
Saat ini kami sudah berkumpul di ruang rapat yang sudah
dihadiri oleh beberapa petinggi perusahaan, diantaranya aku sendiri (Direksi),
Ali (Direktur Utama), Nurdin (Direktur pemasaran), Joni (Direktur Keuangan&Teknologi),
Rahmad (Manager Divisi Properti), Tonny (Manager Divisi Bank AP), Bonar (Manager
Divisi Perkebunan), dan Michel (Manager Divisi Ekspor&Impor), serta
beberapa orang yang cukup penting dirapat kali ini diantaranya, Dewi
(Sekertaris Pribadiku), dan Raisa (Sekertaris&Acounting Perusahaan).
Mereka berdiri menyambut kedatanganku sebagai Pemimpin
baru yang tak lain adalah Putra Sulung dari pemilik Perusahaan ini. Aku
memberikan senyum terbaikku kepada mereka semua lalu mempersilahkan mereka
untuk duduk, dengan Dewi dan Rasia yang berada disamping kiri dan kananku.
Tanpa basa-basi saya langsung membuka sendiri dengna
perkenalan diri terlebih dahulu yang lalu di ikuti dengan mereka secara
bergantian, agar aku dapat mengenali masing-masing nama-nama mereka beserta
jabatan yang di embannya, hingga semua sudah mendapat gilirannya.
Aku menoleh kearah raisa untuk membagikan berkas yang
sudah ku suruh persiapkan untuk dibagikan kepada masing-masing dari mereka,
setelah dia duduk kembali, aku pun memulai pembahasan dalam rapat ini.
“Yang ada dihadapan
kalian adalah semua data keuangan perusahan bersama dengan hasil produksi dari
setiap Divisinya, silahkan di cek.”
Mereka pun membuka dan membaca isi dari dokumen yang ada
dihadapan mereka. Setelah mereka sudah memastikan isi didalam dokument itu aku
pun melanjutkannya lagi.
“Itu adalah nilai yang
didapatkan oleh perusahaan dalam tahun ini.”
Mereka diam mendengarkanku.
“Ada beberapa yang saya
temukan dalam pembukuan di setiap tahunya, namun saya tak punya banyak waktu
untuk membahas itu semua…”
“Pada saat ini saya hanya
tertarik untuk membahas satu divisi yang mengganggu saya setelah melihat
kondisi nilai hasil produksinya. Dan itu adalah Divisi Perkebunan yang
sama-sama kita ketahui ditangani oleh Pak Bonar.” ucapku sambil menoleh
kearahnya.
Dia menatapku antara bingung atau grogi bahkan takut.
“Dari semua bisnis yang
berada dibawah perusahaan ini, Divisi Perkebunan memiliki nilai yang lebih
rendah dibanding dengan angka yang seharusnya dia dapat…”
“Saya ingin Pak Bonar
menjelaskan kepada saya tentang bagaimana kondisi yang sebenarnya, sehingga nilai
yang didapat tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya.”
Dia mengangguk kepadaku, lalu merapikan duduknya.
“Secara operasionalkerja
dan pemeliharaan serta hasil produksi tak ada satu pun masalah yang saya
temukan Pak.”
Aku menatapnya heran.
“Sudah lama saya ingin
menyampaikan ini, tetapi saya takut itu bisa menjadi beban kepada Bapak (Ayah)
sehingga makin memperburuk kondisinya pada saat itu.”
Aku masih diam dan siap mendengarkan penjelasannya.
“Divisi ini berdiri sudah
hampir 15 tahun, dan hasil produksi nya selalu meningkat setiap tahunnya,
dikarena kan luas area setiap tahun semakin bertambah. Modal saya gunakan untuk
membeli areal perkebunan yang hampir bangkrut. Lalu saya olah lagi menjadi
perkebunan yang layak…”
“Namun 7 tahun terakhir
semenjak Bapak (Ayah) ikut dalam Politik, perusahaan ini memiliki banyak
goncangan dari luar hingga mempengaruhi kondisi SDM yang berada didalam.”
Jelasnya.
“Maksudnya? Saya ingin
mendengarnya dengan lebih jelas.” Balasku.
