Belantara

Belantara
KEBENARAN #2 (PART 1)


__ADS_3

Aku memang selalu sangat


merasa bosan jika hanya berdiam diri dikantor, aku lebih suka jika harus turun


kelapangan dibanding duduk diruangan seperti ini. Ruangan yang hanya dipenuhi Dokumen-dokumen


yang sangat menyakitkan mataku, namun Dewi pernah berkata kepadaku, Raja tak


boleh asal meningglakan Istananya.


            Dari pada aku bosan mending aku memanggil Dewi saja


keruanganku, untuk menemaniku bercerita, aku menelfonya menggunakan telepon


kantor dan menyuruhnya masuk keruanganku.


“Ada apa?” tanyanya


“Gua bisa mati karena


bosan diruangan ini,” kataku.


“Percuma, gua ga akan mengizinkan


lu buat kelapangan Gy.”


“Lagian ntar lu hitam


kena panas kalau kelapangan, lu mau tuh cewek ilfil liat kulit lu kalau item.”


“Aku tak sedang membahas


dia,” jawabku datar


“Ada apa, berantem lagi


lu?”


            Aku hanya diam, aku sedang tak tertarik membahas zulfa


kali ini, lebih baik aku membahas persoalan ayah yang mengajak ku jumpa siang


nanti.


“Bokap nelfon gua semalam,”


kataku pelan.


“Ha, terus?” tanyanya


penasaran.


“Dia ngajak ketemu ntar


siang.”


“Lu mau kan.”


            Aku hanya diam, tak menjawab


“Gy, gua tau lu gak suka


sama Bokap lu, tapi dia kan tetep Bokap lu juga,” sambungnya menasehatiku.


            Aku pun masih diam dan tak menjawab


“Gua ikut deh, udah lama


juga gak ketemu Bokap lu.”


            Aku masih diam tak menjawab, aku tak suka dengan Ayahku,


namun dalam satu sisi aku merindukan dia hadir dihadapanku. Sepertinya ide


bagus jika aku pergi menemuinya bersama Dewi agar tak terasa canggung setelah


lama tak berbicara dengan ayahku.


“Ya sudah,” aku


mengiyakan.


“Gitu dong.”


            Aku hanya tersenyum, lalu mengambil rokokku dan


menghisapnya, dia pun menatapku sambil menggelengkan kepala.


“Merokok sambil ngopi


enak nih,” ucapku mengkodenya


“Mending langsung


berangkat aja deh yuk, udah mau jam 12 juga, lu bisa ngopi disana,” ajaknya.


“Gila lu, mana mungkinlah


gua ngerokok depan bokap.”


“Diih, ya jangan


ngerokoklah, habisin dulu tuh rokok lu sebatang, baru tinggal ngopi deh disana.”


“Bilang aja lu ga mau


bawain kopi buat gua.”


“Yaelah, baperan lu,


kalau lu ngopi disini ntar jadi lama, kasian Bokap lu nungguin ntar.”


            Aku pun hanya menurut dan lagian benar kata Dewi aku bakalan


terlambat untuk bertemu Ayah karena aku sangat lama menghabiskan satu cangkir


kopi. Aku pun menghabiskan rokokku, lalu langsung berangkat ke lokasi yang


sudah ditentukan oleh Ayah.



            Tempat ini tak berubah sama sekali, tempat dimana aku


sering bersama Ayah untuk ngobrol berdua ketika aku masih kuliah dulu, disaat


dia belum bekerja sebagai Elite Politik. Ketika kuliah aku tinggal di


Apartement milik Ayah di kota ini, karena sangat jauh jika aku harus Bolak-balik


dari tambun ke kampusku di Jakarta.


Biasanya


Ayah mengajakku kesini hampir setiap hari sabtu. Dia mengatakan padaku bahwa


setiap sabtu dia selalu memiliki urusan yang sangat penting di Jakarta, namun


aku tak tau urusan apa, karena aku juga tak pernah menanyakannya.


