
Hari sudah sangat larut
dan kami sudah berada dikantor polisi, aku sudah dibebaskan dari semua
kesalahan yang ku buat. Aku juga sudah menjalani pemeriksaan, dan dinyatakan
negative dari pengaruh narkotika, aku sungguh bersyukur bahwa kasus ini tidak
terlalu berpengaruh dengan kehidupanku saat ini.
Tidak hanya aku dan Sahabat-sahabatku yang dibawa kesini,
mereka yang menghajar ku juga dibawa kesini, tetapi aku tidak melihat pria yang
kuhajar tadi, aku juga penasaran dimana dia sekarang. Dan diantara kami semua ada juga satu orang
yang membuatku menjadi terlihat memalukan yaitu zulfa, mungkin sebagai pemilik
butik dia dimintai menjadi saksi atas apa yang terjadi.
Kini
wanita itu datang mendekat kearahku. Dengan tatapan yang seakan sedang
merendahkan ku.
“Aku tak menyangka, semua
ini bisa terjadi dari seorang sepertimu,” ucapnya dengan meremehkanku.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, bahkan dia
kini sudah bisa meremehkanku. Tapi tak apalah, toh karena memang semua ini
salahku.
“Jika kau tahu penyebab
yang sebenarnya. Kau pasti akan menyalahkan dirimu,” balasku dingin.
“Maksudmu?”
“Ah sudahlah, semoga kau
bahagia,” jawabku lalu aku meninggalkannya.
Aku berjalan dengan 2 sahabatku, ketika aku berjalan
tepat dihadapan Brengse-brengsek yang mengeroyokku tadi, aku menghentikan
langkahku, namun Rojali dan Dewi menahan tanganku. Aku tahu mereka takut jika
aku melakukan hal bodoh lagi, tapi aku mencoba meyakinkan mereka dengan
senyuman, dan mereka melepaskan tanganku.
“Ternyata kalian hanya
berlima,” ucapku sambil menatap mereka.
“Bagaimana rasanya
memukulku?” tanya ku kepada mereka berlima.
“Kau yang memulai ini,”
jawab salah satu dari mereka dengan ekspresi takut kepadaku.
Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya itu.
“Lalu dimana pria itu?”
tanyaku.
“Kau sudah membuatnya
berada dirumah sakit,” jawab Zulfa yang juga mendekati kami.
Kami semua melihat kearahnya, dan dia menatapku kembali
dengan tatapan yang sama.
“Kau sudah puas? Apa
sebenarnya tujuanmu? Bagaimana jika Ibumu mengetahui ini,” sambungnya.
Aku terdiam sambil menatapnya dingin.
“Kau mengacamku?” balasku
bertanya kepadanya.
“kau takut?”
“Hahaha, sepertinya kau
tahu kelemahanku. Sampaikan salamku kepada kekasihmu itu,” ucapku kepadanya.
“sia—”
“Kalian Pria-pria yang
berutung, semoga kita tak bertemu lagi,” ucapku memotong perkataan Zulfa sambil
menatap penuh ancaman kepada mereka berlima.
“Ayo kita pergi,” ajakku
kepada kedua sahabatku.
Kami pun pergi meninggalkan mereka.
Polisi sudah membawa mobil ku dan mobil Rojali kekantor
polisi, jadi kami tak harus mengkhawatirkan jalan kami pulang. Kami bertiga pun
pulang kerumahku, dalam keadaan begini mereka berdua tak ingin meninggalkanku sendiri,
begitulah beruntungnya aku memiliki mereka dihidupku. Dimana saat aku merasa
berkecil hati atas diriku mereka justru hadir untuk mengembalikan diriku,
merekalah sahabatku yang sangat berarti dalam hidupku.
