
Hari ini aku memutuskan
untuk dirumah saja, aku juga sudah menghubungi Dewi untuk tidak bisa masuk hari
ini, karena badanku serasa sangat sakit, kepalaku juga masih terasa pening,
akibat kejadian tadi malam. Bahkan dikasurku aku tak sadar antara pingsan atau
tidur.
Aku berjalan menuju meja makan, aku sangat lapar karena jam
sudah menunjukkan pukul 11.00, dan tadi pagi aku juga tak sarapan karena sangat
malas untuk bangkit.
“Ya ampun, kenapa bisa
bonyok begini,” pekik si Mbok panik saat melihatku.
“Tidak apa Mbok, aku
hanya jatuh” balasku.
“Yaudah sini Mbok obtain.”
“Nanti saja mbok, aku
ingin makan dulu.”
“Yasudah biar disiapin
dulu ya Den.”
Aku hanya mengangguk lalu duduk dikursi meja makan sambil
menunggu si Mbok menaruh semua makanan yang sudah dimasaknya.
Setelah dia menyiapkan semuanya, aku langsung makan
dengan lahap, mungkin karena aku tak makan dari semalam, karena sesudah mandi
aku langsung kerumah Bidadariku dan tak sempat makan.
Ah nikmat sekali, ucapku
dalam hati.
Setelah aku menhabiskan makanku, aku memutuskan untuk
duduk di sofa ruang menonton TV rumah ku, dengan segelas kopi yang sudah dibuat
oleh si Mbok, meski sudah dingin tapi aku tetap meminumnya. Aku mengeluarkan
sebatang rokokku lalu ku hisap.
Aku mengambil ponselku lalu membuka camera untuk melihat
keadaan wajahku saat ini, lebamnya tidak terlalu banyak seperti saat aku
dikroyok oleh mereka di butik milik Bidadariku.
Aku mengingat kejadian tadi malam, dimana aku meluapkan
semua emosiku dan menghancurkan pria itu bersama rombongannya, hasrat
bertarungku sudah terasa sangat lepas atas kejadian semalam.
“Gimana keadaan lu” ucap Dewi
yang Tiba-tiba datang.
Aku melihatnya yang berada dibelakangku, lalu dia duduk
disampingku.
“Udah enakan kok,”
balasku.
Dia menarik nafas melihatku lalu menggelengkan kepalanya.
“Lu sama siapa?” tanyaku.
“Sendiri, habis dari
kantor gua kesini,” jawabnya.
Aku mengangguk paham.
“Gua udah tau ceritanya,”
ucapnya kepadaku.
“Baguslah, jadi gau ga
perlu repot lagi.”
“Yee elu mah,” ketusnya
sambil mencubit lenganku.
“Hahaha, lu berdua kenapa
bisa datang semalem?” tanyaku.
“Gua ada di café tadi
malam sama si Monyet, terus kita neglihat elu naik motor kenceng banget. Ya
kita berdua langsung ngikutin elu, meskipun sempat ilang jejak tapi kita
berhasil sampai nemuin lu,” jawabnya.
Aku pun mengangguk paham.
“Kenapa lu ga cerita ama kita
Gy?” tanyanya pelan.
“Gpp, gua berfikir gua ga
perlu ngelibatin lu berdua,” jawabku santai.
“Lu ga percaya ama kita?”
“Gua percaya kok, tapi
gua ngerasa ga punya waktu buat jelasin semuanya ama lu berdua,”
Dia hanya diam tak menjawab. Aku jadi merasa tak enak
karena dia merasa aku tak mempercayai mereka berdua.
“Maafin gua ya,” ucapku
pelan.
“Iya gpp Gy, yang penting
kedepannya lu ga boleh nyembunyiin lagi dari kita.”
“Oke, sampai urusan buang
hajat gua, juga bakal gua kasih tau amau lu berdua.”
“Yee kampret lu.”
“Hahahaha.”
Dewi pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan
kedapur. Sedangkan aku masih duduk di sofa depan TV. Dia kembali dengan
membawakan air hangat dan kain untuk mengompres lebam yang ada diwajahku.
