
Aku terbangun dari
tidurku, karena mendengar pertengkaran yang terjadi dari dalam rumahku, aku
melihat Zulfa sudah tak ada ditempat tidurku. Jadi aku keluar dari kamar untuk
mencarinya. Aku mendengar suara Mbok yang sedang marah-marah dari arah dapur
jadi aku berjalan kerah suara itu.
“Ada apa?” tanyaku heran.
“Ini den, dia muncul
pagi-pagi begini ntah dari mana, Mbok curiga dia ingin mencuri disini,”
jawabnya panik.
Aku hanya tertawa geli sambil memaklumi si Mbok, wajar
saja dia seperti itu, karena selama ini aku tak pernah membawa wanita tinggal
dirumah ini kecuali Ibu, dan Dewi pun tak pernah tinggal disini, sedangkan dia
baru melihat Zulfa. jadi wajar saja dia terkejut.
“Hahaha, dia istriku Mbok,”
“Lah, kapan nikahnya?”
tanya Mbok
“Sebaiknya kita bicara di
meja makan saja, biar istriku memasak pagi ini, aku ingin merasakan masakannya
untuk pertama kali,” ucap ku sambil mengajak Mbok pergi kemeja makan.
Aku
pun duduk bersama Mbok, dan menceritakan semuanya atas apa yang terjadi selama
ini terhadap ku dan keluarga ku, hingga sampai kenapa bisa aku menikah dengan Zulfa
bidadariku.
Mbok hanya menangis mendengar ceritaku, sepertinya bukan
hanya aku saja yang tak kuasa menahan tangis saat mendengar kebenaran semua ini
atas apa yang terjadi pada keluargaku.
Dia
pun memelukku, dan ini sudah biasa, walaupun dia hanya pembantu diramhku, tapi
dia sudah seperti Ibu bagiku dirumah ini. Ibu mengenalkan ku pada Mbok saat aku
pindah kerumah ini, Ibu bilang Mbok adalah sepupu jauhnya, dan hidup sendiri,
jadi dia menyuruhnya datang untuk memenuhi kebutuhanku Sehari-hari. Aku
menerima saja karena Mbok ini orang yang sangat baik dan tulus serta perhatian
kepadaku.
Mbok pun melepaskan pelukannya saat Zulfa sudah datang
membawakan sarapan untuk kami, lalu dia membantu Zulfa.
“Tadi aku dimarahi, dan
sekarang aku justru melihat Mbok memeluk suamiku,” ucapnya dengan nada menggoda.
“Maaf kan saya Nyonya,”
balas Mbok memelas.
“Hahahaha,” aku dan zulfa
pun tertawa kompak
Lalu aku dan Zulfa pun makan, sedangkan Mbok pergi
kedapur, namun Zulfa memanggilnya untuk sarapan bersama, bahkan dia menuangkan
sarapan untuk si Mbok, aku sangat kagum dengan hal yang dilakukannya itu.
Sikapnya memang sangat mulia, dia tak pernah membeda-bedakan
siapapun, sikapnya sangat ramah kepada siapa saja yang ada didekatnya, aku
tersenyum melihatnya. Dan kami pun makan bertiga bersama.
Harus aku akui, masakan bidadariku sangat nikmat kurasa,
bahkan Mbok pun mengakuinya, tapi aku tak mau memujinya, jadi aku putuskan
untuk memendamnya saja. Padahal dia menunggu respon ku atas masakannya pagi
ini.
Setelah sarapan, Mbok pun mebereskan semuanya, sedangkan
aku dan Zulfa begantian mandi untuk bersiap-siap kerumah papa untuk menjemput
semua barang-barang milik Zulfa, sekaligus Papa ingin berbicara panjang
denganku.
Karena
dia tak memiliki baju ganti, terpaksa dia memakai pakaiannya yang kemarin dipakainya.
Wajar saja, semua serba mendadak.
“Kau jorok sekali,” ucapku
sambil mengemudi mobilku.
“Aku sedang tidak mood
meladenimu,” balasnya ketus.
Sepertinya dia sedang marah padaku karena aku tak
merespon hasil masakan dia pagi ini. Aku selalu merasa heran, dengan sikap perempuan
yang selalu saja ingin dipuji atas apa yang sudah dilakukannya.
“Kau marah?” tanyaku.
“Bisakah kita diam saja,”
jawabnya semakin kesal.
Aku pun tersenyum melihat tingkahnya, ku putuskan untuk
mengikuti maunya dan fokus mengendarai mobilku, sepertinya dia juga mulai risih
tidak mengganti bajunya. Aku pun Cepat-cepat mengendarai mobilku menuju
rumahnya yang tak jauh.
