Belantara

Belantara
KEBENARAN #2 (PART 4)


__ADS_3

Kami pun sampai disebuah rumah


yang tak asing bagiku, rumah ini sangat ku kenali, aku sering kesini dengan Ayahku


dulu saat aku masih kuliah. Dan ini pertama kalinya aku kesini setelah sekian


lama. Pintu pagar pun terbuka


“Ada Bapak didalam?”


tanya Patricia.


“Ada Buk Dokter, silahkan


masuk,” satpam itu mempersilahkan kami masuk.


            Lalu setelah Rojali menghentikan mobil, kami pun turun


dan berjalan menuju pintu masuk rumah besar ini, namun tak sebesar rumah


keluargaku.


“Ku rasa kau sudah tau


ini rumah siapa,” ucap Patricia kepadaku.


“Tentu saja,” balasku.


            Zulfa dan Rojali hanya terdiam heran melihat ku, tentu


saja mereka tak tahu ini rumah siapa.


            Kami pun berjalan masuk kedalam rumah setelah pintu


dibuka oleh pembantu rumah ini, aku melihat ada seseorang yang sangat ku kenali


berjalan menyambut kami, dia adalah Om Ali kerabat dekat Ayahku.


“Nugy Alfarizky, anakku,


sudah lama aku tak melihatmu, tak kusangka kau semakin terlihat mengagumkan,” ucapnya


sambil memelukku.


“Om masih saja tak


berubah,” balasku sambil memeluknya.


            Dia pun tersenyum lalu melihat kearah Zulfa.


“Ini kekasihmu?” tanyanya


sambil menunjuk kearah Zulfa.


“Iya, dia kekasihku,”


jawabku.


            Dia tersenyum bangga kepadaku, lalu menundukkan sedikit


kepalanya menatap Zulfa.


“Ku rasa Nugy sangat kesulitan


untuk mendapatkan wanita sepertimu,” ucapnya kepada Zulfa.


“Om sangat betul, dia


lelaki yang sangat cupu ketika mendekatiku,” balas Zulfa menyindirku sambil


menyalam tangan Om Ali.


            Aku hanya mampu terdiam sambil memahami maksudnya yang


sangat menyindirku, selama ini aku tak pernah berani mengungkapkan perasaan ku


yang sebenarnya kepadanya. Tapi mari kita kesampingkan dulu masalah itu, karena


ada hal yang jauh lebih penting saat ini.


“Dan kau,” kata nya


kepada Rojali.


Rojali


hanya menunjukkan ekspresi heran


“Kau siapa?” sambungnya.


Dan


ini membuat aku, Zulfa, dan Patricia tertawa.


“Kenapa kalian tertawa,


aku salah? Aku memang tak pernah bertemu dengannya”


“Hahaha dia sahabatku


yang kutemukan saat sedang kelaparan dihalte kampus ketika aku kuliah dulu,” balasku


sambil tertawa kecil.


            Tentu saja Zulfa memukulku sambil ikut tertawa kecil.


“Oh ya?”


“Iya Om, aku Rojali pria


terkeren yang kelaparan saat uangku dirampas oleh bajingan itu.” ucapnya sambil


mengataiku.


“Hahaha kau lucu sekali,


sudah mari kita duduk, aku sudah tau maksud kedatangan kalian. Tampaknya kau


kesulitan menghadapi pria sulung dari keluarga Sultan Tambun ini ya,” kata Om Ali


kepada Patricia.


“Seperti yang kalian


katakan, dia sangat sulit untuk dilawan,” balas Patricia.


“Hahaha begitulah pria


yang ku kagumi ini,” sombongnya sambil menepuk bahuku dengan bangga.


            Kami pun mengikuti nya untuk masuk keruangan kerja


miliknya, sangat luas menurutku dengan kursi dan merja kerja, serta ada ruang


tamunya. Kami pun duduk dikursi tamu yang ada didalam ruangan kerjanya.


            Dia mengambil minuman dan makanan yang ada dikulkas,


didalam ruangan kerjanya, lalu meletakkannya dimeja. Dan dia pun duduk.


“Apa yang membuatmu


kesini?” tanyanya kepadaku.


