
Aku memang selalu sangat
merasa bosan jika hanya berdiam diri dikantor, aku lebih suka jika harus turun
kelapangan dibanding duduk diruangan seperti ini. Ruangan yang hanya dipenuhi Dokumen-dokumen
yang sangat menyakitkan mataku, namun Dewi pernah berkata kepadaku, Raja tak
boleh asal meningglakan Istananya.
Dari pada aku bosan mending aku memanggil Dewi saja
keruanganku, untuk menemaniku bercerita, aku menelfonya menggunakan telepon
kantor dan menyuruhnya masuk keruanganku.
“Ada apa?” tanyanya
“Gua bisa mati karena
bosan diruangan ini,” kataku.
“Percuma, gua ga akan mengizinkan
lu buat kelapangan Gy.”
“Lagian ntar lu hitam
kena panas kalau kelapangan, lu mau tuh cewek ilfil liat kulit lu kalau item.”
“Aku tak sedang membahas
dia,” jawabku datar
“Ada apa, berantem lagi
lu?”
Aku hanya diam, aku sedang tak tertarik membahas zulfa
kali ini, lebih baik aku membahas persoalan ayah yang mengajak ku jumpa siang
nanti.
“Bokap nelfon gua semalam,”
kataku pelan.
“Ha, terus?” tanyanya
penasaran.
“Dia ngajak ketemu ntar
siang.”
“Lu mau kan.”
Aku hanya diam, tak menjawab
“Gy, gua tau lu gak suka
sama Bokap lu, tapi dia kan tetep Bokap lu juga,” sambungnya menasehatiku.
Aku pun masih diam dan tak menjawab
“Gua ikut deh, udah lama
juga gak ketemu Bokap lu.”
Aku masih diam tak menjawab, aku tak suka dengan Ayahku,
namun dalam satu sisi aku merindukan dia hadir dihadapanku. Sepertinya ide
bagus jika aku pergi menemuinya bersama Dewi agar tak terasa canggung setelah
lama tak berbicara dengan ayahku.
“Ya sudah,” aku
mengiyakan.
“Gitu dong.”
Aku hanya tersenyum, lalu mengambil rokokku dan
menghisapnya, dia pun menatapku sambil menggelengkan kepala.
“Merokok sambil ngopi
enak nih,” ucapku mengkodenya
“Mending langsung
berangkat aja deh yuk, udah mau jam 12 juga, lu bisa ngopi disana,” ajaknya.
“Gila lu, mana mungkinlah
gua ngerokok depan bokap.”
“Diih, ya jangan
ngerokoklah, habisin dulu tuh rokok lu sebatang, baru tinggal ngopi deh disana.”
“Bilang aja lu ga mau
bawain kopi buat gua.”
“Yaelah, baperan lu,
kalau lu ngopi disini ntar jadi lama, kasian Bokap lu nungguin ntar.”
Aku pun hanya menurut dan lagian benar kata Dewi aku bakalan
terlambat untuk bertemu Ayah karena aku sangat lama menghabiskan satu cangkir
kopi. Aku pun menghabiskan rokokku, lalu langsung berangkat ke lokasi yang
sudah ditentukan oleh Ayah.
…
Tempat ini tak berubah sama sekali, tempat dimana aku
sering bersama Ayah untuk ngobrol berdua ketika aku masih kuliah dulu, disaat
dia belum bekerja sebagai Elite Politik. Ketika kuliah aku tinggal di
Apartement milik Ayah di kota ini, karena sangat jauh jika aku harus Bolak-balik
dari tambun ke kampusku di Jakarta.
Biasanya
Ayah mengajakku kesini hampir setiap hari sabtu. Dia mengatakan padaku bahwa
setiap sabtu dia selalu memiliki urusan yang sangat penting di Jakarta, namun
aku tak tau urusan apa, karena aku juga tak pernah menanyakannya.
Namun semenjak dia menetapkan dirinya sebagai salah satu
Elite Politik di Hutan Belantara ini, kami tak pernah lagi kesini hingga
sekarang dia mengajakku kembali untuk bertemu ditempat ini.
