Belantara

Belantara
KEBENARAN #2 (PART 5)


__ADS_3

Setelah


beberpa jam aku pingsan aku pun sadar, kepala ku pusing sekali ntah karena apa,


aku melihat Zulfa duduk disampingku sambil memegang erat tanganku. sedangkan


Rojali, Patricia, Om Ali dan Istrinya yang juga sudah hadir berdiri melihat


kami.


            Aku


kembali mengingat Ayahku, aku merindukannya, aku harus menemuinya, untuk


meminta maaf kepadanya. Aku pun segera berdiri.


“Mau kemana?” tanya Zulfa.


“Aku ingin menemui ayahku,”


jawabku tegas lalu pergi.


            Diluar rumah aku melihat hari sudah mulai gelap, ketika


aku ingin membuka pintu mobilku, Tiba-tiba Zulfa lari mengejarku.


“Ada apa?” tanyaku.


“Aku ikut,” jawabnya.


            Aku hanya menuruti kemauannya, disaat seperti ini sepertinya


dia tidak akan membuatku larut dalam kesedihan ku sendiri, jadi ku biarkan saja


dia ikut bersamaku, didalam mobil kami hanya diam, aku sedang tak ingin


berbicara dan Zulfa hanya berusaha memahami kondisiku saat ini.


            Kami pun sampai di Apartement milik Ayah yang memang


tidak jauh dari rumah Om Ali, kami segera turun dan berjalan menuju lift, dia


menggenggam tanganku untuk menenangkan diriku, pintu lift pun terbuka, kami


langsung saja berjalan menuju pintu Apartement lalu mengetuknya. Tak lama pintu


itu pun terbuka, dan Adikku yang membukanya, dia sangat terkejut melihat


kedatanganku.


“Abang.”


            Aku tak menghiraukannya, aku langsung berjalan kedalam


sambil menggenggam tangan Zulfa yang ada disampingku, disana ada Ibu, Dewi dan


pria berbaju batik yang ku lihat bersama Ayah ketika kami bertemu di café


kemarin.


            Aku melihat Ayahku yang sedang tergeletak tak berdaya


dengan Alat-alat medis yang aku tak tau itu apa saja, sepertinya ini dipesan


khusus hanya untuk Ayahku. Kondisinya sangat kurus dari yang terakhir aku


melihatnya, ku rasa saat bertemu kemarin dia menggunakan pakaian berlapis agar


tak kelihatan kurus dihadapanku. Aku melihat sudah tak ada satupun helaian


rambut dikepalanya. Aku mendekatinya dengan tertatih bersama Zulfa yang terus


mengikutiku.


“Nu gy? A nak ku,”


panggilnya terbata.


            Aku hanya terduduk sambil memegang tangannya yang sudah


sangat lemah, aku berusaha menahan tangisku, karena aku tahu bahwa Ayahku tak


menyukai itu.


            Ayah melihat kearah bidadariku.


“Ini kah wa ni ta ya ng


se la ma ini Ibu mu ce ri ta kan?” tanyanya lagi dengan pelan.


            Aku hanya mengangguk, tak sanggup aku berbicara


dihadapannya karena aku sedang menahan tangisku. Ayah melepaskan tangannya yang


ku pegang, dia mengarahkan tangannya seakan ingin menggapai tanganZulfa, dan


Zulfa pun menggapai tangan Ayahkudan tak pernah lepas.


“Te ri ma ka si h, kau su


dah ha dir un tuk anak ku.”


“I—ya om,” ucapnya dengan


terbata.


            Aku melihat air mata Zulfa yang mengalir dipipinya,


kurasa dia tak sanggup menahan tangisnya, jadi aku maklumi saja.


“Bi sa kah aku ber bi ca


ra de ngan me re ka sa ja,” ucap Ayah kepada yang lain.


Ayah


memberi kode kepada semua bahwa dia hanya ingin berbicara kepadaku dan Zulfa, Mereka


pun menuruti kemauannya.


            Ayah menatapku lembut. Aku tak sanggup menatapnya lama,


kesedihan dihatiku mulai tak beraturan hingga membuatku ingin menangis.


“Mena ngis lah nak.”


