
Setelah
beberpa jam aku pingsan aku pun sadar, kepala ku pusing sekali ntah karena apa,
aku melihat Zulfa duduk disampingku sambil memegang erat tanganku. sedangkan
Rojali, Patricia, Om Ali dan Istrinya yang juga sudah hadir berdiri melihat
kami.
Aku
kembali mengingat Ayahku, aku merindukannya, aku harus menemuinya, untuk
meminta maaf kepadanya. Aku pun segera berdiri.
“Mau kemana?” tanya Zulfa.
“Aku ingin menemui ayahku,”
jawabku tegas lalu pergi.
Diluar rumah aku melihat hari sudah mulai gelap, ketika
aku ingin membuka pintu mobilku, Tiba-tiba Zulfa lari mengejarku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku ikut,” jawabnya.
Aku hanya menuruti kemauannya, disaat seperti ini sepertinya
dia tidak akan membuatku larut dalam kesedihan ku sendiri, jadi ku biarkan saja
dia ikut bersamaku, didalam mobil kami hanya diam, aku sedang tak ingin
berbicara dan Zulfa hanya berusaha memahami kondisiku saat ini.
Kami pun sampai di Apartement milik Ayah yang memang
tidak jauh dari rumah Om Ali, kami segera turun dan berjalan menuju lift, dia
menggenggam tanganku untuk menenangkan diriku, pintu lift pun terbuka, kami
langsung saja berjalan menuju pintu Apartement lalu mengetuknya. Tak lama pintu
itu pun terbuka, dan Adikku yang membukanya, dia sangat terkejut melihat
kedatanganku.
“Abang.”
Aku tak menghiraukannya, aku langsung berjalan kedalam
sambil menggenggam tangan Zulfa yang ada disampingku, disana ada Ibu, Dewi dan
pria berbaju batik yang ku lihat bersama Ayah ketika kami bertemu di café
kemarin.
Aku melihat Ayahku yang sedang tergeletak tak berdaya
dengan Alat-alat medis yang aku tak tau itu apa saja, sepertinya ini dipesan
khusus hanya untuk Ayahku. Kondisinya sangat kurus dari yang terakhir aku
melihatnya, ku rasa saat bertemu kemarin dia menggunakan pakaian berlapis agar
tak kelihatan kurus dihadapanku. Aku melihat sudah tak ada satupun helaian
rambut dikepalanya. Aku mendekatinya dengan tertatih bersama Zulfa yang terus
mengikutiku.
“Nu gy? A nak ku,”
panggilnya terbata.
Aku hanya terduduk sambil memegang tangannya yang sudah
sangat lemah, aku berusaha menahan tangisku, karena aku tahu bahwa Ayahku tak
menyukai itu.
Ayah melihat kearah bidadariku.
“Ini kah wa ni ta ya ng
se la ma ini Ibu mu ce ri ta kan?” tanyanya lagi dengan pelan.
Aku hanya mengangguk, tak sanggup aku berbicara
dihadapannya karena aku sedang menahan tangisku. Ayah melepaskan tangannya yang
ku pegang, dia mengarahkan tangannya seakan ingin menggapai tanganZulfa, dan
Zulfa pun menggapai tangan Ayahkudan tak pernah lepas.
“Te ri ma ka si h, kau su
dah ha dir un tuk anak ku.”
“I—ya om,” ucapnya dengan
terbata.
Aku melihat air mata Zulfa yang mengalir dipipinya,
kurasa dia tak sanggup menahan tangisnya, jadi aku maklumi saja.
“Bi sa kah aku ber bi ca
ra de ngan me re ka sa ja,” ucap Ayah kepada yang lain.
Ayah
memberi kode kepada semua bahwa dia hanya ingin berbicara kepadaku dan Zulfa, Mereka
pun menuruti kemauannya.
Ayah menatapku lembut. Aku tak sanggup menatapnya lama,
kesedihan dihatiku mulai tak beraturan hingga membuatku ingin menangis.
“Mena ngis lah nak.”
