Belantara

Belantara
DETIK-DETIK


__ADS_3

Hari ini aku memutuskan


untuk dirumah saja, aku juga sudah menghubungi Dewi untuk tidak bisa masuk hari


ini, karena badanku serasa sangat sakit, kepalaku juga masih terasa pening,


akibat kejadian tadi malam. Bahkan dikasurku aku tak sadar antara pingsan atau


tidur.


            Aku berjalan menuju meja makan, aku sangat lapar karena jam


sudah menunjukkan pukul 11.00, dan tadi pagi aku juga tak sarapan karena sangat


malas untuk bangkit.


“Ya ampun, kenapa bisa


bonyok begini,” pekik si Mbok panik saat melihatku.


“Tidak apa Mbok, aku


hanya jatuh” balasku.


“Yaudah sini Mbok obtain.”


“Nanti saja mbok, aku


ingin makan dulu.”


“Yasudah biar disiapin


dulu ya Den.”


            Aku hanya mengangguk lalu duduk dikursi meja makan sambil


menunggu si Mbok menaruh semua makanan yang sudah dimasaknya.


            Setelah dia menyiapkan semuanya, aku langsung makan


dengan lahap, mungkin karena aku tak makan dari semalam, karena sesudah mandi


aku langsung kerumah Bidadariku dan tak sempat makan.


Ah nikmat sekali, ucapku


dalam hati.


            Setelah aku menhabiskan makanku, aku memutuskan untuk


duduk di sofa ruang menonton TV rumah ku, dengan segelas kopi yang sudah dibuat


oleh si Mbok, meski sudah dingin tapi aku tetap meminumnya. Aku mengeluarkan


sebatang rokokku lalu ku hisap.


            Aku mengambil ponselku lalu membuka camera untuk melihat


keadaan wajahku saat ini, lebamnya tidak terlalu banyak seperti saat aku


dikroyok oleh mereka di butik milik Bidadariku.


            Aku mengingat kejadian tadi malam, dimana aku meluapkan


semua emosiku dan menghancurkan pria itu bersama rombongannya, hasrat


bertarungku sudah terasa sangat lepas atas kejadian semalam.


“Gimana keadaan lu” ucap Dewi


yang Tiba-tiba datang.


            Aku melihatnya yang berada dibelakangku, lalu dia duduk


disampingku.


“Udah enakan kok,”


balasku.


            Dia menarik nafas melihatku lalu menggelengkan kepalanya.


“Lu sama siapa?” tanyaku.


“Sendiri, habis dari


kantor gua kesini,” jawabnya.


            Aku mengangguk paham.


“Gua udah tau ceritanya,”


ucapnya kepadaku.


“Baguslah, jadi gau ga


perlu repot lagi.”


“Yee elu mah,” ketusnya


sambil mencubit lenganku.


“Hahaha, lu berdua kenapa


bisa datang semalem?” tanyaku.


“Gua ada di café tadi


malam sama si Monyet, terus kita neglihat elu naik motor kenceng banget. Ya


kita berdua langsung ngikutin elu, meskipun sempat ilang jejak tapi kita


berhasil sampai nemuin lu,” jawabnya.


            Aku pun mengangguk paham.


“Kenapa lu ga cerita ama kita


Gy?” tanyanya pelan.


“Gpp, gua berfikir gua ga


perlu ngelibatin lu berdua,” jawabku santai.


“Lu ga percaya ama kita?”


“Gua percaya kok, tapi


gua ngerasa ga punya waktu buat jelasin semuanya ama lu berdua,”


            Dia hanya diam tak menjawab. Aku jadi merasa tak enak


karena dia merasa aku tak mempercayai mereka berdua.


“Maafin gua ya,” ucapku


pelan.


“Iya gpp Gy, yang penting


kedepannya lu ga boleh nyembunyiin lagi dari kita.”


“Oke, sampai urusan buang


hajat gua, juga bakal gua kasih tau amau lu berdua.”


“Yee kampret lu.”


“Hahahaha.”


            Dewi pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan


kedapur. Sedangkan aku masih duduk di sofa depan TV. Dia kembali dengan


membawakan air hangat dan kain untuk mengompres lebam yang ada diwajahku.