“Hasil minyak dari
produksi kita terhambat di bagian penyupplyan pak.”
Aku mengeryitkan dahiku seakan bingung.
“Banyak mafia yang
menghambat Pak.”
“Mafia? Maksudnya
bagaimana?” tanyaku.
Mereka semua terdiam seakan takut untuk mengungkapkan
semuanya. Aku pun menoleh kearah Om Ali seakan meminta penjelasan dari semua
ini, karena aku yakin dia sudah tau semua ini tetapi karena kondisi Ayahku pada
saat itu, dia hanya mampu menyimpannya saja.
“Ada apa dengan kalian?
Apa kalian di gaji hanya untuk ini?” tanyaku kesal.
Ruangan kembali hening, hingga Om Ali memutuskan untuk
berbicara.
“Bapak mengenal
Wicjaksana?”
“Ya, tentu saja. Orang
paling berkuasa di negeri ini kan? Apa dia yang kau maksud?” tanya ku.
Dia mengangguk.
“Apa hubungannya dengan
ini?”
Dia menghembuskan nafasnya dengan berat lalu kembali
berbicara.
“Sebenarnya bukan hanya
Divisi Perkebunan saja yang goyang, tetapi beberapa bisnis kita juga sedang
__ADS_1
lagi banyak gangguan dari pihak luar. Ekspor&Impor, Bank, dan juga Otomotif
sedang mengalami kesulitan…”
“Tetapi Divisi Perkebunan
yang paling mengalami dampaknya, sehingga mendapatkan keuntungan yang hampir
bisa dikatakan tak untung.” Ucap Om Ali menjelaskan.
Aku masih diam membiarkan dia melanjutkannya.
“Ekspor&Impor kita
dibatasi bahkan hampir dihentikan surat izinnya oleh pihak yang berwenang. Bank
kita mulai kehilangan sebagian besar nasabah potensial yang memutuskan pindah
ke Bank WJ milik mereka. Sedangkan hasil minyak dari produksi sawit kita
dianggap tidak memenuhi standart yang baik. Hanya Properti kita sata yang masih
berjalan dengan baik, dan itu pun sudah mulai mendapatkan gangguan…”
“Dan semua itu adalah
ulahnya Wicjaksana.” sambungnya.
Aku terdiam seketika mendengar semuanya. Aku tak
menyangka bahwa kondisi perusahaan ini menjadi rumit. Tak hanya Perkebunan,
tetapi yang lainnya juga sedang dalam masalah. Dan yang tak dapat ku pahami
adalah alasan Wicjaksana melakukan semua ini.
“Apa tujuan mereka
melakukan ini?”
“Balas dendam.” ucap Om
Ali.
Aku
terdiam dengan mengkerutkan keningnku.
“10 tahun yang lalu,
perusahaan ini menjadi promadona dinegeri ini. Beberapa perusaan
berbondong-bondong menginvestasikan uang mereka kedalam perusahaan ini, bahkan
ada beberapa perusahaan yang ingin memarginkan perusahaannya dengan kita…”
“Dan harapan mereka
terpenuhi hingga berkali-kali lipat, setelah itu mereka menjualnya kepada kita,
dan mendapatkan keuntungan dari itu. dank arena itulah perusahaan ini menjadi
besar hingga kini…”
“Melihat peluang pada
perusaahn kita, Wicjaksana pun meutuskan untuk membeli perusahaan ini hingga
sanggup membayar 4 kali lipat. Namun ditolak oleh Bapak (Ayah)…”
“Tak ingin menyerah,
mereka pun berusaha mendekati perusahaan ini kembali dengan berbagai banyak
macam strategi, mulai dari ingin menginvestasikan dana, memarginkan beberapa
anak perusahan mereka, sampai mengajak untuk membangun bisnis baru…”
“Tetapi tetap saja Bapak
(Ayah) menolaknya.” Sambung Om Ali.
Aku masih terdiam mencoba mencerna ini semua.
“Beliau sudah tau seluk
beluk keluarga Wicjaksana yang sebenarnya sangat jahat dan serakah. Dan beliau
juga tahu bahwa sebenarnya perusahaan Wicjaksana berdiri karena mereka
“Oleh karena itu Bapak
(Ayah) tak mau berurusan dengannya, agar tak menjadi korban Wicjaksana
selanjutnya, dan dia juga melakukan itu semua demi kami agar tak kehilangan
pekerjaan kami.”
