Belantara

Belantara
KEGANJALAN


__ADS_3

            Saat ini kami sudah berkumpul di ruang rapat yang sudah


dihadiri oleh beberapa petinggi perusahaan, diantaranya aku sendiri (Direksi),


Ali (Direktur Utama), Nurdin (Direktur pemasaran), Joni (Direktur Keuangan&Teknologi),


Rahmad (Manager Divisi Properti), Tonny (Manager Divisi Bank AP), Bonar (Manager


Divisi Perkebunan), dan Michel (Manager Divisi Ekspor&Impor), serta


beberapa orang yang cukup penting dirapat kali ini diantaranya, Dewi


(Sekertaris Pribadiku), dan Raisa (Sekertaris&Acounting Perusahaan).


            Mereka berdiri menyambut kedatanganku sebagai Pemimpin


baru yang tak lain adalah Putra Sulung dari pemilik Perusahaan ini. Aku


memberikan senyum terbaikku kepada mereka semua lalu mempersilahkan mereka


untuk duduk, dengan Dewi dan Rasia yang berada disamping kiri dan kananku.


            Tanpa basa-basi saya langsung membuka sendiri dengna


perkenalan diri terlebih dahulu yang lalu di ikuti dengan mereka secara


bergantian, agar aku dapat mengenali masing-masing nama-nama mereka beserta


jabatan yang di embannya, hingga semua sudah mendapat gilirannya.


            Aku menoleh kearah raisa untuk membagikan berkas yang


sudah ku suruh persiapkan untuk dibagikan kepada masing-masing dari mereka,


setelah dia duduk kembali, aku pun memulai pembahasan dalam rapat ini.


“Yang ada dihadapan


kalian adalah semua data keuangan perusahan bersama dengan hasil produksi dari


setiap Divisinya, silahkan di cek.”


            Mereka pun membuka dan membaca isi dari dokumen yang ada


dihadapan mereka. Setelah mereka sudah memastikan isi didalam dokument itu aku


pun melanjutkannya lagi.


“Itu adalah nilai yang


didapatkan oleh perusahaan dalam tahun ini.”


            Mereka diam mendengarkanku.


“Ada beberapa yang saya


temukan dalam pembukuan di setiap tahunya, namun saya tak punya banyak waktu


untuk membahas itu semua…”


“Pada saat ini saya hanya


tertarik untuk membahas satu divisi yang mengganggu saya setelah melihat


kondisi nilai hasil produksinya. Dan itu adalah Divisi Perkebunan yang


sama-sama kita ketahui ditangani oleh Pak Bonar.” ucapku sambil menoleh


kearahnya.


            Dia menatapku antara bingung atau grogi bahkan takut.


“Dari semua bisnis yang


berada dibawah perusahaan ini, Divisi Perkebunan memiliki nilai yang lebih


rendah dibanding dengan angka yang seharusnya dia dapat…”


“Saya ingin Pak Bonar


menjelaskan kepada saya tentang bagaimana kondisi yang sebenarnya, sehingga nilai


yang didapat tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya.”


            Dia mengangguk kepadaku, lalu merapikan duduknya.


“Secara operasionalkerja


dan pemeliharaan serta hasil produksi tak ada satu pun masalah yang saya


temukan Pak.”


            Aku menatapnya heran.


“Sudah lama saya ingin


menyampaikan ini, tetapi saya takut itu bisa menjadi beban kepada Bapak (Ayah)


sehingga makin memperburuk kondisinya pada saat itu.”


            Aku masih diam dan siap mendengarkan penjelasannya.


“Divisi ini berdiri sudah


hampir 15 tahun, dan hasil produksi nya selalu meningkat setiap tahunnya,


dikarena kan luas area setiap tahun semakin bertambah. Modal saya gunakan untuk


membeli areal perkebunan yang hampir bangkrut. Lalu saya olah lagi menjadi


perkebunan yang layak…”


“Namun 7 tahun terakhir


semenjak Bapak (Ayah) ikut dalam Politik, perusahaan ini memiliki banyak


goncangan dari luar hingga mempengaruhi kondisi SDM yang berada didalam.”


Jelasnya.


“Maksudnya? Saya ingin


mendengarnya dengan lebih jelas.” Balasku.


