Belantara

Belantara
BAHAGIA DAN KECEWA, SAMA SAJA


__ADS_3

Dari semalam fikiranku tak


berhenti gelisah atas apa yang terjadi kepada Ibuku, kini aku berjalan


menelusuri kantor menuju ruanganku, aku duduk santai termenung, terdiam dan


berfikir. Ya tuhan apakah ini semua akan baik baik saja, aku khawatir dengan


apa yang terjadi dengan Ibu dan keluargaku, apa yang terjadi sebenarnya disana?


Aku terus bertanya-tanya dalam hati ku.


Tiba-tiba pintu ruanganku


berbunyi, dan itu pasti Dewi.


“Masuk”


“Gimana lunch nya kemarin


Bos?” Tanya nya


Aku


tak menjawab dan memasang ekspresi malas.


“Kok lemas begitu, ada


apa?”


“Gak ada Apa-apa Wi.”


“Gua ga bisa lu bohongi,


cerita aja mumpung senggang gini.”


            Aku tidak bisa mengelak untuk tidak menceritakan


kepadanya, tetapi aku lebih baik tidak memberitahu dia tentang Ibu terlebuh dahulu,


jadi aku menceritakan kepadanya tentang kejadianku dengan Zulfa yang ingin


menerimaku dihadapan Ibu, dan itu hanya untuk menjaga perasaan Ibu.


“Gua ga tau lu harus


gimana Gy, tapi perkataan tuh cewek ada benernya, sebagai anak kayanya lu harus


nurutin Bunda dulu deh, karena ketika saat begini gw pasti tau, kalau lu juga


paham bahwa Orang tua lebih penting dari pada perasaan lu sendiri, kan elu


sendiri yang bilang sama gua dulu,” ucapnya seolah setuju dengan tindakan bidadariku


kemarin siang.


            Aku pun hanya terdiam mendengarnya, dan tak merespon


balik, karena sekarang fikiranku justru terfokus dengan keluargaku.


“Tett tetttt tetttt”


ponselku berbunyi nyaring tiba-tiba.


            Aku mengambil ponselku dikantong celanaku, Rojali


menelfonku dan tentu saja aku langsung mengangkatnya.


“Aku udah dapat infonya,”


ucapnya.


“Gua kesana sekarang,”


balasku lalu mematikan ponselku.


            Aku langsung bangkit untuk pergi dari kantorku.


“Kenapa?” tanya Dewi


“Gua ada urusan bentar,”


jawabku.


            Dia pun menatapku heran.


            Aku langsung pergi meninggalkannya, aku tak memiliki waktu


untuk menjelaskan kepada Dewi untuk persoalan yang satu ini.


            Aku langsung mengendarai mobilku dan pergi menuju café


tempat biasa dimana rojali sedang menungguku.


Aku


sangat tidak sabar untuk mengetahui info apa yang akan dia berikan kepadaku,


aku mengemudikan mobilku dengan cepat, untung saja belantara ini tidak terlalu


macet saat ini. sehingga aku bisa melesat dengan cepat.


            Sesampainya di café, aku langsung mendatanginya yang


sedang duduk menungguku disudut café, tempat dimana kami biasa duduk.


“Apa yang lu dapat?”


tanyaku.


“Aku dapat info tentang


bunda,” jawabnya sambil memberikan map coklat kepadaku.


Aku


membukanya dan mengambil isi yang ada didalamnya, ada beberapa foto Ibu bersama


seorang wanita yang tak ku kenal, dan sepertinya aku juga tak tahu tempat yang


mereka kunjungi didalam foto ini, itu tak seperti dirumahku, aku semakin curiga.


Ibu mengatakan ada yang


menunggunya dirumah tapi siapa wanita ini dan dimana ini, ucapku dalam hati.


“Bunda bukan pulang


kerumah, tapi justru pergi ke café itu, dan cewek yang sama dia ini seorang Dokter,


aku sudah memastikannya melalui Suruhanku,” ucapnya.


            Aku terdiam heran, Rojali tidak mungkin berbohong


kepadaku, meskipun dia hanya bawahanku, tapi dia memiliki beberapa kenalan yang


sangat berpengaruh di Hutan Belantara ini, dan pasti sangat mudah bagi dia


untuk mendapatkan info tentang ini. Melihat keadaan yang ada di foto ini aku


sangat yakin bahwa Ibu berbohong kepadaku namun apa sebenarnya yang disembunyikan


Ibu, apakah dia sakit? Aku kembali Bertanya-tanya dalam hatiku.