“Sini biar gua kompres.”
Aku pun hanya mengangguk.
Dia pun mengompres lukaku dengan perlahan, dan aku
menatap dirinya. Aku sangat beruntung memiliki dewi sebagai sahabatku. Dia
sangat ikhlas memperhatikanku. Aku pun tersenyum menatapnya, dan dia menyadari
itu.
“Apaan lu senyum-senyum,”
ketusnya.
“Yee biarin aja.”
Dia mengeluarkan obat salep penghilang rasa nyeri dari
tas miliknya, lalu dia mengoleskannya kelebam yang ada diwajahku, dan disaat
dia mengoles lukaku dengan cream penghilang rasa nyeri, Tiba-tiba Rojali datang
bersama Zulfa bidadariku.
“Woi!!!, malah Mesra-mesraan
pula kalian,” pekik Rojali.
Sontak aku dan Dewi kaget, dan saling bergerak menjauh
dari tempat duduk kami. Aku melihat bidadariku menatap kami berdua dengan
tatapan yang tak bisa ku jelaskan.
“Apaan sih lu, gua ngolesin
ini juga,” balas Dewi kesal kepada Rojali.
Aku masih menatap bidadariku yang sedang berdiri kaku.
“Zulfa, sini duduk,” ucap
Dewi menyuruhnya duduk disampingku.
Aku hanya diam dan melihatnya yang menurut untuk duduk
disampingku. Dan dia menatapku malu.
“Bagaimana kau bisa
datang kesini?” tanyaku kepadanya.
Dia tak menjawab, sepertinya dia sedang canggung dan
malu. Rojali pun sadar akan hal itu.
“Dia datang ke café
nanyain kau, ya ku bilang aja kau dirumah lagi istirahat, jadi dia ngajak aku datang
kerumah kau ini,” jawab Rojali.
Aku menatap bidadariku, aku merasa tersanjung dengan
dirinya yang Mencari-cariku, sampai datang ke café lagi.
“Bagaimana lukamu?” tanya
zulfa kepadaku.
“Aku baik, Dewi sudah
mengobatinya…”
“Kau tak perlu datang
menemuiku fa, dan kau tak perlu merasa kasihan terhadap aku,” sambungku.
Dia hanya terdiam medengar ucapanku. Aku memang merasa
kehadirannya datang hanya untuk melihat keadaan ku yang terluka akibat kejadian
semalam, dan aku tak suka dia datang hanya untuk itu.
“Oh yasudah, aku pulang
saja,” ucapnya dengan nada kecewa.
Dia pun bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan
kami bertiga. Dewi dan Rojali menatapku kesal.
“Bodoh kali kau memang,”
ketus Rojali kepada ku.
Aku hanya diam tak meresponnya. Dewi pun bangkit dan
mengejar Zulfa yang sudah pergi duluan.
“Aku cuma ga suka dia
datang kesini cuma buat menaruh rasa kasihan samaku.”
“Dia itu nyariin kau
sampai ke café lho. Dan bukan ada niat ngasihani kau, dia itu cuma khawatir sama
kau.”
“Itu sama saja.”
“Gengsi kau ini yang buat
aku gak habis pikir samamu.”
Aku hanya diam tak menjawab.
“Salah emang dia datang
buat jenguk kau?” tanyanya padaku.
Aku masih diam tak menjawab.
“Woi kau jawab aku,”
Aku masih tak menjawab dan menatapnya tajam.
“Apa? Mau kau pukul aku?”
tanyanya.
“Diam saja kau,” jawabku
mulai kesal.
“Siapa yang kau suruh
diam,” ucap seorang wanita yang Tiba-tiba datang mendekat kearah kami.
Dia merangkul Zulfa bersamanya dan diikuti oleh Dewi yang
ikut berjalan mengikuti mereka dari belakang. Dia adalah Ibu yang Tiba-tiba
datang kerumahku. Dengan kondisiku sekarang yang penuh dengan lebam dan sudah
membuat Zulfa kecewa atas sikapku, aku pasti akan dimarahi oleh Ibu.
