
“Teettt tettt tetttt
tetttt” ponsel ku berbunyi dan ku lihat layar ponsel ku ternayat ibu menelfonku.
“Hallo Assalamualaikum
Bu,” sapaku duluan.
“Waalaikumsalam, siang
ini apa kamu sibuk nak?” Ibu bertanya.
“Tidak Bu,” jawabku.
Karena
memang pagi ini aku sudah melakukan semua pekerjaanku.
“Bagus, Ibu sudah didepan
kantormu.”
Ketika ingin kujawab, ternyata telfon sudah dimatikan
oleh Ibu.
Aku heran dengan kehadiran Ibu yang sudah berada
dikantorku, aku Bertanya-tanya apa yang membuat Ibuk datang kekantorku? ini
sangat jarang, Ibu memang pernah datang. Tapi hanya sekali ketika aku pertama
kali meresmikan kantorku ini. Dan kali ini Ibu pasti ada tujuan lain. kenapa
dia Tiba-tiba datang kekantorku? Atau dia sedang rindu dengan ku? padahal baru
beberapa hari yang lalu kami baru saja bertemu. Ketika aku bertanya tanya pada diriku
sendiri, Tiba-tiba Ibu sudah masuk kedalam ruanganku bersama Dewi.
“Ibu,” sapaku dan
langsung mencium tangannya.
Dia hanya tersenyum.
“Ibu ada apa kesini?
Tumben,” tanyaku.
“Iya Ibu sengaja kesini
untuk bisa memanfaatkan waktu mu yang singkat ini,” jawab Ibu menyindir seperti
biasa.
“Bu, jangan mulai deh,
waktuku selalu ada buat Ibu,” protesku.
“Ibu ingin ke butik
wanitamu itu Nugy, dan Ibu mau kamu menemaniku kesana,” ucap Ibu.
Aku terdiam kaget mendengarnya, lalu ku tatap Dewi yang
juga sama kagetnya mendengar ucapan Ibu barusan.
Aku sudah berusaha untuk ikhlas atas wanita itu, dan
memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya apa lagi harus bertemu. Tapi
kini Ibu justru memintaku untuk menemaninya menemui wanita itu, tentu saja aku pasti
akan bertemu dia lagi dengan prianya itu. Bisa-bisa aku jadi sakit hati lagi
nanti. Aku mencoba untuk mengelak dari Ibu.
“Ini sudah siang Bu, dia
pasti tidak ada dibutiknya,” ucapku.
“Makanya kau telfon dulu
Nak, siapa tahu dia masih ditokonya,” balas Ibu kepadaku.
Ah aku jadi pusing sekarang, aku tak akan bisa mengelak
dari Ibu jika dia sudah menginginkan sesuatau. Aku tak tahu apa yang harus ku
lakukan, aku menatap Dewi dengan Seakan-akan meminta solusi darinya.
“Lu telfon aja Gy, dia
pasti disitu kalau dengar Bunda mau datang,” ucap Dewi yang justru membela Ibu.
Aku melotot menatap Dewi seakan sedang mengancamnya,
kenapa justru dia membuatku untuk bertemu dengan wanita itu lagi. dia membalas
tatapanku itu dengan ekspresi seakan memahamiku.
Dan
aku mencoba memahami maksud dari tatapannya itu. Dia tak ingin aku tidak
mengecewakan Ibu yang sudah bela-belain datang kekantorku hanya untuk meminta ditemani
ke Butik itu. Aku jadi harus terpaksa melakukannya.
“Oke. kalian berdua selalu
memojokkanku,” ucapku kesal.
Mereka hanya tersenyum melihat aku kesal.
Dengan perasaan kesal aku mengambil ponselku dan mencari
kontaknya yang sudah pernah aku minta, lalu ku telfon dengan perasaan yang aneh
tapi ku pendam saja karena aku harus belajar mengendalikan hatiku. Aku berharap
dia tak mengangkat telfonku tapi justru sebaliknya, malah tersambung.