“Hasil minyak dari


produksi kita terhambat di bagian penyupplyan pak.”


            Aku mengeryitkan dahiku seakan bingung.


“Banyak mafia yang


menghambat Pak.”


“Mafia? Maksudnya


bagaimana?” tanyaku.


            Mereka semua terdiam seakan takut untuk mengungkapkan


semuanya. Aku pun menoleh kearah Om Ali seakan meminta penjelasan dari semua


ini, karena aku yakin dia sudah tau semua ini tetapi karena kondisi Ayahku pada


saat itu, dia hanya mampu menyimpannya saja.


“Ada apa dengan kalian?


Apa kalian di gaji hanya untuk ini?” tanyaku kesal.


            Ruangan kembali hening, hingga Om Ali memutuskan untuk


berbicara.


“Bapak mengenal


Wicjaksana?”


“Ya, tentu saja. Orang


paling berkuasa di negeri ini kan? Apa dia yang kau maksud?” tanya ku.


            Dia mengangguk.


“Apa hubungannya dengan


ini?”


            Dia menghembuskan nafasnya dengan berat lalu kembali


berbicara.


“Sebenarnya bukan hanya


Divisi Perkebunan saja yang goyang, tetapi beberapa bisnis kita juga sedang

__ADS_1


lagi banyak gangguan dari pihak luar. Ekspor&Impor, Bank, dan juga Otomotif


sedang mengalami kesulitan…”


“Tetapi Divisi Perkebunan


yang paling mengalami dampaknya, sehingga mendapatkan keuntungan yang hampir


bisa dikatakan tak untung.” Ucap Om Ali menjelaskan.


            Aku masih diam membiarkan dia melanjutkannya.


“Ekspor&Impor kita


dibatasi bahkan hampir dihentikan surat izinnya oleh pihak yang berwenang. Bank


kita mulai kehilangan sebagian besar nasabah potensial yang memutuskan pindah


ke Bank WJ milik mereka. Sedangkan hasil minyak dari produksi sawit kita


dianggap tidak memenuhi standart yang baik. Hanya Properti kita sata yang masih


berjalan dengan baik, dan itu pun sudah mulai mendapatkan gangguan…”


“Dan semua itu adalah


ulahnya Wicjaksana.” sambungnya.


            Aku terdiam seketika mendengar semuanya. Aku tak


menyangka bahwa kondisi perusahaan ini menjadi rumit. Tak hanya Perkebunan,


tetapi yang lainnya juga sedang dalam masalah. Dan yang tak dapat ku pahami


adalah alasan Wicjaksana melakukan semua ini.


“Apa tujuan mereka


melakukan ini?”


“Balas dendam.” ucap Om


Ali.


Aku


terdiam dengan mengkerutkan keningnku.


“10 tahun yang lalu,


perusahaan ini menjadi promadona dinegeri ini. Beberapa perusaan


berbondong-bondong menginvestasikan uang mereka kedalam perusahaan ini, bahkan


ada beberapa perusahaan yang ingin memarginkan perusahaannya dengan kita…”


“Dan harapan mereka


terpenuhi hingga berkali-kali lipat, setelah itu mereka menjualnya kepada kita,


dan mendapatkan keuntungan dari itu. dank arena itulah perusahaan ini menjadi


besar hingga kini…”


“Melihat peluang pada


perusaahn kita, Wicjaksana pun meutuskan untuk membeli perusahaan ini hingga


sanggup membayar 4 kali lipat. Namun ditolak oleh Bapak (Ayah)…”


“Tak ingin menyerah,


mereka pun berusaha mendekati perusahaan ini kembali dengan berbagai banyak


macam strategi, mulai dari ingin menginvestasikan dana, memarginkan beberapa


anak perusahan mereka, sampai mengajak untuk membangun bisnis baru…”


“Tetapi tetap saja Bapak


(Ayah) menolaknya.” Sambung Om Ali.


            Aku masih terdiam mencoba mencerna ini semua.


