
Kami pun sampai disebuah rumah
yang tak asing bagiku, rumah ini sangat ku kenali, aku sering kesini dengan Ayahku
dulu saat aku masih kuliah. Dan ini pertama kalinya aku kesini setelah sekian
lama. Pintu pagar pun terbuka
“Ada Bapak didalam?”
tanya Patricia.
“Ada Buk Dokter, silahkan
masuk,” satpam itu mempersilahkan kami masuk.
Lalu setelah Rojali menghentikan mobil, kami pun turun
dan berjalan menuju pintu masuk rumah besar ini, namun tak sebesar rumah
keluargaku.
“Ku rasa kau sudah tau
ini rumah siapa,” ucap Patricia kepadaku.
“Tentu saja,” balasku.
Zulfa dan Rojali hanya terdiam heran melihat ku, tentu
saja mereka tak tahu ini rumah siapa.
Kami pun berjalan masuk kedalam rumah setelah pintu
dibuka oleh pembantu rumah ini, aku melihat ada seseorang yang sangat ku kenali
berjalan menyambut kami, dia adalah Om Ali kerabat dekat Ayahku.
“Nugy Alfarizky, anakku,
sudah lama aku tak melihatmu, tak kusangka kau semakin terlihat mengagumkan,” ucapnya
sambil memelukku.
“Om masih saja tak
berubah,” balasku sambil memeluknya.
Dia pun tersenyum lalu melihat kearah Zulfa.
“Ini kekasihmu?” tanyanya
sambil menunjuk kearah Zulfa.
“Iya, dia kekasihku,”
jawabku.
Dia tersenyum bangga kepadaku, lalu menundukkan sedikit
kepalanya menatap Zulfa.
“Ku rasa Nugy sangat kesulitan
untuk mendapatkan wanita sepertimu,” ucapnya kepada Zulfa.
“Om sangat betul, dia
lelaki yang sangat cupu ketika mendekatiku,” balas Zulfa menyindirku sambil
menyalam tangan Om Ali.
Aku hanya mampu terdiam sambil memahami maksudnya yang
sangat menyindirku, selama ini aku tak pernah berani mengungkapkan perasaan ku
yang sebenarnya kepadanya. Tapi mari kita kesampingkan dulu masalah itu, karena
ada hal yang jauh lebih penting saat ini.
“Dan kau,” kata nya
kepada Rojali.
Rojali
hanya menunjukkan ekspresi heran
“Kau siapa?” sambungnya.
Dan
ini membuat aku, Zulfa, dan Patricia tertawa.
“Kenapa kalian tertawa,
aku salah? Aku memang tak pernah bertemu dengannya”
“Hahaha dia sahabatku
yang kutemukan saat sedang kelaparan dihalte kampus ketika aku kuliah dulu,” balasku
sambil tertawa kecil.
Tentu saja Zulfa memukulku sambil ikut tertawa kecil.
“Oh ya?”
“Iya Om, aku Rojali pria
terkeren yang kelaparan saat uangku dirampas oleh bajingan itu.” ucapnya sambil
mengataiku.
“Hahaha kau lucu sekali,
sudah mari kita duduk, aku sudah tau maksud kedatangan kalian. Tampaknya kau
kesulitan menghadapi pria sulung dari keluarga Sultan Tambun ini ya,” kata Om Ali
kepada Patricia.
“Seperti yang kalian
katakan, dia sangat sulit untuk dilawan,” balas Patricia.
“Hahaha begitulah pria
yang ku kagumi ini,” sombongnya sambil menepuk bahuku dengan bangga.
Kami pun mengikuti nya untuk masuk keruangan kerja
miliknya, sangat luas menurutku dengan kursi dan merja kerja, serta ada ruang
tamunya. Kami pun duduk dikursi tamu yang ada didalam ruangan kerjanya.
Dia mengambil minuman dan makanan yang ada dikulkas,
didalam ruangan kerjanya, lalu meletakkannya dimeja. Dan dia pun duduk.
“Apa yang membuatmu
kesini?” tanyanya kepadaku.