“Hallo,” sapanya dari
seberang sana.
“Hallo Assalamualaikum,” sapaku
datar.
“Ya Waalaikumsalam, ini
siapa?” tanyanya dengan nada ramahnya.
“Ini aku, Nugy,” jawabku
tenang.
“Oh ya Nugy, ada apa?” tanyanya.
“Siang ini Ibu mengajakku
datang ke butik mu,” jawabku.
“Oh oke, aku tunggu,” balasnya.
Tanpa
ku respon aku langsung mematikan ponselku.
“Bagaimana?” tanya Ibu.
“Iya, dia ada,” jawabku
datar.
“Ya sudah, ayo kita
berangkat,” ajak Ibu dengan senang.
“Iya Bu” jawabku malas.
Aku pun bangkit dari tempat dudukku.
“Kami pergi dulu ya,”
ucap Ibu kepada Dewi.
“Iya Bunda, Hati-hati ya,”
balasnya.
Aku menatap Dewi dengan tatapan mengancam, dia pun seperti
ketakutan. Lalu aku dan Ibu pergi meninggalkannya.
Kami pun pergi menuju toko butik milik Zulfa dengan menggunakan
mobil Ibu, aku sedang malas mengendarai mobil, jadi sebaiknya naik mobil ibu
saja biar si Sam yang sudah mulai masuk bekerja.
“Bagaimana Bayi mu Sam?”
tanyaku.
“Alhamdulillah sehat Pak,”
jawabnya.
“Ahh Sam. udah berkali ku
katakan aku tak suka dipanggil dengan sebutan itu oleh orang yang seumuran
denganku,” ucapku kesal.
“Hahaha kau memang
seharusnya sudah menjadi Bapak-bapak Nak” balas Ibu meledekku.
“Ibu lagi ikut-ikutan,” ucapku
kesal.
Mereka
berdua pun tertawa.
“Siapa nama anakmu?”
tanyaku.
“Nugy,” jawabnya senang.
“Kenapa sama dengan
namaku?” tanyaku heran.
“Lah bukannya kau yang
menyuruhku jika aku punya anak nanti berilah namanya seperti namamu,” jawabnya.
Aku mencoba mengingat-ingat dengan apa yang dia katakan
itu. Aku memang pernah mengatakannya tapi aku hanya bercanda saja, ketika dia
sedang galau karena kekasihnya. Aku menghiburnya dan mengatakan kepadanya
tentang itu, agar dia semangat untuk Benar-benar menikahi gadisnya itu.
“Kau Benar-benar
melakukannya Sam,” ucapku heran.
“Ya iyalah, karna
berkatmu aku bisa menikah dengannya, jadi aku tak keberatan memberi nama anakku
sama denganmu,” balasnya senang.
“Nama panjangnya?”
tanyaku lagi.
“Nugy ananda putra,”
jawabnya.
“Oh syukurlah, ku fikir
lebih bagus dari namaku,” ucapku santai.
“Hahahaha kamu ini selalu
saja tak mau kalah,” balas Ibu sambil mengusap punggungku dengan lembut.
Kami pun melanjutkan pembicaraan kami tentang hal lain,
Sam memang bekerja sebagai supir dikeluargaku, lebih tepatnya sebagai supir
pribadi Ibuku. Tetapi aku dekat dengannya dan sering mengajaknya bermain ketika
Ibu tidak kemana-mana. Tapi itu dulu, disaat aku masih kuliah. Si sam ini sudah
bekerja sebagai supir Ibu ketika aku baru masuk kuliah. Dia tidak memiliki
nasib yang baik sepertiku makanya selulusnya Sma dia langsung bekerja sebagai
supir dikeluargaku. Ntah dari mana aku tak tahu.
