terutama sama
elu…”
“Gua tau lu ga bakal
sanggup disitu, jadi gua selalu marah sama lu, biar lu ga dimasukin juga kesana
kalau lu ketularan bandel kaya gua …”
Aku menatap wajah adikku, sambil memegang kedua bahunya.
“Maafin gua kalau cara
gua salah”
“Gua ga pernah benci sama
lu…”
“Maaf rud,” ucapku pelan
Aku merasakan tubuhnya yang semakin bergetar karena tak
sanggup menahan tangisnya atas apa yang ku katakana kepadanya. Aku memeluknya
erat dengan kedua tanganku.
Aku tak melepaskan pelukanku, karena adikku tak bisa
menghentikan air matanya, air mata penderitaan yang dia simpa didalam lubuk
hatinya karena merasa hampa dan kesepian yang dirasakannya selama ini. Air mata
yang penuh kerinduan kepadaku, abangnya.
Ditengah-tengah aku memeluk adikku agar dia bisa tenang,
tiba-tiba aku merasa ada seseorang datang memeluk kami berdua, kami pun menoleh
kearahnya, ternyata Ibu yang memeluk kami. Ibu datang bersama dengan yang
lainnya, aku melihat mereka yang tak ku mengerti sedang mengusap air matanya
masing-masing. Aku rasa mereka ada di belakang kami dari tadi.
“Bu maafin aku,” ucapku
lirih kepadanya.
“Tak apa nak, Ibu tak
marah kepadamu,” balasnya tersenyum kepadaku.
“Sekarang kau sudah
menjadi pria sejati Rudy,” sambung Ibu.
“Aku tak pernah tau apa
maumu, karena kau hanya selalu diam dan menyendiri…”
“Bahkan Ayahmu pun
kerepotan mengajakmu berbicara…”
“Tapi. sekarang aku tahu,
bahwa yang kau butuhkan adalah abangmu,” kata Ibu sambil tersenyum kepadaku.
“Percayalah nak, aku
sangat menyayangi kalian tanpa membeda-bedakan. Aku sangat bangga dengamu dan
Abangmu, Aku bersyukur sudah diberikan anak-anak seperti kalian yang selalu
membuatku senang,” sambungnya dan memeluk kami lagi.
Kami berdua hanya terdiam, lalu aku melepaskan pelukan Ibu,
dan menatapnya.
“Soal tadi aku minta maaf
Bu, aku janji bakalan menjaga diriku dengan baik, aku juga akan menjaga jaga Ibu,
Rudy dan semua keluarga ini dengan baik,” ucapku meyakinkannya.
“Iyaa, Ibu percaya padamu,”
balasnya sambil tersenyum.
“Aku juga bakal
melindungi Ibu,” ucap Rudy tak mau kalah.
“Ibu sangat senang
mendengarnya darimu Rudy,” jawab Ibu.
Aku hanya tersenyum memakluminya saja, ini pertama
kalinya pria cengeng ini berkata seperti pria tangguh.
“Sok kuat lu,” balasku meledeknya.
“Gua emang kuat,”
kesalnya.
“Iya, kuat nangis doang.”
“Lu, apaan sih,” balasnya
semakin kesal.
“Apa? Mau ngajak berantem
lu? Lu lurusin aja dulu hidup lu baru nantangin gua,”
“Hahaha, gua lebih lurus
kali dari pada hidup lu,” balasnya meledekku.
Aku dan Ibu mengeryitkan dahi kami melihat kepercayaan
adikku yang tak berdasar itu.
“Ibu harus tau, dia
pernah membawa foto wanita sexy kekamar mandinya, aku tak tahu dia melakukan
__ADS_1
apa didalam itu,” ceritanya dengan girang lalu meninggalkan kamu.
Aku menjadi terdiam kaget, dengna perasaan kesal dan malu
yang muncul dalam diriku, aku tak menyangka dia mengetahui kebiasaanku dulu.
Semua yang mendengar menertawakan ku, terutama Rojali
yang paling semangat meledekku.
“Hahaha, pantaslah kau
jomblo,” ketusnya.
“Kurang ajar kau Rudy,” ucapku
langsung mengejarnya.