Ucapan Ayah berhasil membuatku memecahkan tangisku, dia
tau aku sedang menahan tangisku, namun aku berusaha menghargai prinsip hidupnya
yang tak ingin ditangisi oleh siapapun. Tapi kali ini dia mengizinkanku untuk
menangis dihadapannya.
“Ka u su dah de wa sa,”
sambungya sambil melepaskan tangan Zulfa dan meraih tanganku.
“Aku sangat menyesali
perbuatanku, aku sangat bodoh terlambat mencari tahu ini semua, aku minta maaf,
aku sangat meminta maaf kepadamu, aku sudah menyakitimu, disaat kau berjuang
menahan rasa sakitmu, maafkanlah aku Ayah,” ucapku sambil tak kuasa menahan
tangisku.
Zulfa pun memelukku dari samping berusaha menenangkanku.
“Tak a pa nak, ak u te
tap bang ga pa da mu,” sambil meletakkan tanganku kedadanya.
Lalu Ayahku menatap langit-langit kamarnya.
“A ku sang at ing in me
li hat ka lian men ikah, ta pi a ku tak me mi li ki ban yak wa k tu.”
Aku tersentak sedikit kaget dengan perkataan ayah, aku
tahu bahwa dia tidak memiliki banyak waktu lagi, dan aku ingin menuruti semua
kemauannya, dan aku tau Ayah sangat membencinya jika aku melakukannya atas
dasar karena aku mengasihani dia. Tapi aku tak punya pilihan lain, aku tak
memikirkan perasaan Zulfa, aku hanya ingin melihat Ayah bahagia saat ini.
Aku harus melakukannya
saat ini juga, fikirku.
“Aku akan menikahinya
sekarang juga Ayah,” ucapku yakin.
Aku tak menghiraukan ekspresi apa yang diperlihatkan oleh
bidadariku, dan aku hanya melihat Ayahku yang sedang menatapku lembut.
“Be nark ah?” tanya Ayah.
Aku mengangguk mencoba menenangkan tangisku.
“Aku memang sudah
berencana ingin menikah dengannya, kurasa ini lah watkunya,” jawabku
meyakinkannya.
Dia pun melihat Zulfa seakan memastikan perkataanku
barusan.
“Be nar kah?”
“Iya Om, kami sudah
berencana menikah, aku bersedia melakukan itu sekarang, aku bahkan sangat
senang bisa secepatnya dinikahi oleh Nugy,” ucap Zulfa sambil tersenyum.
Aku
hanya bersyukur bahwa Zulfa benar-benar menghargai kondisi kami saat ini,
meskipun aku tak tahu itu jujur atau justru hanya untuk meyakinkan ayahku saja.
Ayah pun menyetujuinya, aku langsung berjalan keluar
bersama Zulfa, dan memberi tahu Ibu dan yang lainnya jika aku akan menikahi Zulfa
malam ini dan ditempat ini juga, aku juga menghubungi Rojali untuk menyuruhnya
membawa penghulu kesini bagaimana pun caranya, dan dia bergerak tanpa banyak
tanya. Sedangkan Zulfa juga menghubungi kedua Orang tuanya, dan aku tak tahu
apa yang dia bicarakan.
“Bagaimana dengan Papa
dan Mamamu?” tanya Ibu.
“Aku sudah menghubungi
mereka Bu, dan mereka sedang diperjalanan menuju kesini,” jawabnya sambil
tersenyum.
Ibu berbicara berdua dengan Zulfa, sedangkan aku pergi kebalkon
untuk merokok, aku sangat pusing, aku strees, kepala ku seperti ingin meledak,
kenapa semua ini sangat cepat terjadi. Aku sangat tak bisa memahami dengan
semua kebenaran dari ini, dan sekarang semua ini justru membawaku ketahap yang
tak pernah ku fikirkan sebelumnya, yaitu menikahi Zulfa. Aku tak tahu dia
mencintaiku atau tidak, yang jelas aku hanya ingin membuktikannya dihadapan Ayah
bahwa aku benar-benar akan menikahinya sekarang juga.
Sebagai anak tentu aku sudah mencoreng prinsip hidup Ayahku,
tapi aku benar-benar tak puny acara lain untuk membuatnya senang saat ini.