Sesampainya dirumahku, aku pun diobati oleh Dewi, si Mbok
pun juga sibuk memanaskan air agar Dewi bisa mengompres lukaku. Dia sangat
panik melihat kondisiku saat aku pulang tadi, tapi dia sudah tenang ketika kami
mengatakan bahwa aku hanya jatuh dari pohon mangga yang ku panjat dirmuah dewi,
dan dia percaya saja.
“Itu sakit Dewi.”
“Rasain lu,” balasnya.
“Lagian Aden sih, udah
gede malah manjat pohon,” sambung si Mbok.
“Mending dapat mangganya,”
ucap Rojali.
“Oalaah, gak dapat toh
mangganya,” balas si Mbok dengan ekspresi polosnya.
“Mending besok mbok beli
mangga yang banyak, dari pada dipanjatnya lagi pohon mangga, nanti jatuh lagi dia,”
ucap Rojali.
“Iya deh, besok mbok beli
banyak banyak, tenang aja,” balasnya dengan bangga.
“Hahahahaha,” kami pun
tertawa melihat kepolosan si Mbok.
“Lho kok malah ketawa?”
tanya nya.
“Ga ada mbok, mbok lucu
sih, imut lagi,” jawab Dewi kepadanya.
Dan kami pun jadi tertawa berempat.
Setelah dewi selesai mengobati dan mengompres lukaku,
mereka berdua pun memutuskan untuk pulang. Aku pun ikut mengantar mereka kedepan.
“Makasih ya, dan maa—”
“Jangan sok drama deh,
mending lu tidur, besok lu harus kerja Gy, banyak laporan yang harus lu tanda
tangani,” potong Dewi.
“Mati kita. Sempat-sempatnya
pula dia bahas kerjaan,” balas Rojali.
“Emangnya ga bisa libur
dulu dia,” sambungnya.
“Kalau dia libur, Bisa-bisa
hilang Job kita, dan gua mau makan apa coba?” jawab Dewi.
“Yaudah, gpp, gua besok
bakal masuk,” balasku menengahi mereka.
“Yauda kami pulang dulu,”
ucap Rojali.
“Iya, Hati-hati,” balasku.
Setelah memastikan mereka pergi, aku memutuskan untuk
masuk dan langsung mengistrahaykan tubuhku diranjang yang tak pernah berubah
penghuninya, sambil berusaha melupakan kejadian yang sudah terjadi tadi.
Aku
harus menyadari kenyataan bahwa kini bidadari kebangganku sudah Benar-benar menjauh
dari harapanku, aku harus memulai lagi hidupku sebagai seorang pejuang. Aku tak
akan memaafkan diriku jika Terus-menerus berlarut dalam kekalahanku hari ini,
kekalahanku atas emosi ku sendiri.
Aku harus tetap maju dengan kedua sahabatku yang selalu
berada disampingku.
…
Aku menatap wajahku didepan cermin yang ada di ruangan
kantorku, semenjak Dewi mengobati lebam yang ada diwajahku, kini aku sudah lebih
baik meskipun masih terasa ngilu dibagian pipiku tapi untung saja tidak berbekas
lagi.
__ADS_1
“Ngaca mulu lu dari tadi,”
ucap Dewi yang sedari tadi melihatku becermin.
“Biarin,” balasku lalu
duduk dikursi kerjaku.
Dia pun berjalan mendekatiku, dan menatap wajahku.
“Hahahahaha,” tawanya.
“Kenapa lu ketawa?”
“Nggak, lucu aja. Baru
pertama kali gua ngeliat lu bonyok-bonyok, hahaha.”
“Diem lu.”
“Hahaha, gimana ya kalau Cewe-cewe
lu ngeliat muka lu yg begini.”
“Mereka bukan Cewe-cewe
gua, dan berhenti lu ngeliatin muka gua.”
“hahahaha,” tawanya.
Aku terdiam jengkel dengan melihat tawanya, hingga dia
berhenti meledekku.
“Jadi sekarang gimana
kondisi lu?” Sambungnya bertanya padaku.
“Gua gak tau,” jawabku.