Dia terdiam sejenak lalu melanjutkannya lagi.
“Hal itulah yang membuat
Wicjaksana menjadi dendam kepada perusahaan kita. Melalui balik layar dia
mencoba menyerang kita beberapa kali, namun selalu gagal. Hingga Bapak (Ayah)
sakit, kami seakan kehilangan induk untuk bisa bertahan melawannya. Perusahaan
ini bisa bertahan karena adanya keberadaan dia waktu itu…”
“Dan sekarang, kita
benar-benar menjadi tak berkutik lagi kepada mereka, jadi kami hanya sanggup
mengikuti aliran permainan mereka meskipun hasil yang didapat seharusnya bisa
jauh lebih besar dari pada ini.” ucapnya.
“Meskipun perusahaan ini
sebenarnya masih sangat potensial, dan masih banyak orang yang masih melirikkan
matanya keperusahaan kita, tetapi tetap saja kita tak bisa apa-apa sekarang.
Karena saat ini, kita sudah berada digenggaman Wicjaksana.” Sambungnya.
Dia berhenti berbicara, aku mentap mereka semua seakan
tak menyangka dengan kondisi ini.
Aku terdiam bingung tak tahu harus bagaimana, para
bawahanku sudah kehilangan motivasi untuk bangkit, mereka hanya bekerja demi
bisa memenuhi tanggung jawab sebagai rekan yang dicintai oleh Ayahku, dan
mereka melakukan ini juga karena bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka
dirumah.
Aku kehilangan akal, tak pernah terfikirkan oleh ku akan
kondisi seperti ini. Perusahaan yang di banging melalui keringat oleh Ayahku
kini hampir rubuh hanya karena keegoisan seseorang yang sangat serakah, bahkan
mereka mampu melakukan ini semua ketika Ayahku sakit hingga dia wafat.
Hati ku kesal, namun aku masih tetap menahan emosiku
seperti yang Ayah harapkan kepadaku, aku harus berusaha mendinginkan kepalaku.
“Boleh saya merokok?”
tanyaku.
Mereka pun mengangguk ragu. Dan langsung saja aku menghidupkan
rokokku lalu kuhisap. Raisa meletakkan asbak didekatku lalu duduk kembali
ketempatnya.
Aku menghisap rokokku sambil memikirkan apa yang harus
aku lakukan saat ini, aku ingin mengadukan ini semua kepada Ayah namun aku
sangat malu. Dia pasti sedang menertawakanku karena ketidak mampuanku mengatasi
kondisi saat ini. Aku memang putra bodoh yang hanya bisa mengeluarkan emosiku
disaat aku merasa kesulitan.
Kepalaku pusing, aku mulai mengutuk diriku atas ketidak
__ADS_1
mampuan ku ini, aku menundukkan kepalaku, lalu melihat sekelilingku yang sedang
melihat kearahku. Aku menggenggam ponselku seakan ingin menghubungi seseorang,
lalu ku letakkan lagi.
Aku seperti orang gila yang merasa ketakutan, aku mulai
tak berdaya untuk pertama kali dalam hidupku atas ketidak mampuanku. Aku ingin
meluapkan emosiku tetapi masih ada rasa malu yang timbul didalam hatiku, aku
memejamkan mataku.
Aku melihat wajah Ayah disana, aku juga melihat Ibu,
bahkan aku bisa melihat Rudy, Dewi, Rojali dan semua orang yang penting bagiku.
Hingga ada seseorang yang menghampiriku dan memelukku dari belakang, aku
langsung menoleh kearahnya.
Dia istriku Zulfa, dia tersenyum kepadaku, aku terdiam
terpanah melihatnya, dia jauh lebih cantik dari terakhir yang aku lihat dirumah
tadi. Dia tak menghilangkan senyumnya kepadaku, aku memeluknya erat hingga dia
hilang dari pelukanku. Aku memanggilanya yang sudah tak ada di dekatku.