“Sini biar gua kompres.”


            Aku pun hanya mengangguk.


            Dia pun mengompres lukaku dengan perlahan, dan aku


menatap dirinya. Aku sangat beruntung memiliki dewi sebagai sahabatku. Dia


sangat ikhlas memperhatikanku. Aku pun tersenyum menatapnya, dan dia menyadari


itu.


“Apaan lu senyum-senyum,”


ketusnya.


“Yee biarin aja.”


            Dia mengeluarkan obat salep penghilang rasa nyeri dari


tas miliknya, lalu dia mengoleskannya kelebam yang ada diwajahku, dan disaat


dia mengoles lukaku dengan cream penghilang rasa nyeri, Tiba-tiba Rojali datang


bersama Zulfa bidadariku.


“Woi!!!, malah Mesra-mesraan


pula kalian,” pekik Rojali.


            Sontak aku dan Dewi kaget, dan saling bergerak menjauh


dari tempat duduk kami. Aku melihat bidadariku menatap kami berdua dengan


tatapan yang tak bisa ku jelaskan.


“Apaan sih lu, gua ngolesin


ini juga,” balas Dewi kesal kepada Rojali.


            Aku masih menatap bidadariku yang sedang berdiri kaku.


“Zulfa, sini duduk,” ucap


Dewi menyuruhnya duduk disampingku.


            Aku hanya diam dan melihatnya yang menurut untuk duduk


disampingku. Dan dia menatapku malu.


“Bagaimana kau bisa


datang kesini?” tanyaku kepadanya.


            Dia tak menjawab, sepertinya dia sedang canggung dan


malu. Rojali pun sadar akan hal itu.


“Dia datang ke café


nanyain kau, ya ku bilang aja kau dirumah lagi istirahat, jadi dia ngajak aku datang


kerumah kau ini,” jawab Rojali.


            Aku menatap bidadariku, aku merasa tersanjung dengan


dirinya yang Mencari-cariku, sampai datang ke café lagi.


“Bagaimana lukamu?” tanya


zulfa kepadaku.


“Aku baik, Dewi sudah


mengobatinya…”


“Kau tak perlu datang


menemuiku fa, dan kau tak perlu merasa kasihan terhadap aku,” sambungku.


            Dia hanya terdiam medengar ucapanku. Aku memang merasa


kehadirannya datang hanya untuk melihat keadaan ku yang terluka akibat kejadian


semalam, dan aku tak suka dia datang hanya untuk itu.


“Oh yasudah, aku pulang


saja,” ucapnya dengan nada kecewa.


            Dia pun bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan


kami bertiga. Dewi dan Rojali menatapku kesal.


“Bodoh kali kau memang,”


ketus Rojali kepada ku.


            Aku hanya diam tak meresponnya. Dewi pun bangkit dan


mengejar Zulfa yang sudah pergi duluan.


“Aku cuma ga suka dia


datang kesini cuma buat menaruh rasa kasihan samaku.”


“Dia itu nyariin kau


sampai ke café lho. Dan bukan ada niat ngasihani kau, dia itu cuma khawatir sama


kau.”


“Itu sama saja.”


“Gengsi kau ini yang buat


aku gak habis pikir samamu.”


            Aku hanya diam tak menjawab.


“Salah emang dia datang


buat jenguk kau?” tanyanya padaku.


            Aku masih diam tak menjawab.


“Woi kau jawab aku,”


            Aku masih tak menjawab dan menatapnya tajam.


“Apa? Mau kau pukul aku?”


tanyanya.


“Diam saja kau,” jawabku


mulai kesal.


“Siapa yang kau suruh


diam,” ucap seorang wanita yang Tiba-tiba datang mendekat kearah kami.


            Dia merangkul Zulfa bersamanya dan diikuti oleh Dewi yang


ikut berjalan mengikuti mereka dari belakang. Dia adalah Ibu yang Tiba-tiba


datang kerumahku. Dengan kondisiku sekarang yang penuh dengan lebam dan sudah


membuat Zulfa kecewa atas sikapku, aku pasti akan dimarahi oleh Ibu.