Sedang Asik-asiknya bicara kami pun sampai di butik milik
Zulfa, tempat dimana pernah kacau atas ulahku. Aku tak tertarik mengingatnya
lagi, kami pun turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam toko itu.
“Ibu,” sapa seorang
wanita yang pastinya adalah Zulfa.
Kami pun menoleh kesumber suara itu.
“Aku sudah menunggumu
dari tadi,” sambungnya. Lalu dia menyalam tangan Ibuku.
Aku hanya berekspresi datar saja melihatnya, meskipun dia
menyapaku dengan senyuman manisnya itu.
“Besar sekali toko milikmu,” ucap Ibu
memujinya.
“Alhamdulillah Bu, kenapa
Ibu baru datang sekarang?” tanyanya.
“Aku menunggu anakku
untuk mengajakku, tetapi dia tak memiliki inisiatif,” jawab Ibu menyindirku.
“Oh ya, padahal dia sudah
main kesini kemarin. Aku juga kaget kenapa dia tidak bersama Ibu,” ucapnya lagi
sambil menatapku dengan senyumannya yang mengancam.
Aku semakin menatapnya tajam karena perkataannya itu, Ibu
pasti bakal protes kepadaku sehabis ini, aku segara mencari alasan untuk
menjawab pertanyaannya. Aku tak mungkin mengatakan kepada Ibu tentang kejadian
itu, Karena dia pasti akan sangat marah kepadaku jika dia tahu bahwa aku hanya
datang membuat kegaduhan ditoko orang.
“Kau memang kurang ajar Nugy,
Berani-beraninya kau tak mengajak Ibu,” protes Ibu kepadaku seperti yang sudah
aku perkirakan.
“Bu-bukan begitu Bu,”
belaku tergagap.
“Apa alasanmu kali ini?”
tanya Ibu tegas.
“Sudah lah Bu, tak enak
jika Ibu memarahiku disini,” jawabku.
“Memangnya kenapa, hanya
kita saja yang ada ditoko ini sekarang,” protesnya lagi.
“iya t—tapi.”
“Hahahaha, dia hanya tak
sengaja lewat Bu setelah mengadakan pertemuan bersama klientnya di dekat sini,”
potong Zulfa menenangkan ibu.
Aku menatap dia geram, meskipun dia membela ku dihadapan Ibu.
Tapi aku justru merasa dia sengaja mempermainkanku dihadapan Ibuku. Dia sudah
tahu kelemahanku.
“Benarkah?” tanya Ibu
kepadaku.
“I-ya bu, makanya jangan
asal marah aja dong,” jawabku kesal kepada Ibu.
Lalu aku menatap Zulfa yang juga melihatku sambil
tersenyum Seakan-akan dia memenangkan sebuah pertandingan. Aku jadi kesal
melihatnya. Aku menatapnya tajam.
Berani-beraninya
__ADS_1
dia mempermainkanku, ucapku dalam hati
“Hahaha, yasudah mari Bu,
biar aku tunjukkan Koleksi-koleksi bajuku,” ajak Zulfa kepada Ibu.
“Ayoo, kita tinggal saja
dia,” balas Ibu seakan marah padaku.
“Hahaha Ibu selalu saja
marah kepadanya,” ucap Zulfa sambil memegang erat tangan Ibu.
Mereka pun pergi meninggalkan aku untuk melihat
koleksi-koleksi baju yang ada dilam butik ini. Sedangkan aku masuk kedalam
ruang tamu dan duduk menunggu disitu. Ketika aku mengeluarkan satu rokok
milikku. Aku tak sengaja melihat sebuah tanda yang menyatakan dilarang merokok.
Jadi aku masukkan lagi rokok milikku kebungkusnya lalu ku sakukan.
Aku hanya menunggu berdiam sendiri seperti orang gila
saja. Aku menunggu lama sekali disini tanpa ada yang menemaniku, beginilah
kalau sudah menemani ibu berbelanja. Gak pernah cepat.