Aku mengejarnya yang selalu berlari menghindar, kami jadi
kejar-kejaran didalam rumah seperti anak kecil, hingga dia pun berhasil ku
tangkap.
“Ah lu ga seru, main
fisik,” ucapnya setelah berhasil kupiting kepalanya dengan pelan.
“Lu bilang sama semuanya
kalau itu semua bohong, cepetan,” suruhku kepadanya.
“Lu kan tahu kalau gua ga
berani bohong sama Ibu,” belanya.
Mereka pun hanya tertawa, sampai Ibu memisahkan kami.
“Udah-udah, seperti anak
kecil saja kalian,” perintah Ibu dengan memegang sapu seakan ingin mengancam
kami.
“Iya buk,” jawab kami
serentak sambil ku lepaskan dia.
Se
isi rumah menjadi tertawa menertawakan kami.
Itulah yang terjadi malam itu, malam yang penuh drama, dimana
aku berhasil membalaskan dendamku kepada orang yang hampir menghancurkan
keluargaku. Dan dimalam itu pula aku mengetahui apa yang terpendam selama ini
didalam hidup adiku.
Malam itu pun berakhir sampai Om Ali beserta istrinya,
dan 3 shabatku kembali kehotel untuk beristirahat. Karena besok kami akan
pulang kejakarta bersama-sama dengan menggunakan pesawat yang kami pakai saat
datang kesini. Teman bisnis yang sudah baik meminjamkanku pesawatnya tak bisa
datang karena aku benar-benar lupa untuk memberitahunya.
…
Setelah sarapan, kami pun pergi menuju bandara bersama-sama
dengan diantar oleh keluarga besar kami yang berada disini. Aku tak terlalu
banyak berkomunikasi dengan sepupu-sepupuku kecuali dengan Adrian saja.
Sesampainya dibandara pun kami saling berpamitan dengan
penuh tangis, Ibu berusaha meyakinkan mereka bahwa kami akan berkunjung kesini
lagi lain waktu. Aku dan Zulfa hanya melihat kejadian itu tanpa tahu harus
bersikap bagaimana, Tante-tanteku sangat menyayangi Ibu ku sebagai mana adek
sendiri, aku benar-benar senang melihat keluarga ini. keluarga yang penuh
dengan kasih sayang.
“Kau tak melepaskan
tangan Istrimu dari tadi,” kata Adrian menyindirku.
Aku menatapnya yang sedang berdiri disamping istriku.
“Oh jelas, aku tak akan
membiarkan pria sepertimu untuk mendekati istriku. Sana kau,” balasku sambil mengusirnya.
“Hahaha, Nugy kau kejam
sekali,” Zulfa menegurku sambil tertawa.
“Suamimu ini memang
sangat kejam Zulfa, terutama padaku.”
Zulfa hanya diam dengan sambil tertawa kecil.
“Aku tak akan lupa rasa
dari pukulan mu itu, tapi sekarang gantian, aku yang harus memukulmu,” ucapnya
sambil memukul pipiku dengan pelan.
“Kurang ajar kau,” ucapku
yang langsung ingin membalasnya tapi Zulfa menahanku.
“Tanganmu sedang sakit Nugy,
kau sedang tak berdaya sekarang, jadi pasrah sajalah dengan keadaanmu,” ucap Zulfa.
“Selamat kau sekarang,”
balasku kesal kepada Adrian.
Lalu dia dan Zulfa menertawakanku.
Asik kami saling bercanda dan bercerita, Andre datang
mendekati kami sambil tersenyum kepadaku.
“Hati-hati ya,” ucapnya
kepadaku.
Aku hanya mengangguk.
Aku
dan Andre memang memiliki hubungan yang cukup canggung. Karena aku tak suka
dengan mamanya, yang selalu memarahi aku dan adikku setiap berkunjung kerumahnya.
Dan sekarang lihat saja, Mamanya sama sekali tak datang padahal Ayahku
meninggal. Tapi aku tak terlalu menghiraukannya, karena dia tak penting bagiku.
“Lu gak pulang?” tanyaku
pada Andre.