“Keras kepala mu ini yang


gak pernah hilang.”


            Aku hanya menunduk tak berani menatap Ibu yang tengah


siap memarahi ku lagi kali ini, dia duduk disampingku dan Zulfa disampingnya.


“Mau sampai kapan kau


begitu?” tanya ibuk.


“Aku hanya tak suka dia


kasihan terhadapku.”


“Dia hanya khawatir


padamu, lagian dengan kondisi mu yang begini kau memang pantas untuk dikasihani,”


ucap Ibu.


            Aku hanya terdiam pasrah.


“Liatlah dirimu ini,


seperti pecundang saja,” sambungnya.


“Cukup buk,” ucap Zulfa menegahi

__ADS_1


Ibu.


            Aku hanya melihatnya yang sedang memegang tangan Ibuku seakan


tak ingin melihatku dimarahi lebih dari ini.


“Kau lihat dia?” tanya Ibu.


“Bahkan setelah apa yang


kau lakukan dia masih membelamu” sambungnya.


“Iya, maafkan aku,”


ucapku.


            Aku memang merasa bersalah atas sikapku kepada Bidadariku,


dan Orang-orang di sekitarku pun tak ada yang membenarkan sikapku, jadi aku harus


mengakui kesalahanku.


“Ya sudah, mandilah, aku


ingin mengajak kelian berdua pergi,” ucap Ibu mengatakan aku dan Zulfa.


“Mau kemana buk?”


tanyaku.


“Mandi saja” jawab ibuk.


            Aku pun menarik nafasku dalam dan ku hembuskan, lalu aku


bangkit dan pergi menuju kamarku untuk mandi lalu bersiap untuk segera pergi


bersama mereka berdua, ntah kemana aku tak tahu.


            Setelah selesai aku langsung turun kebawah menemui


mereka, aku melihat Dewi dan Rojali sudah tak ada. Mereka pasti sudah kembali


untuk bekerja lagi.


“Aku sudah siap,” ucapku.


“Yasudah, ayo kita pergi,”


balas ibu.


            Kami bertiga pun pergi menggunakan mobil Ibu, aku duduk


disamping Sam, sedangkan Ibu dan Zulfa ada dibelakang duduk berdampingan.


            Dijalan, Ibu dan Zulfa asik bercerita berdua, sedangkan


aku hanya diam tak bersuara. Lalu aku menghidupkan audio mobil dan mebesarkan


volumenya.


“Kecilkan nak,” ucap Ibu.


“Aku sudah lama tak


mendengar musik Bu,” balasku.


“Ya tapikan Ibuk sedang


bicara.”


“Memangnya kita mau


kemana?” tanyaku.


“Aku ingin mengajak


kalian makan siang,” jawab Ibu.


“Astaga, aku sudah makan Buk


dan masih sangat kenyang.”


“Ya ibuk tak menyuruhmu


makan, Ibu hanya mengajakmu untuk ikut.”


“Untuk apa aku harus ikut.”


“Ya kamu fikir siapa yang


akan membayar makan siang kami nanti.”


            Aku menatap ibu kseal, dengan kondisi fiski ku yang


seperti ini, aku hanya diajak untuk membayar makan siang mereka, Ibu memang


ada-ada saja.


“Kau keberatan?”


tanyanya.


“Aku tidak keberatan buk,


aku kan bisa memberi uangnya saja, dan tak perlu ikut.”


“Sudahlah, toh kamu sudah


ikut sekarang.”


            Aku pun hanya diam dan tak berbicara lagi.


            Aku pun mengecilkan volume musiknya, dan membiarkan mereka


berdua berbicara sepuasnya. Sesekali aku dapati mata Bidadariku yang berpas-pasan


denganku saat melihatnya dari kaca depan.


Kau memang sangat cantik


bidadariku, ucapku dalam hati.


            Setelah agak lama dalam perjalanan, akhirnya kami sampai


direstoran yang pernah kami singgahi dulu saat pertama kali aku bersama Ibuk


mampir di butik milik Zulfa.