“Menyebalkan,” ucapku
kepada diriku sendiri.
“Siapa yang menyebalkan?”
tanya Zulfa yang tiba-tiba datang kearahku.
Aku menoleh kearahnya.
“Kau,” jawabku cuek.
“Hahaha, kau marah
denganku? Atas kejadian yang tadi?” tanyanya.
“Kau fikir aku akan
menerimanya?” balasku.
“Bagaimana jika Ibumu
benar-benar mengetahui itu?” tanyanya mengancamku.
“Kau fikir aku takut
dengan ancaman seorang wanita sepertimu. Lakukanlah biar ku tunjukkan kepadamu
betapa mengerikannya aku,” jawabku balik mengancamnya.
“Kau tak perlu menunjukkannya.
Aku sudah melihat betapa mengerikannya dirimu ini,” balasnya.
Aku hanya diam tak menjawab.
“Aku jadi paham kenapa
ibumu sering memarahi mu,” sambungnya.
“Bukan urusanmu.”
“Kau sepertinya salah
sangaka terhadapku Nugy,” ucapnya pelan.
“Aku tak peduli.”
“Oke, sepertinya kau tak
tertarik mendengarkanku.”
“Aku memang sedang tak
ingin mendengar apapun darimu.”
Dia tak menjawabku, dia hanya tersenyum penuh makna
kepadaku. Dan berhasil membuatku terdiam tak berkutik, emosi dalam hatiku
menghilang setelah melihat senyumannya itu. Meskipun aku tak tahu maksud dari
senyumannya itu tapi aku tahu bahwa dia memiliki maksud dari senyumannya itu.
Dia pergi meninggalkanku sendiri dengan perasaan hangat
dalam diriku yang Tiba-tiba hilang sepeninggalan dia. Aku mendadak merasa
menyesal atas apa yang kulakukan terhadapnya barusan.
Aku pun keluar dari butik itu untuk pergi merokok dan
bergabung dengan Sam yang menunggu di Pos Satpam.
“Loh kok keluar?” tanya Sam
kepadaku.
“Aku bosan didalam, kau
seperti tak tahu Ibu bagaimana. Malah ga boleh ngerokok lagi didalam,” jawabku
kesal.
“Hahaha kau memang anak
sultan yang paling aneh,” ucapnya menyindirku.
“Diam kau, aku bosan
mendengar perkataanmu itu.”
“Hahaha oke.”
Sam memang selalu mengatakan itu kepadaku, dan aku tak
tahu apa maksud dari perkataannya itu, jadi aku tak peduli, dan tidak
tersinggung juga.
Ketika aku sedang asik dengan rokokku aku melihat seorang
Security yang tak sengaja berapas-pasan sedang melihatku seperti orang yang
ketakutan.
“Ada apa?” tanyaku kepadanya.
Sam pun melihat kearahnya.
“Ti-tidak ada Apa-apa. Maaf,”
jawabnya ketakutan.
Aku dan Sam pun saling bertatapan heran melihat Security
itu.
“Kenapa?” tanya Sam
kepadaku.
“Mana ku tahu,” jawabku.
“Dia seperti takut
melihatmu,” ucapnya.
Aku tak menjawab. Aku hanya heran, yang ku ingat aku tak
pernah bertemu dengannya, apa lagi berurusan apapun dengannya.
“Ah sudahlah,” balasku
sambil menghisap rokokku.
“Bagaimana adikku
dirumah?” tanyaku pada Sam.
“Kenapa kau harus
menanyakannya kepadaku, datanglah lihat Adikkmu. Kau juga sudah lama tak
kerumah.”
Aku tak menjawab perkataannya, memang sudah lama sekali
aku tak pulang kerumah itu. Dan sudah lama juga aku tak melihat adikku,
meskipun aku tak akur dengannya, tapi aku selalu penasaran dengan bagaimana
perkembangan dirinya.