“Lu udah dapat alamat ini


Dokter?” tanyaku.


“Orang-orang ku lagi cari


tau tentang itu, kau tenang aja, kita bakalan tahu apa yang terjadi sebenarnya,”


ucapnya meyakinkanku.


“Kabarin gua kalau lu


udah dapat alamatnya” perintahku.


“Mau ngapain kau?” tanya


nya.


“Kita samperin langsung,”


jawabku


“Kau fikir dia bakal mau ngasih


tahu kita semuanya, kau kan tahu sendiri Ibu mu gimana.”


            Aku terdiam ragu, seakan setuju dengan apa yang dikatakan


oleh Rojali, wanita itu pasti tidak dengan mudah memberikan info tentang Ibu,


karena aku tau betul bahwa tak ada yang bisa terlepas dari amanah Ibu, dia


sangat lihai soal beginian. Tapi aku yakin aku pasti bisa mengkorek informasi


itu.


“Lu kabarin aja secepatnya,


soal itu biar gua yang urus,” kataku percaya diri.


“Sip, Boss.”


            Sepertinya Rojali tau jika aku sudah yakin maka tidak ada


yang perlu lagi untuk dia khawatirkan. Aku pasti menuntaskannya.


Ponsel


ku berbunyi, ternyata dewi menelfonku.


“Lu dimana sih, susah


amat ditelfon, dokumen udah gua email, lu liat dulu deh sebelum lu acc,”


ucapnya dari seberang sana.


“Oke,” balasku lalu


mematikan panggilannya.


“Siapa?” tanya Rojali.


“Ya siapa lagi.”


“Eh kau gak ngasih tahu


dia tentang ini?” tanyanya lagi.


“Enggak.”


“Ah mati kita, dia pasti


ngamuklah nanti.”


“Yauda itu urusan nanti


aja sih,” ucapku meyakinkannya.


“Sukak kau lah,”


balasnya.


Aku


tak berbicara lagi dan mengecek dokumen yang di email oleh Dewi. Setelah itu aku


pun segera pulang kerumahku. Karena hari ini adalah hari sabtu, aku hanya


kekantor sebentar setelah habis dari lapangan bersama Dewi dan beberapa


karyawan untuk melihat proyek kami yang sedang berjalan. Dan malam ini aku


berencana untuk menemui bidadariku kerumahnya.



            Aku sudah mencoba untuk menelfon Bidadariku sedari tadi,


namun dia tidak mengangkat, jadi kuputuskan saja untuk datang kerumahnya, aku pun


segera Bersiap-siap mandi dan setelah Sholat Maghrib aku langsung berangkat


kerumahnya dengan mobilku.


            Didalam perjalanan aku berfikir apakah dia akan mau jika


ku ajak jalan bersamaku malam ini. Selama ini dia mau pergi bersamaku hanya


karena ada Ibu yang menjadi alasannya. Tak taulah, sebaiknya aku pastikan saja


dahulu siapa tau dia mau.


Sesampainya


aku dirumahnya satpam membukakan pintu pagar untukku, sepertinya dia sudah


mengenalku maka dari itu dengan senang hati dia menyuruhku masuk. Setelah


memarkirkan mobil, aku langsung turun dari mobilku untuk masuk kerumahnya, lalu


aku mengetuk pintu rumahnya yang tertutup sambil mengucapkan salam, terdengar


suara langkah kaki dari dalam yang pasti itu adalah penghuni rumah ini.


“Nugy,” sapa mamanya sambil


senyum kepadaku.


“Malam Tante,” balasku


menyapa.


“Ayo masuk.”


            Aku pun mengangguk, lalu mengikutinya masuk dari


belakang, dan duduk dikursi tamu dirumah ini.


“Zulfanya sedang tidak


dirumah nak,” ucap Ibu seakan khawatir aku kecewa.


            Sudah ku tebak, pantas saja dia tak mengangkat telfonku


dari tadi.


“Ouhh, pantesan aku


telfon gak diangkat, yasudah aku langsung pulang saja Tante,” balasku.


“Gak mau nunggu dulu?”


tanyanya.


“Engg—”


“Mau kemana kau Buru-buru


sekali,” kata papanya yang berjalan mendekati kami.


“Malam Om,” kataku sambil


menyalamnya.


“Disinilah dulu, bermalam


minggu saja dengan ku, aku ingin Bercerita-cerita denganmu,” ajaknya.