__ADS_1
Aku berjalan memasuki café yang tidak begitu besar namun
tak juga kecil, sederhana namun sangat hangat suasana didalamnya. Aku melihat
sekeliling café namun nampaknya aku dan Dewi yang sampai terlebih dahulu, lalu
kami putuskan duduk sambil menunggu Ayah.
“Mau mesan apa mas,”
tanya pelayan sambil memberi menunya
“Nanti saja, sedang
menunggu yang lain,” balasku
“Baik mas,” lalu dia
pergi meninggalkan kami berdua
“Bokap lu tau juga tempat
keren begini yak.”
“Dulu gua sering kesini
ama dia waktu masih kuliah.”
“Teruss, Sekarang masih?”
“Gak, baru kali ini lagi
dia ajak gua.”
“Bokap kangen kali ama lu.”
Aku tak merespon perkataan Dewi, karena aku tak yakin
jika Ayahku memiliki rasa rindu terhadapku, bagaimana bisa dia rindu, sedangkan
Istrinya saja selalu ia tinggalkan dalam kesepian di dalam Istana yang dia
bangun untuk keluarganya.
“Kayanya itu Bokap lu deh,”
tunjuk Dewi ke arah pintu luar café.
Aku pun melihat kearah yang ditunjuk Dewi, dia Ayahku
yang selama ini aku rindukan kehadirannya setelah sudah sekian lama aku tak bertemu,
karena ketika aku ketambun dia selalu tidak ada disana, dan selama dia di Jakarta
aku juga tak pernah bertemu dengannya. aku hanya bertemu dengannya ketika lebaran
dua tahun lalu. Lebaran kemarin aku tak pulang sebab aku lebaran sendiri ditanah
suci. Ketika aku pulang dari sana aku tak pernah lagi bertemu dengan Ayah.
Ada yang aneh ketika aku melihat dirinya berjalan
memasuki café bersama satu orang berbaju batik yang mendampinginya, sejak kapan
dia memiliki penjaga, heranku. Pria ini terlihat kurus sekarang, ada apa dengan
dia, apakah karena dia terlalu sibuk hingga tak sempat memperhatikan dirinya.
Ayahku sangat tinggi dan gagah dulu sejak terakhir aku melihatnya, namun
sekarang berbeda, dia terlihat sedikit kurus. Dia tersenyum melihatku lalu aku
berdiri menyalamnya yang diikuti oleh Dewi.
berdiri disebelahku
Ayah pun duduk dihadapan kami, sedangkan aku dan Dewi
duduk bersebelahan, pria berbaju batik tadi duduk tempat yang lain sedikit jauh
dari kami.
“Kalian sudah lama?”
Tanyanya.
“Tidak kok Om” balas Dewi.
“Sudah lama aku tak
melihatmu Dewi,” sambungnya.
“Aku juga, Om terlihat
kurus sekarang,” ucap Dewi
Ayahku
hanya tersenyum tipis.
“Tapi Om sehat kan?”
sambungnya lagi
“Kau pernah melihatku
sakit?” balas Ayah bertanya sambil tersenyum
“Hahaha betul juga sih,
aku tak pernah melihat Om sakit” jawab Dewi.
Ayah memang tak pernah sakit, palingan cuman meriang saja
namun dia sangat pandai memulihkan dirinya dengan cepat, Ayah sangat pandai
menajaga kondisi fisiknya, makanya dia sangat jarang sakit.
Aku hanya diam saja melihat mereka berdua berbicara, Dewi
memang sudah dekat sekali dengan keluargaku, bagi Ayah dan Ibu, Dewi sudah
mereka anggap seperti anak perempuannya sendiri, jadi tak heran jika Ayah juga merasa
senang ketika berbicara dengan Dewi.
