Belantara

Belantara
ANUGERAH DITENGAH BENCANA


__ADS_3

Aku terbangun dari


tidurku, karena mendengar pertengkaran yang terjadi dari dalam rumahku, aku


melihat Zulfa sudah tak ada ditempat tidurku. Jadi aku keluar dari kamar untuk


mencarinya. Aku mendengar suara Mbok yang sedang marah-marah dari arah dapur


jadi aku berjalan kerah suara itu.


“Ada apa?” tanyaku heran.


“Ini den, dia muncul


pagi-pagi begini ntah dari mana, Mbok curiga dia ingin mencuri disini,”


jawabnya panik.


            Aku hanya tertawa geli sambil memaklumi si Mbok, wajar


saja dia seperti itu, karena selama ini aku tak pernah membawa wanita tinggal


dirumah ini kecuali Ibu, dan Dewi pun tak pernah tinggal disini, sedangkan dia


baru melihat Zulfa. jadi wajar saja dia terkejut.


“Hahaha, dia istriku Mbok,”


“Lah, kapan nikahnya?”


tanya Mbok


“Sebaiknya kita bicara di


meja makan saja, biar istriku memasak pagi ini, aku ingin merasakan masakannya


untuk pertama kali,” ucap ku sambil mengajak Mbok pergi kemeja makan.


Aku


pun duduk bersama Mbok, dan menceritakan semuanya atas apa yang terjadi selama


ini terhadap ku dan keluarga ku, hingga sampai kenapa bisa aku menikah dengan Zulfa


bidadariku.


            Mbok hanya menangis mendengar ceritaku, sepertinya bukan


hanya aku saja yang tak kuasa menahan tangis saat mendengar kebenaran semua ini


atas apa yang terjadi pada keluargaku.


            Dia


pun memelukku, dan ini sudah biasa, walaupun dia hanya pembantu diramhku, tapi


dia sudah seperti Ibu bagiku dirumah ini. Ibu mengenalkan ku pada Mbok saat aku


pindah kerumah ini, Ibu bilang Mbok adalah sepupu jauhnya, dan hidup sendiri,


jadi dia menyuruhnya datang untuk memenuhi kebutuhanku Sehari-hari. Aku


menerima saja karena Mbok ini orang yang sangat baik dan tulus serta perhatian


kepadaku.


            Mbok pun melepaskan pelukannya saat Zulfa sudah datang


membawakan sarapan untuk kami, lalu dia membantu Zulfa.


“Tadi aku dimarahi, dan


sekarang aku justru melihat Mbok memeluk suamiku,” ucapnya dengan nada menggoda.


“Maaf kan saya Nyonya,”


balas Mbok memelas.


“Hahahaha,” aku dan zulfa


pun tertawa kompak


            Lalu aku dan Zulfa pun makan, sedangkan Mbok pergi


kedapur, namun Zulfa memanggilnya untuk sarapan bersama, bahkan dia menuangkan


sarapan untuk si Mbok, aku sangat kagum dengan hal yang dilakukannya itu.


            Sikapnya memang sangat mulia, dia tak pernah membeda-bedakan


siapapun, sikapnya sangat ramah kepada siapa saja yang ada didekatnya, aku


tersenyum melihatnya. Dan kami pun makan bertiga bersama.


            Harus aku akui, masakan bidadariku sangat nikmat kurasa,


bahkan Mbok pun mengakuinya, tapi aku tak mau memujinya, jadi aku putuskan


untuk memendamnya saja. Padahal dia menunggu respon ku atas masakannya pagi


ini.


            Setelah sarapan, Mbok pun mebereskan semuanya, sedangkan


aku dan Zulfa begantian mandi untuk bersiap-siap kerumah papa untuk menjemput


semua barang-barang milik Zulfa, sekaligus Papa ingin berbicara panjang


denganku.


Karena


dia tak memiliki baju ganti, terpaksa dia memakai pakaiannya yang kemarin dipakainya.