“Keras kepala mu ini yang
gak pernah hilang.”
Aku hanya menunduk tak berani menatap Ibu yang tengah
siap memarahi ku lagi kali ini, dia duduk disampingku dan Zulfa disampingnya.
“Mau sampai kapan kau
begitu?” tanya ibuk.
“Aku hanya tak suka dia
kasihan terhadapku.”
“Dia hanya khawatir
padamu, lagian dengan kondisi mu yang begini kau memang pantas untuk dikasihani,”
ucap Ibu.
Aku hanya terdiam pasrah.
“Liatlah dirimu ini,
seperti pecundang saja,” sambungnya.
“Cukup buk,” ucap Zulfa menegahi
__ADS_1
Ibu.
Aku hanya melihatnya yang sedang memegang tangan Ibuku seakan
tak ingin melihatku dimarahi lebih dari ini.
“Kau lihat dia?” tanya Ibu.
“Bahkan setelah apa yang
kau lakukan dia masih membelamu” sambungnya.
“Iya, maafkan aku,”
ucapku.
Aku memang merasa bersalah atas sikapku kepada Bidadariku,
dan Orang-orang di sekitarku pun tak ada yang membenarkan sikapku, jadi aku harus
mengakui kesalahanku.
“Ya sudah, mandilah, aku
ingin mengajak kelian berdua pergi,” ucap Ibu mengatakan aku dan Zulfa.
“Mau kemana buk?”
tanyaku.
“Mandi saja” jawab ibuk.
Aku pun menarik nafasku dalam dan ku hembuskan, lalu aku
bangkit dan pergi menuju kamarku untuk mandi lalu bersiap untuk segera pergi
bersama mereka berdua, ntah kemana aku tak tahu.
Setelah selesai aku langsung turun kebawah menemui
mereka, aku melihat Dewi dan Rojali sudah tak ada. Mereka pasti sudah kembali
untuk bekerja lagi.
“Aku sudah siap,” ucapku.
“Yasudah, ayo kita pergi,”
balas ibu.
Kami bertiga pun pergi menggunakan mobil Ibu, aku duduk
disamping Sam, sedangkan Ibu dan Zulfa ada dibelakang duduk berdampingan.
Dijalan, Ibu dan Zulfa asik bercerita berdua, sedangkan
aku hanya diam tak bersuara. Lalu aku menghidupkan audio mobil dan mebesarkan
volumenya.
“Kecilkan nak,” ucap Ibu.
“Aku sudah lama tak
mendengar musik Bu,” balasku.
“Ya tapikan Ibuk sedang
bicara.”
“Memangnya kita mau
kemana?” tanyaku.
“Aku ingin mengajak
kalian makan siang,” jawab Ibu.
“Astaga, aku sudah makan Buk
dan masih sangat kenyang.”
“Ya ibuk tak menyuruhmu
makan, Ibu hanya mengajakmu untuk ikut.”
“Untuk apa aku harus ikut.”
“Ya kamu fikir siapa yang
akan membayar makan siang kami nanti.”
Aku menatap ibu kseal, dengan kondisi fiski ku yang
seperti ini, aku hanya diajak untuk membayar makan siang mereka, Ibu memang
ada-ada saja.
“Kau keberatan?”
tanyanya.
“Aku tidak keberatan buk,
aku kan bisa memberi uangnya saja, dan tak perlu ikut.”
“Sudahlah, toh kamu sudah
ikut sekarang.”
Aku pun hanya diam dan tak berbicara lagi.
Aku pun mengecilkan volume musiknya, dan membiarkan mereka
berdua berbicara sepuasnya. Sesekali aku dapati mata Bidadariku yang berpas-pasan
denganku saat melihatnya dari kaca depan.
Kau memang sangat cantik
bidadariku, ucapku dalam hati.
Setelah agak lama dalam perjalanan, akhirnya kami sampai
direstoran yang pernah kami singgahi dulu saat pertama kali aku bersama Ibuk
mampir di butik milik Zulfa.