            Dia pasti tau kedatanganku kerumahnya untuk mengajak


anaknya bermalam minggu. Walaupun Zulfa tak ada sepertinya lebih baik aku


disini dulu bercerita dengan Papanya.


Aku


pun menurut saja, lalu dia megajakku untuk ikut bersamanya, sedangkan Istrinya


langsung pergi kearah dapur. Aku takjub dengan dia yang seperti melakukan


semuanya sendiri untuk Suami dan anaknya, tidak ada pembantu ku lihat dirumah


ini, meskipun begitu dia tetap tak lupa merawat dirinya.


“Kau malam ini tidak


beruntung membawa anakku untuk jalan Nugy,” ucapnya sambil berjalan kearah


belakang rumah yang menurutku nyaman sekali untuk santai dan bercerita.


“Duduk disini saja kita,”


ajaknya.


Aku


pun duduk disebelahnya, tempat ini sangat bersih dan menenangkan, ada kolam


renang dan taman bunga meskipun tak seluas dan indah seperti dirumah keluargaku.


Ketika aku masih sibuk memperhatikan sekeliling tempat ini, ia bertanya


kepadaku.


“Apakah kau dan anakku


berpacaran?” dia bertanya dengan hangat.


Tentunya


pertanyaan ini berhasil membuatku terdiam, karena aku tak tau harus menjawab


apa, aku sama sekali belum mengatakan cinta kepada Zulfa anaknya, namun aku


sudah mengajaknya jalan beberapa kali meskipun dengan Ibu, bahkan aku sudah


mencium anaknya.


“Aku tak tahu Om,”


jawabku pasrah.


“Dia sudah menceritakan


semuanya kepada kami, tentang mu, tentang keluargamu, dan Ibumu yang sangat


dikagumi oleh anakku,” ucapnya.


“Kau mendekati anakku


karena kau mencintai dia, atau justru hanya untuk membuat Ibumu senang?”


tanyanya.


            Aku sedikit terdiam sambil meyakinkan diriku untuk mampu


berkata jujur kepada Papanya. karena pada saat itu dihadapan Ibu, Zulfa yang


bersedia menerimaku jika aku mengatakan cinta kepadanya, namun hingga kini aku


belum pernah mengatakannya, karena aku tak mau dia salah sangka kalau aku


melakukannya demi Ibu padahal aku ingin dia tahu bahwa aku benar benar


mencintai dia.


“Sebenarnya Zulfa yang


menginginkan ini demi Ibu ku Om, aku tak yakin dia mencintaiku, tapi yang pasti


aku sangat mencintainya,” jawabku jujur.


Aku melihat papa pun


tersenyum melihatku.


“Aku sangat menyukaimu Nugy,


kau pria jujur dan berani, tak heran kami sangat merasa nyaman dekat denganmu,


kau memiliki aura positif yang sulit ku jelaskan, namun sangat dapat langsung


kami rasakan ketika pertama melihatmu,” katanya jujur.


“Namun perihal hati


anakku itu tergantung dia, meskipun kau berhasil mengambil hatiku dan Istriku,


tapi belum tentu untuk anakku,” sambungnya dengan lembut.


            Aku


tak menjawab, aku hanya termenung mendengarkan perkataannya, karena yang dikatakannya


ada benarnya juga.


Lalu

__ADS_1


aku bertanya Tanya dalam hatiku, apakah Zulfa Benar-benar tidak memiliki rasa


apapun terhadapku selain rasa ingin membahagiakan Ibu. Kurasa dia tidak perlu


melakukan itu, karena itu adalah kewajibanku sebagai anaknya. Sebaiknya setelah


ini aku harus segera mengatakan yang sebenarnya kepada Zulfa, dan aku siap


menerima apapun dari dia, jika dia menerimaku karena cinta maka aku akan


memilikinya, dan jika dia tidak memiliki rasa itu maka aku harus


meninggalkannya. Persoalan Ibu pasti aku bisa membahagiakannya dengan caraku.


            Melihat aku yang hanya terdiam, ku rasa Ia tau bahwa aku


sendang memikirkan perkataanya barusan, dan dia memaklumi itu.


“Mari kita makan,”


ajaknya.


Aku


pun mengangguk karena aku juga belum makan malam, rencananya aku ingin makan


malam dengan anaknya malam ini tetapi dia justru tak ada dirumah. Tak apalah


setidaknya aku sudah mencoba.