Ketika kami sampai, dia turun dengan menutup pintu mobil
dengan sangat keras dan meninggalkanku dibelakang. Aku hanya menggelengkan kepala
melihat tingkahnya ini, sekaligus aku merasa gemas melihatnya. Aku pun berjalan
menyusulnya dan langsung disambut oleh Papa dan Mama yang sudah menungguku
didepan pintu sedangkan bidadariku langsung berjalan masuk kedalam rumahnya.
Pastinya itu membuat Papa dan Mama menjadi penuh tanya.
Aku menyalam mereka berdua dan Papa langsung mengajakku
kehalaman belakang rumah, sedangkan Mama pergi kearah dapur untuk membuatkan
kami kopi dan makanan ringan.
“Ada apa?” tanyanya.
Tentu
aku mengerti arah pertanyaannya.
“Dia marah padaku sejak
dari rumah, kurasa itu karena aku tak menunjukkan respon atas sarapan yang
dibuatnya untukku.”
“Aahahaha itu kesalahan
pertamamu Nugy, semua perempuan pasti sangat ingin dipuji ketika mereka memasak
untuk lelakinya.”
Aku pun hanya terdiam dan tersenyum mendengarnya.
“Ya sudah, tak usah
difikirkan, nanti amarahnya juga akan reda lagi,” ucapnya enteng.
Aku hanya mengangguk
Mama pun datang dengan membawakan minuman dan makanan
ringan untuk kami berdua. lalu dia menyuruhku untuk mencobanya. Dan aku hanya
mengangguk lalu mencobanya.
“Bagaimana kondisimu
sekarang?” tanya papa kepadaku.
“Aku baik-baik saja”
jawabku datar.
Meskipun perasaanku sedang tidak baik-baik saja tapi aku
__ADS_1
harus mencoba untuk kuat, karena ayah menginginkan itu dariku.
“Sepertinya Ayah dan Ibumu
sangat hebat mendidikmu,” sambungnya.
Aku hanya tersenyum, jika membahas tentang Ayah dan Ibu,
aku bisa tak kuasa menahan tangisku. Bagaimana tidak, sebentar lagi Ayahku akan
meninggalkan kami semua, dan Ibu pasti menjadi orang yang paling sedih atas
kepergian Ayah nanti.
“Aku tau kau sedang menahannya,
kau anak yang kuat Nugy, kau berusaha menutupi kerapuhan dirimu dalam waktu
yang sangat singkat. Sama seperi Ayahmu, kalian tak akan membiarkan siapapun untuk
menaruh rasa empati terahadap diri kalian …”
“Tapi sekarang kami
berdua adalah Orang tuamu, jadi kau bisa menumpahkan semuanya dihadapan kami…”
Aku tertunduk mendengar ucapannya yang penuh dengan
kehangatan, tanpa sadar air mataku pun mulai menetes, dia sangat paham dengan bagaimana
perasaan ku saat ini, mereka berdua memberi ku kehangatan sehingga aku merasa sangat
nyaman ketika harus meneteskan air mataku dihadapan mereka.
“Aku tak tau harus
bagaimana,” ucapku lirih.
“Aku sudah mengorbankan
perasaan kalian semua, bahkan aku memaksa Zulfa untuk menikah denganku, aku
bahkan tak pernah mengucapkan cinta kepadanya, dan aku pun tak tahu dia
mencintaiku atau tidak…”
“Aku hanya ingin melihat Ayahku
senang dengan keinginan terakhirnya, aku tak berdaya saat harus berhadapan
dengan takdir yang membuatku melihat Ayah yang akan pergi meniggalkanku setelah
sekian lama aku membencinya…”
“Aku telah melakukan
semua kesalahan terhadap diriku, Zulfa, keluargaku dan keluarga ini. Ayahku pasti
sangat membenciku atas kelakuanku yang menaruh rasa iba kepadanya disaat
terakhirnya, aku juga sudah membiarkan orang lain untuk menaruh rasa empati
terhadap keluarga kami, aku sudah merusak nama baik keluargaku disaat kematian
sedang menunggu Ayahku…”
Aku terdiam sejenak mencoba menenangkan diriku sejenak,
lalu melanjutkannya lagi.
“Tapi aku sama sekali tak
ada maksud untuk itu, aku benar benar mencintai Zulfa dan aku ingin menikahinya
dihadapan Ayahku, aku mengakui bahwa diriku sangat pengecut dengan menjadikan
ini sebagai kesempatanku utnuk mendapatkan anak mu. Maafkan aku, aku benar
benar minta maaf.”
Aku
tak kuasa menahan tangisku atas apa yang ku rasakan.
Hatiku sakit karena sudah mencoreng nama baik keluargaku,
hati ku juga sakit karena sudah merusak prinsip hidup Ayahku, dan hatiku sakit
ketika harus mengorbankan bidadariku dalam situasi yang tak dapat dia pahami.
Dan semua itu kulakukan hanya karena egoku disaat Ayahku ingin mengakhiri
hidupnya.