Aku pasti akan bertemu
dengan si Romi itu lagi, ucapku dalam hati.
Kami pun masuk kedalam, dan seperti yang ku duga, Romi
pun datang menghampiri kami, tetapi aku tak memperdulikannya dan langsung
berjalan menuju tempat makan kami waktu itu. Ibu dan Zulfa pun mengikutiku. Dan
si kampret Romi juga malah ikut lagi.
“Lu kenapa sih ngikutin
terus,” ucapku kesal kepadanya.
“Lah lu kenapa sensian
mulu ama gua?” tanyanya.
“Gua kesini mau makan,
bukan mau ngobrol ama lu,” jawabku.
“Hidang menu yang kemarin
aja Rom, untuk dua orang ya,” ucap Zulfa kepadanya seakan memahami kekesalanku.
“Oh oke,” jawab romi dan
langsung pergi meninggalkan kami.
Aku hanya menatap Ibu yang sedang menggelengkan kepalanya
melihat sikapku.
“Tak bisa kah kau akur
dengannya?” tanya Ibu.
“Aku tak suka akur dengan
“Itukan sudah lama nak.”
“Walaupun, kurasa itu
sudah mendarah daging dalam dirinya.”
Ibu pun hanya diam berusaha memaklumi diriku.
Karena justru Ibulah yang mengajarkan aku untuk tidak
mudah mempercayai orang lain yang bahkan sudah pernah berbohong kepadaku. Jadi
tentu saja aku melakukan itu kepada Romi.
“Jadi bagaimana respon
keluargamu atas kejadian kalian tadi malam?” tanya Ibu kepada Zulfa.
“Mereka kecewa denganku
karena aku memendamnya sendiri selama ini, tetapi mereka tidak memarahiku,” jawabnya.
“Kau memang gadis yang
kuat,” ucap Ibu sambil membelai rambut bidadariku.
“Tidak buk, aku gadis
hanya diselamatkan oleh anakmu,” balas Zulfa mengatakan diriku.
Aku hanya menatap mereka berdua yang sedang melihat
kearahku.
“Kenapa?” tanyaku kepada
mereka berdua.
“Dasar pria kaku,” jawab
Zulfa kepadaku.
“Enak saja kau,” balasku
kepadanya.
“Hahahaha Sudah-sudah,
malah berantam,” ucap Ibu menengahi kami.
Pelayan pun datang mengantar pesanan kami, Ibu dan Zulfa
pun langsung makan, sedangkan aku hanya melihat mereka berdua makan, kami tak
berbicara sama sekali. malah ditempat ini tak boleh merokok lagi.
Sesekali aku melihat bidadariku yang sedang asik dengan
makanannya, dan dia juga melihatku, lalu aku tersenyum nakal kepadanya. Hal itu
berhasil membuat dia terlihat salah tingkah.
“Hentikan tatapanmu itu,”
ucapnya kepadaku.
Aku hanya tertawa mendengarnya, sedangkan Ibu heran
melihat kami berdua.
“Jangan ganggu dia nugy,
dia lagi makan,” Ibu mengingatkanku.
“Hahahaha, aku hanya
heran kenapa dengan makan sebanyak itu dia masih saja tidak tumbuh besar,”
balasku meledeknya.
“Terserahku, dari pada
kau yang sudah berumur masih saja mengganggu gadis yang jauh lebih muda darimu,
apa kau tak malu?” balasnya meledekku.
Sontak aku terdiam dan menatapnya kesal. Berani-beraninya
dia meledekku dengan cara seperti itu.
“Hahaha kau terdiam Nugy,”
ledek Ibu kepadaku.
“Habiskan saja makananmu
nak, tak usah pedulikan pria tua ini,” sambung Ibu kepada Zulfa.
Aku juga ikut kesal melihat ibuku.
Kami pun terdiam, dan aku sudah tak mengganggu bidadariku
lagi, dari pada aku yang akan malu sendiri, tampaknya sifatnya tidak seperti
umurnya itu, dia selalu bisa melakukan apa saja yang berhasil membuatku mati
kutu.
