Belantara

Belantara
PERBAIKI


__ADS_3

Hari sudah sangat larut


dan kami sudah berada dikantor polisi, aku sudah dibebaskan dari semua


kesalahan yang ku buat. Aku juga sudah menjalani pemeriksaan, dan dinyatakan


negative dari pengaruh narkotika, aku sungguh bersyukur bahwa kasus ini tidak


terlalu berpengaruh dengan kehidupanku saat ini.


            Tidak hanya aku dan Sahabat-sahabatku yang dibawa kesini,


mereka yang menghajar ku juga dibawa kesini, tetapi aku tidak melihat pria yang


kuhajar tadi, aku juga penasaran dimana dia sekarang.  Dan diantara kami semua ada juga satu orang


yang membuatku menjadi terlihat memalukan yaitu zulfa, mungkin sebagai pemilik


butik dia dimintai menjadi saksi atas apa yang terjadi.


Kini


wanita itu datang mendekat kearahku. Dengan tatapan yang seakan sedang


merendahkan ku.


“Aku tak menyangka, semua


ini bisa terjadi dari seorang sepertimu,” ucapnya dengan meremehkanku.


            Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, bahkan dia


kini sudah bisa meremehkanku. Tapi tak apalah, toh karena memang semua ini


salahku.


“Jika kau tahu penyebab


yang sebenarnya. Kau pasti akan menyalahkan dirimu,” balasku dingin.


“Maksudmu?”


“Ah sudahlah, semoga kau


bahagia,” jawabku lalu aku meninggalkannya.


            Aku berjalan dengan 2 sahabatku, ketika aku berjalan


tepat dihadapan Brengse-brengsek yang mengeroyokku tadi, aku menghentikan


langkahku, namun Rojali dan Dewi menahan tanganku. Aku tahu mereka takut jika


aku melakukan hal bodoh lagi, tapi aku mencoba meyakinkan mereka dengan


senyuman, dan mereka melepaskan tanganku.


“Ternyata kalian hanya


berlima,” ucapku sambil menatap mereka.


“Bagaimana rasanya


memukulku?” tanya ku kepada mereka berlima.


“Kau yang memulai ini,”


jawab salah satu dari mereka dengan ekspresi takut kepadaku.


            Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya itu.


“Lalu dimana pria itu?”


tanyaku.


“Kau sudah membuatnya


berada dirumah sakit,” jawab Zulfa yang juga mendekati kami.


            Kami semua melihat kearahnya, dan dia menatapku kembali


dengan tatapan yang sama.


“Kau sudah puas? Apa


sebenarnya tujuanmu? Bagaimana jika Ibumu mengetahui ini,” sambungnya.


            Aku terdiam sambil menatapnya dingin.


“Kau mengacamku?” balasku


bertanya kepadanya.


“kau takut?”


“Hahaha, sepertinya kau


tahu kelemahanku. Sampaikan salamku kepada kekasihmu itu,” ucapku kepadanya.


“sia—”


“Kalian Pria-pria yang


berutung, semoga kita tak bertemu lagi,” ucapku memotong perkataan Zulfa sambil


menatap penuh ancaman kepada mereka berlima.


“Ayo kita pergi,” ajakku


kepada kedua sahabatku.


            Kami pun pergi meninggalkan mereka.


            Polisi sudah membawa mobil ku dan mobil Rojali kekantor


polisi, jadi kami tak harus mengkhawatirkan jalan kami pulang. Kami bertiga pun


pulang kerumahku, dalam keadaan begini mereka berdua tak ingin meninggalkanku sendiri,


begitulah beruntungnya aku memiliki mereka dihidupku. Dimana saat aku merasa


berkecil hati atas diriku mereka justru hadir untuk mengembalikan diriku,


merekalah sahabatku yang sangat berarti dalam hidupku.