“Aku ingin mengetahui
semuanya,” jawabku tegas.
“Ini akan memakan waktu
yang lama nak,” ucapnya kepadaku.
“Tak masalah,” jawabku.
“Baiklah.”
Dia pun menceritakan semuanya mulai dari awal petama
pertemuan nya dengan Ayah dan Ibuku. Dia mengatakan bahwa Ayahku adalah orang
yang hebat, kuat, dan nekat sepertiku, hingga dia menceritakan kenapa Ayah
menjadi seorag Elite Politik di Belantara ini.
“Ayahmu tak pernah ingin
menjadi Elite Politik, namun dia harus melakukannya karena wasiat dari Kakek
__ADS_1
mu. Lalu dia berusaha untuk bisa berada diposisi itu sampai mengorbankan waktu
bersama Ibumu dan kalian Anak-anaknya…”
“Kurasa kau tau betul
bagaimana hebatnya Ayahmu, dengan mudah dia bisa sampai pada posisi itu, dia pun
terpilih menjadi salah satu Elite Politik di Hutan Belantara seperti yang
sering kau katakan kepadaku Nugy...”
“Ayahmu sangat bekerja
keras Nugy, dia berjuang disana, membebaskan hak-hak rakyat yang direbut oleh setan-setan
itu, sampai sampai banyak orang elite lainnya yang tak suka kepadanya, namun
tak sedikit pula yang kagum padanya…”
“Hingga pada priode kedua
nya dia pun masih bertahan menjadi pemenang diposisi itu. dia bekerja keras,
sampai lupa dengan kesehatannya, dia sering mengalami batuk berdarah, sesak
nafas, dan nyeri dibagian dadanya, dia berfikir itu hanya efek kelelahan saja,
namun dia tak kunjung sembuh dari penyakitnya itu…”
“Ibumu pun khawatir lalu
mengajaknya untuk pergi berobat. Ketika diperjalanan menuju Rumah Sakit, Ayah
dan Ibumu bertemu dengan Patricia yang sedang sendirian karena mobilnya mogok
ditepi jalan yang kosong...”
“Lalu Ibumu turun dan
menawarkan bantuan, Ayahmu menyuruh orangnya untuk mengurus mobil Patricia, dan
Ptricia pun ikut bersama mereka kejakarta. Diperjalanan tentu mereka berbicara,
sampai Ibu dan Ayahmu tau bahwa Patricia adalah seorang Dokter…”
“Mereka pun langsung
membicarakan tentang gejala yang dirasakan oleh Ayahmu yang tak kunjung sembuh,
sambil dalam perjalanan menuju Jakarta...”
“Ibumu memberi tau
keluhan yang dialami oleh Ayahmu. Patricia yang mengetahui penyebabnya tak
berani menyebutkan penyakit yang diderita oleh Ayahm. Tetapi mengajak Ibu dan Ayahmu
untuk memastikan penyakit Ayahmu., dan sesampainya disana Ayahmu langsung di
tangani oleh Patricia...”
Dia diam sejenak, sambil menatapku seakan ragu untuk
melanjutkannya. Dia pun menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu
melanjutkannya.
“Setelah Ayahmu diperiksa,
ternyata apa yang ditakutkan oleh Patricia betul, bahwa Ayahmu menderita kanker
Paru-paru dan sudah menyebar keotaknya.”
Bagai gemuruh petir yang mengagetkan. Aku serasa
tersambar oleh petir yang seakan ingin menghukumku selama ini. Sumpah demi
apapun, hatiku bergetar setelah mendengar penjelasan darinya, aku tersambar
kaku hitam menggosong. Aku tak kuasa menahan rasa sakit didalam hatiku, rasa
sakit yang sama di alami Ayahku atas perlakuanku terhadapnya kemarin.
Zulfa yang awalnya juga ikut terdiam berusaha menenangkanku
seakan tak bernyawa.