Setelah merea berdua sudah menghabiskan makanannya, kami
kembali berbicara. sedangkan aku hanya mendengar mereka berdua saja. Hingga ada
sesuatu pembicaraan mereka yang menarik perhatianku.
“Aku ingin menanyakan
sesuatu kepadamu,” ucap Ibu serius.
Zulfa hanya diam menatap Ibuku dengan serius.
“Apa kamu sudah punya
pasangan?” Tanya Ibu.
Zulfa terdiam sambil menatap Ibuk dan aku. Aku jadi
merasa tak enak atas dirinya, jadi aku berusaha membantunya.
“Bu, itu prifasi dia, ga
perlu ditanya,” jawabku kepada Ibu.
“Aku hanya bertanya saja,
maaf kalau itu membuatmu menjadi tak nyaman,” ucap Ibuk kepada Zulfa.
“Tidak Apa-apa Bu, aku
tidak keberatan,” balasnya.
Ibu hanya diam sambil tersenyum.
“Aku tidak memiliki
pasangan,” sambungnya.
Aku yang sebelumnya sudah tau jawaban itu hanya diam
tanpa bereaksi.
“Sungguh? Gadis secantik
dan setangguh kamu tak memiliki pasangan?” tanya Ibu memastikan.
Dia hanya mengangguk.
“Apa tak ada lelaki yang berusaha
mendapatkanmu?” tanya Ibu lagi.
Dia terdiam dan melihat aku lembut.
“Ada kok Bu, tetapi tak
ada yang membuatku tertarik,” jawabnya santai.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan
anakku? Apa kau tertarik dengannya?” tanya Ibu lagi.
Hal itu membuat aku yang sedari tadi diam langsung
bereaksi kaget, begitu juga dengan Zulfa. Ibuku selalu saja berbicara semaunya,
gak pernah peduli dengan orang disekitarnya.
“Hahaha, kalian kompak
sekali, tidak perlu kaget Ibu hanya bercanda,” sambung Ibu.
“Kau tau nak?” tanya Ibu
kepada Zulfa.
Dia hanya melihat seakan bersiap mendengarkan Ibuku
melanjutkan pembicaraan.
“Aku sangat ingin melihat
anakku ini datang membawa pasangannya kepadaku, tetapi hingga kini tak kunjung datang,
aku jadi khawatir dia besar tanpa kasih sayang seorang wanita selain aku,”
sambung Ibu dengan lembut.
“Aku hanya belum
menemukan Bu, tidak usah kita bahas tentang wanita,” balasku kesal
“Kau tau Zulfa, dia tidak
pernah mengenal cinta sejak dulu, bisakah kau mengajarinya? Ibu lihat kamu
cocok untuk menjadi gurunya” ucapnya kepada zulfa.
Dia
hanya terdiam terpatung mendegar ucapan ibuku, aku paham betul maksud dari
perkataan Ibu, tetapi aku tak suka dengan cara Ibu yang seakan terlihat
mengemis agar dia bersedia menjadi kekasihku.
“Ibu gak boleh begitu,
aku sudah besar, tak pelu mengurus urusan percintaanku,” balasku yang mulai
kesal.
“Tenang nak, itu hanya
harapan ku saja, selebihnya itu terserah kalian. Aku hanya tak mau melihat
anakku tersakiti oleh wanita, dan aku melihat kamu adalah wanita yang tidak
sanggup menyakiti siapapun. Bahkan wanita tua sepertiku.” Ucap Ibuk kepada Zulfa
Ibu
mengatakannya dengan segenap perasaan yang mengalir dalam dirinya, aku
merasakan sebuah kesedihan yang tak aku ketahui darinya. Ibu berhasil membuatku
terdiam dan hanyut dalam perkataannya.
Aku
mengetahui bahwa dia sedang menyimpan rasa sakit dalam hatinya. Aku tak tahu
hal apa itu, yang pasti aku memang harus segera mengetahui apa dibalik semua
kesedihan yang dipendam oleh Ibuku selama ini.
