Belantara

Belantara
SEKELUMIT PROBLEMATIKA


__ADS_3

Pagi ini Hutan Belantara


heboh oleh berita yang membuat semua orang terkejut, berita tersebar


dimana-mana, Televisi, Koran, bahkan Media sosial. Perusahaan AP Group yang


menjual aset Perkebunannya kepada Pengusaha Muda yang baru muncul kepermukaan


Andre Sutan Candramawa.


            Nama Andre kini banyak diperbincangkan, sepak terjangnya


yang langsung muncul kepermukaan dengan membeli aset perkebunan AP Group


berhasil membuat semua orang takjub.


            Aku yang lihat itu pun hanya tersenyum licik lalu


meletakkan koranku, aku melihat sekelilingku yang sedang menatapku geram akan


berita itu.


“Apa maksudnya ini Pak?”


tanya Bonar geram.


“Anda menyuruh kami untuk


percaya kepada Bapak, tetapi Bapak selalu mengambil kebijakan tanpa adanya


andil dari kami. Apa kami Bapak sudah tak menghargai kami sebagai orang yang


sudah mengabdi kepada perusahaan ini dari lama?” sambungnya.


            Aku hanya diam menatap mereka santai. Silih berganti


mereka menyampaikan keberatannya atas semua tindakanku. Bonar dan Michel yang


paling keberatan atas ini semua. Bagaimana tidak, Divisi mereka sudah mati kutu


atas ulahku.


            Herman berhasil melakukan tugasnya, oleh sebab itu WJ tak


tinggal diam dan langsung membuat Divisi Ekspor&Impor menjadi mati total,


dengan isu bahwa surat izin kami legal. Dan Divisi perkebunan kami sedang ramai


diperbincangkan karena aku sudah menjualnya kepada Andre, padahal itu hanya


isu.


            Aku memang meminta paksa akan semua surat penting dari


Divisi Perkebunan kepada Bonar tanpa dia tau untuk apa, dan sekarang dia justru


dikerjutkan karena berita itu. dia di usir dari kantornya oleh Andre, yang


sebenarnya itu adalah perintah dariku.


“Apa kalian sudah puas?”


tanyaku santai.


            Mereka diam dengan menatapku geram.


“Tenanglah, semua akan


terkendali dengan baik. Kalian hanya perlu tetap percaya kepadaku…”


“Untuk sementara Pak


Bonar dan Pak Michel saya tunjuk sebagai wakil direktur utama dikantor ini. dan


akan mendapatkan gaji yang sesuai dengan yang kalian dapatkan diposisi kalian


semula,” sambungku.


“Ini bukan soal gaji Pak,


divisi itu sudah saya bangun dari awal, dan Bapak justru terlihat seperti tidak


menghargainya, jadi untuk apa saya harus masih bertahan disini,” balas Bonar


“Oke kalau begitu


silahkan jika memang Bapak ingin keluar,” ucapku.


            Dia menatapku tajam dan pergi meninggalkan kami yang ada


didalam ruangan rapat.


“Jika memang masih ada


yang tak percaya denganku silahkan keluar. Aku hanya perlu orang-orang yang


bekerja untuk percaya padaku.”


            Mereka semua terdiam, begitu juga dengan Michel yang


sedari tadi brisik seketika menjadi diam. Aku pun bangkit dari tempat dudukku,


lalu menatap mereka tajam.


“Aku pimpinan disini,


jika kalian tidak suka dengan semua kebijakanku, silahkan keluar.”


            Mereka masih terdiam menjadi takut kepadaku.


“Baiklah, jika tidak ada


lagi, silahkan kembali bekerja,” ucapku lalu pergi meniggalkan mereka.


            Aku berjalan masuk kedalam ruanganku dengan perasaan


kesal dalam hatiku yang kembali menyelimutiku, tetapi masih menjaganya karena


aku lah yang membuat mereka betingkah seperti itu. Dewi masuk lalu duduk


dihadapanku.


“Gua udah lakuin tugas


sesuai yang lu perintahin.”


“Terus mereka gimana


sekarang?”


“Sesuai yang lu suruh,


mereka santai dirumahnya masing-masing.”


            Aku pun mengangguk.


“Ada tugas lagi?”


tanyanya kesal kepadaku.


“Kembali bekerja,”


balasku datar.


            Dia pun pergi meninggalkanku lalu menutup pintu dengan sangat


keras, dan mengejutkanku, hingga membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku


melihat tingkahnya.


            Aku tidak marah kepadanya, karena aku bisa memaklumi Dewi


yang kesal terhadapku. Dan jika hanya Dewi yang bersikap seperti itu aku sama


sekali tak keberatan.


            Aku tersenyum sendiri dengan memikirkan semua rencanaku


berjalan dengan baik, orang-orang yang ku temui sudah melakukan tugas yang ku


perintahkan, dan sekarang aku hanya tinggal menunggu waktu untuk semua itu. Aku


mengambil ponselku lalu menelfon Rojali yang sudah lama tak ku temui.