Wajar saja, semua serba mendadak.


“Kau jorok sekali,” ucapku


sambil mengemudi mobilku.


“Aku sedang tidak mood


meladenimu,” balasnya ketus.


            Sepertinya dia sedang marah padaku karena aku tak


merespon hasil masakan dia pagi ini. Aku selalu merasa heran, dengan sikap perempuan


yang selalu saja ingin dipuji atas apa yang sudah dilakukannya.


“Kau marah?” tanyaku.


“Bisakah kita diam saja,”


jawabnya semakin kesal.


            Aku pun tersenyum melihat tingkahnya, ku putuskan untuk


mengikuti maunya dan fokus mengendarai mobilku, sepertinya dia juga mulai risih


tidak mengganti bajunya. Aku pun Cepat-cepat mengendarai mobilku menuju


rumahnya yang tak jauh.


            Ketika kami sampai, dia turun dengan menutup pintu mobil


dengan sangat keras dan meninggalkanku dibelakang. Aku hanya menggelengkan kepala


melihat tingkahnya ini, sekaligus aku merasa gemas melihatnya. Aku pun berjalan


menyusulnya dan langsung disambut oleh Papa dan Mama yang sudah menungguku


didepan pintu sedangkan bidadariku langsung berjalan masuk kedalam rumahnya.


Pastinya itu membuat Papa dan Mama menjadi penuh tanya.


            Aku menyalam mereka berdua dan Papa langsung mengajakku


kehalaman belakang rumah, sedangkan Mama pergi kearah dapur untuk membuatkan


kami kopi dan makanan ringan.


“Ada apa?” tanyanya.


Tentu


aku mengerti arah pertanyaannya.


“Dia marah padaku sejak


dari rumah, kurasa itu karena aku tak menunjukkan respon atas sarapan yang


dibuatnya untukku.”


“Aahahaha itu kesalahan


pertamamu Nugy, semua perempuan pasti sangat ingin dipuji ketika mereka memasak


untuk lelakinya.”


            Aku pun hanya terdiam dan tersenyum mendengarnya.


“Ya sudah, tak usah


difikirkan, nanti amarahnya juga akan reda lagi,” ucapnya enteng.


            Aku hanya mengangguk


            Mama pun datang dengan membawakan minuman dan makanan


ringan untuk kami berdua. lalu dia menyuruhku untuk mencobanya. Dan aku hanya


mengangguk lalu mencobanya.


“Bagaimana kondisimu


sekarang?” tanya papa kepadaku.


“Aku baik-baik saja”


jawabku datar.


            Meskipun perasaanku sedang tidak baik-baik saja tapi aku

__ADS_1


harus mencoba untuk kuat, karena ayah menginginkan itu dariku.


“Sepertinya Ayah dan Ibumu


sangat hebat mendidikmu,” sambungnya.


            Aku hanya tersenyum, jika membahas tentang Ayah dan Ibu,


aku bisa tak kuasa menahan tangisku. Bagaimana tidak, sebentar lagi Ayahku akan


meninggalkan kami semua, dan Ibu pasti menjadi orang yang paling sedih atas


kepergian Ayah nanti.


“Aku tau kau sedang menahannya,


kau anak yang kuat Nugy, kau berusaha menutupi kerapuhan dirimu dalam waktu


yang sangat singkat. Sama seperi Ayahmu, kalian tak akan membiarkan siapapun untuk


menaruh rasa empati terahadap diri kalian …”


“Tapi sekarang kami


berdua adalah Orang tuamu, jadi kau bisa menumpahkan semuanya dihadapan kami…”


            Aku tertunduk mendengar ucapannya yang penuh dengan


kehangatan, tanpa sadar air mataku pun mulai menetes, dia sangat paham dengan bagaimana


perasaan ku saat ini, mereka berdua memberi ku kehangatan sehingga aku merasa sangat


nyaman ketika harus meneteskan air mataku dihadapan mereka.