Sedang asik merokok tiba-tiba Sam berlari kearah butik,
aku hanya menoleh kearahnya yang berlari Tiba-tiba untuk membantu membawakan Barang-barang
bersama Zulfa.
“Sudah selesai kau dengan
rokokmu itu?” tanya ibu kepadaku.
“Sudah kok Bu,” jawabku
lembut.
Padahal
aku baru mengeluarkan satu batang rokokku yang baru, jadi aku membuangnya saja
dari pada Ibu menungguku karena hal ini.
“Ya sudah, ayo kita makan
siang,” ajak Ibu.
“Ayo,” balasku.
Kami pun berjalan duluan kemobil, sedangkan Ibu berjalan
berdampingan bersama Zulfa dibelakangku. Aku membukakan pintu mobil untuk Ibu,
dan dia masuk kedalam dengan Zulfa yang juga ikut masuk kedalam. Ini membuatku
heran.
“Kau kenapa masuk?”
tanyaku.
“Nugy, dia ikut makan
siang bersama kita,” jawab Ibu pelan.
“Ohhh.ya sudah,” balasku
lalu menutup pintu mobil.
Aku
duduk didepan saja, ucapku dalam hati.
“Loh kok didepan?” tanya Sam
kepadaku.
“Kenapa? Gak boleh? Ini
kan mobil Ibuku,” jawabku kesal kepadanya.
“Bukan begitu, aku kan
supir,” ucapnya.
“Ya sudah. kalau begitu
jalankan mobilnya, aku sudah lapar,” balasku
“Hahahaha” Ibu dan Zulfa
tertawa.
“Kenapa jadi tertawa?”
tanyaku.
“Lu aneh sih” jawab Sam.
“Apa yang aneh, gua cuma
duduk. Lu aja yang aneh,” balasku
“Ah Sudah-sudah. jalankan
saja Sam,” suruh Ibu menengahi kami.
Sam pun menurut lalu menjalankan mobil.
Kami pergi untuk makan siang bersama. Ibu dan Zulfa
sedang asik bercerita berdua dibelakang. Sedangkan aku hanya diam saja didepan.
Aku heran kenapa Zulfa juga harus ikut bersama kami, padahal aku lagi sangat
kesal kepadanya. Ini pasti ulah Ibu yang mengajaknya untuk ikut, dan aku mana
mungkin bisa memprotes Ibu. Mau tak mau aku hanya bisa mengikuti saja dari pada
harus dimarahi lagi.
Mobil berhenti disuatu restoran yang tak begitu jauh dari
toko milik Zulfa tadi, dia menunjukkan tempat ini, dan kami menurut saja,
karena katanya disini makanannya Enak-enak.
Aku
pun turun terlebih dahulu dari mobil. Sedangkan mereka berjalan pelan
dibelakangku. Ibu juga asik dengan Zulfa saja, jadi aku tak perlu khawatir
meninggalkannya.
Ketika aku memasuki restoran Tiba-tiba ada seseorang yang
memanggilku dari depan., dan aku melihatnya. Ternyata dia Romi teman Sma ku
dulu.
“Wah udah lama banget,”
ucapnya sambil mengajakku bersalaman.
Aku hanya diam lalu merespon salamannya itu.
“Kau sama siapa?”
tanyanya.
“Sama keluargaku,”
jawabku datar.
Romi
adalah musuh bebuyutanku. Aku tak suka dengannya karena sering membohongiku Berkali-kali.
Aku bahkan pernah hampir menghancurkannya sepulang dari sekolah karena ulahnya
yang membohongiku atas suatu hal. Tapi Ibu langsung menarikku, aku juga heran
kenapa hari itu Ibu datang menjemputku kesekolah, karena hal itulah Romi jadi
takut denganku.
“Ya elah, lu masih aja
kaya dulu.”
“Lu ngapain disini?”
tanyaku.
“Lah inikan restoran
punya gua,” jawabnya.