Maafkan aku Ayah, ucapku dalam
hati.
Aku mengahbiskan waktuku dengan 2 batang rokok yang sudah
ku hisap habis dan tiba-tiba Zulfa datang memanggilku.
“Mereka semua sudah
datang,” ucapnya.
Aku pun mengangguk dan mematikan rokokku lalu kami
berjalan masuk kedalam, disana sudah ada Papa, Mama, Rojali, Patricia dan Om Ali
beserta istrinya dengan membawa seorang penghulu.
Aku berjalan menyalam Papa dan Mama, lalu duduk dengan menunduk
dihadapan mereka yang tengah duduk disofa.
“Aku meminta izin Pa,
untuk menikahi anakmu,” Ucapku tegas.
__ADS_1
“Lakukanlah,” balas Papa
sambil tersenyum kepadaku dan Zulfa yang berdiri disampingku.
Dengan kejadian yang singkat ini aku justru takjub dengan
Papa yang sangat tanggap untuk mencerna keadaan saat ini, aku tak tau dia
benar-benar merestuiku atau tidak. Tapi aku tak memiliki banyak waktu lagi
untuk memikirkannya.
Kami semua pun memasuki kamar dimana Ayah sedang
berbaring lemah, aku melihat Papa menyalam tangan Ayah sambil mengajaknya
berbicara.
“Aku tidak khawatir jika Nugy
yang berhasil memiliki anak gadis ku.”
“Te ri ma ka si h,” balas
Ayah lembut.
“Mari kita mulai,” ucap Papa.
Ibu memberikan cincin permatanya kepadaku, ini pemberian
Ayah disaat dia kesepian karena Ayah tak pulang kerumah. Dia memberikan cincin
itu, “kata Ayah itu adalah dirinya, jadi
milikilah karena aku adalah milikmu dan aku senang menjadi milikmu farida.”
Pernikahan pun dimulai, dengan mahar cincin permata yang
diberikan Ibu kepadaku pernikahan pun berjalan dengan lancar tanpa ada
kegagalan, aku pun dengan lantang mengucapak ikrarku tanpa ulang. Pada saat itu
dengan saksi yang hadir tepat pada tanggal 2 desember 2020 dalam waktu yang
singkat, aku dan Zulfa sah menjadi sepasang suami istri yang sah. Tak lupa kami
semua pun mengucapkan Alhamdulillah.
Aku melihat Ibu menangis berpelukan dengan Mama, aku tak
tau apa yang harus aku rasakan saat ini, aku berhasil menjadikan bidadariku
sebagai istri, namun hatiku masih saja terasa hampa.
Sebaiknya aku tak perlu memikirkannya
dulu, ucapku dalam hati.
Ibu, Papa, Mama, Om Ali dan Istrinya sedang bersama
dengan ayah dikamar, sedangkan yang lain sibuk bercerita diruang tamu, aku
duduk termenung dikursi ku sendiri, sepertinya aku perlu merokok sebatang lagi
untuk menenangkan diriku.
Aku pergi kebalkon lagi untuk merokok, lalu Rudy tiba-tiba
datang dari belakangku.
“Selamat bang,” ucapnya.
Aku hanya menoleh kearahnya sekejap lalu kembali
menghisap lagi rokokku.
“Aku minta maaf sudah menyembunyikannya,”
sambungnya.
Aku masih tidak meresponnya dan sibuk dengan rokokku.
Tiba-tiba
Dewi pun datang dan memanggil Rudy.
“Aku rindu denganmu, ayo
temani aku bicara,” ajaknya kepada Rudy.
Dewi sangat tau bahwa aku sedang tidak bisa diajak bicara
saat ini, dan aku tak paham juga kenapa Dewi bisa ada disini, tapi aku tak tertarik
membahasnya, fikiranku sedang kososng atas apa yang sedang terjadi saat ini.
Disaat adikku dan Dewi bergerak ingin pergi
meninggalkanku, aku mengatakan sesuatu pada adikku.
“Aku menunggumu untuk
menetapi janjimu kepada Ayah, setidaknya dengan itu aku bisa ikhlas menerima
semua ini.”