“Dimana kau?”


“Ditempat biasalah.”


“Aku kesana.”


“Oke.”


            Setelah mematikan Ponselku aku langsung beranjak pergi


menemuinya.



“Mana Dewi? Tumben ga kau


ajak kesini.”


“Dia lagi marah sama


gua.”

__ADS_1


“Kau repotin lagi di ya.”


            Aku hanya mengangguk.


“Eh berita itu benar?”


            Aku mengangguk lagi.


“Itu Andre sepupumu itu


kan?”


            Aku mengangguk lagi.


“Tapi kok heboh kali,


memangnya gak tau mereka itu sepupu lu.”


“Enggak.”


            Dia pun mengagguk paham.


“Kopi gua mana?”


“Oke tunggu.”


            Dia pun pergi meninggalkanku duduk sendiri.


            Aku duduk dengan menghisap rokokku sambil melihat


sekelilingku. Dia pun datang kembali dengan membawakan segelas kopi untukku.


“Eh Ibu gimana?”


“Sehat.”


“Si Rudy baru aja dari


sini.”


“Ngapain?”


“Nongkrong sama


temennya.”


            Aku mengangguk paham.


“Lagi pusing kali kau


kelihatannya.”


“Enggak, biasa aja.”


“Kaya cewek aja kau.”


“Gua biasa aja kampret.”


“Terus kenapa pendiam


gini kau.”


            Aku pun menatapnya dalam.


            Tak ingin membuat Rojali bingung, aku pun menceritakan


kondisiku saat ini, dan perusahaanku, dan juga seluruh pekerjaku yang snagat


keberatan atas kebijakanku, aku juga menceritakan alasanku melakukan ini.


            Rojali hanya diam mendengarkanku bicara. Dibanding dengna


Dewi aku merasa jauh lebih yakin untuk membongkar rahasia ku kepada Rojali,


karena dia tidak pernah memperdulikan itu, dan dia hanya siap mendengarkan ku


sampai aku puas menceritakan semuanya.


“Gimana menurutmu?”


“Aku kalau soal itu ya


kurang paham. Tapi aku percaya sama kau. Nanti mereka juga bakal kembali


samamu.”


            Aku pun mengangguk bangga.


“Intinya, kau itu harus


yakin, dan jangan gegabah. Lakuin aja, toh kau punya alasan sendiri.”


            Aku masih diam menatapnya.


rencanamu ini?”


“Lu doang.”


“Serius kau? Bini mu ga


tau?”


“Ya enggaklah, ngapain


dia harus tau. Lagian dia mana paham soal beginian.”


“Iya juga memang.


Yaudahlah, aku cuma bisa mendukung kau aja.”


            Aku mengangguk sambil tersenyum bangga kepadanya.


            Kami kembali berbicara, hingga aku menghabiskan kopi ku,


aku pun memutuskan untuk kembali kerumahku. Sudah lama sekali aku tak pulang


lebih awal, biasanya aku selalu pulang larut dan menemui istriku yang sudah


tertidur karena menungguku.


            Aku melihat mobil istriku belum ada dirumah, aku pun


memutuskan untuk mengganti pakaianku lalu memasuki ruangan kerjaku yang ada


dirumah. Aku kembali melihat beberapa laporan dan dokumen perusahaan.


            Aku kembali meneliti semuanya, agar dapat memastikan


rencanaku tidak ada penghambat sama sekali. Aku sudah melakukan sesuatu atas 2


divisi yang sakit diperusahaanku, yang satu sudah mati total, dan yang satu


lagi sudah ku alihkan.


            Sekarang aku hanya tinggal menunggu waktu untuk


melancarkan aksiku yang selanjutnya terhadap Wicjaksana.


“Kau sudah pulang duluan?”


            Aku menoleh kearah suara yang tiba-tiba masuk tanpa izin


kedalam ruanganku, ternyata Zulfa istriku.


“Tumben.”


“Aku hanya ingin tidur


siang tadi,” ucapku bohong.


            Dia berjalan mendekatiku dan berdiri disampingku.


“Akhir-akhir ini kau


sangat sibuk.”


            Aku hanya diam menatapnya.


“Kau kesulitan?”


            Aku menggelengkan kepalaku. Dia pun memelukku dengan


lembut.


            Aku memberiakan diriku dipeluk olehnya, tubuhka terasa


hangat, fikiranku merasa sedikit lebih tenang, seakan tak terbebani dengan


fikiran burukku atas ketakutanku terhadap kegagalan rencanaku.


“Aku sudah lama tak


memelukmu,” ucapnya.


            Aku melepaskan pelukannya, lalu berdiri dan memegang


wajahnya sambil menatapnya lembut.


“Maafkan aku Fa.”


            Dia diam menatapku.