Aku melihatnya tak yakin, bukan karena aku meremehkannya.
Tetapi karena dia sering berbohong kepadaku.
“Lu gak percaya?”
tanyanya.
“Gua bukan orang yang gampang
lu bohongin sekarang,” jawabku datar.
“Hahahaha gua gak bohong
kok.”
Lalu aku hanya diam. hingga mereka yang dibelakangku tadi
sudah berada disampingku.
“Zulfa,” sapa Romi heran.
“Kenapa Rom?” tanya Zulfa
santai.
“Lu kenapa bisa sama
dia?” tanya Romi heran sambil menunjuk aku.
“Lah lu kenal dia?” tanya
__ADS_1
Zulfa heran sambil menunjukku.
Aku puh jadi ikut heran karena mereka berdua ini.
“Aku kesini ingin makan
siang bersama Ibuku, berhentilah Membuang-buang waktu kami,” ucapku datar
kepada mereka berdua.
Aku pun membawa Ibu yang juga heran karena mereka. Kami
duduk diruangan vip direstoran ini agar Ibu tak gerah karena kepanasan. Mereka
berdua pun menyusul mendekati kami. Zulfa juga duduk disamping Ibu, tapi si Romi
kenapa dia jadi malah ikutan.
“Lu ngapain kesini,”
protesku kepada Romi.
“Gua masih bingung, jadi
gua mau mastiin,” balas Romi.
“Mastiin apa sih lu,”
kesalku.
“Lu kok bisa sama Zulfa?”
tanyanya heran.
“Yaudah, gua sama Ibu
main ketokonya dan sekarang kami makan siang bersama, direstoran yang gua ga
tau ada lu nya disini, kalau gua tau ga bakal gua kesini,” jawabaku kesal.
“Nugyyyyy,” tegur Ibu
menasehatiku.
“Iya buk.”
“Kau membuat aku semakin
lapar saja. Jika memang kau pemiliknya lebih baik kau sajikan menu terbaik yang
ada disni,” kataku kepada Romi.
“Yauda mending lu nurut
aja Rom,” sambung Zulfa.
Mungkin dia paham bahwa aku sedang sangat kesal sekali
saat ini, dari pada dia harus melihatku menggila direstoran ini sebaiknya dia
membantuku mengusir si Romi ini.
“O-oke.”
Lalu dia pergi meninggalkan kami.
Aku sangat kesal, pertama kau harus bertemu dengan wanita
ini lagi, kedua aku justru harus pergi makan siang bersamanya, dan yang ketiga
justru bertemu lagi dengan sikampret Romi ini.
ah lengkap sudah
penderitaaan ini, ucapku dalam hati.
“Kau tak boleh begitu
Nugy” Ibu menaseatiku halus.
“Aku kesal melihatnya.”
“Kenapa kau kesal, emang
dia siapa?” tanya Ibu.
“Dia Romi teman sma ku
dulu, yang pernah hampir ku hancurkan jika Ibu tak datang meleraiku pada saat
itu” jawabku.
“Ooh, iyaya Ibu baru ingat
sekarang,” ucap Ibu.
“Lebih baik aku memang
menghancurkannya saja saat itu. Ibu sih menganggu ku saja” kesalku.
“Kau fikir aku senang
jika melihatmu menghancurkannya?” tanya Ibu marah.
Aku hanay terdiam sambil bertanya-tanya didalam hatiku,
kenapa Ibu jadi marah kepadaku? Dan dia selalu saja marah dihadapan wanita ini.
Aku mendadak jadi kesal dengan ibuku.
“Sudahlah Bu, satu hari
ini Ibu sudah sering memarahiku. Sampai aku tak punya harga diri dihadapan
wanita ini,” jawabku kesal sambil menunjuk Zulfa yang ada disamping ibu.
Mereka pun terdiam melihatku yang sedang marah. Aku jadi
merasa tak nyaman disini. Sebaiknya aku keluar sebentar.