Dia pun tersenyum kearahku, lalu pergi bersama Dewi
kedalam. Dan aku melanjutkan menghisap rokokku.
Kebenaran ini sangat
menyakitkan hatiku tuhan, ucapku dalam hati.
“Semua berjalan begitu cepat,”
kehadiran Zulfa tiba-tiba memecahkan lamunanku.
Aku hanya diam saja tak tau harus menjawab apa.
“Pagi tadi aku ingin
santai di café, dan tak sengaja bertemu denganmu, lalu sahabatmu menarikku
untuk ikut, dan sekarang Tiba-tiba aku sudah sah menjadi istrimu, aku tak tau
maksud dari semua ini,” sambungnya.
Aku pun juga tak mengerti, apakah jika Rojali tak
menariknya ikut, kami mungkin tidak akan menjadi suami istri saat ini. Ntah lah
bidadariku, jangankan kau, aku saja tak paham dengan bagaimana bisa takdir ini
membawa kita kesini.
“Aku harus memanggilmu
apa sekarang?” tanyanya padaku.
datar.
“Aku bisa memahami
kondisimu sekarang, kondisi dimana kau tak bisa memahami perasaanku saat ini,” ucapnya
lirih.
Aku membuang rokokku lalu menatapnya, aku memang tak
paham dengan apa yang dia rasakan sekarang, sedangkan dia seharian berusaha
memahami ku, dia bahkan tak membiarkanku sendiri saat dimana aku ditelan oleh
rasa kesediahanku yang sangat dalam.
Aku mentapanya, dia bidadariku, yang selama ini ingin ku
miliki, dan sekarang sudah berhasil menjadi milikku dalam waktu yang singkat.
Aku mendekatkan wajahku kepadanya, lalu ******* bibir
manisnya, sangat lama sampai aku tenggelam pada perasaan yang selama ini aku
rasakan kepadanya, rasa hangat dan penuh cinta. Lalu aku melepaskannya.
“Kamu asal melahapku saja,”
protesnya.
“Aku suamimu sekarang,
jadi aku bebas,” belaku.
“Ini terakhir kalinya
kamu menciumku setelah kau habis merokok.”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Itu bau sekali nugy”
sambunya dengan kesal.
“Maafkan aku, aku janji.”
Dia diam sambil tak menghilangkan raut cemberut
diwajahnya.
“Tapi sayang sekali kita
sedang tak berada dirumah.”
“Kenapa?” tanyanya
“Aku pasti akan langsung
melahap setiap inci dari tubuhmu,” jawabku dengan nada menggoda.
“Kau tak boleh melakukan
itu,” balasnya dengan wajah memerah.
“Kenapa? Aku sudah menjadi
suamimu sekarang.”
“Ya walaupun begitu, aku
tak mau melakukannya, aku belum pernah sama sekali.”
Aku bisa meilhat wajahnya yang memerah
“Tenang saja, aku akan
mengajarimu.”
“Kau sudah pernah
melakukannya?”
“Belum.”
“Lalu bagaimana kau bisa
mengajariku.”
“Ntahlah, kita lihat saja
nanti,” ucapku sambil mengelus kepalanya.
Dengan wajah polosnya dia hanay terdiam menatapku.
“Ayok masuk,” sambungku
mengajaknya.
Dia pun mengangguk, dan kami pun berjalan masuk kedalam,
aku melihat Ibu, Papa dan Mama baru keluar dari kamar milik Ayah, mereka
berjalan mendekatiku dan Zulfa.
“Papa dan Mama pulang
dulu,” kata Papa.
“Lalu aku?” tanya Zulfa
sambil memeluk Mama.
“Kau sudah memiliki rumah
baru sekarang nak,” jawab Mama sambil mengelus kepala Zulfa.
“Besok datanglah kerumah,
banyak yang harus kita bicarakan, sambil kau menjemput barang barang anakku,”
ucap Papa kepadaku.
Aku
hanya mengangguk, lalu dia pun tersenyum sambil menepuk pundakku.