Aku pasti akan bertemu


dengan si Romi itu lagi, ucapku dalam hati.


            Kami pun masuk kedalam, dan seperti yang ku duga, Romi


pun datang menghampiri kami, tetapi aku tak memperdulikannya dan langsung


berjalan menuju tempat makan kami waktu itu. Ibu dan Zulfa pun mengikutiku. Dan


si kampret Romi juga malah ikut lagi.


“Lu kenapa sih ngikutin


terus,” ucapku kesal kepadanya.


“Lah lu kenapa sensian


mulu ama gua?” tanyanya.


“Gua kesini mau makan,


bukan mau ngobrol ama lu,” jawabku.


“Hidang menu yang kemarin


aja Rom, untuk dua orang ya,” ucap Zulfa kepadanya seakan memahami kekesalanku.


“Oh oke,” jawab romi dan


langsung pergi meninggalkan kami.


            Aku hanya menatap Ibu yang sedang menggelengkan kepalanya


melihat sikapku.


“Tak bisa kah kau akur


dengannya?” tanya Ibu.


“Aku tak suka akur dengan


“Itukan sudah lama nak.”


“Walaupun, kurasa itu


sudah mendarah daging dalam dirinya.”


            Ibu pun hanya diam berusaha memaklumi diriku.


            Karena justru Ibulah yang mengajarkan aku untuk tidak


mudah mempercayai orang lain yang bahkan sudah pernah berbohong kepadaku. Jadi


tentu saja aku melakukan itu kepada Romi.


“Jadi bagaimana respon


keluargamu atas kejadian kalian tadi malam?” tanya Ibu kepada Zulfa.


“Mereka kecewa denganku


karena aku memendamnya sendiri selama ini, tetapi mereka tidak memarahiku,” jawabnya.


“Kau memang gadis yang


kuat,” ucap Ibu sambil membelai rambut bidadariku.


“Tidak buk, aku gadis


hanya diselamatkan oleh anakmu,” balas Zulfa mengatakan diriku.


            Aku hanya menatap mereka berdua yang sedang melihat


kearahku.


“Kenapa?” tanyaku kepada


mereka berdua.


“Dasar pria kaku,” jawab


Zulfa kepadaku.


“Enak saja kau,” balasku


kepadanya.


“Hahahaha Sudah-sudah,


malah berantam,” ucap Ibu menengahi kami.


            Pelayan pun datang mengantar pesanan kami, Ibu dan Zulfa


pun langsung makan, sedangkan aku hanya melihat mereka berdua makan, kami tak


berbicara sama sekali. malah ditempat ini tak boleh merokok lagi.


            Sesekali aku melihat bidadariku yang sedang asik dengan


makanannya, dan dia juga melihatku, lalu aku tersenyum nakal kepadanya. Hal itu


berhasil membuat dia terlihat salah tingkah.


“Hentikan tatapanmu itu,”


ucapnya kepadaku.


            Aku hanya tertawa mendengarnya, sedangkan Ibu heran


melihat kami berdua.


“Jangan ganggu dia nugy,


dia lagi makan,” Ibu mengingatkanku.


“Hahahaha, aku hanya


heran kenapa dengan makan sebanyak itu dia masih saja tidak tumbuh besar,”


balasku meledeknya.


“Terserahku, dari pada


kau yang sudah berumur masih saja mengganggu gadis yang jauh lebih muda darimu,


apa kau tak malu?” balasnya meledekku.


            Sontak aku terdiam dan menatapnya kesal. Berani-beraninya


dia meledekku dengan cara seperti itu.


“Hahaha kau terdiam Nugy,”


ledek Ibu kepadaku.


“Habiskan saja makananmu


nak, tak usah pedulikan pria tua ini,” sambung Ibu kepada Zulfa.


            Aku juga ikut kesal melihat ibuku.


            Kami pun terdiam, dan aku sudah tak mengganggu bidadariku


lagi, dari pada aku yang akan malu sendiri, tampaknya sifatnya tidak seperti


umurnya itu, dia selalu bisa melakukan apa saja yang berhasil membuatku mati


kutu.