            Namun semenjak dia menetapkan dirinya sebagai salah satu


Elite Politik di Hutan Belantara ini, kami tak pernah lagi kesini hingga


sekarang dia mengajakku kembali untuk bertemu ditempat ini.

__ADS_1


            Aku berjalan memasuki café yang tidak begitu besar namun


tak juga kecil, sederhana namun sangat hangat suasana didalamnya. Aku melihat


sekeliling café namun nampaknya aku dan Dewi yang sampai terlebih dahulu, lalu


kami putuskan duduk sambil menunggu Ayah.


“Mau mesan apa mas,”


tanya pelayan sambil memberi menunya


“Nanti saja, sedang


menunggu yang lain,” balasku


“Baik mas,” lalu dia


pergi meninggalkan kami berdua


“Bokap lu tau juga tempat


keren begini yak.”


“Dulu gua sering kesini


ama dia waktu masih kuliah.”


“Teruss, Sekarang masih?”


“Gak, baru kali ini lagi


dia ajak gua.”


“Bokap kangen kali ama lu.”


            Aku tak merespon perkataan Dewi, karena aku tak yakin


jika Ayahku memiliki rasa rindu terhadapku, bagaimana bisa dia rindu, sedangkan


Istrinya saja selalu ia tinggalkan dalam kesepian di dalam Istana yang dia


bangun untuk keluarganya.


“Kayanya itu Bokap lu deh,”


tunjuk Dewi ke arah pintu luar café.


            Aku pun melihat kearah yang ditunjuk Dewi, dia Ayahku


yang selama ini aku rindukan kehadirannya setelah sudah sekian lama aku tak bertemu,


karena ketika aku ketambun dia selalu tidak ada disana, dan selama dia di Jakarta


aku juga tak pernah bertemu dengannya. aku hanya bertemu dengannya ketika lebaran


dua tahun lalu. Lebaran kemarin aku tak pulang sebab aku lebaran sendiri ditanah


suci. Ketika aku pulang dari sana aku tak pernah lagi bertemu dengan Ayah.


            Ada yang aneh ketika aku melihat dirinya berjalan


memasuki café bersama satu orang berbaju batik yang mendampinginya, sejak kapan


dia memiliki penjaga, heranku. Pria ini terlihat kurus sekarang, ada apa dengan


dia, apakah karena dia terlalu sibuk hingga tak sempat memperhatikan dirinya.


Ayahku sangat tinggi dan gagah dulu sejak terakhir aku melihatnya, namun


sekarang berbeda, dia terlihat sedikit kurus. Dia tersenyum melihatku lalu aku


berdiri menyalamnya yang diikuti oleh Dewi.


berdiri disebelahku


            Ayah pun duduk dihadapan kami, sedangkan aku dan Dewi


duduk bersebelahan, pria berbaju batik tadi duduk tempat yang lain sedikit jauh


dari kami.


“Kalian sudah lama?”


Tanyanya.


“Tidak kok Om” balas Dewi.


“Sudah lama aku tak


melihatmu Dewi,” sambungnya.


“Aku juga, Om terlihat


kurus sekarang,” ucap Dewi


Ayahku


hanya tersenyum tipis.


“Tapi Om sehat kan?”


sambungnya lagi


“Kau pernah melihatku


sakit?” balas Ayah bertanya sambil tersenyum


“Hahaha betul juga sih,


aku tak pernah melihat Om sakit” jawab Dewi.


            Ayah memang tak pernah sakit, palingan cuman meriang saja


namun dia sangat pandai memulihkan dirinya dengan cepat, Ayah sangat pandai


menajaga kondisi fisiknya, makanya dia sangat jarang sakit.


            Aku hanya diam saja melihat mereka berdua berbicara, Dewi


memang sudah dekat sekali dengan keluargaku, bagi Ayah dan Ibu, Dewi sudah


mereka anggap seperti anak perempuannya sendiri, jadi tak heran jika Ayah juga merasa


senang ketika berbicara dengan Dewi.