            Sesampainya dirumahku, aku pun diobati oleh Dewi, si Mbok


pun juga sibuk memanaskan air agar Dewi bisa mengompres lukaku. Dia sangat


panik melihat kondisiku saat aku pulang tadi, tapi dia sudah tenang ketika kami


mengatakan bahwa aku hanya jatuh dari pohon mangga yang ku panjat dirmuah dewi,


dan dia percaya saja.


“Itu sakit Dewi.”


“Rasain lu,” balasnya.


“Lagian Aden sih, udah


gede malah manjat pohon,” sambung si Mbok.


“Mending dapat mangganya,”


ucap Rojali.


“Oalaah, gak dapat toh


mangganya,” balas si Mbok dengan ekspresi polosnya.


“Mending besok mbok beli


mangga yang banyak, dari pada dipanjatnya lagi pohon mangga, nanti jatuh lagi dia,”


ucap Rojali.


“Iya deh, besok mbok beli


banyak banyak, tenang aja,” balasnya dengan bangga.


“Hahahahaha,” kami pun


tertawa melihat kepolosan si Mbok.


“Lho kok malah ketawa?”


tanya nya.


“Ga ada mbok, mbok lucu


sih, imut lagi,” jawab Dewi kepadanya.


            Dan kami pun jadi tertawa berempat.


            Setelah dewi selesai mengobati dan mengompres lukaku,


mereka berdua pun memutuskan untuk pulang. Aku pun ikut mengantar mereka kedepan.


“Makasih ya, dan maa—”


“Jangan sok drama deh,


mending lu tidur, besok lu harus kerja Gy, banyak laporan yang harus lu tanda


tangani,” potong Dewi.


“Mati kita. Sempat-sempatnya


pula dia bahas kerjaan,” balas Rojali.


“Emangnya ga bisa libur


dulu dia,” sambungnya.


“Kalau dia libur, Bisa-bisa


hilang Job kita, dan gua mau makan apa coba?” jawab Dewi.


“Yaudah, gpp, gua besok


bakal masuk,” balasku menengahi mereka.


“Yauda kami pulang dulu,”


ucap Rojali.


“Iya, Hati-hati,” balasku.


            Setelah memastikan mereka pergi, aku memutuskan untuk


masuk dan langsung mengistrahaykan tubuhku diranjang yang tak pernah berubah


penghuninya, sambil berusaha melupakan kejadian yang sudah terjadi tadi.


Aku


harus menyadari kenyataan bahwa kini bidadari kebangganku sudah Benar-benar menjauh


dari harapanku, aku harus memulai lagi hidupku sebagai seorang pejuang. Aku tak


akan memaafkan diriku jika Terus-menerus berlarut dalam kekalahanku hari ini,


kekalahanku atas emosi ku sendiri.


            Aku harus tetap maju dengan kedua sahabatku yang selalu


berada disampingku.



            Aku menatap wajahku didepan cermin yang ada di ruangan


kantorku, semenjak Dewi mengobati lebam yang ada diwajahku, kini aku sudah lebih


baik meskipun masih terasa ngilu dibagian pipiku tapi untung saja tidak berbekas


lagi.

__ADS_1


“Ngaca mulu lu dari tadi,”


ucap Dewi yang sedari tadi melihatku becermin.


“Biarin,” balasku lalu


duduk dikursi kerjaku.


            Dia pun berjalan mendekatiku, dan menatap wajahku.


“Hahahahaha,” tawanya.


“Kenapa lu ketawa?”


“Nggak, lucu aja. Baru


pertama kali gua ngeliat lu bonyok-bonyok, hahaha.”


“Diem lu.”


“Hahaha, gimana ya kalau Cewe-cewe


lu ngeliat muka lu yg begini.”


“Mereka bukan Cewe-cewe


gua, dan berhenti lu ngeliatin muka gua.”


“hahahaha,” tawanya.


            Aku terdiam jengkel dengan melihat tawanya, hingga dia


berhenti meledekku.


“Jadi sekarang gimana


kondisi lu?” Sambungnya bertanya padaku.


“Gua gak tau,” jawabku.