            Setelah merea berdua sudah menghabiskan makanannya, kami


kembali berbicara. sedangkan aku hanya mendengar mereka berdua saja. Hingga ada


sesuatu pembicaraan mereka yang menarik perhatianku.


“Aku ingin menanyakan


sesuatu kepadamu,” ucap Ibu serius.


            Zulfa hanya diam menatap Ibuku dengan serius.


“Apa kamu sudah punya


pasangan?” Tanya Ibu.


            Zulfa terdiam sambil menatap Ibuk dan aku. Aku jadi


merasa tak enak atas dirinya, jadi aku berusaha membantunya.


“Bu, itu prifasi dia, ga


perlu ditanya,” jawabku kepada Ibu.


“Aku hanya bertanya saja,


maaf kalau itu membuatmu menjadi tak nyaman,” ucap Ibuk kepada Zulfa.


“Tidak Apa-apa Bu, aku


tidak keberatan,” balasnya.


            Ibu hanya diam sambil tersenyum.


“Aku tidak memiliki


pasangan,” sambungnya.


            Aku yang sebelumnya sudah tau jawaban itu hanya diam


tanpa bereaksi.


“Sungguh? Gadis secantik


dan setangguh kamu tak memiliki pasangan?” tanya Ibu memastikan.


            Dia hanya mengangguk.


“Apa tak ada lelaki yang berusaha


mendapatkanmu?” tanya Ibu lagi.


            Dia terdiam dan melihat aku lembut.


“Ada kok Bu, tetapi tak


ada yang membuatku tertarik,” jawabnya santai.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan


anakku? Apa kau tertarik dengannya?” tanya Ibu lagi.


            Hal itu membuat aku yang sedari tadi diam langsung


bereaksi kaget, begitu juga dengan Zulfa. Ibuku selalu saja berbicara semaunya,


gak pernah peduli dengan orang disekitarnya.


“Hahaha, kalian kompak


sekali, tidak perlu kaget Ibu hanya bercanda,” sambung Ibu.


“Kau tau nak?” tanya Ibu


kepada Zulfa.


            Dia hanya melihat seakan bersiap mendengarkan Ibuku


melanjutkan pembicaraan.


“Aku sangat ingin melihat


anakku ini datang membawa pasangannya kepadaku, tetapi hingga kini tak kunjung datang,


aku jadi khawatir dia besar tanpa kasih sayang seorang wanita selain aku,”


sambung Ibu dengan lembut.


“Aku hanya belum


menemukan Bu, tidak usah kita bahas tentang wanita,” balasku kesal


“Kau tau Zulfa, dia tidak


pernah mengenal cinta sejak dulu, bisakah kau mengajarinya? Ibu lihat kamu


cocok untuk menjadi gurunya” ucapnya kepada zulfa.


Dia


hanya terdiam terpatung mendegar ucapan ibuku, aku paham betul maksud dari


perkataan Ibu, tetapi aku tak suka dengan cara Ibu yang seakan terlihat


mengemis agar dia bersedia menjadi kekasihku.


“Ibu gak boleh begitu,


aku sudah besar, tak pelu mengurus urusan percintaanku,” balasku yang mulai


kesal.


“Tenang nak, itu hanya


harapan ku saja, selebihnya itu terserah kalian. Aku hanya tak mau melihat


anakku tersakiti oleh wanita, dan aku melihat kamu adalah wanita yang tidak


sanggup menyakiti siapapun. Bahkan wanita tua sepertiku.” Ucap Ibuk kepada Zulfa


Ibu


mengatakannya dengan segenap perasaan yang mengalir dalam dirinya, aku


merasakan sebuah kesedihan yang tak aku ketahui darinya. Ibu berhasil membuatku


terdiam dan hanyut dalam perkataannya.


Aku


mengetahui bahwa dia sedang menyimpan rasa sakit dalam hatinya. Aku tak tahu


hal apa itu, yang pasti aku memang harus segera mengetahui apa dibalik semua


kesedihan yang dipendam oleh Ibuku selama ini.