Kami


pun makan bersama bertiga, sambil bercerita, mereka sepertinya ingin tau


tentang ku lebih banyak, kelihatan sekali dari pertanyaan mereka yang saling


silih berganti menanyakannya kepadaku, kecuali persoalan keluargaku, dan


pekerjaanku. Kurasa mereka sudah tau tentang keluargaku dari Zulfa, dan aku tak


keberatan sama sekali dengan Zulfa yang menceritakan semuanya kepada keluarganya.


Setelah


selesai makan. aku bercerita sebentar dengan mereka berdua, hingga aku


memutuskan untuk pulang karena sudah pukul 10 malam.


Lama juga aku disini,


fikirku.


Aku pun pamit pulang


dengan mereka berdua.


“Om-Tante, saya pamit


pulang,” ucapku lembut.


“Bisakah kau memanggil


kami seperti anakku memanggil Ibumu?” tanya Papanya kepadaku.


Aku


hanya melihat mereka, lalu mengangguk.


“Kalau begitu aku pamit


dulu Pa-Ma,” ucapku kepada mereka.


“Begitulah seharusnya”


balas Papa.


            Aku pun menyalam mereka, dan pergi menuju mobilku, tetapi


tiba-tiba Papa memanggilku.


“Nugy” panggilnya.


            Aku pun menoleh kepadanya.


“Aku sangat ingin melihat


kau berhasil mengambil hatinya dengan caramu sendiri,” sambungnya.


Lantas


aku sangat senang dengan perkataannya, dia sangat mendukungku. Aku hanya


tersenyum mengangguk. Lalu dengan perasaan senang aku pergi berjalan kemobil


yang ku parkirakan dipekarangan rumah.


            Ketika aku hendak masuk mobil Tiba-tiba aku melihat mobil


merah yang berhenti didepan pagar rumahnya, aku melihat Zulfa turun dari mobil


itu, kurasa ia diantarkan oleh seseorang yang aku tak tau itu siapa, karena aku


tak melihatnya, aku hanya melihat mobilnya saja dan langsung pergi setelah Zulfa


turun dari mobil, dia terlihat sangat riang dan berjalan masuk kedalam.


Kemudian dia kaget


melihat keberadaanku yang ada dirumahnya, dia berjalan mendekati ku.


“Nugy, kok gak bilang mau


kesini?” tanyanya.


“Aku cuma mau ketemu papamu,”


jawabku mencoba mengelak dari rasa kecewa ku terhadapnya.


            Dia hanya menatapku datar, lalu aku pamit kepadanya dan memasuki


mobilku kemudian pergi meninggalkan dia.


            Aku memutuskan pulang kerumah saja, sebaiknya memang aku


harusnya dirumah saja, tidak perlu mencoba untuk pergi berkunjung menemuinya Sampai-sampai


harus datang kerumahnya.


Sepertinya


memang benar kata Papa, jika aku sudah menakhlukkan hati Orang tuanya belum


tentu aku sudah menakhlukkan hati anaknya. Buktinya malam ini dia pergi bersama


orang lain, aku yakin sekali bahwa temannya itu adalah seorang pria.


            Ah sudahlah, sesampainya dirumah ku putuskan untuk


langsung tidur saja, setelah bangun kurasa semuanya akan Baik-baik saja.



Sudah


seharian ku habiskan waktuku utnuk dirumah kemarin, tetapi perasaan kecewa ku


terhadap Zulfa pun tak kunjung hilang dari hatiku. Hari ini aku kembali dengan


rutinitasku, aku harus bekerja, dan pagi ini aku sampai dikantor lebih cepat


dari pada biasanya, karena Dewi dari tadi sibuk menelfon ku untuk


mengingatkanku, dasar Dewi, aku seperti bawahannya saja. Bahkan aku tak sempat


sarapan.


“Nah gitu dong,” ucapnya


senang melihatku datang lebih awal


Aku


tak menjawabnya, dan langsung menuju keruanganku diikuti olehnya dari belakang.


“Lu kesel ama gua?”


tanyanya.


“Dari pada lu banyak nanya,


mending lu pesenin sarapan buat gua, cepetan,” perintahku kesal


“Sip Pak,” balasnya


sambil tersenyum senang sambil meletakkan map diatas meja ku.


            Dia tau aku sangat kesal padanya, sepertinya dia paham,


dari pada kena semprot oleh perkataanku, sebaiknya dia menurutiku. Pagi-pagi


begini dia sudah berhasil membuatku naik pitam.


Dia


pun kembali membawa Nasi gurih dengan segelas kopi dan sebungkus rokok,


sepertinya dia tau cara meluluhkan ku jika sedang kesal dengannya.