“Aku ingin mengetahui


semuanya,” jawabku tegas.


“Ini akan memakan waktu


yang lama nak,” ucapnya kepadaku.


“Tak masalah,” jawabku.


“Baiklah.”


            Dia pun menceritakan semuanya mulai dari awal petama


pertemuan nya dengan Ayah dan Ibuku. Dia mengatakan bahwa Ayahku adalah orang


yang hebat, kuat, dan nekat sepertiku, hingga dia menceritakan kenapa Ayah


menjadi seorag Elite Politik di Belantara ini.


“Ayahmu tak pernah ingin


menjadi Elite Politik, namun dia harus melakukannya karena wasiat dari Kakek

__ADS_1


mu. Lalu dia berusaha untuk bisa berada diposisi itu sampai mengorbankan waktu


bersama Ibumu dan kalian Anak-anaknya…”


“Kurasa kau tau betul


bagaimana hebatnya Ayahmu, dengan mudah dia bisa sampai pada posisi itu, dia pun


terpilih menjadi salah satu Elite Politik di Hutan Belantara seperti yang


sering kau katakan kepadaku Nugy...”


“Ayahmu sangat bekerja


keras Nugy, dia berjuang disana, membebaskan hak-hak rakyat yang direbut oleh setan-setan


itu, sampai sampai banyak orang elite lainnya yang tak suka kepadanya, namun


tak sedikit pula yang kagum padanya…”


“Hingga pada priode kedua


nya dia pun masih bertahan menjadi pemenang diposisi itu. dia bekerja keras,


sampai lupa dengan kesehatannya, dia sering mengalami batuk berdarah, sesak


nafas, dan nyeri dibagian dadanya, dia berfikir itu hanya efek kelelahan saja,


namun dia tak kunjung sembuh dari penyakitnya itu…”


“Ibumu pun khawatir lalu


mengajaknya untuk pergi berobat. Ketika diperjalanan menuju Rumah Sakit, Ayah


dan Ibumu bertemu dengan Patricia yang sedang sendirian karena mobilnya mogok


ditepi jalan yang kosong...”


“Lalu Ibumu turun dan


menawarkan bantuan, Ayahmu menyuruh orangnya untuk mengurus mobil Patricia, dan


Ptricia pun ikut bersama mereka kejakarta. Diperjalanan tentu mereka berbicara,


sampai Ibu dan Ayahmu tau bahwa Patricia adalah seorang Dokter…”


“Mereka pun langsung


membicarakan tentang gejala yang dirasakan oleh Ayahmu yang tak kunjung sembuh,


sambil dalam perjalanan menuju Jakarta...”


“Ibumu memberi tau


keluhan yang dialami oleh Ayahmu. Patricia yang mengetahui penyebabnya tak


berani menyebutkan penyakit yang diderita oleh Ayahm. Tetapi mengajak Ibu dan Ayahmu


untuk memastikan penyakit Ayahmu., dan sesampainya disana Ayahmu langsung di


tangani oleh Patricia...”


            Dia diam sejenak, sambil menatapku seakan ragu untuk


melanjutkannya. Dia pun menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu


melanjutkannya.


“Setelah Ayahmu diperiksa,


ternyata apa yang ditakutkan oleh Patricia betul, bahwa Ayahmu menderita kanker


Paru-paru dan sudah menyebar keotaknya.”


            Bagai gemuruh petir yang mengagetkan. Aku serasa


tersambar oleh petir yang seakan ingin menghukumku selama ini. Sumpah demi


apapun, hatiku bergetar setelah mendengar penjelasan darinya, aku tersambar


kaku hitam menggosong. Aku tak kuasa menahan rasa sakit didalam hatiku, rasa


sakit yang sama di alami Ayahku atas perlakuanku terhadapnya kemarin.


            Zulfa yang awalnya juga ikut terdiam berusaha menenangkanku


seakan tak bernyawa.