            Ucapan Ayah berhasil membuatku memecahkan tangisku, dia


tau aku sedang menahan tangisku, namun aku berusaha menghargai prinsip hidupnya


yang tak ingin ditangisi oleh siapapun. Tapi kali ini dia mengizinkanku untuk


menangis dihadapannya.


“Ka u su dah de wa sa,”


sambungya sambil melepaskan tangan Zulfa dan meraih tanganku.


“Aku sangat menyesali


perbuatanku, aku sangat bodoh terlambat mencari tahu ini semua, aku minta maaf,


aku sangat meminta maaf kepadamu, aku sudah menyakitimu, disaat kau berjuang


menahan rasa sakitmu, maafkanlah aku Ayah,” ucapku sambil tak kuasa menahan


tangisku.


            Zulfa pun memelukku dari samping berusaha menenangkanku.


“Tak a pa nak, ak u te


tap bang ga pa da mu,” sambil meletakkan tanganku kedadanya.


            Lalu Ayahku menatap langit-langit kamarnya.


“A ku sang at ing in me


li hat ka lian men ikah, ta pi a ku tak me mi li ki ban yak wa k tu.”


            Aku tersentak sedikit kaget dengan perkataan ayah, aku


tahu bahwa dia tidak memiliki banyak waktu lagi, dan aku ingin menuruti semua


kemauannya, dan aku tau Ayah sangat membencinya jika aku melakukannya atas


dasar karena aku mengasihani dia. Tapi aku tak punya pilihan lain, aku tak


memikirkan perasaan Zulfa, aku hanya ingin melihat Ayah bahagia saat ini.


Aku harus melakukannya


saat ini juga, fikirku.


“Aku akan menikahinya


sekarang juga Ayah,” ucapku yakin.


            Aku tak menghiraukan ekspresi apa yang diperlihatkan oleh


bidadariku, dan aku hanya melihat Ayahku yang sedang menatapku lembut.


“Be nark ah?” tanya Ayah.


            Aku mengangguk mencoba menenangkan tangisku.


“Aku memang sudah


berencana ingin menikah dengannya, kurasa ini lah watkunya,” jawabku


meyakinkannya.


            Dia pun melihat Zulfa seakan memastikan perkataanku


barusan.


“Be nar kah?”


“Iya Om, kami sudah


berencana menikah, aku bersedia melakukan itu sekarang, aku bahkan sangat


senang bisa secepatnya dinikahi oleh Nugy,” ucap Zulfa sambil tersenyum.


Aku


hanya bersyukur bahwa Zulfa benar-benar menghargai kondisi kami saat ini,


meskipun aku tak tahu itu jujur atau justru hanya untuk meyakinkan ayahku saja.


            Ayah pun menyetujuinya, aku langsung berjalan keluar


bersama Zulfa, dan memberi tahu Ibu dan yang lainnya jika aku akan menikahi Zulfa


malam ini dan ditempat ini juga, aku juga menghubungi Rojali untuk menyuruhnya


membawa penghulu kesini bagaimana pun caranya, dan dia bergerak tanpa banyak


tanya. Sedangkan Zulfa juga menghubungi kedua Orang tuanya, dan aku tak tahu


apa yang dia bicarakan.


“Bagaimana dengan Papa


dan Mamamu?” tanya Ibu.


“Aku sudah menghubungi


mereka Bu, dan mereka sedang diperjalanan menuju kesini,” jawabnya sambil


tersenyum.


            Ibu berbicara berdua dengan Zulfa, sedangkan aku pergi kebalkon


untuk merokok, aku sangat pusing, aku strees, kepala ku seperti ingin meledak,


kenapa semua ini sangat cepat terjadi. Aku sangat tak bisa memahami dengan


semua kebenaran dari ini, dan sekarang semua ini justru membawaku ketahap yang


tak pernah ku fikirkan sebelumnya, yaitu menikahi Zulfa. Aku tak tahu dia


mencintaiku atau tidak, yang jelas aku hanya ingin membuktikannya dihadapan Ayah


bahwa aku benar-benar akan menikahinya sekarang juga.


            Sebagai anak tentu aku sudah mencoreng prinsip hidup Ayahku,


tapi aku benar-benar tak puny acara lain untuk membuatnya senang saat ini.