“Aku mengakui dirimu saat
pertama kali aku berjumpa denganmu. Namun saat ini kau adalah satu satunya
lelaki yang aku kagumi Nugy. Mungkin jika aku bertemu dengan Ayahmu dimasa
sehatnya aku akan menjadi pengagumnya juga,” balas Papa kepadaku.
“Aku sangat senang
ketanganmu, aku juga meminta maaf atas anakku yang menaruh rasa Iba terhadap Ayahmu.
Tapi itu adalah sikap alami yang tumbuh dari dirinya, aku yakin kau bisa
membuat anakku bahagia, dan aku yakin kau bisa membuat anakku mencintaimu…”
“Kau sudah melakukan yang
terbaik terhadap Ayahmu dengan rasa cintamu kepada anakku. Teruslah maju Nugy
bersama anakku yang akan mendampingimu, sayangi keluargamu, dan kami…”
“Karena bukan hanya Ayah
dan Ibumu, bahkan kami dan juga orang-orang yang berada disekelilingmu menaruh
harapan yang besar kepadamu…”
“Bimbinglah anakku, dia
memang sangat manja, karena dia adalah anak semata wayang kami, tapi percayalah
padaku. Dia adalah wanita yang tangguh seperi Ibumu. Aku yakin kau pasti bisa...”
“Dengan itu kau tak perlu
khawatir dengan kesalahan yang kau rasakan saat ini, karena kami pun tak pernah
menyalahkan mu, begitu juga dengan keluargamu, bangkitlah karena kami semua
pantas menaruh rasa bangga kepadamu, dan kamu pun harus pantas menjadi orang
yang kami semua banggakan.”
Dia
berkata sambil memegang pundakku yang sedang menunduk.
Tiap bait perkataan Papa berhasil membuatku kembali memuculkan
setitik semangat dalam diriku. Kata-kata itu berhasil menenangkanku. Dia memang
benar, aku hanya perlu menunjukkan kepada semuanya bahwa aku adalah pria yang
pantas mereka banggakan.
Dan untuk Zulfa, aku hanya perlu membuatnya mencintaiku,
dan aku berjanji akan membuatmu hidupnya bahagia dengan rasa cinta yang ku
miliki terhadapnya.
Aku pun mengangkat kepalaku dan menatap mereka berdua
sambil menghapus air mata ku sendiri, lalu tersenyum. Mereka pun membalas
senyumanku.
“Ya sudah ayo kita masuk,”
ajak Papa.
Kami pun masuk ke dalam rumah, aku memutuskan untuk pergi
menemui bidadariku dikamarnya, namun aku mencuci wajahku dulu, agar dia tak tau
bahwa aku habis menangis setelah berbicara dengan Papa dan Mama tadi.
Untuk pertama kalinya aku masuk kedalam kamarnya, aku
melihatnya yang sedang menyusun Barang-barangnya, aku memutuskan untuk menolongnya.
“Bagian mana yang harus
ku bantu?” tanyaku.
Dia tak menjawabku, sepertinya dia masih marah kepadaku,
aku pun mendekatinya dan duduk disampingnya.
“Aku minta maaf,” ucapku
pelan sambil jongkok dihadapannya dan memegang tangannya.
Dia hanya terdiam dengan menatapku.
“Aku harusnya
mengatakannya, sungguh aku menikmati masakanmu, tapi aku tak mau membuatmu
besar kepala, makanya aku memilih diam saja.”
“Aku akan melakukan apa
saja asal kau mau memaafkanku. Istriku,” ucapku lembut sambil tersenyum
kepadanya.
Dia pun tersenyum kepadaku, akhirnya dia luluh juga,
__ADS_1
Kau sungguh manis sayang,
ucapku dalam hati. Lalu aku memeluknya erat.
“Lepaskan aku Nugy, kita
harus cepat,” ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan mendorongku.
“Mau kemana?” tanyaku heran.
“Kau kan sudah berjanji
ingin melakukan apa saja.”
Aku hanya megangguk dan heran.
“Ya sudah bantu aku
membereskan ini, lalu temani aku kesuatu tempat,” ucapnya dengan senang.
Aku tak mau menanyakannya, nanti Bisa-bisa dia marah lagi
denganku, sebaiknya ku ikuti saja kemauan dia.
Kami pun mengemas barang barang nya, aku sangat kesal,
kenapa sangat banyak sekali, apakah akan muat jika dibawa dengan mobilku.
“Ini tidak akan muat Zulfa,”
kesalku.
“Ini semua harus ku bawa Nugy,
kau keberatan?” tanyanya.
Aku hanya menggeleng, jika ku jawab iya, bisa bisa dia
marah lagi kepadaku.
Setelah mengemas semua Barang-barangnya aku pun
membawanya turun untuk meletakkannya didepan rumah agar lebih mudah untuk
diangkut nanti, lalu kami pun bergabung untuk makan siang bersama dengan Papa
dan Mama.