Aku mulai merasa kesepian, aku hampa, aku tak melihat
siapapun disini, gelap, pengap, dan membuatku ingin muntah. Seketika aku
melihat Ayahku duduk diujung dermaga membelakangiku, aku mendekat lalu duduk
disampingnya, aku menatapnya lama hingga air mataku keluar.
“Ayah”
“Kau sedang kesulitan
Nak?”
Aku terdiam memahami maksudnya. Dia sama sekali tak
menatapku.
Aku kembali mengingat apa yang membuatku bisa merasakan
ini, aku mengingat tentang rapat yang kulakukan tadi, aku mengingat semuanya,
Wicjaksana, dan semua yang aku bahas didalam rapat tadi.
“Aku benar-benar anakmu
yang bodoh Ayah. Aku tak sanggup melakukannya, aku tak mampu, bahkan untuk
membangkitkan semangat mereka saja aku tak bisa…”
“Aku sangat manja Ayah,
aku sangat egois, aku hanya membiarkan teman-temanku membantuku selama ini,
tetapi aku sendiri tak mampu membantu mereka.”
Aku menunduk dengan penuh tangis disamping Ayahku. Dia
mengarahkan tangannya kewajahku sambil memberikan ku senyuman terbaiknya. Aku
hanya mampu menatapnya sayu, hingga dia memelukku.
“Kenalilah dirimu Nak,
dan lampaui batasmu. Aku yakin kau mampu, kau tau kenapa?” tanyanya sambil
melepaskan pelukannya.
Aku menggelengkan kepalaku dengan air mata yang amsih
mmengalir.
“Karena kau Nugy anakku.”
Aku terdiam hanyut dalam perkataannya.
Perlahan-lahan dia mulai menghilang dari pandanganku,
namun kali ini aku tak merasa kesepian, orang-orang yang meninggalkan ku tadi
kembali sepeninggalnya Ayahku. aku kembali bisa melihat Zulfa, Ibu, Rudi dan
semua orang yang sangat aku sayangi, mereka semua tersenyum kepadaku, kali ini
aku membalas senyuman mereka dengan perasaan bangga dalam hatiku.
…
Aku membuka mataku, aku tak melihat mereka lagi, aku
justru dikejutkan dengan Zulfa yang sedang menatapku panik, dan itu membuatku
bingung. Aku melihat sekelilingku, ternyata mereka semua sedang duduk
menungguku yang tergeletak, aku bangkit sambil mengurut keningnku.
“Dimana ini?”
“Kamu dirumah sakit
Nugy.” ucap Zulfa.
“Hah? Kenapa aku bisa ada
disini?”
“Kata mereka kau
tiba-tiba jatuh tergeletak saat rapat.”
Aku menatapnya heran, aku benar-benar tak mengingatnya.
“Lalu kenapa kau bisa ada
disini?”
“Dewi menelfonku, tentu
saja aku langsung kesini. Ada apa sebenarnya?”
Aku tak menjawabnya.
“Nugy.”
“Sudahlah, sebaiknya kita
pulang saja, aku capek.”
Dia pun tak berkata apapun lagi.
Kami pun bergerak untuk pulang, dan di ikuti dengan yang
lainnya. Zulfa menggandeng tanganku berjalan menju mobil kami yang sudah
menanti didepan pintu rumah sakit, aku menoleh kearah mereka yang berjalan
dibelakangku, dan menatap mereka dalam.
“Beri aku waktu, aku
pasti akan memperbaiki ini semua.” ucapku meyakinkan mereka.
“Nugy, kau ha—”
“Ku mohon.” ucapku
memotong Om Ali.
Dia pun terdiam, begitu juga dengan petinggi yang lain.
Setelah itu mereka mengangguk yakin kepadaku.
Aku dan Zulfa pun meninggalkan mereka. Dewi mengatarku
dan Zulfa menuju rumahku. Didalam mobil aku hanya diam memikirkan semua yang
sudah ku ketahui tentang perushaan itu.
Tekad bulat dalam diriku mulai muncul, aku beranji pada
diriku untuk menuntaskan masalah ini, untuk Ayahku, dan semuanya.
Tunggulah Ayah, aku
akan menuntaskan ini, ucapku dalam hati.
__ADS_1