
Pagi ini Hutan Belantara
heboh oleh berita yang membuat semua orang terkejut, berita tersebar
dimana-mana, Televisi, Koran, bahkan Media sosial. Perusahaan AP Group yang
menjual aset Perkebunannya kepada Pengusaha Muda yang baru muncul kepermukaan
Andre Sutan Candramawa.
Nama Andre kini banyak diperbincangkan, sepak terjangnya
yang langsung muncul kepermukaan dengan membeli aset perkebunan AP Group
berhasil membuat semua orang takjub.
Aku yang lihat itu pun hanya tersenyum licik lalu
meletakkan koranku, aku melihat sekelilingku yang sedang menatapku geram akan
berita itu.
“Apa maksudnya ini Pak?”
tanya Bonar geram.
“Anda menyuruh kami untuk
percaya kepada Bapak, tetapi Bapak selalu mengambil kebijakan tanpa adanya
andil dari kami. Apa kami Bapak sudah tak menghargai kami sebagai orang yang
sudah mengabdi kepada perusahaan ini dari lama?” sambungnya.
Aku hanya diam menatap mereka santai. Silih berganti
mereka menyampaikan keberatannya atas semua tindakanku. Bonar dan Michel yang
paling keberatan atas ini semua. Bagaimana tidak, Divisi mereka sudah mati kutu
atas ulahku.
Herman berhasil melakukan tugasnya, oleh sebab itu WJ tak
tinggal diam dan langsung membuat Divisi Ekspor&Impor menjadi mati total,
dengan isu bahwa surat izin kami legal. Dan Divisi perkebunan kami sedang ramai
diperbincangkan karena aku sudah menjualnya kepada Andre, padahal itu hanya
isu.
Aku memang meminta paksa akan semua surat penting dari
Divisi Perkebunan kepada Bonar tanpa dia tau untuk apa, dan sekarang dia justru
dikerjutkan karena berita itu. dia di usir dari kantornya oleh Andre, yang
sebenarnya itu adalah perintah dariku.
“Apa kalian sudah puas?”
tanyaku santai.
Mereka diam dengan menatapku geram.
“Tenanglah, semua akan
terkendali dengan baik. Kalian hanya perlu tetap percaya kepadaku…”
“Untuk sementara Pak
Bonar dan Pak Michel saya tunjuk sebagai wakil direktur utama dikantor ini. dan
akan mendapatkan gaji yang sesuai dengan yang kalian dapatkan diposisi kalian
semula,” sambungku.
“Ini bukan soal gaji Pak,
divisi itu sudah saya bangun dari awal, dan Bapak justru terlihat seperti tidak
menghargainya, jadi untuk apa saya harus masih bertahan disini,” balas Bonar
“Oke kalau begitu
silahkan jika memang Bapak ingin keluar,” ucapku.
Dia menatapku tajam dan pergi meninggalkan kami yang ada
didalam ruangan rapat.
“Jika memang masih ada
yang tak percaya denganku silahkan keluar. Aku hanya perlu orang-orang yang
bekerja untuk percaya padaku.”
Mereka semua terdiam, begitu juga dengan Michel yang
sedari tadi brisik seketika menjadi diam. Aku pun bangkit dari tempat dudukku,
lalu menatap mereka tajam.
“Aku pimpinan disini,
jika kalian tidak suka dengan semua kebijakanku, silahkan keluar.”
Mereka masih terdiam menjadi takut kepadaku.
“Baiklah, jika tidak ada
lagi, silahkan kembali bekerja,” ucapku lalu pergi meniggalkan mereka.
Aku berjalan masuk kedalam ruanganku dengan perasaan
kesal dalam hatiku yang kembali menyelimutiku, tetapi masih menjaganya karena
aku lah yang membuat mereka betingkah seperti itu. Dewi masuk lalu duduk
dihadapanku.
“Gua udah lakuin tugas
sesuai yang lu perintahin.”
“Terus mereka gimana
sekarang?”
“Sesuai yang lu suruh,
mereka santai dirumahnya masing-masing.”
Aku pun mengangguk.
“Ada tugas lagi?”
tanyanya kesal kepadaku.
“Kembali bekerja,”
balasku datar.
Dia pun pergi meninggalkanku lalu menutup pintu dengan sangat
keras, dan mengejutkanku, hingga membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku
melihat tingkahnya.
Aku tidak marah kepadanya, karena aku bisa memaklumi Dewi
yang kesal terhadapku. Dan jika hanya Dewi yang bersikap seperti itu aku sama
sekali tak keberatan.
Aku tersenyum sendiri dengan memikirkan semua rencanaku
berjalan dengan baik, orang-orang yang ku temui sudah melakukan tugas yang ku
perintahkan, dan sekarang aku hanya tinggal menunggu waktu untuk semua itu. Aku
mengambil ponselku lalu menelfon Rojali yang sudah lama tak ku temui.