Maafkan aku Ayah, ucapku dalam


hati.


            Aku mengahbiskan waktuku dengan 2 batang rokok yang sudah


ku hisap habis dan tiba-tiba Zulfa datang memanggilku.


“Mereka semua sudah


datang,” ucapnya.


            Aku pun mengangguk dan mematikan rokokku lalu kami


berjalan masuk kedalam, disana sudah ada Papa, Mama, Rojali, Patricia dan Om Ali


beserta istrinya dengan membawa seorang penghulu.


            Aku berjalan menyalam Papa dan Mama, lalu duduk dengan menunduk


dihadapan mereka yang tengah duduk disofa.


“Aku meminta izin Pa,


untuk menikahi anakmu,” Ucapku tegas.

__ADS_1


“Lakukanlah,” balas Papa


sambil tersenyum kepadaku dan Zulfa yang berdiri disampingku.


            Dengan kejadian yang singkat ini aku justru takjub dengan


Papa yang sangat tanggap untuk mencerna keadaan saat ini, aku tak tau dia


benar-benar merestuiku atau tidak. Tapi aku tak memiliki banyak waktu lagi


untuk memikirkannya.


            Kami semua pun memasuki kamar dimana Ayah sedang


berbaring lemah, aku melihat Papa menyalam tangan Ayah sambil mengajaknya


berbicara.


“Aku tidak khawatir jika Nugy


yang berhasil memiliki anak gadis ku.”


“Te ri ma ka si h,” balas


Ayah lembut.


“Mari kita mulai,” ucap Papa.


            Ibu memberikan cincin permatanya kepadaku, ini pemberian


Ayah disaat dia kesepian karena Ayah tak pulang kerumah. Dia memberikan cincin


itu, “kata Ayah itu adalah dirinya, jadi


milikilah karena aku adalah milikmu dan aku senang menjadi milikmu farida.”


            Pernikahan pun dimulai, dengan mahar cincin permata yang


diberikan Ibu kepadaku pernikahan pun berjalan dengan lancar tanpa ada


kegagalan, aku pun dengan lantang mengucapak ikrarku tanpa ulang. Pada saat itu


dengan saksi yang hadir tepat pada tanggal 2 desember 2020 dalam waktu yang


singkat, aku dan Zulfa sah menjadi sepasang suami istri yang sah. Tak lupa kami


semua pun mengucapkan Alhamdulillah.


            Aku melihat Ibu menangis berpelukan dengan Mama, aku tak


tau apa yang harus aku rasakan saat ini, aku berhasil menjadikan bidadariku


sebagai istri, namun hatiku masih saja terasa hampa.


Sebaiknya aku tak perlu memikirkannya


dulu, ucapku dalam hati.


            Ibu, Papa, Mama, Om Ali dan Istrinya sedang bersama


dengan ayah dikamar, sedangkan yang lain sibuk bercerita diruang tamu, aku


duduk termenung dikursi ku sendiri, sepertinya aku perlu merokok sebatang lagi


untuk menenangkan diriku.


            Aku pergi kebalkon lagi untuk merokok, lalu Rudy tiba-tiba


datang dari belakangku.


“Selamat bang,” ucapnya.


            Aku hanya menoleh kearahnya sekejap lalu kembali


menghisap lagi rokokku.


“Aku minta maaf sudah menyembunyikannya,”


sambungnya.


            Aku masih tidak meresponnya dan sibuk dengan rokokku.


Tiba-tiba


Dewi pun datang dan memanggil Rudy.


“Aku rindu denganmu, ayo


temani aku bicara,” ajaknya kepada Rudy.


            Dewi sangat tau bahwa aku sedang tidak bisa diajak bicara


saat ini, dan aku tak paham juga kenapa Dewi bisa ada disini, tapi aku tak tertarik


membahasnya, fikiranku sedang kososng atas apa yang sedang terjadi saat ini.


            Disaat adikku dan Dewi bergerak ingin pergi


meninggalkanku, aku mengatakan sesuatu pada adikku.


“Aku menunggumu untuk


menetapi janjimu kepada Ayah, setidaknya dengan itu aku bisa ikhlas menerima


semua ini.”