Aku tak tau apa maksud dari senyumannya itu, dia pun
pergi pulang bersama istrinya, aku dan Zulfa masuk kekamar Ayah, karena Ibu
menyuruhku untuk pulang kerumah, karena disini sudah sangat ramai, dan tak bisa
menampung kami berdua untuk tidur disini.
Aku melihat Ayah sudah tidur pulas, jadi kami putuskan
__ADS_1
untuk pamit dengan Ibu saja. Lalu aku dan Zulfa pergi pulang kerumahku.
Hari sudah sangat larut dan jalanan pun sepi, aku
memutuskan untuk mengemudikan mobilku dengan cepat, karena aku dan Zulfa juga
sudah lelah hari ini atas apa yang terjadi kepada kami berdua.
Sesampainya dirumah aku dan Zulfa berjalan memasuki
rumah.
“Aku harus bagaimana?”
tanyanya.
“Aku juga tak tau, aku
sangat lelah, sebaiknya kita tidur saja.”
“Aku?” tanyanya lagi.
“Ya ikutlah tidur
bersamaku,” jawabku sambil tersenyum dan menatapnya penuh nafsu
“Tatapanmu menyeramkan Nugy,”
ucapnya.
“Tenang saja, malam ini
aku sangat lelah, aku tak akan melakukan itu sekarang,” aku meyakinkannya
Dan kami pun memasuki kamarku, lalu aku mengambil handuk
baru untuk kuberikan kepadanya, dia pasti ingin membersihkan badannya dahulu,
dia pasti sangat gerah.
“Kau tak mandi?” tanyanya.
“Kau ingin mengajakku
mandi bersama?” balasku lagi.
“Enak saja, itu tidak
akan terjadi,” ucapnya lalu masuk kekamar mandi
Aku tersenyum gemas melihat tingkah imutnya ini.
Lalu
aku duduk di atas kasur ku yang sangat lebar dan empuk sambil tertunduk dengan menyilangkannya
kebawah kepalaku, aku memikirkan semua hal yang terjadi hari ini, aku sangat
bingung, dan sedih. Aku bingung kenapa aku bisa menikahi bidadariku dengan waktu
yang sangat singkat ini, bahkan aku tak mengetahui perasaan dia yang sebenarnya
terhadapku, dan dia pun tak pernah mengetahui perasaanku yang sebenarnya
terhadap dia. Biarlah hanya waktu yang bisa menjawab rasa kebingunganku ini,
ntah kapan.
Aku
sedih, setelah mengetahui ayahku sudah diujung akhir hidupnya, aku tak tau apa
yang harus aku lakukan, aku sangat ingin menemani ayahku menjelang
kepergiannya, namun aku tau dia tak ingin aku berada disisinya terus-menerus,
dia ingin aku harus bekerja keras untuk terus maju dari pada harus merenungi
nasib atas apa yang terjadi pada dirinya.
Aku bingung Ayah, aku
harus apa? Aku tak ingin kehilanganmu, namun aku juga tak ingin kau merasa aku
mengasihanimu, ucapku dalam hati.
Zulfa pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan anduk
yang ku berikan, aku melihatnya, dia sangat cantik, aku melihat tubuhnya yang
dililit anduk, kulitnya mulus sekali, putih dan seksi, dengan tubuhnya yang
padat tak terlalu tinggi dan tak pendek pula, aku jadi merasa gemas melihat
tubuhnya ini dan aku baru pertama kali melihat dia yang seperti ini.
Ada sebuah naluri yang bangkit dari diriku,
aku berjalan mendekatinya. Dia menatapku penuh ketakutan dan wajahnya memerah.
“Apa yang ingin kau
lakukan,” ucapnya sambil menjauh dariku.
“Hahaha kenapa kau takut,
aku suamimu,” balasku mengoodanya
“Kau bilang tak akan
melakukannya sekarang.”
“Iya, tapi aku berubah
fikiran setelah melihatmu setengah telanjang begini,” balasku sambil mendekat
kearahnya
“Nugyyyyy,” rengeknya
sambil memejamkan matanya dan mendorongku menjauh.
“Hahaha kau lucu sekali,
baiklah aku tak akan melakukannya sekarang,” ucapku.