“Aku selalu mengabaikan


mu akhir-akhir ini.”

__ADS_1


“Aku juga sudah menunda


liburan kita.”


“Aku janji, setelah semua


ini selesai, aku tak akan menepatinya.”


            Dengan matanya yang mulai sayu dia mengeluarkan senyuman


lembutnya untukku. Dia menganggukkan kepalanya kepadaku, aku pun menciumnya dan


dia pun membalasnya. Kami berciuman sangat lama sampai dia melepaskan ciuman


kami.


“Aku tak ingin


melakukannya disini Nugy.”


“Kau ingin kugendong?”


            Dia mengangguk.


            Aku pun menggendongnya lalu membawanya kekamar, kami pun


melanjutkan aktivitas kami sebagai sepasang suami istri. Aku melakukannya


hingga berkali-kali sampai aku puas dan istriku tak sanggup lagi meladeniku.


“Aku sangat lelah


sayang.”


“Aku sangat meridukan


tubuhmu sayang.”


            Dia pun tersenyum kepadaku, aku menyandarkan kepalanya di


dadaku sambil ku peluk lembut.


            Aku benar-benar merasa bersalah sudah mengabaikan


istriku, aku sudah lama tak memberi dia nafkah yang seharusnya dia dapatkan.


Aku tak berniat sama sekali untuk mengabaikannya apa lagi membiarkannya tidur


kedinginan karena menungguku, tetapi aku melakukan itu karena terpaksa aku


harus berkerja untuk memeprbaiki semuanya.


“Maafkan aku Zulfa.”


“Tidak apa-apa sayang,


aku memaklumimu.”


            Aku mencium keningnya dengan penuh cinta. Dan tak


melepaskan pelukan ku hingga kami tertidur lebih cepat malam ini.


            Aku terbangun ditengah malam ketika Dewi menelfonku


berkali-kali, dan membuat Zulfa juga ikut terbangung.


“Ada apa?”


“Coba kau lihat Wa mu.”


            Aku mematikan ponselku lalu membuka pesan yang diberikan


oleh Dewi kepadaku.


            Aku terdiam terpatung ketika melihat pesan yang diberikan


oleh Dewi. Aku kembali menelfonnya dan langsung diangkat olehnya.


“Bagaimana bisa?”


“Dia dijebak oleh seorang


kepercayan WJ.”


“Siapa?”


            Dia terdiam diseberang sana.


“Jawab Gua Dewi.”


“Burhan.”


            Aku terdiam, darahku kembali mendidih.


“BANGSAT!!!”


            Aku lagnsung mematikan ponselku dan segera bangkit


memakai pakaianku, Zulfa yang heran melihatku seketika menjadi panic dan


menahanku.


“Lepaska aku Zulfa.”


“Kau mau kemana


malam-malam begini.”


“Aku ada perlu.”


“Jelaskan padaku.”


“Aku tak punya waktu.”


            Dia tetap menahanku dengan memelukku erat dari belakang.


“Lepaskan aku Zulfa.”


“Aku tak mau. Kau sedang


emosi Nugy, tenangkan dirimu dulu.”


“Aku tak punya waktu.”


“Aku mohon.”


            Aku terdiam mendengar permohonannya yang mulai menangis


memelukku, aku kembali bisa menahan emosiku, dan melepaskan pelukannya, aku


menatapnya dengan lembut, aku merasa bersalah sudah memakinya barusan.


“Maafkan aku Zulfa.”


            Dia tak menjawab.


            Aku mengajaknya untuk duduk diranjang kamarku, aku


mengusap kepalanya dengan lembut. Hingga dia selesai menghabiskan air matanya.


“Andre dipenjara Fa. Dia


dijebak oleh Burhan, aku ingin segera membantunya, ini semua karena salahku


yang sudah melibatkannya.”


            Aku menundukkan kepala ku dengan menyesali semua


perbuatanku, aku benar-benar blunder dengan semua ini. aku tak tahu jika Burhan


adalah orangnya Wicjaksana, dia tentu tak termakan oleh isu yang kami giring,


dan sekarang justru Andre dipenjara karena sudah meresahkan masyarakat karena


kebohongan yang sebenarnya ide ku.


“Tenanglah sayang,” ucap


Zulfa memelukku kembali.


“Aku memang tak memahami


kondisimu, tetapi aku bisa mendengarkanmu dengan baik Gy.”


            Dia mengangkat kepalaku dan tersenyum lembut untukku.


            Aku pun terhanyut didalamnya, dan menceritakan semuanya


kepadanya dari awal hingga akhir.


“Semua orang pasti akan


menyalahkanku Fa.”


“Tidak ada yang


menyalahkan mu sayang. Jika pun ada, aku akan tetap membelamu.”


            Aku diam menatapnya.


“Seakrang istirahatlah,


agar besok kita bisa menemukan solusinya.”


            Aku pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2