Bidadariku
masih terdiam, dia pasti merasakan hal yang sama sepertiku. Dan aku yakin dia
merasa tersudutkan karena ucapan Ibu barusan. Aku tidak tau harus berespon
seperti apa.
“Aku akan bersedia buk
jika Nugy mengatakannya kepadaku” ucapnya kepada ibuk.
Hal
ini membuatku ku kaget seketika, aku tak habis fikir, dia benar-benar gila
sampai segitunya kah dia menghargai perasaan Ibuku hingga rela mengobankan
dirinya untuk ku miliki.
Dalam
satu sisi aku senang mendengar jawabnnya, namun disisi lain aku merasa malu
atas itu, Karena sebagai lelaki aku sangat tidak terima jika dia menerimaku
hanya karena menaruh rasa simpati kepada Ibuku, aku menjadi ingin marah namun
aku tak sanggup jika itu harus didepan Ibu. Aku menatapnya dengan tajam. Dan
dia juga tak berpaling dari tatapanku, dia justru menatapku santai.
Tiba-tiba
ponsel Ibuk berbunyi dan dia keluar sejenak untuk menelfon, dan kurasa ini
kesempatanku untuk meluapkan semuanya.
“Apa yang sedang kau
fikirkan tentang ini,” ucapku marah kepadanya.
“Kau marah Nugy?
Denganku, atau justru Ibumu?” balasnya menantangku.
“Aku tidak akan
membiarkan itu terjadi hanya karena kau berempati kepada Ibuku.”
“Lalu, apakah kau sanggup menjawab perkataan Ibumu?
kenapa kau hanya diam? Sebagai anak lelaki yang dibanggakannya kau sendiri tak
paham tentang bagaimana perasaan yang dipendam oleh Ibumu. Aku sangat yakin Ibumu
menyimpan sesuatu rahasia yang tidak ingin kau tahu, kau sangat sibuk dengan
urusanmu Nugy, tanpa kau sadar bahwa sebenarnya dirimu adalah milik Ibumu,” balasnya
dengan tegas kepadaku.
Lagi-lagi aku pun diam tak berkutik mendengar ucapannya. Yang
dia katakan itu benar, kalau saja aku tak sibuk dengan pekerjaanku, dan kalau
saja aku tak sibuk dengan ambisiku, dan kalau saja aku tak meninggalkan
rumahku, aku pasti tahu semua masalah yang sedang terjadi, dan kondisi ini
pasti tidak akan terjadi.
“Meskipun begitu aku tak
suka kau melakukannya atas dasar itu. Ibuku wanita kuat yang tak pantas menerima
rasa empati darimu.”
“Aku tau Ibumu sangat
kuat, bahkan baru beberapa kali bertemu dengannya aku sudah sangat mengagumi Ibumu,
dan sama sekali aku tidak menaruh perasaan kasihan kepadanya. Dia berharap
banyak padamu, dan untuk itu apakah kau tak sanggup menyanggupi semua
permintaanya? atau justru harga dirimu lebih penting dari perasaan ibumu?”
jawabnya tenang.
“Kau tak perlu
mengobankan dirimu,” balasku lirih.
“Tidak ada yang ku
korbankan dalam diriku, aku hanya perlu mendampingimu dihadapan Ibumu, jika kau
memang keberatan denganku, aku akan berjanji untuk tidak mencintaimu,” ucapnya
tegas.
Dia
sangat mudah mengatakan apapun semaunya, gadis ini sama sekali tak menghargai
diriku, dan perasaanku terhadapnya. Mana mungkin aku ingin bersama dia tanpa mendapatkan
cinta darinya. Aku tak suka hubungan yang seperti itu, sepertinya aku tak
memiliki cara lain selain mengatakan perasaanku yang sebenarnya terhadap dirinya.
Aku memutuskan untuk mengatakan perasaanku sekarang.
Aku
menatapnya serius, dan dia pun seperti menunggu ku untuk mengatakan sesuatu,
aku memberanikan diriku.
“Zulfa sebenarnya ak—”
“Nugy kita harus pulang,
Ibu sedang ditunggu oleh teman dirumah,” potong Ibu dengan panik.