“Aku ketoilet sebentar,”
sambungku dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku pergi keluar restoran ini untuk menghabiskan satu
batang rokokku, banyak hal yang membuatku kesal hari ini. ku fikir tuhan memang
benar-benar ingin mengujiku sekarang. Perlahan-lahan harga diriku terkikis seiring
berjalannya waktu.
Sebaiknya memang aku tak
pernah mengenal wanita itu, Ucapku dalam hati.
Aku yakin sekarang Ibu pasti sedang menunjukkan
kesedihannya dihadapan wanita itu, dia memang selalu saja bisa membuatku dan Ibuku
terlihat menyedihkan dihadapannya. Lebih baik aku segera masuk kedalam dari
pada Ibu menunjukkan kerapuhannya dihadapan wanita itu.
Setelah rokokku habis aku pun masuk kembali kedalam, aku
melihat Sam sedang asik dengan makanannya, dia duduk sendiri diluar ruangan
vip, dia tak pernah mau bergabung dengan kami. Katanya tak pantas seorang supir
makan bersama majikannya. Padahal aku dan Ibu tak memperdulikan hal-hal yang
seperti itu. Tapi biarlah, sudah prinsip dia yang seperti itu, dan kami hanya
bisa menghargainya.
Aku
pun masuk kedalam ruangan itu dan duduk ditempat yang tadi. Aku melihat Ibu
sedang tersenyum melihatku. Aku melihat makanan ini seperti sudah dihidang dari
tadi, tapi kenapa masih belum disentuh. hal ini membuatku heran.
“Kenapa belum dimakan?”
tanyaku pada Ibu.
“Ibu menunggumu,”
jawabnya dengan tersenyum.
Aku menatap Ibu luluh, Ibu memang selalu saja bisa
membuatku luluh ketika sedang marah. Aku juga merasa bahwa Ibu sudah tak marah
lagi kepadaku.
“Yaudah ayo kita makan,”
ajakku sambil membalas senyuman Ibu.
Kami bertiga pun makan tanpa berbicara sedikit pun, Ibu
juga tak menanyakan kenapa aku lama dari toilet. Kurasa Ibu sedang memahami
kondisi hatiku. Aku jadi merasa bersalah karena sudah marah kepada Ibu tadi.
“Maafkan aku Bu,” ucapku
kepadanya.
“Tidak apa-apa, Ibu yang
seharusnya tak terlalu banyak memarahimu,” balas Ibu tersenyum kepadaku.
Lalu aku pun membalas senyumannya, dan kemudian menatap Zulfa
yang juga sedang melihatku. Meskipun aku sedang kesal dengannya tapi seharusnya
aku tak terlalu berlebihan dengan mengucapkan perkataan yang menyakiti hatinya.
Aku pun tersenyum kepadanya.
Setelah menghabiskan makanan kami masing-masing, aku pun
mengajak mereka untuk pulang, karena hari juga sudah mau sore. Aku tak mau Ibu
kemalaman pulang kerumahnya.
“Ayo kita pulang,”
ajakku.
Mereka pun mengangguk.
Aku berjalan duluan menuju kasir untuk membayar. Kemudian
kami berjalan masuk kedalam mobil dengan posisi duduk yang seperti tadi.
Berbeda dengan ketika kami berangkat tadi, kini kami justru saling diam. Ku
rasa aku sudah membuat suasana menjadi buruk. Tapi aku diam saja memendam rasa
bersalahku sendiri.
Sebelum kembali kekantorku, kami mengantarkan Zulfa
terlebih dahulu ketokonya.
“Makasih ya Bu,” ucapnya
kepada Ibu sambil menyalam tangannya.
“Iya nak, maaf ya,” balas
Ibu sambil tersenyum kepada Zulfa.