Bidadariku


masih terdiam, dia pasti merasakan hal yang sama sepertiku. Dan aku yakin dia


merasa tersudutkan karena ucapan Ibu barusan. Aku tidak tau harus berespon


seperti apa.


“Aku akan bersedia buk


jika Nugy mengatakannya kepadaku” ucapnya kepada ibuk.


Hal


ini membuatku ku kaget seketika, aku tak habis fikir, dia benar-benar gila


sampai segitunya kah dia menghargai perasaan Ibuku hingga rela mengobankan


dirinya untuk ku miliki.


Dalam


satu sisi aku senang mendengar jawabnnya, namun disisi lain aku merasa malu


atas itu, Karena sebagai lelaki aku sangat tidak terima jika dia menerimaku


hanya karena menaruh rasa simpati kepada Ibuku, aku menjadi ingin marah namun


aku tak sanggup jika itu harus didepan Ibu. Aku menatapnya dengan tajam. Dan


dia juga tak berpaling dari tatapanku, dia justru menatapku santai.


Tiba-tiba


ponsel Ibuk berbunyi dan dia keluar sejenak untuk menelfon, dan kurasa ini


kesempatanku untuk meluapkan semuanya.


“Apa yang sedang kau


fikirkan tentang ini,” ucapku marah kepadanya.


“Kau marah Nugy?


Denganku, atau justru Ibumu?” balasnya menantangku.


“Aku tidak akan


membiarkan itu terjadi hanya karena kau berempati kepada Ibuku.”


 “Lalu, apakah kau sanggup menjawab perkataan Ibumu?


kenapa kau hanya diam? Sebagai anak lelaki yang dibanggakannya kau sendiri tak


paham tentang bagaimana perasaan yang dipendam oleh Ibumu. Aku sangat yakin Ibumu


menyimpan sesuatu rahasia yang tidak ingin kau tahu, kau sangat sibuk dengan


urusanmu Nugy, tanpa kau sadar bahwa sebenarnya dirimu adalah milik Ibumu,” balasnya


dengan tegas kepadaku.


            Lagi-lagi aku pun diam tak berkutik mendengar ucapannya. Yang


dia katakan itu benar, kalau saja aku tak sibuk dengan pekerjaanku, dan kalau


saja aku tak sibuk dengan ambisiku, dan kalau saja aku tak meninggalkan


rumahku, aku pasti tahu semua masalah yang sedang terjadi, dan kondisi ini


pasti tidak akan terjadi.


“Meskipun begitu aku tak


suka kau melakukannya atas dasar itu. Ibuku wanita kuat yang tak pantas menerima


rasa empati darimu.”


“Aku tau Ibumu sangat


kuat, bahkan baru beberapa kali bertemu dengannya aku sudah sangat mengagumi Ibumu,


dan sama sekali aku tidak menaruh perasaan kasihan kepadanya. Dia berharap


banyak padamu, dan untuk itu apakah kau tak sanggup menyanggupi semua


permintaanya? atau justru harga dirimu lebih penting dari perasaan ibumu?”


jawabnya tenang.


“Kau tak perlu


mengobankan dirimu,” balasku lirih.


“Tidak ada yang ku


korbankan dalam diriku, aku hanya perlu mendampingimu dihadapan Ibumu, jika kau


memang keberatan denganku, aku akan berjanji untuk tidak mencintaimu,” ucapnya


tegas.


Dia


sangat mudah mengatakan apapun semaunya, gadis ini sama sekali tak menghargai


diriku, dan perasaanku terhadapnya. Mana mungkin aku ingin bersama dia tanpa mendapatkan


cinta darinya. Aku tak suka hubungan yang seperti itu, sepertinya aku tak


memiliki cara lain selain mengatakan perasaanku yang sebenarnya terhadap dirinya.


Aku memutuskan untuk mengatakan perasaanku sekarang.


Aku


menatapnya serius, dan dia pun seperti menunggu ku untuk mengatakan sesuatu,


aku memberanikan diriku.


“Zulfa sebenarnya ak—”


“Nugy kita harus pulang,


Ibu sedang ditunggu oleh teman dirumah,” potong Ibu dengan panik.