“Tumben lu bawaain gua


ini?” tanyaku heran sambil mengangkat sebungkus rokok.


“Biar lu gak bete’ lagi


aja,” balasnya sambil senyum.


“Gua maafin lu kali ini,”


kataku datar.


“Hahah gitu dong,”


balasnya enteng.


            Aku pun menikmati sarapanku, karena nasi gurih yang ada


didepan kantorku ini sangat nikmat, dan aku sering memakannya jika aku tak


sempat sarapan sebelum kekantor.


“Pertemuannya jam


berapa?” tanyaku sambil meletakkan sendok ku.


“Lu nyuruh gua Cepet-cepet


datang untuk apa, kalau ternyata pertemuannya jam 10?” kataku marah.


“Ini jam 8 Nugy, di kota


ini sangat macet, dan elu punya kebiasaan buruk dengan waktu, lu suka banget Nunda-nunda


waktu. Ini proyek besar jadi lu harus professional,” ucapnya yang justru marah


kepadaku.


            Aku hanya terdiam melihatnya marah, aku memang terbiasa Menunda-nunda


waktu, tapi dalam pekerjaan aku tau harus bersikap seperti apa, dan aku tak


pernah lupa apa lagi menunda-nundanya. Tapi aku hanya berusaha memakluminya,


mungkin ini kekhawatiran Dewi agar aku tetap tidak khilaf.


“Malah lu yang marah,” ucapku


pelan.


“Gua tau betul elu


gimana, lu lalai, ceroboh, dan nekat. Gua gak mau lu begitu didunia pekerjaan,


cukup saat mahasiswa aja. Sekarang ini semua Orang-orang elite sedang


memperhatikan elu, karena potensi yang lu punya, dan gua gak mau ngelihat keruntuhan


karir lu hanya karena tingkah lu yang kekanak-kanakan begitu,” balasnya


menasehatiku.


            Perkataan Dewi benar, sejak perusahaan ini berdiri aku


menjadi salah satu yang diperhitungkan oleh Elite-elite penghuni Hutan Belantara


ini, hasil kerja ku selalu dipuji dan tanpa kegagalan sama sekali sejauh ini, tentu


saja tanpa campur tangan Ayahku, melainkan dari potensi diriku sendiri dan tim


yang ku punya.


“Kenapa diam, udah sadar


lu sekarang?” Tanya nya tegas


“Iya udah, mana gua mau


lihat dokumennya,” balasku sambil meminta dokumen yang harus ku tanda tangani.


            Setelah aku menanda tanganinya, Dewi pun menyuruh Maman (office


boy) untuk merapikan bekas makanku, lalu dia pun pergi bersama Dewi yang


meninggalkanku sendiri. Dan aku duduk menghisap sebatang rokokku sambil


meratapi hidup yang tengah kujalani, aku merasa bersyukur atas apa yang ku


miliki saat ini, aku memiliki Ibu yang menyayangiku, dan sahabat-sahabat yang


tak pernah berpaling dariku. Tetapi ada satu hal yang tak aku miliki yaitu


wanita yang ku cintai dan mencintaiku, tetapi aku yakin bahwa semua itu hanya


masalah waktu yang akan mempertemukan ku dengan apa yang belum aku miliki saat


ini.


            Aku pun bersiap untuk keruangan meeting karena pukul


sudah menunjukkan pukul 10.00, mereka pasti sudah menungguku. Setelah aku


memasuki keruangan aku berjabat tangan dengan rekan bisnis dari Proyek baruku.


Lalu memulai rapat yang sangat membosankan bagiku namun harus ku lakukan. Yah, bagiku


rapat adalah formalitas, karna yang menentukan adalah bagaimana pembuktiannya


dilapangan.


            Setelah rapat selesai, aku berjalan menuju ruanganku yang


diikuti oleh Dewi dari belakangku.


“Lu gak makan siang?”


tanyanya


“Duluan aja,” balasku


 “Oke.”


            Dia pun meninggalkanku sendiri diruanganku, lalu tak


berapa lama pergi dia pun masuk lagi dengan seseorang wanita cantik yang selama


ini memebelengguku dalam perasaan yang tak dapat kumengerti. Tak kusangka Zulfa


hadir dikantorku siang ini.


“Sepertinya lu harus


makan siang deh,” ucap Dewi menggodaku sambil pergi meninggalkan ku berdua


dengan Zulfa.


“Hey” ucapnya sambil


tersenyum canggung.


“Duduk lah,” aku


mempersilahkan dia duduk dikursi tamu yang ada diruanganku.