“Semenjak kejadian itu,
dia tak ingin berada didekat Ibumu dan Anak-anaknya, dia merasa malu. Sebagai
seorang Ayah yang kuat, dia tak mau menunjukkan kelemahannya terhadap kalian…”
“Dia memutuskan untuk
tinggal menyendiri di Apartemen miliknya, dia tak pernah mau tinggal dirumah
dinasnya. Sesekali dia pulang kerumah untuk bertemu dengan Ibumu, namun setiap
dia pulang, Ibumu selalu menangisinya. Sebagai pria dia tidak ingin
diperlakukan seperti itu, meskipun itu istrinya sendiri. Oleh sebab itu dia
memutuskan untuk tak pernah lagi kerumah menemui Ibumu…”
“Ibumu merasa kesepian
dan menangis sepanjang malam ketika kau tak ada dirumah, Adikmu selalu bingung
kenapa Ibumu menangis terus. Dia bertanya dan meyakinkan Ibumu untuk bisa
memahami semua hal yang ingin dia ketahui. Ibumu pun membawa Adikmu bertemu Ayahmu…”
“Dan disana adikmu
menemui kebenaran ini Nugy, dia sangat terpukul saat mengetahui kondisi dan usia
ayahnya yang tak akan mampu bertahan lebih lama lagi…”
“Adikmu berjanji kepada Ayahmu
bahwa dia akan meraih nilai terbaik disekolahnya lalu dapat masuk perguruan
tinggi terbaik di Hutan Belantara ini, dia juga berjanji tidak akan
meninggalkan Ibumu. Oleh sebab itu adikmu memutuskan untuk tidak pergi keluar negeri
seperti yang kau harapkan. Karena dia tau jika ayahmu meninggal hanya kau yang
bisa menghidupi keluarga ini Nugy, dan pastinya kau sibuk bekerja…”
“Maka dari itu dia
memutuskan untuk kuliah disini saja agar ada yang menjaga Ibumu disaat kau
sibuk bekerja.”
Aku tak tahan menahan air mataku kali ini, kenapa
semuanya harus begini, shati ku benar-benar hancur setelah mengetahui kondisi
yang di alami keluargaku. Aku mulai membenci takdir yang diberi tuhan kaliini.
Aku bertanya-tanya dalam hatiku, kenapa Ayahku harus menjadi seseorang yang
rapuh? Kenapa hanya aku yang tak diberi tahu lebih awal soal ini?
“Kau tak perlu salah
sangka Nugy. Keluargamu sengaja tak memberitahumu agar mereka tak menghambat
potensimu untuk berkembang. Kau adalah orang yang sangat hebat dan nekat,
bahkan kau bisa saja mengabaikan pekerjaanmu untuk mengurus Ayahmu. Itu yang
ditakuti oleh Ayahmu jika kau mengetahui ini...”
“Ayahmu sangat bangga
padamu Nugy, dia bangga akan perkembangan mu dengan ketika perusahaanmu yang berhasil
menjadi salah satu yang diperhitungkan di Hutan Belantara ini. Dengan melihat
kehebatanmu itu dia tak perlu khawatir saat dia meninggalkan kalian, karena ada
anaknya yang tangguh yang akan menggantikan posisinya sebagai pemimpin
__ADS_1
keluarga…”
Dia diam sejenak lalu melanjutkannya.
“Asal kau tau, dia tak
pernah mengabaikan Ibumu, dia selalu mengirim sesuatu yang Ibumu sukai, dia
selalu memikirkan Ibumu. Suatu waktu aku datang menjenguknya diapartement. Dia
mengatakan kepadaku bahwa dia tak sanggup melihat air mata Ibumu…”
*
· “Aku tak akan sanggup menghadapi kematian
jika Istriku mengeluarkan air matanya terus ketika melihatku…”
“Umurku
tak lama lagi Ali, aku hanya ingin melihat dia tersenyum disaat diriku sudah
dekat dengan kematian…”
“Dan
anakku Nugy, hanya dia yang bisa membuat Ibunya tersenyum, karena hanya dia
yang bisa memahami ibunya selain aku…”
“Dia
pasti sangat marah kepadaku karena aku selalu meninggalkan Farida sendiri
dirumah yang sudah mulai terasa dingin itu…”
“Aku
ingin menjual rumah itu kepadamu agar aku bisa lega melihat Farida hidup aman bersama
Nugy anak sulungku…”
“Aku
tau dia pasti tak suka jika rumah itu harus dijual, tapi aku lebih tak suka
jika dia merasa kesepian karena tak ada diriku disisinya…”
“Tapi
biarlah Anakku Rudi menuntaskan janjinya kepadaku baru kau boleh mengusir Anak
dan Istriku untuk pergi dari rumah itu.”