            Aku pun jadi ikut panik melihat Ibuku yang tiba-tiba


panik, tetapi ada perasaan mengganjal dalam hatiku karena tak jadi


mengatakannya kepada bidadariku. Tapi ya sudahlah, Ibuku lebih penting


sekarang.


“Baik Bu,” balasku dan langsung


pergi membayar kekasir.


            Setelah itu aku pun langsung menyusul mereka yang sudah


berjalan duluan kemobil. Didalam perjalanan kami hanya diam, Ibuku terlihat


sangat panik dan terburu-buru, aku jadi khawatir, tetapi percuma jika aku


bertanya kepadanya, jadi aku diam saja.


            Kami terlebih dahulu memutuskan untuk mengantarkan Zulfa


terlebih dahulu ketoko miliknya, karena dia mengatakan ingin turun ditokonya


saja. Setelah kami sampai ditokonya dia pun menyalam tangan Ibu seperti biasa.


“Maaf ya nak, aku membuat


suasana jadi tak enak, aku janji lain kali akan kita sambung,” ucap Ibu merasa


bersalah kepada Zulfa.


“Tidak Apa-apa Bu, saya


paham,” balasnya


Lalu


dia pun turun dari mobil, aku melihatnya dari kaca depan mobil, dan dia


menatapku dengan penuh makna, seakan mengingatkan sesuatu. Lalu dia pergi masuk


kedalam tokonya.


            Kami pun langsung pergi. Tatapan matanya tadi membuatku


paham akan suatau hal, ini saatnya aku bergerak untuk mencari tahu masalah yang


di sembunyikan dariku oleh Ibu. Jadi aku putuskan untuk turun di café saja.


“Antar aku ke café saja” ucapku


kepada Sam.


            Sam pun mengangguk.


“Kau tak istirahat?” tanya


ibuk


“Enggak buk, aku sangat


bosan jika harus dirumah,” jawabku.


            Ibuk pun hanya tersenyum melihatku seakan dia paham.


            Aku harus bergegas untuk bertemu dengan Rojali, agar dia


bisa menyuruh anggotanya untuk mengikuti kemana sebenarnya Ibu akan pergi. Aku


sedikit gelisah karena sangat penasaran atas semua ini, aku merasa bahwa


kebenaran itu semakin dekat untuk ku ketahui.


Kami


pun sampai di café, aku turun dari mobil dan tak lupa menyalam tangan Ibu.


Mereka langsung pergi meninggalkan ku. Sedangkan aku langsung berjalan masuk


kedalam café dan langsung duduk, Rojali melihatku dan langsung datang kepadaku.


“Kau kenapa? Kok kaya


panik gitu?” tanyanya.


“Sekarang lu suruh


anggota lu kerumah buat memantau ibuk” jawabku.


“Ada apa?” tanyanya lagi.


“Udah kau ikuti saja, Ibu


tadi pergi sangat Terburu-buru ditengah pembicaraan kami bertiga, aku rasa kita


akan tahu jika orangmu bisa berhasil mengikuti Ibu,” jawabku.


            Dia pun mengangguk paham dan langsung mengambil ponselnya


lalu menelfon anggotanya. Dia memberi aba-aba kemudian mematikan ponselnya. Aku


tak tahu bagaimana caranya dia bisa menguntit Ibuku, yang penting aku harus


dapat informasi darinya.


“Sudah kau tenang aja,


lebih bagus kau pulang istirahat, biar besok kau bisa kerja,” ucapnya


menenangkanku.


            Aku hanya diam tak menjawabnya, aku sangat gelisah.


“Apa perlu ku anatr kau


pulang?” tanyanya.


            Aku pun mengangguk.


            Dia pun berdiri mengambil kunci mobilnya untuk pergi


mengantarkanku pulang kerumah.


            Didalam perjalanan aku hanya diam dengan hati dan


fikiranku yang sangat gelisah. Aku hanya berdoa didalam hatiku.


            Bantu aku tuhan, bantu aku untuk mengetahui semua ini.


Aku berharap tuhan benar-benar mendengarkanku.

__ADS_1


__ADS_2