“Beliau sudah tau seluk


beluk keluarga Wicjaksana yang sebenarnya sangat jahat dan serakah. Dan beliau


juga tahu bahwa sebenarnya perusahaan Wicjaksana berdiri karena mereka


“Oleh karena itu Bapak


(Ayah) tak mau berurusan dengannya, agar tak menjadi korban Wicjaksana


selanjutnya, dan dia juga melakukan itu semua demi kami agar tak kehilangan


pekerjaan kami.”


            Dia terdiam sejenak lalu melanjutkannya lagi.


“Hal itulah yang membuat


Wicjaksana menjadi dendam kepada perusahaan kita. Melalui balik layar dia


mencoba menyerang kita beberapa kali, namun selalu gagal. Hingga Bapak (Ayah)


sakit, kami seakan kehilangan induk untuk bisa bertahan melawannya. Perusahaan


ini bisa bertahan karena adanya keberadaan dia waktu itu…”


“Dan sekarang, kita


benar-benar menjadi tak berkutik lagi kepada mereka, jadi kami hanya sanggup


mengikuti aliran permainan mereka meskipun hasil yang didapat seharusnya bisa


jauh lebih besar dari pada ini.” ucapnya.


 


“Meskipun perusahaan ini


sebenarnya masih sangat potensial, dan masih banyak orang yang masih melirikkan


matanya keperusahaan kita, tetapi tetap saja kita tak bisa apa-apa sekarang.


Karena saat ini, kita sudah berada digenggaman Wicjaksana.” Sambungnya.


            Dia berhenti berbicara, aku mentap mereka semua seakan


tak menyangka dengan kondisi ini.


            Aku terdiam bingung tak tahu harus bagaimana, para


bawahanku sudah kehilangan motivasi untuk bangkit, mereka hanya bekerja demi


bisa memenuhi tanggung jawab sebagai rekan yang dicintai oleh Ayahku, dan


mereka melakukan ini juga karena bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka


dirumah.


            Aku kehilangan akal, tak pernah terfikirkan oleh ku akan


kondisi seperti ini. Perusahaan yang di banging melalui keringat oleh Ayahku


kini hampir rubuh hanya karena keegoisan seseorang yang sangat serakah, bahkan


mereka mampu melakukan ini semua ketika Ayahku sakit hingga dia wafat.


            Hati ku kesal, namun aku masih tetap menahan emosiku


seperti yang Ayah harapkan kepadaku, aku harus berusaha mendinginkan kepalaku.


“Boleh saya merokok?”


tanyaku.


            Mereka pun mengangguk ragu. Dan langsung saja aku menghidupkan


rokokku lalu kuhisap. Raisa meletakkan asbak didekatku lalu duduk kembali


ketempatnya.


            Aku menghisap rokokku sambil memikirkan apa yang harus


aku lakukan saat ini, aku ingin mengadukan ini semua kepada Ayah namun aku


sangat malu. Dia pasti sedang menertawakanku karena ketidak mampuanku mengatasi


kondisi saat ini. Aku memang putra bodoh yang hanya bisa mengeluarkan emosiku


disaat aku merasa kesulitan.


            Kepalaku pusing, aku mulai mengutuk diriku atas ketidak

__ADS_1


mampuan ku ini, aku menundukkan kepalaku, lalu melihat sekelilingku yang sedang


melihat kearahku. Aku menggenggam ponselku seakan ingin menghubungi seseorang,


lalu ku letakkan lagi.


            Aku seperti orang gila yang merasa ketakutan, aku mulai


tak berdaya untuk pertama kali dalam hidupku atas ketidak mampuanku. Aku ingin


meluapkan emosiku tetapi masih ada rasa malu yang timbul didalam hatiku, aku


memejamkan mataku.


            Aku melihat wajah Ayah disana, aku juga melihat Ibu,


bahkan aku bisa melihat Rudy, Dewi, Rojali dan semua orang yang penting bagiku.


Hingga ada seseorang yang menghampiriku dan memelukku dari belakang, aku


langsung menoleh kearahnya.


            Dia istriku Zulfa, dia tersenyum kepadaku, aku terdiam


terpanah melihatnya, dia jauh lebih cantik dari terakhir yang aku lihat dirumah


tadi. Dia tak menghilangkan senyumnya kepadaku, aku memeluknya erat hingga dia


hilang dari pelukanku. Aku memanggilanya yang sudah tak ada di dekatku.