“Dimana kau?”
“Ditempat biasalah.”
“Aku kesana.”
“Oke.”
Setelah mematikan Ponselku aku langsung beranjak pergi
menemuinya.
…
“Mana Dewi? Tumben ga kau
ajak kesini.”
“Dia lagi marah sama
gua.”
__ADS_1
“Kau repotin lagi di ya.”
Aku hanya mengangguk.
“Eh berita itu benar?”
Aku mengangguk lagi.
“Itu Andre sepupumu itu
kan?”
Aku mengangguk lagi.
“Tapi kok heboh kali,
memangnya gak tau mereka itu sepupu lu.”
“Enggak.”
Dia pun mengagguk paham.
“Kopi gua mana?”
“Oke tunggu.”
Dia pun pergi meninggalkanku duduk sendiri.
Aku duduk dengan menghisap rokokku sambil melihat
sekelilingku. Dia pun datang kembali dengan membawakan segelas kopi untukku.
“Eh Ibu gimana?”
“Sehat.”
“Si Rudy baru aja dari
sini.”
“Ngapain?”
“Nongkrong sama
temennya.”
Aku mengangguk paham.
“Lagi pusing kali kau
kelihatannya.”
“Enggak, biasa aja.”
“Kaya cewek aja kau.”
“Gua biasa aja kampret.”
“Terus kenapa pendiam
gini kau.”
Aku pun menatapnya dalam.
Tak ingin membuat Rojali bingung, aku pun menceritakan
kondisiku saat ini, dan perusahaanku, dan juga seluruh pekerjaku yang snagat
keberatan atas kebijakanku, aku juga menceritakan alasanku melakukan ini.
Rojali hanya diam mendengarkanku bicara. Dibanding dengna
Dewi aku merasa jauh lebih yakin untuk membongkar rahasia ku kepada Rojali,
karena dia tidak pernah memperdulikan itu, dan dia hanya siap mendengarkan ku
sampai aku puas menceritakan semuanya.
“Gimana menurutmu?”
“Aku kalau soal itu ya
kurang paham. Tapi aku percaya sama kau. Nanti mereka juga bakal kembali
samamu.”
Aku pun mengangguk bangga.
“Intinya, kau itu harus
yakin, dan jangan gegabah. Lakuin aja, toh kau punya alasan sendiri.”
Aku masih diam menatapnya.
rencanamu ini?”
“Lu doang.”
“Serius kau? Bini mu ga
tau?”
“Ya enggaklah, ngapain
dia harus tau. Lagian dia mana paham soal beginian.”
“Iya juga memang.
Yaudahlah, aku cuma bisa mendukung kau aja.”
Aku mengangguk sambil tersenyum bangga kepadanya.
Kami kembali berbicara, hingga aku menghabiskan kopi ku,
aku pun memutuskan untuk kembali kerumahku. Sudah lama sekali aku tak pulang
lebih awal, biasanya aku selalu pulang larut dan menemui istriku yang sudah
tertidur karena menungguku.
Aku melihat mobil istriku belum ada dirumah, aku pun
memutuskan untuk mengganti pakaianku lalu memasuki ruangan kerjaku yang ada
dirumah. Aku kembali melihat beberapa laporan dan dokumen perusahaan.
Aku kembali meneliti semuanya, agar dapat memastikan
rencanaku tidak ada penghambat sama sekali. Aku sudah melakukan sesuatu atas 2
divisi yang sakit diperusahaanku, yang satu sudah mati total, dan yang satu
lagi sudah ku alihkan.
Sekarang aku hanya tinggal menunggu waktu untuk
melancarkan aksiku yang selanjutnya terhadap Wicjaksana.
“Kau sudah pulang duluan?”
Aku menoleh kearah suara yang tiba-tiba masuk tanpa izin
kedalam ruanganku, ternyata Zulfa istriku.
“Tumben.”
“Aku hanya ingin tidur
siang tadi,” ucapku bohong.
Dia berjalan mendekatiku dan berdiri disampingku.
“Akhir-akhir ini kau
sangat sibuk.”
Aku hanya diam menatapnya.
“Kau kesulitan?”
Aku menggelengkan kepalaku. Dia pun memelukku dengan
lembut.
Aku memberiakan diriku dipeluk olehnya, tubuhka terasa
hangat, fikiranku merasa sedikit lebih tenang, seakan tak terbebani dengan
fikiran burukku atas ketakutanku terhadap kegagalan rencanaku.
“Aku sudah lama tak
memelukmu,” ucapnya.
Aku melepaskan pelukannya, lalu berdiri dan memegang
wajahnya sambil menatapnya lembut.
“Maafkan aku Fa.”
Dia diam menatapku.
“Aku selalu mengabaikan
mu akhir-akhir ini.”