            Dia pun tersenyum kearahku, lalu pergi bersama Dewi


kedalam. Dan aku melanjutkan menghisap rokokku.


Kebenaran ini sangat


menyakitkan hatiku tuhan, ucapku dalam hati.


“Semua berjalan begitu cepat,”


kehadiran Zulfa tiba-tiba memecahkan lamunanku.


            Aku hanya diam saja tak tau harus menjawab apa.


“Pagi tadi aku ingin


santai di café, dan tak sengaja bertemu denganmu, lalu sahabatmu menarikku


untuk ikut, dan sekarang Tiba-tiba aku sudah sah menjadi istrimu, aku tak tau


maksud dari semua ini,” sambungnya.


            Aku pun juga tak mengerti, apakah jika Rojali tak


menariknya ikut, kami mungkin tidak akan menjadi suami istri saat ini. Ntah lah


bidadariku, jangankan kau, aku saja tak paham dengan bagaimana bisa takdir ini


membawa kita kesini.


“Aku harus memanggilmu


apa sekarang?” tanyanya padaku.


datar.


“Aku bisa memahami


kondisimu sekarang, kondisi dimana kau tak bisa memahami perasaanku saat ini,” ucapnya


lirih.


            Aku membuang rokokku lalu menatapnya, aku memang tak


paham dengan apa yang dia rasakan sekarang, sedangkan dia seharian berusaha


memahami ku, dia bahkan tak membiarkanku sendiri saat dimana aku ditelan oleh


rasa kesediahanku yang sangat dalam.


            Aku mentapanya, dia bidadariku, yang selama ini ingin ku


miliki, dan sekarang sudah berhasil menjadi milikku dalam waktu yang singkat.


            Aku mendekatkan wajahku kepadanya, lalu ******* bibir


manisnya, sangat lama sampai aku tenggelam pada perasaan yang selama ini aku


rasakan kepadanya, rasa hangat dan penuh cinta. Lalu aku melepaskannya.


“Kamu asal melahapku saja,”


protesnya.


“Aku suamimu sekarang,


jadi aku bebas,” belaku.


“Ini terakhir kalinya


kamu menciumku setelah kau habis merokok.”


            Aku hanya tersenyum tipis.


“Itu bau sekali nugy”


sambunya dengan kesal.


“Maafkan aku, aku janji.”


            Dia diam sambil tak menghilangkan raut cemberut


diwajahnya.


“Tapi sayang sekali kita


sedang tak berada dirumah.”


“Kenapa?” tanyanya


“Aku pasti akan langsung


melahap setiap inci dari tubuhmu,” jawabku dengan nada menggoda.


“Kau tak boleh melakukan


itu,” balasnya dengan wajah memerah.


“Kenapa? Aku sudah menjadi


suamimu sekarang.”


“Ya walaupun begitu, aku


tak mau melakukannya, aku belum pernah sama sekali.”


            Aku bisa meilhat wajahnya yang memerah


“Tenang saja, aku akan


mengajarimu.”


“Kau sudah pernah


melakukannya?”


“Belum.”


“Lalu bagaimana kau bisa


mengajariku.”


“Ntahlah, kita lihat saja


nanti,” ucapku sambil mengelus kepalanya.


            Dengan wajah polosnya dia hanay terdiam menatapku.


“Ayok masuk,” sambungku


mengajaknya.


            Dia pun mengangguk, dan kami pun berjalan masuk kedalam,


aku melihat Ibu, Papa dan Mama baru keluar dari kamar milik Ayah, mereka


berjalan mendekatiku dan Zulfa.


“Papa dan Mama pulang


dulu,” kata Papa.


“Lalu aku?” tanya Zulfa


sambil memeluk Mama.


“Kau sudah memiliki rumah


baru sekarang nak,” jawab Mama sambil mengelus kepala Zulfa.


“Besok datanglah kerumah,


banyak yang harus kita bicarakan, sambil kau menjemput barang barang anakku,”


ucap Papa kepadaku.


Aku


hanya mengangguk, lalu dia pun tersenyum sambil menepuk pundakku.