Tapi


dia kan ingin bertemu denganku, sebaiknya langsung bicarakan saja, aku tak suka


berbasa-basi. Hatiku memang merasa senang bertemu dengan Ayah, namun disisi


lain hatiku sakit melihat tingkahnya yang selalu meninggalkan Ibu dirumah.


“Om mau mesen apa?” Tanya


Dewi sambil memanggil pelayan


“Kopi saja,” jawab Ayah.


“Om gak makan?”


“Gak usah, aku sedang Buru-buru.”


“Lu mesen apa Gy?”

__ADS_1


“Kopi aja.”


“Kok pada gak mau makan


sih,” kesal Dewi


“Hahaha,” Ayah pun


tertawa


            Dewi memberi menu dan pesanan kami kepada pelayan, lalu


pelayan itu pun pergi meninggalkan kami bertiga.


“Kamu jadi pengopi


sepertiku sekarang Nugy,” kata Ayah


“Ayah sedang buru buru


kan? jadi langsung saja ada apa sebenarnya mengajakku kesini?” balasku bertanya


ketus.


“Nugy,” kata Dewi sambil


memukul tanganku.


“Tak apa Dewi, dia


sepertinya membenci ku sekarang,” kata Ayah santai.


            Aku hanya diam saja menunggu apa yang akan dia sampaikan


kepadaku


“Aku hanya ingin


menyampaikan bahwa aku akan menjual rumah kita, sebagai anggota keluarga kau


harus mengetahui ini,” ucapnya tegas.


“APA,” balasku kaget.


“Sudah kuduga reaksimu,” ucapnya.


“Seorang Elite Politik


sedang membutuhkan uang rupanya Sampai-sampai harus menjual harta yang menjadi


tempat berharga bagi Istrinya, yang sering dia tinggalkan,” balasku sambil


tersenyum sinis.


“Aku tak peduli kau


berkata apa Nugy, aku kesini hanya ingin memberitahumu,” balasnya.


“Sampai kapan?” tanyaku.


Emosiku


sangat memuncak sekarang


“Apa?” herannya.


“Sampai kapan kau terus


menyiksa Ibuku? apa kau sudah berubah menjadi siluman hanya karena tahta dan


harta yang kau dapatkan di Hutan Belantara ini,” tanyaku.


“Oohh, kau justru sudah


pandai bersikap tak sopan kepadaku,” balasnya menyindirku.


“Aku tak peduli, siapapun


yang merusak keluargaku, dia adalah musuhku, dan aku tak perlu sopan dengan


musuhku.”


“Oke kalau begitu bisakah


kau kembalikan apa yang kau dapat dari musuhmu ini?”


Aku


hanya terdiam tak berkutik, aku hanya berbicara tanpa berfikir, emosi ku


terlalu memuncak sampai sampai aku mengatakan sesuatu yang bisa membuat ku tak


berkutik.


“Kau tak bisa? Ya sudah


aku ikhlaskan saja itu untukmu, kau sudah besar Nugy, sebaiknya kau lebih banyak


berfikir, dan kendalikan emosimu dengan baik,” ucapnya lalu berdiri.


“Om pergi dulu Dewi,” sambil


berlalu pergi diikuti oleh orang berbaju batik tadi.


“I—ya Om,” kata Dewi yang


sedang bingung dia harus bersikap seperti apa atas apa yang terjadi antara kami


berdua.


            Dia mungkin kesal denganku yang tak sopan kepada Ayah,


namun dia juga mengerti bagaimana perasaanku, jadi dia tak memarahiku, dia


membiarkanku diam dulu.


“Ayo kita pergi,” ajakku.


“Pesanannya belum datang


Nugy.”


“Udah tinggal dibayar aja,”


suruhku.


“Nug—”


“Gua mau kerumah Ibu,”


kataku lirih.


            Dia hanya menatapku lama.


“Yaudah, tapi gua ikut kesana


ya,” ucapnya pelan.


Sepertinya


dia paham dengan perasaanku saat ini.


            Aku mengangguk lalu pergi membayar pesanan kami yang


sebenarnya belum datang, tapi lebih baik dibayar saja.

__ADS_1


__ADS_2