“Udah hampir seminggu


semenjak kejadian itu lu jadi pendiem gini gy.”


            Aku hanya diam tak merespon ucapannya. Semenjak kejadian


kemarin aku memang menjadi seorang yang berbeda, seroang yang lebih pendiam.


“Gy,” panggilnya.


“Gua gak tau Dewi, gua


malu sama diri gua sendiri dan gua malu ama lu berdua,” jawabku dengan


terunduk.


“Kita gak pernah malu kok


Gy, dan lu juga ga boleh malu ama diri lu sendiri,” ucapnya dengan memegang


bahuku.


            Aku hanya menatapnya diam.


“Kita berdua paham kok.


Meskipun kenekatan lu itu menyebalkan. Tapi dengan itu lu bisa berada diposisi


sekarang gy,”


“Jadi gua mau lu itu


kembali lagi kaya yang biasa,” sambungnya dengan tersenyum.


            Aku tersenyum meendengar perkataannya, aku memang sangat


beruntung memiliki Sahabat-sahabat yang hebat. Aku bangga pada diriku untuk mereka


berdua.


“Nah gitu dong senyum,


yaudah yuk mending kita ke café,” ajaknya kepadaku.


“Ngapain?”


“Yah makan siang lah, ya


ampun bener-bener deh lu sampe lupa waktu.”


            Aku hanya terdiam heran, tak sadar udah siang aja.


“Udah ah. Yuk. bengong


mulu,” ucapnya sambil menarikku pergi.


            Kami pun pergi dengan mengendarai mobil milikku.


“Ini kita kemana?”


tanyaku.


“Ya ketempat simonyet lah,”


jawabnya.


“Ga bosen-bosen lu ketemu


dia emang?”


“Ya kagaklah”


“Walaupun bentuknya


gitu?”


“Hahaha lu apaan sih Gy,


tega banget sama temen sendiri juga,” jawabnya sambil tertawa.


ikut tertawa.


            Yang kami maksud disini adalah rojali. mungkin dengan


kami berkumpul lagi, bisa mengembalikan hati ku yang luka.


            Aku pun menghidupkan audio mobilku, lalu fokus


mengendarai mobilku ke cafe tempat kami biasa, yaitu café milikku. Dewi yang


sedang berada disebelahk hanya sibuk ikut menyanyikan lagu yang sedang terputar


di audio mobilku, hingga mengganggu telingaku yang sedang fokus mengendarai


mobilku.


“Lu brisik banget sih.”


“Ih apaan sih lu, gua


lagi nyanyi juga.”


“Iya lu brisik, dalam


hati aja nyanyinya.”


“Ya mana enaklah Nugy


goblok.”


“Gua ga fokus nih bawa


mobilnya.”


“Ya elah syirik amat lu


ah,” ledeknya.


            Dan aku hanya diam tak merespon, dari pada jadi semakin


panjang perdebatan lebih baik aku mengalah saja. Ku biarkan saja dia menyanyi


meskipun dengan suaranya yang membuat aku emosi. Yah, suara dan wajahnya memang


sangat tidak sinkron. Aku rasa jika dia bernyanyi mungkin hanya ketolong dengan


wajahnya yang cantik ini, jika tidak mungkin saja dia Bisa-bisa membuat orang


bisa bertemu dengan ajal melalui suara miliknya itu.


Aku


hanya menggelengkan kepala ku melihatnya lalu kembali fokus mengendarai


mobilku, hingga Kami pun sampai ditempat tujuan kami, dan aku pun turun dengan


perasaan kesal, bahkan sangat kesal karena harus mendengarkan Dewi dengan


suaranya yang berbahaya itu sepanjang jalan, meskipun dekat tapi itu terasa


jauh jadinya.


“Udah puas lu?” tanya ku


kesal kepadanya.