            Aku tak tau apa maksud dari senyumannya itu, dia pun


pergi pulang bersama istrinya, aku dan Zulfa masuk kekamar Ayah, karena Ibu


menyuruhku untuk pulang kerumah, karena disini sudah sangat ramai, dan tak bisa


menampung kami berdua untuk tidur disini.


            Aku melihat Ayah sudah tidur pulas, jadi kami putuskan

__ADS_1


untuk pamit dengan Ibu saja. Lalu aku dan Zulfa pergi pulang kerumahku.


            Hari sudah sangat larut dan jalanan pun sepi, aku


memutuskan untuk mengemudikan mobilku dengan cepat, karena aku dan Zulfa juga


sudah lelah hari ini atas apa yang terjadi kepada kami berdua.


            Sesampainya dirumah aku dan Zulfa berjalan memasuki


rumah.


“Aku harus bagaimana?”


tanyanya.


“Aku juga tak tau, aku


sangat lelah, sebaiknya kita tidur saja.”


“Aku?” tanyanya lagi.


“Ya ikutlah tidur


bersamaku,” jawabku sambil tersenyum dan menatapnya penuh nafsu


“Tatapanmu menyeramkan Nugy,”


ucapnya.


“Tenang saja, malam ini


aku sangat lelah, aku tak akan melakukan itu sekarang,” aku meyakinkannya


            Dan kami pun memasuki kamarku, lalu aku mengambil handuk


baru untuk kuberikan kepadanya, dia pasti ingin membersihkan badannya dahulu,


dia pasti sangat gerah.


“Kau tak mandi?” tanyanya.


“Kau ingin mengajakku


mandi bersama?” balasku lagi.


“Enak saja, itu tidak


akan terjadi,” ucapnya lalu masuk kekamar mandi


            Aku tersenyum gemas melihat tingkah imutnya ini.


Lalu


aku duduk di atas kasur ku yang sangat lebar dan empuk sambil tertunduk dengan menyilangkannya


kebawah kepalaku, aku memikirkan semua hal yang terjadi hari ini, aku sangat


bingung, dan sedih. Aku bingung kenapa aku bisa menikahi bidadariku dengan waktu


yang sangat singkat ini, bahkan aku tak mengetahui perasaan dia yang sebenarnya


terhadapku, dan dia pun tak pernah mengetahui perasaanku yang sebenarnya


terhadap dia. Biarlah hanya waktu yang bisa menjawab rasa kebingunganku ini,


ntah kapan.


Aku


sedih, setelah mengetahui ayahku sudah diujung akhir hidupnya, aku tak tau apa


yang harus aku lakukan, aku sangat ingin menemani ayahku menjelang


kepergiannya, namun aku tau dia tak ingin aku berada disisinya terus-menerus,


dia ingin aku harus bekerja keras untuk terus maju dari pada harus merenungi


nasib atas apa yang terjadi pada dirinya.


Aku bingung Ayah, aku


harus apa? Aku tak ingin kehilanganmu, namun aku juga tak ingin kau merasa aku


mengasihanimu, ucapku dalam hati.


            Zulfa pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan anduk


yang ku berikan, aku melihatnya, dia sangat cantik, aku melihat tubuhnya yang


dililit anduk, kulitnya mulus sekali, putih dan seksi, dengan tubuhnya yang


padat tak terlalu tinggi dan tak pendek pula, aku jadi merasa gemas melihat


tubuhnya ini dan aku baru pertama kali melihat dia yang seperti ini.


 Ada sebuah naluri yang bangkit dari diriku,


aku berjalan mendekatinya. Dia menatapku penuh ketakutan dan wajahnya memerah.


“Apa yang ingin kau


lakukan,” ucapnya sambil menjauh dariku.


“Hahaha kenapa kau takut,


aku suamimu,” balasku mengoodanya


“Kau bilang tak akan


melakukannya sekarang.”


“Iya, tapi aku berubah


fikiran setelah melihatmu setengah telanjang begini,” balasku sambil mendekat


kearahnya


“Nugyyyyy,” rengeknya


sambil memejamkan matanya dan mendorongku menjauh.


“Hahaha kau lucu sekali,


baiklah aku tak akan melakukannya sekarang,” ucapku.