Dia pun hanya tersenyum mengangguk, lalu menatapku
sebentar. Aku hanya melihatnya dari kaca depan. Lalu dia turun dari mobil, dan
Sam menjalankan mobil dengan pelan. Ntah kenapa ketika mobil ini bergerak aku
jadi merasa tak ingin pisah dari wanita yang menyakiti hati ku itu. Aku
benar-benar merasa tak enak atas sikap ku padanya.
“Berhenti dulu,” ucapku.
Sam pun menghentikan mobil yang masih bergerak sedikit
dari tempat Zulfa turun tadi, aku pun turun untuk menyusulnya. Dia heran
melihatku yang sedikit berlari kearahnya.
“Ada apa?” tanyanya
lembut.
Aku menatap dirinya dengan parasnya yang cantik ini, aku
menjadi merasa sangat bersalah kepadanya, meskipun menurutku dia sudah
menyakitiku tapi itu bukan salahnya, tapi itu karena salahku sendiri yang
mencintai dia sebelum memastikan bahwa dia sudah kepunyaan orang lain.
“Maafkan aku,” jawabku
lembut.
“Kau mengejarku hanya
untuk mengatakan itu?”
“Iya.”
Lalu kami terdiam saling menatap. Dia memang sangat
cantik. Perasaan yang ingin ku buang itu perlahan muncul kembali dalam hatiku.
Tapi seketika aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa mendapatkannya. Aku tak
boleh lama-lama menatapnya.
“Yasudah aku pergi dulu,”
ucapku kepadanya.
Lalu
melangkahkan kaki ku meninggalkannya.
“Nugy,” panggilnya.
Aku pun menghentikan langkahku dan menoleh kepadanya.
“Ada apa?” tanyaku pelan
“Aku senang,” jawabnya
sambil tersenyum.
Aku terdiam mendengarnya sambil menatapnya lama meskipun
aku sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataannya itu.
“Hati-hati” sambungnya.
Kami saling melemparkan senyum, dan aku pun pergi masuk
kemobilku lalu duduk disamping Ibuku.
Ibu hanya mentapku sambil tersenyum kepadaku.
“Ada apa Bu?” tanyaku.
“Tidak ada, aku hanya
senang melihatmu,” jawabnya.
Lalu kami pun pergi dari tempat itu.
Didalam mobil kami hanya diam, karena Ibu tak mengajak
kami bicara, biasanya dia yang selalu mengajak bicara duluan, kurasa dia sangat
kelelahan hari ini, aku pun tak ingin mengajaknya bicara, hingga kami sampai
dikantorku. Aku pun turun dari mobilku, aku melihat Ibu yang hanya berdiam diri
ditempat duduknya.
“Gak mampir kerumah dulu Bu?”
tanyaku.
“Ibu langsung saja.”
“Ooh yaudah, Hati-hati Bu,”
ucapku sambil menyalam tangannya.
Dia hanya tersenyum. Aku pun menutup pintu mobilnya dan
mereka pun langsung pergi meninggalkanku dikantor.
Aku berdiri menatap kearah mobil Ibu yang sudah pergi
meninggalkanku, hari ini aku sudah melukai hati Ibuku, dan juga Bidadariku. Aku
selalu bisa memaklumi kenapa aku bisa tak berdaya dihadapan Ibu, Tetapi aku tak
mampu memahami kena aku juga tak berdaya dihadapan Zulfa, meskipun hatiku sakit
karena nya.
Hari
ini, ntah apa yang sudah terjadi kepadaku. Ketika aku sudah tak ingin bersama
wanita itu, tetapi masih saja aku dipertemukan dengannya. Aku tak paham dengan
apa yang sedang direncanakan tuhan terhadap takdirku, Aku merasa tuhan seakan
sedang mempermainkanku. Tetapi Apapun itu aku hanya berharap agar tuhan menemukan
ujung dari takdir yang sedang ku alami ini.
Maaf
__ADS_1
kan aku Bu. maafkan aku Zulfa. Maafkan aku, ucapku dalam hati.