Tapi
dia kan ingin bertemu denganku, sebaiknya langsung bicarakan saja, aku tak suka
berbasa-basi. Hatiku memang merasa senang bertemu dengan Ayah, namun disisi
lain hatiku sakit melihat tingkahnya yang selalu meninggalkan Ibu dirumah.
“Om mau mesen apa?” Tanya
Dewi sambil memanggil pelayan
“Kopi saja,” jawab Ayah.
“Om gak makan?”
“Gak usah, aku sedang Buru-buru.”
“Lu mesen apa Gy?”
__ADS_1
“Kopi aja.”
“Kok pada gak mau makan
sih,” kesal Dewi
“Hahaha,” Ayah pun
tertawa
Dewi memberi menu dan pesanan kami kepada pelayan, lalu
pelayan itu pun pergi meninggalkan kami bertiga.
“Kamu jadi pengopi
sepertiku sekarang Nugy,” kata Ayah
“Ayah sedang buru buru
kan? jadi langsung saja ada apa sebenarnya mengajakku kesini?” balasku bertanya
ketus.
“Nugy,” kata Dewi sambil
memukul tanganku.
“Tak apa Dewi, dia
sepertinya membenci ku sekarang,” kata Ayah santai.
Aku hanya diam saja menunggu apa yang akan dia sampaikan
kepadaku
“Aku hanya ingin
menyampaikan bahwa aku akan menjual rumah kita, sebagai anggota keluarga kau
harus mengetahui ini,” ucapnya tegas.
“APA,” balasku kaget.
“Sudah kuduga reaksimu,” ucapnya.
“Seorang Elite Politik
sedang membutuhkan uang rupanya Sampai-sampai harus menjual harta yang menjadi
tempat berharga bagi Istrinya, yang sering dia tinggalkan,” balasku sambil
tersenyum sinis.
“Aku tak peduli kau
berkata apa Nugy, aku kesini hanya ingin memberitahumu,” balasnya.
“Sampai kapan?” tanyaku.
Emosiku
sangat memuncak sekarang
“Apa?” herannya.
“Sampai kapan kau terus
menyiksa Ibuku? apa kau sudah berubah menjadi siluman hanya karena tahta dan
harta yang kau dapatkan di Hutan Belantara ini,” tanyaku.
“Oohh, kau justru sudah
pandai bersikap tak sopan kepadaku,” balasnya menyindirku.
“Aku tak peduli, siapapun
yang merusak keluargaku, dia adalah musuhku, dan aku tak perlu sopan dengan
musuhku.”
“Oke kalau begitu bisakah
kau kembalikan apa yang kau dapat dari musuhmu ini?”
Aku
hanya terdiam tak berkutik, aku hanya berbicara tanpa berfikir, emosi ku
terlalu memuncak sampai sampai aku mengatakan sesuatu yang bisa membuat ku tak
berkutik.
“Kau tak bisa? Ya sudah
aku ikhlaskan saja itu untukmu, kau sudah besar Nugy, sebaiknya kau lebih banyak
berfikir, dan kendalikan emosimu dengan baik,” ucapnya lalu berdiri.
“Om pergi dulu Dewi,” sambil
berlalu pergi diikuti oleh orang berbaju batik tadi.
“I—ya Om,” kata Dewi yang
sedang bingung dia harus bersikap seperti apa atas apa yang terjadi antara kami
berdua.
Dia mungkin kesal denganku yang tak sopan kepada Ayah,
namun dia juga mengerti bagaimana perasaanku, jadi dia tak memarahiku, dia
membiarkanku diam dulu.
“Ayo kita pergi,” ajakku.
“Pesanannya belum datang
Nugy.”
“Udah tinggal dibayar aja,”
suruhku.
“Nug—”
“Gua mau kerumah Ibu,”
kataku lirih.
Dia hanya menatapku lama.
“Yaudah, tapi gua ikut kesana
ya,” ucapnya pelan.
Sepertinya
dia paham dengan perasaanku saat ini.
Aku mengangguk lalu pergi membayar pesanan kami yang
sebenarnya belum datang, tapi lebih baik dibayar saja.
__ADS_1