“Aku tak tau harus


bagaimana,” ucapku lirih.


“Aku sudah mengorbankan


perasaan kalian semua, bahkan aku memaksa Zulfa untuk menikah denganku, aku


bahkan tak pernah mengucapkan cinta kepadanya, dan aku pun tak tahu dia


mencintaiku atau tidak…”


“Aku hanya ingin melihat Ayahku


senang dengan keinginan terakhirnya, aku tak berdaya saat harus berhadapan


dengan takdir yang membuatku melihat Ayah yang akan pergi meniggalkanku setelah


sekian lama aku membencinya…”


“Aku telah melakukan


semua kesalahan terhadap diriku, Zulfa, keluargaku dan keluarga ini. Ayahku pasti


sangat membenciku atas kelakuanku yang menaruh rasa iba kepadanya disaat


terakhirnya, aku juga sudah membiarkan orang lain untuk menaruh rasa empati


terhadap keluarga kami, aku sudah merusak nama baik keluargaku disaat kematian


sedang menunggu Ayahku…”


            Aku terdiam sejenak mencoba menenangkan diriku sejenak,


lalu melanjutkannya lagi.


“Tapi aku sama sekali tak


ada maksud untuk itu, aku benar benar mencintai Zulfa dan aku ingin menikahinya


dihadapan Ayahku, aku mengakui bahwa diriku sangat pengecut dengan menjadikan


ini sebagai kesempatanku utnuk mendapatkan anak mu. Maafkan aku, aku benar


benar minta maaf.”


Aku


tak kuasa menahan tangisku atas apa yang ku rasakan.


            Hatiku sakit karena sudah mencoreng nama baik keluargaku,


hati ku juga sakit karena sudah merusak prinsip hidup Ayahku, dan hatiku sakit


ketika harus mengorbankan bidadariku dalam situasi yang tak dapat dia pahami.


Dan semua itu kulakukan hanya karena egoku disaat Ayahku ingin mengakhiri


hidupnya.


“Aku mengakui dirimu saat


pertama kali aku berjumpa denganmu. Namun saat ini kau adalah satu satunya


lelaki yang aku kagumi Nugy. Mungkin jika aku bertemu dengan Ayahmu dimasa


sehatnya aku akan menjadi pengagumnya juga,” balas Papa kepadaku.


“Aku sangat senang


ketanganmu, aku juga meminta maaf atas anakku yang menaruh rasa Iba terhadap Ayahmu.


Tapi itu adalah sikap alami yang tumbuh dari dirinya, aku yakin kau bisa


membuat anakku bahagia, dan aku yakin kau bisa membuat anakku mencintaimu…”


“Kau sudah melakukan yang


terbaik terhadap Ayahmu dengan rasa cintamu kepada anakku. Teruslah maju Nugy


bersama anakku yang akan mendampingimu, sayangi keluargamu, dan kami…”


“Karena bukan hanya Ayah


dan Ibumu, bahkan kami dan juga orang-orang yang berada disekelilingmu menaruh


harapan yang besar kepadamu…”


“Bimbinglah anakku, dia


memang sangat manja, karena dia adalah anak semata wayang kami, tapi percayalah


padaku. Dia adalah wanita yang tangguh seperi Ibumu. Aku yakin kau pasti bisa...”


“Dengan itu kau tak perlu


khawatir dengan kesalahan yang kau rasakan saat ini, karena kami pun tak pernah


menyalahkan mu, begitu juga dengan keluargamu, bangkitlah karena kami semua


pantas menaruh rasa bangga kepadamu, dan kamu pun harus pantas menjadi orang


yang kami semua banggakan.”


Dia


berkata sambil memegang pundakku yang sedang menunduk.


            Tiap bait perkataan Papa berhasil membuatku kembali memuculkan


setitik semangat dalam diriku. Kata-kata itu berhasil menenangkanku. Dia memang


benar, aku hanya perlu menunjukkan kepada semuanya bahwa aku adalah pria yang


pantas mereka banggakan.