Lalu


mengambil andukku dan pergi masuk kekamar mandi untuk membersihkan badanku.


            Setelah aku keluar dari kamar mandi aku melihat Zulfa


masih mengenakan handuk yang dipakainya tadi, dia sedang duduk dikasur. Dan


membelakangiku.


“Sepertinya kau memang


sedang ingin mengajakku melakukannya,” ucapku.


“Enak saja,” balasnya


Lalu


dia menoleh kearahku yang hanya mengenakan handuk.


            Dia terpanah melihatku, kurasa dia sedang kagum melihat


badanku yang berotot dan perutku yang sixpack, ini kesempatanku untuk


menggodanya.


“Kau tergoda dengan


bentuk tubuhku?” tanyaku dengan nada menggoda.


“Ti—tidak, pakai bajumu,”


suruhnya lalu berpaling.


            Aku hanya tertawa melihat ekspresinya, dan aku tau dia


sedang berbohong.


“Kenapa kau menyuruhku


memakainya, sedangkan kau saja tak memakainya,” godaku.


“Aku tak ada baju ganti Gy”


            Aku hanya diam berjalan mengambil baju milikku dilemari,


lalu ku beri kepadanya.


“Pakai ini,” ucapku


memberikan baju dan celana pendek milikku kepadanya.


            Dia pun pergi kekamar mandi untuk memakainya, aku pun


memakai bajuku. Ketika dia keluar kamar mandi, aku tersenyum melihat dia yang


mengenakan baju ku, dia tampak lucu sekali degan baju yang kebesaran ditubuhnya


itu.


“Baju mu besar sekali,” ucapnya.


“Tak apa, kau terlihat


sangat menggemaskan mengenakan itu,” balasku santai.


            Di pun tersipu malu mendengar pujianku.


“Ayo kita tidur.”


“Berjanjilah kau tak


melakukan hal yang Aneh-aneh.”


            Aku hanya tersenyum mengangguk, dan pergi mematikan lampu


kamarku, lalu membaringkan badanku dan dia pun membaringkan badannya


disebelahku. Jujur saja aku tak bisa tidur malam ini, padahal jam sudah


menunjukkan pukul 1 malam. Aku melihat dia yang berbaring disebelahku, dia pun


belum tidur.


“Kau tak tidur?” tanyaku


sambil menghadapnya.


“Aku tak bisa tidur,”


jawabnya sambil mengahadap ku.


            Sepertinya dia sedang bingung memikirkan Kejadian-kejadian


aneh yang menimpa kami, baru saja aku bertemunya di café tadi pagi dan sekarang


dia sudah bersamaku di ranjang kamar milikku, kurasa sekaranglah kesempatanku


untuk memahami perasaanya, aku mencoba berusaha menenangkannya, agar dia bisa


bersitirahat.


“Aku tak tahu harus


mengatakan apa kepadamu, aku meminta maaf karena telah melibatkanmu dalam


situasi yang tak bisa kita pahami ini, Ay—”


“Tak apa Nugy, kita hanya


perlu mulai menjalani apa yang sedang terjadi,” ucapnya tenang sambil tersenyum.


            Aku pun merasa sangat senang atas jawaban dari dia,


bidadariku kau begitu sepesial dimataku, lalu bagaimana aku dimatamu? Hanya kau


yang mengetahuinya.


            Aku mendekatkan diriku padanya, lalu memeluknya, tentu


saja dia mendorongku.


“Kenapa?” tanyaku.


“Aku tak pernah tidur


dengan lelaki, apa lagi harus berpelukan,” kesalnya.


“Bukannya satu harian ini


kau sudah banyak memelukku?” tanyaku menggoda.


“Ya tadi itu hanya reflek


karena kau sedang rapuh saja.”


“Sekarang pun aku sedang


rapuh, ku mohon.”


            Lalu aku memeluknya dan memejamkan mataku, dia pun


membalas pelukanku. Aku merasa ada sesuatu yang hangat didalam hatiku, dan


merasa ada sesuatu yang menyegarkan fikiranku.


Bidadariku, aku


sangat mencintaimu. Dan aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, ucapku dalam

__ADS_1


hati.


__ADS_2