“Semenjak kejadian itu,


dia tak ingin berada didekat Ibumu dan Anak-anaknya, dia merasa malu. Sebagai


seorang Ayah yang kuat, dia tak mau menunjukkan kelemahannya terhadap kalian…”


“Dia memutuskan untuk


tinggal menyendiri di Apartemen miliknya, dia tak pernah mau tinggal dirumah


dinasnya. Sesekali dia pulang kerumah untuk bertemu dengan Ibumu, namun setiap


dia pulang, Ibumu selalu menangisinya. Sebagai pria dia tidak ingin


diperlakukan seperti itu, meskipun itu istrinya sendiri. Oleh sebab itu dia


memutuskan untuk tak pernah lagi kerumah menemui Ibumu…”


“Ibumu merasa kesepian


dan menangis sepanjang malam ketika kau tak ada dirumah, Adikmu selalu bingung


kenapa Ibumu menangis terus. Dia bertanya dan meyakinkan Ibumu untuk bisa


memahami semua hal yang ingin dia ketahui. Ibumu pun membawa Adikmu bertemu Ayahmu…”


“Dan disana adikmu


menemui kebenaran ini Nugy, dia sangat terpukul saat mengetahui kondisi dan usia


ayahnya yang tak akan mampu bertahan lebih lama lagi…”


“Adikmu berjanji kepada Ayahmu


bahwa dia akan meraih nilai terbaik disekolahnya lalu dapat masuk perguruan


tinggi terbaik di Hutan Belantara ini, dia juga berjanji tidak akan


meninggalkan Ibumu. Oleh sebab itu adikmu memutuskan untuk tidak pergi keluar negeri


seperti yang kau harapkan. Karena dia tau jika ayahmu meninggal hanya kau yang


bisa menghidupi keluarga ini Nugy, dan pastinya kau sibuk bekerja…”


“Maka dari itu dia


memutuskan untuk kuliah disini saja agar ada yang menjaga Ibumu disaat kau


sibuk bekerja.”


            Aku tak tahan menahan air mataku kali ini, kenapa


semuanya harus begini, shati ku benar-benar hancur setelah mengetahui kondisi


yang di alami keluargaku. Aku mulai membenci takdir yang diberi tuhan kaliini.


Aku bertanya-tanya dalam hatiku, kenapa Ayahku harus menjadi seseorang yang


rapuh? Kenapa hanya aku yang tak diberi tahu lebih awal soal ini?


“Kau tak perlu salah


sangka Nugy. Keluargamu sengaja tak memberitahumu agar mereka tak menghambat


potensimu untuk berkembang. Kau adalah orang yang sangat hebat dan nekat,


bahkan kau bisa saja mengabaikan pekerjaanmu untuk mengurus Ayahmu. Itu yang


ditakuti oleh Ayahmu jika kau mengetahui ini...”


“Ayahmu sangat bangga


padamu Nugy, dia bangga akan perkembangan mu dengan ketika perusahaanmu yang berhasil


menjadi salah satu yang diperhitungkan di Hutan Belantara ini. Dengan melihat


kehebatanmu itu dia tak perlu khawatir saat dia meninggalkan kalian, karena ada


anaknya yang tangguh yang akan menggantikan posisinya sebagai pemimpin

__ADS_1


keluarga…”


            Dia diam sejenak lalu melanjutkannya.


“Asal kau tau, dia tak


pernah mengabaikan Ibumu, dia selalu mengirim sesuatu yang Ibumu sukai, dia


selalu memikirkan Ibumu. Suatu waktu aku datang menjenguknya diapartement. Dia


mengatakan kepadaku bahwa dia tak sanggup melihat air mata Ibumu…”


*


·         “Aku tak akan sanggup menghadapi kematian


jika Istriku mengeluarkan air matanya terus ketika melihatku…”


“Umurku


tak lama lagi Ali, aku hanya ingin melihat dia tersenyum disaat diriku sudah


dekat dengan kematian…”


“Dan


anakku Nugy, hanya dia yang bisa membuat Ibunya tersenyum, karena hanya dia


yang bisa memahami ibunya selain aku…”


“Dia


pasti sangat marah kepadaku karena aku selalu meninggalkan Farida sendiri


dirumah yang sudah mulai terasa dingin itu…”


 


“Aku


ingin menjual rumah itu kepadamu agar aku bisa lega melihat Farida hidup aman bersama


Nugy anak sulungku…”


 


“Aku


tau dia pasti tak suka jika rumah itu harus dijual, tapi aku lebih tak suka


jika dia merasa kesepian karena tak ada diriku disisinya…”


“Tapi


biarlah Anakku Rudi menuntaskan janjinya kepadaku baru kau boleh mengusir Anak


dan Istriku untuk pergi dari rumah itu.”