“Udah hampir seminggu
semenjak kejadian itu lu jadi pendiem gini gy.”
Aku hanya diam tak merespon ucapannya. Semenjak kejadian
kemarin aku memang menjadi seorang yang berbeda, seroang yang lebih pendiam.
“Gy,” panggilnya.
“Gua gak tau Dewi, gua
malu sama diri gua sendiri dan gua malu ama lu berdua,” jawabku dengan
terunduk.
“Kita gak pernah malu kok
Gy, dan lu juga ga boleh malu ama diri lu sendiri,” ucapnya dengan memegang
bahuku.
Aku hanya menatapnya diam.
“Kita berdua paham kok.
Meskipun kenekatan lu itu menyebalkan. Tapi dengan itu lu bisa berada diposisi
sekarang gy,”
“Jadi gua mau lu itu
kembali lagi kaya yang biasa,” sambungnya dengan tersenyum.
Aku tersenyum meendengar perkataannya, aku memang sangat
beruntung memiliki Sahabat-sahabat yang hebat. Aku bangga pada diriku untuk mereka
berdua.
“Nah gitu dong senyum,
yaudah yuk mending kita ke café,” ajaknya kepadaku.
“Ngapain?”
“Yah makan siang lah, ya
ampun bener-bener deh lu sampe lupa waktu.”
Aku hanya terdiam heran, tak sadar udah siang aja.
“Udah ah. Yuk. bengong
mulu,” ucapnya sambil menarikku pergi.
Kami pun pergi dengan mengendarai mobil milikku.
“Ini kita kemana?”
tanyaku.
“Ya ketempat simonyet lah,”
jawabnya.
“Ga bosen-bosen lu ketemu
dia emang?”
“Ya kagaklah”
“Walaupun bentuknya
gitu?”
“Hahaha lu apaan sih Gy,
tega banget sama temen sendiri juga,” jawabnya sambil tertawa.
ikut tertawa.
Yang kami maksud disini adalah rojali. mungkin dengan
kami berkumpul lagi, bisa mengembalikan hati ku yang luka.
Aku pun menghidupkan audio mobilku, lalu fokus
mengendarai mobilku ke cafe tempat kami biasa, yaitu café milikku. Dewi yang
sedang berada disebelahk hanya sibuk ikut menyanyikan lagu yang sedang terputar
di audio mobilku, hingga mengganggu telingaku yang sedang fokus mengendarai
mobilku.
“Lu brisik banget sih.”
“Ih apaan sih lu, gua
lagi nyanyi juga.”
“Iya lu brisik, dalam
hati aja nyanyinya.”
“Ya mana enaklah Nugy
goblok.”
“Gua ga fokus nih bawa
mobilnya.”
“Ya elah syirik amat lu
ah,” ledeknya.
Dan aku hanya diam tak merespon, dari pada jadi semakin
panjang perdebatan lebih baik aku mengalah saja. Ku biarkan saja dia menyanyi
meskipun dengan suaranya yang membuat aku emosi. Yah, suara dan wajahnya memang
sangat tidak sinkron. Aku rasa jika dia bernyanyi mungkin hanya ketolong dengan
wajahnya yang cantik ini, jika tidak mungkin saja dia Bisa-bisa membuat orang
bisa bertemu dengan ajal melalui suara miliknya itu.
Aku
hanya menggelengkan kepala ku melihatnya lalu kembali fokus mengendarai
mobilku, hingga Kami pun sampai ditempat tujuan kami, dan aku pun turun dengan
perasaan kesal, bahkan sangat kesal karena harus mendengarkan Dewi dengan
suaranya yang berbahaya itu sepanjang jalan, meskipun dekat tapi itu terasa
jauh jadinya.
“Udah puas lu?” tanya ku
kesal kepadanya.