“Wah nampaknya ini enak
sekali,” ucapnya riang lalu berlari ketempat duduknya.
Dia seperti anak kecil saja, dasar bidadariku! kau semakin
membuatku gemas terhadapmu, fikirku.
“Bagaimana caramu
meluluhkan amarah anakku?” tanya Papa.
“Rahasia,” jawabku sambil
tersenyum.
Kami pun makan siang bersama sambil saling bercerita,
masakan Mama sangat enak seperti biasa, aku sudah pernah makan dirumah ini jadi
aku sudah biasa merasakan enaknya masakan Mama.
“Lalu bagaimana dengan buku
nikah kalian?” tanya Papa kepada kami.
Zulfa pun menatapku, sepertinya dia sedang tak tau harus
menjawab apa, yah wajar saja dia tak tau.
“Sudah ada yang
membantuku mengurusnya Pa, jadi tak perlu khawatir,” jawabku
Aku memang sudah menyuruh Rojali untuk pergi mengurus
nya, karena aku sangat tak suka Repot-repot mengurus hal yang seperti itu.
Kami pun sudah menyelesaikan makan siang kami, Mama dan Zulfa
memberseskan semuanya, setelah itu papa dan mama mengajak aku dan Zulfa
bercerita di ruang tamu.
“Jadi kau akan membawa
anakku Nugy?” tanya Papa.
Aku hanya mengangguk ramah.
“Dia sangat manja, dan
masih seperti Anak-anak, jadi tolong bimbing dia ya Nugy,” kata Mama sambil
tersenyum
Aku melihat senyuman mama yang sepertinya sedang menahan
tangisnya, karena sebentar lagi anaknya akan tinggal bersamaku. Tentu dia akan
merasa kesepian, tanpa ada anak semata wayangnya dirumah ini.
“Aaaahh Mama,” rengek
Zulfa sambil memeluk Mama.
“Jadilah Istri yang baik
nak, dampingi suamimu dalam keadaan apapun, dan jangan sakiti hatinya ya,” kata
Mama sambil mengelus kepala anaknya
Mereka
berdua meneteskan air mata.
Zulfa pun hanya mengangguk dan menangis karena harus
meninggalkan rumahnya dan tinggal bersamaku.
“Aku pasti akan
menajganya dengan baik, dan Mama juga boleh datang kerumah ku kapan pun, aku
bahkan bisa menjemput Mama untuk menemui Zulfa,” ucapku dengan tenang.
Dia pun mengangguk sambil tersenyum dengan air matanya
yang masih mengalir.
“Sudahlah, jangan
menangis, kita tak perlu khawatir, anak kita sudah bersama seseorang yang
tepat, lagian rumah kita juga berdekatan,” kata Papa menenangkan Mama.
Mereka pun terlarut dalam kesedihan, aku jadi tak tahan
melihatnya, namun sebagai Laki-laki aku menahan rasa sedihku dihadapan
Bidadariku. Aku harus Benar-benar menghiburnya setelah ini.
Setelah itu kami pun berangkat, aku dan Zulfa pamit
kepada Papa dan Mama, aku sudah memutuskan untuk pergi kemana pun Zulfa inginkan
hari ini.
“Lalu bagaimana dengan
ini?” tanya Papa kepadaku sambil menunjuk barang-barang milik Zulfa.
“Sebentar lagi akan ada
yang menjemput Pa, dia yang akan mengantarkannya kerumah,” jawabku tenang.
“Hahaha kau selalu bisa
mengatasi semua dengan mudah.”
Tiba-tiba Rojali pun datang dengan membawa mobil pick up,
itu adalah inventaris café, jadi dia membawanya sebentar untuk mengantar
barang-barang Zulfa kerumahku.
“Lu masukin langsung
kedalam aja ntar” suruhku kepada Rojali
“Iyaaa, cerewet kali kau,”
ucapnya kesal.
Aku hanya tertawa, aku sudah banyak memberi dia perintah,
untuk mengurus buku nikahku, dan sekarang justru mengurus kepindahan istriku, aku
beruntung memiliki sahabat-sahabat yang bisa diandalkan.
Setelah Rojali pergi, aku dan Zulfa pun pergi. Pergi? Kemana?
Kemana pun dia mau.
Aku sudah mendapatkan kembali
sedikit kekuatan untuk tetap bertahan dengan kondisi ini bersama Orang-orang
yang menyayangiku, meskipun Ayahku akan pergi meninggalkan kami, aku tetap
harus melangkah kedepan. Aku juga sudah menikahi bidadariku yang sangat aku
cintai. Sungguh ini adalah anugerah yang kau berikan kepadaku ditengah bencana
yang melandaku. Terima kasih tuhan.
__ADS_1