“Ini kantormu?” tanyanya.


“Iya, ada apa kau datang?”


tanyaku santai.


“Aku mau minta maaf


kepadamu,” ucapnya pelan.


“Emang ada apa?” Tanya ku


karena bingung.


“Kau datang kerumah ku


utnuk mengajakku jalan, tapi justru aku tak ada dirumah.”


“Kata siapa?” tanyaku.


“Mama udah bilang


semuanya, dan Papa memarahiku atas itu.”


“Tak perlu Repot-repot


datang, kalau kau kesini hanya karena Papamu memarahimu lantaran merasa tak


enak denganku,” jawabku cuek.


“Bukan gi—”


“Udah lupain aja. Maaf


aku harus pergi,” ucapku sambil berdiri.


            Dia pun berdiri dan pergi meninggalkan ku dengan


kesedihan yang ku lihat dari wajahnya, apakah aku salah? Aku hanya mengatakan


yang sesungguhnya, aku sangat tak suka jika harus dikasihani oleh siapapun. Seperti


yang dia lakukan, dia datang meminta maaf hanya karena Papanya memarahinya


lantaran tak enak denganku yang harus kecewa karena tak ada Putrinya ketika aku


datang untuk menemuinya.


            Ketika aku ingin keluar ruangan, aku Berpas-pasan dengan


Dewi yang datang kearahku lalu menarikku masuk keruanganku dan langsung


menyemprotku dengan perkataanya.


“Lu apain lagi tuh anak


orang?” tanyanya marah.


Aku


diam tak menjawab, karena aku tau jika aku menjawab Dewi pasti akan lebih


memarahiku, aku hanya bisa mengkerutkan dahiku.


“Udah gua bilang gengsi


lu itu harus lu ilangin Nugy, lu yang bilang cinta sama tuh cewek tapi kenapa


malah lu sok-sok an bersikap dingin sama dia.”


“Lu kenapa sih?”


“Lu yang kenapa, dia


datang kesini untuk minta maaf samu lu.”


“Dia minta maaf hanya


karena takut Bokapnya marah sama dia, lu fikir gua akan membiarkan seseorang


buat kasihan sama gua.”


“Dia dimarahin bukan


karena elu, tapi karena dia pulang terlalu malam, setelah pergi dari siang dengan


orang yang gak dikenal sama Bokapnya,” ucapnya lembut.


            Aku terdiam, aku salah sangka dengan Zulfa, astaga pasti

__ADS_1


dia sangat sedih sekarang ini akibat sikapku yang dingin terhadapnya.


“Dimana dia sekarang?”


“Dia gua suruh nunggu di


bawah, ga tau kalau dia udah per—”


            Aku langsung segera pergi setelah tau dia dimana, aku tak


sabar menunggu lift untuk terbuka, sambil berhasarp semoga saja dia belum


pergi. Ketika sampai lantai bawah aku langsung mencarinya dan aku bersyukur dia


masih disitu diam menunggu, sesuai perintah dari Dewi.


“Kau sudah makan?”


tanyaku datar.


Dia


hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


“Mau makan bersamaku?”


“Bukannya kau mau pergi?”


tanyanya polos


“Iya aku mau pergi makan


siang bersamamu, kau saja yang langsung pergi,” jawabku santai.


“Benarkah?”


Aku


hanya mengangguk sambil terpana menatap kepolosannya itu.


            Kami pun pergi dengan menggunakan mobil ku. Siang ini


Jakarta sangat macet, untung saja aku tak memiliki urusan yang membuatku harus


stay dikantor siang ini, tapi aku tak tau dengan Zulfa.


“Ini sangat macet, apa kau


memiliki urusan?” tanyaku.


“Aku santai kok, emang


kita mau makan dimana.”


“Kau lihat saja nanti.”


“Ingin bermain rahasi-rahasiaan


denganku?”


            Aku hanya tersenyum sambil tetap mengahadp kedepan untuk


fokus mengendarai mobilku, tetapi aku tau dia sedang melihatku.


“Kenapa?” tanyaku.


“Aku Benar-benar ingin


minta maaf kepadamu,” ucapnya memohon.


“Aku akan memaafkanmu


setelah makan siang nanti, sekarang aku lagi lapar, jadi saat ini difikiran ku


tak ada rasa kasih.”


“Kau tega sekali, dasar


aneh,” ketusnya lalu cemberut dan semakin membuatnya terlihat menggemaskan.