“Ihh apaan sih lu,” jawab
dia kesal
Lalu aku tak menghiraukannya, dan berjalan duluan kedalam
cafe. Dan duduk disudut yang menjadi tempat kami biasanya. Dewi menyusulku dari
belakang dan juga Rojali yang melihat kedatangan kami langsung datang bergabung
bersama kami.
“Mau mesan apa kalian?”
tanya Rojali kepada kami.
“Sukak kau aja” jawabku
kesal.
“Hah, kenapa lagi dia
ini?” tanya Rojali kepada Dewi.
“Tauk, Pms kali,” jawab Dewi.
“Diam lu” balaksu kepada
Dewi.
“Kau kenapa nya?” tanya Rojali
kepadaku.
“Gara-gara dia ni”
jawabku sambil menunjuk Dewi.
“Loh kok jadi gua” protes
Dewi.
“Coba kau bayangin, aku
harus bawa mobil sepanjang jalan sambil dengerin nih anak nyanyi dengan
suaranya itu,” jelasku kesal kepada Rojali.
“Mak Jang, kasihan kali
hidupmu, turut berduka lah aku,” balas Rojali yang memahami perasaanku.
__ADS_1
“Sirik aja lu, lu lagi
ikut-ikutan,” kesal Dewi kepada kami.
“Kau pun! dia lagi Galau-galau
gini malah makin kau siksa,” Rojali membela ku.
“Untung cantik, kalau gak.
bisa jadi gila dia kau buat,” sambungnya sambil menunjukku.
“Diem lu,” kesal Dewi
Kami pun saling diam satu sama lain, ntah untuk berapa kali
kami selalu begini. Hingga Tiba-tiba kami pun tertawa karena saling bertatapan.
“Hahahahaha”
“Yauda gua minta maaf ya”
ucap Dewi kepadaku.
“Gpp, besok gua masukin
lu Les Vocal deh,” balasku.
“Emang ngaruh?” tanya Rojali.
“Ya kau doakan lah,”
jawabku.
“Ihh udah lah gua laper
ini,” rengek Dewi.
“Yaudah, kalian mau mesan
apa, malah sibuk berantam pula kalian,” balas Rojali. Sambil memanggil pelayan
café.
Pelayan café itu pun datang, dan kami memesan makanan dan
minuman kami, lalu dia pergi meninggalkan kami bertiga.
Kami pun melanjutkan cerita kami dengan bercanda, seperti
yang biasa kami lakukan jika sedang berkumpul begini. Setiap bertemu kami
selalu saja membahas Hal-hal yang bisa membuat kami tertawa.
Disaat
Lagi Asik-asiknya kami berbicara. Tiba-tiba kami terdiam karena melihat
seseorang yang datang berjalan memasuki café. Dia adalah seorang wanita yang
berhasil membuatku menjadi pria yang memalukan waktu itu. Dia datang bersama
prianya itu, mereka duduk ditempat yang tak begitu jauh dari tempat duduk kami.
Aku melihat pria itu masih dengan lebam yang banyak diwajahnya, namun sudah tak
bengkak lagi, aku jadi merasa bersalah atas dirinya.
Aku pun berdiri ingin mendekat kepada mereka, tetapi Dewi
dan Rojali menahanku.
“Lu mau ngapain lagi Gy?”
tanya Dewi.
“Udahlah, jangan membuat
masalah lagi,” ucap Rojali kepadaku.
“Tenang aja, gua gak Aneh-aneh
kok,” balasku menenangkan mereka sambil tersenyum.
Aku pun berjalan mendekati mereka, aku melihat Zulfa
menatapku datar dengan jeda, sedangkan seperti menahan rasa takut kepadaku.
“Nugy.”
Aku hanya melemparkan senyum seadanya kepada Zulfa yang
menyapa ku duluan, lalu kembali menatap pria yang tak kukenali namanya.
“Gimana luka lu?” tanyaku
kepada pria itu.
Dia hanya terdiam heran mendengar pertanyaanku lalu
mentap zulfa.
“A—aman kok,” jawabnya.