“Ihh apaan sih lu,” jawab


dia kesal


            Lalu aku tak menghiraukannya, dan berjalan duluan kedalam


cafe. Dan duduk disudut yang menjadi tempat kami biasanya. Dewi menyusulku dari


belakang dan juga Rojali yang melihat kedatangan kami langsung datang bergabung


bersama kami.


“Mau mesan apa kalian?”


tanya Rojali kepada kami.


“Sukak kau aja” jawabku


kesal.


“Hah, kenapa lagi dia


ini?” tanya Rojali kepada Dewi.


“Tauk, Pms kali,” jawab Dewi.


“Diam lu” balaksu kepada


Dewi.


“Kau kenapa nya?” tanya Rojali


kepadaku.


“Gara-gara dia ni”


jawabku sambil menunjuk Dewi.


“Loh kok jadi gua” protes


Dewi.


“Coba kau bayangin, aku


harus bawa mobil sepanjang jalan sambil dengerin nih anak nyanyi dengan


suaranya itu,” jelasku kesal kepada Rojali.


“Mak Jang, kasihan kali


hidupmu, turut berduka lah aku,” balas Rojali yang memahami perasaanku.

__ADS_1


“Sirik aja lu, lu lagi


ikut-ikutan,” kesal Dewi kepada kami.


“Kau pun! dia lagi Galau-galau


gini malah makin kau siksa,” Rojali membela ku.


“Untung cantik, kalau gak.


bisa jadi gila dia kau buat,” sambungnya sambil menunjukku.


“Diem lu,” kesal Dewi


            Kami pun saling diam satu sama lain, ntah untuk berapa kali


kami selalu begini. Hingga Tiba-tiba kami pun tertawa karena saling bertatapan.


“Hahahahaha”


“Yauda gua minta maaf ya”


ucap Dewi kepadaku.


“Gpp, besok gua masukin


lu Les Vocal deh,” balasku.


“Emang ngaruh?” tanya Rojali.


“Ya kau doakan lah,”


jawabku.


“Ihh udah lah gua laper


ini,” rengek Dewi.


“Yaudah, kalian mau mesan


apa, malah sibuk berantam pula kalian,” balas Rojali. Sambil memanggil pelayan


café.


            Pelayan café itu pun datang, dan kami memesan makanan dan


minuman kami, lalu dia pergi meninggalkan kami bertiga.


            Kami pun melanjutkan cerita kami dengan bercanda, seperti


yang biasa kami lakukan jika sedang berkumpul begini. Setiap bertemu kami


selalu saja membahas Hal-hal yang bisa membuat kami tertawa.


Disaat


Lagi Asik-asiknya kami berbicara. Tiba-tiba kami terdiam karena melihat


seseorang yang datang berjalan memasuki café. Dia adalah seorang wanita yang


berhasil membuatku menjadi pria yang memalukan waktu itu. Dia datang bersama


prianya itu, mereka duduk ditempat yang tak begitu jauh dari tempat duduk kami.


Aku melihat pria itu masih dengan lebam yang banyak diwajahnya, namun sudah tak


bengkak lagi, aku jadi merasa bersalah atas dirinya.


            Aku pun berdiri ingin mendekat kepada mereka, tetapi Dewi


dan Rojali menahanku.


“Lu mau ngapain lagi Gy?”


tanya Dewi.


“Udahlah, jangan membuat


masalah lagi,” ucap Rojali kepadaku.


“Tenang aja, gua gak Aneh-aneh


kok,” balasku menenangkan mereka sambil tersenyum.


            Aku pun berjalan mendekati mereka, aku melihat Zulfa


menatapku datar dengan jeda, sedangkan seperti menahan rasa takut kepadaku.


“Nugy.”


            Aku hanya melemparkan senyum seadanya kepada Zulfa yang


menyapa ku duluan, lalu kembali menatap pria yang tak kukenali namanya.


“Gimana luka lu?” tanyaku


kepada pria itu.


            Dia hanya terdiam heran mendengar pertanyaanku lalu


mentap zulfa.


“A—aman kok,” jawabnya.