 “Hahahaha,” aku pun tertawa melihat


ekspresinya itu


            Setelah itu kami hanya diam, hingga kami sampai ke café


tempat kami biasanya. Zulfa belum tau bahwa café ini adalah milikku, tapi sepertinya


aku tak perlu juga memberitahukannya. Biarlah waktu yang membuatnya mengetahui


tentang hal kecil itu.


“Yuk turun,” ajakku.


            Dia pun turun dari mobil, dan kami berjalan masuk kedalam


café, lalu memilih tempat duduk yang pernah kami duduki waktu itu. Aku melihat


ada Rojali, dan aku mengkodenya dengan mengangkat tanganku, meskipun sebenarnya


di café ini memiliki banyak pelayan yang bekerja tetapi tetap saja aku ingin Rojali


yang harus melayaniku.


“Mesan apa?”


“Gua yang biasa, kau


ingin apa?” tanyaku kepada zulfa.


“Samain aja,” jawabnya


polos.


Tentu


hal ini membuatku dan Rojali saling bertatapan, dan tertawa kecil


“Ah yang benar?” rojali


memastikan.


“Sudah kau bawa aja,” jawabku,


sambil tersenyum kearah Zulfa


            Lalu Rojali pergi meninggalkan kami berdua.


“Kau selalu membawaku


kesini,” ucapnya.


“Kau keberatan?” tanyaku.


“Tidak, kau pasti akan


mengantarku langsung pulang setelah ini,” jawabnya polos.


Aku


hanya tersenyum


“Apa yang tadi itu


skertarismu?” sambungnya.


            Aku hanya mengangguk, tentu saja aku tahu yang


dimaksudnya adalah Dewi.


 “Dia cantik, dan pengertian, ku rasa kau


beruntung memilikinya,” ucapnya.


            Aku baru ingat bahwa aku belum pernah memperkenalkan Dewi


dengannya, jadi untuk saat ini aku tau betul maksud dari perkataannya, aku tak


mau dia salah sangka atas diriku dengan Dewi sahabatku.


“Namanya Dewi, dia


sahabat ku dari kuliah dulu, bagi kami sahabat itu lebih penting dari pada kami


harus Repot-repot saling mencintai satu sama lain, aku menunjuknya jadi Sekertaris


ku, karena aku tahu dia ga bakal membuat ku gagal dalam pekerjaan,” jelasku


dengan bangga.


“Oh ku fikir agar kau


bisa cuci mata, saat kau suntuk dengan pekerjaan mu,” balasnya.


“Kau cemburu?” tanyaku.


“E-enggak, enak saja,”


jawabnya Malu-malu.


            Aku


melihat wajahnya yang memerah, dan sepertinya dia jadi salah tingakah ketika


mengetahui aku sedang menatapnya, anehnya aku sama sekali tidak merasa malu-malu


lagi ketika menatapnya. Saat lagi enak melihat wajah cantiknya, si Monyet malah


datang membawa pesanan kami.


“Ngegangu lu,” protesku.


“Apannya kau, orang aku


bawa pesanan kalian kok,” balasnya kesal sambil senyum kearah Zulfa.


“Silahkan dinikmati,” sambungya.


            Aku melihat Zulfa yang hanya terdiam kaget setelah


melihat pesanan yang disediakan, sudah ku duga dia akan kaget setelah melihat ini,


dua cangkir double expresso dan dua piring somai yang menjadi kebiasaanku jika


kesini.


“Malah bengong, ayuk makan,”


ajakku.


“Dia mulai tahu kebiasaan


buruk mu,” ucap Rojali kepadaku.


“Kau hanya makan ini?” tanya


Zulfa.


“Iya, aku jarang makan


nasi jika disini,” jawabku.


“Aku tak suka kopi,”


protesnya.


“Kau sudah memesannya,


habiskan,” ucapku tegas.


“Aku ingin pesan yang


lain saja,” pintanya kepada Rojali.


“Kebetulan menu sudah


habis, jadi kau beruntung mendapatkan itu,” balas Rojali kepadanya


Aku


hanya tersenyum melihat Zulfa denga wajah polosnya.


“HAH!! Demi apa, café


sebesar ini?”


            Rojali mengangguk sambil tertawa.


“Yang tabah ya,” ucap Rojali


lalu pergi meninggalkan kami.


“Kebiasaan mu sangat


buruk,” kesalnya.


“Makan saja, ini enak kok,”


balasku.


Dia


pun mencoba memakan somainya dengan rasa kesal, namun habis


“Enakkan,” godaku.