Lalu
mengambil andukku dan pergi masuk kekamar mandi untuk membersihkan badanku.
Setelah aku keluar dari kamar mandi aku melihat Zulfa
masih mengenakan handuk yang dipakainya tadi, dia sedang duduk dikasur. Dan
membelakangiku.
“Sepertinya kau memang
sedang ingin mengajakku melakukannya,” ucapku.
“Enak saja,” balasnya
Lalu
dia menoleh kearahku yang hanya mengenakan handuk.
Dia terpanah melihatku, kurasa dia sedang kagum melihat
badanku yang berotot dan perutku yang sixpack, ini kesempatanku untuk
menggodanya.
“Kau tergoda dengan
bentuk tubuhku?” tanyaku dengan nada menggoda.
“Ti—tidak, pakai bajumu,”
suruhnya lalu berpaling.
Aku hanya tertawa melihat ekspresinya, dan aku tau dia
sedang berbohong.
“Kenapa kau menyuruhku
memakainya, sedangkan kau saja tak memakainya,” godaku.
“Aku tak ada baju ganti Gy”
Aku hanya diam berjalan mengambil baju milikku dilemari,
lalu ku beri kepadanya.
“Pakai ini,” ucapku
memberikan baju dan celana pendek milikku kepadanya.
Dia pun pergi kekamar mandi untuk memakainya, aku pun
memakai bajuku. Ketika dia keluar kamar mandi, aku tersenyum melihat dia yang
mengenakan baju ku, dia tampak lucu sekali degan baju yang kebesaran ditubuhnya
itu.
“Baju mu besar sekali,” ucapnya.
“Tak apa, kau terlihat
sangat menggemaskan mengenakan itu,” balasku santai.
Di pun tersipu malu mendengar pujianku.
“Ayo kita tidur.”
“Berjanjilah kau tak
melakukan hal yang Aneh-aneh.”
Aku hanya tersenyum mengangguk, dan pergi mematikan lampu
kamarku, lalu membaringkan badanku dan dia pun membaringkan badannya
disebelahku. Jujur saja aku tak bisa tidur malam ini, padahal jam sudah
menunjukkan pukul 1 malam. Aku melihat dia yang berbaring disebelahku, dia pun
belum tidur.
“Kau tak tidur?” tanyaku
sambil menghadapnya.
“Aku tak bisa tidur,”
jawabnya sambil mengahadap ku.
Sepertinya dia sedang bingung memikirkan Kejadian-kejadian
aneh yang menimpa kami, baru saja aku bertemunya di café tadi pagi dan sekarang
dia sudah bersamaku di ranjang kamar milikku, kurasa sekaranglah kesempatanku
untuk memahami perasaanya, aku mencoba berusaha menenangkannya, agar dia bisa
bersitirahat.
“Aku tak tahu harus
mengatakan apa kepadamu, aku meminta maaf karena telah melibatkanmu dalam
situasi yang tak bisa kita pahami ini, Ay—”
“Tak apa Nugy, kita hanya
perlu mulai menjalani apa yang sedang terjadi,” ucapnya tenang sambil tersenyum.
Aku pun merasa sangat senang atas jawaban dari dia,
bidadariku kau begitu sepesial dimataku, lalu bagaimana aku dimatamu? Hanya kau
yang mengetahuinya.
Aku mendekatkan diriku padanya, lalu memeluknya, tentu
saja dia mendorongku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku tak pernah tidur
dengan lelaki, apa lagi harus berpelukan,” kesalnya.
“Bukannya satu harian ini
kau sudah banyak memelukku?” tanyaku menggoda.
“Ya tadi itu hanya reflek
karena kau sedang rapuh saja.”
“Sekarang pun aku sedang
rapuh, ku mohon.”
Lalu aku memeluknya dan memejamkan mataku, dia pun
membalas pelukanku. Aku merasa ada sesuatu yang hangat didalam hatiku, dan
merasa ada sesuatu yang menyegarkan fikiranku.
Bidadariku, aku
sangat mencintaimu. Dan aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, ucapku dalam
__ADS_1
hati.