Aku pun jadi ikut panik melihat Ibuku yang tiba-tiba
panik, tetapi ada perasaan mengganjal dalam hatiku karena tak jadi
mengatakannya kepada bidadariku. Tapi ya sudahlah, Ibuku lebih penting
sekarang.
“Baik Bu,” balasku dan langsung
pergi membayar kekasir.
Setelah itu aku pun langsung menyusul mereka yang sudah
berjalan duluan kemobil. Didalam perjalanan kami hanya diam, Ibuku terlihat
sangat panik dan terburu-buru, aku jadi khawatir, tetapi percuma jika aku
bertanya kepadanya, jadi aku diam saja.
Kami terlebih dahulu memutuskan untuk mengantarkan Zulfa
terlebih dahulu ketoko miliknya, karena dia mengatakan ingin turun ditokonya
saja. Setelah kami sampai ditokonya dia pun menyalam tangan Ibu seperti biasa.
“Maaf ya nak, aku membuat
suasana jadi tak enak, aku janji lain kali akan kita sambung,” ucap Ibu merasa
bersalah kepada Zulfa.
“Tidak Apa-apa Bu, saya
paham,” balasnya
Lalu
dia pun turun dari mobil, aku melihatnya dari kaca depan mobil, dan dia
menatapku dengan penuh makna, seakan mengingatkan sesuatu. Lalu dia pergi masuk
kedalam tokonya.
Kami pun langsung pergi. Tatapan matanya tadi membuatku
paham akan suatau hal, ini saatnya aku bergerak untuk mencari tahu masalah yang
di sembunyikan dariku oleh Ibu. Jadi aku putuskan untuk turun di café saja.
“Antar aku ke café saja” ucapku
kepada Sam.
Sam pun mengangguk.
“Kau tak istirahat?” tanya
ibuk
“Enggak buk, aku sangat
bosan jika harus dirumah,” jawabku.
Ibuk pun hanya tersenyum melihatku seakan dia paham.
Aku harus bergegas untuk bertemu dengan Rojali, agar dia
bisa menyuruh anggotanya untuk mengikuti kemana sebenarnya Ibu akan pergi. Aku
sedikit gelisah karena sangat penasaran atas semua ini, aku merasa bahwa
kebenaran itu semakin dekat untuk ku ketahui.
Kami
pun sampai di café, aku turun dari mobil dan tak lupa menyalam tangan Ibu.
Mereka langsung pergi meninggalkan ku. Sedangkan aku langsung berjalan masuk
kedalam café dan langsung duduk, Rojali melihatku dan langsung datang kepadaku.
“Kau kenapa? Kok kaya
panik gitu?” tanyanya.
“Sekarang lu suruh
anggota lu kerumah buat memantau ibuk” jawabku.
“Ada apa?” tanyanya lagi.
“Udah kau ikuti saja, Ibu
tadi pergi sangat Terburu-buru ditengah pembicaraan kami bertiga, aku rasa kita
akan tahu jika orangmu bisa berhasil mengikuti Ibu,” jawabku.
Dia pun mengangguk paham dan langsung mengambil ponselnya
lalu menelfon anggotanya. Dia memberi aba-aba kemudian mematikan ponselnya. Aku
tak tahu bagaimana caranya dia bisa menguntit Ibuku, yang penting aku harus
dapat informasi darinya.
“Sudah kau tenang aja,
lebih bagus kau pulang istirahat, biar besok kau bisa kerja,” ucapnya
menenangkanku.
Aku hanya diam tak menjawabnya, aku sangat gelisah.
“Apa perlu ku anatr kau
pulang?” tanyanya.
Aku pun mengangguk.
Dia pun berdiri mengambil kunci mobilnya untuk pergi
mengantarkanku pulang kerumah.
Didalam perjalanan aku hanya diam dengan hati dan
fikiranku yang sangat gelisah. Aku hanya berdoa didalam hatiku.
Bantu aku tuhan, bantu aku untuk mengetahui semua ini.
Aku berharap tuhan benar-benar mendengarkanku.
__ADS_1