            Dan untuk Zulfa, aku hanya perlu membuatnya mencintaiku,


dan aku berjanji akan membuatmu hidupnya bahagia dengan rasa cinta yang ku


miliki terhadapnya.


            Aku pun mengangkat kepalaku dan menatap mereka berdua


sambil menghapus air mata ku sendiri, lalu tersenyum. Mereka pun membalas


senyumanku.


“Ya sudah ayo kita masuk,”


ajak Papa.


            Kami pun masuk ke dalam rumah, aku memutuskan untuk pergi


menemui bidadariku dikamarnya, namun aku mencuci wajahku dulu, agar dia tak tau


bahwa aku habis menangis setelah berbicara dengan Papa dan Mama tadi.


            Untuk pertama kalinya aku masuk kedalam kamarnya, aku


melihatnya yang sedang menyusun Barang-barangnya, aku memutuskan untuk menolongnya.


“Bagian mana yang harus


ku bantu?” tanyaku.


            Dia tak menjawabku, sepertinya dia masih marah kepadaku,


aku pun mendekatinya dan duduk disampingnya.


“Aku minta maaf,” ucapku


pelan sambil jongkok dihadapannya dan memegang tangannya.


            Dia hanya terdiam dengan menatapku.


“Aku harusnya


mengatakannya, sungguh aku menikmati masakanmu, tapi aku tak mau membuatmu


besar kepala, makanya aku memilih diam saja.”


“Aku akan melakukan apa


saja asal kau mau memaafkanku. Istriku,” ucapku lembut sambil tersenyum


kepadanya.


            Dia pun tersenyum kepadaku, akhirnya dia luluh juga,

__ADS_1


Kau sungguh manis sayang,


ucapku dalam hati. Lalu aku memeluknya erat.


“Lepaskan aku Nugy, kita


harus cepat,” ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan mendorongku.


“Mau kemana?” tanyaku heran.


“Kau kan sudah berjanji


ingin melakukan apa saja.”


            Aku hanya megangguk dan heran.


“Ya sudah bantu aku


membereskan ini, lalu temani aku kesuatu tempat,” ucapnya dengan senang.


            Aku tak mau menanyakannya, nanti Bisa-bisa dia marah lagi


denganku, sebaiknya ku ikuti saja kemauan dia.


            Kami pun mengemas barang barang nya, aku sangat kesal,


kenapa sangat banyak sekali, apakah akan muat jika dibawa dengan mobilku.


“Ini tidak akan muat Zulfa,”


kesalku.


“Ini semua harus ku bawa Nugy,


kau keberatan?” tanyanya.


            Aku hanya menggeleng, jika ku jawab iya, bisa bisa dia


marah lagi kepadaku.


            Setelah mengemas semua Barang-barangnya aku pun


membawanya turun untuk meletakkannya didepan rumah agar lebih mudah untuk


diangkut nanti, lalu kami pun bergabung untuk makan siang bersama dengan Papa


dan Mama.


“Wah nampaknya ini enak


sekali,” ucapnya riang lalu berlari ketempat duduknya.


            Dia seperti anak kecil saja, dasar bidadariku! kau semakin


membuatku gemas terhadapmu, fikirku.


“Bagaimana caramu


meluluhkan amarah anakku?” tanya Papa.


“Rahasia,” jawabku sambil


tersenyum.


            Kami pun makan siang bersama sambil saling bercerita,


masakan Mama sangat enak seperti biasa, aku sudah pernah makan dirumah ini jadi


aku sudah biasa merasakan enaknya masakan Mama.


“Lalu bagaimana dengan buku


nikah kalian?” tanya Papa kepada kami.


            Zulfa pun menatapku, sepertinya dia sedang tak tau harus


menjawab apa, yah wajar saja dia tak tau.