“Oooh, baguslah, gua


minta maaf,” ucapku sambil mengulurkan tanganku.


“I—ya gua juga,” balasnya


sambil merespon salaman tanganku.


            Aku hanya mengangguk satu kali sambil menepuk bahunya


pelan, lalu ku tatap Zulfa dengan kembali memberinya senyuman yang seadanya, lalu


aku pergi meninggalkan mereka untuk kembali ketempat duduk ku tadi.


            Aku melihat kedua sahabatku ini tersenyum bangga


kepadaku.


“Gitu dong,” ucap Dewi


sambil mengusap bahu ku dengan bangga.


            Aku hanya tersenyum kepada mereka berdua.


“Yauda ayo kita makan,”


ajak Rojali.


            Kami pun menyantap makanan kami Masing-masing.


            Meskipun sebenarnya aku tak tega harus bersikap seperti


tadi kepada Bidadari yang sudah melukaiku, tetapi aku memang harus terpaksa


melakukannya, demi kesembuhan hati ku sendiri. Aku sudah rela jika memang dia


bukan untukku, dan aku juga sudah ikhlas atas apa yang terjadi pada diriku. Aku


juga sudah meminta maaf kepada pria yang seharusnya tak ku hajar sama sekali. Aku


sudah bisa memahami ini semua demi diriku dan Sahabat-sahabatku.


            Setelah makan aku dan Dewi pun memutuskan untuk kembali


kekantor, dan Rojali ikut mengantar kami kedepan, tidak seperti biasanya dia


mengantar begini. Tapi ya sudahlah. Aku tak keberatan sama sekali.


“Gua pergi dulu,” ucapku


pada Rojali.


“Jangan nyanyi lagi kau,”


nasehat Rojali kepada Dewi.


“Apaan sih lu, masih aja


ngajak berantem,” protes Dewi.


            Aku hanya menggelengkan kepala melihat kedua sahabatku


ini, selalu saja berdebat hanya karena hal kecil.


            Aku menarik dewi untuk masuk kedalam mobil, karena bisa


lama jika harus membiarkan mereka berdua berdebat. Lalu aku pamit kepada Rojali


untuk pergi. Sekilas aku melihat kearah café, aku melihat Zulfa yang sedang


melihat kearahku, aku tersenyum kearahnya, lalu pergi menaiki mobilku.


            Ntah kenapa selama dalam perjalanan aku selalu memikirkan


tatapan bidadariku itu, tatapan yang seakan-akan sedang kasihan terhadapku. Tak


henti-hentinya aku merasa terhina oleh tatapannya itu, tatapan yang dulu


kulihat sangat berbeda dengan tatapan matanya yang sekarang. Tetapi aku harus


memaklumi itu, karena kini dia sudah bersama kekasihnya.


            Aku sudah menerima semuanya, dan tak lupa aku harus


berterima kasih kepada Sahabat-sahabatku, mereka selalu ada untukku. Ntah untuk


yang berapa kalinya mereka selalu membantuku mengatasi masalahku.


“Makasih ya,” ucapku


lembut kepada Dewi.


“Hah? Apaan?” balasnya


heran.


“Gua udah terima


semuanya, gua ikhlas,” jawabku lembut.


            Dia hanya tersenyum kearahku.


“Gitu dong, kan gua jadi


bangga ama alu, si Monyet juga pasti bangga ama lu,” balasnya.


“Lu manggil dia Monyet


mulu.”


“Hahaha habis dia resek.”


“Lu juga kali.”


“Enak aja lu, lu yang


sama ama dia.”


“Enak aja lu


nyama-nyamain gua ama dia.”


            Kami pun terus bedebat seperti anak kecil, hingga sampai


dikantor.


            Yah, beginilah aku dan Sahabat-sahabatku,


sebentar akur lalu beberapa saat kemudian bisa seperti musuh bebuyutan. Tetapi


kami tidak penah merasa tersakiti dengan itu. Karena kami adalah orang orang


yang kuat.

__ADS_1


__ADS_2