“Oooh, baguslah, gua
minta maaf,” ucapku sambil mengulurkan tanganku.
“I—ya gua juga,” balasnya
sambil merespon salaman tanganku.
Aku hanya mengangguk satu kali sambil menepuk bahunya
pelan, lalu ku tatap Zulfa dengan kembali memberinya senyuman yang seadanya, lalu
aku pergi meninggalkan mereka untuk kembali ketempat duduk ku tadi.
Aku melihat kedua sahabatku ini tersenyum bangga
kepadaku.
“Gitu dong,” ucap Dewi
sambil mengusap bahu ku dengan bangga.
Aku hanya tersenyum kepada mereka berdua.
“Yauda ayo kita makan,”
ajak Rojali.
Kami pun menyantap makanan kami Masing-masing.
Meskipun sebenarnya aku tak tega harus bersikap seperti
tadi kepada Bidadari yang sudah melukaiku, tetapi aku memang harus terpaksa
melakukannya, demi kesembuhan hati ku sendiri. Aku sudah rela jika memang dia
bukan untukku, dan aku juga sudah ikhlas atas apa yang terjadi pada diriku. Aku
juga sudah meminta maaf kepada pria yang seharusnya tak ku hajar sama sekali. Aku
sudah bisa memahami ini semua demi diriku dan Sahabat-sahabatku.
Setelah makan aku dan Dewi pun memutuskan untuk kembali
kekantor, dan Rojali ikut mengantar kami kedepan, tidak seperti biasanya dia
mengantar begini. Tapi ya sudahlah. Aku tak keberatan sama sekali.
“Gua pergi dulu,” ucapku
pada Rojali.
“Jangan nyanyi lagi kau,”
nasehat Rojali kepada Dewi.
“Apaan sih lu, masih aja
ngajak berantem,” protes Dewi.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat kedua sahabatku
ini, selalu saja berdebat hanya karena hal kecil.
Aku menarik dewi untuk masuk kedalam mobil, karena bisa
lama jika harus membiarkan mereka berdua berdebat. Lalu aku pamit kepada Rojali
untuk pergi. Sekilas aku melihat kearah café, aku melihat Zulfa yang sedang
melihat kearahku, aku tersenyum kearahnya, lalu pergi menaiki mobilku.
Ntah kenapa selama dalam perjalanan aku selalu memikirkan
tatapan bidadariku itu, tatapan yang seakan-akan sedang kasihan terhadapku. Tak
henti-hentinya aku merasa terhina oleh tatapannya itu, tatapan yang dulu
kulihat sangat berbeda dengan tatapan matanya yang sekarang. Tetapi aku harus
memaklumi itu, karena kini dia sudah bersama kekasihnya.
Aku sudah menerima semuanya, dan tak lupa aku harus
berterima kasih kepada Sahabat-sahabatku, mereka selalu ada untukku. Ntah untuk
yang berapa kalinya mereka selalu membantuku mengatasi masalahku.
“Makasih ya,” ucapku
lembut kepada Dewi.
“Hah? Apaan?” balasnya
heran.
“Gua udah terima
semuanya, gua ikhlas,” jawabku lembut.
Dia hanya tersenyum kearahku.
“Gitu dong, kan gua jadi
bangga ama alu, si Monyet juga pasti bangga ama lu,” balasnya.
“Lu manggil dia Monyet
mulu.”
“Hahaha habis dia resek.”
“Lu juga kali.”
“Enak aja lu, lu yang
sama ama dia.”
“Enak aja lu
nyama-nyamain gua ama dia.”
Kami pun terus bedebat seperti anak kecil, hingga sampai
dikantor.
Yah, beginilah aku dan Sahabat-sahabatku,
sebentar akur lalu beberapa saat kemudian bisa seperti musuh bebuyutan. Tetapi
kami tidak penah merasa tersakiti dengan itu. Karena kami adalah orang orang
yang kuat.
__ADS_1