“Sudah ada yang


membantuku mengurusnya Pa, jadi tak perlu khawatir,” jawabku


            Aku memang sudah menyuruh Rojali untuk pergi mengurus


nya, karena aku sangat tak suka Repot-repot mengurus hal yang seperti itu.


            Kami pun sudah menyelesaikan makan siang kami, Mama dan Zulfa


memberseskan semuanya, setelah itu papa dan mama mengajak aku dan Zulfa


bercerita di ruang tamu.


“Jadi kau akan membawa


anakku Nugy?” tanya Papa.


            Aku hanya mengangguk ramah.


“Dia sangat manja, dan


masih seperti Anak-anak, jadi tolong bimbing dia ya Nugy,” kata Mama sambil


tersenyum


            Aku melihat senyuman mama yang sepertinya sedang menahan


tangisnya, karena sebentar lagi anaknya akan tinggal bersamaku. Tentu dia akan


merasa kesepian, tanpa ada anak semata wayangnya dirumah ini.


“Aaaahh Mama,” rengek


Zulfa sambil memeluk Mama.


“Jadilah Istri yang baik


nak, dampingi suamimu dalam keadaan apapun, dan jangan sakiti hatinya ya,” kata


Mama sambil mengelus kepala anaknya


Mereka


berdua meneteskan air mata.


            Zulfa pun hanya mengangguk dan menangis karena harus


meninggalkan rumahnya dan tinggal bersamaku.


“Aku pasti akan


menajganya dengan baik, dan Mama juga boleh datang kerumah ku kapan pun, aku


bahkan bisa menjemput Mama untuk menemui Zulfa,” ucapku dengan tenang.


            Dia pun mengangguk sambil tersenyum dengan air matanya


yang masih mengalir.


“Sudahlah, jangan


menangis, kita tak perlu khawatir, anak kita sudah bersama seseorang yang


tepat, lagian rumah kita juga berdekatan,” kata Papa menenangkan Mama.


            Mereka pun terlarut dalam kesedihan, aku jadi tak tahan


melihatnya, namun sebagai Laki-laki aku menahan rasa sedihku dihadapan


Bidadariku. Aku harus Benar-benar menghiburnya setelah ini.


            Setelah itu kami pun berangkat, aku dan Zulfa pamit


kepada Papa dan Mama, aku sudah memutuskan untuk pergi kemana pun Zulfa inginkan


hari ini.


“Lalu bagaimana dengan


ini?” tanya Papa kepadaku sambil menunjuk barang-barang milik Zulfa.


“Sebentar lagi akan ada


yang menjemput Pa, dia yang akan mengantarkannya kerumah,” jawabku tenang.


“Hahaha kau selalu bisa


mengatasi semua dengan mudah.”


            Tiba-tiba Rojali pun datang dengan membawa mobil pick up,


itu adalah inventaris café, jadi dia membawanya sebentar untuk mengantar


barang-barang Zulfa kerumahku.


“Lu masukin langsung


kedalam aja ntar” suruhku kepada Rojali


“Iyaaa, cerewet kali kau,”


ucapnya kesal.


            Aku hanya tertawa, aku sudah banyak memberi dia perintah,


untuk mengurus buku nikahku, dan sekarang justru mengurus kepindahan istriku, aku


beruntung memiliki sahabat-sahabat yang bisa diandalkan.


            Setelah Rojali pergi, aku dan Zulfa pun pergi. Pergi? Kemana?


Kemana pun dia mau.


            Aku sudah mendapatkan kembali


sedikit kekuatan untuk tetap bertahan dengan kondisi ini bersama Orang-orang


yang menyayangiku, meskipun Ayahku akan pergi meninggalkan kami, aku tetap


harus melangkah kedepan. Aku juga sudah menikahi bidadariku yang sangat aku


cintai. Sungguh ini adalah anugerah yang kau berikan kepadaku ditengah bencana


yang melandaku. Terima kasih tuhan.

__ADS_1


__ADS_2