“Aku sering makan somai,


tapi nggak sama sekali buat minum kopi.”


“Disini kopinya enak, kau


coba saja sedikit, ga boleh mubazir.”


Dia


pun mencobanya sedikit lalu menelannya, aku pun tertawa melihat ekspresi nya


yang lucu menahan rasa pahit dari kopi itu, bagaimana tidak, dia tak suka kopi,


namun langsung meminum expresso untuk pertama kali, tentu itu terasa pahit


sekali.


“Pahit sekali,” kesalnya


kepadaku.


“Dengan ini aku sudah


memaafkanmu,” ucapku sambil senyum lebar.


“Dasar,” kesalnya sambil


memukul tanganku.


            Aku pun meminum kopi ku, dan mengeluarkan sebatang


rokokku lalu ku hisap. Memang sangat nikmat meminum kopi dengan sebatang rokok


dan ditemani bidadariku.


Sempurna, ucapku dalam


hati.


            Lalu kami pun bercerita banyak hari ini, dan timbul rasa


penasaranku terhadap seseorang yang pergi dengan Zulfa malam itu. siapa dia?


apakah cewek, atau cowok, namun aku gengsi menanyakannya jadi ku urungkan


niatku untuk menanyakannya.


            Tanpa sadar ternyata hari pun sudah sangat sore, aku


bahkan sampai tak masuk kekantorku lagi, tapi sepertinya Dewi memaklumi itu,


kami pun memutuskan untuk pulang.


            Aku mengendarai mobilku untuk mengantar Zulfa pulang


kerumahnya.


“Kau sudah memaafkanku


kan?” tanyanya.


“Iya, udah” jawabku.


“Aku pergi dari siang,


dan bodohnya ponsel ku tertinggal dirumah, jadi aku tak tahu kau sudah menelfon


ku Berkali-kali” jelasnya.


“Memangnya kau kemana?


Tanyaku reflex.


“Aku pergi dengan temanku,


dan aku sampai lupa waktu, makanya Papa memarahiku.”


“Cowok?” tanyaku lagi.


“Iya cowok,” jawabnya


ragu, sepertinya dia tau maksud dari pertanyaanku.


            Aku hanya diam, ada perasaan aneh dalam hatiku setelah


mengetahui bahwa dia pergi bersama lelaki lain, meskipun hanya teman, Tapi


pasti cowok itu lebih bisa membuatnya nyaman hingga pergi sampai lupa waktu


seperti itu. Aku sangat cemburu!!


Setelah


percakapan itu aku pun diam saja dan dia pun begitu, hingga kami sampai


dirumahnya.


“Kau tak mampir?”


“Aku langsung pulang saja,


salam sama papa dan mama mu,” jawabku.


            Dia pun mengangguk lalu turun, dan aku langsung pergi


dengan perasaan yang sangat kecewa dalam hatiku, aku berfikir bahwa takdir selalu


ingin mempermainkan hatiku, disaat aku merasa senang bersamanya selalu saja


berbarengan dengan perasaan kecewaku terhadapnya. Seperti itu saja terus,


sampai aku mati.


            Aku memarkirkan mobilku digarasi rumahku, aku sangat


lelah hari ini melewati hari-hari yang menyenangkan namun pada akhirnya aku


pulang dengan rasa kecewa dihatiku. Aku memasuki rumahku berjalan menuju kamar,


merebahkan badanku sebentar sebelum mandi.


Tettt tettt tett,


ponselku berdering


“Ayah,” ucapku berkata


sendiri, setelah melihat yang menelfonku adalah Ayah, ada apa? Tidak biasanya


dia menghubungiku.


“Assalamualaikum,” ucapku


menyapa Ayahku.


“Ayah ingin bertemu


dengan mu besok.”


“Ada apa?” tanyaku datar


“Ayah tunggu kau ditempat


biasa.” ucapnya lalu mematikan telfonnya


            Aku heran ada apa Ayah Tiba-tiba menghubungiku untuk


mengajakku jumpa, apa yang mau dia sampaikan kepadaku besok, ada masalahkah?


Atau justru ada hal lain yang sangat penting untuk dia sampaikan kepadaku. Aku


tak sabar menanti hari esok untuk bisa mengetahui yang sebenarnya.


            Aku pun berdiri untuk pergi

__ADS_1


membersihkan badanku, lalu setelah itu aku memutuskan untuk tidur, aku tak mau


menambah pusing kepalaku atas hal-hal mendadak yang membingungkanku.


__ADS_2