 


“Kau


bicara apa, aku tak akan mengusir siapapun dari rumah itu, aku akan membeli


rumah itu jika untuk kebaikan keluargamu, bahkan aku akan bersedia mengembalikannya


kepada mereka tanpa meminta uangku kembali.” balas Ali.


“Aku


senang mendengarnya, kau adalah sahabatku yang paling setia kepadaku Ali, namun


aku tak sanggup bertemu Anak Sulungku untuk mengatakan tentang rumah itu, tapi


aku sangat merindukan dia.”


“Kau


harus menemuinya, ku rasa dia tak akan marah padamu, dia anak yang sopan.” *


“Dia pun memberanikan


dirinya untuk bertemu denganmu, namun dia pulang dengan perasaan sangat sedih


atas apa yang kau lakukan terhadapnya…”


·         “Aku tak menyangka diakhir hayatku Nugy


justru sangat membenciku, dia bahkan sudah berani bertingkah seperti itu


kepadaku…”


“Tapi


ada satu kalimat keluar dari mulutnya yang membuatku merasa aman “siapapun yang menghancurkan keluargaku dia


adalah musuhku.” aku tak menyangka anakku sudah dewasa, meskipun dia


menganggapku musuh, tapi aku legah jika dia yang akan menjaga keluarga ku


sepeninggalnya aku pergi.”


*


“Dia


sudah kelewatan, dia harus tau semua ini.”


“Tak


perlu Ali. Tunggu saja kedatangan anakku kerumahmu, dia akan mencari tau


sendiri apa yang sedang terjadi dengan semua ini.”


“Hanya


kau yang boleh menjelaskannya, karena Patricia sudah berjanji kepada Istriku


untuk menyimpan rahasia ini. Ku rasa kau sangat mengerti, bahwa tak ada seorang


pun yang bisa terlepas dari janji dengan istriku…”


“Dia


wanita hebat, tak heran jika aku mempunyai Anak-anak yang hebat juga.” *


“Itulah semua kebenaran


yang ingin kau ketahui Nugy. Aku sangat tak menyangka kau benar-benar datang


kerumah ku persis seperti yang diperhitungkan oleh Ayahmu. Kau memang anak yang


ajaib, namun aku kecewa atas prilaku yang tak pernah ku duga akan keluar dari


dirimu Nugy, kau menyombongkan diri dihadapan Ayahmu sendiri…”


“Dan foto yang kau pegang


itu adalah pertemuan Patricia dan Ibumu. Ketika Ibumu menerima kabar bahwa


penyakit Ayahmu semakin parah, dan dia hanya mampu pasrah atas suaminya yang


hanya akan menunggu waktu untuk dijemput oleh malaikat yang dengan sigap


menjemputnya.” Ucapnya mengakhiri penjelasannya.


            Aku yang tak sanggup menahan tangisku, mulai sangat


membenci diriku atas apa yang kulakukan selama ini kepada Ayahku, aku menyakiti


hatinya disaat dia menahan semua sakit yang dideritanya. Setelah sekian lama


aku tak pernah mendapatkan kehangatannya, kini aku justru terhangati oleh


setiap kebenaran yang baru aku ketahui.


            Aku tak sanggup menghadapi ini semua, sejenak jiwaku


sangat rapuh ketika mengetahui itu semua, aku berteriak memanggil Ayahku,


jiwaku tidak tenang aku seperi mau gila saja.


            Aku sadar mereka berusaha menenangkanku,


Zulfa memelukku erat, dan Rojali memegang bahuku untuk menenangkanku,


selebihnya aku tak sadar hingga aku pingsan tak mampu menerima ini semua.

__ADS_1


__ADS_2