            Aku mulai merasa kesepian, aku hampa, aku tak melihat


siapapun disini, gelap, pengap, dan membuatku ingin muntah. Seketika aku


melihat Ayahku duduk diujung dermaga membelakangiku, aku mendekat lalu duduk


disampingnya, aku menatapnya lama hingga air mataku keluar.


“Ayah”


“Kau sedang kesulitan


Nak?”


            Aku terdiam memahami maksudnya. Dia sama sekali tak


menatapku.


            Aku kembali mengingat apa yang membuatku bisa merasakan


ini, aku mengingat tentang rapat yang kulakukan tadi, aku mengingat semuanya,


Wicjaksana, dan semua yang aku bahas didalam rapat tadi.


“Aku benar-benar anakmu


yang bodoh Ayah. Aku tak sanggup melakukannya, aku tak mampu, bahkan untuk


membangkitkan semangat mereka saja aku tak bisa…”


“Aku sangat manja Ayah,


aku sangat egois, aku hanya membiarkan teman-temanku membantuku selama ini,


tetapi aku sendiri tak mampu membantu mereka.”


            Aku menunduk dengan penuh tangis disamping Ayahku. Dia


mengarahkan tangannya kewajahku sambil memberikan ku senyuman terbaiknya. Aku


hanya mampu menatapnya sayu, hingga dia memelukku.


“Kenalilah dirimu Nak,


dan lampaui batasmu. Aku yakin kau mampu, kau tau kenapa?” tanyanya sambil


melepaskan pelukannya.


            Aku menggelengkan kepalaku dengan air mata yang amsih


mmengalir.


“Karena kau Nugy anakku.”


            Aku terdiam hanyut dalam perkataannya.


            Perlahan-lahan dia mulai menghilang dari pandanganku,


namun kali ini aku tak merasa kesepian, orang-orang yang meninggalkan ku tadi


kembali sepeninggalnya Ayahku. aku kembali bisa melihat Zulfa, Ibu, Rudi dan


semua orang yang sangat aku sayangi, mereka semua tersenyum kepadaku, kali ini


aku membalas senyuman mereka dengan perasaan bangga dalam hatiku.



            Aku membuka mataku, aku tak melihat mereka lagi, aku


justru dikejutkan dengan Zulfa yang sedang menatapku panik, dan itu membuatku


bingung. Aku melihat sekelilingku, ternyata mereka semua sedang duduk


menungguku yang tergeletak, aku bangkit sambil mengurut keningnku.


“Dimana ini?”


“Kamu dirumah sakit


Nugy.” ucap Zulfa.


“Hah? Kenapa aku bisa ada


disini?”


“Kata mereka kau


tiba-tiba jatuh tergeletak saat rapat.”


            Aku menatapnya heran, aku benar-benar tak mengingatnya.


“Lalu kenapa kau bisa ada


disini?”


“Dewi menelfonku, tentu


saja aku langsung kesini. Ada apa sebenarnya?”


            Aku tak menjawabnya.


“Nugy.”


“Sudahlah, sebaiknya kita


pulang saja, aku capek.”


            Dia pun tak berkata apapun lagi.


            Kami pun bergerak untuk pulang, dan di ikuti dengan yang


lainnya. Zulfa menggandeng tanganku berjalan menju mobil kami yang sudah


menanti didepan pintu rumah sakit, aku menoleh kearah mereka yang berjalan


dibelakangku, dan menatap mereka dalam.


“Beri aku waktu, aku


pasti akan memperbaiki ini semua.” ucapku meyakinkan mereka.


“Nugy, kau ha—”


“Ku mohon.” ucapku


memotong Om Ali.


            Dia pun terdiam, begitu juga dengan petinggi yang lain.


Setelah itu mereka mengangguk yakin kepadaku.


            Aku dan Zulfa pun meninggalkan mereka. Dewi mengatarku


dan Zulfa menuju rumahku. Didalam mobil aku hanya diam memikirkan semua yang


sudah ku ketahui tentang perushaan itu.


            Tekad bulat dalam diriku mulai muncul, aku beranji pada


diriku untuk menuntaskan masalah ini, untuk Ayahku, dan semuanya.


Tunggulah Ayah, aku


akan menuntaskan ini, ucapku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2