“Gua mau ngcek produksi
yang ada disini dulu, lusa gua kejakarta.”
“Oke, gua tunggu lu disana,”
ucapku.
“Sip, tunggu gua dihutan
belantara lu itu,” balasnya kembali.
Aku hanya tersenyum.
Setelah keluargaku merasa sudah rela melepaskan kami, kami
semua pun masuk kedalam pesawat, dengan formasi yang berbeda kali ini. Aku dan istriku
ada didepan, dihadapan kami ada Ibu dan Rudy, didepan kami ada Patricia dan Dewi,
dihadapan mereka ada Rojali dan Ayu. Disamping kami ada Papa, Mama, Om Ali,
istrinya yang saling berhadapan. Dan ajudan Ayah seperti biasa dia sendiri
dibelakang.
“Bu,” sapaku pelan.
“Apa nak,” jawab Ibu.
“Dia itu siapa?” tanyaku
menunjuk ajudan itu.
Ibu melihat kearah yang ku tunjuk, dan kembali menatapku
sambil tersenyum.
“Dia Taufik, anak angkat
Ibu dan Ayahmu,” jawab Ibu.
Aku, Zulfa, dan Rudy pun kaget.
“Suatu waktu ada orang
yang ingin menembak Ayahmu ketika kami sedang berkunjung ke kota ini…”
“Dia melindungi ayamu
dari tembakan itu dengan tubuhnya sendiri…”
“Kami pun langsung
membawanya kejakarta, dan untungnya dia bisa diselamatkan…”
“Ayahmu berhutang nyawa
kepadanya, jadi kami mendidiknya untuk sekolah diasrama yang ada di Jawa Barat…”
Ibu terdiam sejenak menatap kami yang sedang fokus
mendengarkannya berbicara.
“Namun perlahan kami
tahu, bahwa dia adalah anaknya Sapri dari perselingkuhannya dengan wanita yang
ada dikota ini,” sambungnya
Kami bertiga kaget mendengar penjelasan Ibu, ini aib yang
sangat besar.
“Lalu wanita itu dimana
Bu?” tanyaku.
“Dia dibunuh oleh
seseorang yang diduga suruhan Istri sah nya Sapri,” jawab Ibu.
“Astaghfirullah,” ucapku.
Aku baru tahu dengan semua ini, dia memiliki kisah hidup
yang lebih pilu dari aku. Aku langsung berniat untuk bisa mengajaknya bermain
sesampainya di Jakarta nanti.
Aku menatapnya, dan ternyata dia juga menatapku. Dia
tersenyum lebar kepadaku, dan aku membalasnya.
Aku rasa sebaiknya cepatlah pesawat ini berangkat, aku
juga sudah tak menanyakan soal itu lagi, karena terlalu sedih kurasa.
Pesawat pun sudah memberi aba-aba keberangkatan, dan kami
semua memakai sabuk kami masing-masing.
Aku
menatap keluar melalui jendela yagn ada disebelahku.
Selamat
tinggal Ayah, kami akan pergi menuju kehidupan kami yang baru, tanpa adanya
dirimu. Dan semoga kau tenang disana Ayah, kau sudah pergi kekehidupanmu yang baru
tanpa adanya kami disisi mu.
Aku akan menjadikan semua ini sebagai pelajaran bagiku,
aku akan pergi bersama semua kenangan yang sudah kau berikan kepada kami. Sampai
kapanpun kami adalah milikmu Ayah, dan sampai kapanpun kau adalah milik kami.
Tunggulah kedatangan kami untuk datang menemuimu lagi. Dan nikmatilah waktumu
bersama Ayah dan Ibunda yang kau cintai, sambungku dalam hati.
Tak terasa air mataku menetes, dan Ibu pun begitu, lalu
kami saling lempar senyum satu sama lain. Dan melihat kota yang indah ini dari
Jendela pesawat.
Terima kasih Sibolga,
kau sudah melahirkan seorang Raja bagi kami semua, terima kasih kau sudah
__ADS_1
mengalir didarah ku dan adikku. Terima kasih atas semuanya, selamat tinggal
Sibolga. Dan selamat tinggal Pria gagahku.