__ADS_1
“Aku juga sudah menunda
liburan kita.”
“Aku janji, setelah semua
ini selesai, aku tak akan menepatinya.”
Dengan matanya yang mulai sayu dia mengeluarkan senyuman
lembutnya untukku. Dia menganggukkan kepalanya kepadaku, aku pun menciumnya dan
dia pun membalasnya. Kami berciuman sangat lama sampai dia melepaskan ciuman
kami.
“Aku tak ingin
melakukannya disini Nugy.”
“Kau ingin kugendong?”
Dia mengangguk.
Aku pun menggendongnya lalu membawanya kekamar, kami pun
melanjutkan aktivitas kami sebagai sepasang suami istri. Aku melakukannya
hingga berkali-kali sampai aku puas dan istriku tak sanggup lagi meladeniku.
“Aku sangat lelah
sayang.”
“Aku sangat meridukan
tubuhmu sayang.”
Dia pun tersenyum kepadaku, aku menyandarkan kepalanya di
dadaku sambil ku peluk lembut.
Aku benar-benar merasa bersalah sudah mengabaikan
istriku, aku sudah lama tak memberi dia nafkah yang seharusnya dia dapatkan.
Aku tak berniat sama sekali untuk mengabaikannya apa lagi membiarkannya tidur
kedinginan karena menungguku, tetapi aku melakukan itu karena terpaksa aku
harus berkerja untuk memeprbaiki semuanya.
“Maafkan aku Zulfa.”
“Tidak apa-apa sayang,
aku memaklumimu.”
Aku mencium keningnya dengan penuh cinta. Dan tak
melepaskan pelukan ku hingga kami tertidur lebih cepat malam ini.
Aku terbangun ditengah malam ketika Dewi menelfonku
berkali-kali, dan membuat Zulfa juga ikut terbangung.
“Ada apa?”
“Coba kau lihat Wa mu.”
Aku mematikan ponselku lalu membuka pesan yang diberikan
oleh Dewi kepadaku.
Aku terdiam terpatung ketika melihat pesan yang diberikan
oleh Dewi. Aku kembali menelfonnya dan langsung diangkat olehnya.
“Bagaimana bisa?”
“Dia dijebak oleh seorang
kepercayan WJ.”
“Siapa?”
Dia terdiam diseberang sana.
“Jawab Gua Dewi.”
“Burhan.”
Aku terdiam, darahku kembali mendidih.
“BANGSAT!!!”
Aku lagnsung mematikan ponselku dan segera bangkit
memakai pakaianku, Zulfa yang heran melihatku seketika menjadi panic dan
menahanku.
“Lepaska aku Zulfa.”
“Kau mau kemana
malam-malam begini.”
“Aku ada perlu.”
“Jelaskan padaku.”
“Aku tak punya waktu.”
Dia tetap menahanku dengan memelukku erat dari belakang.
“Lepaskan aku Zulfa.”
“Aku tak mau. Kau sedang
emosi Nugy, tenangkan dirimu dulu.”
“Aku tak punya waktu.”
“Aku mohon.”
Aku terdiam mendengar permohonannya yang mulai menangis
memelukku, aku kembali bisa menahan emosiku, dan melepaskan pelukannya, aku
menatapnya dengan lembut, aku merasa bersalah sudah memakinya barusan.
“Maafkan aku Zulfa.”
Dia tak menjawab.
Aku mengajaknya untuk duduk diranjang kamarku, aku
mengusap kepalanya dengan lembut. Hingga dia selesai menghabiskan air matanya.
“Andre dipenjara Fa. Dia
dijebak oleh Burhan, aku ingin segera membantunya, ini semua karena salahku
yang sudah melibatkannya.”
Aku menundukkan kepala ku dengan menyesali semua
perbuatanku, aku benar-benar blunder dengan semua ini. aku tak tahu jika Burhan
adalah orangnya Wicjaksana, dia tentu tak termakan oleh isu yang kami giring,
dan sekarang justru Andre dipenjara karena sudah meresahkan masyarakat karena
kebohongan yang sebenarnya ide ku.
“Tenanglah sayang,” ucap
Zulfa memelukku kembali.
“Aku memang tak memahami
kondisimu, tetapi aku bisa mendengarkanmu dengan baik Gy.”
Dia mengangkat kepalaku dan tersenyum lembut untukku.
Aku pun terhanyut didalamnya, dan menceritakan semuanya
kepadanya dari awal hingga akhir.
“Semua orang pasti akan
menyalahkanku Fa.”
“Tidak ada yang
menyalahkan mu sayang. Jika pun ada, aku akan tetap membelamu.”
Aku diam menatapnya.
“Seakrang istirahatlah,
agar besok kita bisa menemukan solusinya.”
Aku pun mengangguk.
__ADS_1