“Kau
bicara apa, aku tak akan mengusir siapapun dari rumah itu, aku akan membeli
rumah itu jika untuk kebaikan keluargamu, bahkan aku akan bersedia mengembalikannya
kepada mereka tanpa meminta uangku kembali.” balas Ali.
“Aku
senang mendengarnya, kau adalah sahabatku yang paling setia kepadaku Ali, namun
aku tak sanggup bertemu Anak Sulungku untuk mengatakan tentang rumah itu, tapi
aku sangat merindukan dia.”
“Kau
harus menemuinya, ku rasa dia tak akan marah padamu, dia anak yang sopan.” *
“Dia pun memberanikan
dirinya untuk bertemu denganmu, namun dia pulang dengan perasaan sangat sedih
atas apa yang kau lakukan terhadapnya…”
· “Aku tak menyangka diakhir hayatku Nugy
justru sangat membenciku, dia bahkan sudah berani bertingkah seperti itu
kepadaku…”
“Tapi
ada satu kalimat keluar dari mulutnya yang membuatku merasa aman “siapapun yang menghancurkan keluargaku dia
adalah musuhku.” aku tak menyangka anakku sudah dewasa, meskipun dia
menganggapku musuh, tapi aku legah jika dia yang akan menjaga keluarga ku
sepeninggalnya aku pergi.”
*
“Dia
sudah kelewatan, dia harus tau semua ini.”
“Tak
perlu Ali. Tunggu saja kedatangan anakku kerumahmu, dia akan mencari tau
sendiri apa yang sedang terjadi dengan semua ini.”
“Hanya
kau yang boleh menjelaskannya, karena Patricia sudah berjanji kepada Istriku
untuk menyimpan rahasia ini. Ku rasa kau sangat mengerti, bahwa tak ada seorang
pun yang bisa terlepas dari janji dengan istriku…”
“Dia
wanita hebat, tak heran jika aku mempunyai Anak-anak yang hebat juga.” *
“Itulah semua kebenaran
yang ingin kau ketahui Nugy. Aku sangat tak menyangka kau benar-benar datang
kerumah ku persis seperti yang diperhitungkan oleh Ayahmu. Kau memang anak yang
ajaib, namun aku kecewa atas prilaku yang tak pernah ku duga akan keluar dari
dirimu Nugy, kau menyombongkan diri dihadapan Ayahmu sendiri…”
“Dan foto yang kau pegang
itu adalah pertemuan Patricia dan Ibumu. Ketika Ibumu menerima kabar bahwa
penyakit Ayahmu semakin parah, dan dia hanya mampu pasrah atas suaminya yang
hanya akan menunggu waktu untuk dijemput oleh malaikat yang dengan sigap
menjemputnya.” Ucapnya mengakhiri penjelasannya.
Aku yang tak sanggup menahan tangisku, mulai sangat
membenci diriku atas apa yang kulakukan selama ini kepada Ayahku, aku menyakiti
hatinya disaat dia menahan semua sakit yang dideritanya. Setelah sekian lama
aku tak pernah mendapatkan kehangatannya, kini aku justru terhangati oleh
setiap kebenaran yang baru aku ketahui.
Aku tak sanggup menghadapi ini semua, sejenak jiwaku
sangat rapuh ketika mengetahui itu semua, aku berteriak memanggil Ayahku,
jiwaku tidak tenang aku seperi mau gila saja.
Aku sadar mereka berusaha menenangkanku,
Zulfa memelukku erat, dan Rojali memegang bahuku untuk menenangkanku,
selebihnya aku tak sadar hingga aku pingsan tak mampu menerima ini semua.
__ADS_1